Anda di halaman 1dari 7

Materialitas dan Risiko

OLEH :
FEBRI YULISA
NONI AISYAHDINI
WINDI WULANDARI

MATERIALITAS DAN RISIKO

MATERIALITAS
Materialitas merupakan pertimbangan utana dalam menentukan laporan audit yang tepat untuk
diterbitkan. FASB mendefinisikan materialitas yaitu besarnya nilai yang dihilangkan atau salah
saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapt mengakibatkan
perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan
terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji tersebut.
Oleh karena auditor bertanggung jawab menentukan apakah terdapat salah saji informasi
akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapat mengakibatkan perubahan atas
atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi
tersebut, karena adnaya penghilangan atau salah saji tersebut. Jika klien menolak untuk
mengoreksi salah saji tersebut, maka auditor harus menerbitkan opini wajar dengan pengecualian
atau tidak wajar, bergantung pada seberapa signifikan salah saji tersebut. Untuk menentukan hal
tersebut, auditor sangat bergantung pada pengetahuan yang mendalam atas penerapan
materialitas.
LANGKAH-LANGKAH PENERAPAN MATERIALITAS
Langkah 1
MENETAPKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL
PSA 25 (SA 312) menharuskan auditor untuk memutuskan jumlah gabungan salah saji dalam
laporan yang akan mereka anggap material di awal pengauditan bersamaan dengan ketika
mereka mengembangkan strategi audit secara keseluruhan. Dinamakan pertimbangan
materialitas awal, karena meskipun merupakan opini professional, penilaian tersebut dapat
berubah selama kontrak kerja. Penilaian tersebut harus didokumentasikan dalam arsip audit.

Pertimbangan materialitas awal merupakan jumlah maksimal dimana auditor yakin terdapat salah
saji dalam laporan keuangan namun tidak memengaruhi keputusan-keputusan para pengguna
yang rasional. (secara konsep, ini adalah jumlah yang Rp 1 lebih kecil dari pada materialitas
yang didefinisikan oleh FASB. Untuk kemudahan, kita mendefinisikan hal tersebut sebagai
materialitas awal). Penilaian ini merupakan salah satu keputusan yang paling penting yang harus
diambil oleh audior, dan sangat membutuhkan pemahaman dan pertimbangan professional yang
tinggi. Auditor menetapkan pertimbangan materialitas awal untuk membantunya merencanakan
pengumpulan bukti-bukti audit yang tepat.
Selama melakukan audit, auditor sering kali mengubah pertimbangan awal yang diistilahkan
sebagai penilaian materialitas yang direvisi
FACTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENILAIAN
Beberapa factor yang memengaruhi auditor dalam melakukan pertimbangan materialitas awal
dalam laporan keuangan. Hal-hal yang snagat penting untuk diperhatikan dalam konsep
materialitas adalah sebagai berikut :
1. Materialitas Merupakan Konsep Relative, Bukan Absolute
Sebuah salah saji dengan besaran tertentu dapat menjadi material bagi suatu perusahaan kecil ,
sebaiknya dengan jumlah salah saji yang sama dapat menjadi tidak material bagi perusahaan
yang besar. Sehingga tidak mungkin untuk menetukan acuan nilai nominal untuk pertimbangan
materialitas awal yang dapat diterapkan untuk semua klien audit.
1. Dibutuhkan Dasar untuk Mengevaluasi Materialitas
Karena materialitas adalah konsep yang relative, sehingga sangat penting untuk memiliki dasar
dalam menentukan apakah suatu jumlah tertentu material atau tidak.laba bersih sebelum pajak
biasanya dijadikan sebagai dasar dalam menentukan materialitas bagi perusahaan yang
berorientasi laba karena dianggap sebagai unsure yang sangat penting bagi para penggunanya.
Beberapa perusahaan menggunakan dasar utama yang berbeda, karena laba bersih sering kali
naik turun secara signifikan dari tahun ketahun, sehingga tidak dapat memberikas dasar secra
stabil, atau ketika entitasnya adalah suatu perusahaan nirlaba. Sering kali dasar utama yang
digunakan adalah penjualan bersih, laba kotor, dan total asset atau asset bersih. Setelah
menetapkan dasar utama, auditorjuga harus memutuskan apakah salah saji tersebut secara
signifikan berpengaruh pada kewajaran dasar lainnyaseperti asset lancar, total asset liabilitas
lancar dan ekuitas pemilik. PSA 25 (SA 312) mengharuskan auditor untuk mendokumentasikan
dasar yang digunakan dalam melakukan pertimbangan materialitas awal kedalam prinsip audit.
1. Factor-Faktor Kualitatif Juga Memengaruhi Materialitas.
Langkah 2
MENGALOKASIKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL KESETIAP BAGIAN
(SALAH SAJI YANG DAPAT DITERIMA)

