Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

A. ANAMNESIS UMUM
I.

Identifikasi
1. Nama
2. Usia
3. Pekerjaan
4. Pendidikan
5. Bangsa
6. Agama
7. Alamat
8. MRS
9. No. Medical Record
10. Nama Suami
11. Usia
12. Pekerjaan
13. Pendidikan
14. Bangsa
15. Agama

II.

: Ny. FY
: 32 tahun
: PNS
: Sarjana
: Sumatera
: Islam
: Jl. Srijaya Negara Lr. Tembesu No. 103. Rt 30 Rw 10.
: 28-03-2015
pukul 01:13:11
: 0000179780
: Tn.F
: 34 tahun
::: Sumatera
: Islam

Riwayat Reproduksi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Menarce
: Usia 12 tahun
Siklus haid
: 28 hari dan teratur
Lama haid
: 7 hari
Banyak haid
: 2 kali ganti pembalut
Hari pertama haid terakhir : 10-7-2014
Taksiran tanggal persalinan : 17-4-2015
Lama hamil
: 38 minggu
Periksa hamil
:Gerakan janin dirasakan sejak : -

III.

Riwayat Pernikahan : 1 kali lamanya 3 tahun

IV.

Riwayat Sosial Ekonomi

V.

Riwayat Gizi

VI.

Riwayat Kontrasepsi : Tidak ada

: Sedang

VII. Riwayat Obstetri


No

Tempat
bersalin

1.

RS (SpOG)

2.

Hamil ini

VIII.

: Sedang

: G2P1A0
Tahun
2013

Jenis
persalinan
SC

Riwayat Penyakit Dahulu

Penyulit
Tidak ada

: disangkal
1

Anak
Kelamin

Berat

Keadaan

perempuan

2400

sehat

IX.

Riwayat Penyakit dalam Keluarga

X.

Riwayat Persalinan
1.
2.
3.
4.
5.

Dikirim oleh
His mulai sejak
Darah lendir sejak
Rasa mengejan sejak
Ketuban pecah sejak

: disangkal

: Os datang sendiri
::::-

B. ANAMNESIS KHUSUS ( 28 Maret 2015 pukul 01:13:11 WIB)


I.

Keluhan utama

: Mau melahirkan dengan bekas SC 1x (a.i partus tak

maju)
II.

Keluhan tambahan

:-

III.

Riwayat perjalanan penyakit


2 hari yang lalu os mengeluh perut mules menjalar ke pinggang, makin lama makin
sering dan kuat. Riwayat keluar darah lendir (-). Riwayat keluar air-air (-). Os mengaku
pernah operasi melahirkan tahun 2013, perempuan, BB 2400 gr, sehat, os lalu berobat ke
RSMH. Os mengaku hamil cukup bulan dan gerakan bayi masih dirasakan.

IV.

Pemeriksaan fisik
A. Status pasien
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Keadaan umum
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernafasan
TB
BB

: Sedang
: CM
: 110/80
: 80/mnt
: 36 oC
: 26 kali
: 157 cm
: 65 kg

B. Pemeriksaan fisik khusus


1. Kepala
a. Mata
b. Hidung
c. Telinga
d. Mulut

: Konjungtiva anemis (-/-),


: Septum deviasi (-)
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan

2. Leher
: Tidak ada kelainan
3. Thorax
a. Jantung
2

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
b. Paru-paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: iktus cordis tidak terlihat


: iktus cordis teraba 2 cm dari LMCS
: batas jantung normal
: BJ I-II murni
: Simetris statis dinamis
: stem fremitus kanan=kiri
: sonor kedua lapangan paru
: vesikuler (+) normal, rhonki (-), wheezing (-)

4. Abdomen
Inspeksi : dapat dilihat pada status obstetri
Palpasi : dapat dilihat pada status obstetri
Perkusi : dapat dilihat pada status obstetri
Auskultasi : dapat dilihat pada status obstetri
5.
6.
7.
8.

