Anda di halaman 1dari 43

SEDIAAN GEL ADAPALENE 0,1%

I.
-

TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan formulasi yang tepat, membuat dan mengevaluasi sediaan gel
dengan bahan aktif Adapalene

II.

LATAR BELAKANG
Pada zaman sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
semakin berkembang dengan pesat, salah satunya di bidang Kefarmasian. Hal ini
dapat dilihat dari sediaan obat yang bermacam-macam yang dibuat oleh tenaga
farmasis, diantaranya yaitu ada sediaan padat (solid), setengah padat (semisolid),
dan cair (liquid).
Gel, kadang-kadang disebut jeli merupakan sistem semipadat terdiri dari
suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik
yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Jika massa gel terdiri dari jaringan
partikel kecil yang terpisah, gel digolongkan sebagai sistem dua fase (misalnya
Gel Aluminium Hidroksida). Dalam system dua fase, jika ukuran partikel dari fase
terdispersi relatif besar, massa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma
(misalnya Magma Bentonit). Baik gel maupun magma dapat berupa tiksotropik,
membentuk semipadat jika dibiarkan dan menjadi cair pada pengocokan. Sediaan
harus dikocok dahulu sebelum digunakan untuk menjamin homogenitas dan hal
ini tertera pada etiket. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara
topikal atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh (Depkes RI, 2014).
Sediaan topikal adalah sediaan yang ditujukan untuk peggunaan pada kulit
dengan tujuan untuk menghasilkan efek lokal, seperti lotio, salep, dan krim.
Sediaan topikal mengandung dua komponen dasar yaitu zat pembawa dan zat
aktif. Zat aktif merupakan komponen bahan topikal yang memiliki efek terapeutik,
sedangkan zat pembawa adalah bagian inaktif dari sediaan topikal dapat berbentuk
cair atau padat yang membawa bahan aktif kontak dengan kulit (Sharma, 2008).
Penghantaran obat melalui rute telah menarik banyak perhatian karena
banyaknya keuntungan yang diberikan. Keuntungan penghantaran obat terkendali
melalui transdermal daripada obat dengan rute oral yaitu terhindar dari
metabolisme lintas pertama di hati, kemampuan untuk mengendalikan
penghantaran obat lebih lama dibandingkan waktu tinggal di gastrointestinal
pada bentuk sediaan oral, kemampuan untuk meningkatkan penetrasi dan
absorpsi dengan memodifikasi sifat dari barier biologi. Akan tetapi hambatan

utama penghantaran obat transdermal ini adalah permeabilitas yang relative


rendah dari kulit (Pathan dan Setty, 2009).
Obat dapat masuk ke dalam kulit tergantung pada kemampuannya untuk
berpenetrasi melalui kulit dalam jumlah yang cukup untuk mencapai efek yang
diharapkan. Pada produk personal care dan obat topikal terdapat perbedaan
dalam hal kedalaman penetrasi yang diinginkan. Personal care seperti tabir surya
dan deodoran dirancang untuk tetap pada permukaan kulit atau tetap pada
stratum corneum. Sebaliknya, tujuan untuk obat terapeutik adalah agar bahan
aktif dapat menembus ke lapisan yang lebih dalam dari kulit atau mencapai
sirkulasi sistemik. Di kulit sendiri terdapat stratum corneum yang bertindak
sebagai barier dari pengaruh luar dan mencegah penguapan air dari bawah
jaringan. Sifat penghalang dari stratum corneum dapat ditembus

untuk

penghantaran obat transdermal dengan beberapa cara, yaitu dengan teknik fisika
seperti iontoforesis, elektropolasi, sonoforesis, termal porasi, atau dengan
menggunakan bahan kimia yang dikenal dengan peningkat penetrasi kimia, yang
dapat meningkatkan permeabilitas stratum corneum (Heena et al, 2011;
Rachakonda, 2006; Rosen, 2005).
Peningkat penetrasi kulit digunakan untuk memperbaiki bioavailabilitas dan
memberikan kemungkinan berbagai obat untuk diberikan melalui rute topikal dan
transdermal. Oleh karena itu, peningkat penetrasi kulit sering digunakan dalam
penghantaran obat transdermal karena mengurangi fungsi sawar stratum
corneum, sebagai lapisan kulit paling luar, secara reversible. Mekanisme dari
peningkat penetrasi ini yaitu mempengaruhi lipid interselular dan/atau keratin
dan tight junction dimana dapat meningkatkan partisi obat ke dalam jaringan,
mengubah aktivitas termodinamika/kelarutan obat. Banyak pendekatan yang
dilakukan untuk meningkatkan permeasi obat seperti penggunaan peningkat
penetrasi kimia, fisika, kimia-kimia, fisika-kimia, dan fisika-fisika (Heena et al,
2011; Rosen, 2005).

Sediaan yang akan dibuat berupa gel dengan bahan aktif Adapalene dengan
dosis oleskan sekali sehari sebelum tidur (BMJ Group, 2009). Adapalene
digunakan dalam pengobatan topikal jerawat ringan sampai sedang, komedo,

papula (penonjolan pada kulit), dan bisul (Sweetman, S.C. 2009). Adapalene
diaplikasikan sekali sehari di malam hari sebagai 0,1% larutan, krim, atau gel
untuk kulit yang telah dibersihkan dan dikeringkan; 0,3% gel juga tersedia
(Sweetman, S.C. 2009).
Sediaan ditujukan untuk pengggunaan topikal untuk mengobati jerawat ringan
sampai sedang (Sweetman, S.C. 2009), maka dibuat sediaan berupa gel. Bahan
aktif praktis tidak larut dalam air (Chandira, dkk, 2010), maka bahan aktif
dilarutkan dalam oleum olivarum, karena dalam sediaan terkandung minyak maka
sediaan dinyatakan sebagai emulgel. Bahan aktif tidak ditemukan pH stabilitas di
pustaka The Pharmaceutical Codex, Martindale 46, Farmakope Indonesia edisi IV
dan V, dan journal penelitian, maka pH sediaan ditentukan dengan menyesuaikan
pengawet yang digunakan (Methyl paraben dan Propyl paraben) yaitu 4,0-6,0
dengan pH aktivitas antimikroba Methyl paraben dan Propyl paraben 4-8. Bahan
aktif stabil terhadap cahaya (Chandira, dkk, 2010), namun dikhawatirkan menjadi
tidak stabil dan untuk mengatasinya maka digunakan pemakaian tube saat
penyimpanan.
III.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Bahan aktif
Zat Aktif

Adapalene
(Martindale 36 hlm 1587)

Struktur
Kimia

(Martindale 36 hlm 1587)


Pemerian

Serbuk kristal putih krem.


(Research Journal of Pharmaceutical, Biological and
Chemical Sciences Vol 2 hlm 232)

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam air, larut dalam DMSO (3 mg/ml)


3

dan DMF (6 mg/ml) (tetrahydrofuran) dan dalam eter, sedikit


larut dalam etanol.
(Journal of Chemical and Pharmaceutical Research, 2010, 2
(1) hlm 401-414)
Stabilitas

Cahaya : Stabil terhadap cahaya.


(Journal of Addescent Health 43 (2008) hlm 421-424)
Air: Praktis tidak larut dalam air
(Journal of Chemical and Pharmaceutical Research, 2010, 2
(1) hlm 401-414)
Panas

dan

pH

pharmaceutical

tidak

codex,

pharmacopoeia,

Britis

ditemukan

martindale,

dipustaka
USP,

pharmacopoeia,

The

european
Japanese

Pharmacopoeia, Martindale 36, FI IV, FI V dan jurnal-jurnal


penelitian.
Inkompabilita

Adapalene tidak stabil pada pH dasar dan mengalami

hidrolisis basa dalam alkali/larutan dengan pH yang lebih


tinggi.
(Research Journal of Pharmaceutical, Biological and
Chemical Sciences Vol 2 hlm 232)

Keterangan

Adapaleeni; Adapalen; Adapalne; Adapaleno; Adapalenum;

lain

CD-271. 6-[3-(1-Adamantyl)-4-methoxyphenyl]-2-naphthoic
acid.
(Martindale 36 hlm 1587)

Penyimpanan

Disimpan pada suhu kamar dan atau mungkin beragam


tempat lainnya.
(Cayman Chemical)

Kadar

Adapalene biasanya diaplikasikan sekali sehari di malam hari

penggunaan

sebagai 0,1% larutan, krim, atau gel untuk kulit yang telah
dibersihkan dan dikeringkan; 0,3% gel juga tersedia.
4

(Martindale 36 hlm 1587)

2. Carbomer
Zat

Carbomer
(HOPE 6th ed Hlm 110)

Sinonim

Acrypol; Acritamer; acrylic acid polymer; carbomera;


Carbopol;

carboxy

polymethylene;

polyacrylic

acid;

carboxyvinyl polymer; Pemulen; Tego Carbomer.


