Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan alhamdulillah serta tak lupa puji dan syukur kehadirat
Allah SWT atas diberikannya nikmat dan hidayat serta kesehatan sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Dokumentasi Keperawatan pada
Pasien Penderita Penyakit Thalassemia. Penulis dalam proses penyusunan
makalah ini, telah berusaha dengan segala kemampuan yang ada, guna terciptanya
hasil yang maksimal tetapi mengingat keterbatasan kemampuan yang dimiliki
oleh penulis baik dalam hal pengetahuan maupun dalam hal lain, maka makalah
ini masih jauh dari sempurna.
Penulis juga dalam menyelesaikan makalah ini, mendapat bantuan dan
partisipasi dari berbagai pihak, baik bimbingan, petunjuk maupun saran yang tak
ternilai harganya sehingga makalah ini diselesaikan. Untuk itu perkenankan
penulis

mengucapkan

terimakasih

pada

Bapak

Ns.Derison

Marsinova

Bakara,S.Kep,M.Kep dan Ibu Yossy Utario,S.Kep,Ns.


Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dan
kesempurnaan dalam menyusun makalah ini dan bermanfaat bagi kita semua.

Curup,

Juni 2015

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


LEMBAR TUGAS ......................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
C. Manfaat ................................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN TEORI
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Pengertian thalassemia ......................................................................... 4


Klasifikasi thalassemia ......................................................................... 5
Etiologi thalassemia ............................................................................. 7
Tanda dan gejala thalassemia ............................................................... 7
Patofisiologi thalassemia ...................................................................... 8
Woc/Pathway thalassemia................................................................... 10
Penatalaksanaan thalassemia............................................................... 11
Pengkajian thalassemia teori .............................................................. 12
Diagnosa thalassemia teori ................................................................. 15
Intervensi thalassemia teori ................................................................ 16

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN THALASSEMIA


A.
B.
C.
D.

Pengkajian thalassemia....................................................................... 20
Analisa data thalassemia..................................................................... 21
Diagnosa keperawatan thalassemia .................................................... 22
Intervensi keperawatan thalassemia ................................................... 22

iv
E. Implementasi dan evaluasi SOAP thalassemia................................... 24
BAB IV PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.

Pengkajian thalassemia ...................................................................... 27


Diagnosa keperawatan thalassemia .................................................... 27
Intervensi keperawatan thalassemia ................................................... 28
Implementasi keperawatan thalassemia ............................................. 28
Evaluasi thalassemia .......................................................................... 29

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 30
B. Saran .................................................................................................. 30
DAFTAR PUSTAKA

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Talasemia berasal dari kata yunani, yaitu talasssa yang berti laut. Yang
dimaksud dengan laut tesebut ialah laut tengah, oleh karena penyakit ini
pertamakali dikenal didaerah sekitar laut tengah. Penyakit ini pertama kali
ditemukan oleh seorang dokter di dektroit USA yang bernama Thomas B.1
Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang diwariskan oleh
orangtua kepada anak. Thalassemia mempengaruhi kemampuan dalam
menghasilkan hemoglobin yang berakibat pada penyakit anemia.
Hemoglobin adalah suatu protein dalam sel darah merah yang mengangkut
oksigen dan nutrisi lainnya ke sel-sel lainnya dalam tubuh. Sekitar 100.000
bayi di seluruh dunia terlahir dengan jenis thalassemia berbahaya setiap
tahunnya. Thalassemia terutama menimpa keturunan italia, yunani, timur
tengah, asia dan afrika. Ada dua jenis thalassemia yaitu lfa dan eta.
Kedua jenis thalassemia ini diwariskan dengan cara yang sama. Penyakit
ini diturunkan oleh orangtua yang memiliki mutated gen atau gen mutasi
thalassemia. Seorang anak yang mewarisi 1 gen mutasi disebut pembawa
atau carrier, atau yang disebut juga dengan thalassemia trait (sifat
thalassemia). Kebanyakan pembawa ini hidup normal dan sehat. Anak
yang mewarisi dua sifat gen dimana satu dari ibu dan satu dari ayah, akan
mempunyai penyakit thalassemia. Jika baik ibu atau ayah adalah
pembawa, kemungkinan anak

