Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

CHOLELITIASIS
I.
ANATOMI FISIOLOGI
A. Anatomi
Kandung empedu bentuknya

seperti

kantong,

organ

berongga

yang

panjangnya sekitar 10 cm, terletak dalam suatu fosa yang menegaskan batas anatomi
antara lobus hati kanan dan kiri. Kandung empedu merupakan kantong berongga
berbentuk bulat lonjong seperti buah advokat tepat di bawah lobus kanan hati.
Kandung empedu mempunyai fundus, korpus, dan kolum. Fundus bentuknya bulat,
ujung buntu dari kandung empedu yang sedikit memanjang di atas tepi hati. Korpus
merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Kolum adalah bagian yang sempit
dari kandung empedu yang terletak antara korpus dan daerah duktus sistika.
Empedu yang disekresi secara terus-menerus oleh hati masuk ke saluran
empedu yang kecil dalam hati. Saluran empedu yang kecil bersatu membentuk dua
saluran lebih besar yang keluar dari permukaan bawah hati sebagai duktus hepatikus
kanan dan kiri yang segera bersatu membentuk duktus hepatikus komunis. Duktus
hepatikus bergabung dengan duktus sistikus membentuk duktus koledokus.
B. Fisiologi
Kandung empedu berperan sebagai resevoir empedu dengan kapasitas sekitar 50
ml. Kandung empedu mempunyai kemampuan memekatkan empedu. Untuk membantu
proses ini, mukosanya mempunyai lipatan lipatan permanen yang satu sama lain saling
berhubungan. Sehingga permukaanya tampak seperti sarang tawon. Sel - sel thorak yang
membatasinya juga mempunyai banyak mikrovilli.
Empedu dibentuk oleh sel-sel hati ditampung di dalam kanalikuli. Kemudian
disalurkan

ke

duktus

biliaris

terminalis

yang

terletak

di

dalam

septum

interlobaris. Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan dan
kiri. Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran ini sebelum
mencapai doudenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu duktus sistikus yang
berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu sebelum disalurkan ke duodenum.

Fungsi kandung empedu, yaitu :


1

a. Tempat menyimpan cairan empedu dan memekatkan cairan empedu yang


ada didalamnya dengan cara mengabsorpsi air dan elektrolit. Cairan empedu
ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel hati.
b. Garam empedu menyebabkan meningkatnya kelarutan kolesterol, lemak dan
vitamin yang larut dalam lemak, sehingga membantu penyerapannya dari
usus. Hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah diubah
menjadi bilirubin (pigmen utama dalam empedu) dan dibuang ke dalam
empedu.
Kandung empedu mampu menyimpan 40-60 ml empedu. Diluar waktu
makan, empedu disimpan sementara di dalam kandung empedu. Empedu hati tidak
dapat segera masuk ke duodenum, akan tetapi setelah melewati duktus hepatikus,
empedu masuk ke duktus sistikus dan ke kandung empedu. Dalam kandung empedu,
pembuluh limfe dan pembuluh darah mengabsorpsi air dari garam-garam anorganik,
sehingga empedu dalam kandung empedu kira-kira lima kali lebih pekat
dibandingkan empedu hati.
Empedu disimpan dalam kandung empedu selama periode interdigestif dan
diantarkan ke duodenum setelah rangsangan makanan. Pengaliran cairan empedu
diatur oleh 3 faktor, yaitu sekresi empedu oleh hati, kontraksi kandung empedu, dan
tahanan sfingter koledokus. Dalam keadaan puasa, empedu yang diproduksi akan
dialih-alirkan ke dalam kandung empedu. Setelah makan, kandung empedu
berkontraksi, sfingter relaksasi, dan empedu mengalir ke duodenum.
Memakan makanan akan menimbulkan pelepasan hormon duodenum, yaitu
kolesistokinin (CCK), yang merupakan stimulus utama bagi pengosongan kandung
empedu, lemak merupakan stimulus yang lebih kuat. Reseptor CCK telah dikenal
terletak dalam otot polos dari dinding kandung empedu. Pengosongan maksimum
terjadi dalam waktu 90-120 menit setelah konsumsi makanan. Empedu secara primer
terdiri dari air, lemak, organik, dan elektrolit, yang normalnya disekresi oleh
hepatosit. Zat terlarut organik adalah garam empedu, kolesterol, dan fosfolipid.
Sebelum makan, garam-garam empedu menumpuk di dalam kandung empedu
dan hanya sedikit empedu yang mengalir dari hati. Makanan di dalam duodenum
memicu serangkaian sinyal hormonal dan sinyal saraf sehingga kandung empedu
2

