Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.

LATAR BELAKANG

Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dan / atau kesehatan


dalam kegiatan, program kesehatan harus mengutamakan peningkatan kesehatan
dan

pencegahan

diselenggarakan

penyakit.
agar

Kegiatan,

memberikan

proyek

manfaat

peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

dan

yang

program

kesehatan

sebesar-besarnya

bagi

Kegiatan, proyek dan program

kesehatan diselenggarakan dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan standar


profesi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mempertimbangkan
dengan sungguh-sungguh kebutuhan dan kondisi spesifik daerah.
Prospek perawat profesional di masa depan sangat ditentukan oleh banyak faktor,
mulai faktor keadaan kestabilan sosial-ekonomi-politik di Indonesia dan faktor
internal pada diri perawat sendiri.
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan
kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan
termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses
membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara
kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal
yang mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Definisi yang bahkan
lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa
pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk
mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan.
Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia
tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang
pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan
1

masyarakat yang dianggap 'teranaktirikan' dalam hal jaminan kesehatan adalah


mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan
kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan
kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang
khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.
Menjadi seorang tenaga kesehatan (perawat) bukanlah hal yang mudah.
Seorang perawat harus siap fisik maupun mental, karena tugas seorang perawat
sangatlah berat. Di Indonesia ini jumlah perawat memang tidak sedikit, tetapi untuk
di pelosok daerah masih banyak masyarakat yang belum paham akan arti dari
profesi tenaga medis. perawat yang siap mengabdi di kawasan pedesaan, artinya ia
juga harus siap dengan konsekuensi yang akan terjadi. Tak mudah mengubah pola
pikir ataupun kebiasaan masyarakat. Apalagi, masalah proses pertolongan atau
penyembuhan. Kehadiran tenaga medis dengan spesialisasi melayani masyarakat
di beberapa daerah terpencil merupakan hal yang baru dan tidak mudah ubtuk
beradtasi dengan budaya dan kebiasaan masyarakat.
Setiap individu, keluarga dan masyarakat mempunyai kesempatan yang
sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sehingga dapat
mencapai

derajat

kesehatan

yang

setinggi-tingginya.

Kesempatan

untuk

memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan tepat waktu


tidak boleh memandang perbedaan ras, golongan, agama dan status sosial ekonomi
seorang individu, keluarga atau sekelompok masyarakat.
Pembangunan kesehatan yang cenderung urban-based harus terus diimbangi
dengan upaya-upaya pelayanan kesehatan yang bersifat rujukan, bersifat luar
gedung maupun yang bersifat satelit pelayanan. Dengan demikian, pembangunan
kesehatan dapat menjangkau kantong-kantong penduduk risiko tinggi yang
merupakan penyumbang terbesar kejadian sakit dan kematian. Kelompok-kelompok
penduduk inilah yang sesungguhnya lebih membutuhkan pertolongan karena selain
lebih rentan terhadap penyakit, kemampuan membayar mereka jauh lebih sedikit.

2.

TUJUAN

Mengetahui tentang gambaran prospek social budaya terhadap pelayanan

kesehatan khususnya keperawatan.


Mengetahui pengaruh social budaya terhadap penerapan pelayanan

kesehatan khususnya keperawatan.


Mengetahui damapak- dampak dari social budaya dalam penerapan

pelayanan kesehatan.
Sebagai bahan ajar dan penambahan pengetahuan tentang gambaran
prospek social budaya dalam pelayanan kesehatan.