1
2
mewarisi dua sifat gen, atau dengan kata lain mempunyai penyakit
thalassemia, adalah sebesar 25%. Anak dari pasangan pembawa juga
mempunyai 50% kemungkinan lahir sebagai pembawa.
Jenis paling berbahaya dari alpha thalassemia terutama menimpa
keturunan Asia Tenggara, China dan Philipina menyebabkan kematian
pada jabang bayi atau bayi baru lahir. Sementara itu, anak yang mewarisi
dua gen mutasi beta thalassemia. Anak ini memiliki penyakit thalassemia
ringan yang disebut dengan thalassemia intermedial yang menyebabkan
anemia ringan sehingga si anak tidak memerlukan tranfusi darah dan
perawatan yang intensif.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian thalassemia?
2. Apa saja klasifikasi thalassemia?
3. Apa etiologi thalassemia?
4. Apa saja tanda dan gejala thalassemia?
5. Bagaimana patofisiologi thalassemia?
6. Bagaimana WOC/Pathway thalassemia?
7. Bagaimana penatalaksanaan thalassemia?
8. Bagaimana pengkajian thalassemia?
9. Apakah diagnosa thalassemia?
10. Apa saja analisa data thalassemia?
11. Bagaimana diagnosa keperawatan thalassemia?
12. Seperti apa rencana asuhan keperawatan thalassemia?
13. Bagaimana implementasi dan evaluasi SOAP dari diagnosa umum?
C. Manfaat
1. Untuk mengetahui apa pengertian thalassemia.
2. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi thalassemia.
3. Untuk mengetahui apa etiologi thalassemia.
4. Untuk mengetahui apa saja tanda dan gejala thalassemia.
3
5. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi thalassemia.
6. Untuk mengetahui bagaimana WOC/Pathway thalassemia.
7. Untua mengetahui bagaimana penatalaksanaan thalassemia.
8. Untuk mengetahui bagaimana pengkajian thalassemia.
9. Untuk mengetahui apakah diagnosa thalassemia.
10. Untuk mengetahui apa saja analisa data thalassemia.
11. Untuk mengetahui bagaimana diagnosa keperawatan thalassemia.
12. Untuk mengetahui seperti apa rencana asuhan keperawatan
thalassemia.
13. Untuk mengetahui bagaimana implementasi dan evaluasi SOAP
dari diagnosa umum.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Thalassemia
Thalassemia adalah suatu penyakit kongentinal heriditer yang
diturunkan secara autosom berdasarkan kelainan hemoglobin, dimana satu
atau lebih rantai polopeptida hemoglobin kurang atau tifak terbentuk
sehingga mengakibatkan terjadinya anemia hemolitik. Dengan kata lain
thalassemia merupakan penyakit anemi hemolitik, dimana terjadi
kerusakan sel darah merah di dalam pembuluh darah sehingga umur
eritrosit menjadi pendek(kurang dari 120 hari). Penyebab kerusakan
tersebut adalah hb yang tidak normal sebagai akibat gangguan dalam
pembentukan jumlah rantai globin atau struktur hb.
Secara normal, HbA dibentuk oleh rantai polipeptida yang terdiri dari
dua rantai beta. Pada beta thalassemia, pembuatan rantai beta sangat
terhambat. Kurangnya rantai beta berakibat pada meningkatnya rantai
alpha. Rantai alpha ini mengalami denaturasi dan presitipasi dalam sel

sehingga menimbulkan kerusakan pada membran sel, yaitu membran sel


menjadi lebih permeabel. Sebagai akibatnya sel darah mudah pecah
sehingga terjadi anemi hemolitik. (Dr. Nursalam, M. Nurs(Hons), 2005)
Thalassemia merupakan penyakit anemia hemolitik dimana terjadi
kerusakan sel darah merah di dalampembuluh darah sehingga umur
eritrosit menjadi pendek(kurang dari 100hari). Penyebab kerusakan
tersebut karena hemoglobin yang tidak normal dan kelainan hemoglobin
ini karena adanya gangguan pembentukan yang disebabkan oleh:

4
5
1. Gangguan

struktural

pembentukan

hemoglobin

(hemoglobin

abnormal). Misalnya pada hbS, hbF, hbD dsb.


2. Gangguan jumlah (salah satu atau beberapa) rantai globin seperti pada
thalassemia. (Ngastiyah,1997)
B. Klasifikasi
Secara molekuler thalassemia dibedakan atas thalassemia alpha dan
beta, sedangkan secara klinis dbedakan atas thalassemia mayor dan minor.
Hemoglobin terdiri dari dua jenis rental protein , rental alpha globin dan
rental beta globin. Jika masalah ada pada alpha globin dari hemoglobin,
hal ini disebut thalassemia alpha. Jika masalah ada pada beta globin hal ini
disebut thalassemia beta. Kedua bentuk alpha dan beta mempunyai bentuk
dari ringan atau berat. Bentuk berat dari beta thalassemia sering disebut
Anemia Cooleys.
1. Thalassemia alpha
Empat gen dilibatkan di dalam membuat globin alpha yang merupakan
bagian

dari

hemoglobin,

dua

dari

masing-masing

orangtua.

Thalassemia alpha terjadi dimana satu atau lebih varian gen ini hilang.
a. Orang dengan hanya satu gen mempengaruhi disebut silent carrier
dan tidak punya tanda penyakit.

