Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

A; Latar Belakang Masalah


Belajar kelompok adalah salah satu metode belajar yang bisa untuk
meningkatkan kemampuan belajar siswa. Dengan belajar kelompok, siswa
dapat diajarkan untuk saling bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai
permasalahan-permasalahan dan solusinya. Pentingnya belajar kelompok
untuk para siswa bertujuan agar anak dapat bersosialisasi, bekerjasama dan
dapat mengaktualisasikan diri, terutama untuk kegiatan yang memerlukan
pemecahan masalah bersama, seperti melakukan percobaan, berdiskusi,
bermain peran, juga untuk mendorong agar anak pemalu dan penakut mau
berbicara.Dengan membiasakan anak belajar kelompok, berarti juga
menyiapkan anak untuk menjadi dewasa yang bisa bekerjasama dengan orang
lain,disamping dapat mrnumbuhkan kreativitas siswa dalam memecahkan
masalah.
Selain meningkatkan sosialisasi, juga melatih siswa bekerjasama,
mampu berinteraksi dengan teman lain, dengan tidak memaksakan kehendak
dan berargumentasi dengan akal sehat, atau secara umum mengembangkan
kemampuan intelektual anak dalam melakukan proses berpikir.
Lembaga pendidikan (sekolah) merupakan wadah para siswa dalam
menggali ilmu pengetahuan. Setiap siswa mempunyai cara belajar sendiri, ada
yang belajar secara individu dan ada juga belajar dengan berkelompok. Salah

satu faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkat hasil belajar siswa
adalah motivasi belajar yang ada pada diri siswa. Adanya motivasi belajar
yang kuat membuat siswa belajar dengan tekun yang pada akhirnya terwujud
dalam hasil belajar siswa tersebut. Oleh karena itulah,melalui layanan
bimbingan kelompok diberi arahan agar tanggung jawab belajar ditanamkan
pada diri siswa, dengan demikian siswa dengan senang hati akan mengikuti
materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah. Perlu ditanamkan pada
diri siswa bahwa dengan belajar mereka akan mendapatkan pengetahuan yang
baik,siswa akan mempunyai bekal menjalani kehidupannya di kemudian hari.
Selain itu belajar kelompok juga dapat mengasah kreativitas anak karena
dalam proses belajar kelompok anak akan dapat menemukan permasalahan
dan dituntut untuk berfikir kreatif untuk menemukan solusi atau pemecahan
dari permasalahn yang ada saat diskusi maupun belajar kelompok.
Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada
prinsipnya belajar kelompok merupakan masalah penting bagi siswa atau anak
didik. Pentingnya atau perlunya belajar kelompok ini dapat terlihat pada
kegiatan yang dilaksanakan siswa. Dengan maksud belajar kelompok di sini
bukanlah hanya untuk kesempatan bergaul, berkumpul dengan teman-teman
tetapi usaha untuk aktif berdiskusi, aktif belajar bersama supaya bisa
terlaksana dengan baik sehingga dapat meninggkatkan motivasi belajar yang
baik pula. Selain itu siswa juga dituntut untuk kreatif saat berdiskusi atau
belajar kelompok sehingga dapat memecahkan permasalahan ataupun
menyelesaikan tugas dengan baik sehingga belajar kelompok akan lebih

menyenangkan dan mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa dan terasa


menyenangkan karena siswa dituntut untuk berpikir kreatif saat belajar.
Namun demikian penulis masih menemukan kelompok belajar yang ada
belum optimal, masih ditemukan beberapa siswa yang motivasi belajarnya
masih rendah dan kreativitas belajarnya juga masih rendah.
Sehubungan dengan masalah tersebut di atas, maka penulis akan
mengadakan penelitian yang berjudul : Hubungan antara Belajar Kelompok
dan Motivasi Belajar dengan kreativitas Siswa Kelas VIII di Sekolah
Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Tempel Sleman Yogyakarta Tahun
Pelajaran 2013/2014.
B; Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka masalah
yang dapat diidentifikasikan dalam penelitian ini adalah :
1; Dalam belajar kelompok, siswa masih mengalami beberapa kesulitan
diataranya menyesuaikan diri dengan individu lain, masih merasa malu
mengungkapkan pendapatnya.
2; Banyak siswa yang tidak memiliki motivasi belajar yang kuat sehingga
mengakibatkan hasil belajarnyamenurun.
3; Banyak siswa yang masih pasif saat berdiskusi sehingga perlu diberikan
motivasi agar mampu berpikir kreatif.
4; Bahwa penggunaan belajar kelompok dan motivasi belajar berhubungan
dengan kreativitasbelajar siswa..

C; Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini tidak membahas semua permasalahan yang


teridentifikasi, namun dibatasi pada Hubungan antara Belajar Kelompok dan
Motivasi Belajar dengan Kreativitas Siswa Kelas VIII di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Negeri 4 Tempel Sleman Yogyakarta Tahun Pelajaran
2013/2014.
D; Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada hubungan antara belajar kelompok dengan kreativitas belajar
siswak kelas VIII (SMP) Negeri 4 Tempel Sleman Yogyakarta Tahun
Pelajaran 2013/2014?
2. Apakah ada hubungan antara motivasi belajar dengan kreativitas belajar
siswa kelas VIII (SMP) Negeri 4 Tempel

Sleman Yogyakarta Tahun

Pelajaran 2013/2014?
3. Apakah ada hubungan antara belajar kelompok dan motivasi belajar dengan
kreativitas siswa kelas VIII (SMP) Negeri 4 Tempel Sleman Yogyakarta
Tahun Pelajaran 2013/2014?
E; Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui :
1. Hubungan antara belajar kelompok dengan kreativitas belajar siswa kelas
VIII (SMP) Negeri 4 Tempel Sleman Yogyakarta Tahun Pelajaran
2013/2014?

2. Hubungan antara motivasi belajar dengan kreativitas belajar siswa kelas


VIII (SMP) Negeri 4 Tempel

Sleman Yogyakarta Tahun Pelajaran

2013/2014?
3. Hubungan antara belajar kelompok dan motivasi belajar dengan kreativitas
siswa kelas VIII (SMP) Negeri 4 Tempel Sleman Yogyakarta Tahun
Pelajaran 2013/2014?
4. Besar sumbangan efektif antara belajar kelompok dan motivasi belajar
dengan kreativitas belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Tempel tahun
ajaran 2013/2014?
F; Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah penelitian
pendidikan dan sebagai pedoman pelaksanaan layanan Bimbingan dan
Konseling di sekolah.
2. Manfaat Praktis
a; Bagi peneliti
Peneliti dapat memiliki pengetahuan tentang hubungan antara
penggunaan belajar kelompok dan motivasi belajar dengan kreativitas
belajar pada siswa di sekolah.
b; Bagi siswa
Sebagai pemahaman agar lebih meningkatkan motivasi belajarnya
dengan jalan belajar kelompok.
c; Bagi orang tua
Dapat dijadikan sebagai pemahaman untuk mendorong motivasi
belajar dan mengarahkan anak untuk mempunyai kegiatan positif yaitu

belajar kelompok serta selalu memperhatikan anak agar selalu berpikir


kreatif.
d; Bagi sekolah
Memberi masukan kepada sekolah, supaya guru dalam mengajar
dapat menerapkan belajar kelompok dan memotivasi belajar siswasiswanya, menumbuhkan kreativitas siswa sehingga siswa dapat
disiplin dan belajar dengan baik dan rajin.

BAB II
KAJIAN TEORI

A; Landasan Teori
1; Belajar Kelompok

a;

Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. belajar juga adalah suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah

laku

yang

baru

secara

keseluruhan,

sebagai

hasil

pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya


(Slameto, 2003 : 2).
Ahli pendidikan modern merumuskan bahwa belajar adalah
suatu bentuk pertmbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang
dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat
pengalaman dan latihan (Aqib, 2003 : 42).
Belajar merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang
tanpa mengenal batas usia dan berlangsung seumur hidup (Rohadi,
2003:4)
b;

Pengertian Kelompok
Menurut Johnson (2002:22) kelompok adalah dua orang atau
lebih individu yang berinteraksi secara tatap muka masing-masing
menyadari keanggotaannya dalam kelompok,mengetahui dengan pasti
individu-individu dalam kelompok, dan masing-masing menyadari
saling ketergantungan mereka yang positif dalam mencapai tujuan
bersama.
Pengertian kelompok mengacu kepada Kamus Besar Bahasa
Indonesia, bahwa kata kelompok adalah kata sifat yang artinya
kumpulan orang; yang tidak mengerjakan sendiri-sendiri. Konotasi

lain dari kata kelompok adalah berkumpul, kata kumpul ialah sebuah
kata sifat yang artinya bersama-sama menjadi satu kesatuan atau
kelompok (tidak terpisah-pisah).
Berdasarkan definisi di atas, penulis dapat menyimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan metode belajar kelompok adalah suatu
metode yang diterapkan dalam rangka menciptakan situasi belajar
yang di dalamnya para siswa dapat belajar bersama-sama, sehingga
mereka dapat mencapai hasil yang maksimal.
c;

Tujuan Belajar Kelompok


Menurut Roestiyah (2001:32) tujuan menggunakan teknik kerja
kelompok adalah :
1; Mengembangkan keterampilan bertanya.
2; Siswa lebih intensif dalam melakukan penyelidikan.
3; Mengembangan bakat kepemimpinan.
4; Guru lebih memperhatikan siswa.
5; Siswa lebih aktif.
6; Mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar siswa.

