Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

KAITAN PANDANGAN ANTARA KEDOKTERAN DAN ISLAM TENTANG


EFEKTIVITAS PENGGUNAAN VENTILATOR PADA
PASIEN AMYOTROPHIC LATERAL SCLEROSIS
DENGAN DYSTRESS PERNAFASAN
Dari pembahasan bab II dan III sebelumnya, terdapat keterkaitan pandangan
kedokteran dan Islam tentang efektivitas penggunaan ventilator pada pasien ALS
dengan dystress pernafasan.
Menurut ilmu kedokteran, ALS yaitu penyakit yang juga dikenal sebagai
Penyakit Lou Gehrig, adalah sebuah penyakit kronis yang ditandai dengan adanya
kelainan neurodegeneratif progresif yang mempengaruhi sel-sel neuron di kornu
anterior medulla spinalis, inti motorik di batang otak, dan sel-sel neuron di area
motorik lobus frontalis aspek posterior. ALS dapat menyerang otot-otot pernafasan
sehingga dapat menyebabkan dystress pernafasan pada penderitanya. Patofisiologi
terjadinya dystress pernafasan pada ALS adalah kelumpuhan otot-otot pernapasan.
Hal ini ditandai dengan rusaknya neuron yang terlibat dalam mengendalikan stimulasi
otot. Kematian terjadi pada saraf motorik dan digantikan dengan sel fibrosa non
fungsional. Hal tersebut mengakibatkan hambatan komunikasi antara sistem saraf
pusat dan sistem saraf perifer . Pada akhirnya, tanpa kemampuan neuron untuk
menstimulasi otot-otot pernapasan, perlahan otot mengalami atrofi dan menyebabkan
kelumpuhan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya dystress pernafasan. Pasien ALS

dengan dystress pernafasan harus diberikan pengobatan dengan alat bantu pernafasan
yaitu ventilator untuk mempertahankan kehidupan.
Menurut ketentuan Islam, pasien ALS dengan dystress pernafasan harus
menjaga kesehatan mereka sehingga dapat menunaikan kewajiban, tugas agama dan
kehidupannya. Untuk itu, Islam menganjurkan untuk berobat. Berobat diharapkan
dapat memberikan manfaat pada pasien dan memperpanjang hidupnya. Pemilihan
ventilator sebagai alat bantu nafas merupakan bentuk pengobatan dalam membantu
proses bernafas bagi pasien ALS dengan dystress pernafasan. Ventilator adalah upaya
bantuan nafas dengan alat bantu nafas mekanik sebagai alat pengganti fungsi pompa
dada yang mengalami kelelahan atau kegagalan. Ventilator sebagai pengobatan
diperbolehkan dalam Islam, karena memberikan lebih banyak manfaat dibandingkan
kemudharatan. Hukum pemasangan alat bantu pernafasan kepada pasien ALS adalah
sunnah, karena termasuk aktivitas berobat yang hukumnya sunnah.
Berdasarkan pembahasan-pembahasan di atas kedokteran dan Islam
mempunyai pandangan yang sama dalam hal anjuran berobat dengan ventilator pada
pasien ALS dengan dystress pernafasan.
Menurut ilmu kedokteran, ventilator adalah upaya bantuan nafas dengan alat
bantu nafas mekanik atau ventilator sebagai alat pengganti fungsi pompa dada yang
mengalami kelelahan atau kegagalan. Penggunaan ventilator pada pasien ALS dengan
dystress pernafasan diharapkan dapat mengambil alih fungsi kerja paru sebagai

penyedia oksigen bagi tubuh. Ventilator digunakan dengan indikasi utama apabila ada
kegagalan pernafasan. Adapun efek sampingnya berupa cidera terhadap organ akibat
penggunaan ventilator dalam jangka waktu yang lama. Namun ventilator tetap
digunakan pada pasien ALS dengan dystress pernafasan demi kelangsungan hidup
pasien.
Menurut ketentuan Islam, ventilator pada pasien ALS dengan dystress
pernafasan digunakan sebagai alat bantu nafas untuk menggantikan fungsi saluran
pernafasan atas dalam proses ventialsi sehingga suplai oksigen bagi tubuh dapat
dipertahankan. Ventilator menggunakan sumber daya listrik dalam pemanfaatannya
sehingga termasuk dalam elektronika sedangkan bahan-bahan yang terdapat dalam
ventilator adalah oksigen dan nitrogen. Penggunaan ventilator diperbolehkan dalam
Islam karena kandungan zat penyokong dalam ventilator termasuk dalam golongan
yang halal karena tidak ada dalil yang mengharamkannya dan penggunaan ventilator
pada pasien ALS dengan dystress pernafasan memberikan manfaat yang lebih besar
dibanding kemudharatannya.
Berdasarkan pembahasan-pembahasan di atas kedokteran dan Islam
mempunyai pandangan yang sama dalam hal penggunaan ventilator pada pasien ALS
dengan dystress pernafasan.

