Anda di halaman 1dari 13

I.

Latar Belakang

Kelapa dan sawit telah ditanam hampir di seluruh Indonesia dan luas arealnya terus
meningkat. Pada tahun 2004 luas areal perkebunan kelapa serta sawit baru masing-masing adalah
3.334.000 Ha untuk kelapa dan 4.580.250 Ha untuk kelapa sawit. Sejak tahun 1988 Indonesia
menduduki urutan pertama sebagai negara yang memiliki areal kebun kelapa terluas di dunia.
Dari seluruh luas areal perkebunan kelapa, sekitar 97,4 % dikelola oleh perkebunanrakyat yang
melibatkan sekitar 3,1 juta keluarga petani Sisanya sebanyak 2,1 % dikelola perkebunan besar
swasta dan 0,5% dikelola perkebunan besar negara (Palungkun, 2001). Kabupaten Aceh Utara
terkenal sebagai penghasil kelapa dankelapa sawit yang potensial di Provinsi NAD. Luas lahan
dua hasil pertanian (kelapa dan kelapa sawit) dari keduakabupaten tersebut mencapai 110.000 Ha
dengan total produksi 120.000 ton per tahun.
Adanya potensi sumber daya alam yang sangat besar ini hendaknya dapat dikembangkan
dan dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan petani kelapa dan sawit. Namun saat ini masih
ada beberapa kendala yang menyebabkan pendapatan petani masih rendah. Kendalanya adalah
pengolahan lahan yang masih bersifat tradisional dan kurangnya industri pengolahan hasil
(industri hilir). Masalah di atas menyebabkan petani tidak mempunyai alternatif lain untuk
memasarkan kelapa serta sawitnya dalam bentuk bahan baku (raw material).
Dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi maka beberapa hasil samping pertanian
kelapa serta sawit seperti tempurung, sabut, serta cangkang sawit dapat diolah menjadi produk
yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, seperti arang tempurung kelapa yang sangat potensial
untuk diolah menjadi arang aktif. Dengan meningkatnya produksi arang aktif yang menggunakan
bahan dasar tempurung kelapa maka akan mengakibatkan terjadinya pencemaran udara karena
adanya penguraian senyawa-senyawa kimia dari tempurung kelapa pada proses pirolisis. Pada
proses pirolisis juga dihasilkan asap cair, tar dan gas-gas yang tak terembunkan. Asap cair yang
merupakan hasil sampingan dari industri arang aktif tersebut mempunyai nilai ekonomi yang
tinggi jika dibandingkan dengan dibuang ke atmosfir. Asap cair diperoleh dari pengembunan asap
hasil penguraian senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam kayu sewaktu proses pirolisis.
Berbagai jenis kayu dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan asap cair, seperti
yang telah dilakukan oleh Tranggono dkk. (1996) dalam penelitiannya yang memanfaatkan
berbagai jenis kayu di Indonesia sebagai bahan dasar pembuatan asap cair. Untuk mendapatkan
asap yang baik sebaiknya menggunakan kayu keras seperti kayu bakau, kayu rasamala, serbuk
dan gergajian kayu jati serta tempurung kelapa sehingga diperoleh produk asapan yang baik
(Astuti,2000).
Asap cair merupakan zat yang diperoleh dari perubahan wujud asap menjadi cair, proses
perubahan wujud ini melibatkan proses perpindahan panas dari asap ke zat pendingin atau biasa
disebut dengan proses refrigasi. Terjadinya proses refrigasi berdasarkan hukum thermodinamika