Selanjutnya Mudjiono (2002:3) menjelaskan pembelajaran


kelompok kecil merupakan perbaikan dari kelemahan pengajaran
klasikal. Adapun pada pembelajaran kelompok kecil mempunyai
tujuan :
1; Memberi

kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan

kemampuan memecahkan masalah secara rasional.

2; Mengembangkan sikap sosial dan semangat gotong royong dalam

kehidupan.
3; Mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar, sehingga setiap

anggota merasa diri sebagai bagian kelompok yang bertanggung


jawab.
4; Mengembangkan kemampuan kepemimpinan-kepemimpinan pada

setiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok.


Dari beberapa sumber tersebut penulis menyimpulkan tujuan
dari belajar kelompok sebagai berikut:
1; Melatih kerja sama antar siswa
2; Memotivasi siswa agar belajar lebih rajin
3; Melatih kepercayaan diri siswa dalam berpendapat
4; Melatih

siswa

agar

berfikir

kreatif

unruk

memecahkan

permasalahan yang ada

d;

Ciri-ciri diskusi kelompok yang efektif:


Efektif (keberhasilan) diskusi kelompok dapat dilihat dari
segihasil dan proses diskusi:
1; dari segi hasilnya, diskusi yang efektif ialah:
a; maslah yang didskusikan dapat terpecahkan
b; ada keutusan yang dapat direalisasikan. Semakin bayak

keputusan yang dapat direalisasikan semakin efektiflah diskusi


tersebut.
c; Waktu diskusi tidak diperpanjang.

10

d; Semua peserta diskusi menerima dan menghormati keputusan

diskusi, meskipun diluar tempat dan waktu diskusi.


2; Dari segi prosesnya, diskusi yang efektif ialah :
a; semua peserta mengambil bagian secara aktif, ( pemimpin dan

semua anggota sama-sama aktif) artinya semuanya berusaha


ikut menyumbangkan pikiran dan pengalamannya.
b; Pertentangan pendapat dan ketegangan dapat diatasi, sebelum

diskusi selesai, artinya tidak lagi ada permusuhan atau dendam


di antara para peserta setelah selesai diskusi.
c; Diskusi memberikan keputusan emosional (rasa puas) di antara

anggotanya, keinginan untuk diskusi lagi, dan hubungan yang


lebih akrab setelah diskusi.
d; Ketrampilan para siswa sebagai anggota atau pemimpin diskusi

makin bertambah. Hal ini dapat dilihat pada kesempatan


diskusi berikutnya atau dalam percakapan sehari-hari:
1; siswa

lebih

mampu

mengungkapkan

pendapat

dan

pengalamannya
2; siswa lebih mampu memimpin diskusi
3; siswa lebih msmpu melakukan analisis dan sintesi atas

pendapat dan pengalam teman-teman


4; siswa dapat menjadi pengdengar yang baik, di samping

menjadi pembicara yang baik.


Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan penulis
menyimpulkan beberapa

ciri

dalam pembelajaran secara

kelompok, yaitu :
1; siswa sadar sebagai anggota kelompok

11

2; siswa memiliki tujuan bersama


3; siswa memiliki rasa saling membutuhkan
4; interkasi dan komunikasi antar anggota
5; ada tindakan bersama
6; guru bertindak sebagai fasilitator, pembimbing dan pengendali

ketertiban kerja.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut menunjukkan bahwa metode
pembelajaran kelompok dapat membantu memecahkan masalah
yang sedang dihadapi secara bersama-sama.
e;

Cara-cara pembentukan kelompok belajar siswa Drs. Dewa Ketut


Sukardi,MBA., MM (2010 :229-231) :
Ada beberapa cara atau proses pembentukan kelompok belajar
siswa antara lain:
Siswa membentuk sendiri kelompoknya, atas dasar:
1; Hubungan akrab dengan sesama teman,
2; Persamaan minat terhadap mata pelajaran,
3; Tempat tinggal berdekatan atau
4; Persamaan tingkat kecerdasan atau prestasi belajar

Kelompok belajar dibentuk oleh guru


1; Dengan cara acak atau undian
2; Atas dasar persamaan minat atau bakat,
3; Dengan mencampur siswa yang cerdas dan yang kurang cerdas
4; Dengan maksud lainnya, misalnya memecah kelompok siswa yang

nakal ke dalam kelompok-kelompok yang normal.

12

Kombinasi kehendak siswa dan guru


1; Dengan memperhatikan hasil sosiometri (pilihan 3 teman yang kau

sukai untuk belajar bersama dalam matematika).


2; Siswa mengajukan rencana anggota kelompok, pembimbing

memberi sarann menyetujui, atau menolaknya


Sehingga dapat disimpulkan bahwa cara pembenntukan
kelompok ada tiga yaitu dibentuk oleh guru, dibentuk oleh kehendak
siswa itu sendiri dan yang terahir gabungan antara guru dan siswa.
f; Manfaat belajar Kelompok

Untuk membentuk manusia demokratis harus ditekankan pelaksanaan


kerjasama atau kerja kelompok, karena menurut para ahli pendidikan prinsip
kerjasama lebih banyak faedahnya daripada sistem persaingan.
Nasution (2000:34) mengemukakan beberapa manfaat dari kerja kelompok
sebagai berikut.
1; Mempertinggi hasil belajar, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
2; Keputusan kelompok lebih mudah diterima setiap anggota, bila mereka

turut memikirkan dan memutuskan bersama-sama.


3; Mengembangkan perasaan sosial dan pergaulan sosial yang baik.
4; Meningkatkan rasa percaya diri anggota kelompok.

Sedangkan Roestiyah (2001:32) keuntungan menggunakan teknik kerja


kelompok adalah :
1;

mengembangkan keterampilan bertanya

2;

siswa lebih intensif dalam melakukan penyelidikan

3;

mengembangan bakat kepemimpinan

4;

guru lebih memperhatikan siswa

13

5;

siswa lebih aktif

6;

mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar siswa.

Selanjutnya Mudjiono (2002:3) menjelaskan pembelajaran kelompok


kecil merupakan perbaikan dari kelemahan pengajaran klasikal. Adapun pada
pembelajaran kelompok kecil mempunyai tujuan :
1;

Memberi

kesempatan

kepada

siswa

untuk

mengembangkan

kemampuan memecahkan masalah secara rasional


2;

Mengembangkan sikap sosial dan semangat gotong royong dalam


kehidupan

3;

Mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar, sehingga setiap


anggota merasa diri sebagai bagian kelompok yang bertanggung
jawab

4;

Mengembangkan kemampuan kepemimpinan-kepemimpinan pada


setiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok.
Dari beberapa sumber tersebut, penulis dapat menyimpulkan beberapa

manfaat dari belajar kelompok diantaranya:


1;

melatih diskusi antar kelompok

2;

melatih kerjasama antar siswa

3;

melatih siswa agar siswa aktif dalam suatu diskusi kelompok

4;

mengembangkan kreativitas siswa dalam diskusi kelompok

2; Motivasi Belajar
a; Pengertian Motivasi

14

Menurut Walgito (2002):Motif berasal dari bahasa latin movere


yang berarti bergerak atau tomoveyang berarti kekuatan dalam diri
organisme yang mendorong untuk berbuat(driving force). Motif sebagai
pendorong tidak berdiri sendiri tetapi saling terkaitdengan faktor lain yang
disebut dengan motivasi.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2000 : 114) motivasi adalah
perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata
berupa kegiatan fisik, karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari
aktivitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk
mencapainya dengan segala upaya yang dapat dia lakukan untuk
mencapainya. Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila didalam
dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar, sebab tanpa mengerti apa yang
akan dipelajari dan tidak memahami mengapa hal tersebut perlu dipelajari,
maka kegiatan belajar mengajar sulit untuk mencapai keberhasilan.
Keinginan atau dorongan inilah yang disebut sebagai motivasi.
Dengan motivasi orang akan terdorong untuk bekerja mencapai
sasaran dan tujuannya karena yakin dan sadar akan kebaikan, kepentingan
dan manfaatnya. Bagi siswa motivasi ini sangat penting karena dapat
menggerakkan perilaku siswa kearah yang positif sehingga mampu
menghadapi segala tuntutan,kesulitan serta menanggung resiko dalam
belajar.
Dalam kaitannya dengan belajar, motivasi sangat erat hubungannya
dengan kebutuhan aktualisasi diri sehingga motivasi paling besar

15

pengaruhnya pada kegiatan belajar siswa yang bertujuan untuk mencapai


prestasi tinggi. Apabila tidak ada motivasi belajar dalam diri siswa, maka
akan menimbulkan rasa malas untuk belajar baik dalam mengikuti proses
belajar mengajar maupun mengerjakan tugas-tugas individu dari guru.
Orang yang mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar maka akan
timbul minat yang besar dalam mengerjakan tugas, membangun sikap dan
kebiasaan belajar yang sehat melalui penyusunan jadual belajar dan
melaksanakannya dengan tekun.
Gleitman dan Reiber yang dikutip oleh Muhibbin Syah (2002:136)
berpendapat, bahwa motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk
bertingkah laku secara terarah.
Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut
diatas, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks,
karena motivasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan energi dalam
diri individu untuk melakukan sesuatu yang didorong karena adanya
tujuan, kebutuhan atau keinginan.
b; Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan


tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. belajar juga adalah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003 : 2).

