Anda di halaman 1dari 97

BAB I

PENDAHULUAN

embangunan manusia adalah sebuah proses pembangunan yang


bertujuan agar manusia mempunyai kemampuan diberbagai bidang,

khususnya dalam bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Pembangunan


kesehatan manusia sebagai ukuran kinerja pembangunan secara keseluruhan
dibentuk melalui pendekatan tiga dimensi dasar yaitu umur panjang dan sehat,
berpengetahuan dan memiliki kehidupan yang layak.
Sedangkan pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh
semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Derajat kesehatan masyarakat
dapat dilihat dari berbagai faktor yang meliputi indikator umur harapan hidup, angka
kematian, angka kesakitan dan status gizi masyarakat.
Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan
Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011 telah memprioritaskan program Pembangunan
dalam mewujudkan tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) 2015 yaitu :
1. Memberantas Kemiskinan dan kelaparan (Eradicate extreme poverty & hunger)
2. Menurunan Kematian Anak (Reduce child mortality)

3. Meningkatan Kesehatan Ibu (Improve maternal health)


4. Mengendalikan Penyakit HIV/AIDS, Malaria dan TB. (Combat HIV/AIDS,
malaria and other diseases)
5. Menjamin Kelestarian lingkungan hidup (ensure environmental sustainability)
Salah satu media resmi untuk menampilkan semua hasil pembangunan
kesehatan di Kabupaten Sidoarjo adalah profil kesehatan, disamping media lain
yang disusun.

Profil Kesehatan Kabupaten Sidoarjo tahun 2011 memuat data-data tentang


kesehatan, yang meliputi derajat kesehatan, upaya kesehatan, dan sumber daya
kesehatan. Disamping itu dalam buku ini juga menyajikan data pendukung lain yang
berhubungan dengan kesehatan seperti data geografis, luas wilayah, keadaan iklim
dan demografi. Keseluruhan data yang ada merupakan gambaran tingkat
pencapaian penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
Profil ini juga merupakan salah satu sarana untuk memantau pencapaian Visi
Kesehatan Kabupaten Sidoarjo yaitu Terwujudnya Sidoarjo Sehat Mandiri dan
Berkeadilan dan Misi Kesehatan Kabupaten Sidoarjo yaitu :
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan
2. Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
3. Mewujudkan, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang
bermutu, merata dan terjangkau
4. Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan penanggulangan
masalah kesehatan
5. Meningkatkan dan mendayagunakan sumber daya kesehatan.
Tujuan utama diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Sidoarjo tahun
2011 adalah agar diperoleh gambaran keadaan kesehatan di Kabupaten Sidoarjo,
khususnya untuk tahun 2011 dalam bentuk narasi, tabel, grafik dan gambar dimana
didalamnya terdiri dari 6 (enam) bab, yaitu :
Bab I

Pendahuluan.
Bab ini menyajikan tentang tujuan penyusunan Profil Kesehatan

Bab II

Gambaran Umum.
Bab ini menyajikan gambaran umum dalam hal keadaan geografi, luas
wilayah, keadaan iklim dan demografi

Bab III

Situasi Derajat Kesehatan.


Bab ini berisi uraian tentang indikator keberhasilan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan tahun 2011 yang mencakup tentang angka
kematian, angka kesakitan dan keadaan status gizi

Bab IV

Situasi Upaya Kesehatan.


Bab ini merupakan penggambaran dari Upaya Pelayanan Kesehatan,
Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan, Perilaku Hidup Masyarakat
dan Keadaan Lingkungan

Bab V

Situasi Sumber Daya Kesehatan.


