Anda di halaman 1dari 11

UJIAN PRAKTEK

Drama Bahasa
Indonesia
REBUTAN WARISAN

PENYUSUN

Anugrah Tamam Basroni


Angga A
Neneng H
Vika Amalia
Zeni Arizo

KELAS XII IPA 5

Jalan Laks. Yos Sudarso III/1 Ponorogo Telpon (0352) 481525

TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik dan hidayah Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan mkalah ujian praktek drama bahasa
indonesia tanpa ada halangan suatu apapun. Penyusun berharap bahwa buku ini dapat
memberi manfaat bagi pembaca walaupun kecil bak biji sawi.
Buku ini dibuat atas himbauan dari Bapak Sutaji S.Pd, Beliau selaku guru
bahasa indonesia di SMA N 3 Ponorogo. Buku ini dibuat sebagai tugas bahasa
indonesia untuk kelas XII IPA 5.
Penyusun menyadari bahwa banyak sekali kekurangan dalam penyusunan buku
ini. Karena sesungguhnya penyusun hanyalah manusia yang amat jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun, sangat kami harapkan demi
kesempurnaan buku ini.

Ponorogo, 7 Maret 2012

Penyusun

Teks Drama
REBUTAN WARISAN
Siang hari, di teras rumah suparto, Ela dan temannya sedang bermain main
dengan suara ramai dan riang.
Ela

: Teman teman ayo tiup yang banyak (teriak sambil berlari


larian) siapa yang membuat gelembung busa terbesar dan
terbanyak yang akan jadi pemenang

Teman teman Ela : Baiklah siapa takut (bersama sama)


Ela dan teman temannya berlarian meniup busa sabun di halaman
Nuning

: Jangan ramai ramai..! Ada orang sakit, sana main di rumah


kalian sendiri !, siang siang bikin ribut. Ayo Ela masuk ! tidur!

Ela dan teman temannya terdiam takut


Nuning

: Dasar anak anak nakal, ayo pergi pergi, ini bukan rumah
kalian ! (berteriak dengan nada membentak marah sambil
membawa sapu dan mengusir mereka)

Ela

: Tante, kami kan cuma bermain (dengan wajah takut)

Nuning

: Nggak ada bermain main, sekarang kamu masuk dan tidur


siang. Dan kalian pulang sana

Anak anak itupun bubar. Seorang anak menggoda dan mengolok olok Nuning.
Teman Ela

: Nang ning, ning nong ning gung nang ning,ning nong


ninggung

Nuning

: Kurang ajar, kau kira aku adikmu..! (sambil melempar sapu ke


anak trsebut)

Ela

: (tertunduk diam)

Nuning

: (membentak bentak) kamu juga nakal !, kan sudah tante


bilang, siang siang begini harus tidur. Kau mau seperti ibumu ?
Tidak mau disiplin, akhirnya jadi permainan orang ?

Ela

: Besuk kan libur tante

Nuning

: Libur atau tidak libur, kau harus tetap tidur siang. Kau juga tau,
eyangmu sedang sakit, ayo masuk sana !

Ela

: Baik tante (masuk ke dalam kamar)


Di ruang tamu, eyang Suparto sedang berbaring di kursi, lehernya berbelit syal

dan selimut, Nuning mendekati Suparto, ayahnya sambil bersungut sungut.


Suparto

: (batuk batuk) ada apa to Ning mukamu kok muram seperti


itu?

Nuning

: Anak anak nakal itu pak.

Suparto

: Biarkan saja ning, namanya juga anak anak.

Nuning

: Tapi pak, mereka kan punya rumah masing masing, tapi malah
main main di rumah orang.

Suparto

: Kalau kau kerasi mereka, bisa bisa Ela tidak punya teman.

Nuning

: (duduk disamping bapak) lebih baik begitu, dari pada berteman


dengan anak anak nakal itu.

Suparto

: Lho, semua anak itu mesti nakal, dulu waktu kecil kamu lebih
nakal dari pada mereka.

Nuning

: Itu kan dulu pak.

Suparto

: Anak anak itu membutuhkan tempat yang lapang untuk


bermain main. Kampung ini sudah penuh sesak, satu satunya
rumah yang masih punya pekarangan luas barangkali hanya
rumah kita saja.

Nuning

: Sebaiknya halaman itu dipagari tralis saja. Jangan terbuka


seperti sekarang ini.

Suparto

: (Batuk batuk)

Nuning

: Kalau halaman depan itu dipagari tralis, selain akan terlihat


indah, juga aman.

Suparto

: (batuknya masih tersisa) aku tak punya uang, berapa juta kau
kira untuk memagari seluruh halaman itu ? Aku hanya pensiunan
dari mana aku mendapat uang sebanyak itu.

Nuning

: Nurul kan tiap bulan cukup banyak mengirim uang.

