Anda di halaman 1dari 25

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN THT

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS


Disusun oleh:
RINALDO SITEPU
(210 210 109)

PEMBIMBING:
dr. FARHAAN ABD, Sp.THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA
RUMKIT PUTRI HIJAU TK.II KESDAM I/BB
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih
karuniNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
Otitis Media Supuratif Kronis.
Makalah ini dibuat untuk melengkapi persyaratan dalam mengikuti Kepanitraan
Klinik Senior (KKS) di bagian THT di Rumkit Putri Hijau TK.II Kesdam I/BB,
Medan.
Pada kesempatan ini saa mengucapkan banyak terimakasih kepada dr. FARHAAN
ABD, Sp.THT-KL sebagai pembimbing selama penulis mengikuti KKS dan berbagai
pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah memberikan masukan,
bantuan dan informasi dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari masih banyak kekurangan di dalam penulisan makalah ini, maka
dengan segala kerendahan hati saya menerima kritik dan saran untuk
penyempurnaannya di waktu yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
penulis dan yang lainnya. Terima kasih.

Medan, 18 September 2014

Rinaldo Sitepu

BAB I
PENDAHULUAN

Telinga adalah suatu organ kompleks dengan komponen-komponen fungsional


penting apparatus pendengaran dan mekanisme keseimbangan terletak di dalam
tulang temporalis tengkorak. Oleh karena itu letak telinga di tengkorak berdekatan
dengan alat vital, maka bila telinga meradang penyakit mudah merambat ke dalam
otak, tidak jarang membawa kematian1.
Telinga terbagi dalam tiga bagian : telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.
Telinga tengah terdiri dari membrana timpani, tulang-tulang pendengaran (malleus, incus,
stapes) dan ruang telinga tengah. Disamping itu telinga tengah berhubungan dengan attic
(epitimpanum), processus mastoideus dan tuba eustachius. Telinga tengah biasanya steril
meskipun terdapat mikroba di nasofaring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan
oleh silia mukosa tuba eustachius, enzim dan anti bodi untuk mencegah masuknya mikroba
serta terjadinya infeksi kedalam telinga tengah1.
Sumbatan pada tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena
fungsi tuba terganggu pencegahan infasi kuman kedalam telinga tengah terganggu, sehingga
kuman masuk kedalam telinga tengah dan terjadi peradangan 3

BAB II
PEMBAHASAN
.1. Anatomi dan Fisiologi Telinga

Indera pendengaran merupakan bagian dari organ sensori khusus yang mampu
mendeteksi sebagai stimulus bunyi. Indera pendengaran sangat penting dalam

percakapan dan komunikasi sehari-hari. Organ yang berperan dalam indera


pendengaran adalah telinga.
.1.1.

Struktur Telinga

a. Telinga Bagian Luar


Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna / aurikula) dan saluran telinga luar
(meatus auditorius eksternus) sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari
tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga membentuk huruf S, dengan rangka
tulang rawan pada sepertiga bagian luar (pars kartilago), sedangkan dua pertiga
bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang (pars osseus) panjangnya kira-kira 2,5 3
cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat folikel rambut, kelenjar
keringat (glandula sebasea) dan glandula seruminifera 7.
b. Telinga Bagian Tengah
Telinga tengah terdiri dari membran timpani, kavum timpani, prosessus
mastoideus dengan sellula mastoidea yang berhubungan dengan kavum timpani dan
tuba eustachius yang menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring. Membran
timpani atau gendang telinga letaknya dalam suatu saluran yang dibentuk oleh tulang
yang dinamakan sulkus timpanikus. Akan tetapi pada bagian atas muka tidak terdapat
sulkus ini dan bagian ini dinamakan insisura timpanika (Rivini), warnanya putih
keabuan atau putih mutiara, membran timpani terdiri dari 3 lapisan yaitu sratum
kutaneum, fibrosum dan mukosum. Dan secara anatomis membrane timpani dibagi ke
dalam 2 bagian yaitu: pars tensia (membran ini tegang dan terdiri dari 3 lapisan) dan
pars flaccida. Membran timpani di perdarahi oleh cabang aurikuler arteri maksilaris
interna yang berada di bagian bawah kulit, a. aurikula posterior dan a. maksila interna
memperdarahi bagian mukosa. Di persarafi n. aurikulotemporalis mengurus bagian
posterior dan anterior membrane timpani sedangkan bagian anterior dan superior di
urus oleh n. vagus(n. Arnold). Pada permukaan dalam membrane timpani di urus oleh
nervus Jacobson7.