Pengalokasian pertimbangan materialitas awal kesetiap bagian merupakan hal yang penting
untuk dilakukan karena auditor mengumpulkan bukti audit per bagian dibandingkan dengan
laporan keuangan secara keseluruhan. Ketika auditor mengalokasikan pertimbangan materialitas
awal pada saldo-saldo akun, materialitas yang dialokasikan setiapsaldo akun yang dimaksud
dalam PSA 25 (SA 312) sebagai salah saji yang dapat diterima.
Langkah 3
MEMPERKIRAKAN SALAH SAJI DAN MEMBANDINGKAN DENGAN PENILAIAN
AWAL
Salah saji dalam suatu akun dapat berbentuk satu dari dua jenis ini, yaitu salah saji yang
diketahui salah saji yang mungkin. Salah saji yang diketahui adalah salah saji dimana auditor
dapat menetukan jumlah salah saji dalam akun tersebut. Salah saji yang mungkin terdapat dua
jenis, pertama yaitu salah saji yang muncul karena adanya perbedaan antara penilaian
manajemen dan penilaian auditor mengenai estimasi saldo akun. Yang kedua adalah proyeksi
salah saji bedasarkan pengujian auditor atas sampel yang diambil dari populasi.
Langkah 4
MENGERSTIMASIKAN SALAH SAJI GABUNGAN
Langkah 5
MEMBANDINGKAN ESTIMASI SALAH SAJI GABUNGAN DENGAN
MATERIALITAS DALAM PENILAIAN AWAL ATAU PENILAIAN YANG DIREVISI
RISIKO
Risiko (risk) penerimaan auditor bahwa terdapat beberapa tingkat ketidakpastian dalam
menjalankan fungsi audit.
Model risiko audit dan perencanaan
Auditor menangani risiko dalam perencanaan bukti audit umumnya dengan menggunakan model
risiko audit. Model risiko audit membantu auditor untuk menentukan seberapa banyak dan jenis
bukti apakah yang harus dikumpulkan auditor untuk setiap siklusnya.
JENIS-JENIS RISIKO
1. Risiko Deteksi yang Direncanakan (Planned Detection Risk)
Risiko deteksi yang direncanakan merupakan risiko dimana bukti audit untuk suatu bagian tidak
mampu mendeteksi salah saji yang melebihi salah saji yang dapat diterima. Risiko ini hanya
dapat berubah jika auditor mengubah salah satu risiko dalam model risiko audit tersebut.