b. Orang dengan dua gen mempengaruhi disebut thalassemia tralt


atau thalassemia alpha. Akan menderita anemia ringan dan
kemungkinan menjadi carrier.
c. Orang dengan tiga gen yang dipengaruhi akan menderita anemia
sedang sampai anemia berat atau disebut penyakit hemoglobin H.
d. Bayi dengan empat gen dipengaruhi disebut thalassemia alpha
mayor atau hydrops fetalls. Pada umunya mati sebelum atau tidak
lama sesudah kelahiran. Jika kedua orang menderita alpha
thalassemia trait (carriers) memiliki seorang anak bayi bisa
mempunyai satu bentuk alpha thalassemia atau bisa sehat.
6
2. Thalasemia Beta
Melibatkan dua gen di dalam membuat beta globin yang merupakan
bagian dari hemoglobin, masing-masing satu dari setiap orangtua. Beta
thalassemia terjadi ketika satu atau kedua gen mengalami variasi.
a. Jika salah satu gen dipengaruhi, seseorang akan menjadi carrier dan
menderita anemia ringan. Kondisi ini disebut thalassemia trait atau
beta thalassemia minor.
b. Jika kedua gen dipengaruhi, seseoran akan menderita anemia
sedang (thalassemia beta intermedia atau anemia cooleys yang
ringan) atau anemia yang berat (beta thalassemia utama, atau
anemia cooleys )
c. Anemia Cooleys atau beta thalassemia mayor jarang terjadi. Suatu
survey tahun 1993ditemukan 518 pasien anemia cooleys di
Amerika Serikat. Kebanyakan dari mereka mempunyai bentuk berat
dari penyakit, tetapi mungkin kebanyakan dari mereka tidak
terdiagnosis.
Jika dua orangtua dengan beta thalassemia trait (carriers) mempunyai
seorang bayi, salah satu dari tiga hal dapat terjadi:
a. Bayi bisa menerima sdua gen normal (satu dari masing-masing
orangtua) dan mempunyai darah normal (25%)
b. Bayi bisa menerima satu gen normal dan satu variang= gen dari
orangtua yang thalassemia trait (50%)

c. Bayi bisa menerima dua gen thalassemia (satu dari masing-masing


orangtua) dan menderita penyakit bentuk sedang sampai berat
(25%)
Orang yang beresiko menderita thalassemia
a. Anak dengan orangtua yang memiliki gen thalassemia
b. Resiko laki-laki atau perempuan untuk terkena sama
7
c. Thalassemia beta mengenal orang asli dari mediterania atau
ancestry (Yunan, Itali, Ketimuran Pertengahan) dan orang dari Asia
dan Afrika pendaratan.
d. Apha thalassemia kebanyakan mengenai orang Tenggara Asia,
orang India, China, atau Philipina.
Menurut Dr. Nursalam, M. Nurs(Hons), 2005 jenis thalassemia secara
klinis dibagi menjadi dua golongan, yaitu thalassemia mayor dan
thalassemia minor.
1. Thalassemia mayor yaitu thalassemia yang memberikan gejala
yang jelas bila dilakukan pengkajian.
2. Thalassemia minor yaitu thalassemia yang tidak memberikan
gejala yang jelas bila dilakukan pengkajian.
C. Etiologi
Akibat anemia yang berat dan lama sering terjadi gagal jantung.
Transfusi darah yang berulang-ulang dan proses hemolisis menyebabkan
kadar besi dalam darah sangat tinggi sehingga ditimbun di dalam berbagai
jaringan tubuh seperti hepar, limpa, kulit, jantung dan lain-lain. Hal ini
dapat mengakibatkan gangguan fungsi alat tersebut (hemokromatosis).
Limpa yang besar mudah ruptur akibat trauma yang ringan. Kadangkadang thalassemia disertai tanda hipersplenisme seperti leukopenia dan
trombositopenia. Kematian terutama disebabkan oleh infeksi dan gagal
jantung.
D. Tanda dan Gejala

Gejala penyakit thalassemia salah satunya dengan di tandai sebagai


penyakit anemia misalnya adalah muka pucat, susah tidur, lemas dan
lesuh, nafsu makan yang berkurang, infeksi yang terjadi namun secara
berulang. Selain di tandai dengan anemia gejala penyakit thalassemia
adalah jantung berdebar. Jantung yang terlalu keras dalam melakukan
8
tugasnya untuk memenuhi kebutahan dari hemoglobin dan juga semakin
lama jantung akan lemah dan akan berdebar-debar. Kelainan pada tulang
yang kemudian akan mengalami penipisan dan juga kerapuhan. Biasanya
sel darah yang diproduksi dalam sum-sum tulang.
Pada kondisi penderita penyakit thalassemia biasanya sum-sum tulang
akan di paksa bekerja akan menjadi lebih keras untuk melakukan
pembentukan hemoglobinya menjadi lebih banyak. Pada mereka yang
menderita penyakit thalassemia yang sifatnya berat atau mayor, biasanya
penampakan dari penderita thalassemia mayor adalah batang hidung yang
agak melesap masuk kedalam.
Gejala umum thalassemia antara lain:
1. Mudah lelap
2. Lemah
3. Terlihat pucat
4. Warna kulit kekeringan
5. Kelainan bentuk tulan wajah
6. Pertumbuhan yang lambat
7. Pembengkakan perut akibat pembengkakan limfa
8. Urin yang berwarna gelap
E. Patofisiologi
Penyebab anemia pada thalassemia bersifat primer dan sekunder.
Primer adalah berkurangnya sintesis HbA dan eritrolpoeisis yang tidak
efektif disertai pengahncuran sel-sel eritrosit. Sedangkan sekunder ialah
karena defisiensi asam folat, bertambahnya volume plasma intravaskuler
yang mengakibatkan hemodilusi, dan destruksi eritrosit oeh sistem
retikuloendotellal dalam limpa dan hati. Molekul globin terdiri atas
sepasanag rental-a dan sepasang rental lain yang menentukan jenis Hb.
Pada orang normal terdapat tiga jenis Hb, yaitu Hb A (merupakan
>96% dari Hb total, tersusun dari dua rental-a dan dua rental-b=a2b2). Hb
F (< 2% = a2g2) dan HbA2 (<3% =a2d2). Kelainan produksi dpat terjadi
9

