Anda di halaman 1dari 31

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keadaan Umum Perusahaan


1. Sejarah Berdirinya Coca-Cola

Coca Cola merupakan jenis minuman ringan yang berkarbonasi


yang tidak mengandung alkohol dan tercatat sebagai merek dagang paling
terkenal dalam sejarah perdagangan didunia. Rasa menyegarkan Coca-Cola
pertama kali diperkenalkan pada tanggal 8 Mei 1886 oleh John Styth
Pemberton, seorang ahli farmasi dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.
Dialah yang pertama kali mencampur sirup karamel yang kemudian dikenal
sebagai Coca-Cola. Frank M. Robinson, sahabat sekaligus akuntan John,
kemudian menyarankan untuk memakai nama Coca-Cola karena berpendapat
bahwa dua huruf C akan tampak menonjol untuk periklanan. Kemudian, ia
menciptakan nama dengan huruf-huruf miring mengalir, Spencer, dan lahirlah
logo paling terkenal di dunia.
Pada tahun pertama, Dr. Pemberton menjual ciptaannya dengan harga
5 sen per gelas di apotiknya dan mempromosikan produknya dengan
membagi ribuan kupon yang dapat ditukarkan untuk mencicipi satu minuman
cuma-cuma. Pada tahun tersebut ia menghabiskan US$46 untuk biaya
periklanan. Pada tahun 1892, Pemberton menjual hak cipta Coca-Cola ke Asa
G. Chandler yang kemudian mendirikan perusahaan Coca-Cola pada 1892.
Chandler melakukan beberapa perubahan pada konsep penjualan Coca
Cola, yaitu dengan mengganti sistem Fountin ( mesin kran ) menjadi sistem
pembotolan, gagasan ini dipicu oleh seorang pengusaha permen di Missisipi,
Joseph.A. Biedenharn yang mencari cara untuk dapat menghidangkan
minuman menyegarkan ini untuk piknik. Kemasan Coca Cola dalam botol
ini dirasa sangat inovatif dan efisien sehingga Coca Cola tercatat sebagai
minuman ringan dalam wadah botol pertama kali.

Pada tahun 1899, proses pembotolan Coca Cola berskala besar


dimulai. Pemilik The Coca Cola Company Asa G Chandler memberikan hak
pembotolan eksklusif kepada Joseph B Whitehead dan Benjamin F Thomas
dari Chattanooga, Tennessee. Kontrak ini menandai dimulainya system
pembotolan yang unik dan independent dari The Coca Cola Company dan
merupakan dasar dari pengoperasian Perseroan minuman ringan tersebut
hingga kini. Keberhasilan pemasaran Coca Cola telah membuat banyak
botol soda lain yang meniru Coca Cola sehingga konsumen tidak dapat
membedakan jika mereka tidak mencicipinya. Untuk memecahkan masalah
ini, dibuatlah botol Coca Cola khusus dengan bentuk kontur yang dikenal
hingga sekarang di seluruh dunia. Desain ini dibuat oleh The Root Glass
Company pada tahun 1915. Dalam proses pembuatan pabrik minuman, pabrik
mengolah ramuan sirup dengan air steril, gula murni dan gas CO2 sehingga
menjadi minuman ringan Coca Cola, lalu dikemas dalam bentuk botol.
Inilah awal dari suatu system dagang yang unik dalam sejarah disebut
Franchised Sistem ( Sistem Waralaba ) yaitu kerja sama saling
menguntungkan antara dua perusahaan, The Coca Cola Company dan pabrik
minuman.modal kepemilikan dan manajemen dari kedua perusahaan ini sama
sekali terpisah, namun banyak mendatangkan keuntungan. Oleh karena itu,
system dagang ini banyak diminati oleh perusahaan perusahaan diseluruh
dunia.
Coca Cola mulai diperdagangkan di Indonesia pada tahun 1932 oleh
De Netherlands Indische Mineral Water Fabrik Jakarta, dibawah manajemen
Bernie Vonings dari Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya di
tahun 1971 beberapa orang Indonesia pribumi mulai menanamkan modal ikut
serta dalam penanaman saham, sehingga perusahaan berganti nama menjadi
Indonesia Beverages Limited ( IBL). IBL telah menjalin kerjasama dengan
tiga perusahaan besar : Mitsu Toatsu Chemical Inc.. Mitsu Co Ltd., Mikuni
Coca Cola Bottling Co. membentuk perusahaan dengan nama PT. Djaya
Beverages Bottling Company (DBBC).

Pada tanggal 12 Oktober 1993, sebuah perusahaan pabrik Australia,


Coca Cola Amatilitied (CCA), pabrik pembotolan Coca Cola terbesar di
dunia, untuk distribusi dan pemasaran produk The Coca Cola Company
telah mengambil alih kepemilikan PT. Djaya Beverages Bottling Company
(DBBC) dan mengganti nama perusahaan menjadi Coca Cola Amatil
Indonesia, Jakarta.
Pada tahun 1974 perusahaan mengalami perkembangan yang cukup besar
baik dari segi pasar ataupun dari segi produksinya, dimana pada tahun 1974
perusahaan mampu menambah satu mesin produksi. Dari penambahan mesin itu
variansi produk bertambah satu merek lagi yaitu Sprite. Membaiknya keadaan dari
segi politik dan ekonomi, membuat Coca-Cola melebarkan sayapnya ke berbagai
daerah sebagai area pemasarannya. Pada tahun 1990-an Coca-Cola mampu memiliki
11 pabrik pembotolan. Selain di Cempaka Putih Coca-Cola memilki di Medan
(Northern Sumatra), Surabaya (East Java), Semarang (Central Java), Makassar
(Southern Sulawesi), Bandung (West Java), Padang (Central Sumatra), Denpasar
(Balinusa), Tanjungkarang (Southern Sumatra), Banjarmasin (Kalimantan) dan
Manado. Dengan kondisi sekarang lebih dari 9.000 orang karyawan, produksi dapat
mencapi jutaan dapat didistribusikan dan dijual melalui lebih dari 45.000 outlet yang
tersebar di seluruh Indonesia.

Pada akhir tahun 1974, tepatnya tanggal 1 november 1974 di atas


lahan seluas 8,5 ha, dimana dua orang pengusaha yaitu Portogius Hutabarat
(almarhun) dan Mugijanto membeli saham Coca Cola dan mendirikan
pabrik Coca Cola dengan nama PT. Pan Java Bottling Company. Namun
perusahaan ini baru dapat beroperasi pada tanggal 5 Desember 1976. Pada
April 1992, PT. Pan Java Bottling Company melakukan joint venture dengan
Coca Cola Amatil Limited Autralia. Sejak saat itu PT. Pan Java Bottling
Company berganti nama menjadi PT. Coca Cola Pan Java. Dengan adanya
tahap awal dari rencana merger yang diusulkan oleh kelompok usaha Coca
Cola maka sejak tanggal 1 Agustus 1999 terjadi perubahan badan hukum dari
PT. Coca Cola Pan Java menjadi PT. Coca Cola Amatil Indonesia Bottling.
Perusahaan ini tetap melanjutkan kegiatan dalam bidang industri pembotolan

minuman ringan. Perubahan terakhir terjadi pada tanggal 1 Juli 2002, PT.
Coca Cola Amatil Indonesia Bottling (CCAIB) berganti nama menjadi PT.
Coca Cola Bottling Indonesia (CCBI) berdasarkan persetujuan Menteri
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Sedangkan untuk
distributornya bernama PT. Coca-Cola Distribution Indonesia (CCDI).
2. Lokasi Perusahaan
PT. Coca Cola Bottling Indonesia Central Java, terletak diatas tanah seluas 6 Ha
di Jalan Raya Semarang Bawen Km. 30 PO BOX 119, Ungaran. Tepatnya di
kelurahan Harjosari, Kec. Bawen, Kab. Semarang. Pembagian tanah seluas 6 Ha
meliputi dua bagian, yaitu bangunan utama atau processing, dan bangunan
pendukung gedung perkantoran yaitu bangunan kantor central marketing
bangunan kantor administrasi, bangunan departemen operating, bangunan
koperasi, terdiri dari pertokoan dan percetakan, bangunan bahan kimia,
bangunan kemasan kosong, bangunan gudang logistik, bangunan full atau botol
isi, bangunan bagian mesin, bangunan teknik, bangunan penjagaan satpam,
bangunan poliklinik, bangunan ibadah, bangunan tempat parkir, bangunan
bengkel, bangunan tempat pengelolaan limbah, bangunan kamar mandi,
bangunan ruang tamu dan bangunan tempat istirahat dan kantin.

