Anda di halaman 1dari 15

BAB I

STATUS PASIEN
I.

II.

Identitas
1. Nama
2. Pendidikan
3. Pekerjaan
4. Alamat
5. Tanggal periksa

: Tn. R/Laki-Laki/72 tahun


: SMA
:: RT 3 Olak kemang
: 01 Juni 2015

Latar Belakang Sosio-Ekonomi-Demografi dan Lingkungan


Keluarga :
a. Status perkawinan
b. Jumlah anak
c. Status ekonomi keluarga
d. Kondisi rumah

: Sudah menikah
:5
: Cukup
: Rumah panggung berlantai kayu

dan beratap seng. Memiliki 1 ruang tamu, 4 ruang kamar tidur,


1 ruang keluarga, 1 ruang makan, 1 ruang dapur dan ada kamar
mandi. Kamar mandi menggunakan wc jongkok. Sumber air
dari sumur dan PDAM. Rumah memiliki ventilasi pertukaran
udara yang cukup dan cukup pencahayaan.
e. Kondisi Lingkungan Keluarga :
Pasien tinggal bersama 2 anaknya, dan 2 menantu, serta 3
cucu. Anak pasien bekerja di swasta dan sedangkan pasien
III.

IV.

sudah tidak bekerja.


Aspek psikologis di keluarga :
Secara psikologis pasien tidak didapatkan masalah. Pasien dikenal
sebagai seorang ayah yang baik bagi keluarganya.
Anamnesa :
a. Keluhan utama :
Batuk berdahak sejak 5 hari yang lalu
b. Keluhan tambahan :
Sesak Nafas
c. Riwayat perjalanan penyakit
Pasien mengeluh batuk berdahak sejak 6 bulan yang lalu,
dahak berwarna putih kekuningan, banyak dan kental. Sebelumnya
pasien mengeluh badan terasa dingin kemudian perut panas lalu
muncul sesak nafas kemudian akhirnya batuk. Keadaan kemudian
membaik sendiri setelah 20 menit. Batuk dipengaruhi oleh alergi

disangkal. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada pada saat batuk.


Setelah keadaan membaik, sekitar 2 jam kemudian pasien akan
merasakan batuk lagi yang kemudian akan membaik lagi dengan
sendirinya, begitu seterusnya. Mual tidak ada, muntah tidak ada,
dan tidak ada keluhan pada BAB dan BAK. Diketahui pasien
V.

adalah perokok aktif hingga sekarang, 1 bungkus sehari.


Riwayat penyakit dahulu/penyakit keluarga :
Pasien tidak pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama
Riwayat alergi makanan, cuaca, debu dan bulu disangkal
Riwayat penyakit Hipertensi disangkal
Riwayat Penyakit Diabetes Melitus disangkal
Riwayat merokok (+) sejak usia 20 tahun. Pasien adalah perokok
berat, dalam sehari menghabiskan 1 bungkus rokok. 1 bulan

VI.

terakhir pasien sudah mulai berhenti merokok


Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum :
Keadaan umum
: Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos mentis
TD
: 130/100 mmhg
Nadi
: 78 x/menit
RR
: 22 x/menit
Suhu
: 36,4 C
Pemeriksaan Organ
Kepala
Bentuk

: Simetris, normocephal

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-

Telinga

: Dalam Batas Normal

Hidung

: Napas cuping hidung -/-, Sekret -/-, Epistaksis -/-

Mulut

: Dalam Batas Normal

Thoraks
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Simetris, retraksi (-)


: Krepitasi (-), vokal fremitus sama kanan dan kiri
: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler +/+, Rhonki +/+, wheezing -/BJI dan II regular, BJ III (-), bising jantung (-)

Abdomen
Inspeksi
: Datar, sikatriks (-).
Palpasi
: Nyeri tekan (-)
Perkusi
: Timpani (+)
Auskultasi
: Bising usus (+) normal
Ekstremitas
: Akral hangat +/+, edema -/VII. Pemeriksaan anjuran
Pemeriksaan Sputum
Darah Lengkap
Rontgen
VIII. Diagnosa
Bronkitis Kronis
IX.