pada

rental-a

(a-thalasemia),

rental-b

(b-thalasemia),

rental-g(g-

thalassemia), rental-d (d-thalassemia), maupun kombinasi kelainan rentald dan rental-b (bd-thalassemia). Thalassemia-b, kekurangan produksi
rental beta menyebabkan kekurangan pembentukan a2b2 (Hb A);
kelebihan

rental-A

akan

berikatan

dengan

rental-byang

secara

kompensator Hb F meningkatkan; sisanya dalam jumlah besar di endapkan


pada membrane eritrosit sebagai Heinz bodies dengan akibat eritrosit
mudah rusak (ineffective erythropoiesis).

10
F. WOC/Pathway

11
G. Penatalaksanaan
1. Pencegahan
Pencegahan paling efektif adala dengan menghindari pernikahan
pada penderita yang memiliki resiko tinggi terhadap thalassemia. Jika
salah seorang dari orang tua merupakan carrier thalassemia beta maka
ia akan menghasilkan anak yang 50% sehat dan 50% menjadi carrier
thalassemia beta. Jika kedua orang merupakan carrier thalassemia beta,
maka 25% anaknya akan memiliki penyakit thalassemia beta, 50%
menjadi carrier thalassemia beta dan hanya 25% yang sehat.Karena

thalassemia merupakan penyakit yang diturunkan oleh orang tua


kepada anaknya maka thalassemia sangat sulit untuk di cegah.
2. Perawatan
Pasien dengan thaasemia kecil biasanya tidak memerulukan
pengobatan tertentu. Perawatan untuk pasien dengan thalassemia
mayor termasuk kronis transfuse darah tetapi, besi chelation,
splenectomy, dan alogenik hematopoietic, transplantasi.
3. Pengobatan
Penatalaksanaan untuk thalassemia mayor adalah transfusi darah
secara teratur dan suplemen folat. Saat seseorang menerima transfusi
darah, sebaiknya ia tidak mengkomsumsi suplemen zat besi, karena hal
tersebut dapat meningkatkan jumlah zat besi di dalam tubuh dan
merusak jantung, hati, dan sistem endokrim. Oleh karena itu,biasanya
orang yang mengalami transfusi darah akan menerima trapi chelation
untuk mengeluarkan kelebihan zat besi di dalam tubuh. Transplantasi
sum-sum tulang dapat membantu mengobati penyakit thalassemia
terutama pada anak-anak. Terapi medis untuk beta thalassemia
terutama melibatkan celation besi. Deferoxamine adalah agen celation
intravena diberikan saat ini disetujui untuk digunakan di Amerika
Serikat. Deferasirox

12
(exjade) adalah besi oral celation obat juga

disetujui di Amerika Serikat pada tahun 2005.


4. Diet Thalassemia
Penderita thalassemia berpotensi mengalami penumpukan zat besi
yang berbahaya bagi kesehatan tubuhnya. Zat besi yang berlebih bisa
menyebabkan keracunan, oleh Karena itu makanan yang kadar
kandungan zat besinya tinggi harus mereka hindari.
Cukup banyak makanan yang harus dipantang oleh penderita
thalassemia. Antara lain daging berwarna merah, hati, ginjal, sayur
mayor berwarna hijau, roti, gandum, alcohol, serta telur ayam dan telur
bebek.
Namun, tidak semua makanan yang punya kandungan zat besi
tidak boleh dimakan. Kandungan besi pada batas moderat masih bisa

