Anda di halaman 1dari 40

TUGAS MANDIRI

PROSEDUR DIAGNOSTIK
Disusun untuk memenuhi tugas mandiri Blok Urinary
System

OLEH :
ADELITA DWI APRILIA
135070201111005
REGULER 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

A. Urinalysis and Urine Culture


1. Definisi
Urinalisis adalah sebuah kelompok tes manual dan / atau
kualitatif secara otomatis dan tessemi-kuantittif yang dilakukan
pada sampel urin. Analisa urin rutin biasanya meliputi tes berikut
:warna, transparansi, berat jenis, pH, protein, glukosa, keton,
darah, bilirubin, nitrit, urobilinogen, dan
Beberapa

laboratorium

mencakup

esterase leukosit.

pemeriksaan

mikroskopik

sedimen urin dengan semua tes urine rutin. Jika tidak, adalah
kebiasaan

untuk

melakukan

ujian

mikroskopis,

jika

transparansi,glukosa, protein, darah, nitrit, leukosit esterase atau


tidak normal.
Sedangkan

kultur

urine

diambil

untuk

mengisolasi

mikroorganisme yang mengakibatkan infeksi klinis. Sebagian


besar spesimen kultur didapat dengan menggunakan apusan
steril disertai media (padat atau air kaldu), wadah steril
(mangkuk) tertutup, dan spuit steril dengan botol steril berisi
media cair. Setelah didapat, spesimen kultur harus segera
dibawa ke laboratorium (tidak lebih dari 30 menit) karena
beberapa organisme akan mati jika tidak ditempatkan dan media
yang tepat dan terinkubasi. Kultur ini memerlukan waktu 24 36
jam

untuk

menumbuhkan

organisme,

dan

48

jam

untuk

mendapatkan laporan mengenai pertumbuhan dari kulturnya.


2. Indikasi
Urinalisis biasanya dilakukan secara rutin pada saat pasien
masuk rumah sakit dan dalam pemeriksaan skrining praoperatif
untuk pasien-pasien yang akan menjalani pembedahan aktif.
Beberapa indikasinya antara lain :
Adanya riwayat gejala seperti ; disuria, hesitency, nyeri

pinggang, sering berkemih, pengeuaran sekret uretra


Adanya riwayat kelainan yang dapat mempengaruhi fungsi
renal seperti

; penyakit kolagen vaskuler, DM, pajanan

terhadap nefrotoksin, infeksi saluran kemih, batu ginjal,


skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal

Hasil

hasil

pemeriksaan

fisik

seperti

panas

yang

penyebabnya tidak diketahui, edema menyeluruh, ikterus,


nyeri tekan pada angulus kostovertebralis, abnormalitas
kelenjar prostat
3. Kontraindikasi
Pada pasien gagal ginjal
Semua pasien harus menghindari pelatihan atletik intens
atau pekerjaan fisik yang berats sebelum tes, karena kegiatan
ini dapat menyebabkan sejumlah kecil darah muncul dalam
urin. Banyak unsur kemih tidak stabil, dan sampel harus diuji
dalam waktu satu jam dari pengumpulan atau didinginkan.
Sampel dapat disimpan pada 36-46 F (2-8 C) sampai 24 jam
untuk tes urine kimia, namun pemeriksaan mikroskopik harus
dilakukan

dalam

waktu

memungkinkan.Untuk

empat

jam

meminimalkan

pengumpulan,
kontaminasi

jika

sampel,

wanita yang memerlukan urinalisis selama menstruasi harus


memasukkan tampon segar sebelum memberikan sampel urin.

Banyak

obat dan vitamin yang berefek pada urinalisis.

Contohnya, pil vitamin C, Antibiotic dan beberapa obat tertentu


yang digunakan untuk penyakit parkinson, obat tersebut dapat
menyebabkan hasil urinalisis menjadi false positif sehingga
diperlukan tes lain untuk mengkonfirmasi hasil. Jadi sebelum
dilakukan tes beritahukan ke dokter obat atau vitamin yang
dikonsumsi. Demam dan latihan berat juga dapat memberikan
hasil false positif.
4. Prosedur Pelaksanaan
Urinalisis
Semua spesimen urine untuk urinalisis harus diambil dengan
cara clean-catch. Spesimen urin harus diantar ke laboratorium
dalam 30 menit. Pengambilan Spesimen urine clean catch atau
mid stream meliputi ;
a. Alat yang dipakai ;
- Tempat steril untuk urine
- Kapas atau kasa yang dibasahi dengan larutan disinfektan

b. Petunjuk khusus untuk wanita


- Cuci labia dan meatus dengan kasa yang dibasahi dengan
larutan disinfektan dari depan ke belakang
c. Petunjuk khusus untuk pria
- Cuci glans dengan kasa yang dibasahi

dengan

laruta

desinfektan
d. Petunjuk umum
- Jangan sentuh bagian dalam tempat steril untuk urine
- Biarkan urine mengalir sebentar, baru urine diambil untuk
spesimen
Kultur urine
Hari I
a. Hitungan angka kuman
-

Siapkan 4 tabung yang berisi NaCl steril 0,9 ml

Tambahkan 0,1 ml urine ke dalam tabung I, kemudian lakukan


pengenceran dengan mengambil

0,1 ml dari tabung I ke

tabung II dan seterusnya


-

Dengan menggunakan ose standard atau 10 UL ambil masingmasing pengencerandan tanam pada media CLED agar,
inkubasi 370C selama 24 jam

b. Untuk biakan kuman, ambil urine tanam pada media BHI,


Inkubasi 370C selama 24 jam
Hari II
-

Sampel yang positif adanya kuman ditandai dengan adanya


kekeruhan , sampel yang positif ditanam pada media BAP
agar dan MC agar,Inkubasi 370C selama 24 jam

Hitung angka kuman pada media CLED agar

Hari III
Koloni yang tumbuh di cat gram, bila gram negatif batang, maka
tanam ke media gula-gula, Inkubasi 370C selama 24 jam. Bila
gram positif coccus maka lakukan catalase test,coagulase test,
tanam pada media D-Nase agar, Inkubasi 370C selama 24 jam
Hari IV

Baca pertumbuhan kuman pada media gula-gula dan media


lainnya, lakukan identifikasikuman. Lakukan sencitivity test pada
media MH agar Inkubasi 370C selama 24 jam
Hari V
Lakukan pembacaan, pengukuran diameter zona hambatan
5. Cara Pembacaan secara Global
6.

Komponen
Warna

pH

Hasil
- Kuning tua : kurang cairan tubuh.
- Kuning pucat : cairan tubuh berlebih.
- Merah kecokelatan : pengaruh darah, obat, dan

makanan.
pH normal urine : 4,5 8.
- Asam : pH 4,5
- Basa : pH > 7,5.

e
r
n

Bakteri berkembang biak secara cepat pada


urine alkalotik.
Berat jenis (BJ) - BJ rendah : urine encer.
- BJ tinggi : urine pekat.
Protein
Protein urine > 8 mg/dl : gangguan ginjal.
Akan tetapi, kadar protein pada seorang atlet
(sampel tunggal) kemungkinan mencapai 10-20
mg/dl.
Glukosa

Kondisi

ini

dapat dikatakan

normal

setelah melakukan aktivitas yang berat.


Glikosuria DM (Diabetes Melitus).
Normalnya kuantitas glukosa tidak dapat diukur

pada urine.
Sel darah
Ada sel darah dalam urine gangguan ginjal.
Perawat
a. Peran perawat selama pre dan intra prosedur
Pertama-tama perawat harus menjelaskan tujuan dari prosedur
urinalisis

kepada

klien,

menyiapkan

berbagai

alat

untuk

keperluan prosedur. Urinalisis yang akurat dipengaruhi oleh


spesimen yang berkualitas. Sekresi vagina, perineum dan uretra
pada wanita, dan kontaminan uretra pada pria dapat mengurangi
mutu temuan laboratorium. Mukus, protein, sel, epitel, dan
mikroorganisme masuk ke dalam sistem urin dari uretra dan

jaringan sekitarnya. Oleh karena itu pasien perlu diberitahu agar


membuang beberapa milimeter pertama urine sebelum mulai
menampung urin. Pasien perlu membersihkan daerah genital
sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus memasukan
tampon yang bersih sebelum menampung spesimen. Kadangkadang diperlukan katerisasi untuk memperoleh spesimen yang
tidak tercemar.
Edukasi yang harus perawat lakukan kepada klien pre-procedure
antara lain ;
Pada laki-laki ;