(HOPE 6th ed Hlm 110)
Struktur

(HOPE 6th ed Hlm 110)


Rumus

molekul
Titik lebur

Terjadi dekomposisi pada 30 menit di suhu 2600C


(HOPE 6th ed Hlm 111)

Pemerian

Karbomer berwarna putih, lembut, asam, bubuk higroskopis


dengan sedikit bau yang khas.
(HOPE 6th ed Hlm 110)

Kelarutan

Dapat mengembang dalam air dan gliserin setelah dinetralisir,


dalam etanol (95%). Karbomer tidak larut tetapi hanya
mengembang sampai batas yang luar biasa, karena mereka
5

adalah tiga dimensi microgels berikatan silang.


(HOPE 6th ed Hlm 112)
Stabilitas

Karbomer stabil, higroskopis yang dapat dipanaskan pada


suhu di bawah 1040C sampai 2 jam tanpa mempengaruhi
efisiensi penebalan. Namun, paparan suhu yang berlebihan
dapat

mengakibatkan

perubahan

warna

dan stabilitas

berkurang. Dekomposisi terjadi dengan pemanasan selama 30


menit di 2600C. Bentuk bubuk karbomer kering tidak
mendukung dan dapat terjadi pertumbuhan jamur. Sebaliknya,
mikroorganisme tumbuh dengan baik di yang belum
diawetkan

dispersi

berair,

dan

karena

itu

pengawet

antimikroba seperti 0,1% b/v chlorocresol, 0,18% b/v


methylparaben-0,02% w/v propil paraben, atau 0,1% b/v
thimerosal harus ditambahkan. Selain itu,

antimikroba

tertentu seperti benzalkonium klorida atau natrium benzoat,


dalam konsentrasi tinggi (0,1% b/v) dapat menyebabkan
kekeruhan dan pengurangan viskositas dispersi karbomer. Gel
berair dapat disterilkan dengan autoklaf.
(HOPE 6th ed Hlm 112)
Inkompabilita

Karbomer dapat berubah warna dengan resorsinol dan

inkompatibel dengan fenol, polimer kationik, asam kuat, dan


elektrolit tingkat tinggi. Antimikroba tertentu juga harus
dihindari atau digunakan pada tingkat rendah, tingkat Jejak
besi dan lainnya logam transisi katalis dapat menurunkan
dispersi

karbomer.

Beberapa

aktif

amino-fungsional

membentuk kompleks dengan karbomer; sering ini dapat


dicegah dengan mengatur pH dispersi dan / atau parameter
kelarutan dengan menggunakan tepat alkohol dan poliol.
Karbomer juga membentuk kompleks tergantung pH-dengan
tertentu

eksipien

polimer.

Penyesuaian

pH

dan/atau

parameter kelarutan juga dapat bekerja dalam situasi ini.

(HOPE 6th ed Hlm 112)


Keterangan

Bahan

bioadhesive;

Agen

pengendalian-release;

agen

lain

pengemulsi; stabilizer emulsi; reologi pengubah; penstabil


agen; menangguhkan agen; tablet pengikat, pensuspensi.
(HOPE 6th ed hlm 110)

Penyimpanan

Carbomer harus disimpan dalam wadah kedap udara


terlindung dari cahaya di tempat sejuk dan kering.
(HOPE 6th ed Hlm 112)

Kadar
penggunaan

Pengemulsi agen= 0,1-0,5%


Pembentuk gel agen= 0,5-2,0%
Pensuspensi= 0,5-1,0%
Tablet pengikat= 0,75-3,0%
Controlled-agen rilis= 5,0-30,0%
(HOPE 6th ed Hlm 110)

3. Methyl Paraben
Zat

Methyl Paraben(HOPE 6th Edition page 441)

Sinonim

Aseptoform

M;

CoSept

hidroksibenzoatester;
parahydroxybenzoas

M;

metagin;

E218;

Metil

Methyl

methylis;methyl

asam

4-

Chemosept;

p-hydroxybenzoate;

Methyl Parasept; Nipagin M; SolbrolM; Tegosept M; Uniphen


P-23.
(HOPE 6th Edition page 441)

Struktur

(HOPE 6th Edition page 441)


Rumus
molekul
Titik lebur

C8H8O3 (BM = 152,15)


( HOPE 6th Edition page 441 )
125-1280C
(HOPE 6th Edition page 442)

Pemerian

Kristal berwarna atau kristal putih. Tidak berbau atau hampir


tidak berbau dan memiliki sedikit rasa
(HOPE 6th Edition page 442)

Kelarutan

Etanol 1 di 2, Etanol (95%) 1 dari 3, Etanol (50%) 1 dari 6,


Eter 1 dari 10, Gliserin 1 di 60, Minyak mineral praktis tidak
larut, Minyak kacang tanah 1 dari 200, Propilen glikol 1 dari 5,
Air 1 di 400, 1 dari 50 di 500C, 1 di 30 di 800C.
(HOPE 6th Edition page 443)

Stabilitas

Larutan Methylparaben pada pH 3-6 dapat disterilkan dengan


autoklaf pada suhu 1200C selama 20 menit, tanpa dekomposisi.
Larutan pada pH 3-6 stabil (kurang dari 10% dekomposisi)
sampai sekitar 4 tahun pada suhu kamar, sedangkan larutan
pada pH 8 atau di atas 8 terjadi hidrolisis cepat. pH aktivitas
antimikroba: 4-8
(HOPE 6thEdition page 443)

Inkompabilita

Aktivitas antimikroba Methyl paraben dan paraben lain sangat

kurang

dengan

adanya

surfaktan

nonionic.

Namun

propilenglikol (10%) telah terbukti mempotensiasi aktivitas


8

antimikroba dari paraben dan mencegah interaksi pada Methyl


paraben dan polisorbat. Inkompatibel dengan magnesium
trisilikat, tragakan, natrium alginate, sorbitol, minyak esensial,
dan atropine.
(HOPE 6thEdition page 443)
Keterangan

Digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik,

lain

produk makanan, dan formulasi farmasi.


(HOPE 6thedition page 441)

Penyimpanan

Methylparaben harus disimpan dalam wadah yang tertutup


dalamsejuk dan kering.
(HOPE 6th edition page 443)

Kadar
penggunaan

IM, IV, SC injeksi= 0.065%0.25%


Larutan inhalasi = 0.025%0.07%
Intradermal injections= 0.10%
Formulasi cair untuk hidung = 0.033%
Ophthalmic preparasi= 0.015%0.2%
Larutan oral dan suspensi= 0.015%0.2%
Rektal preparasi= 0.1%0.18%
Topikal preparasi= 0.02%0.3%
Vaginal preparasi= 0.1%0.18%
(HOPE 6th Edition page 442)

4. Propyl Paraben
Zat

Propyl Paraben(HOPE 6th Edition page 596)

Sinonim

Aseptoform

P;

CoSept

P;

E216;

Propil

asam

4-

hidroksibenzoatester; Nipagin P; Nipasol M; propagin; Propyl


Aseptoform;

propilbutex;

parahydroxybenzoas;

Propyl

propil

Chemosept;

propylis

phydroxybenzoate;Propyl

Parasept; Solbrol P; Tegosept P; UniphenP-23.


(HOPE 6th Edition page 596)
Struktur

(HOPE 6th Edition page 596)


Rumus
molekul
Titik lebur

C10H12O3 (BM= 180,20)


(HOPE 6th Edition page 596)
96.0099.080C
(HOPE 6th Edition page 596)

Pemerian

Kristal putih, tidak berbau, tidak berasa


(HOPE 6th Edition page 596)

Kelarutan

Mudah larut di aseton dan eter, larut di Ethanol (95%) 1:1,1,


Ethanol (50%) 1:5,6, Glycerin 1:250, minyak air 1:3330,
minyak kacang 1:70, Propylene glycol 1:3,9, Propylene glycol
(50%) 1:110, Air 1:4350, pada suhu 1580C 1:2500 dan 1:225
pada suhu 800C
(HOPE 6th Edition page 597)

Stabilitas

Larutan Propyl paraben pada pH 3-6 dapat disterilkan dengan


autoklaf pada suhu 1200C selama 20 menit, tanpa dekomposisi.
pH aktivitas antimikroba= 4-8
(HOPE 6thEdition page 597)

10

Inkompabilita

Tidak kompatibel dengan alumunium silikat, magnesium

trisilikat, oksida besi kuning dan biru akan mengurangi


pengawet. Propyl paraben dapat berubah warna dengan
adanya besi dan terjadi hidrolisis oleh alkali lemah dan asam
kuat.
(HOPE 6thEdition page 597)

Keterangan

Digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik,

lain

produk makanan, dan formulasi farmasi.


