Anda di halaman 1dari 21

REFARAT

ORAL RANULA

Pembimbing :
dr. H. R. Krisnabudhi, Sp.THT-KL
Disusun Oleh :
Eva Octavia
1161050072

KEPANITERAAN KLINIK ILMU


TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
PERIODE 11 MEI 13 JUNI 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Ranula merupakan kista yang berisi mukus yang terjadi pada dasar rongga mulut
dan berasal dari ekstravasasi mukus dari kelenjar sublingual akibat trauma atau
obstruksi.1 Ekstravasasi mukus dapat meluas melalui otot milohioid , membentuk
plunging ranula , dengan gambaran pembengkakan submental . Prevalensi ranula
adalah 0,2 per 1000 kasus di Amerika Serikat. Angka kejadian ranula memiliki
kecenderungan terjadi pada perempuan dengan rasio 1 : 1.4 (laki-laki :
perempuan) , dibandingkan dengan plunging ranula yang lebih sering terjadi pada
laki-laki. Ranula lebih umum terjadi pada anak-anak dan remaja awal dan puncak
pada dekade kedua kehidupan . Pada plunging ranula , sering terjadi pada usia
dekade ketiga.2
Ranula berasal dari bahasa latin yaitu Rana yang berarti Frog (katak).
Pembengkakan menyerupai tembus katak di bawah perut atau kantung udara.
Pertumbuhan ranula progresif, tanpa rasa sakit , berfluktuasi , dengan warna
massa kebiruan dan terdapat pada sisi lateral dasar rongga mulut. Ranula dapat
diukur dalam sentimeter untuk menentukan ukuran ranula.3 Ranula memiliki
karakteristik ukuran > 2 cm dan timbul pada sisi lateral dasar rongga mulut. 4
Ranula jarang mengakibatkan obstruksi jalan napas akut.5

BAB II
ANATOMI CAVUM ORIS
Rongga mulut merupakan bagian pertama dari sistem pencernaan. Fungsi
utamanya adala sebagai pintu masuk dari saluran pencernaan dan memulai proses
pencernaan dengan air liur lalu mendorong bolus ke faring. Rongga mulut juga
berfungsi sebagai saluran pernapasan sekunder, dan tempat modifikasi suara pada
proses bicara.6 Rongga mulut terletak di depan batas bebas palatum mole, arkus
faringeus anterior dan dasar lidah.7
Rongga mulut dibagi menjadi cavum oris propium dan vestibulum oris.
Atap cavum oris dibentuk oleh palatum yang terdiri dari palatum mole dan
palatum durum. Batas anterior dan lateral dibentuk oleh permukaan lingual arcus
dentalis rahang atas dan bawah. Batas posterior cavum oris adalah palatum mole,
arcus palatoglosus, dan dorsum linguae. Cavum oris dengan faring dipisahkan
oleh isthmus faucium. Dasar cavum oris propium dibentuk oleh m. digastrius
venter anterior, m. Mylohyoideus, dan m. Geniohyoldeus.7
Palatum
Palatum dibentuk oleh tulang dari palatum durum dibagian depan dan
sebagian besar dari otot palatum mole dibagian belakang. Palatum

durum

dibentuk oleh processus palatinus ossis maxilaris dan pars horisontalis


lamina

horizontalis

ossis

palatini,

yang

dilapisi

oleh

tunica mucosa.

Processus maxilaris membentuk 2/3 depan palatum durum, sementara pars


horisontalis lamina horizontalis ossis palatini membentuk 1/3 permukaan palatum
durum. 7
Palatum mole merupakan bagian belakang palatum durum yang menyusun
1/3 bagian dari palatum dan berakhir di posterior sebagai tepi bebas dengan
tonjolan yang disebut uvula. Palatum mole dapat diangkat untuk faring bagian
nasal dari rongga mulut dan orofaring. Palatum mole dibentuk oleh aponeurosis
palatinus, m. palatoglossus dan m. uvulae, yang dilapisi oleh tunica mucosa. 7

Aponeurosis palatinus ialah tendo m. tensor veli palatini yang melebar,


melekat pada margo dorsalis palatum durum. Di linea media ia menjadi dua
lembar. Palatum mole ditopang dibagian posterior oleh dua buah arcus
yakni,

arcus palatoglossus dan arcus palatopharyngeus. Arcus palatoglossus

meluas dari palatum mole ke bawah permukaan lateral lingua. Arcus ini
terletak lebih anterior dari arcus palatopharyngeus.Arcus palatopnaryngeus
merupakan

tepi

belakang

palatum

mole

yang berjalan ke lateral untuk

bergabung dengan dinding lateral faring.7


Aponeurosis palatine dilekati oleh lima pasang otot yakni; 1.

M.