Kavum timpani terbagi atas 3 bagian yaitu: epitimpanum (bagian atas),


mesotimpanum (bagian tengah) dan hipotimpanum (bagian bawah). Di kavum
timpani terdapat tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain.
Tulang-tulang ini menghubungkan membran timpani dengan fenestra ovale, tulangtulang ini terdiri dari: malleus, inkus, stapes. Tuba eustachius berbentuk huruf S,
panjangnya 3,5 cm yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah.
Kavum timpani di perdarahi a.aurikularis posterior pada bagian posterior kavum
timpani, a.karotis eksterna memperdarahi inferior kavum timpani, a.petrosus
superfisialis dan a.timpani superior memperdarahi superior kavum timpani, a.
karotikotimpani cabang dari a. karotis interna membatasi kanalis karotikus dengan
telinga tengah. Di persarafi n. glosofaringeus dan nervus perosus2.
c. Telinga Bagian Dalam
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah
lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung koklea
disebut helikotrema menghubungkan perlimfa skala timpani dengan vestibuli. Kanalis
semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran
yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibule sebelah atas
skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya, skala
vestibuli dan timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion
dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. Hal ini penting
untuk pendengaran. Dasar skala vestibuli disebut membran reissners sedangkan
dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ corti4.
2.1.2. Fisiologi Pendengaran
Gelombang suara dari luar dikumpulkan oleh daun telinga (pinna), masuk ke
saluran eksterna pendengaran (meatus dan kanalis auditorius eksterna) yang
selanjutnya masuk ke membran timpani. Adanya gelombang suara yang masuk ke
membran timpani menyebabkan membran timpani bergetar dan bergerak maju

mundur. Gerakan ini juga mengakibatkan tulang-tulang pendengaran seperti meleus,


inkus, dan stapes ikut bergerak dan selanjutnya stapes menggerakkan foramen ovale
serta menggerakkan cairan perilimf pada skala vestibule. Getaran selanjutnya melalui
membran reisner yang mendorong endolimf dan membran basiler ke arah bawah dan
selanjutnya menggerakkan perilimf pada skala timpani. Pergerakan cairan dalam
skala timpani menimbulkan potensial aksi pada sel rambut yang selanjutnya diubah
menjadi impuls listrik. Impuls listrik selanjutnya dihantarkan ke nukleus koklearis,
thalamus kemudian korteks pendengaran untuk diasosiasikan5.
2.2. Definisi
Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah radang kronis telinga tengah
dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea)
tersebut lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin
encer atau kental, bening atau berupa nanah6.
2.3. Epidemiologi
Survei prevalensi di seluruh dunia yang walaupun masih bervariasi dalam hal
definisi penyakit dan metode sampling serta mutu metodologi menunjukan beban
dunia akibat OMSK melibatkan 65-330 juta dengan otorea, 60% diantaranya (39-200
juta) menderita kurang pendengaran yang signifikan. OMSK sebagai penyebab pada
28.000 kematian. Prevalensi OMSK di Indonesia secara umum adalah 3,9%. Pasien
OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT Rumah di
Indonesia4.
Di negara lainnya prevalensinya bervariasi dari negara ke negara, WHO
mengklasifikasikannya menjadi negara berprevalensi paling tinggi (>4%), tinggi (24%), rendah (1-2%), paling rendah (<1%), maka Indonesia masuk dalam negara
dengan OMSK prevalensi tinggi6.