Buka glans dan bersihkan daerah sekitar meatus dengan


sabun. Hilangkan semua bekas sabun dengan kapas yang

dibasahi air
Jangan mengumpulkan urin yang pertama kali keluar, buang

bagian ini
Kumpulkan bagian berikutnya kedalam botol steril bermulut
lebar atau tabung gelas yang berdiameter besar dengan

dilindungi oleh tutp yang steril


Jangan mengumpulkan beberapa tetes urin terakhir karena
sekresi prostat dapat masuk kedalam urin pada akhir pancaran
urin

Pada klien wanita ;

Pisahkan kedua labia agar orifisium uretra tidak terhalang


Bersihkan daerah disekitar meatus urinarius dengan

menggunakan spons yang dibasahi sabun cair


Usap perineum dari depan ke belakang
Hilangkan semua bekas sabun dengan kapas yang dibasahi air,

dengan cara menghapusnya dari depan ke belakang


Pertahankan labia agar tetap terpisah dan lakukan urinasi
dengan kuat,tetapi bagian pertama urin yang memancar keluar
jangan ditampung. koloni bakteri terdapat pada bagian distal
orifisium

uretra

pancaran

urin yang pertama akan membasuh dan membersihkannya dari


kontaminan uretra tersebut

kumpulkan bagian pancaran tengah dari aliran urin


dengan memastikan agar wadah yang digunakan untuk
mengumpulkan specimen urin tidak mengenai alat kelamin

b. Peran perawat saat intra dan post prosedur


menggunakan wadah yang bersih untuk menampung spesimen

urin.
hindari sinar matahari langsung pada waktu menangani

spesimen urin.
jangan gunakan urin yang mengandung antiseptik.
lakukan pemeriksaan dalam waktu satu jam setelah buang air
kecil.
Penundaan pemeriksaan terhadap spesimen urine harus dihind

ari karena dapat mengurangi validitas hasil.


Analisa harus dilakukan selambat-lambatnya 4 jam setelah
pengambilan spesimen. Dampak dari penundaan pemeriksaan
antara lain ; unsur-unsur berbentuk dalam sedimen mula
mengalami kerusakan dalam 2 jam, urat dan fosfat yang
semula

larut

dapat

mengendap

sehingga

mengaburkan

pemeriksaan mikroskopik elemen lain bilirubin dan uribilinogen


dapat mengalami oksidasi bila terpajan sinar matahari, bakteri
berkembang biak dan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
mikrobiologik dan Ph, glukosa mungkin turn dan badan keton

jika ada, akan menguap


Mengirim spesimen ke laboratorium setelah diberi label dengan

identitas lengkap dari klien


Mendokumentasikan prosedur dan respon klien dalam catatan
klien

B. Specific Gravity
1. Definisi
Berat jenis urine (specific gravity) adalah ukuran dari rasio
kepadatan urin dengan kepadatan air. Pengukuran urine spesifik
gravitasi

biasanya

pengukuran

urin

berkisar

1,002-1,030.

spesifik

gravitasi

mengindikasikan euhydration.

NCAA
1.020

memilih
untuk

Berat

jenis

urine

dapat

digunakan

sebagai

indikator

gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Berat jenis

mengukur

dengan

berat

larutan

dalam

hubungannya

air

(air=1,000). Berat jenis urine mengevaluasi kemampuan ginjal


untuk menyimpan atau mengekskresikan air. Berat jenis urine
kurang dapat dipercaya sebagai indikator konsentrasi bila
dibandingkan dengan osmolalitas urine, karena berat jenis
dipengaruhi oleh berat dan jumlah zat terlarut. Terdapatnya
sejumlah zat terlarut dalam urine seperti glukosa atau protein
dapat menyebabkab seolah-olah berat jenis tinggi. Keuntungan
dari tes ini adalah tes dapat dilakukan dengan cepat, mudah, dan
tidak mahal.
2. Indikasi
Uji berat jenis dapat digunakan jika dicurigai salah satu kondisi
berikut ini:
dehidrasi / overhydration
gagal jantung
syok
diabetes insipidus (suatu kondisi di mana ginjal tidak dapat

menyimpan, menghemat,air)
gagal ginjal
infeksi ginjal
infeksi saluran kemih
hiponatremia / hipernatremia (tingkat sodium rendah /

ditinggikan)
3. Kontraindikasi
Berikut ini dapat meningkatkan berat jenis urine dan harus
dihentikan sebelum pengujian ;
Dekstran
Sukrosa
Pewarna kontras intravena hindari selama setidaknya 72 jam
sebelum pengujian
4. Persiapan Alat
- Sarung tangan
- Urinometer (hydrometer) dan sebuah silinder kaca atau
spectrometer atau refraktometer
5. Prosedur Pelaksanaan

Jelaskan

kepada

klien

mengenai

prosedur,

tujuan

tindakan, dan bagaimana klien dapat bekerja sama.


Diskusikan
-

bahwa

hasilnya

akan

digunakan

untuk

merencanakan perawatan atau terapi selanjutnya.


Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi

yang sesuai.
- Beri privasi klien.
Pengukuran dengan urinometer
- Pakai sarung tangan, tuangkan paling tidak 20 ml sampel
urine segar klien ke dalam silinder kaca, atau isi tiga
-

perempat bagian silinder.


Letakkan urinometer ke

dalam

silinder,

dan

putar

perlahan-lahan untuk mencegah alat ini menempel pada


-

sisi silinder.
Pegang urinometer sejajar mata, dan baca ukuran pada
dasar meniscus permukaan urine. Konsentrasi urine
mempengaruhi derajat apung urinometer. Kedalaman
tenggelamnya urinometer menunjukkan berat jenis urine.

Pengukuran dengan spektrometer atau refraktometer


- Ikuti selalu petunjuk pabrik.
- Pakai sarung tangan, dan teteskan 1 atau 2 tetes urine ke
atas slide.

Nyalakan lampu instrumen dan lihat ke dalam instrumen.

Berat jenis urine akan tampak pada bidang lihat.


Catat angkanya, kemudian matikan instrumen.
Buang urine dengan handuk atau kasa basah.

(Kozier & Erb, 2009)


6. Cara pembacaan
Rumus ; berat jenis terbaca + (suhu kamar suhu tera )/ 3x0,001
Contoh ;
Suhu kamar

: 330C

Suhu tera

: 200C

Berat jenis terbaca : 1,001


Jadi, berat jenis urine adalah =
berat jenis terbaca + (suhu kamar suhu tera)/3x0,01 = 1,001 +
(33-20) / 3x0,001
= 1,015
Perhitungan :
Jika suhu urinometer berbeda dengan suhu kamar, lakukan
koreksi

perbedaan 30C, suhu kamar melebihi suhu tera

berat jenis ditambah 0,001, dibawahnya dikurangi 0,001


Contoh : suhu tera 300C, urine 330C
urinometer 1,004
berat jenis urine 1,004 + 0,001 = 1,005
Nilai normal : 1,003 1,030
Penurunan hasil tes ini menunjukkan ;
Aldosteronism
Kelebihan volume cairan
Diabetes insipidus -central
Diabetes insipidus-nephrogenic
Gagal ginjal
Renal tubular necrosis
Infeksi ginjal parah (pyelonephritis)
Sedangkan peningkatan hasil tes ini menunjukkan ;
Addisons disease (jarang)
Dehidrasi
Diarrhea yang menimbulkan dehidrasi
Glukoseria
Gagal ginjal yang berhubungan dengan penurunan
aliran darah ke ginjal.

7. Peran Perawat
Pre
- Jelaskan kepada klien tentang prosedur penampungan urine.
- Jelaskan kepada klien tentang prosedur pengambilan urine
-

porsi tengah.
Kaji status cairan klien. Urine harus pekat jika spesimen urine
diambil di pagi hari, atau jika klien mengalami penurunan
asupan cairan atau dehidrasi. Peningkatan asupan cairan

akan mengencerkan kandungan urine.


Intra
- Bantu klien saat menampung urine (jika perlu)
- Tangani spesimen dengan sangat hati-hati. Teknik aseptik
harus selalu diterapkan.
C. Osmolality
1. Definisi
Tes osmolalitas adalah sebuah tes yang digunakan untuk menilai
derajat

relative

pengenceran

atau pemekatan

urin

atau

darah. Tes ini juga dilakukan untuk mengevaluasi keseimbangan


air, kemampuan tes ini juga untuk menilai kemampuan ginjal
untuk memproduksi urin dan konsentrasinya, mengukur jumlah
sodium, untuk mendeteksi adanya sejumlah toksin seperti
methanol dan ethylen glycol, untuk memonitor secara osmotik
terapi aktif obat seperti manitol. Tes osmolalitas ini juga
dilakukan

untuk

memonitor

keefektifan

beberapa kondisi yang ditemukan.


2. Indikasi
o Penurunan kadar: kelebihan

asupan

pengobatan

cairan,

untuk

pemberian

dekstrosa 5%, IV dalam air yang kontinu, diabetes insipidus,


glomerulonefritis,
o

ginjal

akut,

anemia

sel

sabit,

mieloma multiple. Pengaruh obat: diuretik.