Bab ini menguraikan tentang keadaan Sarana Kesehatan, Tenaga
Kesehatan dan Pembiayaan Kesehatan

Bab VI

Program-Program Inovasi
Bab ini menguraikan tentang semua kegiatan-kegiatan inovasi yang
dilakukan selama tahun 2011

Bab VII -

Penutup

BAB II
GAMBARAN UMUM
A. Keadaan Geografi
Kabupaten Sidoarjo adalah kabupaten yang dihimpit oleh dua sungai ,
sehingga terkenal dengan sebutan kota Delta. Secara geografis Kabupaten ini
terletak diantara garis 112,5-112,9 Bujur Timur dan garis 7,3 - 7,5 Lintang
Selatan.
Batas-batas wilayah Kabupaten Sidoarjo adalah :
-

Utara

: Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik

Timur

: Selat Madura

Selatan

: Kabupaten Pasuruan

Barat

: Kabupaten Mojokerto

Letak ketinggian wilayah Kabupaten Sidoarjo dari permukaan laut terbagi


menjadi 3 (tiga) bagian, meliputi: 40,81% berketinggian 3-10 m berada di
bagian tengah dan berair tawar, 29,99% berketinggian 0-3 m berada di sebelah
timur yaitu daerah pantai dan pertambakan, 29,20% berketinggian 10-25 m
berada di bagian barat.
B. Luas Wilayah
Luas

wilayah

Kabupaten

Sidoarjo

adalah 714.243 Km2, terbagi menjadi 18


kecamatan

dengan

322

desa

dan

31

kelurahan. Dari jumlah tersebut terdapat 3


kelurahan dan 1 desa yang tidak berpenghuni karena tenggelam oleh luapan
Lumpur Lapindo yaitu Kelurahan Jatirejo, Kelurahan Siring, Kelurahan
Renokenongo dan satu desa yaitu Desa Kedung Bendo Tanggulangin. Sejak
bulan Mei 2006, terjadi luapan Lumpur Lapindo yang menimbulkan dampak di

14 desa yang tersebar di wilayah Kecamatan Tanggulangin, Porong dan Jabon.


Dari 14 desa tersebut, jumlah penduduk yang terkena dampak 12.000 KK
(40.000 jiwa).
Dari 18 kecamatan yang ada, Kecamatan Jabon adalah wilayah terluas
80,998 Km2 dengan sebagian besar wilayahnya adalah tambak, sedangkan luas
terkecil adalah Kecamatan Gedangan dengan luas 24,06 Km2.
C. Keadaan Iklim
Suhu di Kabupaten Sidoarjo berkisar antara 20C - 35C. Letak
Kabupaten Sidoarjo berada di sekitar garis khatulistiwa seperti kabupaten/kota
lain di Jawa Timur, sehingga wilayah ini mengalami perubahan musim sebanyak
2 kali yaitu musim kemarau dan musim penghujan yang silih berganti
sepanjang tahun.
D. Kependudukan
1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk
Jumlah Penduduk yang digunakan pada penyusunan Profil tahun 2011
adalah jumlah penduduk proyeksi Tahun 2010. Hal ini dikarenakan pada
awal tahun 2011 belum ditetapkan secara resmi jumlah penduduk sasaran
program, sehingga menurut aturan suatu instansi tidak diijinkan membuat
Jumlah penduduk sendiri tanpa melalui sumber data resmi yaitu Badan
Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sidoarjo maupun BPS Provinsi Jawa Timur.
Mengacu Data Proyeksi Penduduk tahun 2010 maka jumlah
penduduk yang digunakan pada tahun 2011 adalah 1.778.208 jiwa, dengan
397.239 rumah tangga/KK atau rata-rata 4,5 jiwa per rumah tangga.
Perkiraan laju pertumbuhan penduduk selama 5 tahun terakhir rata-rata per
tahun 2,21%.

Gambar 1. Jumlah Penduduk Kabupaten Sidoarjo tahun 2003 - tahun 2011

2. Persebaran dan Kepadatan Penduduk


Tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Sidoarjo rata-rata 2.490 jiwa
per Km2. Kepadatan penduduk di Kabupaten Sidoarjo menurut kecamatan
sangat bervariasi. Wilayah Kerja Puskesmas Medaeng dengan luas 10,701 Km2
merupakan wilayah kecamatan terpadat dengan kepadatan penduduk 9.490
jiwa per Km2. Kecamatan tersebut memiliki potensi industri yang cukup
tinggi dan merupakan sentral industri serta berbatasan langsung dengan
Kota Surabaya.
Sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk terkecil adalah
Kecamatan Jabon 799 jiwa per Km2 yang merupakan wilayah dengan luas
terbesar yaitu 80,998 Km2.
3. Komposisi Penduduk
Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dilihat dari
perkembangan rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki

dan perempuan. Jumlah penduduk Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011


sebesar 1.778.208 jiwa. Perbandingan antara penduduk laki-laki dan
perempuan relatif seimbang yaitu 888.778 (49,98%) jiwa penduduk laki-laki
dan 889.432 (50,01%) jiwa penduduk perempuan. Hal ini menggambarkan
bahwa jumlah penduduk Perempuan sedikit lebih besar dibandingkan
jumlah penduduk laki-laki.
Berdasarkan kelompok umur, persentase penduduk di Kabupaten
Sidoarjo terdiri dari: 1,6 % penduduk umur <1 tahun, 6,8 % penduduk umur
1-4 tahun, 8,9 % penduduk umur 5-9 tahun, 8,3 % penduduk umur 10-19
tahun, 59,8 % penduduk umur 15 - 49 tahun, 10,5% penduduk umur 50 - 64
tahun dan 4,1 % penduduk umur 65 tahun keatas. Hal ini menunjukkan
bahwa kelompok penduduk usia produktif yaitu 15 49 tahun adalah
penduduk terbanyak.
Gambar 2.

Persentase Penduduk Kabupaten Sidoarjo Tahun 2011


Berdasarkan Kelompok Umur

BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh banyak faktor, tidak hanya


ditentukan oleh pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana
kesehatan, namun juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan dan lingkungan
sosial, keturunan, dan faktor lainnya. Faktor ini berpengaruh pada kejadian
morbiditas, mortalitas dan status gizi di masyarakat. Angka morbiditas,
mortalitas dan status gizi dapat menggambarkan keadaan dan situasi derajat
kesehatan masyarakat. Angka ini juga dapat digunakan untuk perencanaan
bidang kesehatan.
Situasi derajat kesehatan masyarakat pada tahun 2011 di Kabupaten
Sidoarjo dapat dilihat melalui keadaan mortalitas, morbiditas dan status gizi
berikut.

A. MORTALITAS (ANGKA KEMATIAN)


Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari
kejadian kematian (mortalitas) dalam masyarakat dari waktu ke waktu dan
tempat tertentu. Di samping itu, kejadian kematian juga dapat digunakan
sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan
program pembangunan kesehatan lainnya.

1. Angka Kematian Bayi


Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011
mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan angka kematian bayi
pada tahun 2010, tahun 2009 dan tahun 2008.

Pada tahun 2011, AKB

Kabupaten Sidoarjo adalah 8,96 per 1000 Kelahiran Hidup (KH) dengan sebaran
AKB laki-laki 9,67 dan AKB perempuan 8,24. Angka ini menurun dibanding

tahun-tahun sebelumnya yaitu 9,57 per 1000 KH pada tahun 2010, 11,12 per
1000 KH tahun 2009 dan 12,62 per 1000 KH tahun 2008.
Kecenderungan penurunan AKB dapat dipengaruhi oleh banyak faktor.
Tersedianya berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, kualitas tenaga medis dan
paramedis yang semakin meningkat, kemudahan masyarakat dalam mengakses
pelayanan kesehatan, serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan
tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan
faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kecenderungan penurunan AKB.
Kondisi ekonomi masyarakat yang meningkat juga dapat berperan dalam
perbaikan gizi yang pada gilirannya mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap
serangan penyakit.

Gambar 3. Angka Kematian Bayi di Kabupaten Sidoarjo tahun 2004 tahun


2011

2. Angka Kematian Balita (AKABA)


AKABA adalah jumlah anak yang dilahirkan

pada tahun tertentu dan

meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun. Nilai normatif AKABA sesuai


pedoman MDGs apabila > 140 dinyatakan sangat tinggi, antara 71 140 tinggi,
20 70 sedang dan < 20 rendah.

AKABA di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011 naik secara bermakna


dibandingkan tahun 2010. Pada tahun 2010 angka kematian Balita sebesar 0,6
per 1000 kelahiran hidup naik menjadi 9,63 per 1000 kelahiran hidup pada
tahun 2011. Sesuai dengan pedoman MDGs angka ini tergolong rendah. Secara
riil jumlah anak Balita yang mati selama tahun 2011 sebanyak 123 dengan 62
anak laki-laki dan sisanya 58 perempuan.

