Anda di halaman 1dari 6

Nama

BP
Kelompok

: Harie Satria E. S.
: 1110312030
:2A

RESUME JURNAL
Evaluasi Eradikasi Helicobacter Pylori dan Terapi Obat pada Pasien
dengan Dispepsia Fungsional
Penulis: WEIDONG ZHAO, XIAOQIN ZHONG, XINYING ZHUANG, HONGMEI JI,
XINXIN LI, ANQING LI, RUICAI WANG, JIANYOU ZHU, and YANQING LI
Received February 6, 2013; Accepted April 30, 2013
MURDANI
ABDULLAH,
JEFFRRI
GUNAWAN.
FAKULTAS
KEDOKTERAN
UNIVERVITAS INDONESIA.
ABSTRAK
Tujuan dari studi ini adalah untuk mengkaji efek dari infeksi H.pylori dan
terapi obat pada pasien dispepsia fungsional (FD) dengan jumlah eosinofil
pada gastroduodenum. Pada studi ini, 215 pasien yang memenuhi kriteria
Roma III telah terdaftar. Pasien-pasien tersebut dibagi menjadi dua kelompok
yaitu kelompok H.pylori positif dan kelompok H.pylori negatif. Kelompok
H.Pylori positif dibagi menjadi kelompok H.pylori-eradicated dan H.pyloriuneradicated, setelah dilakukan pengobatan. Kelompok H.pylori negatif
dibagi menjadi kelompok yang ditatalaksana dengan esomeprazole dan
kelompok yang ditatalaksana dengan teprenone. Symptom score pada
kelompok esomeprazole mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan
dengan kelompok teprenone pada minggu ke-6, tetapi tidak pada baseline
dan minggu ke-2. Dibandingkan dengan kelompok H.pylori-uneradicated,
penghitungan eosinofil pada kelompok H.pylori-eradicated mengalami
penurunan yang signifikan pada minggu ke-6. Jumlah eosinofil cluster pada
gaster jauh meningkat pada kelompok H.pylori positif dibandingkan dengan
kelompok H.pylori negatif. Eradikasi H.pylori berhubungan erat dengan
jumlah eosinofil gaster, tetapi tidak berpengaruh pada jumlah eosinofil
duodenum. Dispepsia fungsional adalah sindrom yang mencakup salah satu
atau lebih gejala-gejala berikut: perasaan perut penuh setelah makan,
cepat,kenyang, atau rasa terbakar di ulu hati, yang berlangsung sedikitnya
dalam 3 bulan terakhir, dengan awal gejala sedikitnya timbul 6 bulan
sebelum diagnosis. Dispepsia terbagi menjadi dispepsia organik dan
dispepsia fungsional. Dispepsia fungsional diklasifi kasikan kembali menjadi
postprandial distress syndrome dan epigastric pain syndrome (Kriteria Roma
III). Selain itu juga dibagi menjadi ulcer-like dyspepsia dan dysmotilitylike
dyspepsia. Penelitian-penelitian patomekanisme dispepsia berfokus pada
mekanisme patofi siologi abnormalitas fungsi motorik lambung, infeksi
Helicobacter pylori, dan faktor-faktor psikososial, khususnya terkait

gangguan cemas dan depresi. Diagnosis dispepsia hendaknya lebih


ditekankan pada upaya mengeksklusi penyakit-penyakit serius atau
penyebab spesifi k organik yang mungkin, bukan pada karakteristik detail
gejala-gejala dispepsia. Diagnosis dispepsia fungsional dilakukan
berdasarkan Kriteria Roma III. Penting mendeteksi tanda-tanda bahaya
(alarming features) pada pasien dengan keluhan dispepsia agar segera
dirujuk.
PENDAHULUAN
Dispepsia fungsional (FD) adalah suatu gangguan heterogen yang ditandai
oleh adanya gejala berulang atau menetap yang berasal dari regio gastroduodenum, tanpa disertai penyakit organik, sistemik, dan penyakit
metabolik. FD mempunyai rata-rata prevalensi 11-29.2% di dunia dan
penyakit ini dapat menurunkan kualitas hidup seseorang secara signifikan.
Meskipun telah banyak penelitian yang dilakukan terkait dispepsia fungsional
ini, seperti hubungan FD dengan terlambatnya pengosongan lambung,
motilitas duodenal yang abnormal dan infeksi Helicobacter Pylori, namun
patogenesis secara pasti masih belum jelas.
Meskipun penelitian sebelumnya telah meneliti tentang peranan H.pylori
pada pasien FD, namun mereka tidak fokus kepada hubungan antara jumlah
eosinofil gastroduodenum, pemberantasan H.Pylori dan terapi obat.
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengobatan untuk eradikasi
H.pylori pada pasien FD yang menunjukkan gejala simptomatik, dan untuk
melihat efek terapi obat pada jumlah eosinofil gastroduodenum. Secara
khusus, kami bertujuan untuk menemukan hubungan antara perbaikan
gejala dan perubahan jumlah eosinofil duodenum setelah terapi obat.
Adanya stres akut dapat memengaruhi fungsi gastrointestinal dan
mencetuskan keluhan pada orang sehat. Dilaporkan adanya penurunan
kontraktilitas lambung yang mendahului keluhan mual setelah pemberian
stimulus berupa stres. Kontroversi masih banyak ditemukan pada upaya
menghubungkan factor psikologis stres kehidupan, fungsi autonom dan
motilitas. Tidak didapatkan kepribadian yang karakteristik untuk kelompok
dyspepsia fungsional ini, walaupun dalam sebuah studi dipaparkan adanya
kecenderungan masa kecil yang tidak bahagia, pelecehan seksual, atau
gangguan jiwa pada kasus dyspepsia fungsional.
PASIEN DAN METODE
Pasien. Pasien FD dewasa (usia 18-70 tahun) dan sesuai dengan kriteria
Roma III. Dispepsia didefinisikan sebagai nyeri epigastrium, rasa terbakar