berkontraksi. Sebagai akibatnya, empedu mengalir ke dalam duodenum dan


bercampur dengan makanan.
Empedu memiliki fungsi, yaitu membantu pencernaan dan penyerapan lemak,
berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin
yang
berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol, garam empedu
meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak untuk
membantu proses penyerapan, garam empedu merangsang pelepasan air oleh usus
besar untuk membantu menggerakkan isinya, bilirubin (pigmen utama dari
empedu)
dibuang ke dalam empedu sebagai limbah dari sel darah merah yang dihancurkan,
serta obat dan limbah lainnya dibuang dalam empedu dan selanjutnya dibuang dari
tubuh.
Garam empedu kembali diserap ke dalam usus halus, disuling oleh hati dan
dialirkan kembali ke dalam empedu. Sirkulasi ini dikenal sebagai sirkulasi
enterohepatik. Seluruh garam empedu di dalam tubuh mengalami sirkulasi
sebanyak 10-12 kali/hari. Dalam setiap sirkulasi, sejumlah kecil garam empedu
masuk ke dalam usus besar (kolon). Di dalam kolon, bakteri memecah garam
empedu
menjadi berbagai unsur pokok. Beberapa dari unsur pokok ini diserap kembali dan
sisanya dibuang bersama tinja. Hanya sekitar 5% dari asam empedu yang
disekresikan dalam feses.
II.
KONSEP DASAR
A. Pengertian
Kolelitiasis/koledokolitiasis merupakan adanya batu di kandung empedu, atau
pada saluran kandung empedu yang pada umumnya komposisi utamanya adalah
kolesterol. (Williams, 2003)
Batu empedu merupakan endapan satu atau lebih komponen empedu kolesterol,
bilirubin, garam empedu, kalsium, protein, asam lemak dan fosfolipid (Price & Wilson,
2005). Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus,batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana
terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) yang memiliki ukuran,
3

bentuk dan komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada individu
berusia diatas 40 tahun terutama pada wanita dikarenakan memiliki faktor resiko,yaitu :
obesitas, usia lanjut, diet tinggi lemak dan genetik.
Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami
aliran balik karena adanya penyempitan saluran. Batu empedu di dalam saluran
empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis). Jika saluran
empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan
infeksi di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan
menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya.
Adanya infeksi dapat menyebabkan kerusakan dinding kandung empedu,
sehingga menyebabkan terjadinya statis dan dengan demikian menaikkan batu
empedu. Infeksi dapat disebabkan kuman yang berasal dari makanan. Infeksi bisa
merambat ke saluran empedu sampai ke kantong empedu. Penyebab paling utama
adalah infeksi di usus. Infeksi ini menjalar tanpa terasa menyebabkan peradangan
pada saluran dan kantong empedu sehingga cairan yang berada di kantong empedu
mengendap dan menimbulkan batu. Infeksi tersebut misalnya tifoid atau tifus. Kuman
tifus apabila bermuara di kantong empedu dapat menyebabkan peradangan lokal yang
tidak dirasakan pasien, tanpa gejala sakit ataupun demam. Namun, infeksi lebih
sering timbul akibat dari terbentuknya batu dibanding penyebab terbentuknya batu.
Adapun klasifikasi dari batu empedu menurut Suratun, dkk (2010, hlm. 201)
adalah sebagai berikut :
1. Batu Kolesterol
Biasanya berukuran besar, soliter, berstruktur bulat atau oval, berwarna kuning pucat
dan seringkali mengandung kalsium dan pigmen. Kolesterol yang merupakan unsur
normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung
pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang
cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan
peningkatan sintesis kolesterol dalam hati.
2. Batu Pigmen
Terdiri atas garam kalsium dan salah satu dari anion (bilirubinat, karbonat, fosfat, atau
asam lemak rantai panjang). Batu-batu ini cenderung berukuran kecil, multipel, dan
bewarna hitam kecoklatan. Batu pigmen bewarna coklat berkaitan dengan hemolisis
kronis. Batu berwarna coklat berkaitan dengan hemolisis kronis. Batu berwarna coklat
berkaitan dengan infeksi empedu kronis (batu semacam ini lebih jarang di jumpai).
Batu pigmen akan terbentuk bila pigmen tidak terkonjugasi dalam empedu dan terjadi
proses presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu. Resiko terbentuknya batu
4

semacam ini semakin besar pada pasien sirosis, hemolisis, dan infeksi percabangan
bilier.
3. Batu Campuran
Batu ini merupakan campuran antara batu kolesterol dengan batu pigmen atau dengan
substansi lain (kalsium karbonat, fosfat, garam empedu, dan palmitat), dan biasanya
berwarna coklat tua
B. Etiologi
Menurut Mansjoer (2006) terdapat beberapa faktor yang menyebabkan Kolelitiasis
yaitu: diantara jenis kelamin, umur, berat badan, makanan, faktor genetik, aktifitas fisik dan
infeksi. Berikut ini akan dijelaskan tentang faktor-faktor penyebab Kolelitiasis, antara lain:
1. Jenis Kelamin
Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena Kolelitiasis dibandingkan dengan
pria, ini dikarenakan oleh hormon Estrogen berpengaruh terhadap peningkatan
ekskresi kolestrol oleh kandung empedu, penggunaan pil kontrasepsi dan terapi
hormon (Estrogen) dapat meningkatkan kolestrol dalam kandung empedu dan
penurunan aktifitas pengosongan kandung empedu.
2. Umur
Resiko untuk terkena Kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena Kolelitiasis
dibandingkan dengan orang yang usia lebih muda.
3. Berat Badan
Orang dengan berat badan tinggi mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi
Kolelitiasis, ini dikarenakan dengan tingginya Body Mass Index (BMI) maka kadar
kolestrol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurangi garam empedu
serta mengurangi kontraksi atau pengosongan kandung empedu.
4. Makanan
Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepat mengakibatkan gangguan
terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi
kandung empedu
5. Faktor Genetik
Orang dengan riwayat keluarga Kolelitiasis mempunyai resiko lebih besar
dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga
6. Aktifitas Fisik
5

