Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau
nutrisinya di bawah standar. Gizi buruk masih menjadi masalah yang belum
terselesaikan sampai saat ini. Gizi buruk banyak dialami oleh bayi dibawah lima tahun
(balita). Masalah gizi buruk dan kekurangan gizi telah menjadi keprihatinan dunia sebab
penderita gizi buruk umumnya adalah balita dan anak-anak yang tidak lain adalah
generasi generus bangsa. Kasus gizi buruk merupakan aib bagi pemerintah dan
masyarakat karena terjadi di tengah pesatnya kemajuan zaman. Dengan alasan tersebut,
masalah ini selalu menjadi program penanganan khusus oleh pemerintah.1
Keadaan gizi masyarakat Indonesia pada saat ini masih belum menggembirakan.
Berbagai masalah gizi seperti gizi kurang dan gizi buruk, kurang vitamin A, anemia
defisiensi besi, gangguan akibat kurang Yodium dan gizi lebih (obesitas) masih banyak
tersebar di kota dan desa di seluruh tanah air. Faktor-faktor yang mempengaruhi
keadaan tersebut antara lain adalah tingkat kemampuan keluarga dalam menyediakan
pangan sesuai dengan kebutuhan anggota keluarga, pengetahuan dan perilaku keluarga
dalam meilih, mengolah, dan membagi makanan di tingkat rumah tangga, ketersediaan
air bersih dan fasilitas sanitasi dasar serta ketersediaan dan aksesibilitas terhadap
pelayanan kesehatan dan gizi masyarakat yang berkualitas.2
Kesepakatan global yang dituangkan dalam Millenium Development Goals
(MDGs) yang terdiri dari 8 tujuan, 18 target dan 48 indikator, menegaskan bahwa tahun
2015 setiap negara menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi pada
tahun 1990. Dua dari lima indikator sebagai penjabaran tujuan pertama MDGs adalah
menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita (indikator keempat) dan
menurunnya jumlah penduduk dengan defisit energi (indikator kelima).3
Masalah gizi pada anak balita di Indonesia telah mengalami perbaikan. Hal ini
dapat dilihat antara lain dari penurunan prevalensi gizi buruk pada anak balita dari 5,4%

pada tahun 2007 menjadi 4,9% pada tahun 2010. Meskipun terjadi penurunan, tetapi
jumlah nominal anak gizi buruk masih relatif besar.4
Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, prevalensi provinsi NTB
untuk gizi buruk dan kurang adalah 24,8%. Bila dibandingkan dengan target pencapaian
program perbaikan gizi tahun 2015 sebesar 20% dan target MDG untuk NTB sebesar
24,8% berada di atas nasional yang 18,5% maka NTB belum melampaui target nasional
2015 sebesar 20%. Berdasarkan Riskesdas tahun 2010, dikatakan bahwa prevalensi gizi
buruk NTB sebesar 10,6% (Tim Penyusun, 2011). Sedangkan menurut data hasil
pemantauan status gizi (PSG) tahun 2009 prevalensi gizi buruk di NTB sebesar 5,49 dan
tahun 2010 turun menjadi 4,77.4
TUJUAN PENULISAN
1. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang gizi buruk
pada anak.
2. Memenuhi sebagian syarat Program Pendidikan Profesi Kepanitraan Bagian Ilmu
Kesehatan Anak di RSUD Arjawinangun.

BAB II
LAPORAN KASUS

I.

II.

IDENTITAS
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat

: LN
: 12 Tahun
: Perempuan
: Kedongdong

Nama Ayah
Umur
Pendidikan
Pekerjaan

: SD
: 36 tahun
: SMP
: Buruh Bangunan

Masuk RS
Tgl. Diperiksa

: 28 Oktober 2014
: 29 Oktober 2014

Nama Ibu
Umur
Pekerjaan

: AT
: 33 Tahun
: Ibu Rumah Tangga

ANAMNESIS
(anamnesis/alloanamnesis terhadap : Ibu pasien)

1.

Keluhan Utama: Demam

2.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien (usia 12 tahun) datang ke IGD RSUD Arjawinangun pada tanggal 28

Oktober 2014 dengan keluhan demam sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam
dirasakan tiba-tiba, terus menerus, dan terutama pada malam hari tanpa disertai
menggigil, batuk, dan sesak nafas. Selain demam, pasien juga mengeluh nyeri ulu hati
dan mual. Nyeri dirasakan hilang timbul dan tidak menjalar. Tidak ada keluhan muntah.
Tidak ada keluhan mimisan, gusi berdarah, maupun buang air besar berwarna hitam.
Tidak ada keluhan nyeri otot dan nyeri sendi. Pasien belum BAB sejak 3 hari yang lalu,
sedangkan BAK tidak ada keluhan.
Ibu pasien mengatakan belum memeriksakan ke dokter dan memberikan obat
apapun untuk menurunkan demam anaknya. Saat lahir berat badan anaknya adalah 3700
3

