Anda di halaman 1dari 6

D.

Zat Pengatur Tumbuh


Berkembangnya pengetahuan biokimia dan dengan majunya industri
kimia, maka ditemukan banyak senyawasenyawa yang mempunyai
pengaruh fisiologis yang serupa dengan hormon tanaman. Senyawasenyawa
sintetik ini pada umumnya dikenal dengan nama zat pengatur tumbuh
tanaman (ZPT = Zat Pengatur Tumbuh atau Plant Growth Regulator). Zat
pengatur tumbuh adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam
konsentrasi rendah dapat mendorong, menghambat, atau secara kualitatif
mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Widyastuti dan
Tjokrokusumo, 2006). Zat Pengatur Tumbuh adalah hormon sintetis yang
ditambahkan dari luar tubuh tanaman. Zat ini berfungsi untuk merangsang
pertumbuhan misalnya pada pertumbuhan akar, pertumbuhan tunas, proses
perkecambahan, dan lain sebagainya (Hendaryono dan Wijayani, 1994).
Zat pengatur tumbuh dalam tanaman terdiri dari 5 (lima) kelompok
yaitu auksin, giberelin, sitokinin, etilen, dan inhibitor dengan ciri khas dan
pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologi (Abidin,1994). Auksin
merupakan istilah umum untuk substansi pertumbuhan yang khususnya
merangsang perpanjangan sel, tetapi auksin juga menyebabkan suatu kisaran
respon pertumbuhan yang agak berbeda-beda. Sejumlah substansi alami
menunjukkan aktivitas auksin, tetapi yang dominan yang pertama kali
ditemukan dan diidentifikasi ialah Asam Indole Asetat (IAA). IAA terdapat di
akar dengan konsentrasi yang hampir sama dengan di bagian tumbuhan
lainnya. Pada tahun 1930-an dikemukakan bahwa pemberian auksin memacu
pemanjangan potongan akar atau bahkan akar utuh pada banyak spesies tapi
hanya pada konsentrasi yang sangat rendah tergantung spesies dan umur
tanaman. Pada konsentrasi yang tinggi, pemberian auksin dapat menghambat
pertumbuhan akar (Gardner et al., 1995). Auksin adalah salah satu hormon
tumbuhan yang tidak lepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan suatu
tanaman. Senyawa ini dicirikan oleh kemampuannya dalam mendukung
terjadinya pemanjangan sel pada pucuk. Auksin alam yang paling umum
adalah Asam Indole Asetat (IAA) (Salisbury dan Ross, 1995).

Sitokinin adalah salah satu zat pengatur tumbuh yang ditemukan pada
tanaman.

Sitokinin

berfungsi

untuk

memacu

pembelahan

sel

dan

pembentukan organ. Salah satu jenisnya adalah BAP ( 6 benzylaminopurine)


(Parnata,2004). Sitokinin merupakan ZPT yang mendorong pembelahan
(sitokinesis). Beberapa macam sitokinin merupakan sitokinin alami (misal:
kinetin, zeatin) dan beberapa lainnya merupakan sitokinin sintetik. Sitokinin
alami dihasilkan pada jaringan yang tumbuh aktif terutama pada akar, embrio,
dan buah. Sitokinin yang diproduksi di akar selanjutnya diangkut oleh xilem
menuju sel-sel target pada batang. Ahli biologi tumbuhan juga menemukan
bahwa sitokinin dapat meningkatkan pembelahan, pertumbuhan, dan
perkembangan kultur sel tanaman. Sitokinin juga menunda penuaan daun,
bunga, dan buah dengan cara mengontrol dengan baik proses kemunduran
yang menyebabkan kematian sel-sel tanaman. Penuaan pada daun melibatkan
penguraian klorofil dan protein-protein, kemudian produk tersebut diangkut
oleh floem ke jaringan meristem atau bagian lain dari tanaman yang
membutuhkannya (Anonim, 2006).
Giberelin yang biasanya disingkat dengan nama GA diisolasi pada
tahun 1926 oleh Karosawa dari jenis jamur Gibberella fujikuroi atau
Fusarium heterosporum yang hidup sebagai parasit pada tanaman padi. Jamur
ini dapat menyebabkan penyakit bakanae (penyakit kecambah tolol) pada
padi, yaitu pertumbuhan batang berlebihan tetapi padi tidak mau berbuah.
Dari hasil pengamatan tersebut ternyata jamur memproduksi suatu zat yang
dapat meningkatkan pertumbuhan, akhirnya zat aktif tersebut diberi nama
giberelin atau disingkat GA (Wilkins, 1989). Giberelin berfungsi dalam
memacu pertumbuhan batang, meningkatkan pembesaran dan perbanyakan
sel pada tanaman, sehingga tanaman dapat mencapai tinggi yang maksimal.
Sedangkan pengaruh Giberelin terhadap pertumbuhan dan perkembangan
tanaman yang paling terkenal adalah perangsangan pertumbuhan antar buku.
(Prawiranata, et al., 1981). Gibberelin mempunyai peranan dalam aktivitas
kambium dan pengembangan xylem. GA3 termasuk dalam kelompok
Giberelin. Berdasarkan hasil penelitian Bard et al. (1970) dalam Weaver
(1972) cit Abidin (1994), menunjukkan bahwa aplikasi GA3 dengan