2.4. ETIOLOGI
OMSK terjadi karena banyak faktor antara lain infeksi, otitis media sebelumnya,
gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan tubuh, lingkungan dan sosial ekonomi.
Sebagian besar Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) merupakan kelanjutan dari
Otitis Media Akut (OMA) yang prosesnya sudah berjalan lebih dari 2 bulan.
Beberapa faktor penyebab adalah terapi yang terlambat, terapi tidak adekuat,
virulensi kuman tinggi, dan daya tahan tubuh rendah. Bila kurang dari 2 bulan disebut
subakut. Sebagian kecil disebabkan oleh perforasi membran timpani terjadi akibat
trauma telinga tengah. Kuman penyebab biasanya kuman gram positif aerob, pada
infeksi yang sudah berlangsung lama sering juga terdapat kuman gram negatif dan
kuman anaerob8.
2.5. PATOFISIOLOGI

2.6. Klasifikasi OMSK


OMSK dibagi menjadi 2 jenis yaitu7 :
1. OMSK tipe benigna (tipe mukosa= tipe aman)
Proses peradangan terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai
tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe benigna jarang
menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe benigna tidak terdapat
kolesteatom.
2. OMSK tipe maligna (tipe tulang= tipe bahaya)
OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. Perforasi
terletak pada marginal atau di atik, kadang-kadang terdapat juga kolesteatoma dengan
perforasi subtotal. Sebagian komplikasi yang berbahaya atau total timbul pada atau
fatal, timbul pada OMSK tipe maligna.
Letak Perforasi 7
Perforasi sentral: perforasi terdapat di pars tensia dan di seluruh tepi perforasi masih
ada sisa membran timpani
Perforasi marginal (subtotal): sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan
annulus atau sulkus timpanikum
Perforasi atik: perforasi yang terletak di pars flaksida
Kolesteatoma dan Granuloma kolesterol
Kolesteatoma adalah epitel gepeng dan debris tumpukan pengelupasan kretain
yang terjebak di dalam rongga timpanomastoid. Karena merupakan debris keratin,
akan lembab dan menyerap air sehingga mengundang infeksi. Kolesteatoma
mengerosi tulang yang terkena baik akibat penekanan oleh tumpukan debris keratin
maupun aktifasi media enzim osteoklas. Kerusakan tulang menyebabkan destruksi
trabekula mastoid, erosi osikel, fistula labirin, pemaparan n. fasial, dura serta silus
lateral. Tidak ada medikamentosa untuk kolesteatoma, untuk eradikasinya
memerlukan pembersihan, pada yang masih terbatas dapat dilakukan pembersihan
dari liang telinga dan pada suatu yang luas harus dengan operasi7.

Granuloma kolesterol ialah lesi kistik berdinding tipis kuning kecoklatan yang
berisi kumpulan Kristal kolesterol di dalam cairan berwarna coklat kehitaman yang
timbul sebagai reaksi terhadap benda asing di dalam sel mastoid akibat disfungsi
tuba. Perdarahan di dalam pneumatisasi mastoid tanpa drainase menjurus ke proses
peradangan dan erosi tulang7.
Tabel Perbedaan Antara Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna & Maligna

OMSK Berdasarkan aktifitas sekret yang keluar:

OMSK aktif ialah OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara
aktif.

OMSK tenang ialah yang keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau kering.