Diagnosa Banding
1. TB paru
2. Asma

X.
-

Manajemen
Promotif :
Memberikan edukasi kepada pasien tentang penyakitnya serta

komplikasi yang dapat terjadi


Memberikan pengetahuan tentang pengobatan yang diberikan serta

pentingnya keteraturan dalam berobat


Memberi edukasi kepada keluarga pasien tentang penyakit pasien

serta menciptakan lingkungan bebas polusi di rumah


Menghirup uap air panas 2-3x selama 15 30 menit/hari
Menghindari zat zat yang mengiritasi bronkus seperti berhenti
merokok, menghindari asap rokok orang lain (perokok pasif) serta

memakai masker bila terpapar zat yang bisa mengiritasi bronkus


Latihan fisik, psikososial, latihan pernapasan
Preventif
Mengurangi konsumsi rokok dan paparan terhadap asap baik asap
bakaran ataupun asap rokok.

Mengurangi aktivitas berlebihan untuk meminimalkan terjadinya


sesak

Menciptakan lingkungan yang bebas dari polusi

Meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan


yang bergizi tinggi

Kuratif
Non Farmakologi
1. Istirahat di rumah
2. Menggunakan masker
3. Makan makanan yang bergizi untuk menjaga imunitas tubuh,
bila dianggap perlu dapat diberikan vitamin tambahan
4. Berolahraga ringan dan teratur untuk memperbaiki pernapasan
dan memperbanyak oksigen masuk ke paru-paru

F armakologi
Dexametason tablet 0,5 mg 3 x sehari
Amoxicilin tablet 500 mg 3 x sehari
OBH sirup 3 x 1 sendok makan

Tradisional
Rebus 30 gram seledri, 10 gram kulit jeruk mandarin kering
dengan 3 gelas air,tambahkan 25 gram gula aren. Angkat
rebusan jika air tersisa setengahnya,saring dan tiriskan. Ramuan
siap di gunakan. Minum ramuan pagi dan sore, masing-masing

1 setengah gelas. Ulangi selama beberapa hari


Cuci 7 lembar daun sirih dan rajang. Rebus dengan 2 Gelas air
serta tambahkan 1 potong gula batu. Saring air setelah mendidih
dan air tersisa 1 gelas. Air rebusan siap di gunakan. Minum
ramuan tersebut 3 kali sehari, masing masing 3 sendok makan

setiap malam. Lakukan secara rutin selama beberapa hari.


Rehabilitatif
Menjalankan pengobatan dengan teratur
Sebisa mungkin untuk tidak melakukan kontak kontak dengan

asap, baik asap rokok ataupun asap pembakaran


Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan

bergizi tinggi
Jika keluhan tidak membaik dan dirasa semakin sesak segera
berobat ke RS/Puskesmas terdekat

XI.

Resep

Dinas Kesehatan Kota Jambi


Puskesmas Olak Kemang
Dokter : M. Mufti Muttaqin
SIP :
STR :
Tanggal : 3 Juni 2015
R/ Paracetamol tab 500mg

No IX

3 dd tab I
R/Amoxicilin tab 500 mg

No IX

3 dd tab I
R/Vitamin B Comp tab

No III

1 dd tab I
R/ OBH Syr

No X

3 dd C I

Pro
: Tn R
Umur : 72 tahun
Alamat : Rt. 03 Olak Kemang
Resep tidak boleh ditukar tanpa sepengetahuan
dokter

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Bronkitis Kronik
Bronkhitis kronis adalah suatu bentuk penyakit obstruksi paru kronik, pada
keadaan ini terjadi iritasi bronkhial dengan sekresi yang bertambah dan batuk
produktif selama sedikitnya tiga bulan atau bahkan dua tahun berturut-turut,
biasanya keadaan ini disertai emfisema paru.1
2.2 Epidemiologi
Di Indonesia, belum ada angka kesakitan Bronkitis kronis secara pasti.
Sebagai perbandingan, di AS ( National Center for Health tatistics ) diperkirakan
sekitar 4% dari populasi didiagnosa sebagai Bronkitis kronis. Angka ini pun
diduga masih di bawah angka kesakitan yang sebenarnya (underestimate)
dikarenakan tidak terdiagnosanya Bronkitis kronis. Di sisi lain dapat terjadi pula
overdiagnosis bronkitis kronis pada pasien-pasien dengan batuk non spesifik
yang self-limited (sembuh sendiri). Bronkitis kronis dapat dialami oleh semua ras
tanpa ada perbedaan. Frekuensi angka kesakitan Bronkitis kronis lebih kerap
terjadi pada pria dibanding wanita. Hanya saja hingga kini belum ada angka
perbandingan yang pasti.1,2,3
2.3 Etiologi4
1.
2.
3.
4.
5.