16

Ahli pendidikan modern merumuskan bahwa belajar adalah suatu


bentuk pertmbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan
dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan
(Aqib, 2003 : 42).
Belajar merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa
mengenal batas usia dan berlangsung seumur hidup (Rohadi, 2003:4)
c; Pengertian Motivasi Belajar

Menurut H. Mulyadi (2000:87) menyatakan bahwa motivasi


belajar adalah membangkitkan dan memberikan arah dorongan yang
menyebabkan individu melakukan perbuatan belajar.
Menurut Hamzah B. Uno ( 2007 : 23 ) Motivasi belajar adalah
dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang belajar
untuk mengadakan perubahan tingkah laku pada umumnya dengan
beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal ini mempunyai
peranan besar dalam
keberhasilan seseorang dalam belajar.
Sardiman (2008: 73-74), menjelaskan bahwa motivasi akan
menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri
manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan,
perasaan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.
Semua ini didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.
Dari pengertian-pengertian tersebut motivasi dapat dipandang dari
dua segi, yaitu pertama segi potensi, dalam hal ini motovasi masih berupa

17

kemauan atau kehendak untuk berbuat sesuatu. Kedua segi penampakan


yaitu motivasi tergambar dalam perbuatan nyata beserta hasil-hasilnya.
Dikaitkan dengan kegiatan belajar, motivasi ditinjau dari segi potensi
dapat berupa sikap, sedangkan penampakannya berupa prilaku belajar.
Motivasi belajar dapat diartikan sebagai daya penggerak dalam diri
siswa yang akan menimbulkan dan memberikan arah pada kegiatan dalam
meraih prestasi yang optimal menuju perkembangan pribadi manusia yang
seutuhnya.
Dari beberapa sumber tersebut, penulis menarik kesimpulan
motivasi belajar merupakan bentuk dorongan atau semangat untuk belajar
baik dari diri sendiri atau orang lain sehngga individu lebih semangat
untuk belajar.
d; Jenis- jenis motivasi belajar

Menurut Sardiman AM (2001: 88-90) motivasi dibagi menjadi dua


tipe atau kelompok yaitu intrinsik dan ekstrinsik :
1; Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik merupakan motif-motif yang menjadi aktif


atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri
setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Contohnya seseorang yang senang membaca tidak usah disuruh atau
mendorongnya, ia sudah rajin membaca buku-buku untuk dibacanya.
2; Motivasi ekstrinsik

18

Motivasi ekstrinsik merupakan motif-motif yang aktif dan


berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Contohnya
seseorang itu belajar, karena tahu besok pagi ada ujian dengan harapan
akan mendapatkan nilai baik, atau agar mendapatkan hadiah. Jadi
kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara
langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu.
Jadi motivasi terbagi menjadi dua, yaitu motivasi yang berasala
dari individu itu sendiri atau disebut motivasi intrinsik dan motivasi
yang berasal dari luar atau dorongan dari orang lain yang disebut
sebagai motivasi ekstrinsik.
e; Ciri-ciri Siswa yang mempunyai motivasi dalam Belajar

Menurut Slameto (2003 :58) siswa yang berminat dalam belajar


mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk untuk memperhatikan
dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.
2) Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.
3) Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang
diminati.
4) Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati.
5) Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang
lainnya.
6) Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.

19

Menurut Sardiman ( 2001 : 24 ) beberapa siswa yang memiliki


motivasi belajar tinggi diantaranya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mempunyai rasa ketertarikkan pada guru dalam arti tidak membenci
atau bersikap acuh tak acuh.
2) Selalu memperhatikan dengan antusiasme yang tinggi.
3) Ingin identitasnya diakui dan diketahui.
4) Selalu mengingat pelajaran dan mengulanginya kembali.
5) Mempunyai kebiasaan moral yang terkontrol.
6) Tekun dalam menghadapi tugas-tugas.
7) Dapat bekerja dalam waktu yang lama.
8) Ulet dalam menghadapi kesulitan dan tidak
Ciri-ciri motivasi belajar berdasarkan pendapat Hamzah B. Uno
(2008: 23) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Adanya hasrat dan keinginan berhasil
2) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar
3) Adanya harapan dan cita-cita masa depan
4) Adanya penghargaan dalam belajar
5) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar
6) Adanya lingkungan belajar yang kondusif.
Dari beberapa sumber diatas penulis dapat menyimpulkan ciri-ciri
siswa yang mempunyai motivasi belajar diantaranya diantaranya siswa
tekun menghadapi tugas, siswa ulet menghadapi kesulitan belajar, siswa
senang terhadap mata pelajaran, siswa memperhatikan saat guru

20

menerangkan materi, siswa rajin mengikuti pelajaran, siswa tidak cepat


bosan pada tugas-tugas yang rutin, siswa memiliki keinginan berhasil yang
tinggi, siswa berani mempertahankan pendapat selagi merasa benar dan
yakin, siswa tidak mudah menyerah mengerjakan soal-soal latihan yang
dianggap sulit, siswa percaya diri bertanya tentang materi yang belum
dikuasai. Apabila terdapat ciri-ciri tersebut dapat dikatakan telah memiliki
motivasi belajar yang baik.
f;

Fungsi Motivasi dalam Belajar


Menurut Sardiman A M ( 2005 : 85 ) ada tiga fungsi motivasi :
1). Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena
ada sesuatu yang dicari, muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu
yang akan di cari dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya
dari sesuatu yang akan di pelajari. Sesuatu yang belum di ketahui itu
akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari
tahu.
2). Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan
suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam
bentuk gerakan. Disini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar
dengan segenap jiwa dan raga. Akal pikiran berproses dengan sikap
raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar.
3). Motivasi sebagai pengarah perbuatan

21

Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana


perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan.
Seorang anak didik yang ingin mendapatkan sesuatu dari suatu mata
pelajaran terentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata
pelajaran lain. Pasti anak didik akan mempelajari mata pelajaran
dimana tersimpan sesuatu yang akan dicarinya itu. Sesuatu yang akan
di cari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya.
Hamzah B. Uno (2008: 17), menjelaskan bahwa fungsi motivasi
dalam belajar adalah sebagai berikut:
1) Mendorong manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang
didasarkan atas pemenuhan kebutuhan
2) Menentukan arah tujuan yang hendak dicapai
3) Menentukan perbuatan yang harus dilakukan.
Dari beberapa sumber diatas penulis dapat menyimpulkan fungsi
motivasi dalam belajar sebagai pendorong untuk melakukan aktivitas
belajar. Selain itu dengan adanya motivasi seseorang menjadi lebih
bersemangat untuk mengerjakan sesuatu baik motivasi intrinsik maupun
motivasi ekstrinsik.
h. Membangkitkan Motivasi Belajar
Sukarman ( 2003 : 21 ) menjelaskan bahwa tugas guru adalah
mendidik siswa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu demi
tercapainya

tujuan belajar. Tindakan

atau upaya

guru untuk

membangkitkan motivasi siswa perlu dipikirkan dan dipertimbangkan

22

masak-masak agar usahanya dapat meningkatkan motivasi siswa untuk


belajar. Beberapa tindakan tindakan yang dapat memotivasi siswa
dalam belajar, antara lain:\

1) Memberi angka.
2) Memberi hadiah atau penghargaan.
3) Menumbuhkan rasa sukses.
4) Kerjasama
5) Menciptakan suasana kelas yang sejuk dan menyenangkan.
Menurut Oemar Hamalik ( 2007 : 166 ) mengungkapkan bahwa
guru dapat menggunakan berbagai cara untuk menggerakkan atau
membangkitkan motivasi belajar siswanya, yaitu dengan cara sebagai
berikut:
1) Memberi angka atau nilai yang memotivasi.
2) Memberi pujian, hadiah atau penghargaan.
3) Menumbuhkan rasa sukses dan percaya diri.
4) Kerja kelompok
5) Persaingan yang positif.
6) Menciptakan suasana kelas yang sejuk dan menyenangkan.
7) Penilaian secara kontinue akan mendorong siswa untuk terus belajar.
8) Karyawisata dan ekskursi, siswa akan mendapatkan pengalaman
langsung yang bermakna bagi siswa, sehingga kegiatan belajar dapat
dilakukan lebih menyenangkan.

23

9) Film pendidikan dan belajar melalui media massa. Dengan film


dapat menarik perhatian siswa dalam belajar.
Dari beberapa sumber diatas penulis dapat menyimpulkan
beberapa cara agar siswa termotivasi dalam belajar :
1; Memeberikan dukungan moril kepada anak agar anak mau belajar
2; Memberikan hadiah atau pujian apabila anak mendapatkan nilai yang

baik
3; Menceritakan keberhasilan orang lain agar anak juga termotivasi

untuk menjadi lebih dari orang tersebut.


3; Kreativitas Belajar
a;

Pengertian Kreativitas
Kreativitas menurut Drevdahl seperti yang dikutip oleh Hurlock
(2000:5) mendifinisikan Kreativitas merupakan suatu kemampuan
untuk memproduksi komposisi dan gagasan-gagasan baru yang dapat
berwujud aktifitas imajinatif yang melibatkan pembentukan pola-pola
baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan
dengan keadaan yang sudah ada pada situasi sekarang, hal tersebut
berguna, bertujuan, terarah, dan tidak hanya sekedar fantasi.
Kata kreativitas berasal dari create yang berarti pandai
mencipta. Dalam pengertian yang lebih luas, kreativitas berarti suatu
proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan
originalitas berfikir.