Kekurangan aktifitas fisik berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya


Kolelitiasis, ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit berkontraksi.
7. Infeksi
Bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukan batu, mucus
meningkatkan viskositas empedu dan unsur sel atau bakteri dapat berperan sebagai
pusat presipitasi.
Menurut Mansjoer Arif (2001, hlm. 510), beberapa faktor resiko terjadinya
batu empedu antara lain jenis kelamin, umur, hormon wanita, infeksi (kolesistitis),
kegemukan, paritas, serta faktor genetik. Terjadinya batu kolesterol adalah akibat
gangguan hati yang mengekskresikan kolesterol berlebihan hingga kadarnya di atas
nilai kritis kelarutan kolesterol dalam empedu.
Menurut Price, (2005, hlm. 502) penyebab batu empedu masih belum di
ketahui sepenuhnya, akan tetapi tampaknya faktor predisposisi terpenting adalah
gangguan metabolisme yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi empedu,
statis empedu, dan infeksi kandung empedu.
Perubahan komposisi empedu kemungkinan merupakan faktor terpenting
dalam pembentukan batu empedu. Statis empedu dalam kandung empedu dapat
mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan komposisi kimia, dan pengendapan
unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu, atau spasme sfingter Oddi, atau
keduanya dapat menyebabkan terjadinya statis. Faktor hormonal (terutama selama
kehamilan) dapat di kaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan
menyebabkan tingginya insidensi dalam kelompok ini.
Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukan
batu. Mukus meningkatkan viskositas empedu, dan unsur sel atau bakteri dapat
berperan sebagai pusat presipitasi. Akan tetapi, infeksi mungkin lebih sering timbul
sebagai akibat dari terbentuknya batu empedu, di bandingkan sebagai penyebab
terbentuknya batu empedu.
Menurut Price (2005, hlm 503), sebanyak 75% orang yang memiliki batu
empedu tidak memperlihatkan gejala. Sebagian besar gejala timbul bila batu
menyumbat aliran empedu, yang seringkali terjadi karena batu yang kecil melewati ke
dalam duktus koledokus. Penderita batu empedu sering memiliki gejala kolesistitis
akut atau kronis.
1. Gejala Akut
6

a) Nyeri hebat mendadak pada epigastrium atau abdomen kuadran kanan atas,
nyeri dapat menyebar ke punggung dan bahu kanan.
b) Penderita dapat berkeringat banyak dan Gelisah
c) Nausea dan muntah sering terjadi.
d) Ikterus, dapat di jumpai di antara penderita penyakit kandung empedu dengan
persentase yang kecil dan biasanya terjadi pada obstruksi duktus koledokus.
Obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam duodenum akan menimbulkan
gejala yang khas, yaitu getah empedu yang tidak lagi di bawa ke dalam
duodenum akan di serap oleh darah dan penyerapan empedu ini membuat kulit
dan membran mukosa bewarna kuning. Keadaan ini sering di sertai dengan
gejala gatal-gatal yang mencolok pada kulit.
e) Perubahan warna urine dan feses. Ekskresi pigmen empedu oleh ginjal akan
membuat urine bewarna sangat gelap. Feses yang tidak lagi di warnai oleh
pigmen empedu akan tampak kelabu, dan biasanya pekat.
2. Gejala kronis
Gejala kolelitiasis kronis mirip dengan gejala kolelitiasis akut, tetapi
beratnya nyeri dan tanda-tanda fisik kurang nyata. Pasien sering memiliki riwayat
dispepsia, intoleransi lemak, nyeri ulu hati, atau flatulen yang berlangsung
lama.Menurut Reeves ( 2001) tanda dan gejala yang biasanya terjadi adalah:
a) Nyeri di daerah epigastrium kuadran kanan atas
b) Pucat biasanya dikarenakan kurangnya fungsi empedu
c) Pusing akibat racun yang tidak dapat diuraikan
d) Demam
e) Urine yang berwarna gelap seperti warna teh
f) Dispepsia yang kadang disertai intoleransi terhadap makanan-makanan
berlemak
g) Nausea dan muntah
h) Berkeringat banyak dan gelisah
i) Nausea dan muntah-muntah
j) Defisiensi Vitamin A,D,E,K
B. Patofisiologi

Etiologi merupakan faktor terpenting dalam pembentukan batu empedu.