Peningkatan kadar: diet tinggi protein, SIADH, penyakit
Addison

gagal

(insufisiensi

kelenjar

adrenal),

hiperglikemia disertai dengan glikosuria.


Pasien dengan sindrom hiponatremia seperti
Kehausan
Kebingungan
Nausea

dehidrasi,

3.
4.

Sakit kepala
Ietargi
Seizure bahkan koma.
o Orang dengan keracunan methanol atau ethylen glycol
o Orang dengan DM
Kontraindikasi
Tidak ada
Persiapan Alat
Kontainer penampung urinIabel
identitas pasien
Fotometer Clinicon 4010
Semprit 36 mI, sekali pakai
Tabung reaksi dan rak
Cup eppendorf volume 0,5 mI
Pipet semiotomatik 50 uI
Centrifuge kubota KN 70
Tip pipet biru dan kuning
Urinometer
Osmometer Osmonat 030 dari Gonotec GmBH
Electrolyte Analyzer (AVL 9120)
Termometer ruangan
Timbangan analitik haus
Pot urin 20 Mi

Reagensia:
1).
Bahan kontrol dan kalibrator untuk Osmomat 030:
Aqua bidestilata
NaCl solution for Calibration (300 mosmol/kg H 2O atau 9.463
gram NaCl/kg H2O)
2). Antikoagulan Sodium Heparin 5 mL, 5000 IU/mL dari B Braun,
stabil sampai tanggal kadaluarsa bila disimpan pada suhu 2
8oC.
3). ISE SNAP PACK untuk pemeriksaan elektrolit natrium dengan
alat AVL 9120 electrolyte analyzer
4). Kit Urea
5). Kit Glukosa
6). Reagent Strips for Urinalysis Multistix
5. Prosedur pelaksanaan
Sebelum penelitian dimulai, dilakukan kalibrasi pipet serta uji
ketepatan dan ketelitian osmometer 030.
a. Melakukan kalibrasi pipet semiotomatik 50 uL. Kalibrasi
dilakukan dengan menimbang air suling yang dihisap oleh

pipet tersebut sebanyak 10 kali. Volume pipet sebenarnya


(mL) dihitung dengan membagi hasil penimbangan dalam
gram dengan berat jenis (g/mL) air suling yag tergantung
dengan suhu ruangan pada saat penimbangan, kemudian
dihitung Standar Deviasi (SD), Koefisien Variasi (CV) dan
penyimpangan dari volume sebenarnya (d).
b. Melakukan uji ketepatan dan ketelitian osmolalitas dengan
menggunakan Osmomat 030 dan memakai bahan kontrol NaCl
soluton for calibration. Uji ketelitian dan ketepatan dilakukan
secara within run sepuluh kali berturut-turut pada hari yang
sama. Uji between day dilakukan sebanyak sepuluh kali pada
hari yang berbeda selama penelitian dilaksanakan. Dilakukan
perhitungan SD, CV dan d.
Cara Pemeriksaan:
1. Pemeriksaan Osmolalitas Serum, Plasma dan urin dengan alat
Osmomat 030
Prinsip pemeriksaan: Penentuan osmolalitas total suatu larutan
dengan membandingkan titik beku air dan titik beku larutan
sampel.
Pada probe Osmomat 030 terdapat thermistor dan jarum
logam, suhu pada jarum adalah 0 oC sehingga terdapat kristal
es pada ujungnya. Pada waktu sample masuk ke super cooled
bath suhu sampe akan turun mencapai -7 oC. Segera setelah
sampel mencapai suhu -7oC proses kristalisasi sampel akan
berlangsung, dimulai dengan meningkatnya kembali suhu
sampel sehingga tercapai equilibrium pada titik beku sampel
sebenarnya. Pada layar monitor dapat dibaca nilai titik beku
larutan sampel tersebut. Besarnya perbedaan selisih suhu
antara air murni dan larutan sampel yang diukur setara
dengan besarnya osmolalitas
Cara Pemeriksaan:
a. Nyaakan stabilizer, kemudian nyalakan alat Osmomat 030.
Lakukan kalibrasi zero (nol) dengan aqua bidestala dengan
cara mengisap 50 uL aqua bidestilata tanpa ada gelembung
udara ke dalam cup Eppendorf, letakkan pada measuring

vessel holder. Tekan tombol kalibrasi air zero, baru turunkan


measuring vessel holder, hasil harus menunjukkan 000.
b. Lakukan kalibrasi dengan kalibrator dengan cara mengisap 50
uL larutan NaCl solution for calibration tanpa ada gelembung
udara ke dalam cup Eppendorf letakkan pada measuring
vessel holder. Tekan tombol kalibrasi (cal), baru turunkan
measuring vessel holder, hasil harus menunjukkan 300.
c. Pengukuran sampel:
Ambil 50 uL bahan pemeriksaan, tidak boleh ada gelembung.
Tekan

tombol

untuk

pengukuran

bahan

pemeriksaan

(sampel), baru turunkan measuring vessel holder. Hasil


dinyatakan dalam mOsmol/kg yar g terlihat pada layar.
Setelah pembacaan selesai, cup Eppendorf dilepaskan secara
manual dan bahan pemeriksaan berikutnya dapat langsung

2.

diperiksa.
Setelah pemeriksaan selesai, alat dibersihkan dan dimatikan.
Pemeriksaan kadar glukosa, ureum dan natrium serum

untuk menentukan osmolalitas serum terhitung


a. Pemeriksaan Kadar Glukosa
Prinsip pemeriksaan: glukosa dengan glukosa oksidase akan
membentuk asam glukonat dan hidrogen peroksida. Hidrogen
peroksida merubah warna indikator kolorimetrik quinoneimine
yang dibaca pada
546 nm.
GOD
Glukosa + H2O

Asam glukonat + 2H2O2


POD
2H2O2 + 4 Aminoantipirin + fenol
quinoneimine
+ 4 H 2O
Kadar glukosa (mg/dL) =
A sampel x 100 mg/dL
A standar
b. Pemeriksaan Kadar Ureum
Prinsip
pemeriksaan:
urea
dihidrolisa
oleh

urase

menghasilkan ion ammonium dan CO2. Ion ammonium


bereaksi dengan hipoklorit dan salisilat yang memberikan
warna hijau yang di baca pada 578 nm.
Urease
Urea
NH4+ + CO2
+
NH4 + hipoklorit + salisilat
warna hijau
Kadar ureum (mg/dL) =
A sampel x 50 mg/dL

c. Pemeriksaan

A standar
Kadar natrium serum

dengan

AVL

9020

elecrolyte analyzer
Prinsip pemeriksaan: menggunakan prinsip pengukuran Ion

3.

Sensitive Electrode (ISE)


Besarnya Osmolaitas terhitung adalah:
Osmolalitas (mOsmol/L) = 2 x [Na] + [glukosa] + [BUN]
18
2.8
Keterangan: BUN = 0.467 x [ureum]
Penetapan Osmolalitas terhitung urin berdasarkan berat

jenis dengan urinometer.


Penetapan BJ:
a. Ukur suhu ruangan untuk koreksi suhu terhadap suhu
kalibrasi urinometer.
b. Isi gelas ukur sampai penuh dengan urin, masukkan
urinometer dengan gerakan memutar sehingga terapung
bebas dan tidak bersentuhan dengan dinding tabung. Baca BJ
setinggi meniskus bawah. Lakukan koreksi terhadap suhu bila
terdapat

perbedaan

suhu

kalibrasi

urinometer

dengan

sampel.
Osmolalitas urin terhitung (mOsmol/L) = (BJ - 1000) x 40
6. Cara Pembacaan secara Global
Nilai normal
Anak, dewasa : 50 1200 mOsm/kg (rata-rata 200 800
mOsm/kg)
Bayi baru lahir : 100 600 mOsm/kg
Jika nilai osmolalitas urin meningkat maka pasien diidentifikasi
mengalami :
Dehidrasi
DM
Hiperglikemi
Hipernatremi
Keracunan ethanol, methanol, atau ethylen glycol.
Kerusakan ginjal.
Terapi manitol.
Shok
Namun, jika serum osmolalitas menurun, pasien kemungkinan

dapat mengalami :
Hidrasi yang berlebih.
Hiponatremi.
Sekresi ADH yang tidak adekuat.