dikonsumsi oleh penderita thalassemia. Misalnya, daging ynag


berwarna putih seperti daging ayam. Begitu pula dengan sayur mayur
berwarna cerah seperti sawi dan kol. Makanan yang mengandung zat
besi rendah antara lain nasi, roti, biscuit, serta umbi-umbian seperti
wortel, labu, bengkoang, dan lobak.
Segala macam ikan juga mengandung protein yang tinggi namun
punya zat besi yang rendah, sehingga bisa masuk daftar menu harian.
Begitu juga dengan susu, keju, dan buah-buahan.
H. Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan. Pengkajian
adalah langkah awal dalam salah satu proses keperawatan. (Gaffar, 1999)
Kegiatan yang dilaksanakan dalam pengkajian adalah pengumpulan data
dan merumuskan prioritas masalah. Pada pengkajian pengumpulan data
yang cermat tentang klien, keluarga, didapatkan data melalui wawancara,
observasi dan pemeriksaan.
13
1. Asal keturunan/ kewarganegaraan
Thalasemia banyak di jumpai pada bangsa disekitar laut tengah
(mediterania) seperti turki, yunanai, cyprus, dan lain-lain di Indonesia
sendiri thalasemia cukup banyak di jumpai pada anak, bahkan
merupakan penyakit darah yang paling banyak diderita
2. Umur
Pada thalasemia mayor yang gejala klinisnya jelas, gejala tersebut
telah terlihat sejak anak berumur kurang dari 1 tahun. Sedangkan pada
thalasemia minor yang gejalanya lebih ringan, biasanya anak baru
datang berobat pada umur sekitar 4-6 tahun.
3. Riwayat kesehatan anak
Anak cenderung mudah terkena infeksi saluran nafas bagian atas atau
infeksi lain nya. Hal ini mudah dimengerti karena merendahnya Hb
yang berfungsi sebagai alat transport.
4. Pertumbuhan dan perkembangan
Sering didapatkan data yang mengenai adanya kecendrungan gangguan
terhadap tumbuh kembang sejak masih bayi, karena adanya pengaruh

hipoksia jaringan yang bersifat kronik. Hal ini terjadi terutama untuk
thalasemia mayor. Pertumbuhan fisik anak adalah kecil untuk umurnya
dan ada keterlambatan dalam kematangan seksual, seperti tidak ada
pertumbuhan rambut kubis dan ketiak. Kecerdasan anak juga dapat
mengalami penurunan. Namaun pada jenis thalasemia minor sering
terlihat pertumbuhan dan perkembangan anak normal.
5. Pola makan
Karena ada anorexia, anak sering mengalami susah makan, sehingga
berat badan anak sangat rendah dan tidak seusai dengan usianya.
14
6. Pola aktivitas
Anak terlihat lemah dan tidak selincah seusianya. Anak lebih banyak
tidur/istirhat, karena bila beraktivitas seperti anak normal mudah
merasa lelah.
7. Riwayat kesehatan keluarga
Karena merupakan penyakit keturunan, maka perku di kaji apakah ada
orang tua yang menderita thalassemia. Apabila kedua orang menderita
thalassemia, maka anaknya berisiko menderita thlassemia mayor. Oleh
karena itu konseling pranikah sebenarnya perlu di lakukan karena
berfungsi untuk mengetahui adanya penyakit yang mungkin di
sebabkan karena keturunan.
8. Riwayat saat ibu hamil(Ante Natal Core-ANC)
Selama masa kehamilan, hendaknya perlu dikaji secara mendalam
adanya faktor resiko thalassemia. Sering orang tua merasa bahwa
dirinya sehat. Apabila di duga ada faktor resiko, maka ibu perlu di beri
tahukan mengenai resiko yang mungkin di alami oleh anaknya nanti
setelah lahir. Untuk memastikan diagnosis, maka ibu segera dirujuk ke
dokter.
9. Data keadaan fisik anak thalassemia yang sering di dapatkan
diantaranya adalah:
a. Keadaan umum
Anak biasanya terlihat lemah dan kurang bergairah serta tidak
selincah anak sesuainya yang normal.

b. Kepala dan bentuk muka


Anak yang belum/ tidak mendapatankan pengobatan mempunyai
bentuk khas, yaitu kepala membesar dan bentuk mukanya adalah
mongoloid, yaitu idung pesek tampa pangkal hidung jarak kedua
mata lebar, dan tulang dahi terlihat lebar.
15
c. Mata kojungtiva terlihat pucat kekuningan.
d. Mulut dan bibir terlihat puncat kehitaman
e. Dada
Pada inveksi terlihat bahwa dada sebelah kiri menunjol akibat
adanya pembesaran jantung yang di sebabkan oleh anemia kronik.
f. Perut
Kelihatan membuncit dan pada perabaan terdapat pembesaran dan
limpa dan hati (hepstosplemagali).
g. Pertumbuhan pisiknya terlalu kecil untuk umurnya Bb-nya kurang
darii ukuran fisik anak terlihat lebioh kecil bila di bandingkan
dengan anak-anak lain sesuainya.
h. Pertumbuhan organ seksekunder untuk anak pada usia pubertas
ada keterlambatan pematangan seksual misalnya, tidak adanya
pertumbuhan pada ketia, kubis, atau kimis. Bahkan mungkin anak
tidak dapat mencapai tahap adolesense karena adanya anemia
kronik.
i. Kulit
Warna kulit pucat kekuning-kuningan. jika anak telah sering
mendapat transbusi darah, maka warna kulit menjadi kelabu seperti
besi akibat adanya penibunan zat besi dalam jaringan kulit
(hemosiderosis).
I. Diagnosa
Diagnosa keperawatan dibagi sesuai dengan masalah kesehatan klien yaitu
:
1. Aktual, diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah nyata saat ini
sesuai dengan data klinik yang ditemukan.
2. Potensial, diagnosa keperawatan yang menjelaskan bahwa masalah
kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi
keperawatan. Saat ini masalah belum ada tapi etiologi sudah ada.

