Anda di halaman 1dari 8

PENGGUNAAN METODE DEFORMALINISASI

UNTUK MENGHILANGKAN FORMALIN PADA


IKAN ASIN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Matakuliah Bahasa
Indonesia yang dibina oleh Dra. Umi Salamah, M.Pd

Oleh
Yoang Enggaling Sarosa
M. Fathoni Aziz
Sella Fiarga P
Fithri Ainin Ridlo
Lailatus Saidah

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
November 201

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini banyak penjual makanan yang sudah tidak memiliki sifat entrepreneur yang
baik, terbukti dengan semakin banyaknya para penjual yang melakukan kecurangan-kecurangan
yang merugikan bagi konsumen sendiri. Para penjual sudah tidak peduli lagi dengan dampak
yang mereka perbuat dan hanya mementingkan keuntungan pribadi. Banyak sekali para penjual
yang menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya untuk bahan baku apa yang mereka jual.
Contohnya saja penjual ikan asin yang menggunakan tawas dan formalin sebagai pengawet.
Bahan-bahan tersebut merupakan bahan kimia yang tidak baik bagi kesehatan tubuh jika terusmenerus dikonsumsi.
Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium yang dilakukan Balai Besar
Pengawasan Obat dan Makanan (POM) di Jakarta, ditemukan sejumlah produk pangan seperti
ikan asin, mi basah, dan tahu yang memakai formalin sebagai pengawet. Produk pangan
berformalin itu dijual di sejumlah pasar dan supermarket di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor,
dan Bekasi. Adanya bahan aditif dan pengawet berbahaya dalam makanan ini sebenarnya sudah
lama menjadi rahasia umum. Tetapi masalah klasik tersebut kembali menjadi pembicaraan
hangat karena temuan Balai POM. Fakta ini lebih menyadarkan masyarakat bahwa selama ini
terdapat bahaya formalin yang mengancam kesehatan yang berasal dari konsumsi makanan
sehari-hari.
Pada dasarnya formalin dalam kehidupan sehari-hari memiliki banyak manfaat. Di sektor
industri sendiri Formaldehid memiliki banyak kegunaan, seperti anti bakteri atau pembunuh
kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi
lalat dan berbagai serangga lain. Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras
lapisan gelatin dan kertas. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea, bahan pembuatan produk
parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin
juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu sebagai
bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yag sangat kecil (<1
persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah
tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Di
industri perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik
ikan. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat
ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun
bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah, sehinggga terkadang ikan yang diobati malah
mati akibat formalin daripada akibat penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam
pengawetan specimen ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedokteran
formalin digunakan untuk pengawetan mayat manusia untuk dipakai dalam pendidikan
mahasiswa kedokteran. Besarnya manfaat di bidang industri ini ternyata disalah gunakan untuk

pengawetan industri makanan. Hasil penelitian menyebutkan bahwasanya penyalahgunaan


formalin sering ditemukan dalam industri rumahan, karena mereka tidak terdaftar dan tidak
terpantau oleh Depkes dan Balai POM setempat.
Banyak ibu rumah tangga mulai meresahkan hal tersebut, jelas saja sebagai ibu rumah
tangga merekalah yang bertanggung jawab dengan segala urusan dapur. Mereka yang setiap pagi
pergi kepasar untuk membeli bahan yang akan diolah di rumah dan akan disajikan kepada
keluarga tercinta. Namun dengan adanya penjual-penjual yang melakukan kecurangan seperti
yang dikatakan diatas sedikit banyak akan membuat para ibu waswas dalam membeli bahan
baku, terutama ikan asin. Padahal ikan asin adalah salah satu sumber protein yang bagus untuk
pertumbuhan anak. Untuk itu para ibu harus mengerti tentang bahaya bahan kimia seperti
formalin bagi kesehatan tubuh, para ibu juga harus slalu waspada dengan ikan asin yang akan
dibeli. Sehingga para ibu dapat menyajikan masakan ikan asin tanpa bahan pengawet di meja
makan masing-masing dan juga telah melindungi anggota keluarga dari dampak yang akan
timbul jika mengonsumsi formalin.
Disamping mengetahui bahaya formalin bagi kesehatan kita juga dapan menghilangkan
kandugan formalin yang ada di dalam ikan asin dengan menggunakan metode deformalinisasi.
Metode inilah yang nantinya dapat banyak diaplikasikan oleh para ibu rumah tangga, sehingga
kemungkinan untuk mengkonsumsi ikan asin berformalin semakin kecil.
Para penulis ingin memaparkan sedikit tentang ikan asin yang berformalin dan
bagaimana cara menghilangkannya sehingga dapat memberikan informasi kepada para pembaca.
1.2 Perumusan Masalah
a. Apa bahaya ikan asin berformalin bagi tubuh?
b. Apa perbedaan antara ikan asin yang berformalin dengan yang tidak mengandung
formalin?
c. Bagaimana cara menghilangkan kandungan formalin pada ikan asin?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui bahaya ikan asin berformalin bagi tubuh
b. Mengetahui perbedaan ikan asin berformalin dengan ikan asin yang tidak berformalin
c. Mengetahui cara menghilangkan kandungan formalin pada ikan asin