Palatopharyngeus Muskulus ini berorigo pada aponeurosis palatina, dan berjalan


ke belakang dan ke bawah untuk berinsersi di dinding lateral pharynx dan
tepi

posterior

cartilago

tiroidea. Muskulus

ini menyusun arcus

palatopharyngeus. Bila berkontraksi akan menyebabkan terangkatnya faring dan


laring, dan menutupnya isthmus faucium. 2. M. Palatoglossus berorigo pada
dataran bawah aponeurosis palatinus. Serabut -serabut yang kanan dan kiri
bersilangan di linea mediana. Otot ini berinsersi pada lateral lidah. Otot ini
dilapisi

oleh

tunika

mukosa

dan

merupakan

otot

penyusun

arcus

palatoglossus. Otot ini bekerja dengan m. palatopharyngeus untuk menutup


isthmus faucium dengan melekatkan lingua ke palatum mole. 3.

M.

palatopharyngeus berorigo pada aponeurosis palatina, dan berjalan ke belakang


dan ke bawah untuk beninsersi di dinding lateral pharynx dan tepi posterior
cartilago tiroidea. Muskulus ini menyusun arcus palatopharyngeus. Bila
berkontraksi akan menyebabkan terangkatnya faring dan laring dan menutupnya
isthmus faucium. 4. M. palatoglossus berorigo pada dataran bawah aponeurosis
palatinus. Serabut -serabut yang kanan dan kiri bersilangan dilinea mediana. Otot
ini menuju ke lidah dan sebagian serabut - serabutnya berjalan ditepi lidah ke
frontal, sebagian lagi berjalan ke medial masuk ke dalam lidah. Muskulus ini
merupakan penyusun arcus palatoglossus. 5. M. levator velli palatini origonya
terletak pada permukaan medial dan dasar tuba auditiva pada dasar

kepala.

Berjalan ke bawah, ke anterior, dan ke medial sebagai lapisan serabut yang

tebal untuk langsung melekat pada aponeurosis palatina. Kontraksi pada otot ini
akan mengakibatkan terangkatnya palatum molle pada waktu menelan, dan
menguap. 6. M. tensor veli palatini keluar dari permukaan lateral tuba
auditiva

Dan

fossa

shapoidea. 7. M. Uvulae berorigo pada spina nasalis

posterior dan berinsersi diantara dua lembar aponeurosis palatinus. Otot ini bila
berkontraksi akan menyebabkan terangkatnya uvula.7
Vestibulum oris
Vestibulum oris ialah ruangan yang dibatasi disebelah luar oleh bibir
dan pipi, sebelah dalam oleh procesus alveolaris dan arcus dentalis. Bila
gigi - gigi lengkap, antara vestibulum oris dan cavum oris propium hanya
terhubungan pada bagian distal pada dens molaris ketiga. Pipi dan buccal dibentuk
oleh m. Buccinator. Bibir atau labium dibentuk oleh m. orbicularis oris, m.
triangularis, m. incicivus labii superioris, m. quadratus labii inferioris, m.
incisivus

labli

superioris,

m.

quadratus

labii superioris, m,caninus, m.

zygomaticus dan m. risorius.


Labium terbagi menjadi dua yaitu labium superior dan inferior, keduanya
membatasi rima oris. Pada labium superior dan interior di linea mediana
terdapat alur dari basal ke oral yang disebut phitirum. Masing - masing
labium dihubungkan dengan gingiva di linea mediana dengan lipatan tunica
mucosa disebut frenulum labiorum otis. Bila labium superior terdapat celah
disebut Iabioschisis (sumbing).
Bibir dan pipi disebelah dalam dilapisi oleh tunica mucosa Pertemuan
antara bibir atas dan bibir bawah dinamakan komisura labialis. Bibir dan pipi
terutama disusun oleh sebagian besar otot orbikularis oris yang dipersarafi oleh
saraf fasialis. Vermilion berwarna merah karena ditutupi oleh lapisan tipis epitel
skuamosa.
Ruangan antara mukosa pipi bagian dalam dan gigi adalah vestibulum
oris. Muara duktus kelenjar parotis menghadap gigi molar kedua atas. Gigi
ditunjang oleh procesus alveolaris mandibula dibagian bawah dan krista alveolar

maksila dibagian atas. Pipi adalah struktur musculomembranous dan dibatasi oleh
vestibulum pada bagian superior dan inferior, pada bagian anterior dibatasi oleh
komisura labial, dan posterior oleh trigonum retromolar dan komisura intermaxila.
Permukaan bagian dalam bibir terhubung dengan bagian tengah gingiva yang
disebut frenulum linguae.8