2.7. TANDA DAN GEJALA

Pasien mengeluh otore, vertigo, tinitus, rasa penuh ditelinga atau gangguan
pendengaran.
Nyeri telinga atau tidak nyaman biasanya ringan dan seperti merasakan adanya
tekanan ditelinga. Gejala-gejala tersebut dapat terjadi secara terus menerus atau
intermiten dan dapat terjadi pada salah satu atau pada kedua telinga6.
1. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar
sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar
mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa
telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya secret biasanya
hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas
atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. Pada
OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adanya sekret telinga. Sekret yang sangat bau,
berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk
degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih, mengkilap. Pada
OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang
karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah
berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan
tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa
nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya
dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran
mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit
ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila
tidak dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai
tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran
menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung

dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem
pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli
konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga
kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang
didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati. Penurunan fungsi koklea biasanya
terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui
jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis
supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran
tulang dapat menggambarkan sisa fungsi koklea.
3. Otalgia (nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu
tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase
pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran
sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan
abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna
sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis,
subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis.
4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan
vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding
labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan
udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi
hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih
mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga
akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi
serebelum. Fistula merupakan temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat
berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis
dan dari sana mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada
kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif

dan negatif pada membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga
telinga tengah.
TANDA KLINIS
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :
a. Adanya Abses atau fistel retroaurikular
b. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani.
c. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)
d. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

2.8. Diagnosis
Diagnosis otitis media supuratif kronik ditegakkan dari anamnesa, gejala dan hasil
pemeriksaan klinik pada telinga dengan otoskop.

Pemeriksaan Penunjang
Untuk melengkapi pemeriksaan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai
berikut9 :
1. Pemeriksaan Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. Tapi
dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya ketulian tergantung besar dan
letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistim penghantaran
suara ditelinga tengah. Paparela, Brady dan Hoel (1970) melaporkan pada penderita
OMSK ditemukan tuli sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin
ke dalam skala timpani melalui membran fenstra rotundum, sehingga menyebabkan
penurunan ambang hantaran tulang secara temporer/permanen yang pada fase awal
terbatas pada lengkung basal kohlea tapi dapat meluas kebagian apek kohlea.
Gangguan pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan, sedang, sedang berat, dan
ketulian total, tergantung dari hasil pemeriksaan ( audiometri atau test berbisik).
Derajat ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata kehilangan intensitas

pendengaran pada frekuensi percakapan terhadap skala ISO 1964 yang ekivalen
dengan skala ANSI 1969. Derajat ketulian dan nilai ambang pendengaran menurut
ISO 1964 dan ANSI 1969.
Derajat ketulian Nilai ambang pendengaran
Normal

: -10 dB sampai 26 dB

Tuli ringan

: 27 dB sampai 40 dB

Tuli sedang

: 41 dB sampai 55 dB

Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB


Tuli berat

: 71 dB sampai 90 dB

Tuli total

: lebih dari 90 dB.

Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi


kohlea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan tulang
serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat
diperkirakan, dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk
perbaikan pendengaran. Untuk melakukan evaluasi ini, observasi berikut bias
membantu :
a. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB
b. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 3050 dB apabila disertai perforasi.
c. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih
utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.
d. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun keadaan
hantaran tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah.
Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh penilaian pendengarandengan
menggunakan garpu tala dan test Barani. Audiometri tutur dengan maskingadalah
dianjurkan, terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli campur.
2. Pemeriksaan Radiologi.

Pemeriksaan

radiografi

daerah

mastoid

pada

penyakit

telinga

kronis

nilaidiagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri.


Pemerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik,
lebih kecil dengan pneumatisasi leb ih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya
atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah atik memberi kesan
kolesteatom. Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah :
a. Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dariarah
lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi
sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan mastoid yang skleritik, gambaran radiografi
ini sangat membantu ahli bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral.
b. Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah dan anterior telinga tengah.
Akantampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui
apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur.
c. Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosusdan yang
lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis
semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang
sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran akibatkolesteatom.
d. Proyeksi Chause III, memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat
memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan
dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom, ada atau tidak
tulang-tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis
semisirkularis horizontal. Keputusan untuk melakukan operasi jarang berdasarkan
hanya dengan hasil X-ray saja. Pada keadaan tertentu seperti bila dijumpai sinus
lateralis terletak lebih anterior menunjukan adanya penyakit mastoid.
3. Bakteriologi
Kuman penyebab OMSK antara lain kuman Staphylococcus aureus (26%),
Pseudomonas aeruginosa (19,3%), Streptococcus epidermidimis (10,3%), gram
positif lain (18,1%) dan kuman gram negatif lain (7,8%). Biasanya pasien mendapat
infeksi telinga ini setelah menderita saluran napas atas misalnya influenza atau sakit

