Anda di halaman 1dari 4

Gel Test ditemukan pertama kali oleh Y.

Lapierre pada tahun 1984 di Regional


Blood Transfusion Center of Lyon. Lapierre telah melakukan bermacam-macam
percobaan, misalnya dengan Gelatin, polyacrylamide,Solid nets,Silica Beads,
Ficoll dan Dextran gels.
Dan akhirnay Lapierre menemukan bahwa pemeriksaan yang terbaik untuk
dapat membedakan antara reaksi positip dengan reaksi negatip secara jelas dan
stabil, yaitu dengan menggunakan Sephadex G 100 Superfine yang secara
kebetulan ditemukan, oleh karena kesalahan tehnisi laboratorium saat memesan
Sephadex G 100 yang seharusnya Sephadex G 25.
Akhirnya untuk menentukan parameter centrifugasi, bentuk tube dan komposisi
medium serta antiglobulin serum yang sesuai tidak membutuhkan waktu yang
lama,sehingga pada :
Tahun 1985 dilakukan regiatrasi patent yang pertama
Tahun 1987 uji coba di lapangan
Tahun 1988 dibuat kit pertama
Metode gel test dapat digunakan pada pemeriksaan :
Sistim golongan darah ( ABO,Phenotyp Rhesus, subgroup A dan H, Kell, Duffy,
Kidd, Lewis, MNS, P1, Lutheran, dan profil antigen lainnya.
Uji Cocok Serasi
Skrining antibodi
Identifikasi antibodi
Transfusi darah adalah proses pemindahan atau pemberian darah dari seseorang
(donor) kepada orang lain (resipien). Transfusi bertujuan mengganti darah yang
hilang akibat perdarahan, luka bakar, mengatai shock, mempertahankan daya
tahan tubuh terhadap infeksi (Tarwoto, 2006).
Pertimbangan utama dalam transfusi darah, khususnya yangmengandung
eritrosit, adalah kecocokan antigen-antibodi eritrosit.Golongan darah AB secara
teoritis merupakan resipien universal, karenamemiliki antigen A dan B di
permukaan eritrositnya, sehingga serumdarahnya tidak mengandung antibodi
(baik anti-A maupun anti-B). Karena tidak adanya antibodi tersebut, berarti darah
mereka (lagi-lagi, secara teoritis) tidak akan menolak darah golongan manapun
yang berperan selaku donor, dengan kata lain mereka boleh menerima darah
dari semua golongan darah lainnya. Sedangkan golongan darah O secara teoritis
merupakan donor universal, karena memiliki antibodi anti-A dan anti-B.
Darah yang diberikan diharapkan tidak memicu reaksi imunitas dari resipien,
dengan kata lainmereka boleh memberikan darah ke semua golongan darah lain,
termasuk golongan A dan B.Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah faktor

Rh. Seorang Rh (-) yang belum memiliki anti-D namun menerima donor darah Rh
(+) akan mengalami reaksi sensitisasi terhadap antigen D.
Untuk wanita hal ini dapat berbahaya bagi kehamilan (sudah dibahas di bagian
kedua). Sekali sajaseorang Rh (-) terpapar darah Rh (+); jika kali berikutnya ia
kembaliterpapar darah Rh (+), maka reaksi transfusi yang timbul dapat
sangat berbahaya.
Namun hal ini tidak berlaku sebaliknya. Jika seorang Rh (+)mendapat darah dari
donor Rh (-), darah Rh (-) itu sudah lepas dari sistemimunitas si donor, sehingga
tidak akan terjadi reaksi sensitisasi. Dengan katalain, sistem imun orang Rh (+)
tidak bereaksi imunologis terhadap paparandarah Rh (-).

Resepien ( Pasien )
Orang atau pasien yang menerima darah dari donor yang aman bagi pasien
artinya pasien tidak tertular penyakit infeksi melalaui transfusi darahdan pasien
tidak mendapatkan komplikasi seperti misalnya ketidakcocokan golongan darah.
( Peraturan Pemerintah No 18 th 1980.)

Donor Darah ( Penyumbang darah )


Semua orang yang memberikan darah untuk maksud dan tujuan transfusi darah
(Peraturan Pemerintah No 18 th 1980 ).
Darah harus aman bagi pasien artinya pasien tidak tertular penyakit infeksi
melalui transfusidarah, pasien tidak mendapatkan komplikasi seperti ketidak
cocokan golongan darah
Aman bagi donor artinya donor tidak tertular penyakit infeksi melalui tusukan
jarum/ Vena,donor tidak mengalami komplikasi setelah penyumbangan darah,
seperti: kekurangan darah, mudah sakit/ sering sakit( R Banundari, 2005 ).
PEMBAHASAN

Pemeriksaan uji silang serasi bertujuan untuk menentukan cocok tidaknyadarah


donor dengan darah penerima untuk persiapan transfusi darah.Tujuan
dari pemeriksaan ini adalah untuk memastikan bahwa transfusi darah
tidak menimbulkan reaksi apapun pada resipien serta sel-sel darah merah bisa
mencapaimasa hidup maksimum setelah diberikan. Uji silang serasi dilakukan
untuk memastikan bahwa tidak ada antibodi pada darah pasien yang akan
bereaksi dengan darah donor atau sebaliknya. Bahkan walaupun golongan darah
ABO dan Rh pasien dan donor telah diketahui, adalah hal mutlak untuk
melakukan uji silang serasi.Mayor crossmatch adalah serum penerima dicampur