gram, namun saat ditimbang di IGD saat ini berat badan anaknya 11 kg. Ibu pasien
mengatakan jarang sekali menimbang berat badan anaknya.
Setelah dirawat selama 2 hari di Ruang Anak RSUD Arjawinangun, berat badan
pasien tidak mengalami perubahan, karena pasien tetap tidak mau makan, namun
keluhan demam sudah tidak ada lagi.
Tidak ada riwayat alergi di keluarga pasien. Pasien tidak mengalami batuk
berulang, ataupun kontak dengan penderita penyakit paru. Selama hamil, ibu dan ayah
pasien sehat dan tidak mengalami sakit serius. Riwayat minum obat-obatan, alkohol,
dan merokok disangkal oleh kedua orang tua pasien.
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien sering muntah sehabis disusui dan mencret berwarna kuning cair sejak
lahir.
4.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Keluarga tidak ada yang memiliki gejala penyakit yang sama dengan pasien.

5.

Silsilah/Ikhtisar keturunan:

Keterangan:
: ayah pasien
: ibu pasien
: pasien
6.

Riwayat Pribadi:
Riwayat kehamilan:
Kehamilan ini merupakan kehamilan yang diinginkan dan merupakan
kehamilan pertama. Ibu tidak pernah mengalami sakit yang serius selama

hamil. Riwayat minum alkohol dan merokok disangkal. Ibu memeriksakan


kehamilannya di bidan cukup teratur. Ibu pasien memiliki riwayat
preeklampsia (140/100) saat hamil.
Riwayat persalinan:
Pasien lahir dengan persalinan spontan dibantu oleh bidan. Pasien lahir cukup
bulan di Rumah Sakit, langsung menangis, berat lahir 3700 gram, panjang
lahir 50 cm.
Riwayat pasca lahir:
Tidak ada keluhan
7.

Riwayat Makanan:
Ibu pasien mengatakan sejak anaknya lahir ibu tidak memberikan ASI melainkan
susu formula karena ASI tidak keluar. Saat usia 6 bulan pasien sudah diberikan
makanan tambahan berupa bubur susu, biscuit, serta pisang. Kurang dari 1 tahun
pasien sudah bisa makan makanan biasa. Ibu mengaku anaknya cenderung malas
makan, sehingga ibu cenderung memberikan mie instan ataupun jajanan ringan
agar anaknya mau makan.

8.

Perkembangan:
Usia

Motorik kasar

Motorik halus

Bicara

Sosial

12

Pasien mampu

Pasien mampu

tahun

berjalan

menahan barang bicara secara sosial anak tidak


yang

Pasien bisa
normal

Kemampuan
ada gangguan

dipegangnya

9.

Imunisasi:
(Ibu pasien tidak tahu mengenai imunisasi yang telah diterima oleh pasien)

10.

BCG

:-

DPT

:-

Polio

:-

Campak

:-

Hepatitis B

:-

Ulangan / booster : -

Imunisasi lain

:-

Sosial Ekonomi dan Lingkungan


Sosial Ekonomi:
Ayah pasien bekerja sebagai kuli bangunan. Pendapatan ayah tidak menentu,
berkisar Rp 300.000 per bulan untuk menghidupi keluarga. Sedangkan ibu
tidak bekerja.
Lingkungan:
Pasien tinggal di Kedongdong. Tinggal bersama ayah dan ibunya. Rumah
sederhana, sirkulasi udara dan pencahayaan kurang baik. Di kamar terdapat
ventilasi udara. Rumah terdiri dari 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan dapur.
Fasilitas kesehatan terdekat adalah bidan dan praktek dokter umum.

III. PEMERIKSAAN FISIK (tanggal 29 Oktober 2014)

A. Pemeriksaan Umum
1. Kesan Umum

: tampak sakit sedang

2. Kesadaran

: composmentis

3. Tanda Utama
Frekuensi nadi

: 100x/menit, teratur, isi cukup pada keempat ekstremitas

Frekuensi napas

: 24 x/menit

Suhu

: 38,1 Celsius

Tekanan darah

: 90/60 mmHg

4. Status Gizi:
Klinis: tampak kurus, tidak edema
Antropometris:
Berat Badan (BB)

11 kg

Tinggi/Panjang Badan(TB/PB) :

96 cm

Lingkar kepala

49,5 cm

Lingkar lengan atas

15 cm (LiLA/U = < -3 SD )

BB/U

< -3 SD

TB/U

< -3 SD

BB/TB

< -3 SD

BMI

11,95

(Gunakan kurva CDC/NCHS dan standard WHO-NCHS)


Simpulan status gizi : gizi buruk
B. Pemeriksaan Khusus
1. Kulit

: tidak ada hematom, tidak terdapat mottling, dan tidak ikterik.