Sejumlah penyelidikan menunjukkan bahwa hati penderita batu empedu kolesterol
menyekresi empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol (Price A & Wilson, 2003).
Batu kandung empedu merupakan gabungan material mirip batu yang
terbentuk di dalam kandung empedu. Pada keadaan normal, asam empedu, lesitin dan
fosfolipid membantu dalam menjaga solubilitas empedu. Bila empedu menjadi
bersaturasi tinggi (supersaturated) oleh substansi berpengaruh (kolesterol, kalsium,
bilirubin), akan berkristalisasi dan membentuk nidus untuk pembentukan batu. Kristal
yang yang terbentuk dalam kandung empedu, kemudian lama-kelamaan kristal
tersebut bertambah ukuran, melebur dan membentuk batu. Faktor predisposisi
merupakan pembentukan batu empedu :
1. Batu kolesterol
Untuk terbentuknya batu kolesterol diperlukan 3 faktor utama :
a) Supersaturasi atau penumpukan kolesterol didalam kantung empedu
b) Berkurangnya kemampuan kandung empedu
c) Nukleasi atau pembentukan nidus cepat.
Khusus mengenai nukleasi cepat, sekarang telah terbukti bahwa empedu pasien
dengan kolelitiasis mempunyai zat yang mempercepat waktu nukleasi kolesterol
(promotor) sedangkan empedu orang normal mengandung zat yang menghalangi
terjadinya nukleasi.
Proses degenerasi dan adanya penyakit hati

Penurunan fungsi hati

Penyakit gastrointestinal Gangguan metabolisme

Mal absorpsi garam empedu Penurunan sintesis (pembentukan) asam empedu

Peningkatan sintesis kolesterol

Berperan sebagai penunjang


iritan pada kandung empedu Supersaturasi (kejenuhan) getah empedu oleh
kolesterol

Peradangan dalam Peningkatan sekresi kolesterol


kandung empedu
8


Kemudian kolesterol keluar dari getah empedu
Penyakit kandung

empedu (kolesistitis)
Pengendapan kolesterol

Batu empedu
1. Batu kalsium bilirunat (pigmen cokelat)
Batu pigmen terdiri dari garam kalsium dan salah satu dari keempat anion ini :
bilirubinat, karbonat, fosfat dan asam lemak. Pigmen (bilirubin) pada kondisi normal
akan terkonjugasi dalam empedu. Bilirubin terkonjugasi karna adanya enzim
glokuronil tranferase bila bilirubin tak terkonjugasi diakibatkan karena kurang atau
tidak adanya enzim glokuronil tranferase tersebut yang akan mengakibatkan
presipitasi/pengendapan dari bilirubin tersebut. Ini disebabkan karena bilirubin tak
terkonjugasi tidak larut dalam air tapi larut dalam lemak.sehingga lama kelamaan
terjadi pengendapan bilirubin tak terkonjugasi yang bisa menyebabkan batu empedu
tapi ini jarang terjadi.
Pigmen (bilirubin) tak terkonjugasi dalam empedu

Akibat berkurang atau tidak adanya enzim glokuronil tranferase

Presipitasi / pengendapan

Berbentuk batu empedu

Batu tersebut tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan operasi
2. Batu pigmen hitam
Batu pigmen hitam adalah tipe batu yang banyak ditemukan pa-da pasien dengan
hemolisis kronik atau sirosis hati. Potogenesis terbentuknya batu ini belum jelas.
Umumnya batu pigmen hitam terbentuk dalam kandung empedu dengan empedu yang
steril. Batu kandung empedu dapat berpindah ke dalam duktus koledokus melalui
duktus sistikus. Didalam perjalanannya melalui duktus sistikus, batu tersebut dapat
menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial ataupun komplit sehingga
9

menimbulkan gejala kolik bilier. Pasase berulang batu empedu melalui duktus sistikus
yang sempit dapat menimbulkan iritasi dan perlukaan sehingga dapat menimbulkan
peradangan dinding duktus dan striktur. Apabila batu berhenti di dalam duktus sistikus
dikarenakan diameter batu yang terlalu besar atau pun karena adanya striktur, batu
akan tetap berada di sana sebagai batu duktus sistikus
3. Batu campuran. Batu campuran dapat terjadi akibat kombinasi antara batu pigmen dan
batu kolesterol atau salah satu dari batu dengan beberapa zat lain seperti kalsium
karbonat, fosfat, dan garam empedu.
Pathway :