BAB II
3

PEMABAHASAN

Prospek pengembangan pelayanan kesehatan yang berdasarkan pada


perkembangan social buadaya khusunya keperawat sangat cerah pada masa
mendatang ditinjau dari kekayaan budaya di indonesia. Namun dapat menimbulkan
masalah dalam penerapan pelayanan kesehatan ketika budaya tidak sesuai dengan
penerapan asuahan keperawatn. Antara faktor penyokongnya tersedianya sumber
kekayaan alam Indonesia dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia,
sejarah pengobatan tradisional yang telah dikenal lama oleh nenek moyang dan
diamalkan secara turun temurun sehingga menjadi warisan budaya bangsa, isu
global back to nature sehingga meningkatkan pasar produk herbal termasuk
Indonesia, krisis moneter menyebabkan pengobatan tradisional menjadi pilihan
utama bagi sebagian besar masyarakat dan kebijakan pemerintah.
Social budaya erat kaitannya dengan pendekatan ilmu antropoligi yaitu Kata
Antropologi berasal dari bahasa Yunani, anthropos dan logos. Anthropos berarti
manusia dan logos berarti pikiran atau ilmu. Secara sederhana, Antropologi dapat
dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari manusia. Tentunya kita akan semakin
bertanya-tanya, begitu banyak ilmu yang mempelajari manusia.
Menurut William A. Haviland, seorang antropologi Amerika, Antropologi adalah ilrnu
pengetahuan yang mempelajari keanekaragaman manusia dan kebudayaannya.
Dengan mempelajari kedua hal tersebut, Antropologi adalah studi yang berusaha
menjelaskan tentang berbagai macam bentuk perbedaan dan persamaan dalam
aneka ragam kebudayaan manusia.
berusaha mencapai sebuah pemahaman tentang manusia secara fisik, manusia
dalam masyarakatnya, dan manusia dengan kebudayaannya. Secara praktis,
Antropologi berusaha membangun suatu pandangan bahwa perbedaan manusia
dan kebudayaannya merupakan suatu hal yang harus dapat diterima, bukan sebagai
sumber konflik tetapi sebagai sumber pemahaman baru, agar secara terus-menerus
manusia dapat merefleksikan dirinya. Secara praktis, kajian ilmu Antropologi dapat
digunakan untuk membangun masyarakat dan kebudayaannya tanpa harus
4

membuat masyarakat dan kebudayaan itu, kehilangan identitas atau tersingkir dari
peradaban.
Dengan demikian jelas bahwa prospek social budaya dalam pelayanan kesehatan
khususnya keperawatan adalah untuk menerapkan pendekatan antropologi yang
berorintasi pada keaneka ragaman budaya baik antar budaya maupaun lintas
budaya terhadap asuhan keperawatan yang tidak membedakan perbedaan budaya
dan melaksanakan sesuai dengan hati nurari dan sesuai dengan standar penerapan
tanpa membedakan suku, ras, budaya, dan lain-lian
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad ke-21,
termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin
besar. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar negara
(imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan adaya pergeseran terhadap tuntutan asuhan
keperawatan.
Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat, yang
dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan.
Perkembangan teori keperawatan terbagi menjadi 4 level perkembangan yaitu
metha theory, grand theory, midle range theory dan practice theory.Salah satu teori
yang diungkapkan pada midle range theory adalah Transcultural Nursing
Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan

dalam

konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep. keperawatan yang didasari


oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam
masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan
keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan
kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan
terjadinya cultural shock.
Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak
mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat
menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan danbeberapa
mengalami disorientasi. Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika
klien

sedang

mengalami

nyeri.

Pada
5

beberapa

daerah

atau

negara

diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak


atau menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya
dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan,
maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak, maka perawat
akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malah
memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya. Kebutaan
budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas
pelayanan keperawatan yang diberikan.
1.

Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada

praktikkeperawatan

yang

diberikan

kepada

klien

sesuai

dengan latar

belakang budayanya.

Asuhan

keperawatan ditujukan memadirikan individu sesuai dengan budaya klien.


Strategi

yang

digunakan

dalam

asuhan

keperawatan

adalah

perlindungan/mempertahankan budaya mengakomodasi /negoasiasi budaya dan


mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991). yang prospeknya terdiri dari

Mempertahankan budaya

Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan


kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan
nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan
atau mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap
pagi

Negosiasi budaya

Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu
klien

beradaptasi

terhadap

budaya

tertentu

menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar

dapat

yang
memilih

lebih
dan

menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya kl


ien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat di
ganti dengan sumber protein hewani yang lain.
6

Restrukturisasi budaya

Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status
kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya
merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang
lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut
2.

Proses keperawatan

Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan


keperawatan dalam konteks budaya

digambarkan dalam bentuk matahari

terbit (Sunrise Model). Geisser (1991). menyatakan bahwa proses keperawatan ini
digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap
masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan
dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.

Pengkajian

Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah


kesehatan

klien

sesuai

dengan

latar

belakang

budaya

klien.