3. Visi, Misi, dan Tujuan Perusahaan


a. Visi Perusahaan
1. Menciptakan bisnis yang berwawasan lingkungan
Selain perusahaan berpikir untuk memproduksi produk dengan kualitas yang baik,
perusahaan juga menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan. Oleh sebab itu
perusahaan mengadakan sistem pengolahan air limbah yang aman dan tidak
berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
2. Menciptakan bisnis yang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi
Sebagai rasa tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat sekitar, maka
perusahaan menyediakan pelayanan poliklinik beserta mobil ambulance untuk
masyarakat sekitar, unit mobil pemadam, sarana dan kegiatan ibadah. Semua itu
dituangkan dalam berbagai kegiatan sosial untuk memelihara hubungan harmonis
antar perusahaan dengan karyawan itu sendiri maupun dengan masyarakat luas secara
umum.
3. Menyajikan minuman segar non-alkohol, pelepas dahaga guna memenuhi kepuasan
konsumen Produk-produk yang dihasilkan dan dipasarkan kepada konsumennya
selalu produk yang mempunyai kualitas terbaik. Contoh produk yang dihasilkan oleh
PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Central Java yaitu Coca-Cola, Fanta (Oranggo,
Strawberry, Melon, Soda Water, Creamy), Sprite, Sprite Ice, Frestea dan Frestea
Green.
b. Misi Perusahaan
1.
Menjadi perusahaan minuman yang terkemuka khususnya di
Indonesia
2.

Memberikan nilai terbaik bagi pemegang saham dengan menjadi


perusahaan terdepan dalam pasar minuman non-alkohol secara global.

3.

Merk Coca-Cola merupakan tumpuan sukses dalam memuaskan


konsumen dengan produk layanan berkualitas tinggi melalui orang-orang yang
dinamis dan berdedikasi tinggi.

c. Tujuan Perusahaan

1. Tujuan Ekonomis

a.

Meningkatkan keuntungan perusahaan

Penyerapan Tenaga kerja

Menambah devisa Negara

2. Tujuan Sosial
a.

Sebagai sponsor dalam berbagai acara, baik yang


bersifat olahraga maupun pentas seni.

b.

Meningkatkan kesejahteraan penduduk di sekitar


pabrik.

c.

Pemberian sumbangan kepada badan social di


wilayah yang bersangkutan.

d.

Pemberian beasiswa bagi para pelajar berprestari


di wilayah bersangkutan.

e.

Donor darah kepada PMI.

f.

Memperhatikan kesejahteraan karyawan dengan


program K-3 (Keselamatan dan Kesejahteraan Kerja).

B. Manajemen Perusahaan
1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan susunan yang terdiri dari fungsi-fungsi dan hubungan
yang menyatakan keseluruhan kegiatan untuk mencapai suatu sasaran. Secara fisik,
struktur organisasi dapat dinyatakan dalam bentuk bagan yang memperlihatkan
hubungan unit-unitorganisasi dan garis-garis wewenang yang ada. Untuk menjalankan
kegiatan produksinya, PT. CCBI melakukan pembagian tugas dan wewenang secara
tegas dari pimpinan perusahaan agar operasional perusahaan bisa dikendalikan dan
tujuan perusahaan dapat tercapai, caranya adalah melalui struktur organisasi yang

merupakan alat administrasi dan manajemen. Struktur organisasi yang dimiliki PT.
CCBI merupakan jenis organisasi garis dan staf. Dalam organisasi ini ada dua kelompok
orang yang berpengaruh dalam menjalankan organisasi, yaitu: orang yang
melaksanakan tugas pokok organisasi dalam rangka pencapian tujuan, digambarkan
dengan garis atau line dan orang yang melakukan tugas berdasarkan keahlian yang
dimilikinya, orang ini berfungsi hanya untuk memberikan saran-saran kepada unit
operasional, orang tersebut disebut staf .
Departemen departemen di PT. CCBI bertanggung jawab langsung kepada General
Manager. Tugas dan wewenang masing-masing jabatan adalah :
a. General Manager
1) Memimpin, mengendalikan, mengkoordinasikan, serta mengawasi
kegiatankegiatan
penyelenggaraan perusahaan sesuai dengan rencana dan kebijakan yang
ditetapkan
dewan direksi.
2) Menjalin hubungan baik dengan instansi,lembaga dan individu di luar
perusahaan demi
kelancaran dan kepentingan perusahaan.
3) Mengendalikan dan memberi petunjuk kepada manager yang
langsung dibawahnya agar
tugas dan pekerjaan mereka dapat terselesaikan secara efektif dan efisien
.
b. Secretary
Membantu kelancaran tugas General Manager agar berjalan sesuai
dengan jadwal
yang telah ditetapkan. General Manager membawahi beberapa bagian:
1) General Sales Manager
Mengadakan penelitian terhadap pasar serta membuat perencanaan
promosi,
saluran distribusi, dan penjualan.
2) Human Resources Manager
a) Bertanggung jawab terhadap penyediaan tenaga kerja yang meliputi
penerimaan,
penempatan, pemberhentian pegawai, pengembangan dan kesejahteraan
pegawai
sesuai dengan kebijakan perusahaan
b) Bertanggung jawab mengenai masalah kepegawaian
c) Menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar, lembagalembaga
dan instansi
pemerintah.
3) Finance and Administration Manager
a) Menyelenggarakan akutansi perusahaan dan membuat laporanlaporan
keuangan.
b) Mengolah dana dan modal kerja untuk menjamin atau membiayai
kegiatan

operasional perusahaan (pembayaran gaji, pembayaran material,


pembayaran pajak,
dll).
4) Businness Service Manager
Memberikan pelayanan data dalam komputer atau membuat data base,
informasi
program marketing dan finance.
5) Technical Operation and Logistic Manager
Bertugas merencanakan, mengawasi, membina segala kegiatan yang
dijalankan
dalam bidang produksi (operational plant) dan membuat pertanggung
jawaban kepada
general manager. Dalam tugasnya, Technical Operational & Logistic
Manager
membawahi beberapa departemen, yaitu :
a) Quality Assurance (QA) Manager
Mengawasi sekaligus meneliti proses dan hasil produksi agar sesuai
dengan
standar mutu dan prosedur yang telah ditentukan sehingga tidak ada
keluhan produk
oleh konsumen di pasar.
b) Demand Operational Planing (DOP)
Merencanakan kegiatan produksi yang akan dilaksanakan,
memperkirakan
dan menentukan persediaan bahan baku yang akan digunakan dalam
proses
produksi.
c) Processing Manager
Melaksanakan dan mengawasi kelancaran jalannya proses produksi serta
memastikan seluruh komponenkomponen
produksi (air, limbah, bahan baku, output
produksi) sesuai dengan standar kualitas dari The Coca Cola Company.
d) Engineering Manager
Menjaga, merawat, dan memastikan mesinmesin
produksi dapat berfungsi
dengan baik
e) Quality Management System (QMS) Manager
1. Memastikan bahwa seluruh kegiatan di plant terdokumentasi dengan
baik dan
benar sehingga semua proses yang ada di palant sesuai dengan standar
The CocaCola
Company.
2. Bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksaaan audit tentang
kualitas, GMP
(Good Manufacturing Practise) dan EMS (Environment Management
System)