LINGUA (Lidah)
Lidah (lingua) merupakan organ muskular aktif yang ditutupi oleh selaput
lendir. Dua pertiga bagian depan dapat digerakan, sedang pangkalnya terfiksasi.
Lidah dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulum lingua. Li d ah di ba g i
me n j a di 4 ba gi a n ya i t u a pe x li ng u a, d ors u m l in gu a( p er muk a an i ni
k as a r, k ar en a t er d ap a t t on j o la n ya n g

di s e bu t p ap i l a) ,

facies

inferior( Frenulum lingua lipatan pada permukaan inferior lidah yang


menghubungkan lidah dengan dasar mulut) dan radix lingua.
Lidah terdiri otot ekstrinsik dan intrinsik . Otot intrisik adalah otot - otot
yang ada dalam lidah, terdiri dari m. longitudinalis superior, m. longitudinalis
inferior, m. transversus dan m. verticakli. M. longitudinalis superior dan inferior,
masing - masing adalah sepasang dan berjalan memanjang sepanjang lidah. M.
transversus berjalan transversal diantara atas dan bawah mm. longitudinalis. Bila
berkerut, lidah menjadi sempit dan memanjang. M. verticalis berjalan vertikal
disebelah lateral dan diantara mm. Longitudinalis.
Otot ekstrinsik adalah otot otot yang menghubungkan lidah dengan
tulang tulang disekitarnya dan dengan palatum mole, terdiri dari m.
genioglossus,

m.

hyoglossus,

m.styloglossus dan m. palatoglossus. M.

genioglossus berorigo di spina mentalis dan insersinya di lidah, dimana


serabutnya menyebar ke arah occipital.
Otot lidah dipersarafi oleh nervus hipoglosus. Perasaan dua pertiga lidah
bagian depan dipersarafi oleh nervus lingualis dan nervus glosofaringeus pada

sepertiga lidah bagian belakang. Lingua dibagi menjadi tiga bagian yaitu apex,
corpus, radix linguae. Corpus linguae dipisahkan oleh sulcus medianus linguae.
Akhir dari sulcus medianus linguae yang terdapat pada radix linguae berbentuk V
yang memisahkan corpus dan radix linguae. Pada pangkal lidah terdapat tonsila
palatina, yang membentuk cinicin Waldeyer.7

GLANDULA SALIVA
Sistem kelenjar ludah (glandula saliva) manusia terbagi menjadi dua
kelompok eksokrin yang berbeda. Glandula saliva mayor yaitu sepasang glandula
parotis,glandula submandibula, dan sepasang glandula sublingual. Selain itu ,
mukosa dari saluran aerodigestive atas dilapisi oleh ratusan gladula saliva minor.7
Glandula Parotis
Berada di fossa parotis. Fossa ini dibatasi disebelah posterior :
m. sternocleidomastodeus. Anterior : ramus mandibulae. Superior : meatus
acustius externus. Sekresinya disalurkan melalui ductus parototidicus, ductus
ini menyilang m. masseter kemudian bermuara di cavum oris setinggi molar 2
atas. Innervasi dilakukan oleh n.glossopharyngeal (IX).
Glandula Sublingualis
Berada di fossa sublingualis, di sebelah medial permukaan interna
ma n d ib u la e . K e l enj ar in i me g e l ua rk a n s e kr es in ya ke ca vu m or is
melalui banyak ductus kecil2 yang bermuarake krista plicasublingualis.
Innervasi dilakukan oleh n.chorda tympani (VII).
Glandula Submandibularis
Ter le t ak di fos s a s ub ma nd ib u l ar is pa da s is i me d i a l ma n di bu l a e
disebelah inferior m. mylohyoid. S a lu ra nn ya b er mu ar a di
d as ar cavum oris disebelah kanan kiri frenlum lingue. Innervasi dilakukan oleh
n.chorda tympani (VII).

Glandula saliva minor (kelenjar saliva minor)


Kelenjar saliva minor sangat banyak jumlahnya, berkisar antara 600
sampai 1000 kelenjar. Di antaranya ada yang memproduksi cairan serosa, mukoid,
ataupun keduanya. Masing-masing kelenjar memiliki duktus yang bermuara di
dalam rongga mulut. Kelenjar ini tersebar di daerah bukal, labium, palatum, serta
lingual. Kelenjar ini juga bisa didapatkan pada kutub superior tonsil palatina
(kelenjar Weber), pilar tonsilaris serta di pangkal lidah. Suplai darah berasal dari
arteri di sekitar rongga mulut, begitu juga drainase kelenjar getah bening
mengikuti saluran limfatik di daerah rongga mulut.9
Persarafan Cavum Oris
Nervus yang masuk kedalam cavum oris ialah arcus n. hipoglossus,
n. lingualis, n. glosopharingeus dan nn. Palatini. Arcus n. hypoglossi, antara m.
hypoglossi Dan m. mylohyodeus. Ia berjalan frontal, memberi cabang-cabang
motoris

ke

m.

hypoglossus,

m.

hyoglossus,

m.

geniohyoldeus,

m.

genioglossus m.styloglossus. dan otot-otot intrinsik dan lidah.


