Anda di halaman 1dari 30

Bahan Ajar

MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

DIABETES MELLITUS

Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Setelah selesai mengikuti kuliah tentang Diabetes Mellitus (DM), mahasiswa dapat
membuat perencanaan penanganan nutrisi DM tipe 2.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


1.

Menyebutkan tujuan terapi nutrisi pasien DM tipe 2.

2.

Menjelaskan rekomendasi terapi nutrisi untuk pasien DM tipe 2.

3.

Menjelaskan kebutuhan gizi pasien DM tipe 2 saat olahraga

Pokok Bahasan
Diabetes Mellitus.
Sub Pokok Bahasan
1.

Klasifikasi DM.

2.

Kriteria diagnosis DM.

3.

Terapi nutrisi pasien DM tipe 2.

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

DIABETES MELLITUS

Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kumpulan kelainan metabolik yang


ditandai oleh hgiperglikemia

kronik yang diakibatkan oleh defek dalam sekresi

insulin, kerja insulin, atau gabungan keduanya.


Diagnosis
1. Gejala DM (polidipsi, poliuri, penurunan BB) + kadar glukosa plasma sesaat: 200
mg/100 ml (1,1 mol/L).
2. Glukosa plasma puasa 126 mg/100 ml (7 mol/L).
3. Glukosa plasma 2 jam PP 200 mg/100 ml (tes toleransi glukosa oral).
Terapi Nutrisi
Tujuan
Spesifik
- Mempertahankan kadar gula darah sedekat mungkin dengan batas normal.
- Mempertahankan BB ideal untuk dewasa.
- Mencapai kadar serum lipid yang optimal.
- Mencegah/menurunkan risiko terjadinya komplikasi.
- Menghambat pembentukan aterosklerosis.
Umum
- Mengkonsumsi zat-zat gizi untuk promosi kesehatan.
- Mencukupi kebutuhan energi sesuai jadwal yang telah diatur.
- Memberi kecukupan kebutuhan zat gizi padd keadaan tertentu (mis. hamil).
- Memberi kecukupan untutk kebutuhan terapi (mis. penyakit ginjal).
Rekomendasi terapi nutrisi untuk pasien DM dapat dilihat pada Tabel 1.
Energi
Perhitungan kebutuhan energi yang akurat bagi pasien DM sangatlah penting
untuk mencegah konsekuensi akibat overfeeding atau underfeeding. Oleh karena
pasien DM tipe 2 sering kelebihan BB, maka energi yang diberikan harus berdasarkan
kebutuhan untuk mencapai BB ideal.

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

Terdapat

banyak

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

cara/rumus

untuk

menentukan

kebutuhan

energi,

di

antaranya adalah perhitungan berdasarkan rumus Harris-Benedict. Umumnya pasien


diberikan 1,3-1,8 kali REE. Rata-rata 1,5 kali REE untuk pasien diabetes tanpa
komplikasi. Perhitungan ini sudah termasuk dengan kebutuhan untuk olahraga
sedang selama 20 menit/hari.
Secara umum, untuk pasien dengan BB normal membutuhkan 25-30
kkal/kgBB untuk mempertahankan BBnya dan 20 kkal/kg untuk pasien yang
memerlukan penurunan BB.
Komposisi persentase energi untuk karbohidrat dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekomendasi Nutrisi untuk Pasien DM
KATEGORI

REKOMENDASI
MODERN NUTRITION 20061

PERKENI 19982

PERKENI TERBARU

55-65%

60-70%

25-50 g/hari (15-25 g/1000 kkal)

25 g/hari

Protein (% energi total)

12-16%

10-15%

Lemak (% energi total)

<30%

20-25%

SFA (% energi total)

<10%

TUGAS MANDIRI
UNTUK SELURUH
MAHASISWA:
MENCARI
REKOMENDASI
DARI PERKENI
YANG TERBARU
(DIMASUKKAN SAAT
PRAKTIKUM)

BB
Karbohidrat (% energi total)
Serat

MUFA (% energi total)

12-15%

PUFA (% energi total)

<10%

Kolesterol

<200 mg/hari

<300 mg/hari

Dari: Anderson JW: Diabetes Mellitus: Medical Nutrition Therapy. In Shils ME et al (ed): Modern Nutrition in Health and
Disease 10th ed. Philadelphia, Lippincott Williams&Wilkins, 2006, pp.1043-1066.
2
Dari: Suyono S: Pengaturan Makan dan Pengendalian Glukosa Darah. Dalam Waspadji S dkk (ed): Pedoman Diet Diabetes
Melitus. Jakarta, FK UI, 2004, hal. 9-15.

Karbohidrat
Sampai sekarang hampir semua orang awam berpendirian bahwa pasien
diabetes harus makan rendah karbohidrat. Memang demikianlah halnya sampai 2
dekade terakhir. Pada awal dekade 80an banyak penelitian yang menemukan bahwa
justru diet tinggi karbohidrat dan rendah lemak lebih unggul daripada diet rendah
karbohidrat. Mereka mendapatkan bahwa diet tinggi karbohidrat menimbulkan
perbaikan toleransi glukosa terutama pada pasien yang tidak terlalu berat, apalagi
pasien diabetes yang gemuk. Setelah dilakukan berbagai penelitian lain ternyata
bahwa meskipun diet itu mengandung tinggi karbohidrat, toleransi glukosa akan
tetap membaik bila disertai dengan tinggi serat. Selain itu dengan diet tinggi
karbohidrat dan tinggi serat itu ternyata kadar kolesterol dan trigliserida juga
menjadi baik.

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Serat merupakan komponen utama dalam penanganan DM. Serat mempunyai


nilai terapeutik dan preventif. Mempunyai nilai terapeutik oleh karena suplementasi
serat menurunkan respons glikemik postprandial dan, pada orang yang kurus,
menurunkan kebutuhan insulin. Diet tinggi serat pada orang sehat, dapat mencegah
timbulnya penyakit DM.
Indeks glikemik (IG) adalah perbandingan kenaikan gula darah setelah makan
makanan tertentu dibandingkan dengan setelah makan makanan standar seperti
glukosa. Bahan makanan yang mempunyai IG yang rendah merupakan pilihan yang
baik untuk pasien DM atau dislipidemia. Sekarang banyak diteliti mengenai pengaruh
IG terhadap gula darah. Beberapa peneliti lebih mengutamakan pentingnya jumlah
karbohidrat dalam setiap hidangan dari pada IGnya. Makanan dengan IG yang tinggi
namun dimakan dalam porsi yang kecil lebih baik dari pada makanan dengan IG
yang rendah namun namun dalam porsi yang besar.
Protein
Rekomendasi

protein orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan metabolik

dan nutrisinya adalah 0,8 g/kgBB atau 12-16% (PERKENI: 10-15%) dari total kalori.
Protein dipilih yang mempunyai nilai biologik yang tinggi. Bila sudah terdapat
nefropati maka asupan protein harus dikurangi tidak boleh melebihi 0,8 g/kgBB/hari.
Protein soya terbukti sangat bermanfaat untuk pasien DM. Beberapa
penelitian menunjukkan manfaat dari protein soya, yaitu:
- menurunkan hiperfiltrasi dan albuminuria pasien DM.
- menurunkan kolesterol total, LDL, serta trigliserida dan meningkatkan HDL.
- memfasilitasi penurunan berat badan.
- meningkatkan sensitivitas insulin pada pasien DM tipe 2.
Melihat manfaat protein soya dari hasil-hasil penelitian tersebut di atas, maka untuk
pasien DM direkomendasikan untuk mengkonsumsi protein soya 10 g, dua kali
sehari.