Menurut ilmu kedokteran, pencabutan ventilator pada pasien ALS dengan


dystress pernafasan diperbolehkan setelah terjadinya mati batang otak. Karena
ventilator disini berfungsi dalam mempertahankan kehidupan.
Menurut ketentuan Islam,

hukum menghentikan pengobatan dengan

mencabut alat bantu pernafasan pada pasien setelah matinya atau rusaknya batang
otak, maka hukumnya boleh (jaiz) dan tidak haram bagi dokter. Namun untuk
bebasnya tanggung jawab dokter, diisyaratkan adanya izin dari pasien, walinya atau
washi-nya (washi adalah orang yang ditunjuk untuk mengawasi dan mengurus
pasien).
Berdasarkan pembahasan-pembahasan di atas kedokteran dan Islam
mempunyai pandangan yang sama dalam hal pencabutan ventilator pada pasien ALS
dengan dystress pernafasan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Penggunaan ventilasi mekanis noninvasif lebih efektif dibandingkan dengan
ventilasi invasif pada pasien ALS dengan dystress pernafasan. Ventilasi invasif
memiliki risiko komplikasi yang lebih besar dibandingkan ventilasi noninvasif.
Angka kematian lebih rendah pada ventilasi noninvasif dibandingkan ventilasi
invasif. Ventilasi invasif dan noninvasif terbukti efektif pada pasien ALS dengan
dystress pernafasan beradasarkan penelitian-penelitian yang ada.
2. Terbuktinya penggunaan ventilasi invasif dan noninvasif pada pasien ALS dengan
dystress pernafasan dalam ilmu kedokteran mempunyai pandangan yang sama
dalam ketentuan Islam. Ventilasi invasif dan noinvasif dalam Islam sebagai alat
bantu pernafasan untuk menggantikan fungsi saluran pernafasan atas dalam
proses ventilasi sehingga suplai oksigen bagi tubuh dapat dipertahankan.
Penggunaan ventilasi dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
3. Alat bantu nafas ventilasi untuk induksi pasien yang mengalami penurunan
kesadaran dan gangguan dalam bernafas diperbolehkan dalam ketentuan Islam,
karena tujuan dari prosedur ini untuk memelihara, mempertahankan, dan
menghormati kehidupan insani. Kandungan zat penyokong dalam ventilasi
termasuk

dalam

golongan

yang

halal

karena

tidak

ada

dalil

yang

mengharamkannya. Hukum pemasangan alat bantu pernafasan (ventilator) kepada


pasien adalah sunnah.
4.

Hukum menghentikan pengobatan dengan mencabut alat bantu pernafasan pada


pasien setelah matinya atau rusaknya batang otak adalah boleh (jaiz) dan tidak
haram bagi dokter.

5.2 SARAN
1. Bagi Dokter
Pada ALS

dengan

dystress

pernafasan

dokter

diharapkan

senantiasa

memperbaharui ilmu pengetahuan, melakukan penelitian-penelitian untuk


menemukan tekhnologi kedokteran yang baru. Dokter juga harus kompeten dalam
melakukan prosedur pemasangan ventilator karena dalam pemasangan ini
memiliki efek samping yang sangat berbahaya. Dokter harus mengerti manfaat,
indikasi dan cara penggunaan ventilator sebagai penatalaksanaan.
2. Bagi Keluarga dan Masyarakat
Dukungan keluarga terhadap pasien ALS dengan dystress pernafasan telah
terbukti memberikan kekuatan dan dapat membantu kelangsungan hidup pasien.
Keluarga juga harus menganjurkan pasien untuk bersabar dan bertawakal dalam
menghadapi penyakitnya. Karenanya disarankan kepada keluarga untuk selalu
memberikan dukungan kepada pasien dengan penurunan kesadaran yang harus
menggunakan ventilator.
3. Bagi Pemerintah
Ketersediaan ventilator bagi pasien ALS dengan dystress pernafasan di seluruh
Rumah Sakit di Indonesia masih sangat jarang karena harganya yang mahal. Hal
ini menyebabkan angka kematian pasien ALS dengan dystress pernafasan

semakin meningkat. Diharapkan agar pemerintah mengusahakan tersedianya


ventilator pada seluruh unit Rumah Sakit di Indonesia agar kualitas hidup pasien
dapat ditingkatkan.
4. Bagi Umat Islam
Agar seluruh umat Islam mendoakan kesembuhan bagi pasien ALS dengan
dystress pernafasan dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya. Serta umat
Islam harus beranggapan bahwa sakit itu sebagai penebus dosa dan harus dihadapi
dengan penuh kesabaran dan tawakal.
5. Bagi Ulama
Agar para ulama senantiasa menentukan batasan-batasan syariat Islam pada
pasien ALS dengan dystress pernafasan.