7. Peran Perawat
Peran perawat di tahap pre, intra dan post :
a. Pre-prosedur
Jelaskan prosedur kepada pasien
Beritahu pasien bahwa tidak ada persiapan khusus

diperlukan
Informasikan pasien bahwa persiapan untuk spesimen urin
puasa mungkin memerlukan konsumsi diet tinggi protein

selama 3 hari sebelum tes


Anjurkan pasien untuk makan malam kering malam
sebelum ujian dan minum tidak ada cairan sampai tes

selesai keesokan harinya.


b. Intra-prosedur
Kumpulkan spesimen urin pertama untuk sampel acak.
Untuk spesimen puasa, anjurkan pasien untuk
mengosongkan kandung kemih pada sekitar 06:00 untuk
membuang urin. Kumpulkan tes urine lagi di jam 20.00
Menunjukkan pada slip labolatorium Status puasa pasien.
c. Post-prosedur
Kirim spesimen untuk labolatorium
Berikan makanan dan cairan untuk pasien.
D. Renal Function Tests
1. Definisi
Untuk menentukan fungsi ginjal, pemeriksaan pertama yang
dilakukan adalah urinalisis, nitrogen urea darah (BUN), dan
kreatinin serum. Uji ini akan dilakukan secara rutin apabila
dicurigai

adanya

insufisiensi

ginjal.

Apabila

dijumpai

abnormalitas pada setiap uji ini, uji laboratorium dan uji


diagnostik

lainnya

menjadi

perlu

dilakukan

(misal:

klirens

kreatinin, klirens inulin, osmolalitas serum dan urine, elektrolit


serum dan urine, pielografi intravena (IVP), sinar X ginjal, ureter,
kandung kemih, USG ginjal, CT scan ginjal, dan lain-lain).
Pemeriksaan
Keterangan
Pemeriksaan Laboratorium
a) Urinalisis
- Dilakukan secara rutin untuk

memeriksa fungsi ginjal dan


endokrin.
- Komponen yang diukur : warna,
pH, berat jenis, protein,
b) Nitrogen urea darah (BUN)

glukosa, sel darah.


Nilai normal
5 25 mg/dl . Anak: 5 20
mg/dl.
- Kadar BUN sedikit meningkat
(25 35 mg/dl) dehidrasi
yang

disebabkan

hemokonsentrasi.
- Peningkatan kadar BUN yang
tidak

mereda

setelah

tindakan hidrasi indikator


c) Rasio BUN/kreatinin serum

gangguan ginjal
Rasio normal = 10:1 20:1
- Peningkatan rasio
penurunan fungsi ginjal,
penyakit glomerulus, atau

d) Kreatinin serum

uropati obstruktif.
- Kreatinin serum merupakan
suatu uji yang lebih andal
untuk menentukan fungsi
ginjal karena uji tersebut
kurang dipengaruhi oleh
kondisi dehidrasi maupun
malnutrisi dibandingkan
dengan uji BUN.
- Kadar meningkat akibat
ginjal tidak dapat
mengekskresikan kreatinin
(produk sampingan fosfat
kreatinin otot, yang
diekskresikan seluruhnya

e) Klirens kreatinin

oleh ginjal).
Uji klirens kreatinin (12 atau 24
jam) dilakukan untuk
menentukan laju filtrasi
glomerulus (GFR) dan
insufisiensi ginjal. Jika hasil uji
<40 ml/menit kerusakan

f) Klirens inulin

ginjal sedang berat.


Uji yang dapat diandalkan
dalam menilai GFR dan sering
dibandingkan dengan prosedur
klirens urine lainnya.
Penurunan kadar inulin

g) Protein (urine 24 jam)

indikasi kerusakan ginjal.


- Apabila hasil urinalisis
mengindikasikan adanya
proteinuria, uji protein urine
24 jam dapat dilakukan.
- Protein urine >150 mg/24 jam
kerusakan atau penyakit

h) Elektrolit (serum dan urine)


i) Osmolalitas (serum dan
urine)

glomerulus.
Harus dipantau secara ketat
pada kondisi gangguan ginjal
- Digunakan untuk mengkaji
respons tubulus distal
terhadap sirkulasi hormone
antidiuretik (ADH).
- Peningkatan osmolalitas serum
dapat dikaitkan dengan
ketidakadekuatan pelepasan
ADH atau tidak adekuatnya
respons tubulus distal ginjal
terhadap sirkulasi ADH.
- Osmolalitas urine : indikator
yang lebih akurat terhadap

kemampuan ginjal untuk


memekatkan dan
mengencerkan urine
daripada menggunakan uji
j) Hormon antidiuretik (ADH)
plasma

berat jenis.
ADH dihasilkan oleh
hipotalamus dan disimpan
serta disekresi oleh kelenjar
hipofisis posterior, yang
berfungsi untuk meningkatkan
reabsorpsi air dari tubulus
distal ginjal sebagai respons
terhadap osmolalitas serum.
Dengan peningkatan kadar
osmolalitas serum (dehidrasi
atau hipovolemia), terjadi
peningkatan sekresi ADH. Lebih
banyak lagi air direabsorbsi

k) Komplemen C3 (serum)

dan dikonversi di dalam tubuh.


Komplemen mengontribusi
sekitar 10% dari total protein
plasma dan berperan penting
dalam system imunologik. C3
serum (komplemen yang paling
banyak) akan menurun pada
kondisi ginjal tertentu (missal
glomerulonefritis dan
penolakan transplantasi ginjal

l) Komplemen C4 (serum)

akut)
C4 serum merupakan
komplemen kedua terbanyak
yang akan menurun secara
signifikan pada penyakit

nefritis lupus dan


glomerulonefritis
m) Aldosteron (serum)

pascastreptokokus akut.
Peningkatan kadar aldosteron
serum penyakit ginjal dan

n) Renin (plasma)

gagal ginjal kronis.


Renin adalah enzim yang
disekresi oleh ginjal,
merupakan suatu uji yang
digunakan untuk mendiagnosis
hipertensi vascular ginjal.
Akibat hipertensi ini dapat
menyebabkan gagal ginjal.
Dilakukan untuk menentukan

o) Kultur urine

tipe mikroorganisme yang ada


p) Antibodi membran dasar
antiglomerular (AGBM)

pada saluran genitourinari.


Uji untuk mendeteksi antibodi
GBM yang dapat merusak
membran dasar glomerulus di
glomeruli. Streptokokus beta
hemolitik merupakan
organisme utama yang
bertanggung jawab terhadap

q) Asam urat (serum)

respons antibodi.
Kadar asam urat dan urine
bergantung pada fungsi ginjal.
Kadar asam urat : penyakit
ginjal (glomerulonefritis dan
gagal ginjal)
Kadar asam urat : penyakit

a) Sinar

ginjal
Pemeriksaan Diagnostik
ginjal,
ureter, Untuk mengidentifikasi ukuran,

kandung kemih (GUK)

bentuk, dan posisi ginjal,


ureter, serta kandung kemih.

b) Pielografi intravena (IVP)

Memvisualisasikan ginjal, pelvis


ginjal, ureter, dan kandung
kemih. Uji ini berguna untuk
menentukan disfungsi ginjal
dan untuk mengetahui lokasi

c) Pielografi retrograde

tumor dan kalkuli ginjal.


Uji ini biasanya dilakukan
selama sistoskopi untuk
menentukan penyebab
penyakit ginjal unilateral
(obstruksi ureteral). Pielogram
retrograde memberikan
visualisasi terhadap ureter dan
masalahnya, dengan lebih baik

d) Sistoskopi

dibandingkan dengan uji IVP.


Uji untuk memvisualisasikan
dinding kandung kemih, untuk
mendapatkan biopsy jaringan
kandung kemih, uretra atau
prostat, membuang kalkuli dari
kandung kemih atau uretra,
membuang lesi kecil dan/atau
massa yang bertumbuh, atau
untuk memperoleh spesimen
urine secara langsung dari

e) Sistografi

ginjal.
Kandung kemih diisi dengan
zat kontras untuk mendeteksi

f) Sistometri

rupture pada kandung kemih.


Untuk mengevaluasi fungsi
neuromuscular kandung kemih.
Disfungsi kandung kemih dapat
disebabkan oleh gangguan

neurologis (cedera medulla


spinalis, stroke, sklerosis
multiple, DM)
Untuk mengidentifikasi tumor,

g) CT scan ginjal

malformasi, kista, dan kalkuli.


Biasanya CT scan dilakukan
setelah ditemukan hasil IVP
yang abnormal
Uji nefrotomografi dapat

h) Nefrotomografi

mengkombinasikan antara IVP


dan CT scan. Uji ini berguna
untuk memberikan gambaran
ginjal yang lebih jelas, juga
untuk mengidentifikasi dan
membedakan antara kista dan
tumor padat.
Untuk mendeteksi

i) USG ginjal

keabnormalitasan (kista,
tumor) atau untuk
mengklarifikasi temuan yang
j) Pemindaian
radionuklida

ginjal

didapat dari uji lainnya.