(HOPE 6thedition page 596)

Penyimpanan

Propylparaben harus disimpan dalam wadah yang tertutup


dalamsejuk dan kering.
(HOPE 6th edition page 597)

Kadar
penggunaan

IM, IV, SC injeksi= 0.005%0.2%


Larutan inhalasi= 0.015%
Intradermal injeksi= 0.02%0.26%
Formulasi cair untuk hidung = 0.017%
Ophthalmic preparasi= 0.005%0.01%
Larutan oral dan suspensi= 0.01%0.02%
Rektal preparasi= 0.02%0.01%
Topikal preparasi= 0.01%0.6%
Vaginal preparasi= 0.0%20.1%
(HOPE 6th Edition page 596)

5. Propilen Glikol
Zat

Propylene Glycol

11

( HOPE 6th Edition Page 592 )


Sinonim

1,2-Dihydroxypropane; E1520; 2-hydroxypropanol; methyl


ethyleneglycol;

methyl

glycol;

propane-1,2-

diol;propylenglycolum.
(HOPE 6th Edition page 592)
Struktur

( HOPE 6th Edition Page 592 )


Rumus

C3H8O2 (BM= 76.09)

molekul

(HOPE 6th Edition page 592)

Titik lebur

-590C

Pemerian

( HOPE 6th Edition Page 592 )


Cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak
berbau, rasa sedikit pedas menyerupai gliserin.
( HOPE 6th Edition Page 592 )

Kelarutan

Dapat bercampur dengan aseton, kloroform, etanol (95%),


gliserin, dan air; larut pada 1 pada 6 bagian eter; tidak
larutdengan minyak minyak atau mineral tetap ringan, tetapi
akan larut beberapaminyak esensial.
( HOPE 6th Edition Page 592 )

Stabilitas

Pada suhu dingin, propilen glikol stabil dalam tertutup


kontainer, tetapi pada suhu tinggi, di tempat terbuka, ia
cenderung untuk mengoksidasi,sehingga menimbulkan produk
seperti propionaldehida, asam laktat, piruvatasam, dan asam
asetat. Propylene glycol stabil secara kimiawi saatdicampur
dengan etanol (95%), gliserin, atau air; larutan airdapat
disterilkan dengan autoklaf.
(HOPE 6thed halaman 593)

Inkompabilita

Propylene glycol tidak kompatibel dengan reagen pengoksidasi

12

sepertikalium permanganat.
(HOPE 6thed halaman 593)

Keterangan

Propylene glycol telah banyak digunakan sebagai pelarut,

lain

ekstraktan,dan

pengawet.

Propylene

glycol

umumnya

digunakan sebagai plasticizer dalam air. Propilen glikol juga


digunakan dalam kosmetik dan makananindustri sebagai
pembawa untuk emulsifier, sebagai kendaraan untuk rasa
dipreferensi untuk etanol, pengawet antimikroba; desinfektan;
humektan; plasticizer; pelarut; agen penstabil; air-larut
cosolvent.
(HOPE 6thed halaman 592)
Penyimpanan

Propylene glycol bersifat higroskopis dan harus disimpan di


wadah tertutup baik, lindungi dari cahaya, dalam keadaan
dingin, dan tempat kering.
(HOPE 6thed halaman 593)

Kadar
penggunaan

Humektan topika= l15%


Solusi pengawet, semisolids= 15-30%
Solvent atau cosolvent solusi Aerosol= 10-30%
Larutan oral= 10-25%
Parenteral= 10-60%
Topikal= 5-80%
(HOPE 6thed halaman 592)

6. Na-EDTA
Zat

Disodium edetate
(HOPE 6th ed Hlm242)

Sinonim

Dinatrii

edetas;
13

disodium

EDTA;

disodium

ethylenediaminetetraacetate; edathamil disodium; edetate


disodium; edetic acid, disodium salt.
(HOPE 6th ed Hlm 242)
Struktur

(HOPE 6th ed Hlm 242)


Rumus

C10H14N2Na2O8(BM= 336.2) (untuk anhidrat)

molekul

C10H18N2Na2O10(BM= 372.2) (untuk dihidrat)

Titik lebur

(HOPE 6th ed Hlm 242)


Dekomposisi pada suhu 252oC untuk dihidrat
(HOPE 6th ed Hlm243)

Pemerian

Kristal putih, serbuk berwarna, rasa sedikit asam


(HOPE 6th ed Hal 243)

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, sedikit larut


dalam etanol (95%), larut dalam air 1:11 bagian
(HOPE 6th ed Hlm 243)

Stabilitas

Garam EDTA lebih stabil daripada asam edetic. Namun


dinatrium EDTA dihidrat kehilangan air dari kristalisasi
ketika dipanaskan sampai 1200C larutan dinatrium EDTA
dapat disterilkan dengan autoklaf.
(HOPE 6th ed Hlm 243)

Inkompabilita

Dinatrium EDTA bersifat seperti asam lemah, menggantikan

karbondioksida dari karbonat dan bereaksi dengan logam


untuk membentuk hydrogen inkompatibel dengan oksidator
kuat, basa kuat, dan paduan ion logam.

14

(HOPE 6th ed Hlm 243)


Keterangan

Pengkelat, pengompleks

lain

(HOPE 6th edHlm 242)

Penyimpanan

Dalam wadah yang tertutup, sejuk dan kering


(HOPE 6th ed Hlm 243)

Kadar

digunakan sebagai agen chelating di berbagai

penggunaan

sediaan farmasi, termasuk obat kumur, tetes mata


persiapan, dan persiapan topikalbiasanya pada konsentrasi
antara 0,005 dan 0,1% b/v
(HOPE 6th ed Hlm 243)

7. Oleum Olivarum
Zat

Olive Oil
(HOPE 6th ed Hlm 470)

Sinonim

Gomenoleo oil; olivae oleum raffinatum; pure olive oil; olea


europaea oil; oleum olivae.
(HOPE 6th ed Hlm 470)

Struktur

Rumus

molekul
Titik lebur

Pemerian

Minyak kuning pucat atau kuning kehijauan terang; bau dan


rasa khas lemah dengan rasa agak pedas
(Farmakope Indonesia edisi V hlm 882)

Kelarutan

Sukar larut dalam etanol, tercampur dengan eter, dengan


kloroform, dan dengan karbon disulfida.
(Farmakope Indonesia edisi V hlm 882)

Stabilitas

Ketika didinginkan, minyak zaitun menjadi keruh di sekitar


15

100C, dan menjadi massa butterlike di 00C. Minyak zaitun


harus disimpan di tempat yang sejuk dan kering, container
yang baik, terlindung dari cahaya.
(HOPE 6th Edition page 470)
Inkompabilita

Minyak zaitun dapat disabunkan oleh hidroksida alkali.

Karena mengandung proporsi yang tinggi dari asam lemak tak


jenuh, minyak zaitun rawan oksidasi dan tidak kompatibel
dengan oksidator.
(HOPE 6th halaman 471)

Keterangan

Minyak zaitun telah digunakan dalam enema, liniments, salep,

lain

plester, dan sabun.


(HOPE 6th Edition page 470)

Penyimpanan

Minyak zaitun harus disimpan di tempat yang sejuk dan


kering, container yang baik, terlindung dari cahaya.
(HOPE 6th Edition page 471)

Kadar

5%

penggunaan
8. TEA
Zat

Triethanolamine
(HOPE 6th ed Hlm754)

Sinonim

TEA; Tealan; triethylolamine; trihydroxytriethylamine; tris


(hydroxyethyl)amine; trolaminum.
(HOPE 6th ed Hlm754)

16

Struktur

(HOPE 6th ed Hlm754)


Rumus

C6H15NO3(BM= 149.19)

molekul

(HOPE 6th ed Hlm754)

Titik lebur

20-21oC
(HOPE 6th ed Hlm754)

Pemerian

Cairan kental berwarna kuning hernih, tidak berwarna pucat,


memiliki bau ammonia sedikit.
(HOPE 6th ed Hal 754)

Kelarutan

Larut dalam aseton, 1:24 di benzen, 1:63 di etil eter, dalam


karbon tetraklorida, methanol dan air.
(HOPE 6th ed Hlm754)

Stabilitas

Triethanolamine dapat berubah menjadi coklat pada paparan


udara dan cahaya. 85% TEA cenderung mengalami
stratifikasi pada suhu di bawah 150C, homogenitas dapat
dikembalikan dengan pemanasan dan pencampuran sebelum
digunakan. TEA harus disimpan dalam wadah kedap udara
terlindung dari cahaya di tempat sejuk dan kering.
(HOPE 6th ed Hlm754)

Inkompabilita

TEA adalah amina tersier yang berisi kelompok hidroksi, ia

mampu menjalani reaksi khas amina tersier dan alcohol. TEA


aka bereaksi dengan asam mineral untuk membentuk garam
Kristal dan ester. TEA juga akan berekasi dengan tembaga
untuk membentuk garam kompleks. Perubahan warna dapat
17

terjadi dengan adanya logam berat. TEA dapat bereaksi


dengan reagen seperti tionil klorida untuk menggantikan
gugus hidroksi dengan halogen.
(HOPE 6th ed Hlm754)
Keterangan

Pengemulsi, TEA banyak digunakan dalam formulasi farmasi

lain

topikal terutama dalam pembentukan emulsi.


(HOPE 6th edHlm754)

Penyimpanan

TEA harus disimpan dalam wadah kedap udara terlindung


dari cahaya di tempat sejuk dan kering.
(HOPE 6th ed Hlm755)

Kadar
penggunaan

Emulsifikasi= 2-4% v/v


Minyak mineral= 5% v/v
(HOPE 6th ed Hlm754)

9. Aquadest
Zat

Water (HOPE 6th Edition page 766 )

Sinonim

Aqua; aqua purificata; hydrogen oxide.


(HOPE 6th Edition page 766 )

Struktur

(HOPE 6th Edition page 766 )


Rumus
molekul
Titik lebur

H2O
(HOPE 6th Edition page 766 )
0oC
(HOPE 6th Edition page 766 )

Pemerian

Air adalah cairan bening, berwarna tidak berbau, tidak berasa.