10

C. Manifestasi
Gejalanya bersifat akut dan kronis, Gangguan epigastrium: rasa penuh, distensi
abdomen, nyeri samar pada perut kanan atas, terutama setelah klien konsumsi makanan
berlemak / yang digoreng. Tanda dan gejalanya adalah sebagai berikut :
1. Nyeri dan kolik bilier, jika duktus sistikus tersumbat oleh batu empedu, kandung
empedu akan mengalami distensi dan akhirnya infeksi. Pasien akan menderita panas,
teraba massa padat pada abdomen, pasien dapat mengalami kolik bilier disertai nyeri
hebat pada abdomen kanan atas yang menjalar kepunggung atau bahu kanan , rasa
nyeri disertai mual dan muntah akan bertambah hebat dalam waktu beberapa jam
sesudah makan dalam porsi besar. Pasien akan gelisah dan membalik-balikkan badan,
merasa tidak nyaman, nyerinya bukan kolik tetapi persisten. Seorang kolik bilier
semacam ini disebabkan oleh kontraksi kandung empedu yang tidak dapat
mengalirkan empedu keluar akibat tersumbatnya saluran oleh batu. Dalam keadaan
distensi bagian fundus kandung empedu akan menyentuh dinding adomen pada
daerah kartilago kosta sembilan dan sepuluh bagian kanan, sehingga menimbulkan
nyeri tekan yang mencolok pada kuadran kanan atas ketika inspirasi dalam.
2. Ikterus. Biasanya terjadi obstruksi duktus koledokus. Obstruksi pengaliran getah
empedu keduodenum akan menimbulkan gejala yang khas : getah empedu tidak
dibawa keduodenum tetapi diserap oleh darah sehingga kulit dan mukosa membran
berwarna kuning, disertai gatal pada kulit.
3. Perubahan warna urine tampak gelap dan feses warna abu-abu serta pekat karena
ekskresi pigmen empedu oleh ginjal.
4. Terjadi defisiensi vitamin ADEK. Defisiensi vitamin K dapat mengganggu
pembekuan darah yang normal. Jika batu empedu terus menyumbat saluran tersebut
akan mengakibatkan abses, nekrosis dan perforasi disertai peritonitis generalisata.
D. Pemeriksaan
1. Laboratorium
a) Leukosit : 12.000 15.000 /iu (N : 5000 10.000 iu).
b) Bilirubin : meningkat ringan, (N : < 0,4 mg/dl).
c) Amilase serum meningkat.( N: 17 115 unit/100ml).

2. Rontgen abdomen / pemeriksaan sinar X / Foto polos abdomen

11

Dapat dilakukan pada klien yang dicurigai akan penyakit kandung empedu.
Akurasi pemeriksaannya hanya 15-20 %. Tetapi bukan merupakan pemeriksaan
pilihan.
3. Kolangiogram / kolangiografi transhepatik perkutan
Melalui penyuntikan bahan kontras langsung ke dalam cabang bilier. Karena
konsentrasi bahan kontras yang disuntikan relatif besar maka semua komponen
sistem bilier (duktus hepatikus, D. koledukus, D. sistikus dan kandung empedu)
dapat terlihat. Meskipun angka komplikasi dari kolangiogram rendah namun bisa
beresiko peritonitis bilier, resiko sepsis dan syok septik.
4. ERCP ( Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatographi)
Sebuah kanul yang dimasukan ke dalam duktus koledukus dan duktus
pancreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke dalam duktus tersebut.
Fungsi ERCP ini memudahkan visualisasi langsung stuktur bilier dan
memudahkan akses ke dalam duktus koledukus bagian distal untuk mengambil
batu empedu, selain itu ERCP berfungsi untuk membedakan ikterus yang
disebabkan oleh penyakit hati (ikterus hepatoseluler dengan ikterus yang
disebabkan oleh obstuksi bilier dan juga dapat digunakan untuk menyelidiki gejala
gastrointestinal

pada

pasien-pasien

yang

kandung

empedunya

sudah

diangkat.ERCP ini berisiko terjadinya tanda-tanda perforasi/ infeksi.


5. Kolangiografi Transhepatik Perkutan
Pemeriksaan kolangiografi ini meliputi penyuntikan bahan kontras langsung ke
dalam percabangan bilier. Karena konsentrasi bahan kontras yang disuntikan itu
relatif besar, maka semua komponen pada sistem bilier tersebut, yang mencakup
duktus hepatikus dalam hati, keseluruhan pajang duktus koledokus, duktus
sistikus dan kandung empedu, dapat dilihat garis bentuknya dengan jelas.
6. Pemeriksaan Pencitraan Radionuklida atau kolesentografi
Dalam prosedur ini, peraparat radioktif disuntikan secara intravena. Kemudian
diambil oleh hepatosit dan dengan cepat ekskeresikan kedalam sinar bilier.
Memerlukan waktu panjang lebih lama untuk mengerjakannya membuat pasien
terpajan sinar radiasi.
E. Penatalaksanaan
1. Non Pembedahan (farmakoterapi, diet)
a)

Penatalaksanaan pendukung dan Diet adalah: istirahat, cairan infus, NGT,


analgetik dan antibiotik, diet cair rendah lemak, buah yang masak, nasi,
ketela, kentang yang dilumatkan, sayur non gas, kopi dan teh.
12

b)