Genitalia
: dapat dilihat pada status obstetri
Ekstremitas
: Sianosis (-), edema (-)
Kulit
: tidak ada kelainan
Status Neurologikus : refleks fisiologis (+)

C. Status obstetrik
1. Pemeriksaan luar
Leopold I

= FUT 3 jbpx (34 cm)

Leopold II

= memanjang, punggung kanan

Leopold III

= kepala

Leopold IV

= 4/5

His

= 2x/10/15

DJJ

= 142x/menit, teratur

TBJ

=-

2. Pemeriksaan dalam
Portio

= lunak

Posisi

= posterior

Pendataran

= 50%

Pembukaan

= 1 cm

Ketuban

= sudah pecah, jernih, bau (-)

Penurunan

= H I-II

Penunjuk

= belum dapat dinilai

V.

Pemeriksaan panggul

Pintu atas panggul


Pintu tengah panggul
-

:
Promontorium
:
Konjungata diagonalis
Konjungata vera
Linea iluminata
:
Spina ischiadica
Sakrum
Dinding samping

Pintu bawah panggul :


- Arkus pubis
- Kesan panggul
- Bentuk panggul
- DKP

:
:
:
:
:
:

:
:
:
:-

VI. Hasil laboratorium


Hb
:
Leukosit
:
Trombosit
:
VII. Diagnosis :
G2P1A0 hamil 38 minggu inpartu kala I fase laten dengan bekas SC (a.i. partus tak maju)
janin tunggal hidup presentasi kepala.
VIII. Tatalaksana
Prognosis
Vitam
Fungsionam

Observasi TVI, DJJ, his


IVFD RL gtt xx/menit
Injeksi ceftriaxon 2x1 gr IV (Skin Test)
Cek lab : darah rutin, cross match
R/ terminasi perabdominam

: Dubia
: Dubia

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. SEKSIO SESARIA


1.1.1. Definisi
Seksio sesaria atau Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin
dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan
rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram.1
1.1.2. Jenis Sectio Caesarea
Ada dua jenis sayatan operasi yang dikenal yaitu :
a. Sayatan melintang
Sayatan pembedahan dilakukan dibagian bawah rahim (SBR). Sayatan
melintang dimulai dari ujung atau pinggir selangkangan (simphysisis) di atas
batas rambut kemaluan sepanjang sekitar 10-14 cm. keuntunganya adalah
parut pada rahim kuat sehingga cukup kecil resiko menderita rupture uteri
(robek rahim) di kemudian hari. Hal ini karena pada masa nifas, segmen
bawah rahim tidak banyak mengalami kontraksi sehingga luka operasi dapat
sembuh lebih sempurna.2
b. Sayatan memanjang (bedah caesar klasik)

Meliputi sebuah pengirisan memanjang dibagian tengah yang memberikan


suatu ruang yang lebih besar untuk mengeluarkan bayi. Namun, jenis ini kini
jarang dilakukan karena jenis ini labil, rentan terhadap komplikasi.3
1.1.3. Indikasi Sectio Caesarea
Para ahli kandungan atau para penyaji perawatan yang lain menganjurkan
sectio caesarea apabila kelahiran melalui vagina mungkin membawa resiko pada ibu
dan janin. Indikasi untuk sectio caesarea antara lain meliputi:
a. Indikasi Medis
Ada 3 faktor penentu dalam proses persalinan yaitu :
1) Power
Yang memungkinkan dilakukan operasi caesar, misalnya daya mengejan
lemah, ibu berpenyakit jantung atau penyakit menahun lain yang
mempengaruhi tenaga.
2) Passanger
Diantaranya, anak terlalu besar, dengan kelainan letak lintang, primi gravida
diatas 35 tahun dengan letak sungsang, anak tertekan terlalu lama pada pintu
atas panggul, dan anak menderita fetal distress syndrome (denyut jantung
janin kacau dan melemah).
3) Passage
Kelainan ini merupakan panggul sempit, trauma persalinan serius pada jalan
lahir atau pada anak, adanya infeksi pada jalan lahir yang diduga bisa menular
ke anak, umpamanya herpes kelamin (herpes genitalis), condyloma lota
(kondiloma sifilitik yang lebar dan pipih), condyloma acuminata (penyakit
infeksi yang menimbulkan massa mirip kembang kol di kulit luar kelamin
wanita), hepatitis B dan hepatitis C.3
b. Indikasi Ibu
1) Usia
Ibu yang melahirkan untuk pertama kali pada usia sekitar 35 tahun , memiliki
risiko melahirkan dengan operasi. Apalagi pada wanita dengan usia 40 tahun
ke atas. Pada usia ini, biasanya seseorang memiliki penyakit yang
mengganggu, misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kencing manis,
dan preeklampsia. Eklampsia dapat menyebabkan ibu kejang shingga dokter
memutuskan persalinan dengan sectio caesarea.
2) Tulang Panggul
Cephalopelvic diproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak
sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak

melahirkan secara alami. Tulang panggul sangat menentukan mulus tidaknya


proses persalinan.
3) Persalinan Sebelumnya dengan sectio caesarea
Sebenarnya, persalinan melalui bedah caesar tidak mempengaruhi persalinan
selanjutnya harus berlangsung secara operasi atau tidak. Apabila memangada
indikasi yang mengharuskan dilakukanya tindakan pembedahan, seperti bayi
terlalu besar, panggul terlalu sempit, atau jalan lahir yang tidak mau
membuka, operasi bisa saja dilakukan.
4) Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang kaku sehingga
tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan
pada jalan lahir, tali pusat pendek, dan ibu sulit bernafas.
5) Kelainan Kontraksi Rahim
Jika kontraksi rahim lemah dan tidak terkoordinasi (inkordinate uterine action)
atau tidak elastisnya leher rahim sehingga tidak dapat melebar pada proses
persalinan, menyebabkan kepala bayi tidak terdorong, tidak dapat melewati
jalan lahir dengan lancar.
6) Ketuban Pecah Dini
Robeknya kantung ketuban sebelum waktunya dapat menyebabkan bayi harus
segera dilahirkan. Kondisi ini membuat air ketuban merembes ke luar
sehingga tinggal sedikit atau habis. Air ketuban (amnion) adalah cairan yang
mengelilingi janin dalam rahim.
7) Rasa Takut Kesakitan
Umumnya, seorang wanita yang melahirkan secara alami akan mengalami
proses rasa sakit, yaitu berupa rasa mulas disertai rasa sakit di pinggang dan
pangkal paha yang semakin kuat dan menggigit. Kondisi tersebut karena
keadaan yang pernah atau baru melahirkan merasa ketakutan, khawatir, dan
cemas menjalaninya. Hal ini bisa karena alasan secara psikologis tidak tahan
melahirkan dengan sakit. Kecemasan yang berlebihan juga akan mengambat
proses persalinan alami yang berlangsung.2
c. Indikasi Janin
1) Ancaman Gawat Janin (fetal distress)
Detak jantung janin melambat, normalnya detak jantung janin berkisar 120160. Namun dengan CTG (cardiotography) detak jantung janin melemah,
lakukan segera sectio caesarea segara untuk menyelematkan janin.
2) Bayi Besar (makrosemia)
3) Letak Sungsang

Letak yang demikian dapat menyebabkan poros janin tidak sesuai dengan arah
jalan lahir. Pada keadaan ini, letak kepala pada posisi yang satu dan bokong
pada posisi yang lain.
4) Faktor Plasenta
Plasenta previa, Plasenta lepas (Solution placenta), Plasenta accreta
5) Kelainan Tali Pusat
Prolapsus tali pusat(tali pusat menumbung)Keadaan penyembulan sebagian
atau seluruh tali pusat. Pada keadaan ini, tali pusat berada di depan atau di
samping atau tali pusat sudah berada di jalan lahir sebelum bayi.
Terlilit tali pusatLilitan tali pusat ke tubuh janin tidak selalu berbahaya.
Selama tali pusat tidak terjepit atau terpelintir maka aliran oksigen dan nutrisi
dari plasenta ke tubuh janin tetap aman.2
1.1.4. Prosedur Tindakan Sectio Caesarea
Teknik Seksio Sesarea Klasik (Corporal)
1) Mula-mula dilakukan disinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi
dipersempit dengan kain suci hama
2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang 12
cm sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal
terbuka.
3) Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi
4) Dibuat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen atas rahim, kemudian
diperlebar secara sagital dengan gunting
5) Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan. Janin dilahirkan dengan
meluksir kepala dan mendorong fundus uteri. Setelah janin lahir seluruhnya, tali
pusat dijepit dan dipotong di antara kedua penjepit.
6) Plasenta dilahirkan secara manual. Disuntikkan 10 unit oksitosin ke dalam rahim
secara intramural.
7) Luka insisi segmen atas rahim dijahit kembali.
Lapisan I

: Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur

dengan benang cat gut, khromik


Lapisan II

: Hanya miometrium saja dijahit secara simpul (berhubung

otot segmen atas rahim sangat tebal) dengan cat gut khromik.
Lapisan III

: Perimetrium saja dijahit secara simpul dengan benang cat

gut biasa.
8

8) Setelah dinding rahim selesai dijahit, kedua adneksa dieksplorasi.


9) Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut
dijahit.4,5

Sumber: Ilmu bedah kebidanan, 2002


Gambar 1. Seksio sesaria secara klasik

Teknik Seksio Sesarea Transperitoneal Profunda


1) Mula-mula dilakukan disinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi
dipersempit dengan kain suci hama.
2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah
umbulikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka.
3) Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi.
4) Dibuat bladder flap, yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika
vesikouterina) di depan segmen bawah rahim secara melintang. Plika vesikouterina
ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah, dan kandung kencing yang
telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung
kencing.
5) Dibuat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina
tadi secara tajam dengan pisau bedah 2 cm, kemudian diperlebar melintang secara
tumpul dengan kedua jari telunjuk operator. Arah insisi pada segmen bawah rahim
dapat melintang (transversal) sesuai cara Kerr, atau membujur (sagital) sesuai cara
Kronig.
6) Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan, janin dilahirkan dengan
meluksir kepalanya. Badan janin dilahirkan dengan mengai kedua ketiaknya. Tali

pusat dijepit dan dipotong, plasenta dilahirkan secara manual. Ke dalam otot rahim
intamural disuntikkan 10 unit oksitosin. Luka dinding rahim dijahit.
Lapisan I

: dijahit jelujur, pada endometrium dan miometrium

Lapisan II

: dijahit jelujur hanya pada miometrium saja.

Lapisan III

: dijahit jelujur pada plika vesikouterina.

7) Setelah dinding rahim selesai dijahit, kedua adneksa dieksplorasi.


8) Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut
dijahit.4,5

Sumber: Ilmu bedah kebidanan, 2002


Gambar 2. Seksio sesaria transperitoneal profunda

Teknik Seksio-Histerektomi

10

1) Setelah janin dan plasenta dilahirkan dari rongga rahim, dilakukan hemostasis pada
insisi dinding rahim, cukup dengan jahitan jelujur atau simpul
2) Untuk memudahkan histerektomi, rahim boleh dikeluarkan dari rongga pelvis.
3) Mula-mula ligamentum profundum dijepit dengan cunam kocher dan cunam oschner
kemudian dipotong sedekqat mungkin dengan rahim, dan jaringan yang sudah
dipotong diligasi dengan benang catgut khromik no.0. Bladder flap yang telah dibuat
pada waktu seksio sesaria transpertoneal profunda dibebaskan lebih jauh ke bawah
dan lateral. Pada ligamentum latum belakang dibuat lubang dengan telunjuk tangan
kiri di bawah adneksadari arah belakang. Dengan cara ini ureter akan terhindar dari
kemungkinan terpotong.
4) Melalui lubang pada ligamentum latum ini, tuba falopii, ligamentum uteroovarica,
dan pembuluh darah dalam jaringan tersebut dijepit dengan 2 cunam oshner
lengkung dan di sisi rahim dengan cunam Kocher. Jaringan di antaranya kemudian
digunting dengan gunting Mayo. Jaringan yang terpotong diikat dengan jahitan
transfiks untuk hemostasis dengan catgut no. 0.
5) Jaringan ligamentum latum yang sebagian adalah avaskular dipotong secara tajam ke
arah serviks. Setelah pemotongan ligamentum latum sampai di daerah serviks,
kandung kencing disisihkan jauh ke bawah dan samping.
6) Pada ligamentum kardinale dan jaringan paraservical dilakukan penjepitan dengan
cunam Oshner lengkung secara ganda, dan pada tempat yang sama di sisi rahim
dijepit dengan cunam Kocher lurus. Kemusian jaringan di antaranya digunting
dengan gunting mayo. Tindakan ini dilakukan pada beberapa tahap sehingga
ligamentum kardinale terpotong seluruhnya. Punctum ligamentum kardinale dijahit
transfiks secara ganda dengan benang catgut khromik no. 0
7) Demikian juga ligamentum sakrouterina kiri dan kanan dipotong dengan cara yang
sama dan diligasi secara transfiks dengan benang catgut khromik no. 0
8) Setelah mencapai di atas dinding vagina serviks, pada sisi dcepan serbiks dibuat
irisan sagital dengan pisau, kemudian melaui insisi tersebut dinding vagina dijepit
dengan cunam Oshner melingkari serviks dan dinding vagina dipotong tahap demi
tahap. Pemotongan dinding vagina dapat dilakukan dengan gunting atau pisau.
Rahim akhirnya dapat diangkat.
9) Puntung vagina dijepit beberapa cunam Kocher untuk hemostasis. Mula-mula
puntung kedua ligamentum kardinane dijahitkan pada ujung kiri dan kanan puntung
vagina, sehingga terjadi hemostasis pada kedua ujung puntung vagina. Puntung
11

vagina dijahit secara jelujur untuk hemostasis dengan catgut khromik. Puntung
adneksa yang telah dipotong dapat dijahitkan digantungkan pada puntung vagina,
asalkan tidak terlalu kencang. Akhirnya puntung vagina ditutup dengan
retroperitonealisasi dengan menutupkan bladder flap pada sisi belakang puntung
vagina.
10)

Setelah kulit perut dibersihkan dari sisa darah, luka perut ditutup lapis demi

lapis.4,5

1.1.5. Komplikasi Tindakan Seksio Sesarea


12

Komplikasi yang terjadi setelah tindakan seksio sesarea sebagai berikut:


a. Infeksi Puerperal (nifas)
Infeksi puerperal terbagi 3 tingkatan, yaitu:
Ringan: kenaikan suhu tubuh beberapa hari saja
Sedang: kenaikan suhu tubuh lebih tinggi, disertai dehidrasi dan
sedikitkembung.
Berat: dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita jumpai
pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena
ketuban yang telah pecah terlalu lama.
b. Perdarahan
Perdarahan dapat disebabkan karena banyaknya pembuluh darah yang terputus
dan terbuka, atonia uteri, dan perdarahan pada placental bed. Perdarahandapat
mengakibatkan terbentuknya bekuan-bekuan darah pada pembuluh darah balik
di kaki dan rongga panggul.
d. Luka Kandung Kemih
Tindakan seksio sesarea, apabila dilakukan dengan tidak hati-hati dapat
mengakibatkan luka pada organ lain seperti kandung kemih, yang dapat
menyebabkan infeksi.6
3.2.
Persalinan Pervaginam Dengan Bekas Seksio Sesarea
3.2.1. Definisi
Persalinan Pervaginam dengan bekas seksio sesarea atau juga dikenal
denganVBAC (Vaginal Birth After Cesarean-section) adalah proses melahirkan normal
setelah pernah melakukan seksio sesarea. VBAC menjadi isu yang sangat penting
dalam ilmu kedokteran khususnya dalam bidang obstetrik karena pro dan kontra akan
tindakan ini. Baik dalam kalangan medis ataupun masyarakat umum selalu muncul
pertanyaan, apakah VBAC aman bagi keselamatan ibu. Pendapat yang paling sering
muncul adalah Orang yang pernah melakukan seksio harus seksio untuk selanjutnya.
Juga banyak para ahli yang berpendapat bahawa melahirkan normal setelah pernah
melakukan seksio sesarea sangat berbahaya bagi keselamatan ibu dan section adalah
pilihan terbaik bagi ibu dan anak.
3.2.2. Indikasi VBAC