18

(HOPE 6th Edition page 766 )


Kelarutan

Larut dengan sebagian besar pelarut polar


(HOPE 6th Edition page 766 )

Stabilitas

Secara kimia air stabil di semua bentuk fisikanya yaitu (uap,


air, cairan)
(HOPE 6th Edition page 766 )

Inkompabilita

Dalam formula farmasi, air dapat bereaksi dengan obat

obatan dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis pada


saat suhu ditinggikan. Air bereaksi secara kuat dengan logam
alkali dan bereaksi cepat dengan alkali tanah dengan
oksidasinya seperti kalsium oksida dan magnesium oksida. Air
juga bereaksi dengan garam tidak hidrat menjadi garam hidrat
dengan berbagai komposisi dan bahan organic dan kalsium
karbida.
(HOPE 6th halaman 768)

Keterangan

Air sebagai bahan mentah, bahan dan pelarut pada suatu

lain

proses, formula dan pembuatan dari produk kefarmasian,


bahan aktif farmasi, perantara analisis bahan reaksi.
(HOPE 6th Edition page 766 )

Penyimpanan

Dalam wadah tertutup rapat.


(HOPE 6th Edition page 768 )

Kadar

Nilai khusus air yang digunakan untuk aplikasi tertentu dalam

penggunaan

konsentrasi hingga 100%


(HOPE 6th Edition page 766 )

IV.

TINJAUAN PUSTAKA SEDIAAN

19

Gel, kadang-kadang disebut jeli merupakan sistem semipadat terdiri dari


suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik
yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan (Depkes RI, 2014).
Gel umumnya merupakan suatu sediaan semipadat yang jernih, tembus cahaya
dan mengandung zat aktif, merupakan dispersi koloid mempunyai kekuatan yang
disebabkan oleh jaringan yang saling berikatan pada fase terdispersi (Ansel,
1989).
Penggunaan sediaan gel dapat digunakan untuk oral, topikal, intranasal,
vaginal dan rektal. Gel umumnya digunakan sebagai sediaan dermatologi topikal
dan kosmetik.
Kegunaan sediaan gel (Lachman,1989):
Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral, dalam
bentuk sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin
dan untuk bentuk sediaan obat long acting yang diinjeksikan secara

intramuskular.
Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi tablet,
bahan pelindung koloid pada suspensi, bahan pengental pada sediaan cairan

oral, dan basis suppositoria.


Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik,
termasuk pada shampo, parfum, pasta gigi, dan kulit dan sediaan perawatan

rambut.
Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non streril)
atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril) (Depkes RI,

2014).
Pengolongan (Sistem dispersi):
A. Berdasarkan sifat fasa koloid (Lachman, dkk, 1989):
Gel anorganik, contoh : bentonit magma
Gel organik, pembentuk gel berupa polimer
B. Berdasarkan sifat pelarut (Lachman, dkk, 1989):
Hidrogel
(pelarut
air).
Hidrogel
pada

umumnya

terbentuk

oleh molekul polimer hidrofilik yang saling sambung silang melalui ikatan
kimia atau gaya kohesi seperti interaksi ionik, ikatan hidrogen atau interaksi
hidrofobik. Hidrogel mempunyai biokompatibilitas yang tinggi sebab
hidrogel mempunyai tegangan permukaan yang rendah dengan cairan
biologi dan jaringan sehingga meminimalkan kekuatan adsorbsi protein dan
adhesi sel; hidrogel menstimulasi sifat hidrodinamik dari gel biological, sel
dan jaringan dengan berbagai cara; hidrogel bersifat lembut/lunak, elastis
20

sehingga meminimalkan iritasi karena friksi atau mekanik pada jaringan


sekitarnya. Kekurangan hidrogel yaitu memiliki kekuatan mekanik dan
kekerasan yang rendah setelah mengembang. Contoh : bentonit magma,

gelatin.
Organogel (pelarut bukan air/ pelarut organik). Contoh : plastibase (suatu
polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam minyak mineral dan

didinginkan secara shock cooled), dan dispersi logam stearat dalam minyak.
Xerogel. Gel yang telah padat dengan konsentrasi pelarut yang rendah
diketahui sebagai xerogel. Xerogel sering dihasilkan oleh evaporasi pelarut,
sehingga sisa sisa kerangka gel yang tertinggal. Kondisi ini dapat
dikembalikan pada keadaan semula dengan penambahan agen yang
mengimbibisi, dan mengembangkan matriks gel. Contoh : gelatin kering,

tragakan ribbons dan acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene.
Emulgel adalah emulsi baik O/W maupun W/O yang dibuat gel dengan
mencampurkannya dengan gelling agent. Keunggulan emulgel memiliki

kelebihan daya hantar obat yang baik seperti gel maupun emulsi.
C. Berdasarkan bentuk struktur gel (Lachman, dkk, 1989):
Kumparan acak
Heliks
Batang
Bangunan kartu
D. Berdasarkan jenis fase terdispersi:
Gel fase tunggal, terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba
sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan
antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat
dibuat dari makromolekul sintetik (misal karbomer) atau dari gom alam
(misal tragakan). Sediaan tragakan disebut juga musilago. Walaupun gel-gel
ini umumnya mengandung air; etanol dan minyak dapat digunakan sebagai
fase pembawa. Sebagai contoh, minyak mineral dapat dikombinasi dengan

resin polietilena untuk membentuk dasar salep berminyak (Depkes, 2014).


Gel sistem dua fasa, terbentuk jika masa gel terdiri dari jaringan partikel
kecil yang terpisah. Dalam sistem ini, jika ukuran partikel dari fase
terdispersi relatif besar, masa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma.
Partikel anorganik tidak larut, hampir secara keseluruhan terdispersi pada
fasa kontinu (Ansel, 1989).
Dasar gel yang umum digunakan adalah gel hidrofobik dan gel hidrofilik.
21

1. Dasar gel hidrofobik


Dasar gel hidrofobik umumnya terdiri dari partikel-partikel anorganik, bila
ditambahkan ke dalam fase pendispersi, hanya sedikit sekali interaksi antara
kedua fase. Berbeda dengan bahan hidrofilik, bahan hidrofobik tidak secara
spontan menyebar, tetapi harus dirangsang dengan prosedur yang khusus
(Ansel, 1989). Keuntungan basis gel hidrofobik: Memungkinkan adanya fase
minyak dalam formula yang dibutuhkan untuk melarutkan bahan obat tertentu
dan bisa ditambahkan berbagai jenis minyak dengan beragam viskositas.
Sedangkan kerugian basis gel hidrofobik: Bermiyak, lengket, tidak mudah
dihilangkan dari permukaan kulit, dan kurang akseptabel.
2. Dasar gel hidrofilik
Dasar gel hidrofilik umumnya terdiri dari molekul-molekul organik yang
besar dan dapat dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase
pendispersi. Istilah hidrofilik berarti suka pada pelarut. Umumnya daya tarik
menarik pada pelarut dari bahan-bahan hidrofilik kebalikan dari tidak adanya
daya tarik menarik dari bahan hidrofobik. Sistem koloid hidrofilik biasanya
lebih mudah untuk dibuat dan memiliki stabilitas yang lebih besar (Ansel,
1989). Keuntungan basis gel hidrofilik: Dapat larut mengembang dalam air,
mudah tercucikan, memberikan sensasi dingin pada kulit, dan meninggalkan
lapisan tipis dan transparan di kulit. Sedangkan kerugian basis gel hidrofilik:
Kandungan air cukup besar sehingga mengakibatkan terkontaminasi mikroba.
Penghantaran obat melalui rute telah menarik banyak perhatian karena
banyaknya keuntungan yang diberikan. Keuntungan penghantaran obat terkendali
melalui transdermal daripada obat dengan rute oral yaitu terhindar dari
metabolisme lintas pertama di hati, kemampuan untuk mengendalikan
penghantaran obat lebih lama dibandingkan waktu tinggal di gastrointestinal
pada bentuk sediaan oral, kemampuan untuk meningkatkan penetrasi dan
absorpsi dengan memodifikasi sifat dari barier biologi. Akan tetapi hambatan
utama penghantaran obat transdermal ini adalah permeabilitas yang relative
rendah dari kulit (Pathan dan Setty, 2009).
Obat dapat masuk ke dalam kulit tergantung pada kemampuannya untuk
berpenetrasi melalui kulit dalam jumlah yang cukup untuk mencapai efek yang
diharapkan. Pada produk personal care dan obat topikal terdapat perbedaan
dalam hal kedalaman penetrasi yang diinginkan. Personal care seperti tabir surya
22

dan deodoran dirancang untuk tetap pada permukaan kulit atau tetap pada
stratum corneum. Sebaliknya, tujuan untuk obat terapeutik adalah agar bahan
aktif dapat menembus ke lapisan yang lebih dalam dari kulit atau mencapai
sirkulasi sistemik. Di kulit sendiri terdapat stratum corneum yang bertindak
sebagai barier dari pengaruh luar dan mencegah penguapan air dari bawah
jaringan. Sifat penghalang dari stratum corneum dapat ditembus

untuk

penghantaran obat transdermal dengan beberapa cara, yaitu dengan teknik fisika
seperti iontoforesis, elektropolasi, sonoforesis, termal porasi, atau dengan
menggunakan bahan kimia yang dikenal dengan peningkat penetrasi kimia, yang
dapat meningkatkan permeabilitas stratum corneum (Heena et al, 2011;
Rachakonda, 2006; Rosen, 2005).
Peningkat penetrasi kulit digunakan untuk memperbaiki bioavailabilitas dan
memberikan kemungkinan berbagai obat untuk diberikan melalui rute topikal dan
transdermal. Oleh karena itu, peningkat penetrasi kulit sering digunakan dalam
penghantaran obat transdermal karena mengurangi fungsi sawar stratum
corneum, sebagai lapisan kulit paling luar, secara reversible. Mekanisme dari
peningkat penetrasi ini yaitu mempengaruhi lipid interselular dan/atau keratin
dan tight junction dimana dapat meningkatkan partisi obat ke dalam jaringan,
mengubah aktivitas termodinamika/kelarutan obat. Banyak pendekatan yang
dilakukan untuk meningkatkan permeasi obat seperti penggunaan peningkat
penetrasi kimia, fisika, kimia-kimia, fisika-kimia, dan fisika-fisika (Heena et al,
2011; Rosen, 2005).