kedua, yang menyatakan bahwa energi cenderung mengalami degenerasi menjadi energi yang
lebih rendah.
Asap diproduksi dengan pembakaran yang tidak sempurna yang melibatkan reaksi
dekomposisi polimer menjadi senyawa organik dengan berat molekul rendah karena pengaruh
panas yang meliputi reaksi oksidasi polimerisasi, dan kondensasi(Girard, 1992). Partikel asap
mempunyai diameter 0,1 m. Proporsi partikel padatan dan cairan dalam medium gas menentukan
kepadatan asap. Selain itu asap juga memberikan atribut warna dan flavor pada medium
pendispersi gas.
Asap cair diproduksi dengan cara kondensasi dan pirolisasi komponen kayu pirolisis
selulosa berlangsung dalam dua tahap, perupakan reaksi hidrolisasi asam yang diikuti dengan
dehidrasi untuk menghasilkan glukosa, tahap kedua adalah pembentukan asap asetat dan
homolognya bersama-sama dengan air serta sejumlah kecil furan dan fenol (Girard,
1992).Tempurung kelapa dapat diolah menjadi beberapa produk yang bernilai ekonomis tinggi,
salah satunya yaitu dalam pembuatan asap cair.
Asap cair telah banyak diaplikasikan diantaranya pada daging dan hasil ternak, daging
olahan, keju dan keju oles, asap cair juga digunakan untuk menambah flavor asam pada saus, sup,
sanyusan kaleng, bumbu dan campuran rempah-rempah. Aplikasi baru asap cair adalah untuk
menambah flavor pada makanan yang dikurangi lemaknya (Pazzola, 1995). Asap cair lebih
mudah digunakan, lebih ekonomis dan dapat diaplikasikan pada suhu yang dikehendaki, juga
dimungkinkan untuk memfransinasi asap cair untuk memperoleh sifat organoleptik yang
diinginkan.

II.
II.1.

Metode

Tempurung Kelapa
Pada praktikum pembuatan asap cair bahan baku dibuat menggunakan tempurung
kelapa. Tempurung kelapa merupakan limbah dari buah kelapa yang sangat banyak terdapat
di beberapa pasar di Yogyakarta. Oleh karena itu, tempurung kelapa dipilih sebagai bahan
dasar pembuatan asap cair.Tempurung kelapa termasuk kayu keras sehingga bagus untuk
dibuat asap cair. Tempurung kelapa termasuk golongan kayu keras, mempunyai kadar air 69% (db) dan terutama terdiri dari lignin, selulosa dan hemi selulosa. Tempurung kelapa di
kategorikan sebagai kayu keras , tetapi mempunyai kadar lignin yang tinggi dan kadar
selulosa lebih rendah . Pirolisa tempurung kelapa menghasilkansenyawa fenol 4,13%,
karbonil 11,3% dan keasaman 10,2% (Tranggono, 1996; Darmadji, 1996).

II.2.

Pirolisis Asap Cair Dari Tempurung Kelapa


Bahan yang perlu dipersiapkan berupa tempurung kelapa, kemudian pengecilan
ukuran dalam bentuk pecahan kecil-kecil dengan diameter kurang lebih 3 cm.Lalu
dikeringkan dengan cabinet dryer selama 24 jam. Asap cair yang dibuat dengan memasukkan
bahan sebanyak 2 kg ke dalam reaktor kemudian ditutup dengan rangkaian kondensor yang
dipasang. Selanjutnya menghidupkan dapur pemanas sesuai dengan variasi suhu dan waktu
pirolisa. Asap yang dikeluarkan dari reaktor akan mengalir ke kolom pendingin melalui pipa
penyalur asap. Kolom pendingin ini dialiri air pendingin menggunakan pompa sehingga asap
akan terkondensasi dan mencair. Embunan berupa asap cair di tampung dalam erlenmeyer
yang selanjutnya disimpan dalam botol, sedangkan asap yang tidak diembunkan akan
terbuang melalui pipa penyalur asap sisa.
Pada praktikum asap cair dibutuhkan suatu rangkaian alat pirolisis yang terdiri atas
tabung reaktor, dapur pemanas listrik, pipa penyalur asap, kondensor, dan penampung asap
cair.

II.3.