yang dilakukan oleh CocaCola


Corporate dan external audit.
f) Werehouse and Transportation Manager
Melaksanakan, dan mengawasi kegiatan di gudang meliputi jumlah stok
yang tersedia di gudang baik berupa bahan baku atau produk.
2. Ketenagakerjaan
PT. CCBI Semarang mempekerjakan tenaga kerja tetap dan tenaga
kerja borongan.
Tenaga kerja tetap adalah karyawan perusahaan yang sudah diangkat
menjadi pegawai tetap
oleh perusahaan. Sedangkan tenaga kerja borongan adalah tenaga
kerja yang direkrut oleh
perusahaan untuk membantu pelaksanaan aktivitas perusahaan.
Tenaga kerja borongan
mempunyai masa kerja terbatas, biasanya dua tahun atau tergantung
kebijakan perusahaan. Jika
perusahaan masih membutuhkannya, maka dapat dilakukan
perpanjangan kontrak. Tenaga kerja
tetap memiliki masa kerja tertentu seperti yang tertera pada
kesepakatan kerja bersama yang
ditandatangani antara pihak perusahaan dengan pekerja saat pekerja
tersebut diterima sebagai
karyawan di PT. CCBI.
PT. CCBI melakukan kerjasama dengan perusahaan lain untuk
menangani tentang
sumber daya manusia. Perusahaanperusahaan
yang bekerjasama dengan PT. CCBI umumnya
adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang tertentu, antara lain:
a. PT. GKM (Gelora Karya Makmur)/ PT. ASG (Adi Surya gemilang),
kerjasama dibidang
penyediaan sarana transportasi sekaligus pengangkutannya darin
pabrik ke distributor atau
sales centre.
b. PT. SPM (Swadaya Pratama Mandiri), kerjasama dalam bidang
penyediaan sarana
transportasi yang ada dalam pabrik, yaitu forklift (truk pengangkat
bergarpu). Forklift
berfungsi mengangkat botol dari gudang ke proses pencucian botol,
mengangkut material
seperti gula untuk pembuatan sirup.
PT. CCBI Semarang mengklasifikasikan tenaga kerjanya menjadi
tenaga kerja terdidik
dan tidak terdidik. Tenaga kerja terdidik yang direkrut oleh
perusahaan diutamakan yang belum

pernah bekerja dengan tujuan untuk mempermudah dalam


pembentukan sikap kerja sesuai
dengan budaya perusahaan dan memenuhi kriteria seperti memiliki
jiwa kepemimpinan, dan
komunikatif. Untuk tenaga kerja tidak terdidik biasanya ditempatkan
pada pekerjaan tertentu,
seperti buruh angkut, cleaning service dengan mengutamakan
keuletan dan tanggung jawab
terhadap pekerjaannya.
Pengembangan karyawan ditetapkan oleh perusahaan dengan
mengikut sertakan
karyawan yang mempunyai kemampuan berdasarkan prestasi kerja
melalui training, seminar,
maupun pendidikan lanjutan yang biayanya dibantu oleh perusahaan.
Selain karyawan
dimotivasi dengan adanya promosi jabatan sehinggan karyawan tetap
semangat dalam bekerja,
promosi jabatan diperuntukkan bagi semua karyawan sesuai dengan
penilaian dan prestasi kerja.
Kesejahteraan karyawan di PT. CCBI sangat diperhatikan. Selain
mendapatkan gaji
pokok dan tunjangan karyawan atau tunjangan jabatan. Para
karyawan juga mendapatkan
beberapa fasilitas, antara lain:
1. Pemberian pakaian dan kelengkapan kerja untuk keamanan
karyawan selama bekerja,
seperti topi, penutup telinga, sepatu, kacamata, masker, dan sarung
tangan
2. Biaya transportasi
3. Santunan persalinan
4. Jaminan dan tunjangan kesehatan dalam pelayanan poliklinik yang
dilengkapi dengan mobil
ambulan bagi karyawan
5. Bantuan bagi karyawan yang mengalami musibah melalui jaminan
sosial tenaga kerja
(jamsostek)
6. Pelayanan koperasi Kendali Hartayang meliputi simpan pinjam
7. Pemberian Reward bagi karyawan yang berprestasi
8. Fasilitas peribadatan Masjid ArRahman
Ada dua jenis pengaturan dan pembagian jam kerja karyawan oleh
perusahaan. Dimana
jam kerja kantor berbeda dengan karyawan bagian proseses produksi.
Adapun pembagian jam
kerja untuk karyawan PT.CCBI sebagai berikut:
1. Bagian produksi

a. Shift I : pkl 07.0014.30


WIB
b. Shift II : pkl 14.3022.00
WIB
c. Shift III : pkl 22.0007.00
WIB
2. Bagian keamanan
a. Shift I : pkl 07.0015.00
WIB
b. Shift II : pkl 15.0022.00
WIB
c. Shift III : pkl 22.0007.00
WIB
3. Karyawan kantor
a. Senin Jumat : 08.0017.00
WIB
b. Sabtu Minggu : libur
Kegiatan operasional bagian produksi adalah selama 24 jam. Khusus
hari minggu pukul
14.30 WIB sampai dengan hari Senin pukul 07.00 WIB libur. Namun
permintaan terhadap
produk maka diadakan lembur. Pembagian lembur menjadi dua shift
yaitu:
a. Shift I : pkl 07.0019.00
WIB
b. Shift II : pkl 19.0007.00
WIB
Bagi karyawan yang lembur akan mendapatkan uang lembur yang
dihitung tiap jam dan
dibayarkan bersama dengan gaji dan tunjangan tiap bulan. Pada
pengaturan jam kerja
mengalami perubahan seminggu sekali dengan mengurangi
kejenuhan karyawan dalam bekerja.
Penyedian Bahan Mentah
1. Air
Air merupakan kandungan terbesar di dalam CSD (Carbonated Soft
Drink). Air yang
digunakan harus mempunyai kualitas tinggi. Air yang terdapat di PT.
CCBI CJ berdasarkan
kegunaanya digolongkan yaitu sebagai berikut:
a. Raw Water
Raw water merupakan air yang berasal dari sumur dalam (deep well)
atau PDAM yang

dialirkan dengan menggunakan pompa menuju pabrik untuk


mengalami pengolahan labih
lanjut.
b. Treated Water
Treated water digunakan untuk proses pembuatan CSD (Carbonated
Soft Drink).
2. Gula Pasir
Bahan dasar pembuatan sirup adalah gula dan konsentrat sebagai
penentu rasa minuman.
Gula berasal dari dalam negeri dan luar negeri yaitu Indonesia (PT.
Jawamanis Rafinasi) ,
Thailand (Singburi Sugar Limited), Australia (Australian Sugar), dan
Malaysia (Malayan
Sugar). Gula yang digunakan harus memiliki kualitas yang baik dan
cukup murni. Hal ini bisa
dilihat secara visual bahwa kristal gula berwarna putih bersih.
Sebelum gula diterima selalu
dilakukan pemeriksaan dahulu apakah sesuai dengan standar. Gula
akan dibeli jika sesuai
dengan standar dan kemudian disimpan dalam gudang disusun dalam
pallet (1 pallet = 20 zak).
Gula yang digunakan dalam pembuatan syrup sederhana adalah gula
bit. Gula ini dikemas
dengan kemasan 50 kg setiap 1 zaknya.
3. Karbondioksida
Karbondioksida merupakan bahan yang paling penting dalam
pembuatan minuman
ringan yaitu untuk karbonasi. Dengan penambahan karbondioksida
minuman ringan akan terasa
lebih segar dan awet, serta dapat berfungsi untuk memperkuat rasa
dan aroma minuman dan
sebagai pengawet karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri
aerob yang dapat hidup
dalam air. Karbondioksida yang digunakan berasal dari PT. Samator,
PT. Molindo.
4. Konsentrat
Konsentrat merupakan bahan yang sangat penting dalam pembuatan
minuman
berkarbonasi karena berfungsi memberikan bau, rasa, warna, dan
aroma yang khas. Pembuatan
konsentrat hanya dilakukan oleh The Coca Cola Company (TCCC)
yang berpusat di Atlanta, hal
ini bertujuan untuk menjaga kekhasan produk Coca Cola diseluruh
dunia. Komposisi konsentrat
mengandung Na benzoate dengan ciriciri