2. Kepala : Tidak ada deformitas, rambut hitam, tidak mudah dicabut.

3. Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil bulat isokor, reflek

cahaya langsung dan tidak langsung positif.


4. Leher : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening, trakea berada ditengah,
tiroid tidak membesar.
5. Telinga : Normal, tidak terdapat serumen.
6. Hidung : Simetris, tidak ada sekret, tidak ada penapasan cuping hidung.
7. Tenggorok : Faring tidak hiperemis, tonsil t1- t1, tidak ada perdarahan dan sekret.
8. Mulut : Tidak terdapat karies dentis, gusi tidak hipertrofi, tidak ada perdarahan,
lidah tidak makroglosia.
9. Dada

a. Jantung
Inspeksi

: iktus kordis di sela iga ke 5 medial linea midclavicularis

sinistra
Palpasi

: tidak teraba thrill

Perkusi

: (Tidak dilakukan)

Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 normal, tidak terdengar murmur dan


gallop.
b. Paru
Kanan

Kiri

Depan:
Inspeksi

Gerakan simetris

Gerakan simetris

Palpasi

fremitus normal

fremitus normal

Perkusi

Sonor

Sonor

Auskultasi

Tidak terdengar

Tidak terdengar ronki dan

ronki dan wheezing

wheezing

Kanan

Kiri

Belakang:
Inspeksi

Pergerakan simetris

Pergerakan simetris

Palpasi

Fremitus normal

Fremitus normal

Perkusi

Sonor

Sonor

Tidak terdengar ronki

Tidak terdengar ronki dan

dan wheezing

wheezing

Auskultasi

10. Abdomen :

Lemas, turgor kulit kembali lambat, Bising usus terdengar

meningkat.
Hepar : Tidak teraba
Lien

: Tidak teraba

11. Ekstremitas:
Tungkai
kanan

Lengan
kiri

Gerakan

: Normal

Normal

Trofi

: normotrofi

Tonus

Baik

Baik

Kekuatan

Klonus

Refleks Fisiologis

: Normal

Refleks Patologis

Sensibilitas

Baik

normotrofi

kanan

kiri

Normal
normotrofi

Normal
normotrofi

Baik

Baik

Normal
Baik

Normal
-

Normal
-

Baik

Baik

Tanda Rangsang Meningeal : negatif

Akral teraba hangat, Capilary Refill Time kurang dari 2 detik


Tidak sianosis
12. Anogenital: terdapat anus, tidak ada perianal rash, genitalia perempuan
(normal)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Laboratorium
Darah Lengkap (28 Oktober 2014)
WBC

: 10,07

RBC

: 4,08

HGB

: 11,4

HCT

: 31,8

PLT

: 220

Elektrolit (30 Oktober 2014)

Natrium

: 137 mmol/l

Kalium

Klorida

: 81mmol/l

Kalcium

: 8,8 mg/dl

: 3,4 mmol/l

Feaces Rutin (30 Oktober 2014)

Warna

: Kekuningan

Konsistensi

: Lembek

Lendir

: Positif

Darah

: Negatif

Pus

: Negatif

Amuba

: Positif

10

Leukosit

: (+)8-10

Eritrosit

: (+) 0-2

V. RINGKASAN DATA DASAR


A . ANAMNESIS
Pasien usia 12 tahun datang ke IGD RSUD Arjawinangun keluhan demam sejak
2 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam dirasakan tiba-tiba, terus menerus,
dan terutama pada malam hari. Selain demam, pasien juga mengeluh nyeri ulu
hati dan mual. Saat ini berat badan pasien 11 kg. Sejak lahir pasien tidak
mendapat ASI, dan terbiasa jarang makan.

B. PEMERIKSAAN FISIK

1. Kulit

: turgor kulit kembali lambat, terdapat mottling.

2. Kepala

: rambut hitam, tidak mudah rontok.

3. Mata

: konjungtiva tidak anemis, mata cekung

4. Dada

: jantung dalam batas normal

5. Paru.

: vesikuler seluruh lapang paru

6. Perut

: Bising usus terdengar, turgor kulit kembali lambat

7. Ekstremitas : terdapat baggy pants.


8. Anogenital : tidak terdapat perianal rash
VI.

DIAGNOSIS KERJA
Failure to thrive + Anemia ringan

VII.

DIAGNOSIS BANDING

KEP

Sindrom Malabsorbsi

11

VIII. RENCANA PENGELOLAAN


A. Rencana Pemeriksaan Penunjang
- USG Whole Abdomen
- Rontgen Thoraks
- Cek darah lengkap
- Cek kadar elektrolit
- Cek fungsi hati
- Cek feses dan urin
- Cek albumin
- BNO abdomen
B. Rencana Penatalaksanaan dan Diet
1. Medikamentosa
Koreksi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Intravena fluid RL 11 tetes per menit makro drip
Injeksi Antrain 110 mg intravena jika demam
2. Diet

Total kebutuhan kalori per hari: kebutuhan kalori harian ditambah kalori
untuk catch up berat badan.
Berat badan ideal pasien dengan panjang badan 96 cm adalah 15 kg.

