Anda di halaman 1dari 10

PEMBAHASAN IR

Pengujian dengan FTIR (Fourier Transform Infra Red Spectroscopy) dilakukan untuk
mengetahui gugus fungsi penyusun dari bioplastik melalui spektrum inframerah yang
dihasilkan (Delvia, 2006). Berdasarkan spektrum inframerah yang dihasilkan oleh bioplastik
dapat diidentifikasi gugus fungsi yang terdapat dalam bioplastik adalah sebagai berikut :
Bilangan gelombang (cm-1)
Bioplastik Bioplastik Bioplastik
mesh 60
mesh 100
mesh 200
3361,02
3352,34
3368,73
2926,06
2927,03
2927,03
1653,02

1653,02

1653,02

1525,72
1162,13
1059,90

1521,85
1162,13
1059,90

1506,43
1162,13
1080,87

Gugus fungsi
O-H stretching
C-H stretching
C=O
stretching
N-H bending
C-O
C-N

Pustaka
(Silverstein et al.,
2005)
3550-3200
3000-2840
1870-1540
1650-1515
1260-1000
1250-1020

Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa bioplastik yang dihasilkan dari
selulosa rumput gajah mempunyai gugus fungsi yang terdiri dari gugus O-H, C-H, C=O, NH, C-O, dan C-N. Gugus fungsi tersebut merupakan gugus fungsi dari komponen-komponen
penyusun bioplastik, yang terdiri dari gugus fungsi C-H, C-O dan O-H yang dimiliki
selulosa; gugus fungsi C-H, C-O, O-H, N-H, dan C-N yang dimiliki kitosan; gugus fungsi CH, C-O , dan O-H yang dimiliki oleh gliserol; gugus fungsi C-H, C-O, O-H, dan C=O yang
dimiliki oleh oleum ricini; serta gugus fungsi C-H, C-O dan O-H yang juga dimiliki oleh pati.
Oleh sebab itu, dapat diketahui bahwa dalam pembuatan bioplastik hanya terjadi
pencampuran komponen secara fisika sehingga tidak ditemukan gugus fungsi baru dalam
bioplastik. Menurut Darni et al. (2009), bioplastik tersebut mempunyai sifat yang sama
seperti komponen-komponen penyusunnya.

PEMBAHASAN SIFAT MEKANIK


Sifat mekanik yang umumnya menjadi standar kekuatan dari suatu bioplastik
diantaranya adalah kuat tarik, modulus elatisitisitas atau modulus young dan perpanjangan
putus atau elongasi. Sifat mekanik dari bioplastik dipengaruhi oleh komponen-komponen
penyusunnya yang terdiri dari selulosa, kitosan, pati, gliserol dan oleum ricini. Kekuatan
mekanik dari bioplastik juga dipengaruhi oleh affinitas atau ikatan kimia antar komponen
penyusunnya. Ikatan kimia yang kuat tergantung pada jumlah dan jenis ikatannya, semakin
kuat ikatan tersebut maka semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk memutuskannya
(Ban et al., 2006). Selain itu, menurut Zimmermann et al. (2004) ukuran atau diameter serat
selulosa juga memengaruhi kekuatan mekanik dari serat selulosa dalam bioplastik.
1. Kuat tarik (Tensile strength)
Kuat tarik (Tensile Strength) adalah gaya tarik maksimum yang dapat ditahan oleh
film selama pengukuran berlangsung sampai bioplastik mulai terputus (Meilina et al., 2011).
Kemampuan bioplastik dalam melindungi produk dari tekanan yang terjadi selama proses
penyimpanan dan transportasi akan meningkat seiring dengan meningkatnya kuat tarik dari
bioplastik dan kerusakan mekanis pada produk dapat dihindari atau dikurangi (Nurminah,
2009). Kuat tarik dari suatu bioplastik salah satunya dipengaruhi ukuran partikel komponen
penyusunnya (Darni, 2011).