N lingualis
N. Ingualis, ialah cabang n. mandibularis. Masuk ke dalam mulut medial
corpus mandibulae, cranial m. mylohyoideus. Ia berjalan frontal, lateral
ductus

submandibularis,

kemudian menyilang

disebelah

kaudal

datang

disebelah medialnya. Kemudian keluar di selaput lendir lidah disebelah


frontal sulcus terminalis. Ia memberi cabang sensibel ke tunica mucosa,
cabang-cabang sensoris ke calyculi gustatorii dan cabang-cabang eferen
parasimpatis ke ganglion linguale. Cabang-cabang sensoris tersebut ialah
dendrit-dendrit sel-sel yang ada di dalam ganggion geniculi n. fasialis yang
berjalan di dalam chorda tympani menghubungkan n. lingualis dan n.
fasialis.

Pada

ketika

menyilangi

ductus submandibularis,

n.

fasialis

mempercabangkan r. sublingualis yang pergi ke glandula sublingualis, dan

tunica mucosa di kranialnya. R. sublingualis mengandung serabut eferen simpatis,


parasimpatis dan sensibel.
N. glossopharyngeus
N. glossopharyngeus mencapai radix linguae medial insertio m.
styloglossus. Tepat sebelum mencapai lidah ia memberi cabang-cabang rr.
tonsilares yang pergi ke tunica mucosa tonsila palatina dan arcus palatoglossus.
Setelah datang di radix linguae Ia memberi cabang rr. Lingualis yang pergi
ke tunica mucosa lidah di dorsal sulcus terminalis. Mereka membawa serabutserabut viscerosensibel dan tunika mucosa, serabur-serabut sensoris dan
calyculi gustatoril dan serabut-serabut parasimpatis untuk suatu ganglion bagi
glandula lingualis posterior.
Nn.palatini
Nn.palatini dikenal 3 buah yaitu n. palatinus posterior, n. palatinus medius,
dan n. palatinus anterior.

Ketiganya

merupakan

cabang

ganglion

sphenopalatinum yang terdapat didalam ossa terygopalatina. Setelah berjalan


ke kaudal di dalam kanalis pterygopalatinus, n. palatines anterior melalui
foramen palatinum anterior pergi diantara processus palatinus dan processus
alveolaris maksilaris ke frontal, memberi cabang-cabang sensibel ke tunica
mucosa

palatum

durum

dan

cabang-cabang

efferent

parasimpatis

dan

simpatis glandula palatina. N. palatinus medius dan n. palatinus posterior melalui


foranmen palatinum minus dan tunica mucosa palatum molle dan tonsila palatina.
N.nasopalatinus
Nervus ini keluar dari ganglion pterygopalatinum Dan berjalan
melewati cavum nasi serta membantu mensuplai cavum nasi. Nervus ini
berjalan ke bawah dan ke depan sepanjang vomer Dan keluar dari cavum
nasi melalui foramen incisivum dan mensuplai gingiva sisi palatal didepan
caninus rahang atas. M.mylohyodeus dan venter anterior m. digastricus yang

ikut membentuk dasar mulut di inervasi n. mylohyodeus. Musculus yang


ikut membentuk bibir dan pipi di inervasi oleh n. fasialis.

Vaskularisasi
Arteri lingualis merupakan arteri utama yang memperdarahi linguae
dan struktur dasar mulut. Arteri lingualis merupakan cabang kolateral a.
carotis

eksterna

tepat diatas

ujung cornu

majus ossis hyodei. Berjalan

melewati trigonum submandibularis dan berjalan ke anterior antara m.


genioglossus yang lebih dalam dan hyoglossus yang lebih superficial. Arteri
ini berjalan berliku-liku terbagi dalam tiga cabang; 1. Rami dorsalis linguae
keluar mensuplai sepertiga belakang lingua. 2. Arteri sublingualis berjalan ke
dalam untuk mensuplai glandula sublingualis dan dasar mulut. 3. Bagian terminal
dari a. lingualis yang melingkar ke atas untuk mensuplai 2/3 lingua.
Selain a. lingualis adalah v. profunda linguae, berjalan dari apex linguae
lateral m. hyoglossus ke occipital keluar antara m. hyoglossus dan m.
mylohyoideus menjadi v. hnguahs. Vena yang lain mengikuti kembali arteri.
Duktus submandibularis setelah melingkari tepi occipital m. mylohyoideus
berjalan ke frontal medial cranial m. mylohyoideus. Pada permulaan terdapat
medial

n.

lingualis kemudian bersilang di sebelah kaudal, dan berakhir di

curuncula subhngualis yang terletak tepat pada median kaudal apex linguae.