Kebutuhan kalori dinaikkan secara bertahap. Berat badan saat ini 11 kg maka
kebutuhan kalori dinaikkan untuk mencapai berat badan 12 kg dahulu.
65 x 12 kg : 780 kkal (makanan biasa)

Berikan setiap hari multivitamin dan asam folat

Bila terbukti penyebab gagal tumbuh adalah karena KEP : Berikan makanan
untuk Stabilisasi dan Transisi
12

Stabilisasi :
- F WHO 75 : mencegah hipoglikemi
Transisi :
Bertahap F 75 menjadi F 100

Memberikan makanan untuk tumbuh kejar


- Energi

: 100 - 110 Kkal/kg BB/hari

- Protein

: 3 - 4 gr/kg BB/hari

- Bentuk makanan : makanan biasa


3. Non-medikamentosa
Edukasi pola makan yang baik dan benar.
Jaga kebersihan pasien dan personal hygine ibu.
Stimulasi sensorik dan dukungan emosional pada pasien.
C.

D.

Rencana Pemantauan

Pantau tanda vital pasien

Pantau gejala penyakit penyerta

Pantau pemberian antibiotik

Pantau intake makanan dan kalori

Pantau tumbuh kembang pasien

Pantau kenaikan berat badan pasien


Rencana Edukasi

Edukasi terhadap keluarga pasien tentang penyakit pasien. Selain itu edukasikan
tentang pentingnya pola hidup dan lingkungan sehat kepada keluarga. Perhatikan
mengenai asupan makanan untuk pasien yaitu makanan dengan pola empat sehat
lima sempurna. Sarankan untuk membawa kembali untuk kontrol secara teratur.

13

IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam

: dubia ad bonam

Follow Up tanggal 29 Oktober 2014


S : Pasien mengeluh sakit di seluruh tubuh. Pasien sudah tidak demam, namun pasien
masih tidak mau makan dan minum. Jika diberi nasihat makan pasien akan marah dan
rewel. Tidak ada keluhan buang air besar maupun buang air kecil.
O : Pemeriksaan fisik
1. Kesan Umum

: tampak sakit sedang

2. Kesadaran

: composmentis

3. Tanda Utama
Frekuensi nadi

: 110 x/menit, teratur, isi cukup pada keempat ekstremitas

Frekuensi napas : 24 x/menit


Suhu

: 36,8o Celsius

Tekanan darah

: 90/60 mmHg

Diagnosis: FAILURE TO THRIVE (ICD: R62.8)

Follow Up 30 Oktober 2014


S : Ibu pasien mengatakan pasien kejang di seluruh tubuh pada saat malam hari. Saat
kejang, mata pasien melihat ke atas. Kejang berlangsung sebentar, 5 menit. Saat
kejang pasien tidak dalam keadaan demam. Pasien juga masih tidak mau makan, namun
pasien sudah mau minum. Pasien sudah mulai terlihat tenang.

14

O : Pemeriksaan fisik
1. Kesan Umum

: tampak sakit sedang

2. Kesadaran

: composmentis

3. Tanda Utama
Frekuensi nadi

: 110x/menit, teratur, isi cukup pada keempat ekstremitas

Frekuensi napas

: 22 x/menit

Suhu

: 36,6 Celsius

Tekanan darah

: 90/60 mmHg

Diagnosis : FAILURE TO THRIVE (ICD: R62.8)

Follow Up 31 Oktober 2014


S : Pasien terlihat lebih tenang. Tidak ada kejang. Pasien sudah mau makan dan minum.
O : Pemeriksaan fisik
1. Kesan Umum

: tampak sakit sedang

2. Kesadaran

: composmentis

3. Tanda Utama
Frekuensi nadi

: 110 x/menit, teratur, isi cukup pada keempat ekstremitas

Frekuensi napas

: 24 x/menit

Suhu

: 36,7O Celsius

Tekanan darah

: 90/60 mmHg

Diagnosis : FAILURE TO THRIVE (ICD: R62.8)

15

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Failure to Thrive
3.1 Definisi
Definisi mengenai failure to thrive atau gagal tumbuh secara pasti masih belum
ditemukan kesepakatan. Namun, dapat disimpulkan bahwa keadaan ini menunjuk pada
suatu terminologi yang mengacu pada keadaan bayi atau anak yang pertumbuhan
fisiknya sangat kurang dibandingkan sebayanya. Menurut Krugman, gagal tumbuh
adalah pertumbuhan fisik yang tidak adekuat selama pengamatan dalam suatu periode
dengan menggunakan grafik pertumbuhan. Sedangkan Gahagan membatasi

gagal

tumbuh terjadi pada bayi dan anak dibawah tiga tahun. Rabinowitz mendefinisikan
gagal tumbuh adalah penghentian yang bermakna dari pertumbuhan yang diharapkan
selama masa anak.