tenggorokan. Melalui saluran yang menghubungkan antara hidup dan telinga (tuba
auditorius), infeksi di saluran napas atas yang tidak diobati dengan baik dapat
menjalar sampai mengenai telinga.
2.9. Diagnosa Banding
1.

Barotitis media: kegagalan tuba eustachius untuk menyamakan tekanan antara

telinga luar dan tengah karena perubahan tekanan secara tiba-tiba, yang menyebabkan
tuba eustachius gagal membuka. Keluhan berupa: pendengaran berkurang, nyeri pada
telinga, telinga terasa penuh dan pusing
2. Otitis eksterna: merupakan inflamasi atau radang pada canalis auditoris eksterna
yang dapat mengenai pinna, jaringan lunak periaurikula dan dapat juga mengenai
tulang temporal. Keluhan berupa: gatal-gatal, nyeri (otalgia) dan keluarnya cairan
berbau busuk, gangguan pendengaran, furunkel.
3. Granulomatosis wegener: sering dimulai dengan peradangan pada lapisan hidung,
sinus, tenggorokan, dan paru-paru, dan bisa berkembang menjadi peradangan
pembuluh darah di seluruh tubuh (vaskulitis generalisata).
4. Tumor pada telinga tengah

2.10. Komplikasi
Menurut Adam dkk, komplikasi OMSK diklasaifikasikan sebagai berikut :
A. Komplikasi di telinga tengah :
1. Perforasi persisten
2. Erosi tulang pendengaran
3. Paralisis nervus fasial
B. Komplikasi di telinga dalam :

1. Fistel labirin
2. Labirinitis supuratif
3. Tuli saraf
C. Komplikasi di ekstrasdural :
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Petrositis
D. Komplikasi ke susunan saraf pusat :
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hidrosefalus otitis
2.11. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan OMSK memerlukan waktu lama serta harus berulang-ulang. Sekret
yang keluar tidak langsung cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara
lain disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan :
1. Adanya perforasi membran timpani yang permanen sehingga telinga tengah
berhubungan dengan dunia luar.
2. Terdapat sumber infeksi di laring, nasofaring, hidung, dan sinus paranasal.
3. Sudah terbentuk jaringan patologi yang irreversibel dalam rongga mastoid.
4. Gizi dan higiene yang kurang.
Prinsip Terapi OMSK tipe Benigna
OMSK benigna dibagi fase tenang dan aktif. Untuk fase tenang (tipe mukosa dak
dalam keadaan kering) terapi konsevatif dengan mengoleskan nitras argenti 25%,
asam trichlor asetat 12% pada pinggir perforasi. Pada fase aktif dimana sekret yang
keluar terus menerus, maka di beri obat pencuci telinga berupa larutan H2O2 3%
selama 3 5 hari. Setelah sekret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan

memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Bila
sekret sudah kering tetapi perforasi masih ada, setelah diobservasi selama 2 bulan,
maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan
untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang
perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih
berat serta memperbaiki pendengaran. Bila terdapat sumber infeksi yang
menyebabkan sekret tetap ada atau terjadinya infeksi berulang, maka sumber infeksi
itu harus diobati terlebih dahulu, mungkin juga perlu dilakukan pembedahan,
misalnya adenoidektomi dan tensilektomi.
Prinsip Terapi OMSK tipe Maligna
Ialah pembedahan yaitu mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi
konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum
dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses sub periosteal retroaurikuler, maka insisi
abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum dilakukan mastoidektomi.
Perhimpunan Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan- Bedah Kepala dan Leher
Indonesia telah membuat Panduan pengobatan otitis media supuratif kronik di
Indonesia :
ALGORITMA 1