16
3. Kemungkinan, diagnosa keperawatan yang mejelaskan bahwa perlu
data tambahan untuk memastikan tambahan masalah. Pada keadaan ini
masalah dan faktor pendukung belum ada tapi sudah ada faktor yang
menimbulkan masalah.
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan
thalassemia, menurut Nanda NIC NOC (2014), yaitu:
a. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya
komponen seluler yang penting untuk menghantar O2 atau zat nutrisi
(berkurangnya kapasitas darah).
b. Perubahan nutrisi atau ketidakseimbangan kurang dari kebutuhan
tubuh.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan atu kelemahan
secara verbal.
d. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan transfusi darah.
e. Kostipasi atau diare berhubungan dengan penurunan pemasukan diet.
f. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi
dermal.
g. Defisit pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan klien dan
keluarga tentang penyakit yang diderita.
h. Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya penyakit kronik.
J. Intervensi
Intervensi adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, yang dimulai
setelah data-data terkumpul sudah dianalisa. Pada bagian ini ditentukan
sasaran

yang

akan

tercapai

dan

rencana

tindakan

keperawatan

dikembangkan.
Tahapan dari perencanaan ini terdiri dari :
1. Menetapkan prioritas masalah berdasarkan pola kebutuhan dasar
manusia menurut hirarki Maslow.
17
2. Merumuskan tujuan keperawatan yang dicapai
3. Menetapkan kriteria evaluasi
4. Merumuskan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan

5. Tujuan yang ditetapkan harus nyata, dapat diukur dan mempunyai


batasan waktu pencapaian.
6. Yang dimaksud dengan tujuan jangka pendek adalah tujuan yang
biasanya harus dicapai sebelum pemulangan atau perpindahan pasien
ke tingkat perawatan yang kurang akut dan tujuan ini biasanya
mengarah kepada penyebab masalah pasien. Sedangkan tujuan jangka
panjang mengidentifikasi arah keseluruhan atau hasil akhir perawatan
dan mungkin sangat baik mengarah pada masalah pasien (Donges,
Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, 1998).
Perencanaan dengan berpedoman pada SMART yaitu : Spesifik (khusus
dilakukan pada pasien den keluarga lainnya), Measurable (dapat diukur),
Achievable (dapat dicapai), Reasonable (nyata) dan Time ( menggunakan
batas waktu dalam pencapaiannya).
1. Diagnosa I
Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya
komponen seluler yang penting untuk menghantar O2 atau zat nutrisi
(berkurangnya kapasitas darah).
Intervensi:
a. Monitor TTV
b. Tinggikan posisi kepala di tempat tidur sesuai toleransi
c. Awasi upaya pernafasan, auskultasi bunyi nafas : perhatikan bunyi
nafas adventisius.
d. Selidiki keluhan nyeri dada, palpitasi.
e. Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh
hangat sesuai dengan indikasi.
f. Ajarkan untuk menghindari penggunaan bantalan
penghangat/botol air panas.
g. Kolaborasikan untuk pemberian PRC.Awasi ketat untuk
komplikasi transfusi.
h. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
2. Diagnosa II
Perubahan nutrisi atau ketidakseimbangan kurang dari kebutuhan
tubuh.
Intervensi:
a. Manajemen Gangguan Makan
b. Manajemen Elektrolit.
c. Pemantaun Elektrolit

d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Pemantaun cairan
Manajemen Cairan/Elektrolit.
Manajemen Nutrisi.
Terapi Nutrisi
Pemantauan Nutrisi
Bantuan Perawatan-Diri: Makan.
Bantuan Menaikkan Berat Badan

3. Diagnosa III
Intoleransi aktivitasi berhubungan dengan keletihan atu kelemahan
secara verbal.
Intervensi:
a. Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi
nadi lebih dari 20x/menit diatas frekuensi istirahat.
b. Peningkatan tekanan darah yang nyata selama/sesudah
aktivitas.
Rasional: Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji
respons fisiologis terhadap stres aktivitas dan, bila ada
merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan
dengan tingkat aktivitas
c. Ajarkan teknik penghematan energi.
Rasional: Tehnik penghematan energi mengurangi penggunaan
energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen.
d. Beri dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri secara
bertahap yang dapat ditoleransi.
Rasional: Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan
kerja jantung tiba tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas
kebutuhan dan mendorong kemandirian dalam melakukan
aktivitas.
4. Diagnosa IV
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan transfusi darah.
Intervensi:
a. Tingkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi perawatan dan
pasien.
b. Observasi ttv.
c. Kaji semua sistem(misal: kulit, pernafasan) terhadap tanda atau
gejala infeksi secara kontinu.
d. Kaji deengan tanda-tanda gejala reaksi irogenik seperti: demam,
mual, munta dan sakit kepala)..