Lemak
Jumlah lemak untuk pasien DM tidak boleh melebihi 30% kalori total. PERKENI
menganjurkan untuk memberikan lemak 20-25% dari kalori total. Yang penting
adalah jumlah asam lemak jenuh dan asam lemak trans tidak boleh melebihi 10%
oleh karena efek aterogeniknya. Juga oleh karena asam lemak tak jenuh ganda
(PUFA)

mempunyai

tendensi

menurunkan

kadar

HDL

kolesterol

dan

mudah

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

teroksidasi, maka asupan PUFA juga tidak boleh melebihi 10% kalori total. Jumlah
kolesterol, walau efeknya terhadap lemak serum lebih kurang dari asam lemak
jenuh, jumlah asupan seharinya sebaiknya <200 mg (PERKENI: < 300mg/hari).
Pemanis
Pemanis dapat dipergunakan dalam jumlah sedang. Terdapat 2 jenis pemanis,
yaitu:
- Pemanis bergizi: sukrosa (gula pasir), fruktosa, sorbitol, mannitol, xilitol, laktitol,
dan maltitol.
Jumlah kalori pada pemanis bergizi harus diperhitungkan dalam jumlah kalori total
yang diberikan.
- Pemanis tak bergizi: sakarin, aspartam, acesulfame-K, dan sukralose.
o Harus dipertimbangkan bila sering dipergunakan.
o Sakarin: berhubungan dengan kanker kandung empedu.
o Aspartam: tidak boleh pada pasien fenilketonuria.
Alkohol
Alkohol menyediakan 7 kkal/g. Alkohol langsung diabsorbsi oleh lambung,
duodenum, dan jejenum, dan tidak memerlukan insulin dalam metabolismenya. Hati
merupakan tempat metabolisme dan oksidasi dari alkohol. Minum alkohol yang
berlebihan memberikan efek pada sistem saraf pusat.
Dianjurkan untuk membatasi konsumsi alkohol [yaitu tidak lebih dari 30 ml
etanol (720 ml bir), 300 ml wine, atau 60 ml wiski, untuk pria; dan 15 ml etanol
untuk wanita atau yang badannya agak kurus (lighter-weight persons)]. Untuk
mencegah terjadinya hipoglikemik, maka minum alkohol harus sewaktu/bersama
makan.
Pasien DM yang tidak melakukan kontrol secara teratur dan wanita hamil tidak
diperbolehkan minum alkohol.
Mineral dan Vitamin
Mineral dan vitamin yang dianjurkan untuk penderita DM adalah:
- Kromium: 200 g/hari.
- Vanadium: 20-100 g/hari.
- Vitamin E: 400 mg/hari.
- Natrium: < 3 g/hari untuk mencegah hipertensi.

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

- Kalsium: 1000-1500 mg.


Olahraga dan Nutrisi
Olahraga teratur merupakan salah satu komponen penting dalam penanganan
pasien DM. Manfaat olahraga yaitu:
- meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot 15 kali dibandingkan waktu istirahat.
- meningkatkan sensitivitas insulin, yang bisa bertahan sampai 24-72 jam sesudah
olahraga.
Olahraga harus di bawah pengawasan dokter oleh karena pasien bisa
mengalami hipoglikemia waktu berolahraga. Sebelum berolahraga, pasien DM perlu
diberikan cemilan. Dan untuk olahraga yang lama, perlu diberikan cemilan tiap 30-60
menit yaitu 15-30 g karbohidrat yang cepat diabsorbsi seperti jus, dll.
Beberapa individu menjadi hipoglikemik beberapa jam setelah olahraga
berakhir. Jadi perlu cemilan atau makanan setelah berolahraga.
Langkah-langkah Mengatur Menu
1. Tentukan kebutuhan energi menggunakan rumus yang ada. Yang membutuhkan
penurunan BB, dikurangi 500 kkal/hari.
2. Hitung kebutuhan energi dari masing-masing makronutrien. Contoh: Kebutuhan
2000 kkal.
o KH

: 57%= 1160 kkal.

o Protein : 15%= 300 kkal.


o Lemak : 27%= 540 kkal.
3. Ubahlah kalori ke dalam bentuk gram.
o KH

: 1160/4=290 gr.

o Protein : 300/4=75 gr.


o Lemak : 540/9=60 gr.
4. Tentukan bahan makanan sesuai kebutuhan tersebut dengan menggunakan daftar
bahan makanan penukar, dengan memperhatikan budaya, etnik, dan pola makan
pasien.
o Mula-mula diatur jumlah nasi/sejenis, sayur, buah, dan susu untuk memenuhi
kebutuhan KH.
o Kemudian ditambahkan daging/penukar lainnya untuk memenuhi kebutuhan
protein.
o Terakhir tambahkan lemak sesuai kebutuhan.

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

5. Susun menu dan bagi dalam beberapa porsi (bisa 3x makan utama dan 1-2x
snek), contoh:
o Makan utama: >65% total kalori.
o Sarapan : 20-30%.
o Siang

: 20-35%.

o Malam : 25-40%.
o Snek

: bisa sampai 35%.

6. Akhirnya, hitunglah jumlah serat dalam menu tersebut. Sesuaikan dengan jumlah
yang dibutuhkan dengan menggunakan daftar kandungan serat dalam bahan
makanan.

Daftar Pustaka
Anderson JW. Diabetes Mellitus: Medical Nutrition Therapy. In Shils ME et al (ed).
Modern Nutrition in Health and Disease 10th ed. Philadelphia, Lippincott
Williams&Wilkins, 2006, pp.1043-1066.
Escott-Stump S. Nutrition and Diagnosis Related Care, 5th ed. Philadelphia, Lippincott
Williams & Wilkins, 2002.
Franz MJ. Medical Nutrition Therapy for Diabetes Mellitus and Hypoglycemia of
Nondiabetic Origin. In Mahan LK, Escott-Stump S (eds). Krauses Food, Nutrition, &
Diet Therapy, 11th ed. USA, Saunders-Elsevier, 2004, 792-837.
Shikany JM. Diabetes. In Heimburger DC, Ard JD (eds). Handbook of Clinical Nutrition, 4 th ed.
Philadelphia, Mosby Elsevier, 2006, pp 401-411.
Suyono S. Pengaturan Makan dan Pengendalian Glukosa Darah. Dalam Waspadji S dkk
(ed). Pedoman Diet Diabetes Melitus. Jakarta, FK UI, 2004, hal. 9-15.

Tugas mandiri untuk masing-nasing mahasiswa:


Menjelaskan rekomendasi terapi gizi pasien DM tipe 2 dari Perkeni yang terbaru.
(ditulis lengkap dengan sumber literaturnya)
Tugas dikumpul pada saat ujian praktikum gizi

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

HIPERTENSI
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah selesai mengikuti kuliah tentang Hipertensi, mahasiswa S05 FK UNSRAT
dapat membuat perencanaan penanganan nutrisi untuk hipertensi.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


1.

Menjelaskan prevensi hipertensi.

2.