13

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) pada tahun

2004

memberikan rekomendasi untuk menyeleksi pasien yang direncanakan untuk persalinan


pervaginal pada bekas seksio sesarea.
Menurut Cunningham FG (2001) kriteria seleksinya yaitu:
a. Tidak lebih dari 1 kali seksio sesarea dengan insisi transversum di segmen bawah
rahim.
b. Secara klinis panggul adekuat atau imbang fetopelvik baik
c. Tidak ada bekas ruptur uteri atau bekas operasi lain pada uterus
d. Tersedianya tenaga yang mampu untuk melaksanakan monitoring, persalinan dan
seksio sesarea emergensi.
e. Sarana dan personil anastesi siap untuk menangani seksio sesarea darurat
Untuk memprediksi keberhasilan penanganan persalinan pervaginal bekas
seksio sesarea, beberapa peneliti telah membuat sistem skoring. Adapun skoring yang
ditentukan untuk memprediksi persalinan pada wanita dengan bekas seksio sesarea
adalah sebagai berikut:7,8,9
Tabel 1 . Skor VBAC menurut Flamm dan Geiger (1997)
No
1
2

Karakteristik

Skor
2

Usia < 40 tahun


Riwayat persalinan pervaginal
- sebelum dan sesudah seksio sesarea

- persalinan pervaginal sesudah seksio sesarea

- persalinan pervaginal sebelum seksio sesarea

- tidak ada

Alasan lain seksio sesarea terdahulu

Pendataran dan penipisan serviks saat tiba di Rumah


Sakit dalam keadaan Inpartu:
- 75 %

- 25 75 %

- < 25 %

Dilatasi serviks > 4 cm

Tabel 2. Angka Keberhasilan VBAC menurut Flamm dan Geiger


Skor
0-2
3

Angka Keberhasilan (%)


42-49
59-60
14

4
5
6
7
8-10
Total

64-67
77-79
88-89
93
95-99
74-75

Tabel 3. Skor VBAC menurut Weinstein Factor


No.
1.

Bishop Score 4

2.

Riwayat persalinan pervaginal sebelum seksio

Tidak
0

Ya
4

sesarea
3.

Indikasi seksio sesarea yang lalu

Malpresentasi, Preeklampsi/Eklampsi, Kembar

HAP, PRM, PersalinanPrematur

Fetal Distres, CPD, Prolapsus tali pusat

Makrosemia, IUGR

3.2.3. Kontraindikasi VBAC


Kontra indikasi mutlak melakukan VBAC adalah :
a. Bekas seksio sesarea klasik
b. Bekas seksio sesarea dengan insisi T
c. Bekas ruptur uteri
d. Bekas komplikasi operasi seksio sesarea dengan laserasi serviks yang luas
e. Bekas sayatan uterus lainnya di fundus uteri contohnya miomektomi
f. Disproporsi sefalopelvik yang jelas.
g. Pasien menolak persalinan pervaginal
h. Panggul sempit
i. Ada komplikasi medis dan obstetrik yang merupakan kontra indikasi
persalinan pervaginal
3.2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi VBAC
a. Teknik operasi sebelumnya
Pasien bekas seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim transversal merupakan
salah satu syarat dalam melakukan VBAC, dimana pasien dengan tipe insisi ini
15