e. Periksa tempat dilakukannya prosedur infasif terhadap tanda-tanda


radang
f. Pertahankan teknik aseptik ketat pada prosedur atau perawatan
luka.
g. Kolaborasikan denagn petugas lab untuk pengamibilan spesime.
5. Diagnosa V
Kostipasi atau diare berhubungan dengan penurunan pemasukan diet.
Intervensi:
a. Observasi,warna feses,konsistensi, frekwensi,dan jumlah
b. Awasi masukan dan haluaran dengan perhatian khusus pada
makanan/cairan

c. Dorong asupan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung.


d. Hindari makanan yang membentuk gas
e. Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan diet seimbang dengan tinggi
serat

f. Berikan pelembek fese,stimulan ringan


g. Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian obat

antidiare

(metamucil)

6. Diagnose VI
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi
dermal.
Intervensi:
a. Kaji integritas kulit,catat perubahan pada turgor, gangguan
warna,hangat local,eritema,ekskoriasi
b. Ubah posisi secara periodic dan pijat permukaan tulang bila pasien
tidak bergerak atau di tempat tidur
c. Bantu bererak pasif atau aktif
d. Ajarkan permukaan kulit kering dan bersih.Batasi pengunaan
sabun
e. Gunakan alat pelindung, mis. Kasur tekanan udara/air.
7. Diagnose VII
Defisit pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan klien dan
keluarga tentang penyakit yang diderita.
Intervensi:
a. Berikan informasi tentang penyakit pasien.
b. Diskusikan pentinganya menjalani terapi pengobatan.
c. Mendorong latihan ROM dan aktivitas fisik teratur

dengan

keseimbangan antara istirahat dan aktivitas.


d. Beritahu pasien serta keluarga untuk menghidari faktor pencetus
penyakitnya.
e. Kolaborasi dengan psikolog untuk membantu mengeluarkan/dapat
mengekspresikan perasaan pasien.

8. Diagnose VII
Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya penyakit kronik.
Intervensi:
a. Diskusikan arti kehilangan / perubahan dengan pasien. Identifikasi
persepsi situasi/harapan yang akan datang.
b. Catat bahasa tubuh non-verbal, perilaku negative/bicara sendiri.
Kaji pengrusakan diri / perilaku bunuh diri.
c. Pertahankan tindakan tenang, meyakinkan. Akui dan terima
pengungkapan perasaan kehilangan, permusuhan.
d. Dorong pasien / orang terdekat untuk saling komuniksai perasaan
e. Rujuk pasien / orang terdekat ke sumber pendukung, seperti ahli
terapi psikologis

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

Anak R umur 15 tahun, sudah mendapatkan transfusi darah, klien


terlihat pucat dengan kesan cokat kekuningan, pertumbuhan tidak
sesuai dengan usianya, pada palpitasi teraba hati dan limpa membesar,
klien terlihat lemah, TD 110/70 mmHg, nadi 70x/menit, suhu 37oC.
A. Pengkajian
1. Identitas
Nama Nn. R, berjenis kelamin perempuan berusia 15 tahun, beragama
islam, pendidikan SMP, pekerjaan pelajar, beralamat di Jalan Sapta
Marga No.15 Curup Selatan, No. Med. Rec : 204617 dengan diagnosa
medis thalassemia, tanggal pengkajian 5 mei 2015, Golongan Darah O.
2. Riwayat kesehatan anak
Klien sudah mendapatkan transfusi darah.
3. Pertumbuhan dan perkembangan
Pertumbuhan klien tidak sesuai dengan usianya.
4. Pola aktifitas
Klien terlihat lemah dan tidak selincah seusianya. Anak lebih
banyak tidur/istirhat, karena bila beraktivitas seperti anak normal
mudah merasa lelah.
5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
klien terlihat pucat
b. Kulit
Kulit pucat dengan kesan coklat kekuningan.

20

21
c. Tanda-tanda vital
Tekanan darah klien 110/70 mmHg, denyut nadi 70 kali per
menit, dan suhu tubuh klien 37oC.
B. Analisa Data
No
1.

Data
Data objektik

Etiologi
1. Klien sudah

Masalah
1. Perubahan perfusi jaringan

Klien merasa lemah


dan tidak selincah
anak seusianya.
Pertumbuhan klien
tidak sesuai dengan
usianya.

2.
3.
4.

Data subjektif
- TD= 110/70 mmHg
- Nadi= 70 kali per
menit
- Suhu tubuh= 37oC

5.

mendapatkan tranfusi
darah.
Pertumbuhan klien tidak
sesuai dengan usianya.
Klien terlihat lemah dan
tidak selincah seusianya.
Klien Dan keluarga
kurang mengetahui
tentang penyakit
thalassemia.
Karna pasien berusia 15
tahun, pasien tersebut
masih dalam masa
pubertas, pasien merasa
minder dengan teman
seusianya karna pasien
menderita penyakit
kronik.

berhubungan dengan
berkurangnya komponen
seluler yang penting untuk
menghantar O2 atau zat
nutrisi (berkurangnya
kapasitas darah).

C. Diagnosa Keperawatan
Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya
komponen seluler yang penting untuk menghantar O2 atau zat nutrisi
(berkurangnya kapasitas darah).