24

Menurut Hurlock (2005:4). Kreativitas adalah kemampuan


untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang
pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatannya.
Menurut

Munandar

yang

diterjemahkan

Sukmadinata

(2003:104) Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi


baru berdasarkan data informasi atau unsur yang ada, berdasarkan data
atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan
jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada
kualitas, ketepat gunaan dan keragaman jawaban, yang mencerminkan
kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan
untuk mengelaborasi suatu gagasan.
Menurut Komite Penasehat Nasional Bidang Pendidikan Kreatif
dan Pendidikan Budaya yang diterjemahkan oleh Craft (2005:291),
Menggambarkan kreativitas sebagai bentuk aktivitas imajinatif yang
mampu menghasilkan sesuatu yang bersifat original, murni, asli, dan
memiliki nilai.
Menurut Suharnan (2005:373), Kreativitas dapat didefinisikan
sebagai aktivitas kognitif atau proses berfikir untuk menghasilkan
gagasan-gagasan yang baru dan berguna atau new ideasand useful.
Dalam 7 Tips AplIkasi PAKEM, Jamal Mamur Asmani
(2013:139) Kreativitas juga diartikan sebagai sebuah proses yang sama
normal dan sama dan menakjubkan seperti bunga mekar diujung

25

tangkai mawar hijau. Kreativitas ibarat darah yang pasti ada didalam
tubuh tanpa harus dicari.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah
suatu kondisi, sikap, kemampuan, dan proses perubahan tingkah laku
seseorang

untuk

menghasilkan

produk

atau

gagasan

mencari

pemecahan masalah yang lebih efisien dan unik dalam proses belajar.
b; Pengertian Kreativitas Belajar

Dalam 7Tips Aplikasi PAKEM, (2013:70) kreativitas belajar


adalah kemampuan untukmenciptakan,mengimajinasikan, melakukan
inovasi, dan melakukan hal-hal artistik lainnya.
Penulis

mengartikan

kreativitas

belajar

sebagai

bentuk

pemecahan masalah belajar dengan cara-cara yang unik dan menarik


sehingga individu mampu belajar dengan menyenangkan dan tanpa
paksaan dari orang lain. Misalnya belajar dengan menggunakan media
kertas berwarna dan kemudian dalam kertas tersebut dicatat berbagai
rumus matematika dan ditempelkan di dinding kamar sehingga setiap
berada di kamar individu tersebut melihat secara terus menerus dan
akan menjadi hafal dengan sendirinya.
c; Aspek Pembelajaran Kreatif

John B Biggs and Ross Telfer PAKEM Anak Usia Dini


(20014:65)

menyebutkan

paling

beberapa

aspek

dari

suatu

pembelajaran kreatif yang harus dipahami oleh seorang guru yakni:

26

1; Memahami potensi siswa yang tersembunyi dan mendorong untuk

berkembang
2; Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan

rasa tanggung jawab siswa untuk melaksanakan tugas.


3; Memahami potensi siswa yang lamban atau lemah.
4; Memotivasi siwa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang

yang diminati dan memeberikan penhargaan.


5; Mengakui pekerjan siswa dalam satu bidang untuk memberikan

semangat pada pekerjaan lain berikutnya.


6; Menggunakan kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk

membangun hubungan dengan realitas dan kehidupan.


d; Ciri- ciri Anak Kreatif

Ciri-ciri anak kreatif Menurut Csikszentmihalyi (Munandar


2002:53) ciri anak kreatif adalah:
1; Memiliki minat yang luas.
2; Mempunyai kegemaran dan menyukai aktivitas yang kreatif.
3; Anak yang kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa

percaya diri.
4; Mereka lebih berani mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan)

daripada anak-anak umumnya.


Ciri-ciri perilaku yang ditemukan Torrance (Munandar 2002:55)
pada orang-orang yang memberikan sumbangan kreatif yang menonjol
terhadap masyarakat digambarkan sebagai berikut:berani dalam
pendiriandan keyakinan,melit (ingin tahu), mandiri dalam berpikir dan
dalam memberi pertimbangan, bersibukdiri terus-menerus dengan
kerjanya atau apa yang menarik perhatiannya, intuitif,ulet,tidak

27

bersedia menerima pendapat orang lain (termasuk otoritas) begitu saja


jika tidak sesuai dengan keyakinannya, dan lain-lainnya. Kenyataan
menunjukkan bahwa guru dan orangtua lebih menginginkan pada anak
yang berperilaku sopan, rajin dan patuh, yaitu ciri-ciri yang tidak
berkaitan dengan kreativitas.
Ciri-ciri Kreativitas belajar menurut Hamalik (2009 : 145) adalah :
1; Mengamati dan menilai dengan tepat apa-apa yang diamatinya
2; Kapasitas otaknya lebih besar
3; Cakrawalanya lebih kompleks
4; Kontraknya lebih luas dengan dunia imajinasi
5; Kebebasan obyektif untuk mengembangkan potensi kreatifnya
6; Kemampuan kognitif
7; Dorongan terhadap nilai dan terhadap latihan mengembangkan

bakatnya.
e; Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas belajar

Menurut Prof. Dr. Utami Munandar (2013 : 35-36) Agar


kreativitas anak dapat terwujud membutuhkan adanya dorongan dalam
diri individu (motivasi ekstrinsik) maupun dorongan dari lingkungan
(motivasi ekstrinsik).
1;

Motivasi anak untuk Kreativitas


Pada setiap orang ada kecenderungan atau dorongan untuk
mewujudkan potensinya, untuk mewujudkan dirinya; dorongan
untuk

berkembang

dan

menjadi

matang,

dorongan

untuk

mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasita seseorang.


Dorongan ini merupakan potensi primer untuk kreativitas ketika

28

individu

membentuk

hubungan-hubungan

baru

dengan

lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya.


2;

Kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif


Menurut rogers dalam pengembangan kreativitas Anak ( 2013 : 38)
penciptaan keamanan dan kebebasan psikologis memungkinkan
timbulnya kreativitas yang kontruktif.
a; Keamanan psikologis

Ini dapat terbentuk dengan tiga proses yang saling berhubungan:


1; Menerima individu sebagaimana adanya dengan dengan segala

kelebihan dan keterbatasan. Jika orang tua atau guru


memeberikan kepercayaan kepada anak bahwa ia pada
dasarnya baik dan mampu, bagaimanapun tingkah laku tingkah
laku atau prestasi anak saat ini maka ia akan mendorong
pengembangan kreativitas anak tersebut. Efeknya adalah anak
menghayati suasanan keamanan.
2; Mengusahakan suasana yang didalamnya evakuasi eksternal

tidak ada (atau sekurang-kurangnya tidak bersifat atau


mempunyai sifat mengancam).
Evaluasi selalu mengandung ancaman sehingga menimbulkan
kebutuhan akan pertahanan. Bagi anak untuk berada dalam
suasana dimana ia tidak dinilai,tidak diukur menurut patokan
dari luar, dapa memberi raa kebebasan.
3; Memberikan

pengertian secara emapatis

(dapat ikut

menghayati) . mengenal dan ikut menghayati perasaan-

29

perasaan anak, pemikirannya, tindakannya, dapat melihat dari


sudut pandang anak dan tetap menerimanya, betul-betul
memberi rasa aman.
4; Kebebasan Psikologis

Jika orang tua atau guru mengizinkan atau memberi


kesempatan pada anak untuk bebas mengekspresikan secara
simbolis pikiran-pikiran atau persaannya, hal tersebut akan
memberikan kebebasan anak dalam berpikir atau merasa sesuai
dengan apa yang ada dalam dirinya. Mengekspresikan dalam
tindakan konkret perasaan-perasaannya (misal memukul) tidak
selalu dimungkinkann karena hidup dalam masyarakat selalu
ada batas-batasnya, tetapi ekspresi secara simbolis hendak
dimungkinkan.
Menurut Amabile (1989) dalam Munandar (2004: 113-114)
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kreaitvitas belajar siswa :
a. Sikap orang tua terhadap kreativitas anak
b. Strategi mengajar guru
Faktor-faktor diatas dijelaskan sebagai berikut:
a. Sikap orang tua terhadap kreativitas anak
Sudah lebih dari tiga puluhh tahun pakar psikologis
mengemukakan bahwa sikap dan nilai orang tua berkaitan erat
dengan kreativitas anak jika kita menggabung hasil penelitian
dilapangan dengan ori-teori penelitian laboratorium mengenai
kreativitas

dengan

teppsikologis

kita

mepperoleh

petunjuk

30

bagaimana sikap orang tua secara langsung mempengaruhi


kreativitas anak mereka.
1; Kebebasan

Orang tua yang percaya untuk memberikan kebebasan kepada


anak cenderung mempunyai anak kreatif. Mereka tidak otoriter,
tidak selalu mau mengawasi dan mereka tidak terlalu membatasi
kegiatan anak.
2; Aspek

Anak yang kreatif biasanya mempunyai orang tua yang


menghormati

mereka

sebagai

individu,

percaya

akan

kemampuan mereka danmengharagai keunikan anak


3; Kedekatan emosional yang sedang

Kreativitas anak dapat dihambat dengan suasana emosional yang


mencerminkan rasa permusuhan, penolakan dan terpisah
4; Prestasi Bukan Angka

Orang tua anak kreatif menghargai prestsi anak, mereka


mendorong

anak

untuk

berusaha

menghsilkan karya-karya yang baik.

b. Menghargai Kreativitas

sebaik-baikknya

dan

31

Anak yang kreatif memperoleh dorongan dari orang tua untuk


melakukan hal-hal yang kreatif.
c. Strategi mengajar guru
Dalam kegiatan mengajar sehari-hari dapat digunakan
sejumlah strategi khusus yang dapat meningkatkan kreativitas.
1;

Penilaian

Penilaian guru terhadap pekerjaan murid yang dapat dilakukan


dengancara :
a; Memberi umpan balik berarti daripada evaluasi yang abstrak

dan tidak jelas


b; Melibatkan siswa dalam menilai pekerjaan mereka sendiri dan
belajar dari kesalahan mereka
c; Penekanan terhadap apa yang telah kamu pelajari dan bukan
pada bagaimana melakukannya.
2; Hadiah

Anak

senang

menerima

hadiah

dan

kadang-kadang

melakukan segala sesuatu untuk memperolehnya. Hadiah yang


terbaik untuk pekerjaan yang baik adalah kesempatan menampilkan
danmempresentasekan pekerjaan sendiri dan pekerjaan tambahan.
3;

Pilihan
Sedapat mungkin berilah kesempatan kepada anak memilih apa

yang nyaman bagi dia selama hal itu sesuain dengan ketentuan yang
ada.

