Anda di halaman 1dari 6

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Badan Sensus Amerika Serikat (USCB) mencatat jumlah penduduk dunia
pada tahun 2014 telah menyentuh angka tujuh miliar jiwa. Populasi penduduk
yang selalu meningkat dapat menimbulkan permasalahan jika jumlah penduduk
bumi melebihi kapasitas produktivitas natural bumi. Generasi yang akan datang
terancam kehabisan sumber daya alam jika eksploitasi dilakukan secara terusmenerus tanpa memperhatikan kebutuhan mendatang. Langkah eksploitasi sumber
daya alam berwawasan lingkungan mutlak diperlukan agar sumber daya alam
dapat mencukupi kebutuhan mendatang.
Sustainable Development pertama kali diperkenalkan pada United Nations
Conference on the Human Environment yang diselenggarakan di Stockholm pada
Juni 1972. Sustainable Development kemudian menjadi isu internasional yang
selalu dibahas dalam beberapa dekade terakhir, seperti dalam World Summit on
Sustainable Development yang dilaksanakan di Johannesburg pada 2002.
Konferensi ini dihadiri oleh 191 negara, pejabat PBB, serta institusi ekonomi
multilateral. Konferensi Johannesburg menghasilkan tiga keputusan kunci;
deklarasi politik, implementasi Johannesburg Plan serta inisiatif ruang lingkup
kerjasama, termasuk di dalamnya ketentuan mengenai kesinambungan konsumsi
dan produksi, air dan sanitasi serta energi.
Brundtland report dalam Adams (2009) menerangkan bahwa Sustainable
Development mempunyai pengertian development that meets the needs of the
present, without compromising the ability of future generations to meet their own
needs. Hal ini berarti sustainable development merupakan usaha untuk
memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan
generasi yang akan datang. Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable
development) menjadi solusi bagi eksploitasi sumber daya alam di tengah jumlah
penduduk yang semakin bertambah.
commit to user
1

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

2
Menanggapi isu sustainable development, UNESCO bekerjasama dengan
United Nation University mengadakan konferensi internasional yang bertemakan
Globalization and Education for Sustainable Development Sustaining the
Future pada 28 s/d 29 Juni 2005 di Nagoya Jepang. Konferensi ini dihadiri oleh
General-Director UNESCO; Koichiro Matsuura serta rektor United Nations
University (UN University) yang sekaligus seorang staff ahli Sekjen UN, Prof. Dr.
Hans J. A. Van Ginkel. Koichiro mengemukakan bahwa sustainable development
dapat dicapai melalui Education for Sustainable Development (Dorville, 2006).
Menurut Van Ginkel, pendidikan berfungsi sebagai alat yang ampuh untuk
menggerakkan bangsa, masyarakat dan rumah tangga menuju masa depan yang
lebih berkelanjutan. Hal ini berarti Education for Sustainable Development (ESD)
merupakan pendidikan yang memberikan kesadaran dan kemampuan kepada
semua orang terutama generasi mendatang untuk berkontribusi lebih baik bagi
pengembangan berkelanjutan pada saat ini maupun masa yang akan datang.
Air merupakan kebutuhan pokok manusia untuk menjaga kelangsungan
hidup. Upaya konservasi dan eksploitasi sumber daya air harus dilakukan dengan
baik agar ketersediaan air tetap terjaga. Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan
Informasi (P3DI) dalam Prihatin (2013) mengemukakan bahwa :
Cadangan air Indonesia mencapai 2.530 km3/tahun yang termasuk dalam
salah satu negara yang memiliki cadangan air terkaya di dunia. Dalam data
lain menunjukkan, ketersediaan air di Indonesia mencapai 15.500 m3 per
kapita per tahun. Angka ini masih jauh di atas ketersediaan air rata-rata di
dunia yang hanya 8.000 m3 per tahun. Meskipun begitu, Indonesia masih
mengalami kelangkaan air bersih, terutama di kota-kota besar. Menurut
Pakar hidrologi dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali, Jakarta sudah
mengalami krisis air bersih sejak 18 tahun yang lalu, dan saat ini
kondisinya semakin parah. Jakarta memerlukan sekitar 26.938 liter air per
detik, namun yang tersedia hanya 17.700 liter air per detik. Selain itu,
menurut laporan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
Indonesia, ketersediaan air di Pulau Jawa hanya 1.750 m3 per kapita per
tahun pada tahun 2000 dan akan terus menurun hingga 1.200 m3 per kapita
per tahun pada tahun 2020. Padahal standar kecukupan minimal adalah
2.000 m3 per kapita per tahun.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2010 dalam Cahyadi (2011),
penduduk Indonesia yang bisa mengakses air bersih secara optimal baru 36,6
commit to user
persen. Lima provinsi di Indonesia yang jumlah penduduknya semakin sulit