Untuk mendeteksi lesi atau
massa di ginjal, serta untuk
menentukan adanya penyakit
ginjal akut atau kronis. Uji ini
dapat digunakan sebagai
pengganti IVP pada klien yang

k) Angiografi ginjal

alergi terhadap zat kontras.


Untuk mendeteksi malformasi

l) Biopsi ginjal

vaskular ginjal.
Untuk mendiagnosis kanker
ginjal primer atau yang
bermetastasis.

2. Cara Pembacaan secara Global

Tes BUN (Nitrogen Urea Darah)


Satuan ukuran BUN di Amerika Serikat adalah milligram
per desiliter (mg/dL), sedangkan secara internasional adalah
milimol per liter (mmol/L). Rentang normal untuk nitrogen urea
darah umumnya 8 24 mg/dL (2,86 8,57 mmol/L) untuk pria
dewasa dan 6 21 mg/dL (2,14 7,5 mmol/L) untuk wanita
dewasa. Namun, kadar BUN bervariasi menurut usia. Bayi
memiliki kadar yang lebih rendah dibandingkan dengan usia
lainnya.
Apabila kadar BUN tinggi berarti ginjal tidak berfungsi
dengan baik, terutama jika hasilnya di atas 50 mg/dL (17,85
mmol/L). Tetapi, kadar BUN juga dapat tinggi disebabkan oleh
obstruksi

saluran

kemih,

gagal

jantung

kongestif

atau

perdarahan gastrointestinal. Mungkin juga meningkat akibat


dehidrasi, sengatan listrik, kebakaran, atau demam. Obat-obatan
tertentu seperti kortikosteroid dapat meningkatkan kadar BUN.
Selain itu, diet tinggi protein pun dapat menyebabkan kadar BUN
meningkat.
Sedangkan, bila kadar BUN di bawah normal berarti
mengindikasikan adanya kerusakan hati. Tetapi, kadar BUN yang
rendah dapat juga disebabkan oleh malnutrisi, diet rendah
protein, atau diet tinggi karbohidrat.
(Mayo Clinic, 2010)
Kreatinin (serum)
Dewasa
0,5 1,5 mg/dl
45

132,5
mol/L

Bayi
0,7 1,7 mg/dl

2 6 tahun
0,3 0,6 mg/dl

(Satuan

Anak yang
lebih dewasa
0,4 1,2 mg/dl
36 106 mol/L
(Satuan SI)

SI)
Klirens kreatinin
Individu
Dewasa :

Klirens kreatinin

Klirens urine

Pria

85 135 ml/menit

Wanita

Nilainya sedikit lebih


rendah

20 26 mg/kg/24 jam
0,18 0,23 mmol/kg/24
jam
14 22 mg/kg/24 jam
0,12 0,19 mmol/kg/24
jam

Anak :
Laki-laki
Perempuan

98 150 ml/menit
95 123 ml/menit

Elektrolit serum dan urine


Elektrolit
Kalium (K)

Natrium (Na)

Nilai normal
Serum
Dewasa :
3,5 5,3 mEq/L
Anak :
3,5 5,5 mEq/L
Bayi :
3,6 5,8 mEq/L
Dewasa, anak :
135 145 mEq/L
Bayi :
134 150 mEq/L
-

Penyebab & Efek


Hiperkalemia : >5,5 mEq/L
insufisiensi ginjal

Hipernatremia : >145 mEq/L


anuria b.d gagal ginjal
akut
Hiponatremia : <135 mEq/L,
akibat dari gangguan
tubular pada saat terjadi
ketidakmampuan untuk
mereabsorbsi natrium

Urine
Kalium (K)

Dewasa :
25 120 mEq/24
jam
25 120 mmol/24
jam (satuan SI)

Penurunan kadar kalium


urine <25 mEq/24 jam
dengan peningkatan kadar
kalium serum dapat
mengindikasikan terjadinya
gagal ginjal akut.
Peningkatan kadar kalium
urine dapat disebabkan oleh

Natrium (Na)

Dewasa :
40 220 mEq/24

gagal ginjal kronis


Kadar natrium urine yang
rendah disertai dengan

jam
40 220 mmol/24
jam (satuan SI)

oliguria kemungkinan
berkaitan dengan gagal
ginjal akut, akibat
penurunan perfusi ginjal.
Peningkatan kadar natrium
urine dapat diakibatkan oleh
ketidakmampuan tubulus
ginjal untuk
mereabsorbsikan natrium
(mis. Penyakit polikistik,
pielonefritis kronis)

Hormon antidiuretik (ADH) (plasma) : 1 5 pg/nl


Komplemen C3 (serum)
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan

Nilai normal
80 180 mg/dL
76 120 mg/dL

Komplemen C4 (serum) : 15 45 mg/dL


Aldosteron (serum)
Dewasa (posisi terlentang) : 1 9 ng/dL
Renin (plasma)
Dewasa (posisi tegak lurus, asupan garam normal) : 1,3 4,0
ng/dL
Asam urat
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan

Serum
3,5 8,0 mg/dL
2,6 6,8 mg/dL

Urine
250 500 mg/24
jam
(pada diet normal)

3. Peran Perawat
Pre
- Jelaskan tujuan uji laboratorium dan tes diagnostik.
- Berikan penjelasan yang terperinci mengenai prosedur uji dan
pentingnya mengapa klien perlu mematuhi uji tersebut.

Penjelasan yang diberikan bisa ringkas atau mendalam,


-

bergantung pada pemahaman klien tentang uji tersebut.


Informasikan kepada klien tentang pembatasan asupan

makanan, minuman, atau obat.


Kaji riwayat alergi klien, khususnya terhadap zat medium

kontras (zat pewarna) atau yodium.


Pantau asupan dan haluaran serta tanda vital klien.

Post
- Pantau asupan dan haluaran serta tanda vital klien.
E. Diagnostic Imaging
KUB (Kidney, Ureter, and Bladder) radiografi
Tujuan :
- Mengetahui ukuran dan struktur ginjal, ureter, kandung kemih
-

abnormal
Batu ginjal
Massa ginjal dan kandung kemih.

Prosedur :
-

Tidak perlu pembatasan makan dan cairan


Sinar X harus dilakukan sebelum pemeriksaan IVP atau GI
Baju dilepaskan dan dipakai baju kain/kertas
Pasien tidur terlentang dengan tangan menjauh dari tubuh

pada meja sinar X yang sedikit tinggi.


Testis harus dilindungi sebagai kewaspadaan tambahan.

Peran perawat :
-

Jelaskan pada klien bahwa pemeriksaan sinar X biasanya 10

15 menit.
Jelaskan pada klien bahwa mungkin diambil beberapa kali.
Pasien mungkin dianjurkan untuk menunggu di ruang tunggu
sekitar 10-15 menit setelah dilakukan pemeriksaan sinar X

untuk memastikan apakah sinar X dapat dibaca.


Tanyakan klien wanita bila hamil atau diduga hamil. Sinar X
tidak dilakukan pada trimester I kehamilan. Sebuah apron

timah yang menutupi perut dan pelvis dapat dipakaikan.


Jelaskan bahwa alat-alat dan foto-foto sinar X saat ini

kualitasnya baik dan mengurangi kontaminasi dengan radiasi.


IVP (Intra Venous Pyelogram)

Pielografi

intravena

(IVP)

memvisualisasikan

seluruh

saluran perkemihan. Bahan radiopaque disuntikkan, dan sinar X


dilakukan pada waktu tertentu. IVP berguna untuk mengetahui
lokasi batu dan tumor, serta mendiagnosa penyakit ginjal.
Sehari sebelum pemeriksaan, pasien diberi diet berbentuk
cair atau lunak yang mudah dicerna. Pada saat hari pemeriksaan,
asupan cairan harus dibatasi dan pasien harus berpuasa.
Indikasi:
a. Membantu diagnosis hipertensi renovaskuar
b. Mengevaluasi penyebab darah dalam urine
c. Mengevaluasi efek trauma sistem kemih
d. Evaluasi fungsi ginjal, ureter, dan kandung kemih
e. Mengevaluasi obstruksi saluran kemih.
Kontra Indikasi
a. Pasien dengan gangguan perdarahan
b. Pasien yang sedang hamil
c. Lansia dan pasien yang mengalami dehidrasi kronis
d. Gagal ginjal
Peran Perawat
a. Menginformasikan kepada pasien tentang prosedur
b. Mengetahui riwayat alergen pasien
c. Mencatat hasil lab sebelum prosedur
d. Catat tanggal menstruasi terakhir dan menentukan
e.
f.
g.
h.
i.

kemungkinan hamil pada wanita perimenopause


Anjurkan pasien melepas perhiasan atau benda logam
Inform consent
Anjurkan pasien untuk bekerja sama selama prosedur
Bantu memposisikan pasien
Memantau komplikasi pada pasien yang berhubungan

dengan prosedur
j. Amati reaksi yang tertunda terhadap media kontras
k. Monitor output urine
Pielografi antegrad
Jika karena alasan teknis, pielografi retrograde tidak
mungkin didapatkan (misalnya setelah sistektomi), sebuah jarum
berukuran kecil, di bawah anestesi, dapat langsung dimasukkan
ke

dalam

system

pelvicalyces

dan

kemudian

dilakukan

penyuntikan kontras untuk memvisualisasi calyces, pelvis, dan


ureter. Pasien berbaring pada posisi tengkurap (prone) dan
kemudian dilakukan pemeriksaan fisik baik dengan USG atau
fluoroskopi. Prosedur ini tidak memerlukan anestesi umum,

secara akurat dapat melokalissi lesi obstruksi, seperti batu atau


striktur.
Pielografi retrograde
Dalam pielografi retrograd, kateter uretra dimasukan lewat
ureter ke dalam pelvis ginjal dengan bantuan sistoskopi.
Kemudian media kontras dimasukkan dengan gravitasi atau
penyuntikan

melalui

kateter.