dengan sel donor dan minor cross match adalah serum donor dicampur dengan
sel penerima.
Jika golongan darah ABO penerima dan donor sama, baik mayor maupun minor
test tidak bereaksi. Jika berlainan umpamanya donor golongan darah O dan
penerima golongan darah A maka pada test minor akan terjadi aglutinasi.Mayor
crossmatch merupakan tindakan terakhir untuk melindung ikeselamatan
penerima darah dan sebaiknya dilakukan demikian sehingga Complete
Antibodies maupun incomplete Antibodies dapat ditemukan dengan cara tabung
saja. Cara dengan objek glass kurang menjaminkan hasil percobaan.Reaksi
silang yang dilakukan hanya pada suhu kamar saja tidak dapat
mengesampingkan aglutinin Rh yang hanya bereaksi pada suhu 37c.
Untuk menentukan anti Rh sebaiknya digunakan cara Crossmatch dengan high
protein methode. Ada beberapa cara untuk menentukan reaksi silang yaitu
reaksi silang dalam larutan garam faal dan reaksi silang pada objek
glass.Pemeriksaan uji silang serasi ini dilakukan untuk satu donor menggunakan
metode aglutinasi dengan tabung. Dalam uji silang ini, sel donor
dicampur dengan serum penerima (Mayor Crossmatch) dan sel penerima
dicampur denganserum donor dalam bovine albumin 22% akan terjadi aglutinasi
atau gumpalandan hemolisis bila golongan darah tidak cocok.
Pada saat ini, sebagian UTD PMI dalam melakukan uji silang cocok serasi /
crossmatch, menggunakan teknik metode tabung / metode konvensional yang
memiliki beberapa keterbatasan, antara lain :
1. Perlu waktu lama ( time consuming )
2. Hasil sangat subyektif ( tergantung ketrampilan petugas )
3. Hasil reaksi tidak stabil sehingga pembacaan reaksi harus segera dilakukan
setelah pemutaran karena penundaan pembacaan reaksi dapat mengakibatkan
penurunan derajad reaksi, hal ini merupakan penyebab reaksi false negative
yang berbahaya bagi pasien
4. Harus melakukan pencucian sel 3 kali , yang paling vital adalah pencucian sel
3 kali sebelum penambahan Coombs serum, karena jika tahap pencucian 3 kali
tidak sempurna atau dikurangi, maka dapat menyebabkan terjadinya reaksi false
negatif, karena Coombs dapat dinetralkan oleh serum/plasma dari sample.
Sehingga darah yang seharusnya tidak boleh diberikan kepada penderita, dapat
lolos karena reaksi false negatif tersebut dimana hal ini sangat membahayakan
penerima darah
5. Hasil pembacaan reaksi negatif masih harus dikonfirmasi dengan penambahan
Coombs Control Cells ( CCC ) untuk meyakinkan apakah proses pencucian sel
sebelum penambahan Coombs serum sudah sempurna
6. Pembacaan reaksi memerlukan mikroskop
7. Hasil reaksi secara visual tidak dapat didokumentasikan, dokumentasi hanya
berupa laporan kerja

Melihat dan mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan tersebut di atas,


pada saat ini beberapa UTD PMI telah memutuskan untuk meningggalkan
metode konvensional / metode tabung untuk melakukan uji silang cocok serasi,
sebagai gantinya UTD-UTD PMI tersebut megadopsi teknologi terkini untuk
melakukan uji silang cocok serasi, yaitu DiaMed ID-MTS atau lebih popular
dengan sebutan DiaMed Gel Test . Teknologi ini diketemukan dan dikembangkan
oleh DiaMed AG, Switzerland.
Sampai saat ini, DiaMed adalah satu-satunya medical industry di dunia yang
hanya berfokus pada pre-transfusion testing, Immunohematology.
Adapun argumen / pertimbangan UTD-UTD PMI tersebut mengadopsi teknologi
DiaMed gel tes dalam melakukan crossmatch adalah dikarenakan kelebihankelebihan teknologi DiaMed gel tes yang tidak dijumpai pada teknologi uji silang
cocok serasi dengan menggunakan metode konvensional / tabung, antara lain :
1. Semua tahapan terstandarisasi, karena semua konsentrasi reagen terukur
2. Sederhana dan cepat
3. Hasil obyektif, tidak ditentukan ketrampilan petugas dalam melakukan tes uji
silang cocok serasi dimana hal ini tidak dijumpai pada metode tabung. Hasil
crossmatch dengan menggunakan metode tabung sangat subyektif karena
ketrampilan operator memberikan kontribusi yang paling besar terhadap hasil
yang didapat.
4. Hasil reaksi stabil, tidak perlu terburu-buru dalam melakukan pembacaan hasil
reaksi
5. Sampel yang diperlukan hanya sedikit ( 5 mikroliter sel darah merah ), hal ini
sangat membantu untuk melakukan uji silang cocok serasi pada bayi yang
membutuhkan darah
6. Tidak ada tahap pencucian sehingga menghindari terjadinya reaksi false
negatif karena kurang sempurnanya tahap pencucian, dengan tidak adanya
tahap pencucian maka penambahan Coombs Control Cells pada reaksi negatif
tidak diperlukan lagi
7. Pembacaan reaksi secara makroskopis sehingga penggunaan mikroskop tidak
diperlukan lagi
8. Lebih sensitive dibandingkan metode konvensional sehingga meminimalisir
ditemukannya reaksi false negatif yang berbahaya bagi penerima darah
9. Hasil reaksi secara visual dapat didokumentasikan
10. Mengurangi limbah di laboratorium karena semua limbah berada dalam
kartu
11. Masa kadaluarsa panjang (satu setengah tahun sejak tanggal produksi)