Block dan Blair mengatakan bahwa gagal tumbuh adalah

pencapaian pertumbuhan yang terhenti lama secara signifikan dibandingkan dengan


anak seumur dan sejenis kelamin. Bauchner dan Olsen menambahkan bahwa gagal
tumbuh yaitu bayi atau anak yang pertumbuhan fisiknya berkurang secara signifikan
dibandingkan dengan anak seusianya, dan dapat berhubungan dengan perkembangan
dan fungsi kognitif yang buruk. Schwartz menyarankan definisi gagal tumbuh lebih
menegaskan penurunan pertumbuhan (dalam tinggi dan berat badan) mencakup bayi
dan anak dan termasuk perkembangan dan psikososial.
3.2. Epidemiologi
Gagal tumbuh lebih sering terjadi pada keluarga yang hidup dalam kemiskinan,
walaupun sebenarnya gagal tumbuh dapat terjadi pada semua kelas sosio ekonomi.
Sebaliknya penelitian yang dilakukan oleh Avon Longitudinal Study of Parent and
Children (ALSPAC) yang dilakukan di Inggris, bahwa tidak ada hubungan antara gagal
tumbuh dengan faktor sosio-ekonomi,pendidikan dan pekerangtua.
Kejadian gagal tumbuh banyak terjadi di negara berkembang dibandingkan
dengan negara yang sudah maju. Pada tahun 1980-1989 di Amerika Serikat prevalensi
gagal tumbuh kurang lebih 1-5% dari seluruh anak usia dibawah 1 tahun. Diperkirakan
16

10% anak di pusat kesehatan primer memperlihatkan gejala gagal tumbuh. Penelitian
yang dilakukan oleh Mey,dkk pada anak sampai usia 5 tahun di California didapatkan
20% mengalami gagal tumbuh berdasarkan grafik tinggi badan menurut umur dan 6%
berdasarkan grafik berat badan menurut umur.
Sedangkan di Indonesia angka kejadian gagal tumbuh belum ada. Data yang ada
di Indonesia adalah data gizi kurang,pada periode 2000-2005 terjadi peningkatan
prevalensi gizi kurang dari 24.6% menjadi 28.0%.

3.3. Etiologi dan Klasifikasi


Gagal tumbuh dapat disebabkan oleh berbagai faktor, namun penyebab utamanya adalah
defisiensi nutrisi. Etiologi dapat diklasifikasikan menurut sistem, organik atau non
organik dan patofisiologi.
Tabel 1. Etiologi berdasarkan system
Psikososial
1. Diet yang tidak adekuat karena kemiskinan/kekurangan makanan, salah dalam
mempersiapkan makanan
2. Rendahnya pendidikan orangtua
3. Masalah hubungan orangtua dan anak
4. Food refusal
5. Ruminasi
6. Masalah kesehatan mental dan kognitif orangtua
7. Child abuse/neglet, penyimpangan emosional
Neurologi
1. Serebral palsi
2. Tumor hipotalamus
3. Kelainan neuromuscular
4. Kelainan neurodegenerative

17

Ginjal
1. Infeksi saluran kemih
2. Renal tubular acidosis
3. Gagal ginjal
Endokrin
1. Diabetes mellitus
2. Diabetes incipidus
3. Hipotiroid/hipertiroid
4. Defisiensi hormone pertumbuhan
Genetic/metabolic/congenital
1. Penyakit sel sabit
2. Penyakit metabolic bawaan
3. Dysplasia skeletal
4. Kelainan kromosom
5. Sindrom multiple congenital anomaly
Gastrointestinal
1. Stenosis pylorus
2. GERD
3. Tracheoesofageal fistula
4. Malrotasi
5. Sindrom malabsorpsi
6. Celiac disease

18

7. Intoleran lactose dan protein


8. Sistik fibrosis
9. Kolestasis kronik
10. Inflammatory bowel disease
11. Short bowel syndrome
Jantung
1. Kelainan jantung bawaan
2. Gagal jantung
Pulmonary/respiratori
1. Asma berat
2. Bronkoekstasi
3. Gagal nafas
4. Bronkopulmanari dysplasia
Infeksi
1. Infeksi kronis
2. Infeksi parasit
3. Tuberculosis
4. HIV

Tabel 2. Etiologi gagal tumbuh berdasarkan organik dan nonorganik


A.Nonorganic
1. Gangguan hubungan ibu dan anak
2. Pembuatan susu formula yang salah