32

Treffinger ( Munandar 2002:54) menyatakan bahwa pribadi


yang kreatif biasanya lebih terorganisir dalam tindakan,dan rencana
inovatif serta produk orisinalnya telah dipikirkan matang-matang
terlebih dahulu,dengan mempertimbangkan masalah yang mungkin
timbul dan implikasinya.
Pribadi kreatif biasanya mempunyai rasa humor yang
tinggi,dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut tinjau,dan
memiliki kemampuan untuk bermain dengan ide,konsep atau
kemungkinan-kemungkinan

yang

dikhayalkan,yang

kemudian

terwujud menjadi karya seni,sastra atau penemuan-penemuan baru.


f; Perkembangan Kreativitas

Menurut Hurlock, studi-studi mengenai kreativitas menekankan


pentingnya sikap awal orang tua terhadap kreativitas anak. Semiawan
dkk mengembangkan kreativitasanak didik meliputi segi kognitif, afektif
dan psikomotorik.
1; Perkembangan

kognitif,

antara

lain

dilakukan

dengan

cara

merangsang kelancaran, kelenturann dan keaslian dalam berfikir


2; Pengembangan afektif, antara lain dilakukan dengan memupuk sikap

dan minat untuk bersibuk diri secara kreatif.


3; Pengembangan psikomotorik, dilakukan dengan menyediakan sarana

dan

prasarana

mengembangkan
produktif,inovatif.

pendidikan

yang

ketrampilannya

memungkinkan

dalam

karya-karya

siswa
yang

33

Ada tiga periode yang sangat kritis dalam perkembangan


kreativitas

di bidang ilmu yaitu periode formatif, periode

embrionik,dan periode produktif.


Periode formatif menunjukkan saat individu mulai mengembangkan
wawasan berfikirnya memperkaya pengalaman dan melatih kepekaan
persepsinya terhadap tantangan yang datang dari luar.
Lehman

menjelaskan

puncak

awal

dalam

kreativitas

disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kesehatan yang buruk,


lingkungan keluarga, tekanan keuangan, dan kekurangan waktu
luang. Tidak terdapat bukti bahwa puncak awal atau penurunan
berikutnya disebabkan oleh batasan bawah.
Pengembangan Kreativitas Menurut Utami Munandar ( 2004 :
45 ) pengembangan

kreativitas siswa perlu meninjau 4 aspek

kreativitas yaitu:
1). Aspek pribadi
Kreativitas adalah ungkapan ( ekpresi ) dari keunikan individu dalam
interaksi dengan lingkungannya. Dari ungkapan pribadi yang unik
dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang
inovatif. Oleh karena itu pendidik hendaknya dapat menghargai
keunikan pribadi dan bakat-bakat siswa. Guru membantu siswa
menemukan bakat-bakatnya dan menghargainya.
2). Aspek pendorong
Bakat kreatif siswa akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan
dari lingkungannya, ataupun jika ada dukungan kuat dari dirinya

34

sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu. Bakat kreatif


dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung, tetapi dapat
pula terhambat dalam lingkungan yang tidak menunjang. Di dalam
keluarga, sekolah, lingkungan maupun masyarakat harus ada
penghargaan dan dukungan terhadap sikap dan prilaku kreatif
individu atau kelompok individu.
3). Aspek proses
Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberi kesempatan
untuk bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat
merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif,
dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang
diperlukan. Yang terpenting adalah memberi kebebasan kepada anak
untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif yang tidak merugikan
orang lain atau lingkungan dengan cara mendorong siswa untuk
menghasilkan produk-produk yang bermakna.
4). Aspek produk
Kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif
yang bermakna ialah kondisi pribadi dan lingkungan, yaitu sejauh
mana keduanya bisa mendorong siswa untuk melibatkan dirinya
dalam proses kreatif.
Variasi kreativitas menurut Hurlock
1;

Jenis kelamin

35

Menurut Hurlock anak laki-laki lebih besar kreatifnya daripada


anaka perempuan terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak.
2;

Urutan kelahiran

Anaka tengah, anak belakang, anak tunggal lebih kreatif daripada


anak pertama. Anak pertama pada umumnya lebih ditekan untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan orang tua dari pada yang
lahir kemudian. Sedangkan anak tunggal diberi kebebasan.
3;

Status ekonomi
Kelmpok anak lebih tinggi status ekonominya lebih kreatif

dari kelompok yang lebih rendah status ekonominya. Anak pertama


biasanya dibesarkan lebih demokratif dariapda anak yang terakhir,
sedangkan yang terakhir lebih mengalamai otoriter. Kontrol
demokratif mempertinggi kreativitas karena lebih banyak diberi
kesempatan menyatakan individunya.
4;

Ukuran keluarga
Anak dari keluarga kecil apabila kondisi lahirnya

sama,cenderung akan lebih kreatif daripada anak dari keluarga


besar, sebab keluarga besar lebih otoriter dibanding dari keluarga
kecil.
5;

Lingkungan kota
Anak lingkungan kota cenderung kreatif daripada anak desa.

(Hurlock 2000 : 9)
Jadi dapat disimpulkn bahwa faktor yang mempengaruhi
kreativitas belajar diantaranya pengaruh orang atau guru disekolah,
lingkungan tempat tinggal, status ekonomi keluarga, urutan
kelahiran. Jadi kreativitas belajar mampu diciptakan oleh individu

36

yang didukung oleh orang-orang sekeliling seperti orang tua dan


guru.
4; Karakteristik Siswa SMP

a; Karekteristik Siswa SMP kelas VIII


Rata-rata siswa SMP kelas VIII ada di rentang 12-14 tahun. Usia
ini ada dalam rentang masa remaja, yang oleh para ahli psikologi
ditentukan secara normal pada usia 12 sampai 22 tahun.
Karakteristik usia remaja dapat dikelompokkan secara lebih
ketat lagi dalam dua kelompok, yakni kelompok masa remaja awal dan
masa remaja akhir. Masa remaja awal berkisar pada usia 12, 13 - 17,
atau 18 tahun. Sedangkan masa remaja akhir berkisar antara 17, 18 - 21,
atau 22 tahun. Jadi siswa SMP Kelas VIII yang rata-rata berusia 12-14
tahun tergolong dalam masa remaja awal. Menurut Sri Rumini
(1995:32-38), masa awal remaja memiliki karakteristik :
b; Keadaan perasaan dan emosi yang sangat peka, sehingga tidak stabil
Implikasi keadaan emosi yang peka dan tidak stabil menimbulkan
semangat belajar yang fluktuatif.
c. Keadaan mental, khususnya kemampuan berpikirnya mulai sempurna
atau kritis dan dapat melakukan abstraksi.
Implikasi pendidikan periode berpikir formal ini adalah perlunya
disiapkan program pendidikan atau bimbingan yang memfasilitasi
perkembangan kemampuan berpikir siswa (remaja), (Syamsu Yusuf
LN, 2001:196).