1.4 Manfaat
a. Makalah ini diharapkan bisa dijadikan sumber bacaan bagi masyarakat khususnya untuk
para ibu rumah tangga, sehingga dapat mengetahui bahaya dari formalin tersebut.
b. Kita dapat mengetahui perbedaan ikan asin yang mengandung formalin dan ikan asin
yang tidak mengandung formalin
c. Masyarakat khususnya ibu rumah tangga dapat menggunakan cara tersebut untuk
mensiasati ikan asin berforalin

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bahaya ikan asin berformalin bagi tubuh

Formalin adalah formaldehida yang dilarutkan dalam air. Formaldehida ditemukan


August Wilhelm von Hofman pada tahun 1868 ketika ia mengalirkan uap methanol dan air di
atas spiral platinum yang panas. Namun, pada tahun 1988telah diketemukan bawa fungsi
formaldehida adalah sebagai disinfektan (pembasmi kuman). Formaldehida dapat menghambat
enzim DNAse yang menyebabkan proses dekomposisi(perusakan) DNA sehingga formaldehida
digunakan sebagai bahan pengawet. Dengan terhambatnya kerja DNAse, membran sel menjadi
stabil dan perusakan sel (cell lysis) tidak terjadi. Formaldehida juga dapat membuat jembatan
amine yang menghubungkan asam amino satu dengan yang lain, sehingga bisa mengganggu
metabolisme sel hidup. Inilah sebabnya formaldehida sangat ampuh membunuh kuman-kuman
dan sering digunakan sebagai disinfektan.

Kemampuan formaldehida dalam mengawetkan dan membunuh kuman, menyebabkan


penyalahgunaannya sebagai bahan pengawet makanan seperti ikan asin. Seperti kita ketahui,
mikroba dapat tumbuh dengan subur dan pesat di lingkungan berprotein tinggi. Pedagang
menggunakan formaldehida untuk mengawetkan ikan yang mereka jual di pasar, sehingga tidak
cepat rusak dan tidak dikerumuni lalat.
Formalin menyerang kelenjar mukosa pada tubuh manusia, sentuhannya menimbukan
iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh NCI
(National Cancer Institute) di Amerika menunjukkan bahwa para petugas anatomis (pembuat
preparat biologi dari makhluk hidup untuk penelitian) atau yang bekerja di pengawetan mayat,

lebih beresiko terkena kanker otak dan leukemia. Penelitian lain juga menunjukkan kaitan
formaldehida dengan resiko kanker saluran pernafasan (hidung dan tenggorokan).
Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu mulut dan pernapasan.
Sebetulnya, sehari-hari kita menghirup formalin dari lingkungan sekitar. Polusi yang dihasilkan
oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau tidak mau kita hirup, kemudian
masuk ke dalam tubuh. Asap rokok atau air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya juga
mengandung formalin. Namun, sekarang telah marak makanan berformalin yang beredar di
pasaran. Hal tersebut mengakibatkkan meningkatnya jumlah formalin yang masuk kedalam
tubuh manusia. Contohnya penggunaan formalin pada ikan asin.
Banyak ikan asin yang mengandung formalin menimbulkan efek negatife bagi yang
mengkonsumsinya. Para pedagang yang tidak megetahui bahaya formalin menyebabkan
kesadaran untuk tidak menggunakan bahan formalin sebagai bahan campuran dari ikan asin
sangat rendah. Formalin sangat berbahaya jika dihirup, mengenai kulit dan tertelan. Jika
dikonsumsi dalam jangka panjang maka formadehid dapat merusak hati, ginjal, limpa, pankreas,
dll. Pada dosis rendah formalin dapat mengakibatkan sakit perut akut yang menyebabkan
muntah-muntah, timbulnya depresi pada susunan syaraf, dan juga terjadinya kegagalan pada
peredaran darah. Sedangkan pada dosis tinggi formalin dapat menyebabkan kejang-kejang,
kencing darah, tidak dapat kencing dan juga muntah darah, bahkan juga dapat menyebabkan
kematian.