10

BAB III
FISIOLOGI
Cavum Oris
Fungsi cavum oris ; 1 . M er up ak an p in tu ma s uk k e s al ur an c er n a, d an
b er pe r an d al a m pencernaan awal makanan yang dibantu kelenjar saliva. 2.
Memanipulasi suara yang dihasilkan laring sehingga bentuk bicara menjadi
sempurna. 3. Dapat digunakan sebagai jalan nafas.10

Lingua (lidah)
Lidah merupakan salah satu organ di rongga mulut yang paling peka terhadap
perubahan yang terjadi di dalam tubuh. Permukaan lidah adalah daerah yang
paling banyak terpapar oleh iritasi dan keperluan dasar hidup sehari-hari seperti
makan dan minum. Lidah sebagai indera pengecap mempunyai beberapa fungsi
yaitu membantu proses pengecapan dan perasa, mengatur letak makanan ketika
dikunyah, membantu menelan, mendorong makanan ke dalam pharynx (pada
waktu menelan), pembersihan mulut, dan memainkan peranan yang penting
sebagai alat bantu dalam berbicara.11
Glandula Saliva
Air liur (saliva) adalah sekresi kelenjar campuran yang terus-menerus
menggenangi gigi dan mulut mukosa. Sekresi saliva dihasilkan dari tiga pasangan
kelenjar ludah utama (mayor) ; parotis, submandibula dan sublingual. Sekersi
saliva juga dihasilkan melalui sekresi

kelenjar ludah minor yang berjumlah

ratusan, glandula saliva minor terdapat pada submukosa dari mukosa mulut.10
Saliva

terdiri

atas

99,5%

air

dan

0,5%

substansi

lainnya.

Komposisi saliva terdiri dari komponen organik dan anorganik. Kelenjar parotid
menghasilkan saliva yang serus sedangkan kelenjar submandibularis dan
kelenjar sublingualis menghasilkan saliva yang bercampur yaitu mukus dan seros.
Saliva dapat membantu proses digestif (pencernaan makanan) dengan

11

mencerna polisakarida menjadi monosakarida dengan bantuan enzim amilase.


lubrikasi yang terdapat dalam saliva memfasilitasi proses pengunyahan, formasi
bolus makanan, menelan dan berbicara, juga melindungi permukaan mukosa
yang lunak dari makanan yang keras.12
Aksi pembersih dan anti bakteri dari saliva menghilangkan sel epitel
mulut deskuamasi, koloni bakteri dan debris makanan. Saliva berperan penting
bagi proses pengecapan. Saliva dapat melarutkan substansi pengecapan dari
berbagai macam bentuk sifat fisik makanan baik padat maupun larutan.
Substansi

ini

kemudian

dibawa

oleh

saliva

ke

tempat

sel

reseptor

pengecapan yang terdapat pada taste buds. 12


Komposisi saliva yang mengandung 99% air dibutuhkan untuk
mencegah terjadinya kekeringan dalam rongga mulut terutama pada saat
proses mastikasi dan berbicara. Cairan akan kembali normal dengan minum
dan adanya cadangan dari cairan yang disimpan.12

12

BAB IV
ORAL RANULA
Definisi
Oral ranula adalah lesi kistik yang terletak pada dasar rongga mulut akibat
obstruksi duktus ekskretoris kelenjar sublingual yang membesar secara progresif
dan meluas ke jaringan lunak sekitarnya. Oral ranula merupakan ekstravasasi
mukosa yang diakibatkan oleh ruptur duktus kelenjar saliva. manifestasi klinis
yang sering ditemukan adalah pembengkakan jaringan lunak submukosa pada
dasar rongga mulut.13
Etiologi
Etiologinya tidak diketahui namun diduga ranula terjadi akibat trauma,
obstruksi kelenjar saliva, dan aneurisma duktus glandula saliva. Post traumatic
ranula terjadi akibat trauma pada glandula sublingual atau submandibula yang
menyebabkan ekstravasasi mukus, sehingga terbentuk pseudokista. Ranula juga
dikatakan berkaitan dengan penyakit kelenjar saliva dan anomali kongenital
dimana duktus saliva tidak terbuka.14
Patofisiologi
Oral ranula merupakan ekstravasasi mukokel yang terjadi pada kelenjar
sublingual, diakibatkan oleh ruptur duktus utama dan ruptur duktus acini yang
terjadi akibat obstruksi. Kelenjar sublingual adalah sekretor spontan yang
menghasilkan aliran mukus secara terus menerus bahkan tanpa adanya stimulasi
saraf. Ekstravasasi mukus yang terjadi pada kelenjar sublingual menghasilkan
reaksi inflamasi dimana makrofag akan memecah komponen organik yang
menyebabkan air dan komponen anorganik keluar dari saluran limfatik, dan
jaringan granulasi membentuk jaringan fibrosis yang membatasi ektravasasi dan
kadang terjadi kebocoran. Namun, aktivitas sekresi dari kelenjar sublingual tetap
terjadi walaupun terdapat jaringan fibrosis, sedangkan aktivitas sekresi dari