Untuk makanan yang perlu dihindari sayur mengandung gas, telur, krim,
daging babi, gorengan, keju, bumbu masak berlemak, alkohol.

c)

Farmakoterapi asam ursedeoksikolat (urdafalk) dan kenodeoksiolat


(chenodiol, chenofalk) digunakan untuk melarutkan batu empedu radiolusen
yang berukuran kecil dan terutama tersusun dari kolesterol. Jarang ada efek
sampingnya dan dapat diberikan dengan dosis kecil untuk mendapatkan efek
yang sama. Mekanisme kerjanya menghambat sintesis kolesterol dalam hati
dan sekresinya sehingga terjadi disaturasi getah empedu. Batu yang sudah ada
dikurangi besarnya, yang kecil akan larut dan batu yang baru dicegah
pembentukannya. Diperlukan waktu terapi 6 12 bulan untuk melarutkan
batu.

d) Pelarutan batu empedu tanpa pembedahan : dengan cara menginfuskan suatu


bahan pelarut (manooktanoin / metil tersier butil eter ) kedalam kandung
empedu. Melalui selang / kateter yang dipasang perkuatan langsung kedalam
kandung empedu, melalui drain yang dimasukkan melalui T-Tube untuk
melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada saat pembedahan, melalui
endoskopi ERCP, atau kateter bilier transnasal.
e)

Ektracorporeal shock-wave lithotripsy (ESWL). Metode ini menggunakan


gelombang kejut berulang yang diarahkan pada batu empedu dalam kandung
empedu atau duktus koledokus untuk memecah batu menjadi sejumlah
fragmen. Gelombang kejut tersebut dihasilkan oleh media cairan oleh
percikan listrik yaitu piezoelektrik atau muatan elektromagnetik. Energi
disalurkan kedalam tubuh lewat rendaman air atau kantong berisi cairan.
Setelah batu pecah secara bertahap, pecahannya akan bergerak

perlahan

secara spontan dari kandung empedu atau duktus koledokus dan dikeluarkan
melalui endoskop atau dilarutkan dengan pelarut atau asam empedu peroral.

2. Pembedahan
Intervensi bedah dan sistem drainase.
a)

Kolesistektomi : dilakukan pada sebagian besar kolesistitis kronis / akut.


Sebuah drain ditempatkan dalam kandung empedu dan dibiarkan menjulur
13

keluar lewat luka operasi untuk mengalirkan darah, cairan serosanguinus, dan
getah empedu kedalam kassa absorben.
b) Minikolesistektomi : mengeluarkan kandung empedu lewat luka insisi selebar
4 cm, bisa dipasang drain juga, beaya lebih ringan, waktu singkat.
c) Kolesistektomi laparaskopi
d) Kolesistektomi endoskopi: dilakukan lewat luka insisi kecil atau luka tusukan
melalui dinding abdomen pada umbilikus
3. Pendidikan pasien pasca operasi :
a)

Berikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala
komplikasi intra abdomen yang harus dilaporkan : penurunan selera makan,
muntah, rasa nyeri, distensi abdomen dan kenaikan suhu tubuh.

b) Saat dirumah perlu didampingi dan dibantu oleh keluarga selama 24 sampai
48 jam pertama.
c)

Luka tidak boleh terkena air dan anjurkan untuk menjaga kebersihan luka
operasi dan sekitarnya.

d) Masukan nutrisi dan cairan yang cukup, bergizi dan seimbang.


e) Anjurkan untuk kontrol dan minum obat rutin.
F. Komplikasi
1. Komplikasi yang umumnya terjadi :
a) Obstruksi duktus sistikus
b) Kolik bilier
c) Kolesistitis akut
d) Perikolesistitis
e) Peradangan pankreas (pankreatitis)-angga
f) Perforasi
g) Kolesistitis kronis
h) Hidrop kandung empedu
i) Empiema kandung empedu
j) Fistel kolesistoenterik
k) Batu empedu sekunder (Pada 2-6% penderita, saluran menciut kembali dan
batu empedu muncul lagi)
l) Ileus batu empedu (gallstone ileus)
2. Komplikasi post op laparatomi kolelitiasis
a) Perdarahan
b) Infeksi
c) Kerusakan organ internal
d) Adhesi organ viseral
4.