Menjelaskan penanganan nutrisi hipertensi

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

HIPERTENSI

Sampai saat ini hipertensi masih merupakan masalah dalam kesehatan


masyarakat di negara-negara yang sudah maju dan bahkan juga di negara-negara
yang sedang berkembang. Hipertensi yang tidak ditangani bisa menyebabkan
berbagai penyakit degeneratif seperti payah jantung kongestif, penyakit ginjal, dan
penyakit pembuluh darah perifer. Hipertensi sering disebut silent killer karena
orang dengan hipertensi bisa hidup tanpa gejala selama bertahun-tahun, kemudian
tiba-tiba mendapat stroke atau serangan jantung yang fatal.
Dengan adanya pencegahan dan penanganan yang baik, insidens hipertensi
dan cacat akibat penyakit ini bisa diturunkan. Adanya penurunan mortalitas akibat
penyakit kardiovaskular dalam dua dekade terakhir ini dihubungkan dengan adanya
peningkatan usaha terhadap deteksi dan kontrol yang baik terhadap hipertensi.
Hubungan antara diet dan tekanan darah (TD) sudah sejak lama diketahui.
Tekanan darah yang rendah sering dihubungkan dengan konsumsi yang tinggi akan
kalium, kalsium, magnesium, protein dan serat, disertai dengan asupan yang rendah
akan alkohol dan lemak. Jadi diet merupakan faktor yang sangat berperan, baik
dalam pencegahan maupun dalam penanganan hipertensi.
Dari mereka yang mempunyai TD tinggi, 90-95% merupakan hipertensi primer
atau esensial, di mana penyebabnya tidak bisa ditentukan. Diperkirakan banyak hal
yang menjadi penyebabnya, termasuk disfungsi renal. Sedangkan 5% yang sisa,
merupakan akibat dari penyakit lain, umumnya endokrin, dan dikenal dengan
hipertensi sekunder. Tergantung dari penyakit yang mendasarinya, hipertensi
sekunder ini bisa diobati.
Definisi dan Klasifikasi
Definisi umum dari hipertensi adalah TD sistolik >140 mmHg atau TD diastolik
>90 mmHg atau lebih, atau gabungan keduanya. Berdasarkan risiko terhadap
timbulnya komplikasi penyakit kardiovaskular, maka hipertensi diklasifikasikan dalam
derajat 1 dan derajat 2 ( Tabel 1).
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah
KATEGORI
Optimal

TEKANAN DARAH (mmHg)


SISTOLIK

DIASTOLIK

<120

dan

<80

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Prehipertensi

121-139

atau

81-89

Hipertensi
Derajat 1
Derajat 2

140-159
> 160

atau
atau

90-99
> 100

Dari: Ard JD: Hypertension. In Heimburger DC, Ard JD (eds): Handbook of Clinical Nutrition, 4 th ed. Philadelphia, Mosby
Elsevier, 2006, pp 413-421.

Hipertensi derajat 1 paling banyak ditemukan dalam masyarakat. Dengan kata


lain, kelompok ini yang paling banyak mengidap infark miokard dan stroke. Makin
meningkat TD, insidens penyakit kardiovaskuler dan penyakit ginjal meningkat pula.
Jadi menormalkan TD merupakan hal yang penting pada setiap derajat hipertensi.
Prevensi Primer
Prevensi primer hipertensi bisa memperbaiki kualitas hidup dan juga
mencegah

kerugian

akibat

penanganan

medis

terhadap

hipertensi

dan

komplikasinya. Strategi untuk prevensi primer ditujukan pada mereka yang termasuk
kelompok prehipertensi.
Dari penelitian kohort Framingham, ditemukan bahwa TD prehipertensi sudah
mempunyai

hubungan

dengan

peningkatan

risiko

penyakit

kardiovaskuler.

Penurunan TD sistolik 3 mmHg bisa menurunkan 8% kematian akibat stroke dan 5%


kematian akibat penyakit jantung koroner. Mereka yang termasuk dalam kelompok
risiko tinggi (Tabel 2) harus diajak untuk mempraktekkan gaya hidup yang sehat.
Perubahan (modifikasi) gaya hidup ini sangatlah esensial dalam pencegahan dan
penanganan hipertensi.
Tabel 2. Faktor Risiko Hipertensi
FAKTOR RISIKO HIPERTENSI
Tekanan darah 130-139 mmHg
Riwayat hipertensi dalam keluarga
Berat badan lebih
Asupan garam berlebihan
Aktivitas fisik kurang
Mengkonsumsi alkohol
Dimodifikasi dari: Krummell DA: Medical Nutrition Therapy in Hypertension. In Mahan LK, Escott-Stump (eds): Krauses
Food, Nutrition, & Diet Therapy, 11th ed. USA, Saunders Elsevier, 2004, pp 900-918.

Perubahan terhadap faktor-faktor yang bisa diubah (modifiable factors)


sangatlah efektif dalam pencegahan primer dan dalam kontrol terhadap hipertensi.
Keempat faktor tersebut adalah:
- Berat badan (BB) lebih
- Asupan tinggi garam

10

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

- Konsumsi alkohol
- Aktivitas fisik yang kurang
Perubahan

terhadap

faktor-faktor

di

atas

dapat

dilakukan

dengan

memodifikasi gaya hidup. Modifikasi gaya hidup sebagai pencegahan dan juga
sebagai penanganan terhadap hipertensi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Modifikasi Gaya Hidup sebagai Pencegahan dan Penanganan dan Hipertensi
MODIFIKASI GAYA HIDUP
Turunkan BB bila berat badan lebih
Batasi konsumsi alkohol tidak lebih dari 30 ml etanol (720 ml bir), 300 ml wine, 60 ml wiski, untuk pria; dan 15 ml etanol untuk
wanita atau yang badannya agak kurus
Tingkatkan aktivitas fisik jenis aerobik >3 hari/minggu selama 30-45 menit
Pertahankan asupan garam yang adekuat (+ 90 mmol/hari)
Pertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat
Berhenti merokok
Kurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol
Dimodifikasi dari: Krummell DA: Medical Nutrition Therapy in Hypertension. In Mahan LK, Escott-Stump (eds): Krauses
Food, Nutrition, & Diet Therapy, 11th ed. USA, Saunders Elsevier, 2004, pp 900-918.

Berat Badan Lebih


Berat badan merupakan salah satu faktor determinan terhadap TD pada semua
usia. National Institutes of Health (NIH) mengemukakan bahwa prevalens hipertensi
pada kelompok dengan IMT >30 adalah 38% pada pria dan 32% pada wanita,
sedangkan pada kelompok dengan IMT <25, hanya 18% pada pria dan 17% pada
wanita. Risiko peningkatan TD pada BB lebih adalah 2 sampai 6 kali lebih besar
dibandingkan mereka yang mempunyai BB normal.
Beberapa perubahan fisiologik yang kemungkinan bisa menjelaskan hubungan
antara BB lebih dan TD adalah resistensi insulin dan hiperinsulinemia, aktivasi nervus
simpatetik dan sistem renin-angiotensin, serta perubahan fisik ginjal. Peningkatan
asupan energi juga berhubungan dengan meningkatnya insulin plasma yang
merupakan faktor natriuretik potent penyebab peningkatan reabsorbsi Na ginjal yang
mengakibatkan TD meningkat.
Penurunan BB menyebabkan penurunan resistensi vaskuler, volume darah
total, cardiac output, dan aktivitas sistem saraf simpatetik; penekanan sistem reninangiotensin; serta perbaikan resistensi insulin. Mengurangi asupan makanan juga
secara

tidak

langsung

juga

berarti

mengurangi

asupan

natrium.

penurunan BB dan diet rendah garam lebih efektif dalam menurunkan TD.
Asupan NaCl

11

Kombinasi

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Garam merupakan faktor nutrisi yang paling dikenal mempengaruhi TD.