19

3. Gagal menyusui
4. Intake kurang
5. Terlambat mengenalkan makanan padat
6. Intoleransi terhadap makanan baru
7. Tekanan Psikososial
B.Organic
1. IUGR
2. Kelainan congenital
3. Alergi susu sapi
4. Penyakit seliak
5. HIV
6. Sistik fibrosis
7. Penyakit jantung bawaan
8. GERD
9. Kelainan metabolic kromosom

Tabel 3. Etiologi gagal tumbuh berdasarkan patofisiologi


A.Asupan kalori yang kurang
1. Pembuatan formula yang tidak tepat
2. Kebiasaan makanan yang salah

20

3. Gangguan tingkah laku yang mempengaruhi makan


4. Anak terlantar
5. Kemiskinan
6. Kesulitan makan secara mekanik ( disfungsi oromotor, anomaly congenital,
GERD, kerusakan susunan saraf pusat)
B.Gangguan penyerapan
1. Celiac disease, cystic fibrosis
2. Alergi susu sapi
3. Defisiensi vitamin atau mineral
4. Atresia bilier atau penyakit hati
5. Necrotizing enterocolitis , short gut syndrome
C.Meningkatnya metabolism
1. Infeksi kronis (HIV,keganasan, penyakit ginjal)
2. Hipoksemia (penyakit jantung bawaan, penyakit paru kronik)
D.Gangguan penggunaan zat gizi
1. Infeksi congenital
2. Kelainan metabolic

3.4. Diagnosis
Dalam menilai anak dengan gagal tumbuh diperlukan anamnesis secara keseuruhan,
pemeriksaan fisik, penilaian tentang pola asuh orangtua terhadap anak dan pemeriksaan
laboratorium.
1. Anamnesis
Anamnesis yang lengkap meliputi riwayat prenatal, kelahiran, riwayat diet, pola
makan dan kebiasaan makan, riwayat medis, sosial saat ini dan yang lalu, serta riwayat

21

keluarga. Riwayat prenatal berkaitan dengan kebiasaan ibu mengkonsumsi alkohol,


merokok, mengkonsumsi obat tertentu dan penyakit selama kehamilan. Riwayat
persalinan meliputi cara lahir, perawatan setelah lahir, komplikasi yang timbul seperti
sepsis, meningitis atau penyakit lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak.
Riwayat diet menjelaskan tentang apa yang dimakan atau diminum bayi/anak
selama 24 jam, bagaimana cara menyiapkan makanan, apa saja jenis makanan yang
dmakan, frekwensi makan, dan sebagainya untuk menilai apakah anak mendapatkan
asupan energy yang adekuat. Jika sulit mendapatkan riwayat diet ini, maka dapat
dilakukan three day food diary yang diperoleh dari anamnesis selama 3 hari. Yang dapat
diniai dari three day food diary meliputi jumlah dan kualitas asupan nutrisi, riwayat
pemberian makan juga menjelaskan jadwal makan, siapa yang memberi makan dan cara
pemberian makan.
Riwayat sosial meliputi jumlah anggota keluarga, siapa yang merawat anak,
kondisi sosial ekonomi. Riwayat keluarga meliputi apakah ada keluarga yang
mengalami keadaan serupa.
2.
Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik sangat diperlukan dengan tujuan:
a. Untuk menemukan bentuk dismorfik dengan kemungkinan faktor genetik sebagai
penyebab gangguan pertumbuhan.
b. Untuk menemukan penyakit dasar yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan
c. Untuk melihat tanda-tanda apakah terdapat kekerasan yang dilakukan terhadap
anak.
d. Untuk penilaian terhadap berat badan anak dan efek yang ditimbulkan akibat
malnutrisi.
Pengukuran antropometri seperti berat badan, tinggi badan dan lingkaran kepala
harus dilakukan karena kriteria diagnosis gagal tumbuh berdasarkan grafik
pertumbuhan, walaupun pengukuran berat badan saja masih merupakan alat diagnostik
untuk menilai gagal tumbuh pada anak.
Tekanan darah, frekuensi pernafasan dan tekanan nadi saturasi oksigen biasanya
dalam batas normal. Kelainan anatomi yang mengganggu pemberian makan harus
diperiksa, anak dengan palatoschisis dan labioschisis mempunyai risiko lebih tinggi
terjadinya gagal tumbuh, begitu juga kelainan anatomi ringan seperti adanya caries
dentis, abses rongga mulut, pembesaran tonsil dan adenoid dapat mempengaruhi intake

22

makanan. Beberapa keadaan dapat ditemukan pada anak dengan gagal tumbuh antara
lain edema, kurus, hepatomegali, perubahan pada kulit, warna rambut, perubahan status
mental dan tanda-tanda defisiensi vitamin.
3.