berbentuk serbuk atau kristal putih, halus, sedikit


berbau, yang berfungsi sebagai zat pengawet. Selain itu ada
konsentrat yang mengandung asam
sitrat sebagai zat pemberi cita rasa dan merupakan asam organik
yang mudah larut dalam air
Konsentrat dibagi menjadi:
a. Part 1 adalah bagian dari konsentrat yang berbentuk powder yang
berisi zat warna dan zat
pengawet.
b. Part 1B adalah bagian dari konsentrat yang berisi zat pengawet
yang berbentuk powder dan
terdapat label IB pada kemasan.
c. Part 2 adalah bagian dari konsentrat yang berbentuk cair
d. Part 3 adalah bagian dari konsentrat yang berupa daun teh

1.6
a.

Produk yang dihasilkan


Produk Carbonated

Pada produk ini terjadi penambahan gas

CO2

pada minuman, dimana berfungsi

sebagai bahan penyegar dan pengawet. Proses pencampuran antara


beverage dilakukan pada suhu

2 50 C

CO2

dan

Produk carbonated yang diproduksi PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI)


Central Java terdiri atas :
Tabel 1. Produk Carbonated PT.CCBI Central Java
Merk

Ukuran/Kemasan

Merk

Ukuran/Kemasan

Coca-Cola

Sprite

193 ml/botol

Fanta Oranggo

295 ml/botol

Fanta Strawbery

295 ml/botol

330 ml/kaleng

1000 ml/botol

200 ml/botol

330 ml/kaleng
Fanta Melon

295 ml/botol

330 ml/kaleng

330 ml/kaleng
Fanta Creamy

295 ml/botol

330 ml/kaleng

330 ml/kaleng
Fanta Apple

295 ml/botol
295 ml/botol

Diet Coke

330 ml/kaleng

Fanta pineapple

330 ml/kaleng

b.

200 ml/botol

295 ml/botol

330 ml/kaleng

Fanta Soda Water

200 ml/botol

1000 ml/botol

200 ml/botol

Fanta Orange

200 ml/botol

1000 ml/botol

295 ml/botol

Sprite Ice

330 ml/kaleng

200 ml/botol
295 ml/botol

Frestea

220 ml/botol

Frestea Green

220 ml/botol

Produk Non Carbonated

Pada produksi ini tidak dilakukan penambangan gas


o

suhu tinggi (100-105

CO2

, akan tetapi menggunakan

). Dimana berfungsi untuk mensterilasasi produk dari

bakteri. Minuman yang diproduksi adalah Frestea dan Frestea Green dengan ukuran
220 ml/botol.
PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI) Central Java memilikiline produksi,
yaitu :

1. Line III (150 Bpm):

digunakan

untuk

produksi

minuman dalam botol ukuran 1000ml (produk


carbonated)
2. Line IV (600 Bpm):

digunakan

untuk

produksi

minuman dalam botol ukuran 295 ml, 200 ml, dan 193
ml (produk carbonated)
3. Line V (300 Bpm) :

digunakan

untuk

produksi

minuman dalam botol ukuran 220 ml (produk non


carbonated)
4. Line VI (300 Bpm):

digunakan

untuk

produksi

minuman dalam kaleng ukuran 330 ml (produk


carbonated)
5. Line VIII (800 Bpm)

: digunakan untuk produksi

minuman dalam botol ukuran 193 ml, 200 ml, dan 295
ml (produk carbonated).

BAB II
PROSES PRODUKSI

Proses produksi adalah suatu aktifitas untuk meningkatkan nilai dari suatu barang
melalui langkah-langkah tertentu secara sistematis. Dalam pengertiannya, proses adalah
cara, metode serta dana yang ada untuk memperoleh suatu hasil. Sedangkan produksi
adalah kegiatan untuk menciptakan dan menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan
menggunakan sumber-sumber tenaga kerja, mesin-mesin, bahan-bahan dan dana yang ada.

Sehubungan dengan adanya tahap-tahap pembuatan produk, penulis akan menguraikan


tahap-tahap proses produksi dalam pembuatan Coca Cola.

2.1

Bahan Baku

Proses produksi minuman ringan PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI)

CO2
Central Java menggunakan bahan baku, yaitu : air, gula pasir,

,dan konsentrat. Bahan

baku yang akan dipakai telah dipastikan lulus analisa dan telah melalui tahap pengolahan
awal sehingga menghasilkan bahan baku yang berkualitas dan memenuhi standar yang
ditetapkan perusahaan.

a)

Bahan Baku Utama


Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan minuman ringan di PT. CocaCola Bottling Indonesia (CCBI) Central Java, antara lain :
1.

Air
Bahan baku air diperoleh dengan mudah oleh PT. CCBI Central Java karena
letak pabrik yang dekat dengan pegunungan, sehingga bahan baku ini mudah
didapat dari sumur tanah yang dib or (deep well) yang berkedalaman antara 90
110 meter dan yang beroperasi berjumlah 11. Kesebelas sumur tersebut terbagi
dalam dua daerah, yaitu di dalam area pabrik dan di luar area pabrik. Sumur yang
terdapat di luar pabrik, berada di persawahaan di sekitar lokasi perusahaan yang
berjumlah 7 buah, sedangkan sumur lainnya berada di dalam perusahaan yang
berjumlah 4 buah yang letaknya di luar gedung produksi.
Berdasarkan kegunaannya, air yang digunakan untuk proses produksi minuman
di PT. CCBI, Central Java dapat digolongkan sebagai berikut :
o

Raw Water ( air mentah )

Yaitu air yang digunakan untuk keperluan diluar produksi, seperti untuk
membersihkan lantai, membersihkan kaca, bahan baku pengolahan air selain
produksi, dan lain-lain.
o

Soft Water (air lunak)

CaCo3
Yaitu air yang telah diproses sehingga mengandung kalsium karbonat (

sebagai zat pembentuk kesadahan sementara yang akan mengurai bila


dipanaskan untuk mengendapkan kalsium atau magnesium karbonat.. Air lunak
terdiri dari dua macam, yaitu Chlorinated soft water yang merupakan air lunak

Ca OCl 2
yang ditambahkan klorin (

) yang digunakan dalam proses pencucian

botol (washing) dan Non Chlorinated soft water yang merupakan air lunak yang
tidak mengandung klorin, digunakan untuk proses pemanasan (steam boiler)
atau proses pendinginan (evacond)
o

Treated water
Yaitu air yang sudah diolah dan diproses yang sudah memenuhi standart untuk
didistribusikan ke proses produksi sebagai bahan baku utama pembuatan
minuman di PT. CCBI Central Java.