22
D. Intervensi Keperawatan
No

Tujuan / krieria hasil

Intervensi

Rasional

Dx
1. Tujuan :

Tidak
gangguan

terjadinya

1. Monitor TTV

perfusi

jaringan
Kriteria hasil:
Menunjukkan
perfusi

jaringan

adequat

dengan

2.

Tinggikan posisi
kepala di tempat
tidur sesuai

Adanya perubahan
perfusi jaringan otak
dapat menyebabkan
terjadinya perubahan
tanda-tanda vital :
TD, RR
2. Meningkatnya
ekspansi paru dan
memaksimalkan
1.

Paraf

ditandai tanda-tanda
syok

tidak

toleransi

ada,

TTV normal, dll.

3. Awasi upaya
pernafasan,
auskultasi bunyi
nafas : perhatikan
bunyi nafas
adventisius.

3.

4. Selidiki keluhan
nyeri dada,
palpitasi.

4.

5.

6.

Catat keluhan
rasa dingin,
pertahankan suhu
lingkungan dan
tubuh hangat
sesuai dengan
indikasi.
Ajarkan untuk
menghindari
penggunaan
bantalan
penghangat/botol
air panas.

5.

6.

oksigenasi paru
untuk kebutuhan
seluler.
Dispnea, gemericik
menunjukkan GJK
karena regangan
jantung
lama/peningkatan
kompensasi curah
jantung.
Iskemia seluler
mempengaruhi
jaringan mio
kardal
/potensial resiko
inflan.
Kenyaman
pasien/kebutuhan
rasa hangat harus
seimbang dengan
kebutuhan untuk
menghindari panas
berlebiha pencetus
vasodilatasi.
Termoreseptor
jaringan deral
dangkal karena
gangguan oksigen.

23
E. Implementasi
Tanggal/jam

No. Dx

Implementasi

Paraf

Selasa, 05

1.

mei 2015
09.24

1. Memantau TTV:
TD: 120/80 mmHg
Nadi : 72x/menit
Suhu: 37oC
2. Meninggikan posisi kepala pasien sesuai
dengan kenyamanan pasien
3. Mengawasi upaya pernapasan pasien,
mengauskultasi bunyi nafas: memperhatikan
adanya bunyi nafas adventius atau tidak
4. Memeriksa keluhan nyeri dada pada pasien
5. Mencatat keluhan dingin pada pasien,
mempertahankan suhu lingkungan dan
membuat suhu tubuh pasien menjadi hangat
sesuai dengan indikasi
6. Mengajarkan pasien untuk menghindari
penggunaan bantalan penhangat / botol air
panas

F. Evaluasi
No

Tanggal/jam

Evaluasi

Rabu, 06 mei

S: Klien mengatakan sakit kepala

2015
08.25

sudah berkurang
O: TD: 120/80mmHg
Nadi: 72x/menit
Suhu: 37oC
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

.
Dx
1.

BAB V
PENUTUP

Paraf

A. Kesimpulan
Dari hasil heteroanamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
laboratorium,

anak

tersebut

didiagnosa

menderita

thalassemia.

Thalassemia merupakan bagian dari hemoglobinopati yang merupakan


salah satu dari jenis anemia hemolitik. Thalassemia pada anak tersebut
belum pasti diketahui jenisnya. Untuk itu, perlu dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut agar nantinya dalam penatalaksanaan penanganan yang
dilakukan dapat tepat sesuai dengan jenis thalassemianya. Akan tetapi,
kemungkinan besar thalassemia beta mayor.
Hal ini dikarenakan terdapat gejala hepatosplenomegali.
Penatalaksanaan pada thalassemia diberikan kelasi besi (desferoxamine),
Vitamin C 100-250 mg perhari, Asam folat 2-5 mg perhari, dan Vitamin E
200-400 IU (International Unit) perhari. Prognosis dari thalassemia pada
umumnya baik apabila diberi penatalaksanaan yang sesuai. Tetapi pada
skenario 2 ini, terdapat gejala hepatosplenomegali yang mengindikasikan
bahwa penderita yang masih berusia 2 bulan telah sampai pada stadium
berat.

Dalam

hal

ini,

prognosisnya

buruk.Di

samping

terapi

medikamentosa, juga diberikan edukasi dan program prevensi.


B. Saran
Thalassemia ini harus sudah didiagnosis sejak dini dan diharapkan
kepada penderita agar peduli terhadap penyakitnya. Karena gejala awalnya
seperti anemia biasa, maka gejala tersebut jangan diabaikan dan lakukan
24
pengobatan

sejak

dini

serta

konsultasikan

kepada

25
dokter.Untuk

menghindari resiko akibat penyakit thalassemia, Pemerintah diharapkan


agar menghimbau dan memberikan informasi yang jelas kepada
masyarakat mengenai penyakit thalassemia dengan jelas dan bagaimana
penanggulangan yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Moadow & Newell. 2005. Pediatrika. Jakarta:Erlangga.


Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta:EGC
Nursalam, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bagi Bayi Dan Anak. Jakarta:
Salemba Medika
Soeharin. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Jakarta:EGC