Hipotesis mengenai hubungan garam dengan TD pertama-tama dikeluarkan oleh
Ambard dan Beaujard pada tahun 1904. Dokumen pertama mengenai penurunan TD
akibat restriksi garam ditulis oleh Allen tahun 1922.
Natrium ditemukan pada hampir semua bahan makanan dan makanan jadi.
Kebutuhan Na bagi anak-anak dan dewasa adalah <200 mg/hari, meskipun demikian
umumnya masyarakat mengkonsumsi beberapa kali lipat dari jumlah tersebut yaitu
6-12 g NaCl/hari (2,4 -5 g Na). ( Cat. Natrium dan garam dalam gram serta
miliekuivalennya dapat dilihat pada Tabel 4). Rata-rata persentase natrium dalam
makanan yang kita makan dalam sehari dapat dilihat pada Tabel 5.
Individu dengan asupan rendah garam, tubuhnya bisa beradaptasi dengan
jalan menahan pengeluaran Na oleh ginjal yang normal (bisa sampai 0) dan dengan
mengurangi pengeluaran keringat.
Tabel 4. Natrium dan Garam dalam Gram serta pengukuran dalam Miliekuivalen
mEq Na*
(+)

mg Na

g NaCl
(+)

11

250

0,6

22

500

1,3

43

1000

2,5

65

1500

3,8

87

2000

5,0

130

3000

7,6

174

4000

10,2

217

5000

12,7

*1 mEq Na/L = 1 mmol/L


Dari: Krummel, DA: Medical Nutrition Therapy for Heart Failure and Transplant. In Mahan LK, Escott-Stump (eds):
Krauses Food, Nutrition, & Diet Therapy, 11th ed. USA, Saunders Elsevier, 2004, pp 919-936.

Sebuah metaanalisis dari beberapa uji klinis melaporkan hubungan antara


reduksi asupan Na dan TD, yaitu setiap penurunan asupan Na sebanyak 100
mmol/hari akan menyebabkan penurunan TD sebesar 5,8/2,5 mmHg pada
penderita

dengan

hipertensi

dan

2,3/1,4

mmHg

pada

yang

tanpa

hipertensi.

Tabel 5. Rata-rata Persentase Na dalam Makanan


SUMBER

PERSENTASE

Penambahan
Dipergunakan waktu memasak

6,0

12

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Ditambahkan di meja makan

9,0

Dalam makanan
Natural dalam bahan makanan

18,5

Penambahan pada makanan jadi

58,7

Zat-zat aditif non-salt

7,2

Garam pada air minum

0,6

Total

100 0

Oleh karena tidak ada keuntungannya mengkonsumsi Na melebihi yang


dibutuhkan untuk mengganti Na yang hilang tiap hari, maka untuk mencegah
hipertensi, direkomendasikan asupan Na <100 mmol/hari (=6 g NaCl = 2,4 g Na).
Batas ini bisa dicapai dan palatable setelah periode adaptasi singkat.
Alkohol
Alkohol merupakan salah satu faktor penting yang berhubungan dengan
peningkatan TD. Peminum berat umumnya mempunyai TD lebih tinggi dibandingkan
peminum ringan/tidak peminum.
Mekanisme peningkatan TD akibat alkohol belum jelas. Kemungkinan karena
terjadi peningkatan volume sel darah merah sehingga viskositas darah meningkat
yang mengakibatkan TD meningkat.
Untuk mencegah terjadinya hipertensi, dianjurkan untuk membatasi konsumsi
alkohol [yaitu tidak lebih dari 30 ml etanol (720 ml bir), 300 ml wine, atau 60 ml
wiski, untuk pria; dan 15 ml etanol untuk wanita atau yang badannya agak kurus
(lighter-weight persons)].
Aktivitas Fisik
Orang-orang yang kurang

aktif mempunyai

risiko

30-50%

mengidap

hipertensi dibandingkan dengan mereka yang aktif.


Dua metaanalisis yang memperlihatkan keuntungan dari latihan terhadap TD:
1. Jalan kaki menurunkan TD orang dewasa sebesar + 2%.
2. Latihan aerobik menurunkan TD sistolik sebesar 4 mmHg dan TD distolik sebesar
2 mmHg pada pasien hipertensi dan tanpa hipertensi (di luar akibat penurunan
BB).
Jadi peningkatan intensitas aktivitas fisik selama 30-45 menit >3 hari/minggu
sangat menunjang strategi prevensi primer lainnya terhadap hipertensi.
Faktor Nutrisi Lainnya

13

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Kalium
Diet kalium mempunyai korelasi negatif dengan TD. Konsumsi tinggi kalium
berhubungan dengan TD yang lebih rendah.
Efek asupan K terhadap TD adalah mengurangi resistensi pembuluh
darah perifer melalui dilatasi arteriolar, meningkatkan ekskresi air dan Na,
supresi sekresi renin dan angiotensin, menurunkan tonus adrenergik, dan
menstimulasi aktivitas pompa Na-K.
Kalium
hiperkalemia

sebaiknya
akibat

diberikan

penggunaan

dalam

preparat

bentuk
K

bisa

makanan.
lebih

Karena

besar

dari

risiko

efeknya

menurunkan TD. Dengan meningkatkan asupan sayur dan buah-buahan maka


rekomendasi untuk asupan K bisa dicapai, yaitu 90 mmol/hari.
Kalsium
Terdapat

banyak

penelitian

di

masyarakat

yang

menemukan

adanya

hubungan yang signifikan antara kalsium dan hipertensi. Berdasarkan analisis gizi di
USA, ditemukan bahwa hipertensi lebih banyak ditemukan pada individu dengan
asupan rendah kalsium. Pada penelitian di Inggris juga ditemukan bahwa penyakit
kardiovaskular lebih kurang ditemukan pada daerah yang menggunakan air yang
mengandung lebih banyak kalsium. Juga pada suatu uji kontrol didapatkan asupan
1000 mg kalsium per hari memberikan efek pada tekanan sistolik namun tidak pada
diastolik.
Sebagai

tindakan

preventif

dan

untuk

penanganan

hipertensi,

direkomendasikankan untuk mengkonsumsi kalsium 1000-2000 mg/hari.


Magnesium
Magnesium

(Mg)

mempunyai

korelasi

negatif

dengn

TD.