Lihat Algoritma 2

ALGORITMA 2

Tuli konduktif +

ALGORITMA 3

Pilihan
Atikotomi anterior
Timpanoplasti dinding utuh
Timpanoplasti dinding runtuh
Atikoantroplasti
Timpanoplasti buka-tutup

ALGORITMA 4

Jenis Pembedahan Pada OMSK


Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada
OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain :
1. Mastoidektomi Sederhana.
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe benigna yang pada pengobatan konservatif
tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari
jaringan patologik. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair
lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki.
2. Mastiodektomi Radikal.
Operasi ini dilakukan pada OMSK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang
sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari
semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah

dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi
satu ruangan. Tujuan operasi nin adalah untuk membuang semua jaringan patologik
dan mencegah komplikasi ke intra kranial. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki.
Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan renang seumur hidup, pasien
harus kontrol teratur, pendengaran berkurang sekali. Modifikasi operasi ini ialah
dengan memasang tandur (graft) pada rongga operasi serta membuat meatal / plasti
yang lebar, sehingga rongga operasi kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi
yaitu meatus luar liang telinga menjadi lebar.
3. Mastiodektomi Radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik, tetapi belum
merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan, dan dinding posterior
liang telinga direndahkan. Tujuan operasi ialah, untuk membuang semua jaringan
patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.
4. Miringoplasti
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan
nama timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani.
Tujuan operasi ini ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada
OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Operasi ini dilakukan pada
OMSK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya
disebabkan oleh perforasi membran timpani.
5. Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat
atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan
medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan penyakit serta
memperbaiki pendengaran. Pada operasi ini, selain rekonstruksi membran timpani
juga dilakukan rekonstruksi tulang pendengaran (timpanoplasti tipe II, II, IV, V
sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani
dengan atau tanpa mastoidektomi untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak
jarang, operasi ini terpaksa dilakukan 2 tahap dengan jarak waktu 6 12 bulan

6. Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty)


Merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus OMSK tipe
maligna atau benigna dengan jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi ialah
untukmenyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan
teknik mastiodektomi radikal. Membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di
kavum timpani, dikerjakan melalui 2 jalan (combined Approach) yaitu melalui liang
telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior.
2.12. Prognosa

Pasien dengan otitis media supuratif kronis memiliki prognosis yang baik dengan
pemberian terapi yang dapat mengontrol infeksi.

Tuli konduksi sering dapat berhasil dikoreksi melalui pembedahan.


Tingkat mortalitas otitis media kronik meningkat jika disertai dengan komplikasi
intrakranial

DAFTAR FUSTAKA

Soepardi EA., Iskandar S. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung dan
Tenggorokan. Edisi IV. FKUI. Jakarta 1997: 54 60.

Adenin A. Kumpulan Kuliah Telinga. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera


Utara. Medan: 45 50.

Thane D., Cody R., Kern EB., Pearson BW: Diseases of the Ears, Nose and Throat,
Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan, Alih Bahasa: Samsudin Sonny,
Andrianto Petrus, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 84 9.

Anatomi Manusia. Atlas Fotografik Anatomik Sistemik dan Regional, Johanes W.,
Rohen, Chihiro Yokocchi. Edisi Ke-3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 118.

Adam GL., Boies L., Higler P., Buku Ajar Penyakit THT. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta. 1997: 95 97.

Soepardi EA., Hadjat F., Iskandar N. Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga

Helmi, Otitis Media Supuratif FKUI, 2005

Hidung Tenggorokan. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2003: 47 51

Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ke-3 Jilid 1. Penerbit Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta 1987: 82-3.