Interaksi anak dengan orang tua


Orang tua yang memperhatikan anak waktu makan, maka dapat memberikan

informasi tentang etiologi gagal tumbuh. Interaksi orangtua dengan anaknya dapat juga
diperoleh melalui wawancara dan pengamatan langsung. Perlu pemeriksaan lebih lanjut
termasuk kondisi ekonomi keluarga, hubungan social kemasyarakatan dan pemeriksaan
kesehatan mental. Kadang beberapa kasus diperlukan konsultasi dengan psikolog
ataupun psikiater. Cara atau sikap ibu dalam memberikan makan yang tidak baik pada
anak juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya gagal tumbuh.
4.

Kurva pertumbuhan
Kurva pertumbuhan merupakan pemeriksaan yang sangat penting dalam menilai

anak gagal tumbuh. Berat badan, panjang/tinggi badan dan lingkaran kepala secara
serial akan memperlihatkan perubahan yang dinamis terhadap ketiga ukuran tersebut.
Pertumbuhan yang normal akan mengikuti kurva persentil sesuai yang diharapkan.

Kriteria diagnostik gagal tumbuh


a. Berat badan <75% dari median berat badan sesuai umur kronologik (kriteria
b.
c.
d.
e.
f.

Gomez) atau;
Berat badan <80% dari berat badan menurut tinggi (kriteria Waterlow) atau ;
BMI umur kronologi < persentil 5 atau;
Berat menurut umur kronologi < persentil 3 atau;
Tinggi menurut umur kronologi < persentil 5 atau;
Penurunan berat badan menyeberangi lebih dari 2 garis persentil mayor.

Dari semua kriteria diatas belum ada kesepakatan para ahli mana yang ideal untuk
menilai gagal tumbuh. Penelitian yang dilakukan oleh Olsen dan kawan kawan
menyimpulkan tidak ada satu kriteria yang ideal untuk menilai gagal tumbuh.

23

Gambar 1. Contoh grafik anak dengan gagal tumbuh karena pemberian makan yang
salah dan penyakit celiac

24

Gambar 2. Grafik pasien (BGS) dengan gagal tumbuh

25

5. Pemeriksaan penunjang
Tidak ada pemeriksaan laboratorium khusus untuk semua anak dengan gagal
tumbuh, karena banyak anak dengan gagal tumbuh tidak mempunyai kelainan
laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada anak dengan gagal
tumbuh untuk skrining awal meliputi darah tepi lengkap, urinalisis, kultur urin,
elektrolit, ureum kreatinin, kalsium, faal hepar, termasuk albumin dan globulin.
Pemeriksaan lain dilakukan atas indikasi seperti skrining untuk HIV, uji fungsi tiroid,
imunoglobuln, uji mantoux, rontgen foto, bone age dan lain-lain.
6. Penilaian perkembangan
Penilaian perkembangan dilakukan untuk deteksi

dini

keterlambatan

perkembangan pada anak gagal tumbuh. Penelitian dari Case Western Reserve, anak
yang gagal tumbuh mempunyai rata-rata IQ 85,4 + 15, 11,5% mempunyai beberapa
keterlambatan perkembangan dan 18% mempunyai nilai sekolah yang rendah.

Gambar 3. Algoritma penilaian gagal tumbuh

3.5. Penatalaksanaan

26

Pengumpulan informasi, pemeriksaan fisik lengkap, pemeriksaan laboratorium,


radiologi, atau evaluasi psikososial, edukasi tentang gizi yang adekuat harus diberikan,
intervensi gizi dan pemberian makan dimulai pada kunjungan pertama.
Hal pertama yang menjadi patokan dalam penatalaksanaan gagal tumbuh adalah
mengidentifikasi penyakit dasar dan pengobatannya,atasi segera jika ada penyakit yang
berat seperti gangguan elektrolit bahkan kalau perlu anak segera dirawat di rumah sakit.
Beberapa tahapan yang untuk penatalaksanaan anak dengan gagal tumbuh
adalah sebagai berikut :
1. Penatalaksanaan pemberian makan
Kasus gagal tumbuh dapat diatasi hanya dengan intervensi gizi dan modifikasi
pola makan. Dua hal yang diperukan dalam tata laksana gagal tumbuh tanpa
memandang penyebabnya adalah diet kalori tinggi untuk mengejar ketertinggalan
pertumbuhan dan pemantauan yang ketat. Anak dengan gagal tumbuh memerlukan
asupan kalori lebih besar 150% dari asupan kalori harian yang direkomendasikan
berdasarkan berat badan yang diharapkan, bukan berat badan saat ini. Corrales dalam
buku Manual of Pediatric Nutrition, menganjurkan estimasi kebutuan kalori untuk catch
up pertumbuhan pada gagal tumbuh dengan menggunakan rumus:
RDA x BB ideal menurut tinggi (kg)
Berat badan aktual (kg)

sampai

RDA x BB ideal menurut umur (kg)


