Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

PEMBERIAN OBAT MELALUI INJEKSI


INTRAVENA

PERCOBAAN
a. Tujuan percobaan

yaitu untuk mengenal, mempraktekkan dan membandingan efek obat melalui berbagai
cara pemberian.
b. Hewan percobaan
Tikus putih
c. Alat :
1. Spuit injeksi 1 ml
2. Kapas dan alkohol
3. Toples
4. stopwatch
5. sarung tangan
d. bahan :
1. Diazepam injeksi 5 mg/ml
e. langkah kerja :
Pegang tikus dalam keadaan terlentang, kemudian carilah vena pada bagian ekor
tikus.
Basuh vena dengan menggunakan kapas yang telah dilumuri alkohol
Suntikkan diazepam injeksi 0,4 ml melalui vena yang terletak di ekor tikus.
Pindahkan tikus ke dalam toples dan amati perubahan yang terjadi dan catat interval
waktu antara pemberian obat serta waktu antara timbulnya efek dengan hilangnya
efek.
f. Data
Menit 05.24 : reaksi pada tikus mulai timbul
Menit 34.07 :tikus tertidur
Menit 45.06 : tikus bangun
g. Pembahasan
Pemberian obat pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti,
pemberian obat secara oral, melalui injeksi intramuskular, melalui injeksi intravena, atau
melalui injeksi secara peritoneal. Namun dalam hal ini kelompok kami akan membahas
tentang pemberian obat melalui intravena. Obat yang kami gunakan adalah diazepam.
Diazepam merupakan golongan obat psikotropika yang biasanya digunakan untuk anti
kejang.
Pada percobaan yang kami lakukan, kami akan menghitung onset dan durasi dari
pemberian obat diazepam terhadap tikus melalui intravena. Onset adalah interval waktu
antara pemberian obat dengan waktu timbulnya efek yang diamati. Sedangkan durasi adalah
waktu antara timbulnya efek dengan hilangnya efek itu.
Dari percobaan yang kami lakukan, setelah menyuntikkan diazepam pada tikus, tikus
yang semula aktif berangsur-angsur mengalami hilang kesadaran. Efek obat mulai bekerja
pada tikus rata-rata pada 5 menit pertama dengan gejala mengantuk dan hilangnya koordinasi
tubuh.
Durasi saat tikus mengantuk hingga tertidur adalah sekitar 15 sampai 30 menit. Hal ini
mungkin di sebabkan oleh adanya salah satu faktor pemicu yaitu tikus dalam keadaan stres.

Sedangkan durasi pada saat tikus tertidur sampai tikus bangun kembali yaitu 9 sampai 10
menit.

Pertanyaan :
1

a. Apakah topikal termasuk dalam parenteral ?


b. Mengapa cara intravena lebih cepat daripada topikal yang langsung pada tempat

2
3
4

tujuan?
Apa arti dari kata asepsis?
Apakah ketika obat diinjeksi secara intravena dapat di tarik kembali?
Bagaimana cara penetralan toksik yang timbul setelah dilakukan injeksi melalui

intravena?
Apakah bisa susu digunakan untuk menetralkan toksik yang timbul setelah

6
7

dilakukan injeksi melalui intravena?


Apakah diazepam berbahaya jika dikonsumsi tanpa resep dari dokter?
Mengapa kelemahan pemberian obat secara injeksi sukar dilakukan dan tidak
ekonomis?

Jawaban:

a. Topikal termasuk dalam pemberian obat secara parenteral.


b. Sebenarnya intravena dan topikal termasuk dalam pemberian obat secara
parenteral. Pertanyaan ini muncul akibat adanya kesalahan dalam pengetikan pada
slide.

Asepsis adalah cara pemberian injeksi dengan memperhatikan kondisi jarum


suntiknya seperti menjaga kesterilisasian jarum suntik.

Obat yang sudah di injeksikan melalui intravena tidak dapat di tarik kembali atau
dikeluarkan karena obat dengan cepat masuk ke pembuluh darah.

Sebelum dilakukan penyuntikan kepada pasien seharusnya dilakukan uji reaksi


terebih dahulu dibagian subkutan. Apabila terjadi alergi dengan gejala kulit gatalgatal,berwarna merah atau bengkak maka dosis dapat dan jenis obat dapat
disesuikan dengan kondisi pasien tetapi apabila pasien sudah terlajur terkena
toksik, maka bisa dinetralkan dengan penyuntikan anti toksik.

Menetralkan toksik yang timbul setelah dilakukan injeksi intravena dengan


menggunakan susu sangat tidak memungkinkan karena proses absorpsi susu lebih
lambat dibandingkan dengan absorpsi obat injeksi intravena.

Mengkonsumsi obat diazepam tanpa resep dokter sangatlah berbahaya karena


diazepam termasuk golongan psikotropika yang dapat menyebabkan, jangka
pendek kecemasan dan insomnia, status epileptikus, kejang berulang; kejang
demam, sebagai tambahan (adjunct) pada gejala putus alkohol; premedikasi.

Pada dasarnya pemberian obat secara injeksi sukar untuk dilakukan karena tidak
semua orang bisa menginjeksi dirinya sendiri dan harga serum sangatlah mahal.

KESIMPULAN

Pemberian obat melalui intravena merupakan salah satu cara pemberian obat yang
efektif.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan terhadap tikus, efek yang timbul tidak sesuai
dengan yang diharapkan atau lambat.hal ini dapat di sebabkan karena tikus dalam
keadaan stres sehingga memperlambat proses reaksi yang ada.