Asap rokok.
Polusi udara.
Pekerjaan : lebih umum pada perempuan terkena debu atau gas beracun.
Infeksi: serangan berulang bronkitis akut.
Perokok pasif dan perokok aktif.

2.4 Gejala dan Keluhan


Keluhan dan gejala-gejala klinis Bronkitis kronis adalah sebagai berikut:2,4,5

Batuk dengan dahak atau batuk produktif dalam jumlah yang banyak.
Dahak makin banyak dan berwarna kekuningan (purulen) pada serangan
akut (eksaserbasi). Kadang dapat dijumpai batuk darah.

Sesak napas. Sesak bersifat progresif (makin berat) saat beraktifitas.

Adakalanya terdengar suara mengi (ngik-ngik).

pada pemeriksaan dengan stetoskop (auskultasi) terdengar suara krokkrok terutama saat inspirasi (menarik napas) yang menggambarkan
adanya dahak di saluran napas.

2.5 Patofisiologi
Bronkitis Kronik berhubungan dengan berlebihnya mukus trakeobronkial,
cukup membuat batuk dengan dahak selama 3 bulan dalam setahun sekurangnya
2 tahun berurutan. Gambaran histopatologinya menunjukkan hipertrofi kelenjar
mukosa bronkial dan peradangan peribronkial yang menyebabkan kerusakan
lumen bronkus berupa metaplasia skuamos, silia yang abnormal, hiperplasia sel
otot polos saluran pernapasan, peradangan dan penebalan mukosa bronkus.
Ditemukan banyak sel neutrofil pada lumen bronkus dan infiltrat neutrofil pada
submukosa.1,3,5
Terjadi peradangan hebat pada bronkiolus respiratorius, banyak sel
mononuklear, sumbatan mukus. Semua hal diatas menyebabkan obstruksi saluran
pernapasan. Sel epitel pada saluran pernapasan melepaskan mediator mediator
inflamasi sebagai respon dari zat toksik,infeksi, ditambah lagi berkurangnya
pelepasan dari produk regulatori seperti ACE (angiotensin-converting enzym)
dan neutral endopeptidase.1,2
Bronkitis kronik dapat dikategorikan sebagai bronkitis kronik sederhana,
bronkitis kronik mukopurulent, atau bronkitis kronik dengan obstruksi. Bronkitis
kronik dengan ditandai oleh produksi mucoid sputum. Produksi sputum yang

tetap atau berulang tanpa adanya penyakit supuratif seperti bronkiektasis


mengarah pada bronkitis kronik mukopurulen.
Bronkitis kronik harus dapat dibedakan dengan asma. Perbedaannya
didasarkan pada riwayat penyakit sebelumnya: pasien yang menderita bronkitis
kronik mengalami batuk produktif yang lama dan mengi atau wheezing yang
muncul setelahnya,sedangkan pasien dengan asma mengalami mengi yang lama
dan diikuti oleh batuk produktif. Bronkitis kronik bisa akibat dari serangkaian
serangan akut dari bronkitis akut.6

2.6

Klasifikasi6,7
1.

Bronkitis kronis ringan ( simple chronic bronchitis), ditandai dengan


batuk berdahak dan keluhan lain yang ringan.

2.

Bronkitis kronis mukopurulen ( chronic mucupurulent bronchitis),


ditandai

dengan

batuk

berdahak

kental,

purulen

(berwarna

kekuningan).

3.

Bronkitis kronis dengan penyempitan saluran napas ( chronic


bronchitis with obstruction ), ditandai dengan batuk berdahak yang
disertai dengan sesak napas berat dan suara mengi.