12

9.93

10.62

10
8
Kuat tarik (Mpa)

6.31

6
4
1

2
0
Bioplastik Mesh 60

Bioplastik Mesh 100

Bioplastik Mesh 200

Gambar 4.10 Grafik hasil uji kuat tarik bioplastik variasi ukuran selulosa
Berdasarkan grafik uji kuat tarik bioplastik diatas, diketahui bahwa bioplastik dengan
ukuran partikel selulosa terkecil atau hasil pengayakan mesh No. 200 mempunyai kuat tarik
yang paling tinggi dibandingkan bioplastik dengan ukuran selulosa hasil pengayakan mesh
No.60 dan 100. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Subyakto et al.
(2009), dimana semakin kecil diameter atau ukuran selulosa maka semakin besar nilai kuat
tariknya. Ukuran partikel yang lebih kecil akan mempunyai luas permukaan yang lebih besar
dan kemampuan untuk tersebar homogen dengan pengisi bioplastik lainnya yang lebih baik,
sehingga rongga pada bioplastik akan berkurang dan interaksi antar komponen pengisi
bioplastik akan semakin kuat (Waluyo et al., 2000; Lu and Kessler, 2013; Zhang et al., 2011).
Kuatnya interaksi antar komponen tersebut menyebabkan semakin besar energi yang
dibutuhkan untuk mencapai tarikan maksimum dari bioplastik sehingga nilai kuat tarik dari
bioplastik pun akan meningkat (Stark and Berger, 1997).

2. Modulus Elastisitas (Modulus Young)


Modulus elastisitas atau yang disebut dengan modulus young adalah ukuran kekakuan
dari suatu bahan yang dapat diperoleh dengan perbandingan kuat tarik (Tensile strength) dan
perpanjangan putus (Elongation at break) (Darni dan Utami, 2010). Menurut Hameed (2012),
nilai Modulus Young yang kecil menunjukkan bahan yang fleksibel dan nilai Modulus Young
yang besar menunjukkan bahan yang kekakuan dan kegetasan (stiffness and rigidity).

400
350

355.92

346.94
293.56

300
250
Modulus elastisitas (MPa)

200
150
100
50

0
Bioplastik Mesh 60

Bioplastik Mesh 100

Bioplastik Mesh 200

Gambar 4.11 Grafik hasil uji modulus elastisitas bioplastik variasi ukuran selulosa
Berdasarkan grafik tersebut, diketahui bahwa bioplastik dengan ukuran selulosa hasil
pengayakan mesh 200 mempunyai nilai modulus elatisitas terbesar dibandingkan dengan
bioplastik dengan ukuran selulosa mesh 60 dan mesh 100, walaupun nilai modulus elastisitas
dari bioplastik mengalami penurunan pada ukuran selulosa mesh 100 dan meningkat kembali
pada ukuran selulosa mesh 200. Pada umumnya, semakin kecil ukuran partikel yang
digunakan akan menghasilkan nilai modulus elastisitas yang meningkat karena semakin besar

luas permukaan yang menahan beban sehingga bahan menjadi lebih kaku (Putri, 2009).
Penurunan nilai modulus elastisitas pada ukuran selulosa mesh 100 tersebut kemungkinan
disebabkan oleh penyebaran selulosa yang kurang sempurna atau tidak merata, dimana
selulosa berfungsi sebagai penguat yang dapat meningkatkan kekakuan bioplastik (Setyawati
et al., 2006; Oroh et al., 2013). Walaupun demikian, pada penelitian yang dilakukan oleh
Wardani et al. (2013) dan Setyawati et al. (2006) menyatakan bahwa ukuran partikel tidak
berpengaruh nyata terhadap nilai modulus elastisitas.