1. Risiko Bawaan (inherent risk)


Risiko bawaan mengukur penilaian auditor atas kemungkinan terdapatnya salah saji material
(baik kecurangan maupun kesalahan) dalam sebuah bagian pengauditan sebelum
mempertimbangkan efektifitas pengendalian internal klien.
1. Risiko Pengendalian (Control Risk)
Risiko pengendalian mengukur penilaian auditor mengenai apakah salah saji melebihi jumlah
yang dapat diterima di suatu bagian pengauditan akan dapat dicegah atau dideteksi dengan tepat
waktu oleh pengendalian internal klien.
1. Risiko Audit yang Dapat Diterima (Acceptable Audit Risk)
Risiko audit yang dapat diterima mengukur tingkat kesediaan auditor untuk menerima
kemungkinan adanya salah saji dalam laporan keuangan setelah audit telah selesai dijalankan dan
opini wajar tanpa pengecualian telah diterbitkan.
MENILAI RISIKO AUDIT YANG DAPAT DITERIMA
Dalam sebuah pengauditan, auditor harus memutuskan risiko audit yang dapat diterima, lebih
utama dilakukan selama masa perencanaan. Pertama, auditor menetapkan risiko kontrak kerja
dan kemudian menggunakan risiko kontrak kerja tersebut untuk memodifikasi risiko audit yang
dapat diterima.
DAMPAK RISIKO KONTRAK KERJA TERHADAP RISIKO AUDIT YANG DAPAT
DITERIMA
Risiko kontrak kerja (engagement risk) adalah risiko dimana auditor atau KAP akan mendapat
masalah setelah audit diselesaikan, meskipun laporan audit sudah benar. Risiko kontrak kerja
sangat terkait erat dengan risiko bisnis klien. Sangat penting untuk dicatat bahwa auditor tidak
menyetujui mengenai apakah risiko kontrak kerja harus dipertimbangkan dalam perencanaan
audit.
FACTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI RISIKO AUDIT
1. Tingkat Ketergantungan Pengguna Eksternal Laporan Keuangan
Factor-faktor yang merupakan indicator yang baik untuk menilai tingkat ketergantungan para
pengguna terhadap laporan keuangan :
a)
Ukuran klien. Umumnya, makin besar kegiatan operasi klien, makin luas penggunaan
laporan keuangan. Ukuran klien, yang diukur dengan asset total atau pendapatan total, akan
berpengaruh terhadap risiko audit yang dapat diterima.

b)
Distribusi kepemilikan. Laporan keuangan perusahaan public umumnya diandalkan oleh
lebih banyak pengguna dibandingkan dengan perusahaan tertutup lainnya. Untuk perusahaan
public ini, pihak yang berkepentingan lainnya adalah SEC, analisis keuangan, dan masyarakat
umum.
c)
Sifat dan jumlah liabilitas. Ketika laporan memiliki sejumlah besar liabilitas,besar
kemungkinan laporan tersebut akan digunakan secara lebih luas oleh para kreditor yang ada
ataupun para calon kreditor dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki lebih sedikit
liabilitas.
1. Kemungkinan Klien Akan Mengalami Kesulitan Keuangan Setelah Laporan Audit
Diterbitkan
Sulit bagi auditor untuk memprediksi kegagalan keuangan sebelum hal itu terjadi, namun
beberapa factor berikut dapat menjadi indicator yang baik atas meningkatnya kemungkinan
kegagalan keuangan tersebut.
a)
Posisi likuiditas. Jika klien terus menerus kekurangan kas dan modal kerja, hal ini
mengindikasikan adanya masalah dimasa mendatang dalam pembayaran utang-utangnya.
Auditor harus menilai kemungkinan dan seberapa besar penurunan posisi likuiditas yang terjadi
terus-menerus.
b)
Laba (rugi) ditahun-tahun sebelumnya. Sangat penting untuk mempertimbangkan
perubahan laba relative terhadap saldo yang tersisa dalam saldo laba.
c)
Metode pertumbuhan pembiayaan. Auditor harus mengevaluasi apakah asset tetap klien
dibiayai oleh pinjaman jangka pendek atau jangka penjan, karena sejumlah besar kas keluar yang
dibutuhkan dalam waktu yang singkat akan memaksa perusahaan untuk mengalami
kebangkrutan.
d)
Sifat kegiatan operasi klien. Beberapa jenis bisnis secara alamiah lebih berisiko
dibandingkan dengan bisnis lainnya.
e)
Kompetensi manajemen. Manajemen yang kompeten secara terus menerus akan
mewaspadai adanya potensi kesulitan keuangan dan memodifikasinya dengan berbagai metode
operasi untuk meminimalkan pengaruh dari masalah jangka pendek. Auditor harus menilai
kemampuan manajemen sebagai bagian dari evaluasi atas kemungkinan terjadinya kebangkrutan.
1. Evaluasi Auditor Terhadap Integritas Manajemen
Perusahan-perusahaan dengan integritas rendah sering kali menjalankan aktivitas bisnis mereka
dengan cara-cara yang dapat menimbulkan konflik dengan para pemegang sahamnya,
pemerintah dan pelanggannya. Pada akhirnya, konflik-konflik tersebut sering kali tercermin
dalam persepsi pengguna terhadap kualitas audit dan dapat mengakibatkan adanya tuntutan
hukum dan ketidaksetujuan lainnya.