Pielografi

retrograd

biasanya

dilakukan jika pemeriksaan IVP kurang memperlihatkan dengan


jelas system pengumpul.
Pielografi ini kadang-kadang diperlukan jika detail sistem
pelvicalyces dan ureter tidak tergambarkan dengan jelas dengan
menggunakan

kontras

intravena,

terutama

jika

terdapat

kecurigaan adanya tumor epitel pada saluran kemih. Pada


pemeriksaan ini, sebuah kateter dimasukkan ke dalam ureter
setelah dilakukan

sistoskopi, kemudian disuntikkan melalui

kateter dan akan menggambarkan sistem pelvicalyces dan


ureter.
- Indikasi:
o Untuk memeriksa saluran kemih pada pasien yang
o

alergi terhadap kontras yodium


Untuk mengevaluasi struktur dan integritas dari ginjal

dan ureter
Untuk mengidentifikasi penyebab obstruksi dalam ginjal

atau ureter (tumor, luka, blood clots, atau kalkuli)


Untuk menentukan apakah kateter atau stent ureter

diposisikan dengan benar


- Kontra indikasi: wanita hamil.
Urografi intravena (IVU)
Pemeriksaan urografi intravena yang juga dikenal dengan
nama intravenous pyelogaram (IVP) memungkinkan visualisasi
ginjal ureter dan kandung kemih. Media kontras radiopaque
disuntikan secara intravena dan kemudian dibersihkan dari
dalam darah serta dipekatkan oleh ginjal. Tebal nefrotomogram
dapat dilaksanakan sebagai bagian dari pemeriksaan untuk
melihat berbagai lapisan ginjal serta struktur difus dalam setiap
lapisan dan untuk membedakan massa atau lesi yang padat dari

kista didalam ginjal atau trakrus urinarius. Pemeriksaaan IVP


dilaksanakan

sebagai

bagian

dari

pengkajian

pendahuluan

terhadap semua masalah urologi yang dicurigai, khususnya


dalam

menegakan

diagnose

lesi

pada

ginjal

dan

ureter.

Pemeriksaan ini juga memberikan perkiraan kasar terhadap


fungsi ginjal.
Indikasi untuk pemeriksaan ini adalah hematuria, batu
ginjal, kolik ureter, atau kecurigaan adanya batu. Pasien dengan
retensi

urin

dan

infeksi

saluran

kemih

dianjurkan

untuk

melakukan USG dibandingkan IVU.


Setelah didapatkan film abdomen sebagai control awal,
sebanyak 50- 100 ml media kontras dengan osmolar rendah
yang teriodinisasi disuntikkan ke pasien. Kontras dengan cepat
mencapai ginjal dan akan dikeluarkan melalui filtrasi glomerulus.
Film yang diambil sesaat setelah penyuntikan kontras akan
menggambarkan fase nefrogram yang memperlihatkan parenkim
ginjal dan batas-batasnya. Film-film yang diambil 5, 10, dan 15
menit

setelah

penyuntikan

akan

memperlihatkan

sistem

pelvicalyces, ureter, dan kandung kemih; urutan ini bervariasi


tergantung pada masing-masing pasien. Adanya obstruksi ginjal
mungkin membutuhkan pemeriksaan yang lebih lama sampai 24
jam untuk menggambarkan sistem pelvicalyces.
(Patel, 2007)
Peran perawat sebelum menjalani pemeriksaan IVP :
Sebelum pemeriksaan, dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal yaitu
1). pemeriksaan kreatinin dan ureum melalui pemeriksaan
darah.
2). Pasien yang mengkonsumsi obat metformin, juga harus
diperhatikan untuk menstop konsumsi obat tersebut 48 jam
sebelum dan setelah prosedur, serta memiliki fungsi ginjal
yang baik
3). Mempersiapkan inform consent
4). Riwayat pasien di anamnesis untuk mendapatkan

riwayat

alergi yang dapat menimbulkan reaksi yang merugikan


terhadap media kontras.

5). Preparat

laksan

dapat

diberikan

pada

malam

harinya

sebelum jadwal pemeriksaan untuk mengeluarkan feses dan


gas dari traktus urinarius.
6). Pemberian cairan dapat dibatasi 8 hingga 10 jam sebelum
pemeriksaan untuk meningkatkan produksi urin yang pekat,
namun pada pasien-pasien tertentu seperti : usia lanjut, DM
yng tidak terkontrol, multiple myeloma mungkin tidak dapat
mentolerir keadaan dehidrasi. Konsultasikan pada dokter
untuk memberikan air minum saat sebelum pemeriksaan.
Pasien tidak boleh dehidrasi berlebihan karena hal ini akan
dapat mengencerkan media kontras dan membuat visualisasi
urinarius kurang adekuat.
7). Jelaskan kepada pasien bahwa kemungkinan akan terasa
panas di sepanjang perjalanan pembuluh darah saat media
kontras disuntikkan.
USG ginjal
USG ginjal (uji non invasif), memfasilitasi gelombang suara
berfrekuensi tinggi melalui tranduser ke area ginjal dan perirenal.
Gambar ginjal dan struktur di sekelilingnya diperlihatkan pada
layar

osiloskop.

Tujuan

keabnormalitasan
mengklarifikasi
Pemeriksaan

USG

massa
temuan

USG

ginjal

(kista,
yang

merupakan

adalah

tumor)

didapat
teknik

dari

mendeteksi
atau
uji

noninvasif

untuk
lainnya.

dan

tidak

memerlukan persiapan khusus kecuali menjelaskan prosedur


serta

tujuannya

pemeriksaan

USG

kapada
telah

pasien.

Karena

menggantikan

sensitivitasnya,

banyak

prosedur

diagnosis lainnya sebagai tindakan diagnostic pendahuluan.


Teknik ini sederhana, tidak menimbulkan nyeri dan aman.
USG bisa digunakan untuk:

Mempelajari ginjal, ureter dan kandung kemih; dengan

gambaran yang baik meskipun ginjal tidak berfungsi baik.


Mengukur laju pembentukan urin pada janin yang berumur
lebih dari 20 minggu dengan cara mengukur perubahan

volume kandung kemih. Dengan demikian bisa diketahui

fungsi ginjal janin.


Pada bayi baru lahir, USG merupakan cara terbaik untuk
mengetahui adanya massa di dalam perut, infeksi saluran

kemih dan kelainan bawaan pada sistem kemih.


Memperkirakan ukuran ginjal dan mendiagnosis sejumlah

kelainan ginjal, termasuk perdarahan ginjal.


Menentukan lokasi yang terbaik guna mengambil contoh

jaringan untuk keperluan biopsi.


Tidak ada kontra indikasi
Persiapan mudah :
Tidak perlu puasa
2 jam sebelum pemeriksaan, minum air putih 2 gelas dan
tidak boleh kencing. Untuk yang memakai kateter 2 jam

sebelum pemeriksaan harus diikat.