3. Perpanjangan putus (Elongation at break)


Perpanjang putus (elongation at break) atau proses pemanjangan merupakan perubahan
panjang maksimum pada saat terjadi peregangan hingga sampel terputus (Widyaningsih et
al., 2012). Besarnya nilai elongasi menentukan keuletan (ductility) dari suatu material, bila
nilainya sangat kecil atau mendekati 0 maka material tersebut merupakan material yang rapuh
(Van Vlack, 2004).
13.22

14

11.25

12
10
Perpanjangan putus (%)

8
6

5.27

4
1

2
0
Bioplastik Mesh 60

Bioplastik Mesh 100

Bioplastik Mesh 200

Gambar 4.12 Grafik hasil uji perpanjangan putus bioplastik variasi ukuran selulosa

Grafik tersebut menunjukkan bahwa % perpanjangan putus dari bioplastik meningkat


pada bioplastik dengan ukuran selulosa mesh 100 dan menurun pada bioplastik dengan
ukuran selulosa mesh 200. Pada penelitian yang dilakukan Genevive et al. (2011) dan
Bouafif et al. (2008), nilai perpanjangan putus meningkat seiring dengan menurunnya ukuran
partikel komponen yang digunakan. Semakin kecil ukuran partikel, maka semakin besar luas
permukaannya dan mampu tersebar secara homogen dengan pengisi bioplastik lainnya
(Waluyo et al., 2000; Lu and Kessler, 2013). Hal tersebut akan meningkatkan jumlah
interaksi selulosa dengan komponen pengisi lain dalam bioplastik (Zhang et al., 2011).
Peningkatan interaksi berupa ikatan hidrogen yang terbentuk akibat plasticizer mengisi
bagian pori-pori pada bioplastik menyebabkan peningkatan pada nilai perpanjangan putus
(elongasi) dari bioplastik (Bahmid et al., 2014). Penurunan % perpanjangan putus pada
bioplastik ukuran mesh No.200 dapat terjadi kemungkinan disebabkan oleh penyebaran
selulosa yang kurang sempurna sehingga masih terdapat gumpalan partikel selulosa mesh 200
yang kemudian akan menyebabkan kegagalan pada bagian tertentu yang bisa menyebarkan
keretakan atau patah pada bioplastik (Setyawati et al., 2006; Jufri, 2011).

Berdasarkan data hasil pengujian yang didapatkan, dapat dilakukan perbandingan


antara bioplastik yang dihasilkan dengan bioplastik yang sudah beredar di pasaran dan plastik
konvensional.
Tabel 4.5 Perbandingan sifat mekanik dan sifat fisik plastik (Pandey et al., 2010; Averous,
2009; Vidhate, 2011)
Sampel

Densitas

Bioplastik mesh 60
Bioplastik mesh 100
Bioplastik mesh 200
PLA
PHBV
PCL
PEA
PBSA
PBAT

0,98
1,04
1,19
1,25
1,25
1,11
1,07
1,23
1,21

PP

0,90

PET

1,37

Keterangan : PLA
PEA
PHBV

Swellin
Kuat
g
Tarik
(%)
(MPa)
Bioplastik
45,1
6,31
43,1
9,93
40,0
10,62
172
51,7
21,0
33
177
14
17
330
19
550
9
Plastik Konvensional
0,01
24,7302
0,15
45,22

Modulus Perpanjangan
Elastisitas
Putus (%)
(MPa)
346,9
293,6
355,9
2050
190
262
249
249
900

5,27
13,22
11,25
9
15
>500
420
>500
>500

1430

21-220

2,7

125

= Polylactic acid
= Polyesteramide
= Polyhydroxybutyrate co-hydroxyvalerates

PCL
PBSA
PBAT
PP
PET

= Poly (-caprolactone)
= Polybutylene succinate/adipate
= Polybutylene adhypate-co-terphtalate
= Polypropylene
= Polyethylene terepthalate

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa bioplastik yang dihasilkan pada
penelitian ini telah mempunyai nilai densitas yang sangat mendekati nilai densitas dari
bioplastik yang telah beredar dipasaran dan plastik konvensional, terutama bioplastik dengan
ukuran selulosa mesh 200. Berdasarkan nilai swelling bioplastik rumput gajah yang tinggi
dan dapat mempercepat proses degradasi plastik, pencampuran bioplastik hasil penelitian ini
dengan plastik konvensional seperti PET dan PP dapat dilakukan untuk meningkatkan
biodegradabilitas dari plastik konvensional sehingga lebih ramah lingkungan. Sedangkan
berdasarkan hasil sifat mekanik dari bioplastik yang dihasilkan tersebut, dapat dijadikan
acuan untuk memperbaiki bioplastik yang sudah ada, seperti dengan cara pencampuran
bioplastik yang dihasilkan dengan bioplastik PLA yang dapat menurunkan modulus elastisitas
atau sifat kekakuan yang tinggi dari bioplastik PLA.

