Anda di halaman 1dari 5

Immunoassay untuk sifilis memegang peranan yang penting dalam

diagnosis laboratories dari penyakit sifilis ,sebab perjalanan penyakit lama


dan sampai dewasa ini T. pallidum belum berhasil untuk dibenihkan pada
suatu media perbenihan . sedangkan pemeriksaan secara langsung
(mikroskopis) hanya dapat dikerjakan pada bahan yang diambil dari lesi
lues (ulcus durum,condylomata lata,dan reseola) yang seringkali hanya
muncul dalam waktu yang relative singkat dan sering member hasil yang
negative semu.
Suatu infeksi dengan suatu kuman,umumnya akan membangkitkan
pembentukan antibody pada tubuh penderita.Demikian juga halnya pada
infeksi dengan T.pallidum . pembentukan antibody pada penderita sifilis
baru terjadi setelah agak lama penderita menderita penyakit
tersebut,yaitu dimulai pada akhir stadium pertama atau permulaan
stadium kedua.
Hal ini terutama disebabkan oleh karena kuman ini diliputi oleh
suatu selaput mucoid yang menyebabkan kuman ini menjadi kebal
terhadap fagositosis. Baru setelah kuman ini agak lama berada dalam
tubuh atau telah menyebar ke kelenjar lemfe regional(akhir stadium
pertama), pembentukan antibody humoral yang nyata mulai terjadi.
Dari segi imunoassai ,suatu infeksi dengan T .pallida.yang dikenal
sebagai penyebab dari sifilis akan menimbulkan 2 jenis antibody sebagai
berikut :
1. Antibody nontreponemal atau regain sebagai akibat dari sifilis atau
penyakit infeksi yang lain. Antibody ini baru terbentuk setelah
penyakit menyebar ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan
kerusakan jaringan. Antibody ini memberikan reaksi silang dengan
beberapa antigen dari jaringan lain seperti misalnya dengan antigen
lipoid dari ekstrak otot jantung.
2. Antibody treponemal yang bereaksi dengan T.pallida. dan
closelyrelatedstrains. Dalam golongan antibody ini dapat dibedakan
2 jenis antibody,yaitu:

Group treponemal antibody, yaitu antibody terhadap antigen


somatic yang dimiliki oleh semua Treponema.

Antibody treponemal yang spesifik,yaitu antibody terhadap antigen


spesifik dari T.Pallidum.

Macam Imunoassai untuk sifilis


Berdasarkan kenyataan tersebut di atas maka imunoassai untuk
sifilis dapat dibagi menjadi 3 golongan besar,yaitu :
1. USS yang menggunakan regain sebagai antibody dan lipoid sebagai
antigen. Termasuk di sini yaitu:
a. VDRL(Veneraal Disease Research Laboratory);merupakan
uji presipitasi.
b. RPR(Rapid Plasma Reagin);merupakan uji flokulasi.
c. CWR(Cardiolipin Wassermann);merupakan uji faksasi
komplemen.
2. Imunoassai yang mempergunakan beberapa strain saprofitik dari
treponema. Reiter Protein Complement Fixation(RPCF);merupakan
uji fiksasi complement.
3. Imunoassai yang menggunakan T.pallid sebagai antigen. Termasuk
disini adalah :
a. Treponema pallidum Complement Fixation
b. Treponema Wasserman (T-WR)
c. Treponama pallidum immobilization (TPI)
d. Treponema pallidum immobilization Lyzozym (TPIL)
e. Treponema pallidum immobilization-Symplification
f. Flurorescence Troponemal antibody-5 (FTA-5)
g. FTA-200

h. FTA-absorption
i. FTAiinhibitori
j. Treponema pallidum Hamagglutination (TPHA);merupakan
uji aglutinasi
k. Treponema pallidum immunoaneadhrence (TPIA)
l. ELISA-Treponema pallidum

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Treponema pallidum yang
menyerang manusia. Nama lain dari sifilis penyakit raja singa. Penyakit ini mempunyai
beberapa sifat, yaitu perjalanan penyakitnya sangat kronis, dapat menyerang semua
organ tubuh, dapat menyerupai macam-macam penyakit, mempunyai masa laten, dapat
kambuh kembali (rekuren), dan dapat ditularkan dari ibu ke janinnya sehingga
menimbulkan sifilis kongenital. Selain melalui ibu ke janinnya dan melalui hubungan
seksual, sifilis bisa juga ditularkan melalui luka, transfusi dan jarum suntik .
Diagnosis serologis biasanya memakan waktu enam minggu, dimana pada keadaan ini
uji flokulasi seperti reaksi Wasserman atau VDRL akan positif. Karena banyak penyakit
misalnya patek dapat memberikan reaksi Wasserman yang positif, maka disiapkan suatu
uji imobilisasi Treponema pallidum (TPI).
Berdasarkan cara penularannya, sifilis dibagi menjadi 2 macam:
1. Sifilis Kongenital (Bawaan)
Sifilis dapat ditularkan oleh ibu pada janinnya saat persalinan, namun sebagian besar
kasus sifilis kongenital merupakan akibat penularan in utero.
2. Sifilis Akuisita (didapat)
Sifilis yang ditularkan melalui hubungan seksual, luka, transfusi darah dan jarum
suntik.
Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang melalui 4 tahapan:

1. Stadium Primer
Terbentuk Chancre pada tempat infeksi sekitar 3 minggu setelah infeksi yang
berukuran beberapa mm sampai 2 cm. Chancre ini bersifat soliter, nyeri, mengeras,
dan terutama terdapat di daerah genitalia, mulut dan anus (Wilson, 2001).
Kebanyakan chancre muncul pada penis, anus, dan rektum pada pria,
sedangkan pada wanita pada vulva, leher rahim dan antara vagina dan anus
(perineum). Selain itu dapat terbentuk di bibir, tangan, atau mata. Luka di vagina dan
anus mungkin tak terdeteksi kecuali jika dilihat oleh seorang dokter.
2. Stadium Sekunder
Gejala klinis pada stadium ini biasanya terjadi 6 minggu setelah pecahnya
Chancre atau selambat-lambatnya 6 bulan setelah infeksi. Penderita sering
mengalami demam.Semua jaringan tubuh dapat diserang terutama kulit dan selaput
lendir. Kulit dapat mengalami kelainan yang tidak gatal berupa makula, papula,
pustula (Wilson, 2001).
3. Stadium Laten
Pada stadium ini disebut fase tenang yang terdapat antara hilangnya gejalagejala klinik sifilis sekunder dan tersier ini berlangsung antara beberapa bulan sampai
bertahun-tahun. Bakteri tetap aktif dalam kelenjar getah bening dan limpa. Stadium
ini bisa bertahan
Sekitar

3-30 tahun dan mungkin tidak berlanjut ke sifilis tersier.

30% dari orang yang terinfeksi bertahan dalam keadaan laten.

4. Stadium Tersier
Stadium tersier dapat terjadi bertahun-tahun setelah gejala-gejala sifilis
sekunder

menghilang. Muncul kelainan-kelainan yang terjadi akibat reaksi alergi.

Kelainan
mata, jantung,

yang terjadi berupa


pembuluh darah, hati,

rusaknya organ dalam seperti otak, syaraf,


tulang, dan persendian.

Handojo, Indo. 2004. Imunoassay Terapan Pada Beberapa Penyakit Infeksi. Surabaya:
Airlangga University Press.
Sekar, Pangesti. 2014. Makalah VDRL.
http://pangestisekarayu.blogspot.com/2014/09/makalah-vdrl.html diakses