Soft Treated water


Yaitu Treated water yang telah dilunakan sehingga memiliki tingkat kesadahan
dan kekeruhan yang sangat rendah. Soft Treated water digunakan untuk
memproduksi minuman Frestea.
Pemeriksaan yang dilakukan setiap 4 jam pada proses pengolahan air meliputi :

1)

Free Chlorine dan Total Chlorine


Pemeriksaan free chlorine dengan penambahan Reagan DPD (diethylp-phenylenediamine) bertujuan untuk mengetahui kadar klorin pada air yang
telah diolah dengan ditandai warna jernih. Apabila warnanya tidak jernih maka
akan dilakukan pengolahan air kembali. Sedangkan untuk pemeriksaan total
chlorine pada air yang belum diolah ditandai dengan adanya warna pink
setelah penambahan Reagan DPD (diethyl-p-phenylenediamine).

2)

Total Hardness (Kesadahan Total)


Kesadahan total yaitu jumlah ion-ion Ca 2+ dan Mg2+ yang dapat ditemukan
melalui titrasi dengan asam etilen diamin tetra asetat (EDTA) sebagai titran dan
menggunakan indikator yang peka terhadap semua kation tersebut. Eriochrome
Black T (Eriokrom Hitam T) adalah sejenis indicator yang berwarna merah
muda bila berada dalam larutan yang mengandung ion kalsium dan ion
magnesium dengan pH 10 0,1. Pada pH 10, larutan akan berubah menjadi
biru yaitu disaat jumlah molekul EDTA yang ditambahkan sebagai titran, sama
dengan jumlah ion kesadahan dalam sample air, dan molekul indicator terlepas
dari kesadahan (Alaerts, G dan Santika S. S., 1987)

3)

Alkalinitas
Menurut Alaerts, G dan Santika S. S (1987), alkalinitas adalah
kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa menurunkan pH larutan.
Alkalinitas dinyatakan di dalam mek/ (cara kimiawi dan tepat) atau mg
CaCO3/ (cara kuno tetapi masih digunakan di Amerika). Alkalinitas di dalam
air disebabkan oleh ion-ion karbonat (CO 32-), bikarbonat (HCO3-), hidroksida
(OH-), borat (BO33-), fosfat (PO43-) dan silikat (SiO44-).
Logam-logam alkalinitas termasuk unsur-unsur golongan IA (alkali)
dan golongan IIA (alkali tanah). Logam alkali dan alkali tanah adalah zat
pereduksi yang sangat kuat karena begitu mudah kehilangan electron dan
mudah bergabung dengan unsur non logam(VIIIA) helium, neon, argon,
krypton. Unsur-unsur golongan IA meliputi Hidrogen (H), Litium (Li),
Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Cesium (Cs), dan fransium (Fr).
Sedangkan untuk unsur-unsur golongan IIA meliputi Berilium (Be),
Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Stronsium (Sr), Barium (Ba). Pemeriksaan ini
bertujuan untuk mengetahui analisa kandungan alkalinitas dalam air. Apabila
kandungan alkali dalam air masih ada dapat membahayakan kesehatan.

4)

Turbidity (kekeruhan air)


Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kekeruhan dalam
air. Kekeruhan merupakan sifat optis dari suatu larutan,yaitu hamburan dan
absorbsi cahaya yang melaluinya. Kekeruhan disebabkan oleh adanya partikelpartikel kecil dan koloid yang berukuran 10 nm sampai 10 m. Partikel-

partikel kecil dan koloid tersebut adalah lempung, lumpur, sisa tanaman,
plankton dan ganggang (Alaerts, G dan Santika S. S., 1987).
5)

pH (puissance Hydrogen)
pH merupakan logaritma negatif dari konsentrasi H + dalam suatu
larutan pH = -log [H+]. Jika pH air < 7 maka air bersifat asam, jika

pH > 7

maka air bersifat basa, sedangkan pH normal adalah 7. Pemeriksaan air ini
bertujuan untuk memperoleh nilai pH yang akurat (6,0-12,5).
6)

Bau, rasa dan penampakan


Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui bau, rasa dan penampakan normal
dilakukan dengan uji organoleptik dan inderawi.

7)

Chlorida
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar chlorida dalam air. Klor
dapat digunakan untuk membasmi bakteri dan mikroorganisme seperti amuba
dan ganggang. Klor dapat mengoksidasi ion-ion logam seperti Fe 2+, Mn2+,
menjadi Fe3+, Mn3+, Mn4+, dan memecah molekul organik seperti warna. Klor
sendiri dapat direduksi sampai menjadi klorida (Cl -) yang tidak mempunyai
daya disinfeksi (Alaerts, G dan Santika S. S., 1987).

8)

Iron (Besi)
Besi yang ada didalam air dapat bersifat terlarut sebagai fe 2+ (ferro)
atau Fe3+ (ferri), tergabung dengan zat organis atau zat anorganis (tanah liat).
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar besi pada air jika masih
terkandung dalam air dapat membahayakan kesehatan.

2.

Gula Pasir
Gula pasir merupakan bahan dasar dari pembuatan sirup yang berfungsi sebagai
pemanis. Bahan dasar pembuatan sirup adalah gula dan konsentrat. Gula sebagai
pemberi rasa manis dan konsentrat sebagai penentu rasa minuman. Gula diperoleh
dari luar negeri dan dalam negeri, yaitu Denmark, Inggris dan Lampung. Supplier
(pemasok gula) yang masih aktif adalah PT. AJM (Arindo Jaya Mandiri),
manufacture dari Danisco Denmark. Pada pengolahan sirup, gula yang digunakan

memiliki kualitas yang baik dan murni. Hal ini bisa dilihat secara visual bahwa
kristal gula berwarna putih bersih.
Sebelum gula diterima, selalu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu apakah
sesuai standart. Standart yang digunakan meliputi kondisi kemasan pada gula (baik
dan utuh), kenampakan (kristal putih/granula), kekeruhan, bebas dari rasa dan bau
asing, warna max 35 RBU/Range Base Unit. Gula akan dibeli jika sesuai dengan
standart dan kemudian disimpan dalam gedung yang disusun dalam palet (1 palet =
25 sak gula).

CO2
3.

Karbondioksida (

Karbondioksida digunakan untuk memperkuat rasa dan aroma agar tetap segar dan
lebih awet. Penggunaannya harus berada pada suhu yang rendah dan berupa gas.
Karbondioksida ini diperoleh dari PT. Samator, PT. Pan Gas, PT. Aneka Gas dan
PT. Malindo secara bergantian..

CO2
Tabel 2. Standar Mutu Karbondioksida (
Parameter
1. Bau dan Rasa

Nilai Standar
Bebas bau dan Rasa asing

2. Kemurnian

99,9% w/w

3. Kelembaban

0,005% w/w

4. Hidrogen Sulfide

0,002 mg/liter

Sumber : PT. CCBI-CJ Semarang, 2004


4.

