Anda di halaman 1dari 3

Pengungkapan

Entitas mengungkapkan sifat dan jumlah perubahan estimasi akuntansi yang berdampak
pada periode berjalan atau diperkirakan akan berdampak pada periode yang akan datang, kecuali
untuk pengungkapan damapak pada periode yang akan datang ketika tidak praktis untuk
mengestimasi dampak tersebut. Namun, jika jumlah dampak pada periode mendatang tidak
diungkapkan karena estimasinya tidak praktis, maka entitas mengungkapkan fakta tersebut.
Kesalahan
Kesalahan dapat timbul dalam pengakuan, pengukuran, penyajian, atau pengungkapan
unsur-unsur laporan keuangan. Laporan keuangan akan menjadi tidak sesuai dengan SAK jika
mengandung kesalahan material atau tidak material yang disengaja untuk mencapai suatu
penyajian posisi keuangan, kinerja keuangan, atau arus kas tertentu entitas. Potensi kesalahan
yang ditemukan pada periode berjalan dikoreksi sebelum laporan keuangan diselesaikan. Namun,
untuk kesalahan material yang terkadang tidak dapat ditemukan hingga periode selanjutnya dan
kesalahan periode sebelumnya dikoreksi pada informasi komparatif sajian pada laporan
keuangan periode selanjutnya.
Entitas mengoreksi kesalahan material periode sebelumnya secara retrospektif pada laporan
keuangan lengkap pertama yang diterbitkan setelah ditemukannya kesalahan dengan menyajikan
kembali jumlah komparatif untuk periode sebelumnya yang disajikan dimana kesalahan itu
terjadi atau jika kesalahan terjadi sebelum periode sajian paling awal, maka entitas menyajikan
kembali saldo awal aset, liabilitas, dan ekuitas untuk periode sebelumnya sajian paling awal.
Dalam penyajian kembali secara retrospektif atas kesalahan material pada periode
sebelumnya entitas dibatasi bahwa kesalahan periode sebelumnya dikoreksi dengan menyajikan
kembali secara retrospektif kecuali sepanjang tidak praktis untuk menentukan dampak spesifik
periode atau dampak kumulatif kesalahan. Jika tidak praktis untuk menentukan dampak spesifik
periode dari kesalahan pada informasi komparatif untuk satu atau lebih periode sajian, maka
entitas menyajikan kembali saldo pembuka aset, liabilitas, dan ekuitas untuk periode paling awal
di saat penyajian kembali retrospektif adalah praktis.
Kemudian jika tidak praktis dalam menentukan dampak kumulatif pada awal periode
berjalan dari kesalahan pada seluruh periode sebelumnya, maka entitas menyajikan kembali
informasi komparatif untuk mengoreksi kesalahan secara prospektif dari tanggal praktis paling
awal. Koreksi kesalahan pada periode sebelumnya tidak termasuk dari laba rugi periode dimana
kesalahan ditemukan. Setiap informasi sajian atas periode sebelumnya termasuk ringkasan data
historis disajikan kembali sejauh mungkin ke belakang selama hal itu praktis. Kemudian jika
tidak praktis dalam menentukan jumlah kesalahan (misal: kesalahan penerapan kebijakan
akuntansi) untuk periode sebelumnya, maka entitas menyajikan kembali informasi secara
prospektif sejak tanggal praktis paling awal. Hal ini mengabaikan porsi kumulatif penyajian
kembali aset, liabilitas, dan ekuitas sebelum tanggal praktis paling awal.
Koreksi kesalahan berbeda dengan perubahan estimasi akuntansi di mana estimasi
akuntansi yang sesuai dengan sifatnya merupakan perkiraan yang perlu direvisi akibat tambahan
informasi yang diketahui kemudian. Sebagai contoh, keuntungan atau kerugian yang diakui