PEMBAHASAN UJI BIODEGRADASI


Pengujian biodegradasi bioplastik adalah suatu pengujian yang dilakukan untuk
mengetahui bahwa suatu bioplastik dapat terdegradasi di lingkungan dengan baik (Ummah,
2013). Metode yang digunakan adalah metode penanaman sampel dalam tanah atau metode
soil burial test (Subowo dan Pujiastuti, 2003). Pada pengujian yang dilakukan digunakan
bakteri EM4 (Effective Microorganism) yang dapat menghasilkan enzim yang mampu
mendegradasi bioplastik dengan cara memutus rantai polimer menjadi monomermonomernya, sehingga dihasilkan senyawa organik yang aman terhadap lingkungan seperti
asam amino, asam laktat, gula, alkohol, vitamin, protein dan senyawa lainnya (Higa dan
Wididana, 1996). Pemutusan rantai polimer tersebut akan menyebabkan kehilangan berat
pada bioplastik (Tyasning dan Masykuri, 2012). Analisis data dilakukan dengan mengkaji
pengaruh lama waktu penanaman terhadap persen kehilangan berat spesimen bioplastik.
42.96

45

37.08
36.06

40
35
27.36
30 25.75
25.09

31.83
28.61
27.42

25
% Kehilangan bobot

20
15
10
5
0

Bioplastik Mesh 60

2 minggu

4 minggu

Bioplastik Mesh 100

6 minggu

80minggu
0 0

Bioplastik Mesh 200

Gambar 4.13 Grafik hasil uji biodegradasi bioplastik variasi ukuran selulosa
Berdasarkan grafik tersebut, persen kehilangan bobot dari masing-masing bioplastik
pada 2 minggu pertama belum dapat menunjukkan pengaruh ukuran partikel terhadap persen

kehilangan berat bioplastik. Tetapi pada 2 minggu selanjutnya dan seterusnya, diketahui
bahwa ukuran partikel selulosa berpengaruh terhadap persen kehilangan bobot pada
bioplastik. Semakin kecil ukuran partikel selulosa yang digunakan dalam bioplastik maka
semakin kecil pula persen kehilangan berat akibat degradasi dari bioplastik. Hal ini
disebabkan karena bioplastik dengan ukuran selulosa yang lebih kecil mempunyai kerapatan
yang tinggi yang menyebabkan air sulit berdifusi ke dalam bioplastik dan nilai penyerapan
airnya menjadi rendah. Semakin rapat penyusun bioplastik dan semakin rendah kandungan
air yang merupakan media pertumbuhan bakteri dalam bioplastik maka semakin sulit kerja
bakteri EM4 untuk menguraikan dan mendegradasi partikel-partikel penyusun bioplastik,
sehingga laju degradasi bioplastik pun akan semakin kecil (Utomo et al., 2013). Data hasil
pengujian biodegradasi lengkap bioplastik dapat dilihat pada LAMPIRAN 9.
Menurut standar Eropa EN 13432 dan EN 14995, suatu bioplastik dianggap
biodegradable jika terdegradasi tidak kurang dari 90 % dalam waktu 6 bulan ( 180 hari )
(Muniyasamy, 2013). Sedangkan bioplastik berbasis selulosa dari rumput gajah telah
mempunyai kemampuan degradasi ......% atau bioplastik telah terdegradasi lebih dari
setengahnya selama ... minggu. Dengan kata lain, bioplastik ini dapat dikatakan telah
memenuhi standar tersebut untuk dikatakan biodegradable.