Konsentrat
Proses pembuatan konsentrat dilakukan di Coca-Cola Indonesia (CCI)
Cilangkap, bahan baku dibuat di Atlanta dan disimpan dalam gudang dengan suhu
rendah (< 5C). Konsentrat merupakan bahan pemberi rasa, aroma, bau, pewarna
dan pengawet pada minuman ringan. Konsentrat berbentuk serbuk/powder (untuk
pengawet), liquid (untuk pewarna dan aroma), dan padatan (untuk teh kering
khusus dalam produk Frestea). Konsentrat yang digunakan dibedakan menjadi 3
macam, yaitu : Part I berupa bubuk yang memberi warna dan pengawet (Part IA, IB

dan IC), Part II berupa liquid untuk aroma/flavour (Part IIA dan IIB), Part III yaitu
teh kering berupa teh hijau dan teh hitam.
Konsentrat untuk tiap jenis minuman yang ditambahkan berbeda-beda. Hal ini
disesuaikan dengan jenis minuman yang dibuat. Konsentrat yang ditambahkan
dalam minuman Frestea adalah Part IA dan IC (asam benzoat), Part IIB (aroma
melati) dan Part III (daun teh).

b)

Bahan Pendukung
Selain bahan baku diatas, di PT. CCBI, Central Java juga menggunakan bahan-

bahan pembantu untuk menunjang atau melengkapi bahan baku. Bahan pembantu yang
digunakan antara lain :
a. Bahan pengemas, terdiri dari botol minuman (220 ml), tutup botol (crown). Crown,
yaitu berupa tutup botol yang berbentuk plastic, tutup tekan dan closure.
b. Bahan pelengkap dalam proses produksi, seperti active carbon, filter aid, lime,
Ca(OCl)2, resin, NaCl, sand filter, dan soda caustik (NaOH).
1) Active carbon, yaitu bubuk kimia yang berfungsi untuk menghilangkan racun ,
memperbaiki warna, dan menghilangkan bau dan rasa asing.
2) Filter aid, digunakan dalam pembuatan simple sirup dari minuman karbonasi
yang akan diproduksi yang mencakup semua jenis produk mulai dari Coca-cola,
Sprite, maupun Fanta. Filter aid berfungsi untuk pembentukkan media saring
untuk menjernihkan sirup dari benda-benda kasar yang terlarut dalam larutan
gula.

Ca OH 2
3) Lime (

FeSO4
), berfungsi mengaktifkan ferro sulfat (

) ,untuk

penggumpalan dan pengendapan dalam kaitan untuk mempercepat pembentukkan


flok dalam proses pengolahan air.

Ca OCl 2
4) Kaporit (

), yaitu serbuk yang digunakan untuk mensterilkan

pengolahan air dari mikroba pathogen.


5) Resin, yaitu zat yang membantu untuk menurunkan kadar kesadahan air.
6) Garam (NaCl), merupakan bahan penting dalam pengolahan air. Garam disini
digunakan sebagai campuran dalam pembuatan larutan garam. Larutan garam

disini diperlukan untuk proses regenerasi yang merupakan suatu proses


pengaktifan resin yang sudah jenuh.
7) Sand filter, yaitu zat yang membantu penyaringan air agar bebas dari kotoran
yang larut didalam air.
8) Soda caustic (NaOH), digunakan dalam proses produksi khususnya dalam proses
pencucian botol. Selain itu dipergunakan untuk sanitasi alat dalam proses
produksi. Bahan ini berfungsi sebagai disinfektan supaya kondisi botol steril
sehingga siap digunakan untuk pengisian produk. Penggunaan dari caustic soda
untuk proses pencucian botol adalah sebesar 2,5-5 ppm. Untuk sanitasi caustic
soda yang digunakan sebesar 5%.

2.2

Proses Produksi
Proses pembuatan minuman ringan di PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI)
Central Java seperti Coca Cola, Fanta, Sprite, Frestea harus melalui beberapa tahap
produksi. Adapun tahap-tahap yang harus dilalui adalah sebagai berikut :
a)

Pengolahan Air
Air yang digunakan oleh PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI) Central Java

berasal dari air sumur (deep well). Dimana agar kualitas air yang diperoleh sesuai
dengan ketetapan standar dari PT. Coca Cola Company, maka diperlukan beberapa
tahapan proses pengolahan air, yaitu :

Tangki penampungan air


Air sumur yang akan digunakan dialirkan ke buffer tank. Kemudian dari
buffer tank dilewatkan pada cooling tower (pendinginan) untuk menjalani proses
aerasi dalam tangki aerasi, dimana pada proses ini dilakukan oksidasi terhadap
logam-logam yang terkandung didalam air. Selanjutnya dialirkan ke reservoir tank
agar alirannya stabil dan membantu mensterilkan air dari mikroorganisme agar
tidak dapat berkembang serta mengendapkan kotoran yang terbawa.

Flokulasi
Air yang telah ditampung di reservoir tank kemudian ditampung di

FeSO4
flocculator Disini dilakukan penambahan flocculant yaitu

, lime serta

Ca OCl 2

FeSO4
masing-masing sebanyak 20%, 8% dan 5%. Penambahan

dan

lime bertujuan untuk mempercepat pembentukan flock (endapan) yang lebih besar.

Ca OCl 2
Sedangkan

berfungsi sebagai desinfektan yang dapat membunuh

mikroorganisme agar tidak berkembang biak.

Tangki pengendapan (Settling tank)


Setelah melalui proses di tangki flokulasi, kemudian dialirkan ke tangki
pengendapan (settling tank), dimana pada tangki ini berlangsung proses
pengendapan. Proses pengendapan ini juga

dilakukan di break tank, yang

mempunyai tujuan yaitu sisa kotoran yang masih ada dapat mengendap dengan
sempurna, untuk menjaga agar proses berjalan secara sempurna dan terus-menerus,
dan menambah waktu kontak dengan klorin. Di dalam settling tank setiap 2
jam/saat operasional dilakukan pemeriksaan yang meliputi bau normal, kekeruhan
< 0,5 NTU/Nephelometric Turbidity Unit, alkalinitas, kesadahan total <100 mg/ ,
besi <0,1 mg/ , klorin bebas 1-5 mg/ , %Flock <30%.
Bila pengendapan yang berbentuk belum sempurna maka kembali

Ca OCl 2

FeSO4
dilakukan penambahan

, lime serta

,hal ini terus dilakukan

sehingga didapat hasil endapan yang sempurna.

Filtrasi dengan Sand Filter


Pada tangki ini menggunakan media pasir sebagai filter agar proses
pemisahan endapan dapat maksimal, sehingga didapatkan air yang jernih dan steril
dari kotoran dan kandungan berbahaya lainnya. Sand filter berukuran 0.8-1,8 mm
terdiri atas tiga lapisan yaitu anthracite, fine sand, coarse sand. Kemudian
ditampung pada storage tank dengan tujuan menstabilkan aliran dan penyimpanan
air sementara. Sebelum masuk ke dalam storage tank dilakukan pemeriksaan setiap
4

jam/saat

operasional

yang

meliputi

bau

normal,

kekeruhan

<0,5

NTU/Nephelometric Turbidity Unit, alkalinitas, kesadahan <100 mg/ , Fe < 0,1


mg/ , pH 6-12,5 dan klorin bebas 1-5 mg/

Storage Tank

Setelah dilakukan filtrasi dan telah dilakukan pemeriksaan, kemudian air


ditampung di storage tank untuk penstabil aliran dan sebagai penyimpanan air
sementara.

Tangki carbon purifier


Di dalam tangki ini air yang dialirkan dari storage tank diproses kembali
dengan menambahkan karbon aktif agar air benar-benar steril dan rasa, warna bau
serta kotoran yang tidak dikehendaki dapat dicegah. Penggantian karbon dilakukan
setahun sekali dengan mencucinya menggunakan HCl dengan perbandingan dua
banding satu, dengan demikian karbon akan kembali aktif.

Backwash pada Carbon Purifier dan Sand Filter


Backwash (proses pengolahan air kembali) pada sand filter dilakukan
apabila selisih tekanan inlet dan outlet (delta P) minimal 0,5 kg/m 2. Apabila lebih
dari 0,5 kg/m2 harus dilakukan pengolahan kembali untuk menghasilkan air yang
lebih jernih (kekeruhan minimal 0,5 NTU/Nephelometric Turbidity Unit) dan
apabila < 0,5 kg/m2 tidak dilakukan pengolahan kembali, sedangkan untuk Carbon
Purifier dilakukan mingguan. Backwash sand filter dinyatakan memenuhi standart
apabila hasil akhirnya sudah jernih secara visual (kejernihan inlet dan outlet sama).
Sedangkan untuk backwash carbon purifier dinyatakan memenuhi standart apabila
kekeruhan akhir < 0,5 NTU/Nephelometric Turbidity Unit.