Magnesium

merupakan inhibitor poten terhadap kontraksi otot polos pembuluh darah. Namun,
dalam beberapa uji klinis didapatkan bahwa suplementasi Mg tidaklah efektif dalam
menurunkan TD. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya confounding effects
dari obat-obat anti hipertensi dan pendeknya waktu penelitian. Secara umum, belum
ada data adekuat yang mendukung pemberian suplementasi Mg untuk mencegah
hipertensi. Namun cukup dianjurkan untuk mengkonsumsi banyak sayur dan buah
untuk meningkatkan asupan mineral termasuk Mg.
Lemak

14

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Kaum vegetarian kurang mengidap hipertensi dibandingkan dengan kaum


omnivora, walaupun asupan garamnya tidak berbeda secara signifikan. Vegetarian
cenderung

mengkonsumsi

tinggi

asam

lemak

tak

jenuh

ganda

(PUFA=

polyunsaturated fatty acid); dan rendah dalam total lemak, asam lemak jenuh, dan
kolesterol. PUFA merupakan prekursor prostaglandin yang berperan dalam ekskresi
Na ginjal dan relaksasi otot pembuluh darah.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat hubungan jenis dan jumlah
lemak dengan TD namun sulit dibuktikan hubungan langsung antara konsumsi lemak
dengan TD. Oleh karena konsumsi lemak sangat erat hubungannya dengan risiko
penyakit kardiovaskular, maka diet lemak dimasukkan juga dalam modifikasi gaya
hidup untuk mencegah hipertensi.
Pada penelitian yang lebih baru (2002), didapatkan bahwa suplementasi
minyak ikan dosis tinggi (median dosis 3,7 g/hari) bisa menurunkan TD sistol dan
diastol, terutama pada pasien hipertensi lanjut usia. Juga diet yang diperkaya olive
oil dapat menurunkan penggunaan obat anti-hipertensi sebanyak 48%.
Lainnya
Protein soya merupakan faktor yang mempunyai kontribusi juga dalam
menurunkan TD.
Penanganan
Target penanganan hipertensi adalah menurunkan angka morbiditas dan
mortalitas akibat stroke, penyakit jantung yang berhubungan dengan hipertensi, dan
penyakit ginjal.
Ada beberapa jenis penanganan yang harus berjalan bersama atau saling
menunjang satu sama lain yaitu:
1. Modifikasi gaya hidup
2. Penanganan BB
3. Restriksi garam
4. Modifikasi diet lainya
5. Latihan fisik
6. Farmakoterapi
Umumnya penanganan masing-masing jenis ini (1-5) hampir sama dengan
pada usaha preventif primer. Cara lain pembagian jenis terapi dapat dilihat pada
Gambar 1.

15

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Mengevaluasi pasien hipertensi mempunyai tiga tujuan yaitu mengidentifikasi


kemungkinan penyebab, melihat ada tidaknya penyakit organ target (POT) dan
penyakit kardiovaskuler (PKV), serta mengidentifiksi faktor risiko PKV lainnya yang
perlu dalam proses pengobatan (Tabel 6).
Dalam anamnesis, perlu ditanyakan mengenai perubahan BB dan aktivitas
fisik. Juga perlu ditanyakan dietnya terutama asupan garam, alkohol, lemak jenuh,
dan kafein.
Bila terdapat adanya faktor risiko PKV yang lain dan atau sudah

disertai

dengan POT (lihat Gambar 1), maka pengobatan harus lebih agresif.
Tabel 7 memperlihatkan bahwa modifikasi gaya hidup merupakan terapi
primer dari 4 kelompok risiko dan terapi penunjang untuk 5 kelompok lainnya.
Asupan Na

BB lebih

Asupan alkohol

TEKANAN SISTOLIK
DAN/ATAU DIASTOLIK
NAIK

Asupan K, Mg, dan


Ca

Aktivitas fisik

Stres

DIAGNOSIS
TD Sistolik > 139 mmHg
TD Diastolik > 89 mmHg

PENYAKIT ORGAN
TARGET (POT)
Jantung
Serebrovaskular
Perifer
Ginjal
Retinopati

P E N A N G A N A N

M ED I S

NUTRISI

OBAT ANTI HIPERTENSI


MODIFIKASI GAYA HIDUP
Pengaturan BB
Diuretik
Kurangi garam
Beta bloker
Olahraga
Kurangi
alkohol
Vasodilator
Kurangi stres
Banyak
makan
sayur dan
ACE inhibitor
Gambar 1. Algoritme Konseling
Patofisiologi dan Terapi Hipertensi
buah (sumber mineral)
Ca channel blockers
Dari: Krummell
DA. Medical
(eds): Krauses
16 In Mahan LK, Escott-Stump
Penyuluhan gizi
1-Receptor
blockers Nutrition Therapy in Hypertension.
Food, Nutrition, & Diet Therapy, 11th ed. Saunders, Elsevier, USA, 2004, pp 900-918.

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Tabel 6. Komponen Faktor Risiko pada Pasien Hipertensi


FAKTOR RISIKO UTAMA
Merokok
Dislipidemia
Umur > 60 tahun
Jenis kelamin (laki-laki dan wanita postmenopause)
Riwayat penyakit kardiovaskuler PKV dalam keluarga: pada laki-laki <55 tahun dan wanita <65 tahun
PENYAKIT ORGAN TARGET (POT)/ PKV
Penyakit jantung
Hipertrovi ventrikuler kiri
Angina atau miokard infark
Revaskularisasi koroner sebelumnya
Payah jantung
Stroke atau transient ischemic attack (TIA)
Nefropati
Penyakit arterial perifer
Retinopati
Dari: Krummell DA: Medical Nutrition Therapy in Hypertension. In Mahan LK, Escott-Stump (eds): Krauses Food, Nutrition,
& Diet Therapy, 11th ed. USA, Saunders Elsevier, 2004, pp 900-918.

Tabel 7. Pembagian Kategori Kelompok Risiko dan Pengobatannya


KATEGORI TD /mmHg

KELOMPOK RISIKO RENDAH1

KELOMPOK RISIKO SEDANG2

KELOMPOK RISIKO TINGGI3

130-139/85-89

Modifikasi gaya hidup

Modifikasi gaya hidup

Terapi obat4

Derajat 1 (140-159/90-99)

Modifikasi gaya hidup


(sampai 12 bln)

Modifikasi gaya hidup5 (sampai 6


bln)

Terapi obat

Derajat 2 (>160/>100)
Terapi obat
Terapi obat
Terapi obat
tidak ada faktor risiko untuk penyakit kardiovaskuler, tidak ada POT/PKV
2
sekurang-kurangnya 1 faktor risiko di luar DM, tidak ada POT/PKV
3
POT/PKV dan/atau DM, dengan/tanpa faktor risiko lainnya
4
Untuk mereka dengan payah jantung, insufisiensi renal, atau diabetes
5
Untuk faktor risiko multipel, obat merupakan terapi awal ditambah modifikasi gaya hidup
Dari: Krummell DA: Medical Nutrition Therapy in Hypertension. In Mahan LK, Escott-Stump (eds): Krauses Food, Nutrition,
& Diet Therapy, 11th ed. Saunders Elsevier, USA, 2004, pp 900-918.
1

Modifikasi Gaya Hidup


Modifikasi gaya hidup merupakan terapi definitif untuk sekelompok

pasien

hipertensi dan merupakan terapi penunjang untuk kelompok lainnya. Tergantung dari
adanya faktor risiko, modifikasi gaya hidup harus diusahakan pada 6-12 bulan
pertama pengobatan

sebelum

pemberian

obat-obatan.