mempunyai resiko ruptur yang lebih rendah dari pada tipe insisi lainnya. Bekas seksio
sesaria klasik, insisi T pada uterus dan komplikasi yang terjadi pada seksio sesarea yang
lalu misalnya laserasi serviks yang luas merupakan kontraindikasi melakukan VBAC.
b. Jumlah seksio sesarea sebelumnya
VBAC tidak dilakukan pada pasien dengan insisi corporal sebelumnya maupun pada
kasus yang pernah seksio sesarea dua kali berurutan atau lebih, sebab pada kasus
tersebut diatas seksio sesarea elektif adalah lebih baik dibandingkan persalinan
pervaginal.
c. Penyembuhan luka pada seksio sesarea sebelumnya
Insisi uterus dengan potongan vertikal yang dikenal dengan seksio sesarea klasik
dilakukan pada otot uterus. Luka pada uterus dengan cara ini mungkin tidak dapat pulih
seperti semula dan dapat terbuka lagi sepanjang kehamilan atau persalinan berikutnya.
d. Indikasi operasi pada seksio sesarea yang lalu
Tabel 4. Hubungan indikasi seksio sesarea lalu dengan keberhasilan penanganan
VBAC
Indikasi seksio yang lalu
Letak sungsang
Fetal distress
Solusio plasenta
Plasentaprevia
Gagalinduksi
Disfungsi persalinan

Keberhasilan VBAC (%)


80.5
80.7
100
100
79.6
63.4

e. Usia Maternal
Dari penelitian didapatkan wanita yang berumur lebih dari 35 tahun mempunyai angka
seksio sesarea yang lebih tinggi.
f. Usia kehamilan saat seksio sesarea sebelumnya
Pada usia kehamilan < 37 minggu dan belum inpartu misalnya pada plasenta previa
dimana segmen bawah rahim belum terbentuk sempurna kemungkinan insisi uterus
tidak pada segmen bawah rahim dan dapat mengenai bagian korpus uteri yang mana
keadaannya sama dengan insisi pada seksio sesarea klasik.
g. Riwayat persalinan pervaginam

16

Pasien dengan bekas seksio sesarea yang pernah menjalani persalinan pervaginal
memiliki angka keberhasilan persalinan pervaginal yang lebih tinggi dibandingkan
dengan pasien tanpa persalinan pervaginal.
h. Keadaan serviks pada saat partus
Penipisan serviks serta dilatasi serviks memperbesar keberhasilan VBAC. Induksi
persalinan dengan misoprostol akan meningkatkan resiko ruptur uteri pada maternal
dengan bekas seksio sesarea.9
3.2.5. Komplikasi
Menurut Landon komplikasi terhadap maternal, antara lain:
a. Ruptur uteri,
Tanda-tanda ruptur uteri adalah sebagai berikut :

b.
c.
d.

Nyeri akut abdomen

Sensasi popping (seperti akan pecah)

Teraba bagian-bagian janin diluar uterus pada pemeriksaan Leopold

Deselerasi dan bradikardi pada denyut jantung bayi

Presenting parutnya tinggi pada pemeriksaan pervaginal

Perdarahan pervaginal
Gangguan sistem tromboembolik,
Endometritis,
Kematian maternal dan gangguan-gangguan lain.

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, Sarwono., (2005). Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina


Pustaka.
2. Kasdu, D. (2005). Operasi Caesar: Masalah dan Solusinya. Jakarta: Puspa Swara.
3. Dewi Y., dkk. 2007. Operasi Caesar, Pengantar dari A sampai Z. EDSA
Mahkota. Jakarta
4. Angsar MD dan Listya S. Seksio sesarea. Dalam: Hanifah W, Abdul BS, dan Trijatmo
R, penyunting. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: EGC; 2000. h. 133-43.
17

5. Leveno KJ,dkk. Sesar. Dalam: Leveno KJ, Gary C, Norman FG, James MA, Steven
LB, Brian MC, dkk, penyunting. Obstetri Williams panduan ringkas. Jakarta:
EGC;2003. h. 247-58.
6. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Bekas seksio sesarea. Dalam:
Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. Jakarta: POGI; 2006. h. 47-48.
7. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23239/4/Chapter%20II.pdf (diakses
18 Januari 2015)
8. Porter TF dan James RS. Cesarean Delivery. Dalam: Danforths obstetric and
gynecology, chapter 24. Isilo; 2007.
9. Anonim. Persalinan pervaginam dengan bekas seksio sesarea [serial online] 2010
[diakses 18 Januari 2015]. Didapat dari:http://library.usu.ac.id/download/pdf.

18