akibat hasil suatu kontinjensi adalah bukan koreksi kesalahan. Dalam menerapkan penyajian
kembali secara retrospektif atas koreksi kesalahan periode sebelumnya, entitas mengungkapkan
hal-hal berikut:
a. Sifat dari kesalahan periode sebelumnya
b. Jumlah koreksi untuk setiap periode sajian, sepanjang praktis:
i. Untuk setiap pos-pos laporan keuangan yang tepengaruh
ii. Laba per saham dasar dan dilusian (Jika PSAK 56: Laba Per Saham diterapkan)
c. Jumlah koreksi pada awal periode sajian paling awal
d. Jika penyajian kembali secara retrospektif tidak praktis untuk suatu periode
sebelumnya, keadaan yang membuat keberadaan kondisi itu dan penjelasan bagaimana
dan sejak kapan kesalahan telah dikoreksi.
Laporan periode selanjutnya tidak perlu mengulangan pengungkapan ini.
Ketidakpraktisan Penerapan Retrospektif dan Penyajian Kembali Retrospektif
Dalam suatu keadaan tertentu merupakan keadaan yang tidak praktis untuk menyesuaikan
informasi komparatif untuk satu atau lebih periode sebelumya untuk mencapai daya banding
dengan periode berjalan. Misalnya, data belum diperoleh pada periode sebelumnya dengan suatu
cara yang memungkinkan baik penerapan retrospektif suatu kebijakan akuntansi baru maupun
penyajian kembali untuk mengoreksi kesalahan pada periode sebelumnya dan tidak praktis untuk
mencipta ulang informasi tersebut.
Dalam menerapkan suatu kebijakan akuntansi untuk unsur laporan keuangan yang diakui
atau disajikan atas transaksi, peristiwa atau kondisi lain seringkali diperlukan pembuatan
estimasi. Estimasi secara melekat bersifat subyektif dan estimasi mungkin dikembangkan setelah
periode pelaporan. Mengembangkan estimasi berpotensi lebih sulit ketika menerapkan kebijakan
akuntansi atau penyajian kembali retrospektif untuk mengoreksi kesalahan pada periode
sebelumnya. Hal ini dapat terjadi karena semakin panjangnya periode waktu yang lebih telah
berlaku sejak terjadinya transaksi, peristiwa, atau kondisi lain. Namun, tujuan estimasi periode
sebelumnya adalah sama dengan estimasi yang dilakukan pada periode berjalan, yaitu agar
estimasi dapat mencerminkan keadaan yang ada ketika terjadinya transaksi, peristiwa atau
kondisi lain.
Oleh karena hal itu, penerapan retrospektif kebijakan akuntansi baru atau koreksi kesalahan
periode sebelumnya mensyaratkan pembedaan informasi yang menyediakan bukti keadaan yang
ada pada tanggal terjadinya transaksi, peristiwa, atau kondisi lainnya serta tersedia ketika
penyelesaian laporan keuangan periode sebelumnya dari informasi lainnya. Namun, untuk
beberapa jenis estimasi seperti pengukuran nilai wajar yang menggunakan input yang tidak dapat
diobservasi yang signifikan, maka akan menjadi tidak praktis untuk membedakan jenis-jenis
informasi ini. Ketika penerapan retrospektif atau penyajian kembali retrospektif memerlukan
estimasi signifikan sehingga tidak mungkin untuk membedakan kedua jenis informasi ini, maka
menjadi tidak praktis untuk menerapkan kebijakan akuntansi baru atau koreksi kesalahan periode
sebelumnya secara retrospektif.

Ketika menerapkan kebijakan akuntansi baru atau koreksi jumlah periode sebelumnya,
peninjauan ke belakang tidak digunakan. Entitas juga tidak membuat asumsi maksud manajemen
yang terjadi di periode sebelumnya atau estimasi jumlah yang diakui, diukur, atau diungkapkan
pada periode sebelumnya. Misalnya, ketika entitas mengoreksi kesalahan periode sebelumnya
dalam pengukuran aset keuangan yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai dimiliki hingga jatuh
tempo sesuai dengan PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, entitas tidak
mengubah dasar pengukuran untuk periode sebelumnya jika manajemen memutuskan kemudian
untuk tidak memiliki instrumen keuangan hingga jatuh tempo. Sebagai tambahan, ketika entitas
mengoreksi kesalahan periode sebelumnya dalam perhitungan liabilitas atas cuti sakit
terakumulasi pegawai sesuai dengan PSAK 24: Imbalan Kerja, maka entitas mengabaikan
informasi musim influenza akut tidak normal selama periode mendatang yang informasinya
tersedia setelah tanggal penyelesaian laporan keuangan periode sebelumnya. Fakta bahwa
estimasi signifikan adalah sering disyaratkan ketika mengubah informasi komparatif sajian untuk
periode sebelumnya tidak mencegah penyesuaian atau koreksi yang andal atas informasi
komparatif.
Entitas menerapkan pernyataan ini untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau
setelah tanggal 1 Januari 2011. Namun untuk penerapan retrospektif kebijakan akuntansi baru
atau koreksi kesalahan periode sebelumnya, entitas menyesuaikan secara prospektif dan
penyesuian secara retrospektif atas kesalahan periode sebelumnya untuk periode tahun buku
yang dimulai pada atau setelah 1 Januri 2015.