ASUHAN KEPERAWATAN
14

A. Pengkajian
1. Biodata
a) Identitas klien
Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat,
nomor register, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, diagnosa
medis, tindakan medis.
b) Identitas Penanggung jawab
c) Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat,
hubungan dengan klien, sumber biaya.
2. Lingkup Masalah Keperawatan
Keluhan utama : klien dengan post laparatomy ditemukan adanya keluhan nyeri
pada luka post operasi, mual, muntah, distensi abdomen, badan terasa lemas.
3. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat kesehatan sekarang ditemukan pada saat pengkajian yang dijabarkan
dari keluhan utama dengan menggunakan teknik PQRST.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji apakah klien pernah menderita penyakit sebelumnya dan kapan terjadi.
Biasanya klien memiliki riwayat penyakit gastrointestinal.
c) Riwayat kesehatan Keluarga
Kaji apakah ada anggota keluarga yang memiliki penyakit serupa dengan
klien, penyakit turunan maupun penyakit kronis. Mungkin ada anggota
keluarga yang memiliki riwayat penyakit gastrointestinal.
4. Riwayat Psikologi
Biasanya klien mengalami perubahan emosi sebagai dampak dari tindakan
pembedahan seperti cemas.
5. Riwayat Sosial
Kaji hubungan klien dengan keluarga, klien lain, dan tenaga kesehatan. Biasanya
klien tetap dapat berhubungan baik dengan lingkungan sekitar.
6. Riwayat Spiritual
Pandangan klien terhadap penyakitnya, dorongan semangat dan keyakinan klien
akan kesembuhannya dan secara umum klien berdoa untuk kesembuhannya.
Biasanya aktivitas ibadah klien terganggu karena keterbatasan aktivitas akibat
kelemahan dan nyeri luka post operasi.
7. Kebiasaan sehari-hari
Perbandingan kebiasaan di rumah dan di rumah sakit, apakah terjadi gangguan
atau tidak. Kebiasaan sehari-hari yang perlu dikaji meliputi : makan, minum,
eliminasi Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK), istirahat tidur,
personal hygiene, dan ketergantungan. Biasanya klien kesulitan melakukan
aktivitas, seperti makan dan minum mengalami penurunan, istirahat tidur sering
15

terganggu, BAB dan BAK mengalami penurunan, personal hygiene kurang


terpenuhi.
B. Diagnosa
1. Nyeri Akut b/d agen injuri fisik
2. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan
pemasukan nutrisi, faktor biologis
3. Risiko infeksi b/d imunitas tubuh menurun, terpasangnya alat invasif.
4. Kurang perawatan diri b/d kelemahan
5. Kurang Pengetahuan tentang penyakit, diet dan perawatannya b/d mis interpretasi
informasi
C. Rencana Keperawatan
No
1

Diagnosa

Tujuan & Kriteria

Rencana

Keperawatan
Hasil
Keperawatan
Nyeri akut b/d agen Setelah dilakukan Manajemen nyeri :
injuri fisik
Asuhan
1) Kaji
tingkat
nyeri
secara
keperawatan
.
komprehensif
termasuk
lokasi,
jam
tingkat
karakteristik,
durasi, frekuensi,
kenyamanan klien
kualitas dan faktor presipitasi.
meningkat dg KH:
2) Observasi reaksi nonverbal dari
ketidak nyamanan.
Klien melaporkan
teknik
komunikasi
nyeri berkurang 3) Gunakan
terapeutik
untuk
mengetahui
dg scala 2-3
pengalaman nyeri klien sebelumnya.
Ekspresi
wajah
4)
Kontrol faktor lingkungan yang
tenang
mempengaruhi nyeri seperti suhu
Klien
dapat
ruangan, pencahayaan, kebisingan.
istirahat dan tidur
5) Kurangi faktor presipitasi nyeri.
6) Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologis/non farmakologis).
7) Ajarkan teknik non farmakologis
(relaksasi, distraksi dll) untuk
mengetasi nyeri.
8) Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri.
9) Evaluasi tindakan pengurang nyeri /
kontrol nyeri.
10) Kolaborasi dengan dokter bila ada
komplain
tentang
pemberian
analgetik tidak berhasil.
Administrasi analgetik :.
1) Cek program pemberian analogetik;
jenis, dosis, dan frekuensi.
16

Ketidakseimbangan Setelah dilakukan


nutrisi kurang dari asuhan keperawatan
kebutuhan tubuh

jam klien
menunjukan status
nutrisi
adekuat
dengan KH:
1) BB stabil,
2) nilai
laboratorium
terkait normal,
3) tingkat
energi
adekuat,
4) masukan nutrisi
adekuat

Risiko infeksi b/d


imunitas
tubuh
menurun, prosedur
invasive.

Setelah dilakukan
asuhan keperawatan

jam
tidak
terdapat
faktor
risiko infeksi dan
dg KH:
1) Tidak ada tandatanda infeksi

17

2) Cek riwayat alergi.