2.2 Ciri-ciri ikan asin yang mengandung formalin


Pada saat kita akan membeli ikan asin, sebenarnya kita dapat mengetahui apakah ikan
asin tersebut mengandung formalin atau tidak. Namun untuk membedakaannya memang
dibutuhkan ketelitian. Untuk membedakannya masyarakat dapat menguji sendiri dengan alat
yang sederhana. Tes kit formalin tersebut berwujud kertas indikator yang akan berubah warna
ketika dicelupkan ke dalam air bilasan makanan yang mengandung formalin. Bila bagian kertas
berubah ungu, maka makanan yang dites dapat dipastikan diproduksi menggunakan formalin.
Hingga kini tes kit masih diakui memiliki kepekaan tinggi. Semakin besar kandungan formalin
dalam produk makanan, perubahan warna setelah dicelupkan ke air bilasan akan semakin jelas.
Pengujian kandungan formalin pada ikan asin juga dapat dilakukan dengan menggunakan larutan
kunir. Mula-mula kunir diparut dan kemudian di peras, air kunir inilah yang kemudian diberi
sempel makanan yang akan diuji. Jika air kunir berubah menjadi merah atau jingga, maka sempel
tersebut positif mengandung formalin. Semakin pekat warna yang timbul, maka kadar formalin
yang terdapat pada sempel tersebut juga semakin tinggi.
Pada ikan asin yang mengandung formalin, ikan tesebut tidak akan rusak sampai tiga
hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius), warna insang merah tua dan tidak cemerlang (bukan
merah segar), warna daging ikan putih bersih, bau menyengat, bau formalin, dan kulit terlihat
cerah mengkilat, daging kenyal, ikan berformalin dijauhi lalat, dan tidak terasa bau amis ikan.
Ikan asin berformalin biasanya lebih kenyal sehingga jika dilemparkan ke lantai agak cenderung
terpental.

2.3 Cara Menghilangkan Kandungan Formalin Pada Ikan Asin


Cara menghilangkan kandungan formalin pada ikan asin adalah menggunakan metode
deformalinisasi. Deformalinisasi dilakukan dengan cara merendam ikan asin pada 3 macam
larutan yaitu: air, air garam, dan air teri secara bergantian. Perendaman dalam air selama 60
menit mampu menurunkan kadar formalin sampai 61,25% dan dengan air leri mencapai 66,03%
sedang pada air garam hingga 89,53%. Semakin lama ikan asin direndam, maka kandungan
formalin yang ada di dalamnya akan semakin berkurang.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan kajian tentang formalin pada ikan asin maka dapat disimpulkan bahwasanya:
a. Ikan asin yang mengandung formalin sangat berbahaya bagi tubuh, terutama jika
dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama.
b. Perbedaan pada ikan yang berformalin dan tidak dapat dilihat dari bentuk ikan itu sendiri
dan juga dari baunya. Juga dapat menggunakan beberapa metode tes yang sederhana.

c. Menghilangkan kandungan formalin pada ikan asin dapat dilakukan dngan metode
deformalinisasi yaitu, merendam ikan pada air, air garam, dan air teri.

3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, disarankan untuk para konsumen terutama ibu rumah tangga
yang membeli ikan asin untuk lebih berhati-hati dengan adanya ikan asin berformalin. Sebab
ikan asin yang mengandung formalin sangat merugikan kesehatan tubuh. Dan dapan
mengaplikasikan metode deformalinisasi dalam kehidupan sehari-hari.