CT scan ginjal
CT scan memperlihatkan foto ginjal untuk mengidentifikasi
tumor, malformasi, kista, dan kalkuli. Zat kontras medium dapat
digunakan pada saat CT scan untuk meningkatkan visualisasi
ginjal. Biasanya CT scan ginjal dilakukan setelah dilaporkan hasil
IVP yang abnormal.
- Persiapan :
Anamnesa riwayat alergi obat-obatan/makanan
Kontras ionic/non-ionic
Inform consent
Perkiraan biaya yang harus dikeluarkan
Menjelaskan tentang cara pelaksanaan/perlu waktu lama
MRI ginjal
Hampir sama dengan CT Scan, tetapi gambar lebih jelas
karena ginjal dilihat melalui potongan sagital dan coronal.
Hilangnya

batas

kortikomedular

pada

pemeriksaan

MRI

merupakan gambaran penyakit ginjal yang tidak spesifik. Kista


ginjal juga mudah dapat dilihat, akan tetapi seperti halnya
pemeriksaan CT, pusat kalsifikasi tidak dapat dipastikan. Pada
tingkatan lesi ginjal yang solid, MRI lebih unggul dari pada CT
oleh karena MRI dapat melihat trombus pada pembuluh darah
dan dapat membedakan pembulu darah kolateral hilar dari
nodus. Dengan MRI dapat dibedakan lesi massa adrenal dengan

feokromositoma

yang

mempunyai

gambaran

sangat

karakteristik. MRI juga sangat bermanfaat untuk mendiagnosis


trombosis vena ginjal.
o Indikasi : Untuk penderita yang alergi terhadap bahan

o
a.
b.
c.
d.
e.

kontras
Kontra indikasi :
- Penderita dengan plate & screw
- Penderita dengan pacu jantung
- Penderita dengan hearing aid/gigi palsu harus dilepas
- Pasien yang sedang hamil atau di duga hamil
Peran perawat:
Menginformasikan tentang prosedur tindakan pada pasien
Menjelaskan prosedur tindakan
Memposisikan pasien
Melepas semua perhiasan dang logam dari tubuhnya
Memastikan apakah pasien memiliki logam yang

f.

ditanamkan dalam tubuhnya


Catat tangal mentruasi terakhir

dan

menentukan

kemungkinan hamil pada wanita perimenopause


g. Mengganti pakaian pasien dengan gaun khusus
h. Anjurkan pasien bekerja sama penuh selama tindakan
i. Amati reaksi alergi
j. Anjurkan pasien melaporkan gejala seperti detak jantung
cepat, sulit bernafas, dll. Bila timbul laporkan pada Dokter
Jadi, dapat disimpulkan bahwa indikasi diagnostic imaging
secara umum adalah:
a. melihat bayangan ginjal,
b. memperkirakan bentuk, ukuran, posisi dan perkiraan
adanya batu / kalsifikasi pada proyeksi tractus urinarius
c. Trauma abdomen
Infusion drip pyelography merupakan pemberian lewat infuse
larutan encer media kontras dengan volume yang besar untuk
menghasilkan opasitas parenkim ginjal dan mengisi seluruh
traktus urinarius. Metode ini berguna bila teknik urografi yang
biasa

dikerrjakan

drainase.
Sistogram,
kemih,

dan

tidak

sebuah

berhasil

kateter

kemudian

memperlihatkan

dimasukkan

media

kontras

kedalam

struktur
kandung

disemprotkan

untuk

mellihat garis besar dinding kandung kemih serta membantu


dalam

mengevaluasi

refluks

vesikouretral.

Sistogram

juga

dilakukan bersama dengan perekaman tekanan yang dikerjakan


secara bersamaan di dalam kandunng kemih.
Sistouretrogram menghasilkan visualilsasi uretra dan kandung
kemih yang bisa dilakukan melalui penyuntikan retrograde media
kontras ke dalam uretra serta kandunng kemih atau dengan
pemeriksaan sinar X sementara pasien mengekskresikan media
kontras.
Angiografi renal.
Prosedur ini memungkinkan visualisasi arteri renalis. Arteri
femoralis atau aksilaris ditusuk dengan jarum khusus dan
kemudian sebuah kateter disisipkan melalui arteri femoralis
serta iliaka ke dalam aorta atau arteri renalis. Media kontras
disuntikkan untuk menghasilkan opasitas suplai arteri renalis.
Angiografi memungkinkan evaluasi dinammika aliran darah,
memperlihatkan vaskulatur yang abnormal dan membantu
membedakan kista renal dengan tumor renal.
F. Urologic Endoscopic Procedures
1. Definisi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal
untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas
pemecah batu, dan kemudian mengeluarkannya dari saluran
kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran
kemih. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil
pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu dapat dilakukan
secara mekanik, dengan memakai energi hidraulik, energi
gelombang suara, atau dengan energi laser. Sistoskopi dan
nefroskopi merupakan contoh prosedur endoskopi urologi.
Sistoskopi adalah penglihatan langsung terhadap dinding
kandung kemih dan uretra dengan menggunakan alat optik.
Dengan tes ini, batu ginjal yang kecil dapat diambil dari ureter,
kandung

kemih,

atau

uretra,

dan

biopsy

jaringan

dapat

dilakukan. Sedangkan nefroskopi adalah pemeriksaan endoskopi


jaringan ginjal.

Salah satu prosedur paling umum dalam endourology


adalah extracorporeal shock wave lithotripsy, Beberapa tindakan
endourologi itu adalah:
a. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
Memanfaatkan mesin pencitraan disebut lithotriptor untuk
target dan memecahkan batu dengan proyeksi gelombang
kejut. Setelah batu telah hancur, potongan-potongan kecil
dengan aman dapat dieliminasi melalui urin. Prosedur ini
terbatas pada batu-batu kecil, namun faktor lain yang dapat
menghambat kesuksesan dengan teknik ini meliputi lokasi
batu, batu strategis di daerah tertentu dari ginjal atau
kandung kemih mungkin sulit dideteksi dan ditargetkan, atau
mungkin berhasil ditargetkan, tetapi fragmen rusak dapat
menjadi terjebak dan tidak dapat dilalui melalui urin.

b.PNL (Percutaneus Nephro Litholapaxy)

Yaitu mengeluarkan batu yang berada di dalam saluran ginjal


dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kalises
melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau
dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil.

c. Litotripsi

Yaitu memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan


memasukkan alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam bilibuli. Pemecah batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik.
d.Uretroskopi atau uretro-renoskopi:
yaitu memasukkan alat uretroskopi peruretram guna melihat
keadaan ureter atau

sistem pielo-kaliks ginjal. Dengan

memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter


maupun sistem pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan
uretroskopi / urestrorenoskopi ini.
e. Ekstraksi Dormia: yaitu mengeluarkan batu ureter dengan
menjaringnya melalui alat keranjang Dormia.
2. Indikasi
- Mendeteksi batu ginjal, tumor, hiperplasia prostat.
- Mengidentifikasi striktur uretra
- Menentukan penyebab hematuria atau infeksi saluran kemih.
- Mengeluarkan batu ginjal.
3. Kontraindikasi

Kontraindikasi umun untuk intervensi endourologic

identik

dengan intervensi bedah terbuka yang digunakan untuk


penyakit

striktur

ureter

(misalnya

perdarahan

diatesis

uncorrectable, dll).
4. Prosedur Pelaksanaan
- Dapatkan tanda tangan surat persetujuan.
- Berikan diet cairan pada pagi hari jika digunakan anestesi
lokal. Beberapa gelas air putih dapat diberikan sebelum
prosedur. Jika anestesi umum, puasakan 8 jam sebelum
-

sistoskopi.
Catat tanda-tanda vital.
Analgesik narkotik dapat diberikan 1 jam sebelum sistoskopi.

Prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal atau umum.


Posisi litotomi. Anestesi lokal diinjeksikan ke dalam uretra. Air
dapat dimasukkan untuk menambah visualisasi menjadi lebih
baik.

Spesimen/bahan

urine

mungkin

diambil

untuk

diperiksakan.
- Lama prosedur pemeriksaan ini 30 menit 1 jam.
5. Peran Perawat
Pre
- Kaji riwayat sistitis, prostatitis, yang dapat mengakibatkan
-

sepsis
Jelaskan prosedur pemeriksaan
Periksa adanya reaksi hipersensitivitas terhadap anestesi
Kaji pola urinari: jumlah, warna, bau, berat jenis dan ukur

tanda-tanda vital
Jelaskan pada klien bahwa mungkin akan merasa tidak
nyaman seperti ada tekanan atau rasa panas selama atau

sesudah pemeriksaan
Post
- Amati adanya komplikasi yang dapat terjadi sebagai akibat
dari sistoskopi: perdarahan, perforasi kandung kemih, retensi
-

urine dan infeksi


Pantau tanda-tanda vital. Bandingkan dengan dasar tanda-

tanda vital.
Jelaskan pada klien bahwa aka nada rasa panas ketika buang

air kecil yang mungkin terjadi selama 1 2 hari.


Pantau haluaran urine selama 48 jam sesudah sistoskopi.

Laporkan adanya hematuria yang menyolok. Jelaskan pada

klien bahwa urine yang berwarna darah adalah hal tak biasa.
Observasi tanda dan gejala infeksi: panas, meriang, takikardi,
rasa panas saat buang air kecil, nyeri. Antibiotik dapat
diberikan

sebelum

dan

sesudah

pemeriksaan

sebagai

tindakan profilaksis.
Anjurkan untuk menghindari minuman beralkohol selama 2

hari sesudah pemeriksaan.