Suparto

: (terkejut menatap Nuning) Apa maksudmu?, kau dan suaminu


tinggal disini. Kewajibanmu untuk memelihara dan merawat
rumah tempat kau tinggal.

Nuning

: (Terdiam)

Suparto

: Aku tau arah perkataanmu, kau menyindir aku agar segera


menghibahkan rumah inikan ?

Nuning

: Bapak salah sangka. Jika aku memagari halaman depan atau


memugar rumah ini, tentu akan disangka aku yang meghaki
rumah ini kelak.

Suparto

: Siapa yang menyangka begitu?

Nuning

: Mbak Nurul kan juga punya hak.

Suparto

: Sudah kau kirim surat itu? (mengalihkan pembicaraan)

Nuning

: Sudah pak, ada apa ?

Suparto

: Kalau sudah, hari ini kita bisa mengharapkan dia datang.

Nuning

: (Memotong) Waktu ibu meninggal, kita kirimkan surat ke dia.


Tapi tidak juga datang sampai hari ini. Bapak sudah cukup
menderita karena Nurul.

Suparto

: Bagaimanapun, aku tidak akan memutuskan sesuatu tanpa


kehadiran dia.

Nuning

: Tapi pak, nama baik keluarga kita hancur karena Nurul.

Suparto

: Cukup, jangan diteruskan.

Nuning

: Lihat!, Ela ditinggalkan disini, sedang dia ? Bapak tau, apa kerja
dia di jakarta ? dia tak pernah mengirimkan berita baik lewat

telepon maupun surat, hanya mengirim uang, uang saja, tanpa


secuil berita. Apa artinya itu ? apa artinya pak?
Suparto

: Cukup..! jangan diteruskan.

Nuning

: Aku tahu Nurul anak kesayangan bapak.

Suparto

: (bangkit dan berseru) Cukup kataku cukup (batuk dan jatuh di


kursi)

Nuning

: Lebih baik bapak masuk kamar saja. Bapak ini sudah sakit, jadi
harus pasrahlah. (Nuning menuntun bapaknya pergi ke kamar)

Di pagi hari keesokan harinya. Di teras Ela duduk termenung .


Ela

: (menyanyikan lagu Bunda)

Tarjo

: Non Ela Ela. (dari dalam, hanya suara)

Ela

: (diam tanpa menghiraukan)

Tarjo

: (datang menghampiri Ela) Eyang memanggil non ela, ayo masuk


ke dalam, ayolah eyangkan sakit, kasihan Eyang memanggil
manggil non Ela terus.

Ela

: kang Tarjo,Ela kangen sama ibu, kapan ibu pulang. (bersedih)

Tarjo

: Aduh, jangan menangis non, nanti tarjo ikut menangis, lebih


baik kita masuk dan tanya kepada kakek kapan ibu non akan
pulang.

Ela

: Baiklah.
Di rung tamu.

Ela

: Kakek, kakek, kapan ibu akan pulang ?

Suparto

: Sebentar lagi cucuku, kamu jangan menangis lagi ya,

Ela

: Sebenarnya apa sih kek yang dilakukan ibu di Jakarta?

Suparto

: ibumu bekerja di jakarta demi mencari uang untukmu jadi Ela


jangan nakal ya!.

Ela

: (Mengusap air matanya) Bagaimana kalo kita menjemput ibu ke


Jakarta, besokkan Ela masih libur kek.

Suparto

: Ela cucuku kamu tahukan kondisi kakek, kemaren tantemu


Nuning sudah mengirim surat untuk ibumu. Semoga saja ia
membaca surat tersebut dan lekas pulang.

Ela

: Tapi Ela sudah tidak tahan lagi dengan tante Nuning yang selalu
memarahi Ela kek.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Nurul

: (mendekati Ela dan kakek) Assalamualaikum. Bapak, Ela


anakku..

Ela

: Ibu... ibu... ela kangen ibu. (berpelukan)

Suparto

: Kemana saja kamu selama ini ?, kenapa kau tak pernah memberi
kabar sedikitpun, bahkan pada saat kematian ibumu kau juga
tidak pulang.

Nurul

: Maafkan Nurul pak, telah membuat bapak dan keluarga khawatir.


Nurul bekerja serabutan di Jakarta, terlebih pada saat kematian
ibu. Nurul benar benar terpukul dan terlebih ketika mau pulang
Nurul kecopetan pak.

Nuning

: (masuk ke ruang tamu) Alasan, bilang saja mbakyu lari dari


tanggung jawab, sudah betahkan tinggal di Jakarta, kenapa pulang
segala.

Nurul

: Ning, meskipun aku lama tidak pulang, tapi aku masih ingat kalu
aku punya anak Ela, yang menjadi tanggung jawabku, lebih
nyaman rasanya tinggal di desa bersama keluarga dari pada hidup
berkecukupan tapi tak punya keluarga.