Walaupun

dengan

modifikasi gaya hidup tidak secara total memperbaiki TD, namun hal tersebut
meningkatkan efikasi pengobatan dan memperbaiki faktor risiko PKV lainnya.
Penanganan hipertensi memerlukan komitmen sepanjang hidup
Penanganan Berat Badan

17

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Asupan kalori sebanyak 25 kkal/kgBB dikurangi 500-1000 kkal setiap hari akan
mengurangi BB 0,5-1 kg/minggu dan bisa mencapai penurunan BB total sebanyak
4,5 kg. Penurunan BB ini bisa menurunkan TD dan juga menormalkan lemak dan
glukosa darah. Makin besar penurunan BB, makin besar penurunan TD. Beberapa
pasien hipertensi derajat 1, TDnya bisa menjadi normal hanya dengan penurunan
BB.
Keuntungan lain dari penurunan BB adalah efek sinergetiknya dengan terapi
obat. Penurunan BB bisa menurunkan dosis dan jumlah obat antihipertensi.
Diet Rendah Garam
Pasien hipertensi direkomendasi untuk membatasi asupan garam yaitu 6 g
garam/hari (100 mmol atau 2,4 g Na). Restriksi terutama untuk garam (NaCl) karena
klorida bersama natrium menaikkan TD. Namun perhatian juga harus ditujukan pada
makanan-makanan jadi (lihat labelnya) yang mengandung garam atau natrium (Tabel
8 dan Tabel 9).
Tabel 8. Istilah untuk Natrium dalam Pelabelan Makanan
ISTILAH YANG DIGUNAKAN

KADAR NATRIUM

Sodium free

<5 mg/porsi standar

Very low sodium

<35 mg/porsi standar

Low sodium

<140 mg/porsi standar

Reduced sodium

Dikurangi minimal 25% natrium/porsi standar

Light in sodium

Dikurangi 25% natrium/porsi standar

Unsalted, without added salt, atau no salt added

Tidak dinambahkan garam dalam proses pembuatan

Lightly salted

Hanya ditambahkan 50% natrium dari yang normal


ditambahkan

Dari: Krummel, DA: Medical Nutrition Therapy for Heart Failure and Transplant. In Mahan LK, Escott-Stump (eds):
Krauses Food, Nutrition, & Diet Therapy, 11th ed. USA, Saunders Elsevier, 2004, pp 919-936.

Tabel 9. Bahan Makanan yang Kemungkinan Mengandung Natrium


NAMA

MAKANAN/BAHAN MAKANAN

Disodium fosfat

Sereal, keju, es krim, minuman botol

Monosodium glutamat

Penguat/penyedap rasa, daging, , sup, permen, baked goods, dll.

Sodium alginat

Es krim, susu coklat

Sodium benzoat

Jus buah

Sodium hidroksida

Pretzels, sour cream, produk cocoa, canned peas

Sodium propionat

Roti

Sodium sulfit

Buah kering, dll

Sodium pektinat

Sirup dan toping, es krim, salad dressing, selai, jeli

Sodium kaseinat

Es krim dan produk beku lainnya

Sodium bikarbonat

Baking powder, saos tomat, tepung pengembang, manisan.

18

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Modifikasi dari: Krummel, DA: Medical Nutrition Therapy for Heart Failure and Transplant. In Mahan LK, Escott-Stump
(eds): Krauses Food, Nutrition, & Diet Therapy, 11th ed. USA, Saunders Elsevier, 2004, pp 919-936.

Sebenarnya ada 4 jenis diet rendah garam (DRG) namun bentukbentuk DRG tersebut terutama ditujukan pada penderita jantung kongestif
(Tabel 10).
Hasil konsensus terakhir, diet restriksi garam 3 g Na/hari dikomendasikan
untuk payah jantung kronis. Diet garam yang lebih ketat (1-2 g Na/hari) diberikan
bila bila sudah terdapat payah jantung kongestif sedang sampai berat. Pada kasus
yang jarang, diperlukan diet hanya 0,5 g Na/hari, namun jangan terlalu lama oleh
karena diet semacam ini sangatlah tidak enak dan tidak adekuat gizinya. Jadi
sebaiknya diet garamnya jangan terlalu ketat dan penggunaan diuretik ditingkatkan.
Tabel 10. Jenis-jenis Diet Rendah Garam (DRG)
JENIS DIET
Diet tanpa penambahan
garam (no-added-salt
diet)
DRG ringan
DRG sedang

DRG ketat

JUMLAH Na
3g

KETERANGAN
Makanan yang mengandung tinggi garam dibatasi. Asupan garam tidak
boleh melebihi sdt/hari

2g

Makanan yang mengandung tinggi garam dihindari. Asupan garam tidak


boleh melebihi sdt/hari
Makanan yang mengandung sedang dan tinggi garam dihindari. Tidak
diperkenankan penggunaan garam dalam makanan. Hindari makanan
kaleng /makanan jadi
Makanan yang mengandung sedang dan tinggi garam dihindari. Tidak
diperkenankan penggunaan garam dalam makanan. Hindari makanan
kaleng /makanan jadi. Diet lebih ketat lagi

1g

500 mg

Daftar Pustaka
Ard JD. Hypertension. In Heimburger DC, Ard JD (eds). Handbook of Clinical Nutrition, 4 th ed.
Philadelphia, Mosby Elsevier, 2006, pp 413-421.
Kotchen TA, Kotchen JM. Nutrition, Diet, and Hypertension. In Shils ME et al (ed). Modern
Nutrition in Health and Disease 10 th ed. Philadelphia, Lippincott Williams&Wilkins,
2006, pp.1095-1107.
Krummel, DA. Medical Nutrition Therapy for Heart Failure and Transplant. In Mahan
LK, Escott-Stump (eds). Krauses Food, Nutrition, & Diet Therapy, 11th ed. USA,
Saunders Elsevier, 2004, pp 919-936.
Krummell DA. Medical Nutrition Therapy in Hypertension. In Mahan LK, Escott-Stump
(eds). Krauses Food, Nutrition, & Diet Therapy, 11th ed. USA, Saunders Elsevier, 2004,
pp 900-918.

Tugas mandiri untuk masing-nasing mahasiswa:

19

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Menyebutkan contoh-contoh bahan makanan atau makanan jadi (minimal 10) yang
dijual di pasar/supermarket, yang mengandung natrium dan menyebutkan jenis
komponen natrium yang terkandung beserta kadarnya (kalau ada).
Tugas dikumpul pada saat ujian praktikum gizi

20

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

OBESITAS
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah selesai mengikuti kuliah tentang Obesitas, mahasiswa dapat mendiagnosis
dan merencanakan penanganan obesitas.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


1.

Menjelaskan definisi obesitas.

2.

Menetapkan diagnosis obesitas.

3.

Menjelaskan klasifikasi obesitas.

4.

Menjelaskan konsekuensi obesitas.

5.

Merencanakan penatalaksanaan obesitas.

Pokok Bahasan
Obesitas.
Sub Pokok Bahasan
1.

Definisi obesitas.

2.

Diagnosis obesitas.

3.

Klasifikasi obesitas.

4.

Konsekuensi obesitas.

5.

Penatalaksanaan obesitas.

21

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

OBESITAS

Menurut data statistik, prevelensi obesitas semakin meningkat. Di Indonesia,


semakin banyak orang yang menderita obesitas. Hal ini secara umum disebabkan
oleh adanya peningkatan status sosial ekonomi masyarakat dan peningkatan
teknologi yang memudahkan manusia mengerjakan sesuatu. Hal ini diperberat oleh
adanya arus urbanisasi, pola hidup yang westernisasi, dan adanya modernisasi.

Definisi
Obesitas adalah suatu kondisi dimana terdapat kelebihan simpanan energi
dalam bentuk lemak dalam tubuh sehingga memberikan efek pada kesehatan dan
kehidupan.
Cara

penggolongan

obesitas

terus

diperbarui

sesuai

kemajuan

ilmu

pengetahuan, teknologi, dan keberadaan manusia itu sendiri.