Untuk mengurangi rasa nyeri dan spasme otot berikan
kompres

hangat

pada abdomen

sebelah

bawah

sesuai

intruksi. Rendam duduk dapat diberikan.


G. Biopsi
1. Definisi
Biopsi adalah pengangkatan dan pemeriksaan jaringan
tubuh. Biopsi dilakukan pada berbagai organ dan struktur tubuh,
seperti sumsum tulang, payudara, endometrium uterus, ginjal,
dan hati. Metode yang digunakan untuk biopsi jaringan yang
diambil dari berbagai organ dapat berbeda satu sama lain.
Menurut Kee (2007), tujuan biopsy adalah untuk
mengidentifikasi jaringan abnormal dari berbagai sisi tubuh dan
mendeteksi keberadaan proses penyakit (misal sirosis).
Biopsi ginjal adalah mengambil sedikit jaringan ginjal.
Tujuan tindakan ini untuk nengetahui patologi-anatomi (PA) dari
jaringan ginjal. Indikasi tindakan ini untuk pasien dengan
penyakit ginjal seperti sindrom nefrotik atau karsinoma ginjal.
Biopsi ginjal : mungkin dilakukan secara endoskopik, untuk
menentukan sel jaringan untuk diagnosis hostologis.
2. Indikasi
- Gangguan darah
- Malignansi
- Kista
- Polip
- Proses infeksius
- Penyakit progresif (sirosis, nefrosis, lupus nefritis)
- Defek ovulati
- Penolakan organ transplantasi
Selain itu, indikasi dari biopsy ginjal antara lain sebagai berikut:

Proteinuria
Proteinuria dengan gangguan fungsi ginjal dan proteinuria
asimtomatik > 2 g/24 jam tanpa tergantung fungsi ginjal
merupakan

indikasi

biopsi

ginjal.

Demikian

juga

proteinuria > 2 g/24 jam dengan kerusakan yang mungkin


dapat

diobati

seperti

lupus

nefritis

atau

nefropati

membranosa. Keuntungan biopsi ginjal pada pasien-pasien

yang non nefrotik proteinuria masih diperdebatkan.


Sindrom nefrotik
Sindrom nefrotik pada orang dewasa (proteinuria > 3 g/24
jam, albumin < 3,5 g/L dan edema) merupakan indikasi
untuk

biopsi

ginjal

tanpa

adanya

penyakit-penyakit

sistemik. Bentuk yang paling sering dijumpai antara lain


glomerulonefritis membranosa, glomerulosklerosis fokal
segmental,

glomerulopati,

glomerulonefritis

membranoproliferatif, nefropati lgA, amiloidosis, dan lesi

minimal.
Proteinuria persisten dan hematuria
Biopsi ginjal hanya dilakukan pada pasien-pasien yang
jelas mengalami gangguan fungsi ginjal. Selain itu juga
dilakukan biopsi pada pasien-pasien yang mengalami
hematuria lebih dari 6 bulan, episode gross hematuria,

dan adanya riwayat hematuria pada keluarga.


Gagal ginjal akut
Bila penyebab gagal ginjal akut tidak jelas dan setelah
dilakukan pengobatan suportif selama 3-4 minggu tidak
terjadi perbaikan, tindakan biopsi ginjal perlu dilakukan
untuk

mencari

penyebab

dan

membedakan

antara

nekrosis tubular akut dengan penyakit ginjal lain yang


memerlukan pengobatan lebih spesifik dan tepat. Biopsi
juga

diperlukan

silinder

sel

pada

darah

pasien-pasien

merah,

penyakit

dengan
anti

adanya

glomerular

basement membrane dan poliarteritis mikroskopik.


Penyakit sistemik

Beberapa

penyakit

sistemik

sering

melibatkan

ginjal

seperti DM, SLE, Schonlein Henoch Purpura, poliarteritis


nodosa, sindrom Good Pasture, Wageners granulomatosis
dan disproteinuria. Tindakan biopsi diperlukan untuk
memastikan diagnosis dan untuk mengetahui sejauh mana
keterlibatan

ginjal,

juga

sebagai

petunjuk

untuk

pengobatan.
Gagal ginjal kronik dengan ukuran ginjal normal
Biopsi dalam hal ini tidak membantu untuk memperbaiki
kerusakan yang terjadi, akan tetapi dapat membantu

prognosis dan rencana pengobatan.


Allograf transplant
Sangat berguna untuk membedakan bentuk-bentuk rejeksi
yang terjadi dengannekrosis tubular akut, obat-obatan
pencetus nefritis interstisial atau nefrotoksisitas infark

hemoragik dan denovo glomerulonefritis berulang.


3. Kontraindikasi
Biopsi ginjal kontraindikasi pada keadaan ukuran ginjal yang
sudah mengecil, ginjal polikistik, hipertensi yang tidak terkendali,
infeksi perinefrik, gangguan pembekuan darah, gagal napas, dan
obesitas.
Selain itu, kontraindikasinya pada ginjal soliter atau ginjal
ektopik (kecuali alograf transplan), ginjal horse shoe, kelainan
perdarahan yang tak dapat diatasi, hipertensi berat yang tak
terkendali, neoplasma ginjal, infeksi ginjal akut, ginjal yang kecil,
ginjal obstruksi, nefropati refluks.
4. Prosedur Pelaksanaan
Pada biopsi ginjal dapat dilakukan dengan menggunakan
sistoskop melalui metode penyikatan, eksisi tepi jaringan ginjal,
atau secara perkutan dengan menggunakan jarum khusus.
Pasien dipuasakan selama 6 hingga 8 jam sebelum
pemeriksaan. Set infus dipasang. Spesimen urin dikumpulkan
dan

disimpan

pascabiopsi.

Jika

untuk
akan

dibandingakan
dilakukan

dengan

biopsi

spesimen

jarum,

pasien

diberitahukan agar menahan napas (untuk mencegah gerakan


ginjal) ketika jarum biopsi ditusukkan.
- Pasien yang sudah dalam keadaan sedasi ditempatkan dalam
posisi berbaring telungkup dengan bantal pasir diletakkan
-

dibawah perut.
Metode perkutan: sisi biopsi ditentukan dengan penggunaan

alat USG atau fluoroskopi.


Kulit pada lokasi biopsi diinfiltrasi dengan preparat anestesi

lokal.
Anestetik diberikan sesuai dengan prosedur yang dipilih.
Jika menggunakan insersi jarum, klien diminta untuk menarik
napas dalam, lalu menahannya. Jarum biopsi ditusukkan tepat
di sebelah dalam kapsula ginjal pada kuadran ginjal sebelah
luar. Pada biopsi terbuka dilakukan insisi yang kecil di daerah
ginjal sehingga ginjal dapat dilihat secara langsung. Diambil
specimen jaringan yang berukuran kecil. Tekanan pada sisi
tersebut dilakukan selama kira-kira 20 menit untuk mencegah

perdarahan karena jaringan ginjal bersifat snagat vaskular.


5. Peran Perawat
Pre
- Periksa apakah formulir persetujuan tindakan sudah
-

ditandatangani.
Jelaskan prosedur biopsi kepada klien. Penjelasan dapat
mengurangi kecemasan klien dan meningkatkan kerja sama

saat pelaksanaan prosedur.


- Pantau tanda vital.
Intra
- Pantau tanda-tanda vital.
Post
- Pantau tanda-tanda vital.
- Tingkatkan asupan cairan klien.

REFERENSI
Kee, Joyce LeFever. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium &
Diagnostik. Ed. 6. Jakarta: EGC.
Kozier & Erb. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis. Ed. 5. Jakarta:
EGC.
Nurhayati. 2013. Persiapan Penderita pada Pemeriksaan Tractus
Urinatius di Unit Radiologi. Malang: Radiologi Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.
Patel, Pradip R. 2007. Lecture Notes: Radiologi. Ed. 2. Jakarta: Erlangga.
Tamsuri, Anas. 2008. Klien Gangguan Keseimbangan Cairan & Elektrolit.
Jakarta: EGC.
Smith, Arthur D.dkk.2007.Smiths textbook of endeurologi 3rd
edition.canada: Black Well Publishing
www.healthline.com. "Biopsy Health Article". Healthline Networks, Inc.
Diakses pada tanggal 30 Mei 2015 pukul 12.01
http://www.healthyenthusiast.com/evaluasi-diagnostik-gangguanginjal.html
Diakses pada tanggal 30 Mei 2015 pukul 12.08
https://www.scribd.com/doc/154899712/Definisi
Diakses pada tanggal 29 Mei 2015 pukul 19.15