Distilasi Asap Cair Tempurung Kelapa


Suhu distilasi yang digunakan 90oC. Crude yang dihasilkan dari pirolisis selanjutnya
dilakukan pendistilasian. Pendistilasian dilakukan sebanyak dua tahap. Tujuannya adalah
agar diperoleh asap cair yang bebas senyawa-senyawa karsinogenik, senyawa benzopiren
yang memiliki titik didih lebih dari suhu distilasi tidak ikut menguap, dan senyawa-senyawa
fungsional dapat teruapkan, sehingga dapat berkontribusi terhadap aroma dan flavor asap
(Purnama, 2002).
Distilasi dilakukan dengan menempatkan crude dalam erlenmeyer dan diberi
pecahan porselen yang berfungsi untuk mencegah letupan saat distilasi. Erlenmeyer 1000 ml
yang berisi crude dipanasi dengan kompor listrik. Mulut erlenmeyer dihubungkan kolom
pendingin dan diberi parafin agar suhu distilasi stabil. Kolom pendingin dialiri air yang
mengalir dari keran. Uap asap cair akan mengalir melalui kolom pendingin kemudian
dikondensasikan oleh air yang mengalir tersebut. Hasil distilasi kemudian ditampung
menggunakan botol plastik. Untuk hasil distilat kedua yang ditampung menggunakan botol
plastik yang dilapisi alumunium foil agar warna distilat kedua tetap jernih tidak berubah
menjadi coklat karena teroksidasi.

III.
III.1.

Analisis data
Tabel hasil

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Suhu
(0C)

Waktu
(menit)

Volume tar
(mL)

280
300
300
350
350
350
350
350
350
350
398
400
400
420,711

120
90
150
77,574
120
120
120
120
120
162,426
78
90
150
120

500
400
280
220
400
380
150
270
400
730
350
630
300

Volume asap
cair
(mL)
100
348
350
550
660
410
300
610
520
410
140
570
430
500

Arang
(gram)
930
840
720
810
790
730
710
740
800
690
710
640
790

Hasil percobaan di atas merupakan hasil pirolisis dan distilasi asap cair. Pada suhu
280 C dan waktu 120 menit, tidak diperolah tar dan arang, karena hasil asap cair hanya
sedikit dan tidak memungkinkan untuk dilakukan distilasi, selain itu, tempurung belum
menjadi 100% arang. Pada data no 11, yang berwarna merah merupakan data optimum
berdasarkan RSM.
0

III.2.

Suhu vs waktu vs volume asap cair


Menurut Fatimah (1998), rendemen asap cair akan mengalami kenaikan dengan
kenaikan suhu proses pirolisis. Terjadinya kenaikan rendemen asap cair disebabkan oleh
jumlah senyawa lignin dan selulosa yang terdekomposisi semakin besar. Dari data di atas
dapat dilihat bahwa pada suhu yang lebih tinggi dengan waktu yang sama, ada yang
mengalami penurunan volume asap cair, yaitu waktu 120 menit dengan suhu 2800C, 3500C,
dan 420,7110C. Volume asap cair pada suhu 2800C < 3500C, dan pada suhu 3500C > suhu
420,7110C. Hal ini merupakan penyimpangan, karena pada waktu pirolisis yang sama,
volume asap cair pada 2800C < 3500C < 420,7110C. Penyimpangan ini dapat disebabkan
karena kemungkinan ada asap yang belum terkondensasi, serta adanya kebocoran pada
plastik yang menutupi penghubung antara erlenmeyer dengan kondensator.
Pada suhu 3500C dengan waktu pirolisis 120 menit, dengan pengulangan sebanyak 5
kali, diperoleh volume asap cair yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena perlakuan
lamanya pengendapan sampel hasil pirolisis sebelum distilasi, berbeda-beda.
Menurut Maga (1987) makin lama waktu pirolisis maka rendemen asap cair yang
dihasilkan makin besar, hal ini karena makin lama waktu pirolisis, kesempatan untuk

bereaksi makin banyak. Dari data di atas, dapat diketahui bahwa pada suhu yang sama
(4000C) volume asap cair dengan waktu pirolisis 90 menit > 150 menit. Sedangkan pada
suhu yang sama (3000C) volume asap cair dengan waktu pirolisis 150 menit > 90 menit. Jika
dibandingkan dengan teori, maka terjadi penyimpangan pada pirolisis suhu 4000C,
seharusnya volume asap cair dengan waktu pirolisis 150 menit > 90 menit. Penyimpangan ini
dapat disebabkan karena kemungkinan ada asap yang belum terkondensasi, serta adanya
kebocoran pada plastik yang menutupi penghubung antara erlenmeyer dengan kondensator.

III.3.