Pemeriksaan
Setelah proses pemurnian dengan active carbon, kemudian dilakukan
pengujian/pemeriksaan setiap 4 jam, yang diperiksa adalah rasa, bau, kenampakan
normal, kekeruhan < 0,5 NTU/Nephelometric Turbidity Unit, alkalinitas, kesadahan
total < 100 mg/ , Fe < 0,1 mg/ , total klorin 0 mg/ . Setelah dinyatakan
memenuhi standart, kemudian dilakukan penyaringan 5 micron yaitu saringan yang
digunakan untuk menyaring partikel-partikel halus yang dimungkinkan dari carbon
purifier, sehingga dihasilkan air produk lunak dengan kesadahan rendah dan
dilakukan pemeriksaan kembali setiap 4 jam sekali meliputi kekeruhan < 0,5
NTU/Nephelometric Turbidity Unit, alkalinitas, kesadahan total < 2 mg/ , besi <

0,1 mg/ , total klorin 0 mg/ , pH > 4,9 dan rasa, bau serta kenampakan normal.
Setelah dinyatakan memenuhi standart, kemudian dilanjutkan dengan dilakukan
penyaringan 1 mikron.

b)

Proses Pembuatan Sirup


Pembuatan sirup di PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI) Central Java dibagi

menjadi dua tahap, yaitu tahap pembuatan simple syrup, dimana hasilnya berupa sirup
sederhana dari pelarutan gula dan tahap pembuatan sirup akhir, yaitu simple syrup
menjadi minuman ringan. Untuk membuat sirup minuman ringan diperlukan beberapa
tahap produksi, yaitu :
a.

Pembuatan simple syrup


i)

Pengisian air hasil olahan


Pengisian air hasil olahan ke dalam tangki simple syrup. Kemudian
menambahkan gula ke dalam tangki yang telah terisi air. Penambahan gula
tergantung pada berapa volume air yang digunakan. Kemudian melalukan
pengadukan selama kira-kira 30 menit hingga gula larut.

ii) Pemeriksaan
Pemeriksaan simple syrup dilakukan untuk mengetahui apakah telah
memenuhi standart atau belum. Setelah sesuai dengan standart dan gula telah
larut sempurna, simple syrup ditambahkan dengan filter aid dan active
carbon yang tujuannya untuk menyaring kotoran dan penyerapan warna, bau
dan rasa yang tidak dikehendaki. Pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan
sedikit larutan, meliputi pemeriksaan brix (>58 B), warna (<35 RBU/Range
Base Unit), bau dan rasa (normal). Brix merupakan padatan terlarut yang
dinyatakan dalam persen (berat/berat) gula murni dalam air.
b. Pre Coating
Simple syrup yang telah jadi, dialirkan ke dalam tangki pre coating, dimana pada
proses ini dilakukan penyaringan yang lebih mendetail sehingga kotoran sekecil

apapun dapat terdeteksi dan simple syrup akan terbebas dari kotoran (foreign
matteri/FM) pre coating memiliki dua tahapan proses, yaitu :
1. Pre coating I, yaitu tahap dimana filter aid ditambahkan untuk melapisi filter
press sehingga seluruh plat terlapisi secara merata.
2.

Pre coating II, yaitu tahap penambahan filter aid dan karbon aktif
ke dalam larutan simple syrup, dimana perbandingan filter aid yang
digunakan terhadap karbon aktif adalah tiga banding satu.

iii) Filtrasi
Pada tahap ini, simple syrup yang keluar dari pre coating disaring kembali
untuk memisahkan kotoran yang berukuran sangat kecil. Simple syrup yang
telah dilewatkan filter press diharapkan terbebas dari FM yang biasanya berupa
koloid. Hasil pemeriksaan FM yang positif ditindak lanjuti dengan pengaliran
simple syrup ke tangki simple syrup secara berulang-ulang sampai didapatkan
simple syrup yang terbebas dari foreign matter. Apabila filter press ini sudah
jenuh dalam arti sudah tidak dapat menyaring lagi akibat kotoran yang diikat
terlalu banyak maka filter press ini dibersihkan kembali.
iv) Sterilisasi
Simple syrup yang telah bebas dari FM dialirkan menuju UV lamp
untuk

sterilisasi.

Tujuan

sterilisasi

adalah

untuk

membunuh

semua

mikroorganisme yang tumbuh dalam simple syrup. Sinar UV tersebut


berjumlah 48 buah dengan penyinaran 11000 liter/jam. Panjang gelombang
sinar UV yang digunakan berkekuatan 36000 Nm. Sinar UV yang cukup
selama 7000 jam operasional dan sesudahnya harus sesuai dengan standar yang
direkomendasikan. Dasar penggantian ini adalah untuk mendapatkan sinar
yang cukup optimal sehingga sterilisasi yang dilakukan sesuai dengan yang
diharapkan. Lampu yang telah bekerja lebih dari 7000 jam dikhawatirkan
sudah tidak optimal lagi untuk sterilisasi.
v) Finishing syrup
Simple syrup yang telah dilewatkan sinar UV disempurnakan menjadi
finish syrup dengan pengaliran pada tangki finish syrup. Pada proses sirup
akhir, larutan simple syrup ditambahkan konsentrat sesuai dengan jenis
minuman ringan yang diproduksi. Sebelum ditambahkan, konsentrat dilarutkan

dulu pada tangki pelarutan lalu dialirkan ke tanki finish. Sirup akhir yang
diperoleh kemudian ditransfer ke carbon cooler, masing-masing line memiliki
jangka waktu penyimpanan, yaitu :
(a) Coke dapat disimpan selama 60 jam
(b) Fanta dan Sprite memiliki batas 48 jam
(c) Khusus Fanta soda water hanya bertahan selama 24 jam
(d) Frestea mempunyai waktu penyimpanan paling singkat, yaitu 6 jam
karena the sangat rentan terhadap mikroba.

c)

Proses Pencampuran (Mixing)


Proses pencampuran (mixing) adalah proses pencampuran antara air steril dengan
finish syrup dengan menggunakan mixer. Air steril (treated water) yang telah
ditampung dalam deaarator tank diambil kandungan udaranya dengan vacuum pump.
Selanjutnya air dialirkan menuju flow mix untuk dicampur dengan finish syrup. Setelah
dicampur dengan perbandingan tertentu, selanjutnya dilakukan pendinginan (cooling)

CO2
pada tangki carbo cooler dan dicampur dengan

murni. Pendinginan ini dilakukan

CO2
dengan temperatur yang rendah karena sesuai dengan sifat

cair yang stabil dalam

CO2
suhu rendah, sedang dalam temperatur yang tinggi

cenderung berupa gas. Dari

tangki carbo cooler ini kemudian dilakukan pengisian.

d)

Proses Pengisian (Filling)


Saat mixing telah selesai, maka minuman jadi pun dialirkan ke mesin pengisi (filter)
untuk dituangkan ke dalam kemasan botol yang sesuai. Sebelum masuk ke mesin filter,
botol harus melewati mesin Empty Bottle Inspection (EBI) yang akan memeriksa
kondisi botol lebih akurat dan lebih cepat. Filter akan memasukkan beverages yang
akan dimasukkan. Setelah terisi, botol akan ditutup dan diberi kode produksi serta akan
melewati pemeriksaan akhir sebelum dimasukkan ke dalam krat oleh mesin Caser dan
dipalletkan oleh Palletizer untuk kemudian disimpan di plant Warehouse atau

didistribusikan. Pemeriksaan akhir meliputi pemeriksaan tinggi bdan pemeriksaan


kelayakan untuk didistribusikan.