pada epigastrium, postprandial fullness, dan rasa cepat kenyang. Semua


pasien tidak memiliki riwayat operasi, riwayat penyakit anafilaktik,dan tidak
sedang mengkonsumsi antibiotik, obat prokinetik (OAINS) selama 4 minggu
sebelum penelitian. Tes fungsi ginjal dan hati, pemeriksaan kadar glukosa
darah, elektrolit, abdominal B ultrasound, dan pemeriksaan endoskopi pada
upper gastrointestinal dilakukan untuk menghilangkan kemungkinan
penyakit metabolik dan penyakit organik. Pasien tidak pernah menderita
peptic ulcer, GERD dengan atau tanpa esofagitis, keganasan, dan penyakit
pankreobiliar. Semua subjek mengisi informed consent
Abdominal symptom questionnaire. Prosedur standar pengisian kuisioner
dilakukan pada 3 waktu, yaitu minggu 0 (sebagai baseline, diagnosis awal
dan gastrocopy), minggu 2 (akhir dari terapi obat), dan minggu ke-6. Isi dari
kuisioner mencakup nyeri epigastrium, heartburn, early satiety, postprandial
fullness, sendawa, mual, muntah, anorexia, dilatasi abdomen, rasa tidak
nyaman pada epigastrium (noisy), disfagia, dan nyeri retrosternum. Pasien
dihubungi melalui telepon pada 3 waktu di atas. Ada 5 tingkat gejala
abdomen (asimptomatik, mild, moderate, severe, very severe), yang ditandai
dengan skor 0, 1, 2, 3, dan 4 dan harus memenuhi 4 gejala utama (nyeri
epigastrium, rasa terbakar pada epigastrium, postprandial fullness, dan rasa
cepat kenyang).
Gastroscopy, biopsy and the 14C-urea breath test. Dilakukan pada semua
pasien. Saat endoscopy, spesimen biopsy diambil pada 4 tempat; badan
gaster (Curvatura minor dan pertengahan dari curvatura mayor), antrum,
bulbus duodenum (D1) dan bagian desenden dari duodenum (D2). Dari
masing-masing tempat diambil 2 spesimen. Pada minggu ke-6, semua pasien
yang sesuai dengan kriteria melakukan gastrocopy dan biopsy ulangan, dan
bagi pasien dengan H.pylori positif melakukan 14C-urea breath test.
H&E staining and silver staining. Spesimen biopsi tadi difiksasi dalam
formalin dan diproses dengan teknik paraffin wax section. Spesimen tersebut
dipotong dengan ukuran 3 m dan diwarnai dengan hematoxyclin dan eosin
(H&E) dan pewarnaan Warthin-Starry. H.pylori dideteksi, baik positif maupun
negatif, berdasarkan pada pewarnaan Warthin-Starry ini. Penghitungan
eosinofil dilakukan secara acak pada 5 lapangan pandang (HPF).
Pengobatan untuk FD. Pasien dikelompokkan menjadi H.pylori positif dan
H.pylori negatif berdasarkan hasil pewarnaan Warthin-Starry dan 14C-urea
breath test. Pasien pada kelompok H.pylori positif diberikan pengobatan
eradikasi dengan terapi quadruple (20 mg esomeprazole magnesium tablets,

1 g amoxicillin tablets, 0.5 g clarithromycin dispersible tablets and 0.6 g


bismuth potassium citrate, masing-masingnya 2x1 hari selama 2 minggu).
Setelah 6 minggu, dibagi menjadi grup A (H.pylori-eradicated) dan grup B
(H.pylori uneradicated) berdasarkan H.pylori clearance yang dikonfirmasi
dengan 14C-urea breath test. Pasien dengan H.pylori negatif dibagi secara
acak menjadi grup C (menerima 20 mg esomeprazole 2x1 hari) dan grup D
(50 mg teprenone 3x1 hari) selama 2 minggu.
Analisis Statistik. Semua data dianalisis menggunakan SPSS 20.0 statistical
software package (SPSS, Inc., Chicago, IL, USA) dan diungkapkan dengan
menggunakan sesuai standar deviasi. Penghitungan eosinofil dan skor
gejala dianalisa menggunakan single sample t-test di dalam grup dan
dilakukan pada 3 waktu yang telah ditentukan. Rata-rata dari gugus eosinofil
diperiksa menggunakan 2 analysis.