Suhu vs waktu vs volume tar


Menurut Maga (1987), mengemukakan bahwa pirolisis selulosa dapat terjadi dalam
dua jalur. Pada jalur satu terjadi jika suhu pirolisis yang digunakan di bawah 300 0C dan pada
jalur ini selulosa akan terdekomposisi dengan mereduksi derajat polimernya melalui
pemecahan ikatan, pembebasan air, pembentukan radikal bebas, pembentukan karbonil,
karboksil, dan gugus-gugus hidroperoksida, pelepasan karbon monoksida, karbon dioksida,
serta pembentukan residu arang. Sedangkan pada jalur kedua terutama terjadi jika suhu di
atas suhu 3000 C dan pada jalur ini terjadi reaksi pemecahan selulosa menghasilkan
kombinasi gula anhidrat yang berbentuk tar dan senyawa volatile dengan berat molekul
rendah. Jika suhu pirolisis bertambah maka jumlah tar akan bertambah.
Pada suhu pirolisis 2800C, tidak diperoleh tar dan arang, karena suhu ini masih
tergolong rendah untuk dapat menghasilkan tar dan arang. Pada suhu 350 0C dengan waktu
pirolisis 120 menit, dengan pengulangan sebanyak 5 kali, diperoleh volume tar yang
berbeda-beda, hal ini disebabkan karena perlakuan lamanya pengendapan sampel hasil
pirolisis sebelum distilasi, berbeda-beda.
Pada waktu pirolisis yang sama yaitu 150 menit, volume tar pada suhu pirolisis
300 C < 4000C. Pada waktu pirolisis yang sama yaitu 90 menit, volume tar pada suhu
pirolisis 3000C > 4000C. Jika dibandingkan dengan teori di atas, maka terjadi penyimpangan
pada waktu pirolisis 90 menit, seharusnya volume tar pada suhu pirolisis 400 0C > 3000C.
Penyimpangan ini dapat disebabkan karena perlakuan lamanya pengendapan sampel hasil
pirolisis sebelum distilasi, berbeda-beda.
Pada suhu pirolisis 3000C, volume tar pada waktu pirolisis 90 menit > 150 menit.
Pada suhu pirolisis 4000C, volume tar pada waktu pirolisis 90 menit < 150 menit. Terjadi
penyimpangan pada suhu pirolisis 3000C, seharusnya 150 menit > 90 menit. Penyimpangan
ini dapat disebabkan karena perlakuan lamanya pengendapan sampel hasil pirolisis sebelum
distilasi, berbeda-beda.
0

III.4.

Suhu vs berat arang

Menurut Maga (1987), jika suhu pirolisis di atas suhu 300 0C dan pada jalur ini
terjadi reaksi pemecahan selulosa menghasilkan kombinasi gula anhidrat yang berbentuk tar
dan senyawa volatile dengan berat molekul rendah. Jika suhu pirolisis bertambah jumlah
arang menjadi berkurang.
Dengan waktu pirolisis yang sama (90 menit), berat arang pada suhu pirolisis 400 0C
< 3000C. Pada waktu pirolisis 150 menit, berat arang pada suhu pirolisis, berat arang pada
suhu pirolisis 4000C < 3000C. Hasil ini sudah sesuai dengan teori dan tidak terjadi
penyimpangan.

IV.

Response Surface Methodology (RSM)

IV.1.