Pengkajian

dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada "Sunrise Model" yaitu :


1.

Faktor teknologi (tecnological factors)


Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat

penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu


mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah
kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan
alternatif

dan

persepsi

klien

tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan


kesehatan saat ini.
2.

Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)


Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat

realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk
7

menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri.


Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah : agama yang dianut, status
pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan
dan

kebiasaan

agama

yang

berdampak positif terhadap kesehatan.


3.

Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)


Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama

panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga,
pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala
keluarga.
4.

Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh

penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah
suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya
terkait.

Yang

perlu

dikaji

pada

faktor

ini

adalah

posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan,
kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit
berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
5.

Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu

yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya


(Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan
kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang
boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat
6.

Faktor ekonomi (economical factors)


Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material

yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang
harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan,
8

tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi,
penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga
7.

Faktor pendidikan (educational factors)


Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh

jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka
keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti ilmiah yang rasional dan individu
tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi
kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien,
jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang
pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

Diagnosa keperawatan
Diagnosa

keperawatan

adalah

respon

klien

sesuai

latar

belakang

budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi


keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosa
keperawatan

yang

sering

ditegakkan

dalam

asuhan

keperawatan

transkultural
yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,
gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan
ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang

diyakini.
Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah
suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah
suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah
melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien
(Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam
keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan
budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan
kesehatan, mengakomodasi budaya

klien

bila budaya

klien

kurang

menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang


dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
9

1. Cultural care preservation/maintenance


1). Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat
2).Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3). Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
2. Cultural careaccomodation/negotiation
1).Gunakan

bahasa

2).Libatkan
3).Apabila

yang

keluarga
konflik

mudah
dalam

tidak

dipahami

oleh

perencanaan

terselesaikan,

lakukan

klien

perawatan

negosiasi

dimana

kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien


dan standar etik.
3. Cultual care repartening/reconstruction
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya.
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
kelompok
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masingmasing

melalui

proses

persamaan dan perbedaan

akulturasi,
budaya

yaitu

yang

proses

akhirnya

mengidentifikasi

akan

memperkaya

budaya budaya mereka.


Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak
percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan
terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan
menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.

6) Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang memp
ertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang
tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin
sangat

bertentangan dengan budaya


10

yang

dimiliki

klien.

Melalui

evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang
budaya klien.

BAB III
PENUTUP
1) KESIMPULAN

11

Prospek social budaya terhadap Keperawatan adalah suatu proses


pemberian asuhan keperawatan yang difokuskan kepada individu dan
kelompok

untuk

mempertahankan,

meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya dan


menerapakan pelayanan keperawatan sesuai dengan latar belakang budaya

tanpa merugikan kesehatan atau melanggar prosedur asuhan keperawatan.


Pengkajian asuhan keperawatan dalam konteks social budaya sangat
diperlukan

untuk

menjembatani perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh perawat dengan

klien
Diagnosa keperawatan transkultural yang ditegakkan dapat mengidentifikasi
tindakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan budaya yang sesuai
dengankesehatan, membentuk budaya baru yang sesuai dengan kesehatan
atau

bahkan

mengganti budaya yang tidak sesuai dengan kesehatan dengan budaya baru.
Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak dapat
begitusaja dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar
belakang

budaya

klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural melekat erat dengan
perencanaan danpelaksanaan proses asuhan keperawatan transkultural.

2) SARAN

Penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan olehnya itu penulis

mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai bahan ajar untuk
penyusunan berikutnya

DAFTAR PUSTAKA

12

Cultural Diversity in Nursing, (1997), Transcultural Nursing ; Basic Concepts and


Case

Studies,

Ditelusuri

tanggal

17

desember

2010http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing
Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts,Theories,
Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill Companies
Understanding The Theoretical Basis of Transcultural Nursing Care.Ditelusuri
tanggal 17desember 2010 dari http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing
Transcultural NursingModels ; Theory and Practice, Ditelusuri tanggal 17 september
2006dari

http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing
http://www.google.com/rnc.org/info.konsep dasar transculturalnursing
http://www.google.com/rnc.org/sosial budaya dan proyeksinya

13