HASIL
a. Populasi pasien
Pasien dengan H.pylori positif sebanyak 84 orang
Pasien dengan H.pylori negatif sebanyak 72 orang
Pasien yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan (gagal
dalam follow up, hanya salah satu tes yang menunjukkan hasil
positif, adanya efek samping seperti diare,dll) sebanyak 59
orang.
b. Patologi gastrointestinal atas
Pewarnaan Warthin-Starry pada biopsi antrum menunjukan H. pylori
yang terwarnai hitam dengan background kuning emas.(Figure 2)
c. Infeksi H.pylori dan Gejala Gastrointestinal
Tidak ada perbedaan symptom score yang signifikan antara
kelompok H.pylori positif dengan H.pylori negatif pada baseline.
Tidak ada perbedaan symptom score yang signifikan antara HPeradicated dengan HP-uneradicated pada baseline, minggu 2 dan
minggu 6.
Hal ini menunjukkan bahwa infeksi H.pylori tidak berhubungan
dengan symptom pada penderita Dispepsia Fungsional.
d. Efek terapi obat pada perbaikan gejala
Symptom score pada ke-4 grup mengalami perbaikan pada
minggu kedua setelah diobati, jika dibandingkan dengan
baseline.

Perbaikan gejala pada minggu ke-6 untuk grup A, B, dan C.


Namun tidak untuk grup D.
e. Infeksi H.pylori dan Jumlah Eosinofil Gastroduodenal
Jumlah eosinofil gaster pada H.pylori positif lebih banyak
dibandingkan dengan H.pylori negatif .
Jumlah eosinofil duodenum pada H.pylori positif tidak
menunjukkan peningkatan.
Hal ini menunjukkan bahwa H.pylori meningkatkan jumlah
eosinofil pada gaster, namun tidak memberikan efek pada
jumlah eosinofil duodenum.
f. Efek terapi obat pada jumlah eosinofil gastroduodenal
HP-eradicated
berkurang
signifikan
dibandingkan
HPuneradicated (pada gaster)
Tidak terjadi perbedaan signifikan antara HP-eradicated dan HPuneradicated (pada duodenum)
Jumlah eosinofil gaster pada HP-eradicated menurun signifikan
pada minggu 6 dibandingkan baseline, dan tidak ada perubahan
yang berarti pada jumlah eosinofil duodenum.
Jumlah eosinofil gaster dan duodenum pada grup C dan grup D
tidak mengalami perubahan antara baseline dan minggu 6. Hal
ini menunjukkan bahwa esomeprazole dan teprenone tidak
efektif untuk pengobatan pada eosinofilia.
g. Eosinofil Cluster
Pada baseline, the gastric eosinophil cluster rate pada H.
pylori-positive mengalami peningkatan dibandingkan H. Pylorinegatif, sedangkan duodenal eosinophil cluster rate tidak ada
perbedaan yang signifikan.
Gastroduodenal eosinophil cluster rates tidak menunjukkan
perubahan signifikan baik sebelum maupun setelah pengobatan.
Hasil ini menunjukkan bahwa infeksi H.pylori meningkatkan
gastroduo-denal eosinophil cluster, namun eosinofil cluster tidak
segera berkurang setelah dilakukan eradikasi H.pylori.
Gastroduodenal eosinophil clusters tidak dipengaruhi oleh
pemberian esamperazole dan teprenone.
PEMBAHASAN dan KESIMPULAN
Hal ini menunjukkan bahwa infeksi H.pylori tidak berhubungan dengan
symptom pada penderita Dispepsia Fungsional.

Adanya perbaikan gejala setelah dilakukan pengobatan kepada


penderita dispepsia, namun tidak untuk penderita dengan H.pylori
negatif yang diberikan teprenone. Teprenone digunakan untuk gastritis
dan gastritis ulserasi dan efek farmakologinya termasuk efek antiulcer, meningkatkan gastric mucus, meningkatkan aliran darah pada
mukosa gaster, melindungi mukosa gaster. Mekanismenya masih
belum jelas,namun dari beberapa penelitian diduga bahwa
peningkatan aliran darah pada mukosa gaster dan peningkatan mukus
menyebabkan berkurangnya sensitivitas mukosa gastroduodenal
terhadap rangsangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa esomeprazole
lebih efektif untuk pengobatan FD dibandingkan menggunakan
teprenone.
Infeksi H.pylori dan pemberian terapi eradikasi memberikan pengaruh
besar terhadap jumlah eosinofil pada gaster.
Esomeprazole dan teprenone tidak efektif untuk pengobatan pada
eosinofilia.
Jumlah eosinofil duodenal tidak dipengaruhi oleh infeksi H.pylori, terapi
eradikasi maupun pemberian obat esamperazole dan teprenone.