konsentrasi 100, 250, dan 500 ppm mendukung terjadinya differensiasi xylem
pada pucuk olive. Pada penelitian Karismawati (2006), pemberian zat
pengatur tumbuh GA3 dengan konsentrasi 100 ppm dapat menghasilkan
diameter bonggol terbesar pada tanaman Adenium.
E. Tanaman Kemangi
Daun kemangi (Ocimum sanctum), biasanya disebut sebagai Sacred
basil atau Holy basil, tumbuh sebagai tanaman khas dari India. Ocimum
sanctum disebut Tulsi di india dan holy basil di Inggris (Baskaran, 2008).
Adapun klasifikasi dari Kemangi (Ocimum sanctum), yaitu :
Kingdom

: Plantae - Plants

Subkingdom

: Tracheobionta - Vascular plants

Superdivision

: Spermatophyta - Seed plants

Division

: Magnoliophyta - Flowering plants

Class

: Magnoliopsida - Dicotyledons

Subclass

: Asteridae

Ordo

: Lamiales

Family

: Lamiaceae - Mint family

Genus

: Ocimum L. - basil

Species

: Ocimum sanctum L. - holy basil

Gambar 1. Daun Kemangi (Ocimum sanctum)

Kemangi merupakan tanaman setahun yang tumbuhnya tegak dengan


batang yang banyak. Tnaman ini berbentuk perdu, dengan tinggi 0,3 hingga
1,0 meter. Daun-daunnya sederhana, berwarna hijau dan berbau harum.
Bagian tangkai daun mempunyai panjang 2,5 cm, daun berbentuk elips
dengan ukuran 2,5-5 cm 1-2,5cm (Siemonsma dan Piluek,1998).