37

B; Kerangka Berfikir
a; Hubungan Antara Belajar Kelompok dengan Kreativitas Belajar

Belajar kelompok merupakan suatu cara belajar yang dialakukan


oleh siswa agar belajar menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan karena
dilakukan dengan suka rela dan biasanya belajar kelompok dibentuk
karena adanya kedekatan antara siswa yang satu dan siswa yang lainnya.
Dengan melakukan belajar kelompok belajar akan lebih meneyenangkan
sehingga siswa juga dapat menemukan solusi dari permasalahan belajar
melalui teman satu kelompok belajarnya. Belajar kelompok juga dapat
membiasakan anak untuk berdiskusi untuk mencari solusi dari
permasalahan sehingga anak dituntut berfikir kreatif untuk menemukan
solusi dari susatu permasalahan sehinga dalam diskusi kelompok akan
melahirkan ide atau gagasan untuk memecahkan suatu permasalahan.
Kreativitas belajar anak dapat terlihat saat anak menemukan
kesulitan dalam belajar. Disaat anak menemui kesulitan maka anak terlatih
untuk berfikir kreatif untuk mencari solusi dari permasalahannya tersebut,
kreativitas anak akan nampak saat anak mengemukakan pendapatnya saat
belajar kelompok maupun diskusi kelompok.
Jurnal Hubungan belajar kelompok dengan kretivitas belajar
Upaya Meningkatkan Kreativitas Belajar Siswa Melalui Metode
Pembelajaran Diskusi pada Mata Pelajaran IPS Geografi di SMP Negeri 4
Kawangkoan Kabupaten Minahasa

38

Hastri sondakh, Hermon Karwur, Trenny Tewal


Abstract
Permasalahan dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran IPS
Geografi di SMP Negeri 4 Kawangkoan menunjukkan bahwa guru kurang
melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, sebagian besar
siswa tampak kurang memiliki kreativitas belajar yang ditandai dengan
kemandirian dan keaktifan dalam belajar rendah sehingga hasil belajar
hanya mencapai 6,75 dengan kategori kurang (K). Tujuan : 1) Untuk
mengetahui kreativitas belajar siswa melalui penerapan metode diskusi
dalam pembelajaran IPS Geografi, 2) Untuk mengetahui hasil belajar
siswa melalui penerapan metode diskusi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif dengan mengikuti alur penelitian tindakan kelas menurut Kurt
Levin dengan alur kegiatan: perencanaan, tindakan, observasi, refleksi.
Data dianalisis berdasarkan persentasi capaian kreativitas belajar siswa,
sedangkan hasil belajar siswa berdasarkan nilai capaian setelah proses
pembelajaran melalui tes dengan nilai kuantitatif dari nilai 1 10.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah siswa yang memiliki
kreativitas belajar pada siklus pertama baik dalam hal kemandirian belajar
maupun dalam hal keaktifan belajar belum mencapai 50%. Pada siklus II
jumlah siswa yang memiliki kreativitas belajar telah mencapai lebih dari
50% kecuali indicator keaktifan belajar dalam hal kelancaran siswa dalam
menemukan alternative jawaban hanya 45% siswa yang memiliki

39

kreativitas belajar. Hasil belajar yang dicapai siswa melalui penggunaan


metode diskusi pada siklus pertama mencapai nilai rata-rata 6,97
sedangkan pada siklus II nilai rata-rata yang dicapai adalah 7,82. Dengan
demikian maka metode diskusi dianggap sesuai untuk digunakan dalam
pembelajaran IPS Geografi dalam rangka meningkatkan kreativitas serta
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS Geografi.
Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
antara belajar kelompok dan kreativitas belajar siswa karena saat belajar
kelompok siswa akan menemukan permasalahan dan distulah siswa akan
bersama-sama mencari solusi dari permasalahan tersebut,dan untuk
mencari solusi dari permasalahan tersebut siswa harus berfikir secara
kreativ. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif antara belajar
kelompok dengan kreativitas belajar siswa.

b; Hubungan Antara Motivasi Belajar dengan Kreativitas Belajar

Motivasi belajar sangat diperlukan bagi siswa untuk mendorong


siswa bersemangat dalam belajar. Terdapat dua macam motivasi,yaitu
motivasi yang berasala dari dalam diri individu (instrinsik) dan motivasi
yang diperoleh dari orang lain (ekstrinsik). Motivasi sangat berperan
penting dalam belajarkarena tanpa motivasi siswa tidak akan mempunyai
semangat untuk belajar maupun mengikuti pelajaran disekolah.
Kreativitas belajar dapat diperoleh siswa melalui motivasi belajar
siswa, karena saat siswa termotivasi belajar maka akan tumbuh pemikiran-

40

pemikiran kreativ untuk belajar sehingga belajar akan terasa lebih


menyenangkan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif antara
motivasi belajar dengan kreativitas belajar siswa karena dengan motivasi
yang ada dalam dirinya baik motivasi intrinsik atau ekstrinsik siswa akan
menemukan cara belajar secara kreativ dan menyenangkan bagi dirinya
sendiri

maupun

bagi

orang

lain

sehingga

belajar

akan

lebih

menyenangkan.
Jurnal penelitian Hubungan Motivasi dengan Kreativitas Siswa
PENGARUH

MOTIVASI

ROBOTIKA

TERHADAP

MENGIKUTI
KEMAMPUAN

EKSTRAKURIKULER
PENALARAN

DAN

KREATIVITAS SISWA DI SMK N 3 YOGYAKARTA


Penulis : Juniar Felissa M/ NIM. 06518241025
Dosen Pembimbing : Dr. Samsul Hadi, M.Pd., M.T/NIP. 19600529
198403 1 003 002 Abstract. The purpose of this study to determine the
effect of motivation of students who actively take part in extracurricular
robotics to reasoning ability and creativity, the students of SMK N 3
Yogyakarta. The results showed that: 1) student motivation SMK N 3
Yogyakarta academic year 2011/2012 in the following extracurricular
activities robotics as very high. 2) The ability of reasoning SMK Negeri 3
Yogyakarta academic year 2011/2012 as very high. 3) Creativity SMK 3
Yogyakarta students of the school year 2011/2012 is quite high. 4) There is
very little effect or no effect between motivation and reasoning ability of

41

the student to take part in extracurricular robotics. Data obtained from


the calculation using the SPSS 17.0 on the results of the regression
equation Rsquare number 0035, which means that the influence of
motivation on students' reasoning abilities just by donating 3.5% with a
significance level of 0273. 5) There is the influence of the motivation of the
students' creativity in participating in extracurricular activities robotics.
Keywords: effects of motivation, reasoning, and creativity
Pendahuluan
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai
dengan kebutuhan bakat dan minat setiap peserta didik sesuai dengan
kondisi sekolah. Siswa-siswi memiliki pandangan dan perasaan tertentu
terhadap segala sesuatu yang dihadapinya. Pengembangan diri di sekolah,
baik melalui kegiatan yang bersifat temporer, kegiatan ekstra kurikuler,
maupun melalui layanan bimbingan dan konseling itu sendiri. Kegiatan
ekstrakurikuler harus mendukung perwujudan dari keunggulan lokal yang
menjadi

tujuan

dari

pengembangan

sekolah

yang

bersangkutan,

dilaksanakan diluar jam pelajaran agar memperkaya dan memperluas


wawasan pengetahuan serta kemampuan siswa. Kegiatan ekstrakurikuler
di harapkan dapat menunjang dan dapat mendukung program dalam
sekolah yaitu mengembangkan pengetahuan dan kemampuan penalaran,
ketrampilan, kreativitas minat dan bakatnya serta pengembangan sikap
siswa.

42

Ekstrakurikuler yang ada di SMK N 3 Yogyakarta adalah salah


satunya robotika. Robot yang merupakan sebuah alat mekanik yang dapat
melakukan tugas fisik, baik menggunakan pengawasan dan kontrol
manusia, ataupun menggunakan program yang telah didefinisikan terlebih
dulu (kecerdasan buatan). Siswa saat ini jarang yang berusaha memahami
sebetulnya apa saja yang ada dalam suatu robot, bagaimana prinsip
kerjanya, dan lebih sedikit lagi yang ingin membangun serta
mengendalikan suatu robot. Robotika sudah tidak asing lagi didunia
industri saat ini, hampir sebagian pekerjaan berat atau pekerjaan yang
berulang-ulang di industry menggunakan bantuan robot. Lulusan SMK
oleh sebab itu, hendaknya sudah sangat terbiasa dengan menggunakan
suatu robot. Robotika dapat mengembangkan pengetahuan. kemampuan
penalaran, menyalurkan hobi dan minat, dan meningkatkan kreativitas
siswa baik dalam pembuatan, pemrograman dan menjalankan suatu sistem.
Penalaran sangat dibutuhkan dalam pengembangan diri siswa. Siswa yang
dapat mengemukakan pendapat dan aktif mencari jawaban dari suatu
pertanyaan, maka dapat dikatakan bahwa kemampuan penalaran siswa
tersebut baik. Kemampuan penalaran siswa agar dikatakan baik, maka
kemampuan penalaran juga perlu diasah, diantaranya kegiatan diluar jam
sekolah yang dapat mengasah kemampuan penalaran siswa adalah PMR,
KIR, robotika dan lain sebagainya.
Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya
baru (inovatif) atau belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh dan

43

mengejutkan,berguna dan dapat dimengerti. Ide-ide kreatif yang dimiliki


siswa dapat menjadi keuntungan bagi sekolah jika ide tersebut disalurkan
dengan kegiatan yang bermanfaat yang disediakan di kegiatan
ekstrakurikuler. Kemampuan siswa untuk merakit, memprogram dan
menjalankan sebuah robot merupakan kemajuan yang dapat mengasah
kemampuan

siswa

dalam

penalaran

dan

kreativitas.