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

3
mengakses air bersih, yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Gorontalo, Jawa
Timur, dan Kalimantan Tengah. Kondisi terparah justru terjadi di DKI Jakarta.
Hal yang berbeda dapat diamati ketika musim penghujan tiba. Daerah yang
sebelumnya rawan krisis air berubah menjadi daerah rawan banjir. Demikianlah
kondisi beberapa daerah di Indonesia, kekeringan di musim kemarau dan banjir di
musim penghujan yang berarti bahwa sumber daya air belum terdistribusi secara
seimbang. Maka dari itu, diperlukan sebuah metode eksplorasi sumber daya air
yang berkelanjutan untuk menjamin keberadaan air ketika dibutuhkan.
Hal serupa juga dialami oleh Dusun Belang yang terletak di sisi barat laut
Gunung Merapi serta mempunyai topografi berupa perbukitan. Penduduk
biasanya dapat memanfaatkan mata air yang terdapat di bawah bukit untuk
memenuhi kebutuhan air sehari-hari, baik untuk keperluan pertanian maupun
kebutuhan rumah tangga. Masalah kekeringan melanda penduduk ketika musim
kemarau tiba. Penduduk tidak dapat memperoleh air karena sumber mata air
terdekat

yang

biasa

digunakan

juga

mengalami

kekeringan.

Hal

ini

mengakibatkan penduduk Dusun Belang harus mencari sumber air yang letaknya
lebih jauh serta melintasi jurang untuk mendapatkan air. Sumber air yang masih
produktif pada saat musim kemarau juga harus dibagi dengan beberapa dusun
yang ada di sekitarnya. Mayoritas penduduk Dusun Belang berprofesi sebagai
petani. Penduduk biasanya menanam komoditas yang tidak memerlukan banyak
air dalam perawatannya jika musim kemarau tiba. Air yang diambil dari mata air
biasanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak dan MCK.
Berdasarkan observasi prapenelitian, diketahui adanya permasalahan
kesulitan air yang dialami oleh penduduk Dusun Belang dan sekitarnya. Sumber
mata air yang jauh serta keterbatasan sarana dan prasarana semakin memperberat
permasalahan penduduk. Sementara itu, erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010
yang lalu juga meninggalkan dampak kerusakan bagi Dusun Belang. Lahan
pertanian serta akses jalan dan jembatan mengalami kerusakan yang cukup parah.
Kondisi ini sempat membuat Dusun Belang semakin sulit untuk memenuhi
kebutuhan air untuk rumah tangga dengan hilangnya akses jalan akibat erupsi
commit to user
Gunung Merapi.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

4
Dusun Belang mempunyai topografi yang cocok untuk penerapan pompa
hidram. Pompa hidram adalah suatu alat yang digunakan untuk memompa dengan
cara menaikkan air dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi
dengan hasil guna tinggi dimana mampu mengalirkan air secara terus menerus.
Pompa hidram mempunyai prinsip kerja memanfaatkan tekanan air yang jatuh.
Pompa ini bekerja tanpa membutuhkan bahan bakar maupun listrik. Oleh karena
itu, pompa ini cocok diaplikasikan di desa yang membutuhkan air dengan daya
beli masyarakat terhadap bahan bakar yang rendah. Selain itu, pembuatan dan
perawatan pompa ini sederhana serta suku cadangnya juga mudah diperoleh
sehingga cocok untuk daerah dengan tingkat kemampuan teknis masyarakat yang
terbatas.
Perbedaan geografis dan kebutuhan air menyebabkan konstruksi instalasi
pompa hidram berbeda antara daerah satu dengan yang lainnya. Pada penelitian
ini, dirancang