e)

Proses Pencucian Botol dan Pengemasan


Proses pembotolan, dapat didefinisikan sebagai proses pengemasan minuman ke
dalam suatu botol. Botol yang digunakan merupakan botol baru atau botol bekas dari
konsumen yang sebelum dilakukan proses pengisian finish beverages terlebih dahulu
dilakukan pemeriksaan dan pencucian botol agar semua botol dan krat yang akan
digunakan untuk proses produksi dalam keadaan bersih. Botol-botol beverages yang
digunakan oleh PT. CCBI-CJ merupakan Returnable Glass Bottle (RGB).
Sebelum finish syrup diisikan pada botol terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan
pencucian botol, dimana hal tersebut melalui beberapa tahap, yaitu :
Pre Inspection

Botol-botol yang kosong dan kotor diletakkan didalam krat (case) pada gudang
diangkut dengan menggunakan forklift. Botol yang diangkut dimasukkan ke
dalam palet. Tahap awal pencucian adalah pemeriksaan terhadap botol kotor,
dimana hanya botol yang sesuai standar yang dipakai, botol-botol yang tidak
layak (botol cacat) langsung dihancurkan dan dibuang. Kemudian botol-botol
yang lulus pemeriksaan masuk ke washer. Karakter botol yang tidak sesuai
dengan standar perusahaan adalah :

Botol yang didalamnya terdapat benda-benda asing dan susah


dibersihkan seperti berisi cat, paku, sedotan, semen, crown, terkena obat
nyamuk, aspal, berkarat dan lain-lain.

Ada bagian botol yang tidak utuh seperti mulut botol sumbing,
retak, tergores, pecah, logo pada botol pecah dan lain-lain.
Inlet Washer

Proses pencucian botol langsung di dalam inlet washer, dimana proses


pencucian melalui beberapa tahap agar botol benar-benar bersih dan terbebas
dari mikroorganisme, yaitu :
a.

Pre rinse

Pre rinse merupakan proses penyemprotan botol menggunakan soft water


non chlorine dengan botol dalam posisi terbalik yang berfungsi untuk
mengeluarkan kotoran yang masih berada dalam botol dan mengurangi
tingkat keasaman dalam botol.
b. Compartement I, II, III
Terdapat 3 bagian compartement pada unit bottler washer, yaitu
compartement I, compartement II, dan compartement III untuk merendam
botol. Temperature yang digunakan pada setiap compartement berbedabeda yaitu 65C pada compartement I, 70 C pada compartement II, 7580C pada compartement III.
c. Semi final rinse dan final rinse
Pada proses semi final rinse, botol dicuci menggunakan soft water
chlorine agar steril dan terbebas dari mikroba. Pada tahap pencucian akhir
o

(final rinse) dilakukan pemanasan pada temperature 95

untuk

mematikan mikroba pada botol.

Post Inspection
Setelah botol dicuci masih tetap diperiksa ulang melalui Post Inspection
untuk memastikan botol. Botol-botol yang cacat dimungkinkan lolos
pencucian, diambil. Meskipun botol bersih telah melewati tahap Post
Inspection, tidak menutup kemungkinan botol cacat belum terdeteksi / masih
lolos. Maka dari itu PT. CCBI memiliki alat yang dapat mendeteksi kebersihan
dan kesterilkan botol hingga kotor/partikel sekecil apapun. Alat ini dinamakan
EBI (Electronic Bottle Inspection) dan didorong secara khusus sehingga botol
yang masih kotor akan diluar line dan dibuang. EBI ini jauh lebih teliti jika
dibandingkan dengan mata manusia.

Filter, Crowner dan Date Coder


Botol-botol yang dikeluarkan dari Post Inspection masuk ke proses filter untuk
pengisian minuman karbonasi. Dimana proses pencampuran dilakukan dengan

memompa finih syrup ke carbon cooler untuk didinginkan dengan suhu

4 o C

CO2
agar

dapat tercampur didalam air. Kemudian dari tangki carbon cooler

dilakukan pengisian kedalam botol pada suhu rendah. Botol yang telah berisi
minuman segera ditutup dengan crown menggunakan alat crowner (alat
pemasang tutup). Selanjutnya botol minuman ringan diberi kode dan tanggal
produksi dengan menggunakan video jet atau date coder. Pencantuman kode
dan tanggal produksi digunakan sebagai acuan konsumen untuk mengetahui
batas pemakai produksi.

Filling Level Detector (filtec)


Setelah pencantuman kode dan tanggal produksi, minuman karbonasi
dilewatkan pada filtec untuk pemeriksaan isi minuman didalam botol.
Pengisian minuman yang berada diluar standar perusahaan dipisahkan dari
barisan produk jadi, lalu dibuang karena dianggap produk gagal dan tidak
layak diperdagangkan. Minuman yang lolos dari pemeriksaan filtec
dimasukkan kedalam krat kemudian disusun di atas palet-palet yang disediakan
untuk selanjutnya diangkut ke gudang menggunakan forklift untuk disimpan.

2.3

Peralatan Produksi
Dalam melaksanakan proses produksi diperlukan peralatan seperti line, bottle washe, EBI,
fille, crowner, date code, carbo cooler, boiler, compressor, dan UHT (Ultra High
Temperatur).
a)

Line merupakan satu unit lini produksi yang digunakan untuk


memproduksi minuman ringan dari awal pemeriksaan botol, pencucian, hingga
diperoleh produk jadi yang siap dipasarkan. Di PT. Coca - Cola Bottling Indonesia
Central Java terdapat 3 line yang sampai saat ini operasional yaitu line 8 (minuman 200
ml dan 295 ml), line 3 (1000 ml), line 5 (frestea 220 ml).

b)

Bottle Washer yaitu unit pencuci botol yang terletak didalam line
produksi. Mikroorganisme yang menempel pada botol akan semakin berkurang dan
mati dengan pemanasan pada temperature yang tinggi.

c)

EBI (Electronic Bottle Inspection) merupakan alat pendeteksi


botol cacat dan kotor. EBI mempunyai ketelitian dan kecepatan pemeriksaan yang
tinggi. Kotoran yang menempel pada botol sekecil apapun dapat terdeteksi dengan EBI.

d)

Filter, Crowner dan Date Coder. Filler adalah mesin pengisi


minuman karbonasi. Crowner yaitu alat pemasang crown/tutp botol. Date code yaitu
mesin pencetak kode dan tanggal produksi.

e)

Carbo cooler/Mixer yaitu tempat percampuran antara beverages


dengan karbondioksida pada minuman karbonasi.

f)

Boiler adalah mesin pemanas air dengan tekanan tinggi sehingga


didapatkan panas yang optimal. Dari pemanas ini diperoleh uap yang bertekanan tinggi
yang disebut dengan steam yang berfungsi untuk memanaskan suhu pada washer line 8,
3, 5 (pada UHT), dalam pengolahan air. Steam dialirkan melalui pipa-pipa stainless
steel (header) dengan suhu dan tekanan yang tinggi. Kemudian dilewatkan coil (pipa
berkelok-kelok) pada pemanasan air. Coil ini tidak bercampur dengan air yang akan
dinaikkan suhunya. Panas dari steam diserap oleh air sehingga steam berubah menjadi
titik-titik air (kondensat). Kondensat dikembalikan ke boiler untuk diubah menjadi
steam kembali.

g)

Compressor digunakan untuk memberikan udara yang bertekanan


di filler, date code, washer dan pengolahan air.

h)

UHT (Ultra High Temperatur) berfungsi untuk sterilisasi dengan


cara pemanasan beverages sebelum diisikan ke dalam botol.