1. Membuat Keputusan Risiko Audit yang Dapat Diterima


Evaluasi yang biasanya dilakukan untuk risiko audit yang dapat diterima adalah tinggi, sedang
atau rendah, dimana risiko audit yang dapat diterima rendah berarti bagi klien yang berisiko
harus mendapatkan bukti yang lebih banyak, penugasan staf audit yang lebih bepengalaman,
dan/atau penelaahan yanag lebih mendalam atas dokumentasi audit. Sejalan dengan
perkembangan kemajuan kontrak kerja, auditor mendapatkan informasi tambahan mengenai
klien, sehingga risiko audit yang dapat diterima dapat dimodifikasi.
MENILAI RISIKO BAWAAN
Masuknya risiko bawaan dalam model risiko audit merupakan slah satu konsep penting dalam
pengauditan. Hal ini mengimplikasikan bahwa auditor harus mencoba untuk memprediksi bagian
mana kemungkinan terdapat salah saji dalam laporan keuangan. Informasi ini memengaruhi
jumlah bukti yang akan dikumpulkan auditor, penugasan staf dan penelaahan dokumentsi audit.
1. Factor-Faktor yang Memengaruhi Risiko Bawaan
Auditor harus menilai factor-faktor yang menyusun risiko dan memodifikasi bukti audit yang
akan dijadikan bahan pertimbangan. Auditor harus mempertimbangkan beberapa factor utama
berikut ketika menilai risiko pengendalian.
a)

Sifat bisnis klien

b)

Hasil pengauditan sebelumnya

c)

Kontrak kerja yang pertama atau kontrak kerja yang berulang

d)

Pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa

e)

Transaksi-transaksi yang tidak rutin

f)
Penilaian yang diperlukan untuk mencatat saldo-saldo akun dan transaksi-transaksi dengan
benar
g)

Membuat populasi

h)

Factor-faktor yang terkait dengan kecurangan dalam laporan keuangan

i)

Factor-faktor yang terkait dengan penyalahgunaan asset


1. Membuat Keputusan Risiko Bawaan

Auditor harus mengevaluasi informasi yang dapat memengaruhi risiko bawaan dan memutuskan
factor risiko bawaan yang tepat untuk setiap siklus, akun dan untuk setiap tujuan audit. Beberapa

factor seperti kontrak kerja pertama atau kontrak kerja yang berulang, hanya akan memengaruhi
akun-akun atau tujuan audit tertentu saja.
1. Mendapatkan Informasi Untuk Menilai Risiko Bawaan
Auditor mulai melakukan penilaian atas risiko bawaan selama fase perencanaan dan
memperbarui penilaian tersebut disepanjang pengauditan.
HUBUNGAN ANTARA RISIKO DAN MATERIALITAS DENGAN BUKTI AUDIT
Konsep materialitas dan risiko dalam audit sangat berkaitan erta dan tidak dapat dipisahkan.
Risiko merupakan ukuran atas ketidakpastian, sedangkan materialitas merupakan ukuran besaran
atau tinggi rendanhnya. Bersama-sama keduanya mengukur jumlah ketidakpastian dalam suatu
besaran tertentu.
MERIVISI RISIKO DAN BUKTI
Dalam merivisi risiko dan bukti audit, auditor sebaiknya mengikuti pendektan dua langkah
berikut ini :
1. Auditor harus merivisi penilaian awal dari risiko yang wajar. Adalah pelanggaran jika
membiarkan penilaian awal tidak diubah jika auditor tahu itu adalah tidak wahar
2. Auditor harus mempertimbangkan dampak dari rivisi terhadap bukti yang diharuskan,
tanpa penggunaan model risiko audit. Penelitian dalam bidang audit telah menunjukkan,
jika risiko yang dirivisi digunakan dalam model risiko audit untuk menentukan risiko
deteksi yang direncanakan yang juga telah direvisi, ada bahaya dari tidak
meningkatkannya bukti secara memadai. Sebagai gantinya, auditor harus berhati-hati
mengevaluasi implikasi dari revisi risiko dan memodifikasi dengan tepat, diluar dari
model risiko audit.