Diagnosis
Terdapat beberapa metode untuk menentukan apakah seseorang menderita
obese atau tidak. Berikut ini dipaparkan beberapa metode yang sering dipakai baik
di klinik maupun di masyarakat.
1. Indeks Massa Tubuh (IMT)/Body Mass Index (BMI)
- Rumus: IMT = BB/TB2 dalam kg/m2.
- IMT >25 kg/m2 atau untuk orang Asia >23 kg/m 2, termasuk dalam kategori berat
badan lebih; sedangkan dikatakan obes bila IMT > 30 kg/m 2 (Lihat Tabel 6.1).
2. Standar Brocca
BB Ideal = (TB - 100) - 10% (TB - 100)
Contoh:

TB. 158 cm,

BB Ideal =

(158-100) - 10%(158-100) = 58 5,8 = 52,2 kg

Klasifikasi untuk orang dewasa:


- Kelebihan 1020% dari BB ideal: berat badan lebih
- Kelebihan > 20% BB ideal: obes.
Tabel 6.1. Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan IMT dan Resiko Penyakit
IMT
Berat badan kurang

KLASIFIKASI
< 18,5

RESIKO PENYAKIT
Rendah

22

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Normal

18,5 24,9

Normal

Berat badan lebih

> 25 (23)

Meningkat

- Pre-obes

25-29,9 (27,4)

Ringan

- Obes I

30 (27,5) -34,9

Sedang

- Obes II

35-39,9

Berat

- Obes III

> 40

Sangat berat

3. Waist-Hip Ratio (WHR)


Untuk orang Indonesia, dikatakan obesitas abdominal bila:
- Pria: WHR >1,0; Wanita: WHR >0,85.
4. Lingkar Pinggang
- Dikatakan obesitas (abdominal) bila lingkar pinggang pria 90 cm dan wanita
80 cm.
- Perhatian juga diberikan pada individu dengan penambahan lingkar pinggang
yang terus menerus.
Klasifikasi
Klasifikasi Klinik
A. Karakteristik anatomis dan jaringan lemak dan distribusi lemak
1.Jumlah dan ukuran sel lemak
a. Obesitas hipertrofi
b. Obesitas hiperseluler
2.Distribusi lemak
a. Obesitas sentral
b. Obesitas perifer
3.Lipoma dan lipodistrofi
a. Lipoma
b. Lipodistrofi
B. Klasifikasi Etiologis
1.Obesitas neuroendokrin
a. Obesitas hipotalamik
b. Sindrom Cushing
c. Hipotiroidisme
d. Sindrom polikistik ovari
e. Defisiensi hormon pertumbuhan
2.Drug-induced weight gain (lihat Tabel 6.2.)
23

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Tabel 6.2. Obat yang Menyebabkan Peningkatan BB dan Alternatifnya


KATEGORI

OBAT YANG MENYEBABKAN BB

ALTERNATIF

Neuroleptik

Tioridazin, olanzepin, quetiapin, resperidon,


clozapin

Molindon, haloperidol, ziprasodon

Amitriptilin, nortriptilin imipramin, mitrazapin,


paroxetin

Proptilin
Bupropion, nefazadon

Antidepresan
Trisiklik
Inhibitor monoamin oksidase
Inhibitor reuptake serotonin
selektif

Fluoxetin, sertralin

Antikonvulsan

Valproat, karbamazepin, gabapentin

Obat anti-diabetes

Insulin

Topiramat, lamotrigin, zonisamid

Sulfonilurea

Miglitol, sibutramin

Tiazolidindion

Metformin, orlistat

Antiserotonin

Pizotifen

Antihistamin

Ciproheptadin

Inhaler, dekongestan

Bloker adrenergik

Propanolol
Terazosin

ACE inhibitor, bloker kalsium


channel

Hormon steroid

Kontraseptif

Metode barier

Glukokortikoid

Antiinflamasi nonsteroid

Steroid progestasional
Dari: Bray GA: Classification and Evaluation of the Overweight Patient. In Bray GA, Bouchard C (ed): Handbook of Obesity:
Clinical Application, 2nd ed. New York, Marcell Dekker Inc, 2004, pp 1-32.

3.Obesitas karena berhenti merokok


4.Obesitas karena kurang bergerak
5.Obesitas akibat diet (jumlah asupan energi relatif lebih banyak dari pengeluaran
energi)
6.Obesitas akibat faktor psikologis dan sosial
7.Obesitas akibat faktor sosioekonomik dan etnik
8.Obesitas akibat kelainan genetik dan kongenital

Klasifikasi Lain
-

Dari bentuk tubuh:


o

Kegemukan tipe android (bentuk buah apel), lebih sering mendapat komplikasi,
namun lebih mudah diturunkan berat badannya.

Kegemukan tipe ginekoid (bentuk buah pear), lebih kurang mendapat komplikasi,
namun lebih sulit diturunkan berat badannya.

Kegemukan tipe ovid (bentuk kotak).


24

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Dari sudut histologi:


o

Kegemukan hipertrofik, lebih sering mendapat komplikasi, namun lebih mudah


diturunkan berat badannya.

Kegemukan hiperplasia, lebih kurang mendapat kom-plikasi, namun lebih sulit


diturunkan berat badannya.

Konsekuensi
- Ekonomi (biaya tidak langsung dan langsung)
o

Biaya tidak langsung


Hari-hari sakit
Biaya penurunan berat badan
Kelambatan kerja

Biaya langsung
Biaya pengobatan penyakit

- Kesehatan: (lihat Tabel 6.3.).


Tabel 6.3. Resiko Penyakit/Kelainan sebagai Akibat Kegemukan
SANGAT MENINGKAT

MENINGKAT

SEDIKIT MENINGKAT

DM tipe 2
Penyakit kandung empedu
Dislipidemia
Kecapean
Sleep apnoe
Efek psikososial

Penyakit jantung koroner


Hipertensi
Radang sendi
Hiperurisemia dan gout
Efek psikososial

Kanker (payudara, rahim, kolon, kandung


empedu)
Abn. hormon reproduktif
Kelainan ovarium
Fertilitas menurun
Nyeri belakang
Risiko anestesi
Kelainan janin
Efek psikososial

Penatalaksanaan
1. Mengubah perilaku
2. Mengatur diet
3. Melakukan latihan fisik/olahraga teratur
4. Menggunakan obat
5. Pembedahan
6. Lainnya: menangani fakor/penyakit penyebab.
1.

Mengubah Perilaku

25

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Adapun dasar untuk mengubah perilaku dalam rangka penanganan obesitas


adalah:
- Makan dan aktivitas fisik merupakan perilaku yang mempengaruhi berat badan.
- Perilaku dipelajari oleh seseorang dan dapat diubah
- Untuk mengubah, perlu perubahan lingkungan yang mempengaruhinya.
Contoh

perubahan

perilaku

yang

bisa

dipelajari

dan

dilakukan

untuk

menurunkan BB:
- Membiasakan makan di satu tempat, misalnya di ruang makan.
- Menghindari tempat yang banyak makanan/dapur dan restoran dengan makanan
tinggi energi.
- Membiasakan jalan/naik tangga.
- Merencanakan menu setiap hari, dll.

2.

Mengatur Diet
Secara umum, penanganan nutrisi untuk menurunkan berat badan adalah

mengurangi asupan makanan (diet). Biasanya pengurangan asupan energi 500-1000


kkal/hari

dari

keperluan

kalori

yang

dibutuhkan

secara

berkelanjutan

akan

menurunkan BB sebanyak 0,5-1 kg/minggu.