V.

PENDEKATAN FORMULA

23

No

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

Adapalene

0,1% b/b

Zat aktif
Pelarut pengawet

Propilen glikol

10% b/b

Oleum Olivarum

5% b/b

Methyl paraben

0,2% b/b

Propyl paraben

0,02% b/b

Na EDTA

0,1% b/b

TEA

Qs

Aquadest

0,4% v/b

Carbomer

3% b/b

.
1

(HOPE 6th ed Hlm 592)


Pelarut zat aktif
(HOPE 6th Edition page 470)
Pengawet
(HOPE 6th Editionpage 441)
Pengawet
(HOPE 6th Edition page 596)
Pengompleks
(HOPE 6th Edition page 242)
Pembasa carbomer
(HOPE 6th Edition page 754)
Pelarut gelling agent
(HOPE 6th Edition page 766)
Gelling agent
(HOPE 6th Edition page 110)

Spesifikasi
1. Bentuk sediaan: Gel dengan bahan aktif Adapalene
24

2. Warna : Bening dengan bau khas zat aktif


3. pH : 4,0-6,0
4. Kadar
: 0,1% (Martindale 36 hlm 1587)
5. Volume
: 5 g/tube
6. Viskositas
: 10.000-30.000 mPas (10.000-30.000 cP) pada
suhu 25oC
VI.

PENIMBANGAN
Dibuat 5 tube @5 gram
5 x 5= 25 g
Total 5 tube dilebihkan 50% = 25 g + (50% x 25 g)= 37,5 g= 40 g
No

Nama Bahan

Jumlah yang Ditimbang

.
0,1 g
100 g

x 40 g= 0,04 g

Adapalene

Propilen glikol

10 g
100 g

x 40 g= 4 g

Oleum Olivarum

5g
100 g

x 40 g= 2 g

Methyl paraben

0,2 g
100 g

x 40 g= 0,08 g

Propyl paraben

0,02 g
100 g

x 40 g= 0,008 g

Na-EDTA

0,1 g
100 g

x 40 g= 0,04 g

Perhitungan kadar aquadest

Kelarutan eksipien dalam air


(aquadest)
Na-EDTA= larut dalam 1:10 air
(HOPE 6th Edition page 243)
Kadar dalam sediaan yang
digunakan (untuk 5 tube @40 g)=
0,1% b/b
0,1 g
100 g

25

x 40g= 0,04 g

1g
10 ml

x=

0,04 g
x

10 ml x 0,04 g
1g

Kadar aquadest=

= 0,4 g= 1 ml
1 ml
100 g

x 40 g=

0,4 % v/b
7

Aquadest

TEA

0,4 ml
100 g

x 40 g= 0,16ml= 1ml
4 tetes

3g
100 g
9

Carbomer

x 40 g= 1,2 g

40 g
(0,04+4+2+0,08+0,008+0,04+1)g=
40 g 32,832 g= 35 g

VII.

PROSEDUR PEMBUATAN
Pembuatan Air Bebas CO2
1. Diambil 1L air ke dalam beaker glass 1L
2. Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 1L, lalu panaskan di tas hotplate
3. Setelah air mendidih, kemudian ditunggu sampai 30 menit atau lebih
4. Setelah mencapai waktu yang ditentukan, erlenmeyer 1L ditutup
menggunakan gumpalan kapas
5. Jika sudah tertutup rapat, matikan api, dinginkan.

Penimbangan Bahan
1. Ditimbang Adapalene sebanyak 0,04 g menggunakan kertas perkamen di
atas timbangan analitik.
2. Ditimbang Propilen glikol sebanyak 4 g menggunakan cawan penguap di
atas timbangan analitik.
3. Ditimbang Oleum olivarum sebanyak 2 g menggunakan cawan penguap di
atas timbangan analitik.
4. Ditimbang Methyl paraben sebanyak 0,08g menggunakan kertas perkamen
di atas timbangan analitik.
5. Ditimbang Propyl paraben sebanyak 0,008g menggunakan kertas perkamen
di atas timbangan analitik.

26

6. Ditimbang Na-EDTA sebanyak 0,004g menggunakan kertas perkamen di


atas timbangan analitik.
7. Diukur aquadest sebanyak 1ml menggunakan beaker glass 50ml dengan
gelas ukur 10ml.
8. Ditimbang carbomer sebanyak 1,2g menggunakan kertas perkamen di atas
timbangan analitik.

Pembuatan carbomer
1. Disiapkan mortir. Diisi dengan aquadest yang telah diukur secukupnya.
2. Carbomer yang telah ditimbang ditaburkan secara perlahan-lahan sedikit
demi sedikit ke dalam mortir.
3. Dibiarkan hingga Carbomer terbasahi air. Jika ada yang belum terbasahi,
diteteskan dengan aquadest menggunakan pipet tetes sampai seluruh
Carbomer terbasahi
4. Diaduk dengan menggunakan stamper, ditambahkan TEA dengan
menggunakan pipet tetes sambil diaduk hingga homogen dan terbentuk
massa Carbomer yang padat seperti gel.
5. Massa gel Carbomer yang telah jadi kemudian ditimbang sebanyak 35g
menggunakan kertas perkamen di atas timbangan analitik.

Pembuatan sediaan gel Adapalene 0,1%


1. Disiapkan mortir yang sudah bersih dan kering
2. Adapalene yang telah ditimbang dilarutkan dengan oleum olivarum yang
telah ditimbang di dalam cawan penguap, diaduk dengan menggunakan
batang pengaduk ad larut. Dimasukkan ke dalam mortir dan ditambahkan
sedikit basis gel. Diaduk dengan menggunakan stamper ad homogen.
3. Methyl paraben yang telah ditimbang dilarutkan dengan sebagian propilen
glikol yang telah ditimbang di dalam beaker glass 50ml. Diaduk dengan
menggunakan batang pengaduk ad larut. Dimasukkan ke dalam mortir dan
ditambahkan sedikit basis gel. Diaduk dengan menggunakan stamper ad
homogen.
4. Propyl paraben yang telah ditimbang dilarutkan dengan sisa propilen glikol
di dalam cawan penguap. Diaduk dengan menggunakan batang pengaduk
ad larut. Dimasukkan ke dalam mortir dan ditambahkan sedikit basis gel.
Diaduk dengan menggunakan stamper ad homogen.
5. Na-EDTA yang telah ditimbang dilarutkan dengan aquadest yang telah
diukur di dalam beaker glass 50ml, diaduk dengan menggunakan batang
pengaduk ad larut. Dimasukkan ke dalam mortir dan ditambahkan sedikit
basis gel. Diaduk dengan menggunakan stamper ad homogen.
27

6. Basis gel yang tersisa dimasukkan ke dalam mortir, diaduk dengan


menggunakan stamper ad homogen.
7. Gel yang telah jadi ditimbang menggunakan kertas perkamen di atas
timbangan analitik sebanyak 5 g, kertas perkamen digulung menutupi
sediaan gel.
8. Kertas perkamen dimasukkan ke dalam ujung tube yang telah dibuka, gel
dikeluarkan dengan menahan ujung kertas perkamen dengan pinset sampai
gel masuk seluruhnya ke dalam tube. Ujung tube ditutup, dimasukkan ke
dalam kemasan sekunder beserta etiket dan brosur.
VIII. DATA PENGAMATAN EVALUASI SEDIAAN
No

Jumla
Jenis evaluasi

Prinsip evaluasi

h
sampel

1.