Kemangi merupakan angaota famili lemiaceae yang berarti kelompok


tanaman dengan bunga berbibir. Nama genus kemangi adalah Ocinum yang
berarti tanaman beraroma. Aroma khas tersebut muncul dari daunnya.
Kemangi berkerabat dekat dengan tanaman selasih (Ocinum sancium) dan
mint (Mentha arvensis), dan daun bangun-bangun aliasdaun jinten (Coleus
amboinicus). Kemangi yang ada di Indonesia bernama botani Ocinum
basillicim dan dikelompokkan dengan kelompok basil semak (bush basil)
karena tumbuhnya menyemak (Anonim,2003).
Dinamakan kemangi karena kemangi digunakan sebagai ramuan
aromatik yang telah digunakan secara tradisional sebagai jamu untuk
mengobati sakit kepala, batuk, diare, cacing, dan kerusakan ginjal, malaria,
penyakit paru-paru. Antimikroba yang berasal dari tumbuhan kemangi
memiliki potensi terapeutik yang besar. Kemangi efektif dalam pengobatan
penyakit menular dan juga mengurangi banyak efek samping yang sering
ditemui pada antimikroba sintetik. Di samping itu tanaman obat dapat
menghasilkan kombinasi metabolit sekunder seperti alkaloid, steroid,
senyawa tanin dan fenol, flavonoid, steroid, resin, asam lemak, yang mampu
berpengaruh pada proses fisiologis tertentu yang dapat ikut berperan
dalamsistem pertahanan tubuh (Mishra, 2011).
Menurut penelitian di India, kandungan utama kemangi adalah
eugenol yang merupakan sumber potensial bahan terapeutik yang terdapat
pada beberapa bagian tanaman kemangi seperti daun, batang dan bunga.
Eugenol adalah senyawa phenol dan merupakan unsur yang cukup besar dari
ekstrak berbagai bagian dari tumbuhan kemangi. Selama ini eugenol
merupakan bahan yang sangat penting dalam industri farmasi yang biasanya
diambil dari kuncup cengkeh (Prakash and Gupta, 2005).
Daun kemangi dapat diolah dengan berbagai cara, salah satunya
dengan cara ekstraksi. Hasil ekstraksi daun kemangi dengan bahan pelarut
acetone, benzene, dan chloroform menunjukkan aktifitas antibakterinya
terhadap 4 mikroorganisme berbeda (E.Coli, Bacillus subtilis, Staphylococcus
aureus dan Klebsiella pneumonia) dengan menggunakan metode Agar disc
diffusion (Adiguzel et al., 2005).

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 1994. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh.
Bandung: Angkasa.
Adiguzel A, Gulluce M, and Sengul M. 2005. Antimicrobial effects of Ocimum
basillicum (Labiatae) extract. Turk J Biol. Vol 29: pp. 155-160.
Anonim. 2003. Tanaman Kemangi . Jakarta:Erlangga
Anonim. 2006. Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Pertumbuhan dan
Perkembangan Tanaman. www. yahoo.com. Diakses 5 Juni 2015. Pukul
16.16 WIB.
Baskaran, X. 2008. Preliminary studies an antibacterial activity of Ocimum
sanctum L. Ethnobotanical Leaflets. India: Dept. of plant biology & plan
biotechnology, St. Josephs college.
Gardner, E. P., R. G. Pearce, and R. L. Mitchel. 1991. Physiology of Crop Plants.
Terjemahan H. Susilo. Jakarta: University Indonesian Press.
Hendaryono, D.P.S. dan A. Wijayani.1994. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta:
Kanisius.
Karismawati, D. 2006. Pengaruh Komposisi Media dan Macam Zat Pengatur
Tumbuh terhadap Peningkatan Nilai Estetika Bonggol Setek Adenium
(Adenium sp). Skripsi tidak dipublikasikan. Surakarta: Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret.
Mishra, P. and Mishra, S. 2011. Study of antibacterial activity of Ocimum
sanctum extract against gram positive and gram negative bacteria.
American Journal of Food Technology. Vol 6 (4): pp. 336-341.
Parnata, A.S. 2004. Pupuk Organik Cair Aplikasi dan Manfaatnya. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
Prakash, P. and Gupta, N. Short Review: Therapeutic Uses of Ocimum sanctum
Linn (Tulsi) with A Note On Eugenol and its Pharmacological Actions.
Indian Journal Physiol Pharmacol. Vol 49 (2): pp. 125-131.
Prawiranata, W., S. Harran, dan P. Tjondronegoro. 1981. Dasar-dasar Fisiologi
Tumbuhan II . Bogor: Fakultas Pertanian IPB.
Salisbury, F.K. dan C.W.Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan jilid 3. Bandung:
Penerbit ITB.

Siemonsma dan Piluek. 1998. Genetik of Ocimum Spp. Jakarta: Erlangga.


Widyastuti, N. dan D. Tjokrokusumo. 2006. Peranan Beberapa Zat Pengatur
Tumbuh (ZPT) Tanaman pada Kultur In Vitro. Jurnal Saint dan Teknologi
BPPT. V3.n5.08
Wilkins, M.B. 1989. Fisiologi Tanaman. Cetakan Kedua. Jakarta: Bina Aksara.

Anda mungkin juga menyukai