3) Tentukan analgetik pilihan, rute
pemberian dan dosis optimal.
4) Monitor TTV
5) Berikan analgetik tepat waktu
terutama saat nyeri muncul.
6) Evaluasi efektifitas analgetik, tanda
dan gejala efek samping.
Manajemen Nutrisi
1) Kaji adanya alergi makanan.
2) Kaji makanan yang disukai oleh
klien.
3) Kolaborasi
team
gizi
untuk
penyediaan nutrisi terpilih sesuai
dengan kebutuhan klien.
4) Anjurkan klien untuk meningkatkan
asupan nutrisinya.
5) Yakinkan diet yang dikonsumsi
mengandung cukup serat untuk
mencegah konstipasi.
6) Monitor
jumlah
nutrisi
dan
kandungan kalori.
7) Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi.
Monitor Nutrisi
1) Monitor BB jika memungkinkan
2) Monitor respon klien terhadap
situasi yang mengharuskan klien
makan.
3) Jadwalkan pengobatan dan tindakan
tidak bersamaan dengan waktu klien
makan.
4) Monitor adanya mual muntah.
5) Monitor adanya gangguan dalam
input makanan misalnya perdarahan,
bengkak.
6) Monitor intake nutrisi dan kalori.
7) Monitor kadar energi, kelemahan
dan kelelahan.
Kontrol infeksi :
1) Bersihkan
lingkungan
setelah
dipakai pasien lain.
2) Batasi pengunjung bila perlu.
3) Intruksikan kepada pengunjung
untuk
mencuci
tangan
saat
berkunjung dan sesudahnya.
4) Gunakan sabun anti miroba untuk
mencuci tangan.
5) Lakukan cuci tangan sebelum dan

sesudah tindakan keperawatan.


6) Gunakan baju dan sarung tangan
sebagai alat pelindung.
7) Pertahankan
lingkungan
yang
aseptik selama pemasangan alat.
8) Lakukan dresing infus dan dan
kateter setiap hari Sesuai indikasi
9) Tingkatkan intake nutrisi dan cairan
10) Berikan antibiotik sesuai program.

Sindrom defisit self Setelah dilakukan


care b.d kelemahan askep ......
jam
ADLs terpenuhi dg
KH:
1) Klien
bersih,
tidak bau
2) Kebutuhan
sehari-hari
terpenuhi

18

Proteksi terhadap infeksi


1) Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal.
2) Monitor hitung granulosit dan WBC.
3) Monitor kerentanan terhadap infeksi.
4) Pertahankan teknik aseptik untuk
setiap tindakan.
5) Inspeksi kulit dan mebran mukosa
terhadap kemerahan, panas.
6) Ambil kultur, dan laporkan bila hasil
positip jika perlu.
7) Dorong istirahat yang cukup.
8) Dorong peningkatan mobilitas dan
latihan.
9) Instruksikan klien untuk minum
antibiotik sesuai program.
10) Ajarkan keluarga/klien tentang tanda
dan gejala infeksi.
11) Laporkan kecurigaan infeksi.
Self Care Assistence
1) Bantu ADL klien selagi klien belum
mampu mandiri
2) Pahami semua kebutuhan ADL klien
3) Pahami
bahasa-bahasa
atau
pengungkapan non verbal klien akan
kebutuhan ADL
4) Libatkan klien dalam pemenuhan
ADLnya
5) Libatkan orang yang berarti dan
layanan pendukung bila dibutuhkan
6) Gunakan sumber-sumber atau fasilitas
yang ada untuk mendukung self care
7) Ajari klien untuk melakukan self care
secara bertahap
8) Ajarkan penggunaan modalitas terapi
dan bantuan mobilisasi secara aman
(lakukan
supervisi
agar
keamnanannya terjamin)
9) Evaluasi kemampuan klien untuk
melakukan self care di RS

Kurang
pengetahuan
keluarga
berhubungan
dengan
kurang
paparan
dan
keterbatasan
kognitif keluarga

Setelah dilakukan
askep

jam
pengetahuan
keluarga
klien
meningkat dg KH:
1) Keluarga
menjelaskan
tentang
penyakit,
perlunya
pengobatan
dan
memahami
perawatan
2) Keluarga
kooperativedan
mau kerjasama
saat dilakukan
tindakan

10) Beri reinforcement atas upaya dan


keberhasilan dalam melakukan self
care
Mengajarkan proses penyakit
1) Kaji pengetahuan keluarga tentang
proses penyakit
2) Jelaskan
tentang
patofisiologi
penyakit dan tanda gejala penyakit
3) Beri gambaran tentaang tanda gejala
penyakit kalau memungkinkan
4) Identifikasi penyebab penyakit
5) Berikan informasi pada keluarga
tentang keadaan pasien, komplikasi
penyakit.
6) Diskusikan tentang pilihan therapy
pada keluarga dan rasional therapy
yang diberikan.
7) Berikan dukungan pada keluarga
untuk memilih atau mendapatkan
pengobatan lain yang lebih baik.
8) Jelaskan pada keluarga tentang
persiapan / tindakan yang akan
dilakukan

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Z. 2006. Buku Ajar Ilmu Panyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam.
19

Price A. Sylvia, lorraine M Wilson. 2005. Patofisiologi konsep-konsep klinis prosesproses penyakit, edisi 6, volume 1. Jakarta : EGC
Smeltzer, C. S & Bare, G. B. 2006. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC
Wilkinson, Judith M. Ahren, Nancy R. 2014. Buku Saku Diagnosisi Keperawatan,
Edisi 9. Jakarta : EGC

20