13

kelenjar submandibula akan berkurang dan ektravasasi saliva akan berhenti akibat
fibrosis.15
Terdapat dua konsep pembentukan ranula ; a.obstruksi parsial saluran
sublingual dapat menyebabkan pembentukan retensi kista berlapis epitel. Proses
ini jarang terjadi , hanya terdapat 10 % dari semua kasus ranula. b. Trauma dapat
menyebabkan pembentukan ranula, yaitu akibat ruptur parsial dari duktus
sublingual., Trauma pada duktus sublingual dapat terjadi akibat obstuksi pada
duktus yang membentuk tekanan balik pada duktus dan menyebabkan asinus
pecah , menyebabkan ekstravasasi mukus. Trauma dapat menyebabkan kerusakan
langsung pada duktus atau asinus , yang menyebabkan

ekstravasasi mukus

sehingga membentuk pseudokista. 15


Ekstravasasi mukus pada glandula sublingual menjadi penyebab ranula
servikal. Kista ini berpenetrasi ke otot milohioideus. Sekresi mukus mengalir ke
arah leher melalui otot milohioideus dan menetap di dalam jaringan fasial
sehingga terjadi pembengkakan yang difus pada bagian lateral atau submental
leher. Sekresi saliva yang berlangsung lama pada glandula sublingual akan
menyebabkan akumulasi mukus sehingga terjadi pembesaran massa servikal
secara konstan. 15
Diagnosis
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
anamnesis dan mencatat riwayat pasien. Pada pasien anak dilakukan aloanamnesis
yaitu anamnesis yang diperoleh dari orang terdekat pasien. Pada pasien dewasa
dengan autoanamnese yaitu yang diperoleh dari pasien itu sendiri. Kedua
melakukan pemeriksaan terhadap pasien dan pemeriksaan pendukung.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik dengan tujuan
melihat tanda-tanda yang terdapat pada pasien, yaitu pemeriksaan keadaan umum
mencakup pengukuran temperatur dan pengukuran tekanan darah, pemeriksaan

14

ekstra oral mencakup pemeriksaan kelenjar limfe, pemeriksaan keadaan abnormal


dengan memperhatikan konsistensi, warna, dan jenis keadaan abnormal, kemudian
pemeriksaan intra oral yaitu secara visual melihat pembengkakan pada rongga
mulut yang dikeluhkan pasien dan melakukan palpasi pada massa tersebut.
Diperhatikan apakah ada perubahan warna pada saat dilakukan palpasi pada
massa. Ditanyakan kepada pasien apakah ada rasa sakit pada saat dilakukan
palpasi.16
Pemeriksaan penunjang
pemeriksaan

pendukung

meliputi

pemeriksaan

laboratorium

dan

pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan laboratorium sangat membantu dalam


menegakkan diagnosa. Pada kasus mukokel, cairan diambil secara aspirasi dan
jaringan diambil secara biopsi, kemudian dievaluasi secara mikroskopis untuk
mengetahui kelainan-kelainan jaringan yang terlibat. Kemudian dapat dilakukan
pemeriksaan radiografi, meliputi pemeriksaan secara MRI (Magnetic Resonance
Imaging), CT Scan (Computed Tomography Scan), ultrasonografi, sialografi, dan
juga radiografi konfensional. 16
Pemeriksaan

ultrasonografi

pada

glandula

sublingual

kurang

meyakinkan. Pemeriksaan dengan menggunakan CT-Scan tampak ranula


superficial dengan gambaran telur bulat berbentuk lesi kistik kasar. Dinding
ranula terlihat sangat tipis atau tidak terlihat sama sekali. Ranula sublingual
terletak di atas m. milohioid dan disisi lateral m. Genioglossus. Kasus plunging
ranula tampak infiltrasi dari lesi ke jaringan sekitar. 16
Magnetic Resonance Imaging ( MRI ) adalah pemeriksaan paling
sensitif

pada pemeriksaan oral ranula. Metode pemeriksaan pada glandula

sublingual. Pada MRI , penampilan karakteristik ranula didominasi oleh kadar air
yang tinggi. Plunging ranula terlihat mirip dengan kista saluran triglosus lateral,
lymphagioma dan inflamasi pada kelenjar getah bening. Teknik radiografi
(rontgen) sederhana dapat dilakukan untuk diagnosis preoperatif plunging ranula.
Teknik ini melibatkan pemberian media kontras dalam ruang sublingual. 16