Untuk membedakan ketiganya didasarkan pada riwayat penyakit dan


pemeriksaan klinis oleh dokter disertai pemeriksaan penunjang (jika diperlukan),
yakni radiologi (rontgen), faal paru, EKG, analisa gas darah.
2.7 Diagnosis
1. Anamnesis
Adanya batuk berdahak ataupun tidak, biasanya di sertai sesak nafas
yang memberat saat melakukan aktifitas.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemukan keadaan normal dan kadangkadang terdengar suara wheezing di beberapa tempat. Rhonki dapat
terdengar jika produksi sputum meningkat
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Foto thorax
Foto thorax biasanya menunjukkan gambaran normal atau
tampak corakan bronkial meningkat dan terdapat gambaran air
bonkogram. Diagnosis ditegakkan dengan foto thorax dengan
gambaran fotonya tidak dijumpai infiltrat.

b. Uji faal paru


Pada beberapa penderita menunjukkan adanya penurunan uji
fungsi paru.
c. Laboratorium
Pada bronkhitis didapatkan jumlah leukosit meningkat.
2.8 Diferensial Diagnosis
1. Empisema
2. TB Paru
3. Asma
2.9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Bronkitis kronik dilakukan secara berkesinambungan
untuk mencegah timbulnya penyulit, meliputi:8

Edukasi, yakni memberikan pemahaman kepada penderita untuk


mengenali gejala dan faktor-faktor pencetus kekambuhan Bronkitis
kronis.

Sedapat mungkin menghindari paparan faktor-faktor pencetus.

Rehabilitasi medik untuk mengoptimalkan fungsi pernapasan dan


mencegah kekambuhan, diantaranya dengan olah raga sesyuai usia dan
kemampuan, istirahat dalam jumlah yang cukup, makan makanan
bergizi.

10

Oksigenasi (terapi oksigen)

Obat-obat bronkodilator dan mukolitik agar dahak mudah dikeluarkan.

Antibiotika. Digunakan manakala penderita Bronkitis kronis mengalami


eksaserbasi oleh infeksi kuman (H. influenzae, S. pneumoniae, M.
catarrhalis). Pemilihan jenis antibiotika (pilihan pertama, kedua dan
seterusnya) dilakukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan.

Para penderita Bronkitis kronik sebaiknya memeriksakan diri dan


berkonsultasi ke dokter manakala mengalami keluhan-keluhan batuk berdahak
dan lama, sesak napas, agar segera mendapatkan pengobatan yang tepat.
BAB III
ANALISA KASUS

a.

Hubungan Diagnosis dengan keadaan Rumah dan Lingkungan Sekitar


Pasien tinggal di rumah panggung berlantai kayu dan beratap seng.

Memiliki 1 ruang tamu, 4 ruang kamar tidur, 1 ruang keluarga, 1 ruang makan, 1
ruang dapur dan ada kamar mandi. Kamar mandi menggunakan wc jongkok.
Sumber air dari sumur dan PDAM. Rumah memiliki ventilasi pertukaran udara
yang cukup dan cukup pencahayaan. Sekitar rumah cukup padat, dan saling
berdekatan dengan rumah lain.
Penyakit bronkitis kronis dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang
berdebu dan berpolusi. Biasanya pada daerah perkotaan atau tempat tinggal yang
dekat dengan jalan raya maupun dekat dengan pabrik.
Rumah pasien tidak terletak di jalan raya yang padat. Pasien juga tidak
tinggal di daerah perkotaan. Di sekitar tempat tinggal pasien juga tidak terdapat
pabrik ataupun bangsal kayu yang menghasilkan banyak debu. Sehingga pada
pasien ini tidak ada hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan
sekitar.
b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga.
Keadaan keluarga dan hubungan pasien dengan keluarga tergolong baik.
Anak pasien merupakan perokok akitf sehingga sering merokok di rumah. Selain

11

itu Hubungan antar keluarga pun harmonis. Istri dan anak pasien selalu
mendukung pasien untuk rutin melakukan pengobatan.
Penyakit bronkitis dipengaruhi oleh keadaan keluarga maupun hubungan
antar keluarga karena faktor resiko terjadinya bronkitis kronik adalah paparan
debu, asap, kebiasaan merokok. Sehingga dapat disimpulkan ada hubungan
diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga.

c.

Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan


lingkungan sekitar.
Pasien dulunya adalah seorang perokok aktif. Pasien mulai merokok saat

usia 20 tahun. Dalam 1 hari pasien bisa menghabiskan sekitar 1 bungkus rokok.
Walaupun sejak dahulu pasien sudah mulai merasakan batuk dan sedikit sesak
namun pasien tetap mengkonsumsi rokok. Hal ini menandakan pasien tidak
memiliki kepedualian terhadap perilaku kesehatan dirinya.
Lingkungan sekitar pasien juga tidak sehat. Dahulu kebanyakan teman
teman pasien adalah perokok aktif, hal ini menyebabkan pasien sering terkena
paparan asap rokok dari lingkungan sekitar. Pada pasien ini ada hubungan antara
perilaku kesehatan dalam keluarga dan dengan lingkungan sekitar.
d. Analisis kemungkinan berbagai faktor resiko atau etiologi penyakit
pada pasien ini
Kemungkinan faktor resiko terjadinya bronkitis kronis pada pasien ini
adalah kebiasaan merokok dan paparan asap dari lingkungan sekitar. Merokok
merupakan penyebab tersering bronkitis kronis karena komponen asap rokok
menstimulasi perubahan pada selsel penghasil mukus bronkus dan silia.
Komponenkomponen tersebut juga menstimulasi inflamasi kronis. Secara
patologis rokok berhubungan dengan hiperplasi kelenjar mucus bronkus dan
metaplasia skuamus epitel saluran pernapasan juga dapat menyebabkan
bronkokonstriksi kronis.
Eksasebasi bronkhitis disangka paling sering diawali dengan infeksi
virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang

12

diisolasi paling banyak adalah hemophilus influenza dan streptococcus


pneumonie. Pajanan debu dan gas berbahaya. Polusi tidak begitu besar
pengaruhnya sebagai factor penyebab, tetapi bila ditambah merokok resiko akan
lebih tinggi. Zat-zat kimia dapat juga menyebabkan bronkhitis adalah zat-zat
pereduksi O2, zat-zat pengoksidasi seperti N2O, hidrokarbon, aldehid,ozon. Pada
kasus ini dapat disimpulkan bahwa faktor resiko pada pasien ini kebiasaan
merokok.
e.

Analisis untuk mengurangi paparan/memutuskan rantai penularan


dengan faktor resiko atau etiologi pada pasien ini
Untuk mengurangi paparan/memutuskan rantai penularan dengan faktor

resiko atau etiologi pada pasien ini adalah dengan cara berhenti merokok, tidak
berada didekat orang yang sedang merokok, tidak berada di tempat yang banyak
debu serta menghindari terkena penyakit inflamsi paru lainnya. Selain itu pasien
juga disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi zat gizi untuk
meningkatkan daya tahan tubuh, karena penyakit bronkitis kronis juga sering
mengenai mereka yang daya tahan tubuhnya sedang tidak baik. Pasien juga
disarankan untuk rutin berobat ke puskesmas dan mengkonsumsi obat secara
teratur.

13

DAFTAR PUSTAKA

1.

Snell, SR. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC; 2006.
hal. 88-90.

2.

Hartanto H, Natalia S, Pita W, Dewi AM. Anatomi dan fisiologi sistem


pernapasan. Dalam Wilson LM, editor. Patofisiologi konsep klinis prosesproses penyakit. Edisi ke-enam. Terjemahan Price SA, Lorraine MW.
Pathophysiology: Clinical concepts of disease processes. Jakarta: EGC;
2005. hal. 736-69.

3.

Novrianti A, Frans D, Titiek R, Luqman YR, Husny M, Aryandhito WN, et


al, editor. Fisiologi kedokteran. Edisi ke-dua puluh dua. Terjemahan Ganong
WF. Medical physiology. Jakarta: EGC; 2008. hal. 669-78.

4.

Rachman LY, Huriawati H, Andita N, Nanda W, editor. Buku ajar fisiologi


kedokteran. Edisi ke-sebelas. Terjemahan Guyton AC, Hall JE. Textbook of
medical physiology. Jakarta: EGC; 2007. hal. 495-559.

5.

Santoso BI, editor. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi ke-dua.
Terjemahan Sherwood L. Human physiology: from cells to systems. Jakarta:
EGC; 2001. hal. 410-35.

6.

PDT Ilmu Penyakit Paru FK Unair, RSU Dr. Soetomo, edisi 3, 2005.

7.

Bronchitis, Jazeela Fayyaz, DO, eMedicine Specialties Pulmonology, 2009

8.

Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Dalam, Lawrence M, Tierney, Jr, MD et


all, 2002.

14

DOKUMENTASI

15