1.1

Hasil
pengamatan

Syarat

FISIKA
Organoleptik

Pengujian pH
1.2

Evaluasi meliputi uji


bau dan warna
Pengukuran pH

1 tube

Warna putih, bau

Warna putih, bau khas zat

khas zat aktif

aktif

dilakukan
menggunakan pH
indicator, diencerkan

1tube

4,0-6,0

sediaan 0,5 g dengan 5


ml aquadest
Pengujian dilakukan
menggunakan
1.3

Viskositas

viscometer stormer
(Modul Praktikum

10.000-30.000 mPas
1 tube

15.000 cPs

(10.000-30.000 cPs) pada


suhu 25oC

Farmasi Fisika, 2002


hlm 17-18)
Homogenitas
(Goeswin Agus,
1.4

teknologi
farmasi dan

1.5

liquida hlm 127)


Isi minimum

Mengamati

Partikel berukuran seragam

keseragaman distribusi
dan ukuran partikel di

1 tube

Homogen

dan terdistribusi secara

merata dinyatakan sebaga

kaca arloji.

homogen.

Menimbang tube
28

1 tube

4,434 g

Tidak kurang dari 90%

kosong dengan

sesuai dengan yang tertera

tube+sediaan diperoleh

pada etiket

bobot sediaan dalam

(FI V hlm 1519)

tube
Menggunakan vakum
dan penambahan
1.6

Uji kebocoran

metilen blue. Jika tube

tube

mengalami kebocoran,

1 tube

Tidak mengalami
kebocoran tube

isi tube akan berwarna


biru
Bahan aktif dinyatakan
mudah terlepas dari

Mengukur pelepasan

sediaan apabila waktu

bahan aktif dari sediaan


1.7

Uji pelepasan
bahan aktif

tunggu (waktu pertama ka

krim dengan cara


mengukur konsentrasi

1 tube

zat aktif dengan cairan

zat aktif ditemukan dalam

cairan penerima semakin


kecil. Dalam hal ini

penerima dalam waktu

tergantung pembawa

tertentu

penambah komponen 10
jenis cairan penerima
Vield value antara 1001000 dines-

Menguji difusi bahan

cm3menunjukkan

aktif dari sediaan krim

kemampuan untuk mudah

menggunakan suatu zat


1.8

Uji difusi zat

difusi dengan cara

aktif

menguji konsentrasi

tersebar. Nilai di bawah in


1 tube

terlalu lunak dan mudah

bahan aktif dalam

mencair. Di atas nilai

cairan pada selang

terseut menunjukkan selal

waktu tertentu

1.9

Uji stabilitas gel

Vield value suatu

menunjukkan sediaan

keras dan tidak dapat


1 tube

tersebar
Vield value antara 100-

sediaan dapat ditentuka

1000 dines-

dengan penetrometer.

cm3menunjukkan

Dilakukan i=uji

kemampuan untuk mudah

29

tersebar. Nilai di bawah in


menunjukkan sediaan

dipercepat

terlalu lunak dan mudah

agitasi/sentifugal

mencair. Di atas nilai

sediaan disentri fungi

terseut menunjukkan selal

kecepatan tinggi

keras dan tidak dapat


tersebar

2.

KIMIA
Dengan menggunakan
HPLC

2.1

Identifikasi
sediaan

(Asian Journal of
Pharmaceutical
Analysis and Medicinal
Chemistry: HPLC
Method Development
and Validation for The
Estimation Of
Adapalene in
Pharmaceutical
Formulations, hlm 166)
Dengan menggunakan

1 tube

HPLC
(Asian Journal of
Pharmaceutical
Analysis and Medicinal
2.2

Penetapan kadar

Chemistry: HPLC

zat aktif sediaan

Method Development

1 tube

and Validation for The


Estimation Of
Adapalene in
Pharmaceutical
Formulations, hlm 166)
3.
3.1

BIOLOGI
Uji efektivitas

Menggunakan mikroba

pengawet

uji dalam agar

(FI IV hlm 854)

1 tube

a. Jumlah bakteri viabel


pada hari ke 14 berkurang
hingga tidak lcbih dari
0,1% dari jumlah awal.
b. jumlah kapang dan

30

-khamir viable selama 14


hari pertama adalah tetap
atau kurang dari jumlah
awal

c. Jumlah tiap mikroba uji


selama hari tersisa dari 28

hari pengujian adalah tetap


atau kurang danbilangan

yang disebut pada a dan b.

Perhitungan isi minimum


Tube kosong
= 2,031 g
Tube+sediaan
= 6,465 g Bobot tube
= 4,434 g
IX.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan gel dengan bahan aktif Adapalene
dengan dosis oleskan sekali sehari sebelum tidur (BMJ Group, 2009). Adapalene
digunakan dalam pengobatan topikal jerawat ringan sampai sedang, komedo,
papula (penonjolan pada kulit), dan bisul (Sweetman, S.C. 2009). Adapalene
diaplikasikan sekali sehari di malam hari sebagai 0,1% larutan, krim, atau gel
untuk kulit yang telah dibersihkan dan dikeringkan; 0,3% gel juga tersedia
(Sweetman, S.C. 2009).
Adapalene stabil secara kimia, merupakan senyawa mirip retinoid, mengikat
reseptor retinoic acid nuclear spesifik. Studi profil secara biokimia dan
farmakologi memperlihatkan bahwa adapalene merupakan modulator diferensiasi
selular, keratinisasi, dan proses inflamasi dimana proses-proses tersebut
menggambarkan ciri-ciri penting dalam patologi acne vulgaris. Secara mekanis,
adapalene mengikat reseptor retinoic acid nuclear spesifik tetapi tidak mengikat
protein reseptor cytosolic. Meskipun mekanisme kerja adapalene yang
sebenarnya tidak diketahui, diusulkan bahwa adapalene topikal mungkin
menormalisasi diferensiasi dari sel epitel folikular, sehingga mengurangi
pembentukan microcomedone. Adapelene diabsorpsi melalui kulit manusia dalam
jumlah kecil. Ekskresi adapalene sebagian besar melalui empedu (Sweetman,
S.C., 2009).

31

Sediaan ditujukan untuk pengggunaan topikal untuk mengobati jerawat ringan


sampai sedang (Sweetman, S.C. 2009), maka dibuat sediaan berupa gel, karena
oleum olivarum termasuk minyak maka sediaan dinyatakan sebagai emulgel.
Dalam hal ini gelling agent yang digunakan yaitu Carbomer. Bahan aktif praktis
tidak larut dalam air (Chandira, dkk, 2010), maka bahan aktif dilarutkan dalam
oleum olivarum. Karena dalam sediaan terkandung minyak maka sediaan
dinyatakan sebagai emulgel.
Sediaan disimpan dalam jangka waktu lama sebagai multiple dose, dan
sediaan terkandung air sebagai nutrisi dan medium pertumbuhan mikroba, dengan
demikian akan rentan terkontaminasi mikroba, maka sediaan ditambahkan
pengawet, yaitu Methyl paraben dan propyl paraben (Rowe, 2006). Bahan aktif
tidak ditemukan pH stabilitas di pustaka The Pharmaceutical Codex, Martindale
46, Farmakope Indonesia edisi IV dan V, dan journal penelitian, maka pH sediaan
ditentukan dengan menyesuaikan pengawet yang digunakan (Methyl paraben dan
Propyl paraben) yaitu 4,0-6,0 dengan pH aktivitas antimikroba Methyl paraben
dan Propyl paraben 4-8.
Methyl paraben dan propyl paraben tidak larut dalam air, maka dilarutkan
dalam propilen glikol (Rowe, 2006). Untuk mencapai pH sediaan yang
diinginkan, ditambahkan adjust pH HCl 0,1 N atau NaOH 0,1 N (jika perlu).
Bahan aktif stabil terhadap cahaya (Chandira, dkk, 2010), namun dikhawatirkan
menjadi tidak stabil dan untuk mengatasinya maka digunakan tube saat
penyimpanan.
CO2 dapat mempengaruhi pH sediaan karena dapat terlarut ke dalam air dan
membentuk ion H+ sehingga dapat mengubah pH sediaan, maka digunakan
pelarut air bebas CO2. Sediaan dimasukkan ke dalam tube yang terbuat dari
alumunium, maka ditambahkan pengompleks/pengkelat Na-EDTA (Rowe, 2006).
Dalam pembuatan sediaan dilebihkan 50%

untuk mengantisipasi kehilangan

bahan.
Sediaan dibuat secara berurutan mulai pembuatan air bebas CO2,
penimbangan, pembuatan carbomer, dan pembuatan sediaan gel Camphora.
Setelah sediaan dibuat, lalu dilakukan evaluasi organoleptik, yaitu meliputi
evaluasi bau dan warna. Sediaan yang telah jadi memiliki bau khas zat aktif dan
warna putih.
Evaluasi isi minimum. Menimbang tube kosong dengan tube+sediaan
diperoleh bobot sediaan dalam tube dengan mengurangi bobot tube+sediaan dan
32