Mengikuti

ekstrakurikuler robotika di harapkan agar siswa dapat termotivasi untuk


menjadi lebih kreatif dan lebih terasah pada pengetahuan kemampuan
penalaran tentang dunia robotika. Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler
robotika juga dapat meningkatkan kreativitas yang dimiliki siswa.
Berdasarkan pada latar belakang masalah diatas maka penulis
mengambil

judul

penelitian

Pengaruh

Motivasi

Mengikuti

Ekstrakurikuler Robotika Terhadap Pengetahuan Kemampuan Panalaran


dan Kreativitas Siswa Di SMK N 3 Yogyakarta Metode Penelitian Jenis
penelitian yang akan digunakan adalah penelitian kuantitatif karena
informasi data yang diperoleh disajikan dalam bentuk angka dan analisis
menggunakan analisis statistik.
Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh anggota yang
aktif mengikuti ekstrakurikuler robotika jurusan audio video SMK N 3
Yogyakarta yang berjumlah 36 siswa.
Instrumen penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian
ini menggunakan 2 metode yaitu angket dan tes. Metode angket digunakan

44

untuk pengambilan data pada variabel motivasi siswa mengikuti


ekstrakurikuler dan kemampuan kreativitas siswa. Metode tes digunakan
untuk memperoleh data yang diinginkan dalam variabel pengetahuan
kemampuan penalaran siswa.
Rencana Tindakan
Penelitian tindakan dilakukan dengan menggunakan instrumen
yang berupa angket dan tes potensi akademik. Langkah-langkah
penyusunan angket adalah sebagai berikut.
a. Mengkaji teori yang berkaitan dengan variabel penelitian.
b. Menjabarkan variabel menjadi sub variabel.
c. Mencari atau menentukan indikator pada setiap sub variabel
d. Menulis atau membuat item angket dengan indikator.
e. Kisi-kisi angket.
Untuk tes potensi akademik dengan memberikan soal-soal penalaran yang
terdiri dari dua indikator yaitu, logika dan sistematis.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
statistik deskriptif, yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi
gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi
dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Analisis ini
menggunakan deskriptif dijelaskan menggunakan teknik statistik yang
seperti, Modus, Median dan Mean
Untuk menghitung modus, median dan mean adalah dari data:

45

a. Motivasi siswa mengikuti esktrakurikuler robotika


b. Kreativitas siswa mengikuti esktrakurikuler robotika
Data yang diperoleh dari hasil angket motivasi, angket kreativitas dan tes
penalaran. Masing-masing dianalisis secara deskriptif. Data yang
diperoleh akan dikategorikan dengan 4 kelompok sangat tinggi, tinggi,
rendah, sangat rendah (Djemari 2004:79).
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan penelitian tindakan ini direncanakan pada bulan Mei-Juni,
pemberian angket dan soal-soal potensi akademik dilakukan pada awal
sebelum kegiatan ekstrakurikuler robotika dimulai dengan subyek
penelitian berjumlah 36 siswa. Skor total yang diperoleh kemudian
dibandingkan dengan skor ideal pada skala Likert.
Tabel 6. Kategori Standar Pembagian Klasifikasi Dimana:
X = skor peserta didik
x_i = Rerata skor ideal
= ( Skor maksimal + Skor minimal)
SDi = Standar Deviasi Ideal = 1/6 (Skor maksimal Skor minimal)
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini memiliki 10 pernyataan
motivasi, 10 soal penalaran dan 15 pernyataan kreativitas. Dari rumus
tersebut, maka untuk instrumen motivasi dengan 10 pernyataan dengan
skor tertinggi = 40 dan skor terendah = 10 diperoleh nilai x_i = 25 dan SDi
= 5. Untuk instrumen kemampuan penalaran dengan 10 pertanyaan dengan
skor tertinggi = 10 dan skor terendah =0 diperoleh nilai x_i = 5 dan SDi =

46

1.67. Untuk instrumen kreativitas dengan 15 pernyataan dengan skor


tertinggi = 60 dan skor terendah = 15 diperoleh nilai x_i =37.5 dan SDi =
7.5.
Pembahasan
Berdasarkan penelitian terhadap siswa yang aktif mengikuti
kegiatan ekstrakurikuler robotika, maka hal-hal yang akan dibahas adalah
ada tidaknya pengaruh antara motivasi mengikuti kegiatan ekstrakurikuler
robotika terhadap kemampuan penalaran dan ada tidaknya pengaruh antara
motivasi mengikuti kegiatan ekstrakurkuler robotika terhadap kreativitas
yang dimiliki masing-masing siswa.
1. Motivasi Siswa Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler Robotika Siswa
SMK N 3 Yogyakarta.
Kegiatan ekstrakurikuler dalam pendidikan dimaksudkan sebagai
jawaban atas tuntutan dari kebutuhan anak didik, membantu mereka yang
kurang dalam wawasan, mengasah kemampuan yang dimiliki, dan
memberikan stimulasi kepada siswa agar lebih kreatif. Wawasan
pengetahuan dan kemampuan yang telah dimilikinya dari berbagai bidang
studi.

Peneliti

memfokuskan

penelitian

pada

faktor

kegiatan

ekstrakurikuler yang terdapat di SMK N 3 Yogyakarta untuk dianalisis


apakah mempunyai motivasi dalam mengikuti ekstrakurikuler robotika.
No. Skor Peserta Didik Kategori Motivasi
1. X x_i + 1 SDi Sangat tinggi
2. x_i + 1 SDi > X x_i Tinggi

47

3. x_i > X x_i 1 SDi Rendah


4. X< x_i 1 SDi Sangat rendah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi siswa SMK N 3
Yogyakarta termasuk kategori sangat tinggi dalam mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler. Motivasi yang ada dalam diri siswa tersebut menjadi
pengaruh yang positif untuk dapat berkembang menjadi lebih baik. Materi
kegiatan pembelajaran robotika membuat ketertarikan para siswa, hal-hal
yang berkaitan dengan robot, dunia industri yang sudah terbiasa dengan
robot memotivasi para siswa untuk mempelajari robotika lebih dalam, dan
tuntutan jaman yang banyak dikembangkan dalam dunia robotika. Adanya
kejuaraan antar sekolah dalam perlombaan robot, adanya spanduk
pemenang, penghargaan bagi tim yang menjadi pemenang, beasiswa bagi
tim inti, pameran ekstrakurikuler di sekolah, praktek kerja lapangan yang
melatih siswanya untuk bekerja dengan robot menjadi alasan siswa
termotivasi mengikuti kegiatan.
Kreativitas Siswa Di SMK N 3 Yogyakarta
Kreativitas siswa yaitu rasa ingin tahu yang tinggi, asosiasi ide baru,
imajeri tinggiatau suka berangan-angan, mudah mengingat beraneka ragam
gagasan, berpikir transformatif atau mudah berubah-ubah, melihat segala hal dari
sudut pandang yang berbeda, menarik, berusaha untuk mengungkapkan diri
sendiri, mempunyai cara kerja yang orisinil, mampu berkomunikasi dengan baik,
punya rasa humor yang tinggi, tidak mengambil pusing yang dipikirkan orang
lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki kategori tinggi
kreativitasnya dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika. Siswa dapat

48

menyampaikan dan mengemukakan ide-ide kreatifnya dalam pembuatan suatu


sistem robot, siswa juga dibantu untuk dapat mengembangkan dirinya dalam
bekerja sebagai tim/kelompok. Kreativitas siswa dalam mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler robotika berkembang dengan baik, siswa diharapkan dapat
mengeluarkan ide-ide kreatifnya dalam menciptakan sebuah sistem robot. Banyak
cara yang dapat digunakan untuk mengembangkan kreativitas siswa, dengan
diskusi dalam kelompok, pembelajaran dari buku tentang robotika, mengunjungi
pameran robot dan mengikuti kontes yang diadakan, memberikan kesempatan
berpetualang dengan bakat dan minat siswa dalam setiap kesempatan. Mengikuti
kegiatan ekstrakurikuler robotika kreativitas siswa dapat berkembang dengan
baik, siswa dapat berekspresi dalam pembuatan sebuah robot, dalam
mengeluarkan ide-ide kreatifnya, dalam rasa keingintahuan.
2; Pengaruh Motivasi Mengikuti Kegiatan

Table 13 diatas menunjukkan bahwa nilai R=0.188 dan R x R= R square =


0.035, menjelaskan bahwa 0.035 atau 3.5 persen variasi kemampuan
penalaran dipengaruhi oleh motivasi kegiatan ekstakurikuler. Berdasarkan
hasil analisis data di atas, kemampuan penalaran siswa SMK Negeri 3
Yogyakarta ditentukan oleh 3.5% variabel motivasi siswa mengikuti
kegiatan ekstrakurikuler robotika.
. Pengaruh Motivasi Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler Robotika
Terhadap Kreativitas Siswa SMK Negeri 3 Yogyakarta. Pengujian
hipotesis kedua menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara motivasi
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika dengan kreativitas siswa. Hal
ini dibuktikan dengan perolehan dari tabel anova dengan taraf signifikan

49

0.008 yg merupakan lebih kecil dari 0.05 sehingga mempunyai hubungan


yang positif dan signifikan.
Tabel 14. Pengaruh Motivasi Terhadap Kreativitas Model R R Square
Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .435a .189 .165 2.66049
a. Predictors: (Constant), kreativitas Table 14 diatas menunjukkan bahwa
nilai R=0.435 dan R x R= R square = 0.189 menjelaskan bahwa 0.189 atau
18.9 persen variasi kreativitas dipengaruhi oleh motivasi kegiatan
ekstakurikuler. Sementara untuk sisanya dipengaruhi oleh sebab-sebab
lain.
Tabel 13. Pengaruh Motivasi Terhadap Penalaran Model R R Square
Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .188a .035 .007 2.90176
a. Predictors: (Constant), penalaran misalnya lingkungan sosial, teman,
keluarga. Sedangkan standart error of estimate = 2.660 lebih kecil dari
standart deviasi = 2.912 maka model regresi layak digunakan. Berdasarkan
hasil analisis data di atas, kreativitas siswa SMK Negeri 3 Yogyakarta
ditentukan oleh 18.9% variabel motivasi siswa mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler robotika. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa
terdapat kecenderungan semakin tinggi motivasi siswa mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler robotika, maka akan semakin baik (tinggi) pula kreativitas
siswa. Sebaliknya semakin rendah motivasi siswa mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler robotika maka akan semakin kurang (rendah) juga

50

kreativitas

siswa.