Pengertian
Response Surface Methodology adalah suatu kumpulan dari teknik-teknik statistika
dan matematika yang berguna untuk menganalisis permasalahan tentang beberapa variabel
bebas yang mempengaruhi variabel tak bebas dari respon, serta bertujuan mengoptimumkan
respon. Dengan demikian, metodologi permukaan respon dapat dipergunakan oleh peneliti
untuk mencari suatu fungsi pendekatan yang cocok untuk meramalkan respon yang akan
datang dan menentukan nilai-nilai variabel bebas yang mengoptimumkan respon yang telah
dipelajari (Gasperz, 1992).
Pada dasarnya analisis permukaan respon adalah serupa dengan analisis regresi
yaitu menggunakan prosedur pendugaan parameter fungsi respons berdasarkan kuadrat
terkecil (Least Square Method).
RSM memiliki keunggulan diantaranya :
Metode ini tidak memerlukan data-data percobaan dalam jumlah yang besar
Tidak membutuhkan waktu lama sehingga secara otomatis metode ini dapat
menghemat biaya dalam penelitian.
Metode yang efisien untuk menduga titik-titik level pada faktor (variabel
independen) yang membuat variabel respon optimum, serta mudah
diimplementasikan untuk faktor dengan level yang sedikit (dua atau tiga)
Metode ini memberikan kemudahan dalam menentukan kondisi proses optimum
baik pada sistem maupun pada jarak faktor yang dibutuhkan untuk mendapatkan
hasil yang sangat memuaskan (Montgomery, 2001)
Kekurangan RSM adalah, sulit untuk menginterpretasi hasil jika menggunakan lebih
dari 3 faktor. Sedangkan kegunaan dari RSM ini adalah untuk membantu peneliti dalam
melakukan improvisasi sehingga mendapatkan hasil optimum secara tepat dan efisien. Dalam

hal proses pembuatan asap cair, RSM ini digunakan untuk mengetahui kondisi optimum
meliputi suhu dan waktu yang paling efisien untuk menghasilkan asap cair dari tempurung
kelapa dengan parameter rendemen yang dihasilkan. Setelah daerah percobaan ditemukan,
model respon dengan tingkat ketepatan lebih tinggi dapat digunakan untuk mendapatkan
nilai variabel sebenarnya yang akan menghasilkan respon optimum.
Umumnya RSM ditampilkan dalam bentuk grafik untuk membantu visualisasi dari
bentuk permukaan plot. Grafik yang digunakan adalah jenis contour dari permukaan respon.
Seperti terlihat pada grafik yang didapatkan dari RSM hasil percobaan pembuatan asap cair.
Garis contour yang terbentuk mereperesentasikan ketinggian permukaan yang terbentuk.

IV.2.

Pembahasan

Dalam praktikum ini, metode RSM yang digunakan ialah Central Composite
Design sebab praktikum ini hanya menggunakan 2 faktor atau 2 variabel bebas. Dari hasil
percobaan berdasarkan RSM diperoleh 2 jenis grafik yang dapat menunjukkan probabilitas
hasil praktikum kita pada berbagai variasi faktor termasuk hasil optimum dari variasi-variasi
tersebut. Grafik jenis pertama ialah Contour Plot of Respon :

Cara membaca grafik tersebut ialah dengan melihat keterangan respon dari masingmasing gradasi warna, pilih gradasi warna yang mencakup target respon kita sesuai pustaka.
Dari daerah warna tersebut cari nilai faktor yang paling kecil untuk kemudian dimasukkan
dalam Response Optimizer sehingga didapatkan nilai faktor yang akan memberikan respon
optimum.

Grafik jenis kedua ialah Surface Plot of Respon :

Dari grafik di atas, tentukan daerah horisontal ke kanan dari bagian respon yang
mencakup hasil target respon kita menurut jurnal. Setelah itu, titik terkecil dari luasan daerah
target respon ditarik garis menuju sumbu suhu dan waktu agar diperoleh data waktu dan suhu
minimum yang nantinya akan dimasukkan ke dalam Response Optimizer. Setelah itu
diperoleh sebuah variasi faktor yang akan memberikan nilai respon optimum.

V. Kesimpulan
Dari hasil percobaan menggunakan metode RSM, didapatkan hasil optimum yaitu :
Asap cair distilasi 1 = 280ml
Tar hasil distilasi 1 = 595ml
Asap cair distilasi 2 = 140 ml
Tar hasil distilasi 2 = 730 ml

Hasil ini diperoleh dari Suhu pirolisa 393 oC dan Waktu pirolisa 78 menit.