tube kosong. Syaratnya yaitu tidak kurang dari 90% sesuai dengan yang tertera
pada etiket (Depkes RI, 2014). Isi minimum yang diperoleh untuk satu tube yaitu
4,434 g. Dapat diartikan bahwa sediaan memenuhi persyaratan evaluasi isi
minimum.
Evaluasi viskositas. Pengujian dilakukan menggunakan viscometer stormer.
Viskositas sediaan yang diperoleh yaitu 15.000 cPs.
Evaluasi homogenitas. Sediaan diambil sedikit menggunakan sudip ke dalam
kaca arloji, diratakan dan amati ukuran partikelnya. Syaratnya yaitu jika ukuran
partikel yang sama semua disebut homogen dan jika ukuran partikel ada yang
berbeda disebut tidak homogen. Hasil pengamatan yang diperoleh yaitu sediaan
termasuk homogen dan ukuran partikelnya seluruhnya sama.
Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan sediaan dinyatakan memenuhi
syarat yang ditentukan walaupun terdapat hasil evaluasi yang tidak memenuhi
persyaratan namun merupakan parameter kritis.
Penghantaran obat melalui rute telah menarik banyak perhatian karena
banyaknya keuntungan yang diberikan. Keuntungan penghantaran obat terkendali
melalui transdermal daripada obat dengan rute oral yaitu terhindar dari
metabolisme lintas pertama di hati, kemampuan untuk mengendalikan
penghantaran obat lebih lama dibandingkan waktu tinggal di gastrointestinal
pada bentuk sediaan oral, kemampuan untuk meningkatkan penetrasi dan
absorpsi dengan memodifikasi sifat dari barier biologi. Akan tetapi hambatan
utama penghantaran obat transdermal ini adalah permeabilitas yang relativ
rendah dari kulit (Pathan dan Setty, 2009).
Obat dapat masuk ke dalam kulit tergantung pada kemampuannya untuk
berpenetrasi melalui kulit dalam jumlah yang cukup untuk mencapai efek yang
diharapkan. Pada produk personal care dan obat topikal terdapat perbedaan
dalam hal kedalaman penetrasi yang diinginkan. Personal care seperti tabir surya
dan deodoran dirancang untuk tetap pada permukaan kulit atau tetap pada
stratum corneum. Sebaliknya, tujuan untuk obat terapeutik adalah agar bahan
aktif dapat menembus ke lapisan yang lebih dalam dari kulit atau mencapai
sirkulasi sistemik. Di kulit sendiri terdapat stratum corneum yang bertindak
sebagai barier dari pengaruh luar dan mencegah penguapan air dari bawah
jaringan. Sifat penghalang dari stratum corneum dapat ditembus
33

untuk

penghantaran obat transdermal dengan beberapa cara, yaitu dengan teknik fisika
seperti iontoforesis, elektropolasi, sonoforesis, termal porasi, atau dengan
menggunakan bahan kimia yang dikenal dengan peningkat penetrasi kimia, yang
dapat meningkatkan permeabilitas stratum corneum (Heena et al, 2011;
Rachakonda, 2006; Rosen, 2005).
Peningkat penetrasi kulit digunakan untuk memperbaiki bioavailabilitas dan
memberikan kemungkinan berbagai obat untuk diberikan melalui rute topikal dan
transdermal. Oleh karena itu, peningkat penetrasi kulit sering digunakan dalam
penghantaran obat transdermal karena mengurangi fungsi sawar stratum
corneum, sebagai lapisan kulit paling luar, secara reversible. Mekanisme dari
peningkat penetrasi ini yaitu mempengaruhi lipid interselular dan/atau keratin
dan tight junction dimana dapat meningkatkan partisi obat ke dalam jaringan,
mengubah aktivitas termodinamika/kelarutan obat. Banyak pendekatan yang
dilakukan untuk meningkatkan permeasi obat seperti penggunaan peningkat
penetrasi kimia, fisika, kimia-kimia, fisika-kimia, dan fisika-fisika (Heena et al,
2011; Rosen, 2005).
Bahan aktif Adapalene memiliki log P sama dengan +8,6 (Rolewski. SL.,
2003). Artinya sediaan tidak memerlukan pemakaian peningkat penetrasi. Nilai
log P positif tidak memerlukan pemakaian peningkat penetrasi. Sedangkan jika
nilai log P negatif memerlukan pemakaian peningkat penetrasi. Nilai log P yang
baik untuk zat aktif yaitu antara 1-3.
Koefisien partisi merupakan rasio konsentrasi dari suatu senyawa dalam dua
tahap, dari dua campuran yang tidak saling larut dalam pelarut pada
kesetimbangan.

Koefisien

partisi

(P)

ini

juga

menggambarkan rasio

pendistribusian obat ke dalam pelarut system dua fase, yaitu pelarut organik dan
air. Dalam pengembangan bahan obat menjadi bentuk obat koefisien partisi
harus dipertimbangkan terlebih dahulu, dimana P hanya tergantung pada
konsentrasi obat saja, dan apabila molekul-molekul obat berkecenderungan
menyatu dalam larutan maka untuk obat yang terionisasi dapat dikatakan
memiliki tingkat ionisasi yang sama atau seimbang (Anonim, 2011).
Kecepatan absorpsi obat sangat dipengaruhi oleh koefisien partisinya. Hal ini
disebabkan oleh komponen dinding usus yang sebagian besar terdiri dari lipida.
34

Dengan demikian obat - obat yang sukar larut dalam lipida akan dengan mudah
melaluinya. Sebaliknya obat obat yang sukar larut dalam lipida akan sukar
diadsorbsi. Obat-obat yang larut dalam lipida tersebut dengan sendirinya
memiliki koefisien partisi lipida-air yang besar, sebaliknya obat-obat yang sukar
larut dalam lipida akan memiliki koeisien partisi yang sangat kecil.
Pada umumnya, obat-obat bersifat asam lemah atau basa lemah. Jika obat
tersebut dilarutkan dalam air, maka sebagian akan terionisasi. Besarnya fraksi
obat yang terionkan tergantung pH larutannya. Obat-obat yang tidak terionkan
lebih mudah larut dalam lipida, dan sebaliknya yang dalam bentuk ion
kelarutannya kecil atau bahkan praktis tidak larut, dengan demikian pegaruh pH
terhadap kecepatan absorpsi obat yang bersifat asam lemah atau basa lemah
sangat besar.
Formulasi sediaan gel Adapalene dibuat dua kali dengan menggunakan gelling
agent yang berbeda, yaitu carbomer dan HPMC. Kadar yang digunakan untuk
carbomer yaitu 3% dan untuk HPMC yaitu 10%. Namun pada saat sediaan
gelling agent telah jadi, untuk HPMC warna basis gel yang terjadi yaitu tidak
berwarna bening seperti gelling agent pada umumnya tetapi berwarna putih susu.
Dan untuk basis gel Carbomer warna sediaan bening, maka dipilih basis gel
carbomer. HPMC dalam praktikum kali ini tidak bisa dijadikan basis gel.

X.

KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan yang dibuat adalah sebagai berikut.

35

No

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

Adapalene

0,1% b/b

Zat aktif
Pelarut pengawet

Propilen glikol

10% b/b

Oleum Olivarum

5% b/b

Methyl paraben

0,2% b/b

Propyl paraben

0,02% b/b

Na EDTA

0,1% b/b

TEA

4 tetes

Aquadest

0,4% v/b

Carbomer

3% b/b

.
1

(HOPE 6th ed Hlm 592)


Pelarut zat aktif
(HOPE 6th Edition page 470)
Pengawet
(HOPE 6th Editionpage 441)
Pengawet
(HOPE 6th Edition page 596)
Pengompleks
(HOPE 6th Edition page 242)
Pembasa carbomer
(HOPE 6th Edition page 754)
Pelarut gelling agent
(HOPE 6th Edition page 766)
Gelling agent
(HOPE 6th Edition page 110)

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan:


Sediaan memiliki khasiat untuk mengobati jerawat ringan sampai sedang
Sediaan memiliki dosis oleskan sekali sehari sebelum tidur
Kadar sediaan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu 0,1%
Sediaan memiliki bau khas zat aktif dan warna bening.
Evaluasi homogenitas= homogen
pH sediaan= 6,0
Viskositas sediaan= 15.000 Cps
Isi minimum sediaan dalam 1 tube yaitu 4,434 g
Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan sediaan dinyatakan memenuhi

syarat yang ditentukan walaupun terdapat hasil evaluasi yang tidak memenuhi
persyaratan namun merupakan parameter kritis.
36

XI.