Rekomendasi diet yang dianjurkan adalah:
- Karbohidrat

: > 55%

- Protein

: 15 %

- Lemak

: < 30%

SFA

: 8-10%

PUFA

: < 10%

MUFA

:< 15%

- Kolesterol: < 300 mg/hari


- Serat: 20-30 g/hari.
Macam-macam diet yang lain:
- Puasa
- Very low calorie diets (<800 kkal/hari, bertahap)
- Diet rendah kalori tidak seimbang:
o

Diet rendah protein, lemak, dan tinggi karbohidrat (Cambridge Diet, Banana Milk
Diet, Kempner Rice Diet, Macrobiotics Diet, Prikitin Diet).

Diet rendah karbohidrat, protein sedang, tinggi lemak (Dr.Atkins Revolutionary


Diet, Magic Mayo Diet).

26

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Diet rendah karbohidrat, lemak sedang, dan tinggi protein (Dr. Atkins Diet,
Scarsdale Medical Diet).

3.

Latihan Fisik

- Meningkatkan kegiatan sehari-hari.


- Olahraga teratur
o

Jenis: aerobik

Frekuensi: minimal 3x/minggu, lama: 20-60 menit

Target:
Initial: meningkatkan energy expenditure (EE) 300-400kkal/mgg.
Target: meningkatkan EE 3000-3500 kkal/mgg.
Jumlah energi yang digunakan selama melakukan beberapa latihan fisik dapat

dilihat pada Tabel 6.4 dan Tabel 6.5.


Tabel 6.4. Aktivitas dan Energi yang Digunakan dalam 60 menit
AKTIVITAS

JUMLAH KALORI (kkal)

AKTIVITAS

JUMLAH KALORI (kkal)

Jalan santai

125

Golf

150

Jalan biasa

150

Senam biasa

160

Jalan cepat

175

Aerobik

200

Jogging

280

Tenis meja

250

Berenang

300

Tenis lapangan

300

Tabel 6.5. Rumus untuk Memprediksi Pengeluaran Energi dari Berjalan dan Berlari pada Area yang Rata
PENGELUARAN ENERGI
(kkal/menit)

AKTIVITAS
Berjalan

0,343 x S x T

Jogging/berlari

0,686 x S x T

S= kecepatan dalam meter/menit; T = waktu dalam menit


Dari: Miler WC, Wadden TA: Exercise as a Treatment for Obesity. In Bray GA, Bouchard C (ed): Handbook of Obesity, Clinical
Application. 2th ed. New York, Marcell Dekker Inc, 2004, pp 169-183.

4.

Menggunakan Obat (Farmakoterapi)


Terdapat 3 kategori obat yang biasanya digunakan untuk penurunan berat

badan:
1. Menurunkan nafsu makan dan asupan makanan
2. Meningkatkan energy expenditure
3. Mempengaruhi metabolisme nutrien
Ad 1. Menurunkan nafsu makan dan asupan

27

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

1.Noradrenergik: Dietilpropion, mazindol, fendimetrazin, fentermin


2.Serotenergik: Fluoxetine, setralin (bila disertai depresi)
3.Noradrenergik dan serotenergik: Sibutramin, bupropion
Ad 2. Meningkatkan energy expenditure
4.Efedrin
5.Kafein
Ad 3. Mempengaruhi metab.nutrien
- Orlistat: menghambat absorbsi lemak
- Akarbose, miglitol: inhibitor amilase (untuk obesitas yang disertai DM tipe II)
- Olestra: poliester sukrose yng tidak bisa didigesti
- Metformin (untuk obesitas yang disertai DM tipe II)
5. Pembedahan
- Indikasi: BMI > 40 kg/m2 (> 34 kg/m2)
- Jenis:
o Operasi usus halus: Jejunoileal bypass
o Operasi gaster: Gastric banding
o Kombinasi
- Sedot

lemak

bukanlah

terapi

untuk

obesitas

karena

tidak

bisa

mencegah/mengurangi komplikasi akibat obesitas. Sedot lemak dilakukan hanya


untuk alasan kosmetik.
6. Lainnya
- Menangani penyebab obesitas
- Terapi lainnya yang masih dalam penelitian:
o

Herbal

Serat

Jaw wiring

Ikat pinggang

Psikofisiologik: hipnosis, aromaterapi, akupuntur

Dan lain-lain.

28

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Prosedur Penanganan Obesitas (Gambar 6.2)

PENILAIAN
Obesitas,
risikonya

LANGKAH AWAL:
- Modifikasi
perilaku
- Terapi diet

3-6 bulan

BB turun <6 kg,


IMT >27 kg/m2
obat-obatan

BB turun >6 kg
Terapi diet
dan aktiv. fisik
diteruskan

3-6 bulan

Penilaian kembali:
Bila BB tidak
menurun dan
IMT>27 kg/m2

- Pertimbangan
pemberian obat
- VLCD
- Obat-obatan lebih

Gambar 6.2. Prosedur Penanganan Obesitas

29

Bahan Ajar
MODUL GANGGUAN METABOLIK

TERAPI NUTRISI
DM, HIPERTENSI, DAN OBESITAS

Tugas mandiri untuk masing-nasing mahasiswa:

Membuat diagnosis status gizi anda berdasarkan IMT, standar Brocca, WHR, dan
lingkar pinggang.
1. Membuat diagnosis status gizi berdasarkan IMT dan menyusun perencanaan diet
untuk menurunkan BB pasien yang mempunyai ciri-ciri antropometriknya sama
dengan anda, kecuali BB nya ditambah 20 kg.
Tugas dikumpul pada saat ujian praktikum gizi
Daftar Pustaka
Ard JD, Obesity. In Heimburger DC, Ard JD (eds). Handbook of
Philadelphia, Mosby Elsevier, 2006, pp 371-400.

Clinical Nutrition, 4 th ed.

Astrup A, Toubro S. Drugs with Thermogenic. In Bray GA, Bouchard C (ed): Handbook of
Obesity, Clinical Application. 2th ed. New York, Marcell Dekker Inc, 2004, pp 169-183.
Bray GA. Classification and Evaluation of the Overweight Patient. In Bray GA, Bouchard
C (ed). Handbook of Obesity, Clinical Application, 2nd ed. New York, Marcell Dekker
Inc, 2004, pp 1-32.
Bray GA, Ryan DH. Sympathomimetic and Serotonergic Drugs Used to Treat Obesity.
In Bray GA, Bouchard C (ed): Handbook of Obesity, Clinical Application. 2 th ed. New
York, Marcell Dekker Inc, 2004, pp 201-252.
Laquatra I. Nutrition for Weight Management. In Mahan LK, Escott-Stump S. (eds).
Krauses Food, Nutrition, & Diet Therapy, 11th ed. USA, Saunders Elsevier, 2004,
pp558-593.
Miler WC, Wadden TA. Exercise as a Treatment for Obesity. In Bray GA, Bouchard C (ed).
Handbook of Obesity, Clinical Application. 2th ed. New York, Marcell Dekker Inc, 2004,
pp 169-183.
Van Gaal LF, Bray GA. Drugs that Modify Fat Absorbsion and Alter Metabolism. In Bray
GA, Bouchard C (ed). Handbook of Obesity, Clinical Application. 2 th ed. New York,
Marcell Dekker Inc, 2004, pp 253-274.
Wadden TA et al. Obesity: Management. In Shils ME et al (eds). Modern Nutrition in Health
and Disease, 10th ed. Philadelphia, Lippincott Williams & Wilkins, 2006, pp1029-1042.
Wing RR. Behavioral Approaches to the Treatment of Obesity. In Bray GA, Bouchard C
(ed). Handbook of Obesity, Clinical Application. 2 th ed. New York, Marcell Dekker Inc,
2004, pp 147-168.

30