15

Pemeriksaan histopatologi ranula tampak ruang kistik yang berisi musin


dan dinding pseudokista yang terdiri dari jaringan ikat longgar. Tampak histiosit
dalam dinding pseudokista . Gambaran penting pad pemeriksaan histopatologi
untuk menegakan diagnosis pada ranula adalah tidak adanya jaringan epitel pada
dinding ranula. Biopsi dari dinding kistik ranula ditujukan untuk menyingkirkan
diagnosis karsinoma sel skuamosa yang timbul dari dinding kista

dan

kistadenokarsinoma papiler kelenjar sublingual yang menyerupai ranula. 16


Diagnosis banding
Sama halnya dengan mukokel, ada beberapa penyakit mulut yang
memiliki kemiripan gambaran klinis dengan ranula, diantaranya kista dermoid,
sialolithiasis, thyroglossal duct cyst, cystic hygroma, neoplastic thyroid disease,
dan lain-lain.Untuk dapat membedakan ranula dengan penyakit-penyakit tersebut
maka dibutuhkan riwayat timbulnya massa atau pembengkakan yang jelas,
gambaran klinis yang jelas yang menggambarkan ciri khas ranula yang tidak
dimiliki oleh penyakit mulut lain, dan dibutuhkan hasil pemeriksaan fisik dan
hasil pemeriksaan pendukung lain yang akurat seperti pemeriksaan laboratorium
dan pemeriksaan radiografi. 16
Tatalaksana
Perawatan yang dilakukan meliputi penanggulangan faktor penyebab dan
pembedahan massa. Penanggulangan faktor penyebab dimaksudkan untuk
menghindarkan terjadinya rekurensi. Biasanya ranula yang etiologinya trauma
akibat trauma lokal atau mekanik yang terjadi terus menerus dapat menyebabkan
terjadinya rekurensi ranula. 16
Pembedahan massa dibagi atas tiga jenis, yaitu eksisi, marsupialisasi,
dan dissecting. Marsupialisasi dengan atau tanpa kauterisasi lesi lapisan , eksisi
bagian oral ranula dilakukan bersama dengan pengangkatan kelenjar sublingual
atau kelenjar submandibula, sayatan dan drainase lesi melalui pendekatan
intraoral , eksisi lesi melalui pendekatan ekstraoral, dikombinasikan dengan eksisi
kelenjar sublingual dalam kasus-kasus tertentu. Pengobatan yang disebutkan

16

diatas masih banyak dilaporkan terjadi kekambuhan dan kadang timbul lesi yang
lebih besar dibandingkan dengan lesi pertama. Eksisi ranula bersama dengan
kelenjar sublingual yang terlibat akan meminimalisasi kekambuhan. 16
Morton dan Bartley menyatakan bahwa penanganan ranula dapat
dilakukan dengan menempatkan jahitan sutra pada atap kista [28]. Delbem et al.
memanfaatkan teknik micromarsupialisasi untuk pengobatan ranula. Teknik ini
melibatkan anestesi topikal lesi selama 3 menit dan penggunaan jahitan sutra
melewati bagian internal dari lesi sepanjang diameter terlebar lesi. Jahitan akan
dilepaskan setelah 7 hari. 16
Sandrini et al. melakukan modifikasi mikro-marsupialisasi untuk
pengobatan ranula. Modifikasi dilakukan termasuk pada peningkatan jumlah
jahitan, penurunan jarak antara pintu masuk dan keluar dari jarum diikuti dengan
pemeliharaan jahitan lebih lama yaitu dengan durasi sekitar 30 hari. Prinsip dasar
dari mikro-marsupialisasi adalah untuk membangun drainase air liur dan
membentuk saluran epithelized permanen yang baru di sepanjang jahitan. Mereka
menyatakan bahwa kesederhanaan eksekusi, prosedur invasif yang rendah, dan
tidak ada perawatan khusus diperlukan selama pemulihan membuat teknik ini
menjadi pilihan pengobatan yang baik terutama pada pasien anak-anak. 16
Baurmash menganjurkan operasi radikal dilakukan pada pengobatan dari
plunging

ranula

dan

kasus

kekambuhan

pada

ranula.