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Goeswin. 2012. Sediaan Farmasi Likuida-Semisolida. Bandung: Penerbit
ITB.
Anief, M. 1999. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Anief, M. 2013. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Anonim, 2011. Buku Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Kendari: Universitas
Haluoleo.
Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Universitas Indonesia.
BMJ Group. 2009. British National Formulary (BNF). London: BMJ Group and
the Royal Pharmaceutical Society of Great Britain.
Chandira, dkk. 2010. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research: Design,
Development and Formulation of Antiacne Dermatological Gel. India: JOCPR
Publishing.
Council of Europe. 2001. European Pharmacopoeia, Fifth Edition. Europe:
Directorate for The Quality of Medicines of The Council of Europe (EDQM)
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia,edisi IV,
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia, edisi V,
Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Ellis, C.N., dkk. 1998. British Journal of Dermatology: Comparison of Adapalene
0,1% Solution and Tretinoin 0,02% Gel in Topical Treatment of acne Vulgaris.
British: British Association of Dermatologist.
Gennaro, A. F, et all., 1990. Remingtons Pharmaceutical Science, 18th Edition
Mack Publishing Co, Easton.
Heena, C., A.C. Rana, S. Saimi, dan G.Singh. 2011. Effect of Chemical
Penetration Enhancers on Skin Permeation: A Review, International Research
Journal of Pharmacy. India: Moksha Publishing House
37

IAI. 2013. Informasi Spesialite Obat Indonesia, Volume 48. Jakarta: PT. ISFI
Penerbitan
Lawrence. 2007. United States Pharmacopeia 30- National Formulary 25.United
States: The United States Pharmacopeial Convention, Inc
Lachman L., Lieberman H.A., Kanig J.L.. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri diterjemahkan oleh Suyatni S., Edisi II. Jakarta: UI Press.
Libermann, Herbert A., Martin M. R., Gilber S., 1989. Pharmaceutical Dossage
Form Disperse System. Vol II. New York: Macel Dekker. Inc
Mailvelan, R,

dkk. 2013. Asian Journal of Pharmaceutical Analysis and

Medicinal Chemistry: HPLC Method Development and Validation for The


Estimation Of Adapalene in Pharmaceutical Formulations. India: PBS Publishing.
Mudasir, M, dkk. 2011. Research Journal of Pharmaceutical, Biological and
Chemical Sciences: Qualitative and Quantitative Estimation by HPLC Method in
Transdermal Formulations A Technical Note. India: English Published Bimonthly
Pathan, LB., dan C.M. Setty. 2009. Review Article of Chemical Penetration
Enhancers for Transdermal Drug Delivery System, Tropical Journal of
Pharmaceutical Research. Nigeria: Pharmacotherapy Group
Rachakonda, V.K. 2006. Effective Screening of Chemical Penetration Enhancers
for Transdermal Drug Delivery, Master of Science Thesis, Oklahoma State
University. India: Bachelor of Technology in Chemical Engineering Andhra
University.
Rolewski. SL. 2003. Clinical Review: Topical Retinoids. US: Dermatol Nurs
Rosen, M.R. 2005. Delivery System Handbook for Personal Care and Cosmetic
Products. New York: William Andrew Pulbishing.
Rowe, Raymond C. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients.6th ed.,London
: Pharmaceutical Press.
Sharma, S. 2008. Topical Drug Delivery System: A review. Pharmaceut.
Sweetman, S.C. 2009. Martindale 36 The Complete Drug Reference. London:
Pharmaceutical Press.
38

Syamsuni. 2005. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta: Penerbit


Buku Kedokteran EGC
Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Syarif, Amir, dkk. 2012. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI
The Council of The Royal Pharmaceutical Society of Great Britain. 1994. The
Pharmaceutical Codex, 12thed, Principles and Practice of Pharmaceutik. London:
Pharmaceutical Press.
The Departemen of Health, Social Service and Public Safety. 2009. British
Pharmacopoeia. London: Pharmaceutical Press.
The Minister and Health. 2006. The Japanese Pharmacopoeia, Fifteenth Edition.
Japan: Ministry of Health.
Tjay Tan , dan Tahardha Kirana. 2007. Obat-Obat Penting (Khasiat, Cara,
Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya), Edisi Keenam. Jakarta: PT. ELEX
MEDIA KOMPUTINDO.
Williams, Adrian C., dkk. 2012. Advanced Drug Delivery Reviews: Penetration
Enhancers. England: Elsevier B.V.

39

XII.

LAMPIRAN
KEMASAN

ETIKET

40

Carbapalene Gel

41

CARBAPALENE
Gel 0,1%
KOMPOSISI:
Tiap 5 gram mengandung:
Adapalene.. 5mg

DESKRIPSI:
Nama kimia adapalene adalah 6-[3-1(1-adamantyl)-4-methoxyphenyl]-2-naphthoic acid. Rumus molekul Adapal
adalah C26H28O3 dan berat molekulnya adalah 412,52.

FARMAKOLOGI
CARBAPALENE gel mengandung Adapalene 0,1% yang digunakan untuk pengobatan topikal jerawat ringan sam
sedang, komedo, papula, dan bisul
Farmakodinamik:
Mekanisme kerja : Adapalene stabil secara kimia, merupakan senyawa mirip retinoid, mengikat reseptor retinoic a
nuclear spesifik. Studi profil secara biokimia dan farmakologi memperlihatkan bahwa adapalene merupakan modula
diferensiasi selular, keratinisasi, dan proses inflamasi dimana proses-proses tersebut menggambarkan ciri-ciri pent
dalam patologi acne vulgaris. Secara mekanis, adapalene mengikat reseptor retinoic acid nuclear spesifik tetapi tid
mengikat protein reseptor cytosolic. Meskipun mekanisme kerja adapalene yang sebenarnya tidak diketahui, diusul
bahwa adapalene topikal mungkin menormalisasi diferensiasi dari sel epitel folikular, sehingga mengura
pembentukan microcomedone.
Farmakokinetik:
Adapelene diabsorpsi melalui kulit manusia dalam jumlah kecil. Ekskresi adapalene sebagian besar melalui empedu.

INDIKASI
CARBAPALENE gel diindikasikan untuk mengobati topikal jerawat ringan sampai sedang, komedo, papula, dan bisu
ATURAN PAKAI
Oleskan tipis sekali sehari sebelum tidur.

Note: Hindari daerah mata, bibir dan membran mukosa. Jika terkena mata, cuci segera dengan air hangat. Pastikan a
kulit yang terkena tersebut bersih dan kering sebelum diobati.
KONTRAINDIKASI
Pasien yang hypersensitive terhadap Adapalene.

PERINGATAN DAN PERHATIAN:


Jika pasien menggunakan kosmetik, harus menggunakan kosmetik non-comedogenik and non-astringent.
Tergantung dari tingkat beratnya efek samping, pasien harus diinstruksikan untuk mengurangi frekuensi pemaka
atau menghentikan penggunaan.
Jika terjadi reaksi yang diduga akibat sensitivitas atau iritasi secara kimia, pengobatan harus dihentikan.
Keadaan terkena cahaya langsung, termasuk sunlamp (lampu yang menghasilkan cahaya khusus, digunakan un
membuat kulit berwarna coklat) harus di minimalisasi selama penggunaan adapalene.
Pasien-pasien yang secara normal mengalami/terkena cahaya langsung dalam skala tinggi, dan pada mereka ya
sensitif terhadap matahari, harus diperingati untuk berhati-hati.
Jika kondisi terkena cahaya tidak dapat dihindari, disarankan menggunakan produk tabir surya dan pakaian pelindu
diatas area yang sedang diobati.
42

Cuaca ekstrim, seperti angin dan dingin, juga dapat mengiritasi pasien-pasien yang sedang dalam pengobatan den
Adapalene.
Hindari kontak dengan mata, mulut, sudut hidung dan membran mukosa.
Produk ini tidak boleh digunakan/dioleskan pada kulit luka, lecet, eksim, atau kulit terbakar matahari. Tidak bo
diberikan pada penderita jerawat yang parah, atau jerawat yang mencakup area yang luas dari tubuh.
Adapalene tidak memperlihatkan aktivitas mutagenik atau genotoksik.
Karena studi pada hewan memperlihatkan risiko teratogenisitas, dan karena tidak adanya informasi penggun
adapalene pada wanita hamil, maka produk ini tidak boleh digunakan pada wanita usia subur, kecuali j
merekamenggunakan kontrasepsi yang efektif.
Produk ini tidak boleh digunakan selama kehamilan, kecuali jika dipertimbanngkan perlu oleh dokter.
Hati-hati bila CARBAPALENE gel digunakan pada wanita menyusui.
Keamanan dan keefektifan produk ini pada anak-anak dibawah usia 12 tahun belum dapat ditentukan.

EFEK SAMPING:
Erythema, kulit bersisik, kekeringan, pruritus, rasa terbakar/tersengat, iritasi kulit, kulit terbakar, dan perburukan jeraw
Efek samping tersebut biasa terlihat selama bulan pertama dari terapi dan sesudah itu akan berkurang dalam
frekuensi dan beratnya. Semua efek samping selama penggunaan Adapalene gel 0,1 % bersifat reversible, akan hil
jika terapi dihentikan.

INTERAKSI OBAT:
Penggunaan bersamaan dengan produk topikal lain yang potensial mengakibatkan iritasi (sabun dan pember
medicated dan abrasive, sabun dan kosmetik yang memiliki efek mengeringkan yang kuat, dan produk den
konsentrasi alkohol yang tinggi (astringents, spices atau lime rind)) harus dilakukan dengan hati-hati.
Peringatan khusus bila digunakan produk yang mengandung sulfur, resorsinol, atau asam salisilat dalam kombin
dengan CARBAPALENE gel. Jika produk tersebut telah digunakan, disarankan tidak memulai terapi den
CARBAPALENE gel 0,1% sampai efek dari produk tersebut hilang.
Retinoid atau obat lainnya dengan mekanisme kerja yang sama tidak boleh digunakan bersamaan dengan Adapalene
KEMASAN:
1 tube @ 5 gram
SIMPAN DI BAWAH SUHU 250C, TERINDUNG DARI CAHAYA.
HANYA UNTUK PEMAKAIAN LUAR
JAUHKAN DARI JANGKAUAN ANAK-ANAK

No. Reg. DBL 1500800628A1


Dibuat oleh:

PT. PHARAFAM FARMA


BANDUNG INDONESIA

43