instalasi pompa hidram yang sesuai dengan kondisi geografis

Dusun Belang kemudian dianalisis karakter performanya.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi
beberapa masalah sebagai berikut :
1. Permasalahan kesulitan air dialami oleh penduduk Dusun Belang dan
sekitarnya.
2. Dusun Belang mempunyai tingkat kemampuan teknis yang terbatas serta daya
beli terhadap bahan bakar yang rendah.
3. Ekologi lingkungan Dusun Belang masih sangat alami sehingga dibutuhkan
sebuah langkah eksploitasi alam yang berwawasan lingkungan.
4. Dusun Belang mempunyai topografi yang cocok untuk penerapan pompa
hidram namun pompa hidram belum dimanfaatkan dengan baik.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

5
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan identifikasi masalah di
atas, maka penelitian ini dibatasi oleh ruang lingkup dan arahan yang jelas.
Penelitian ini merancang pompa hidram dengan karakteristik yang sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi geografis Dusun Belang. Desain rancangan yang sama
mungkin tidak cocok diterapkan di lokasi lain, karena masing-masing tempat
memiliki karakteristik yang berbeda. Efisiensi pompa ditentukan menggunakan
rumus efisiensi pompa hidram menurut Rankine. Persamaan efisiensi Rankine
memberikan gambaran yang lebih baik dimana efisiensi pompa hidram ditentukan
menggunakan ketinggian permukaan air bak pemasukan sebagai datum. Tekanan
air serta kerugian (head loss) tidak termasuk dalam variabel perhitungan pada
penelitian, namun pada praktiknya turut mempengaruhi gejala fluktuasi efisiensi
pompa hidram. Kebutuhan air penduduk dihitung berdasarkan data per Januari
2014 serta tidak memperhatikan pertambahan penduduk dalam beberapa tahun ke
depan. Hal ini disebabkan pencatatan demografi penduduk beberapa tahun ke
belakang tidak terdokumentasi dengan baik.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka dapat
dirumuskan permasalahan yaitu:
1.

Berapa besar kebutuhan air harian penduduk Dusun Belang?

2.

Bagaimana rancangan instalasi pompa hidram yang sesuai dengan kebutuhan


penduduk dan kondisi geografis Dusun Belang?

3.

Bagaimana performa dan efisiensi pompa hidram dalam menaikkan air dari
sumber mata air ke permukiman penduduk Dusun Belang?

4.

Bagaimana peran pompa hidram dalam memenuhi kebutuhan air harian


penduduk Dusun Belang?

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

6
E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari terlaksananya penelitian ini antara lain :
1.

Mengetahui besar kebutuhan air harian penduduk Dusun Belang.

2.

Merancang instalasi pompa hidram yang sesuai dengan kebutuhan penduduk


dan kondisi geografis Dusun Belang.

3.

Mengetahui performa dan efisiensi pompa hidram dalam menaikkan air dari
sumber mata air ke permukiman penduduk Dusun Belang.

4.

Mengetahui peran pompa hidram dalam memenuhi kebutuhan air harian


penduduk Dusun Belang.

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan mengenai pompa
hidram secara riil, mulai dari perancangan, prinsip kerja pompa, kondisi
prasyarat yang mendukung kinerja pompa, performa pompa, dan parameter
yang mempengaruhi efektivitas pompa.
2. Manfaat Praktis
a. Pompa hidram beroperasi tanpa menggunakan bahan bakar serta tidak
menghasilkan polusi, hal ini akan menjaga keaslian ekologi Dusun Belang.
b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Dusun Belang dalam hal
pemenuhan kebutuhan air bersih untuk rumah tangga, pertanian maupun
peternakan.
c. Meningkatkan partisipasi masyarakat melalui penerapan teknologi ramah
lingkungan dalam mengatasi permasalahan sehingga terbentuk komunitas
masyarakat yang mandiri.
d. Menjadi referensi ilmiah bagi pengembangan penelitian mengenai
perancangan pompa hidram menurut karakteristik masing-masing daerah.
e. Mewujudkan pilar kedua dan ketiga pada Tri Dharma Perguruan Tinggi
yaitu penelitian dan pengabdian.
commit to user