Berat Badan aktual (kg)

atau
120 kcal/kg x BB ideal menurut tinggi
Berat badan actual

Bisa dicapai dengan meningkatkan asupan kalori dengan menambahkan konsentrasi


susu formula. Untuk penambahan kalori pada anak prasekolah dapat dilakukan dengan
cara bahan makanan seperti keju, roti atau kacang. Pemberian multi vitamin akan
berguna bagi anak dengan gagal tumbuh. Jika tidak ada respon maka harus dilakukan
penelusuran lanjut
2. Pendekatan multi disiplin
Perlunya konsultasi ahli gizi untuk mengatasi terjadinya malnutrisi serta
memperkirakan

total

kalori

yang

harus

diperlukan

dan

menentukan

ben

tuk diet yang tepat dan berkalori tinggi. Masalah emosional ibu, keluarga dan anak
dengan psikiater akan membantu mengatasi masalah tersebut.
27

3. Perawatan di rumah sakit


Perawatan di rumah sakit pada anak gagal tumbuh jarang diperlukan,
kebanyakan rawat jalan. Rawat di rumah sakit jika rawat jalan gagal. Pasien juga
dianjurkan untuk dirawat bila kondisi anak atau orang yang mengasuh atau keluarga
tidak dapat memberikan perawatan yang tepat atau mungkin malah membahayakan
keselamatan anak.
Tujuan perawatan anak gagal tumbuh dirumah sakit adalah:
a. Mengamati kebiasan makan anak dan hubungan orang tua dan anak
b. Melihat apakah berat badan anak dapat kembali normal bila mendapatkan
asupan yang cukup atau dijauhkan dari keluarga.
c. Memutuskan pemeriksaan penunjang yang diperlukan sesuai indikasi

Gambar 4. Alur management gagal tumbuh

3.6. Prognosis
Anak dengan gagal tumbuh mempunyai risiko untuk terjadinya perawatan
pendek, gangguan tingkah laku, keterlambatan perkembangan dan gangguan kognitif
atau intelegenscia quotion yang rendah makin kecil terjadinya gagal tumbuh semakin
28

besar kemungkinan timbulnya risiko. Untuk mencegah hal tersebut, diperlukan


pengenalan yang lebih awal dan tata laksana sedini mungkin. Sehingga diharapkan
dapat outcome yang lebih baik.

29

BAB IV
KESIMPULAN
Gagal tumbuh bisa disebabkan oleh penyebab organik dan non organik atau
kombinasi keduanya. Dalam menilai anak dengan gagal tumbuh diperlukan anamnesis,
pemeriksaan fisik yang teliti dan hubungan orang tua dan anak serta pemeriksaan
penunjang atas indikasi. Deteksi dan tata laksana dini akan mempengaruhi prognosis
anak dengan gagal tumbuh.

30

DAFTAR PUSTAKA
1.

Behrman., Kliegman. & Arvin. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak (edisi: 15,
vol.2). Jakarta : EGC.

2.

Schwartz. M. W. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta : EGC. 2005;

3.

Krugman SD, Dubowitz H. Failure to Thrive. American Family Physician


2003;68:879-83.

4.

Gahagan S. Failure to Thrive : A Consequence of Undernutrition. Pediatrics in


Review 2006;27:e1-e11.

5.

Zenel JA. Failure to Thrive : A General Pediatrician's Perspective. Pediatrics in


Review 1997;18:371-8.

6.

Schwartz ID. Failure To Thrive: An Old Nemesis in the New Millennium.


Pediatrics in Review 2000;21:257.

7.

Spencer NJ. Failure to Think about Failure to Thrive. Arch Dis Child
2007;92:95-6.

8.

Rabinowitz SS, Katturupalli M. Failure to Thrive. eMedicine Pediatrics 2010:116.

9.

Bithoney WG, Dubowitz H, Egan H. Failure to Thrive/Growth Deficiency.


Pediatrics in Review 1992;13:453-9.

10.

Block RW, Krebs NF. Failure to Thrive as a Manifestation of Child Neglect.


Pediatrics 2005;116:1234-7.

11.

Blair P, Drewett R, Emmett P, Ness A, Emond A. Family, socioeconomic and


prenatal factors associated with failure to thrive in the Avon Longitudinal Study
of Parents and Children (ALSPAC). International Journal of Epidemiology
2004;33:83947.

12.

Olsen EM, Petersen J, Skovgaard AM, Weilee B, Jorgensen T, Wright CM.


Failure to Thrive: the prevalence and concurrence of anthropometric criteria in a
general infant population. Arch Dis Child 2007;92:109=14.

13.

Corrales KM, Hangen JP. Growth Failure. In: Hendricks, Duggan, Walker, eds.
Manual of Pediatric Nutrition Book. 3 ed. Philladelphia: B.C. Decker; 2000:41425.

31

14.

SISTEM KEWASPADAAN DINI (SKD) KLB-GIZI BURUK. DEPARTEMEN


KESEHATAN RI 2008.

32