Motivasi

yang

dimiliki

masing-masing

siswa

mempengaruhi kreativitas siswa. Mengapa motivasi berpengaruh terhadap


kreativitas siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika?
Karena semua siswa ikut ambil bagian dalam pembuatan robot dan dapat
mengemukakan ide dan pendapatnya yang membuat tingkat kreativitas
siswa menjadi lebih baik. Siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler
termotivasi untuk menjadi lebih kreatif, baik dalam ide pendapat maupun
dalam memahami pendapat. Siswa dapat menyalurkan ide-ide keatif yang
dimiliki pada kegiatan ekstrakurikuler dalam pembuatan sebuah robot.
Kreativitas siswa sangat diperlukan untuk pembuatan robot dan didorong
oleh motivasi untuk dapat memenangkan kontes robot tersebut, siswa
berlatih dengan pembina ekstrakurikuler dan fasilitas yang menunjang
kegiatan siswa, buku atau jobsheet yang melatih siswa untuk pemahaman
sistem robot, pengenalan dari bahan-bahan robot dari internet, ditambah
dengan kujungan ke tempat-tempat industri saat praktek kerja lapangan
sangat berpengaruh pada kemampuan kreativitas yang dimiliki setiap
siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika. Siswa berlombalomba untuk bisa menciptakan sebuah robot yang dalam dimenangkan
dengan berbagai kategori yang diadakan. Motivasi yang selalu
mempengaruhi

siswa

dalam

mengikuti

kegiatan

ekstrakurikuler

berdampak baik bagi sekolah dan diri siswa masing-masing. Hasil


hipotesis yang peneliti harapkan diterima, bahwa ada pengaruh antara
motivasi yang tinggi yang dimiliki terhadap kreativitas setiap siswa yang

51

mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika. Siswa dapat lebih kreatif


karena adanya kegiatan-kegiatan dalam ekstrakurikuler robotika yang
diadakan terutama kontes robot baik antar sekolah maupun nasional. Hal
tersebut sangat mempengaruhi motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler

robotika

yang

membuat

semakin

berkembangnya

kreativitas masing-masing siswa.


Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengambilan data dan analisis data dari
penelitian tentang pengaruh motivasi terhadap kemampuan penalaran dan
kreativitas ekstrakurikuler robotika SMK Negeri 3 Yogyakarta dapat
disimpulkan bahwa.
1. Motivasi siswa SMK Negeri 3 Yogyakarta
tahun ajaran 2011/2012 dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika
tergolong tinggi, dengan persentase dengan kategori sangat tinggi
sebanyak 69.44%, yang termasuk dalam kategori tinggi sebanyak 27.78%,
siswa yang motivasinya termasuk dalam kategori rendah sebanyak 2.78%,
dan siswa yang motivasinya termasuk dalam kategori sangat rendah tidak
ada.
2. Kreativitas siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika
SMK 3 Yogyakarta tahun ajaran 2011/2012 tergolong sangat rendah,
dengan persentase sangat tinggi sebanyak 36.11%, yang termasuk dalam
kategori tinggi sebanyak 52.78%, siswa yang kemampuan penalarannya

52

termasuk dalam kategori rendah sebanyak 11.11%, dan siswa yang


kemampuan kreativitas termasuk dalam kategori sangat rendah tidak ada.
3. Terdapat sedikit atau hampir tidak terdapat pengaruh motivasi terhadap
kemampuan penalaran, dengan motivasi yang hanya memberikan
sumbangan sebesar 3.5% kepada kemampuan penalaran siswa. Uji
lineritas R yang didapat 0.188 dan R squared = 0.35 yang merupakan
hasilnya tidak linear dan tidak memberikan hubungan yang positif. Taraf
signifikan yang hanya 0.055 lebih sedikit dari 0.05 yang hanya
memberikan pengaruh yang sangat kecil antara motivasi terhadap
kemampuan penalaran dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika.
4. Terdapat pengaruh yang positif antara motivasi dan kreatifitas siswa
dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika. Motivasi yang
memberikan sumbangan 18.9% pada adanya kreativitas siswa. Uji lineritas
R yang didapat 0.435 dan R squared = 0.189 yang memberikan hubungan
yang linear dan positif. Taraf signifikan 0.244 yang lebih 0.05 memberikan
pengaruh yang cukup antara motivasi terhadap kreativitas dalam
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotika.
3; Hubungan Antara Belajar Kelompok dan Motivasi Belajar dengan

Kreativitas Belajar
Belajar kelompok merupakan metode belajar untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa. Dengan belajar kelompok siswa akan termotivasi
untuk belajar karena adanya dorongan atau motivasi dari teman-temanya
sehingga siswa akan lebih termotivasi dalam belajar. Saat belajar

53

kelompok siswa akan berdiskusi dengan teman sehingga belajar akan lebih
menyenangkan dan saat menemukan permasalahan maka siswa akan
mencari solusi secara bersama-sama sehingga akan muncul ide-ide kreativ
untuk pemecahan dari permasalahan tersebut.
Sehingga dapat disimpulkan adanya hubungan antara belajar
kelompok dan motivasi belajar dengan kreativitas belajar siswa.

C; Hipotesa
1; Pengertian Hipotesa

Setiap peneliti bertujuan untuk menguji suatu kebenaran yang diperkirakan


sebelum penelitian yang disebut dugaan-dugaan suatu kebenaran. Pengertian
seperti itu biasanya disebut dengan istilah hipotesis.
Menurut asal katanya, hipotesis berasal dari kata hipo yang berarti
kurang. Sedang teas adalah pendapat atau kesimpulan. Jadi hipotesis
mempunyai pengertian sebagai suatu kesimpulan yang masih kurang atau belum
selesai.
Hipotesis adalah jawaban sementara. Artinya, hipotesis adalah dugaan
jawaban atas hasil penelitian yang akan dilakukan (Arikunto, 2010 : 88).
Menurut Sutrisni Hadi ( 2009: 201) Hipotesis adalah pertanyaan
yang

masih

lemah

kebenarannya

dan

masih

perlu

dibuktikan

keberadaannya
Menurut Atmadilaga,

hipotesis adalah proporsi sebagai suatu

pertanyaan tentang konsep-konsep yang dapat dinilai benar atau salah

54

yang dirumuskan untuk tujuan pengujian empiris. Sedangkan Beauchamp


yang mengemukakan bahwa hipotesis terdiri dari satu atau lebih proposisi
yang disusun untuk menerangkan serangkaian kejadian( dalam Tedjo, 2007
: 65 66 ).
Jadi hipotesa menurut penulis adalah konsep yang dirancang untuk
menjelaskan hubungan antara satu atau lebih variabel yang memerlukan
pengujian secara empiris tentang kebenarannya.
2; Macam Hipotesa

Menurut (Burhan, 2006 : 78 - 80) macam macam hipotesa yaitu :


a; Hipotesa Nol atau Hipotesis Nihil (Ho)

Hipotesis ini mempunyai bentuk dasar yang menyatakan tidak ada


hubungan antara variabel X dan variabel Y yang akan dteliti. Hipotesis nol
ini dibuat dengan kemungkinan yang besar untuk ditolak, ini berarti
apabila hipotesis nol tidak benar dalam arti hipotesis itu di ditolak, maka
dismpulkan bahwa ada hubungan antara variabel X dan Y.
b; Hipotesa Alternatif (Ha)

Hipotesis alternatif dapat langsung dirumuskan apabila ternyata


pada suatu penelitian, hipotesis nol ditolak. Hipotesisi ini menyatakan ada
hubungan , yang berarti ada signifikan hubungan antara variabel X dengan
variabel Y.
3; Rumusan Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ada tiga :

Ada hubungan positif antara belajar kelompok dan kreativitas


belajar siswa kelas VIIISMP N 4 Tempel Tahun Ajaran 2013/2014.

55

Adakah hubungan positif antara motivasi belajar siswa dengan


kreativitas belajar siswa VIIISMP N 4 Tempel Tahun Ajaran 2013/2014.
Ada hubungan positif antara belajar kelompok dan motivasi belajar
siswa dengan kreativitas belajar siswa kelas VIIISMP N 4 Tempel Tahun
Ajaran 2013/2014.

D; Paradigma

Berdasarkan hipotesis yang dikemukakan diatas, maka tata hubungan


dari masing-masing variabel dalam penelitian digambarkan dalam suatu
bentuk paradigma sebagai berikut :
Paradigma penelitian adalah gambaran pola hubungan antara variabel
bebas dengan variabel terikat.
Disini antara dua variabel bebas yaitu belajar kelompok (X1) dan
motivasi belajar (X2) dengan satu variabel terikat yaitu kreativitas (Y).
Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan paradigma penelitiannya sebagai
berikut:
X1

H1
H3

X2

H2

Keterangan :
X1 : Belajar kelompok (Variabel bebas)
X2 : Motivasi Belajar (Variabel bebas)

56

Y : Kreativitas belajar (Variabel terikat)


- : Garis korelasi
H1 : Hipotesis 1
H2 : Hipotesis 2
H3 : Hipotesis 3