Daftar Pustaka
Astuti. 2000. Pemanfaatan Sabut dan Tempurung Kelapa serta Cangkang Sawit untuk
Pembuatan Asap Cair Sebagai Pengawet Makanan Alami.
Girard J P. 1992. Technology of Meat and Meat Products. Ellis Horwood,New York.
Fatimah, F. 1998. Analisis Komponen-Komponen Penyusun Asap cair Tempurung Kelapa.
UGM: Yogyakarta.
Maga, J. C. 1987. Smoke in Food Processing. CRC Press INC. Boca Raton Florida.
Montgomery, Douglas C. (2001). Design and Analysis Of Experiments. 5th edition.John
Wiley & Sons, Inc., Canada
Gaspersz, V., 1992. Analisis Sistem Terapan : Berdasarkan Pendekatan Teknik Industri.
Penerbit Tarsito, Bandung.
Palungkun, R. 2003. Aneka Produk Olahan Kelapa, Cetakan ke Sembilan. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Pazzola. 1995. Tour Highlights Production and Uses of Smoke Based Flavor. Food Tech, 49
(1) :70-74
Purnama D., 2002. Optimasi Proses Pembuatan Tepung Asap. Agritech 22(4)172- 177.
Yogyakarta
Tranggono, Sulastri, A.H. dan Bambang Setiaji. 1996. Produksi Asap Cair dan
Penggunaannya pada Pengolahan Beberapa Bahan Makanan Khas Indonesia.
PUSPITEK, Jogjakarta

Lampiran

A. Tabel hasil percobaan


No.
Suhu
Waktu
1
350
162.426
2
400
150
3
350
120
4
300
90
5
420.711
120
6
350
120
7
280
120
8
350
120
9
350
120
10
350
77.574
11
400
90
12
350
120
13
300
150
14
398
78

Volume tar
400
630
220
500
300
150
400
380
280
350
270
400
730

Volume asap cair


410
430
660
348
500
610
100
410
300
550
570
520
350
140

Arang (gram)
800
640
810
930
790
710
790
730
720
710
840
690

B. Grafik
1. Contour plot
Contour Plot of Respon (% ) vs Waktu; Suhu
160

Respon
(%)
< 10
10 - 15
15 - 20
20 - 25
25 - 30
> 30

150
140

Waktu

130
120
110
100
90
80
300

2. Surface plot

325

350
Suhu

375

400

Surface Plot of Respon (% ) vs Waktu; Suhu

30

Respon (% )

20

10

160
120
300

350
Suhu

400

Waktu

80

C. Perhitungan
Perhitungan hasil optimum :
Asap cair
X 100% = ...
Tempurung
140
X 100% = 7%
2000
D. Kritik dan saran
1. Nursigit Bintoro : Coba dicari sumber bahan lain selain tempurung
2. Endang S. Rahayu : Pada hasil asap cair yang dijadikan produk makanan terasa sedikit
bitter taste, konsentrasi mungkin bisa dikurangi
3. Agnes Murdiati : sampaikan sisi keamanan pangan yang diberi celupan asap cair.
4. Haryadi : Perlu diteliti apa saja kandungannya pada bakso yang diberi asap
5. M. Nur Cahyanto : Perlu dikaji efek asap cair dalam produk makanan terhadap umur
simpan
6. Satrijo Saloko : bahan dapat divariasi, dan dikombinasi dengan pengeringan/oven
selain dikukus pada produk makanannya.
7. Indriana Wijaya : asap cair bisa dicoba untuk diberi perisa
8. Purbo Carito : produk asap cair perlu diteliti ujji keawetannya dan dikomersilkan pada
bakso/sosis yang diberi asap cair
9. Husni : Produk yang diberi asap cair memberi aroma yang lebih enak.

E. Hasil RSM

LAPORAN PRAKTIKUM
REKAYASA PROSES PENGOLAHAN PANGAN DAN HASIL PERTANIAN

PEMBUATAN ASAP CAIR MENGGUNAKAN METODE RESPONSE


SURFACE METHODOLOGY (RSM) UNTUK MEMPEROLEH HASIL
OPTIMUM

Disusun oleh :
Bisma Ridhowi
10/300245/TP/09788
Chairunisa Chayatinufus
10/300248/TP/09789
Ikhsan Adi Nugroho
10/300273/TP/09791
Desintha Ika Savitri
10/300281/TP/09793
Stefani Amanda
10/300286/TP/09794
Ellia Aryanti
10/300422/TP/09815

LABORATORIUM REKAYASA PROSES PENGOLAHAN


JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN DAN HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013