Ela

: Ibu, jangan tinggalkan Ela lagi, Ela takut sama tante Nuning.

Nurul

: Iya anakku, mulai sekarang ibu akan menjagamu, Ela sebaiknya


masuk ke dalam.

Ela

: Baiklah bu.

Pak lurah

: Asslamualaikum warrohmatullahi wabarokatuh

Semua

: Wa alaikum salam

Pak Lurah

: wah, sepertinya lagi pada ngumpul semua. Kamu juga Rul,


kapan kamu pulang rul?, lama tidak bertemu, kamu semakin
cantik saja

Nurul

: Tadi barusan pak lurah. Pak lurah ini bisa saja, sudah tu begini
masih dibilang cantik.

Pak lurah

: (tertawa) ha..ha..ha, itu memang benar Rul. Langsung saja, saya


kemari guna menepati janji saya kepada pak Suparto tempo hari,
untuk mengurus kuasa warisan.

Nuning

: Apa..?.. Warisan, bapak tak pernah mengatakan hal ini


kepadaku.

Suparto

: Tapi ini kan Ning yang kamu inginkan. (batuk batuk)

Pak lurah

: Sebentar, sebaiknya pak Suparto, istirahat saja, dan kalian


Nuning dan Nurul harap tenang dan sebelumnya saya minta tanda
tangan pak Suparto guna sebagai pemberi waris yang syah dalam
surat kuasa ini.

Suparto

: (bertanda tangan)

Pak Lurah

: (membacakan surat kuasa warisan)

Nuning

: Ini tidak adil, selama bapak sakit aku yang merawat bapak, tapi
kenapa Nurul yang mendapat warisan rumah ini?

Suparto

: (batuk batuk) Kaukan sudah punya suami yang mapan dan


berpenghasilan cukup, sedangkan Nurul, dia hanya seorang janda,
apa kamu tega melihat Nurul dan Ela tidur di jalanan?

Nuning

: Tapi pak, ini tidak adil, Nurul kan sekarang mempunyai


pekerjaan di jakarta.

Nurul

: Nurul tidak apa apa pak, jika rumah ini dikuasakan ke


Nuning.

Nuning

: Itukan pak, bapak dengar sendiri.

Suparto

: Sudah... cukup, aku membuat surat kuasa ini dengan adil, jadi
kalian jangan bertengkar... Aduuuh....jantungku.

Nurul

: Bapaaaak....

Pak lurah

: (melihat denyut nadi tangan dan leher pak Suparto) innalillahi


wainailaihi rojiun.

Nuning

: Bapak, maafkan nuning. (menangis)


ooooo SELESAI ooooo

Tokoh
- Ela

: diperankan oleh Zeni Arizo

- Suparto

: diperankan oleh Angga Adya

- Nuning

: diperankan oleh Vika Fitri Amalia

- Nurul

: diperankan oleh Neneng Hermawati

- Tarjo

: diperankan oleh Anugrah Tamam Basroni

- Pak lurah

: diperankan oleh Anugrah Tamam Basroni

- Teman teman Ela

: diperankan oleh Anugrah Tamam B. dan Neneng H.

Properti
- Sapu
- Level
- Taplak meja
- Sabun gelembung
- Surat kuasa + pulpen
- Rerumputan
Kostum
- Ela

: baju bermotif anak


-

Suparto

: baju lengan panjang, celana panjang,

sandal, berambut putih, memakai syal.


- Nuning

: baju biasa, make up dewaasa (tidak menor)

- Nurul

: baju rok,dan kaos, bawa tas

- Tarjo

: kaos, celana panjang, kain lap

- Pak lurah

: sepatu pantopel, kemeja batik dan celana panjang

- Teman teman Ela

: kaos, celana pendek

Musik
- Sponebob
- Kitaro
- Suara burung
- Melly goslow bunda
- Suara mobil berhenti
- Rinto harahap Ayah

PENUTUP
Kami mengucapkan puji syukur kepada tuhan yang Maha Esa karena atas
karunianya Allhamdulilah kami dapat menyelesaiakan makalah ujian praktek drama
bahasa indonesia tanpa ada halangan suatu apa pun. Semoga dengan makalah ini dapat
bermanfaat bagi seluruh pembaca pada umumnya dan seluruh siswa siswa SMA N 3
Ponorogo khususnya.
Kami mengucapkan terimakasih

kepada bapak Sutaji S.Pd yang telah

membimbing kami, sehingga kami dapat mengerjakan makalah ini dengan baik.
Kami berharap kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis
harapkan dalam pembetulan tugas ini. Demikian tugas ini kami buat bila ada
kekurangan kami mohon maaf.