Baurmash

merekomendasikan pengangkatan glandula sublingual sebagai pengobatan primer


dari ranula. Ia menganjurkan tindakan marsupialisasi diikuti dengan kasa tekan
sebagai pengobatan utama. Prosedur marsupialization menyebabkan evakuasi
mukus. 16
Kasa tekanan dalam rongga tidak hanya menutup kebocoran awal, tetapi
juga membangkitkan respon inflamasi untuk memulai fibrosis secara permanen
untuk menutup kebocoran, yang menyebabkan atrofi asinar dan proses

17

penyembuhan. Tindakan ini menurunkan tingkat kekambuhan menjadi 10%


sampai 12%. 16
Pengobatan lain yaitu ; 1. Sclerosing agents, Bleomycin dan OK-432
telah digunakan untuk pengobatan ranula. [12, 13] Dalam sebuah penelitian, 31
dari 32 pasien (97%) mencapai hilangnya atau pengurangan ditandai dengan
ukuran ranula yang diberikan suntikan OK-432. Hampir setengah dari semua
pasien mengalami nyeri lokal atau demam dan menurun selama beberapa hari.
[12] 2.Carbon dioxide laser , laser karbon dioksida telah digunakan pada pasien
yang terbatas dengan hasil yang baik untuk menghilangkan kista dan bekas luka
pada kelenjar cukup untuk mengurangi risiko kekambuhan. Biopsi jaringan
dianjurkan pertama untuk mengkonfirmasi diagnosis ranula. 3.Terapi radiasi,
dilakukan pada pasien yang tidak dapat mentoleransi pembedahan, terapi radiasi
adalah alternatif. 16
Prognosis
Prognosis dari oral ranula bervariasi sesuai dengan pengobatan yang
dilakukan. Kekambuhan yang terjadi juga ditentukan oleh pengobatan. Tingkat
kekambuhan yang dilaporkan setlah dilakukan berbagai pengobatan adalah : insisi
dan drainase ( 70 % - 100 % ) , marsupialisasi( 36,4 % - 80 % ) , eksisi ranula
hanya ( 18,7 % - 85 % ) , dan eksisi ranula bersama dengan sublingual kelenjar
ludah ( 0 % - 3,8 % ). 16

BAB V
RESUME

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Effat KG. Acute presentation of plunging ranula causing respiratory
distress: case report. J Laryngol Otol. 2012;126:861-863.

19

2. Flaitz

CM.

Mucocele

and

ranula

differential

diagnoses.

http://emedicine.medscape.com/article/1076717-differential.

Published

February 6, 2012. Accessed March 31, 2014


3. Barnes L, Verbin S. Cysts of the oral and paraoral structures. In: Barnes L,
ed. Surgical Pathology of the Head and Neck. 2nd ed. New York, NY:
Marcel Dekker, Inc; 2001.
4. Jaishankar S, Manimaran, Kannan, Mabel C. Ranula A Case Report.
Journal of Indian Academy of Dental Specialists. 2010;1(3):52-3.
5. Zhao Y, Jia Y, Chen X, Zhang W. Clinical review of 580 ranulas. Oral Surg
Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod. 2004;98:281-287.
6. Gray H et al. Gray's Anatomy: The Anatomical Basis of Clinical Practice.
39th ed. Edinburgh ; New York: Elsevier Churchill Livingstone; 2005.
7. Boeis
8. Moore KL, Dalley AF, Agur AMR. 6th ed. Clinically Oriented Anatomy.
Philadelphia: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins;
2010.
9. Kontis TC, Johns ME. Anatomy and physiology of the salivary gland. In:
Baily BJ, ed. Head and neck surgery-otolaryngology. Philadelphia:
Lippincott; 2001. p. 429-36.
10. Snow JB, Wackym PA, Ballenger JJ. Ballenger's Otorhinolaryngology:
Head and Neck Surgery. 17th. Shelton, Conn. ; Hamilton, Ont. ; London:
People's Medical Pub. House/B C Decker; 2009.
11. Hector MP, Linden RWA. Reflexes of salivary secretion. In: Neural
Mechanisms of Salivary Gland Secretion, Garrett JR, Ekstrm J, Anderson
LC, Eds. 1999, Karger: Basel. p. 196217.
12. Melvin JE, Yule D, Shuttleworth T, Begenisich T. Regulation of fluid and
electrolyte secretion in salivary gland acinar cells. Ann Rev Physiol2005;
67: 445-469.
13. Coloma,Cristina Bonet et al. Pediatric oral ranula: Clinical follow-up
study of 57 cases. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2011 Mar 1;16 (2):e15862

20

14. Steelman R, Weisse M, Ramadan H. Congenital ranula. Clin Pediatr


(Phila). Mar 1998;37(3):205-6.
15. MODERN MANAGEMENT AND PATHOPHYSIOLOGY OF
RANULA: LITERATURE REVIEW John D. Harrison, PhD,
FDSRCSEng, FRCPath Department of Oral Pathology, Kings College
London Dental Institute at Guys, Kings College and St Thomas
Hospitals, London, United Kingdom. E-mail: john.harrison@kcl.ac.uk
Accepted 21 October 2009 Published online 6 January 2010 in Wiley
Online Library (wileyonlinelibrary.com). DOI: 10.1002/hed.21326
16. Archives of CraniOroFacial Sciences, October-November 2013;1(3):44-49

21