Gambar 4. Angka Kematian Balita (AKABA) di Kabupaten Sidoarjo tahun 2004


tahun 2011

3. Angka Kematian Ibu


Kematian Ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu karena peristiwa
kehamilan, persalinan dan masa nifas. Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten
Sidoarjo pada tahun 2011 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan Angka
Kematian Ibu pada tahun 2010. Angka Kematian Ibu pada tahun 2011 adalah
78,19 per 100.000 Kelahiran Hidup

mengalami sedikit penurunan bila

dibandingkan AKI pada tahun 2010 sebesar 79,97 per 100.000 Kelahiran Hidup
Adapun penyebab kematian ibu diantaranya adalah :
1. Pre Eklampsia dan Eklamsia

2. Perdarahan
3. Infeksi
4. Lain-lain
Penyebab

lain-lain

ini

bisa

diakibatkan

oleh

penyakit-penyakit

yang

memperburuk kehamilannya (penyakit jantung, paru, ginjal, anemi dan


hepatitis,dll).
Kenaikan dan penurunan AKI ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain dilaksanakannya peningkatan ketrampilan pada asuhan persalinan normal,
kunjungan bumil (ANC) mulai K1 sampai K4, digalakkannya pemanfaatan buku
KIA dan stiker P4K bagi semua ibu hamil guna memantau kesehatan ibu hamil.
Walaupun demikian, dari Angka Kematian Ibu tersebut harus tetap diturunkan
untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.

Gambar 5. Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Sidoarjo


tahun 2004 tahun 2011

B. MORBIDITAS (ANGKA KESAKITAN)


Morbiditas adalah angka kesakitan (insidensi atau prevalensi) dari suatu
penyakit yang terjadi pada populasi dalam kurun waktu tertentu. Morbiditas
berhubungan dengan terjadinya atau terjangkitnya penyakit di dalam populasi,
baik fatal maupun non fatal. Angka morbiditas lebih cepat menentukan keadaan
kesehatan masyarakat daripada angka mortalitas, karena banyak penyakit yang
mempengaruhi kesehatan hanya mempunyai angka mortalitas yang rendah.
Berikut akan disajikan mengenai

penyakit menular, penyakit yang dapat

dicegah dengan imunisasi (PD3I) dan penyakit potensial kejadian luar biasa
(KLB).

1. Penyakit Menular
Penyakit menular yang disajikan dalam profil kesehatan Kabupaten Sidoarjo
tahun 2011 antara lain adalah penyakit malaria, TB Paru, HIV/AIDS, dan Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Penyakit Kusta,

a. Penyakit malaria
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit (plasmodium)
yang ditularkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi (vector borne
desease). Pada tubuh manusia parasit membelah diri dan bertambah banyak
di dalam hati dan kemudian menginfeksi sel darah merah.
Penyakit malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia,
dimana upaya pengendalian dan penurunan kasusnya merupakan komitmen
internasional dalam Millennium Development Goals (MDGs).
Kabupaten Sidoarjo sendiri dalam pemberantasan penyakit malaria perlu
diacungi jempol karena dari tahun ke tahun penyakit ini tidak pernah
ditemukan.

b. Penyakit TB Paru
Tuberculosis

(TB)

adalah

penyakit

infeksi

yang

disebabkan

oleh

Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru,


tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Penyakit ini menyebar dan
ditularkan melalui udara, Ketika orang yang terinfeksi TB Paru batuk, bersin,
berbicara atau meludah.
Millennium Development Goals (MDGs) menjadikan penyakit TB paru sebagai
salah satu penykit yang menjadi target untuk diturunkan, selain malaria dan
HIV/ AIDS.
Penderita TB Paru BTA positif dinyatakan sembuh jika telah menerima
pengobatan anti TB paru yang hasil pemeriksaan dahaknya menunjukkan dua
kali negative.
Evaluasi keberhasilan pengobatan TB Paru baru bisa dievaluasi setelah selesai
masa pengobatan yaitu 6 bulan sejak mulai diberikan pengobatan pertama.
Dari data yang berhasil dikumpulkan pada tahun 2011 menunjukkan kasus TB
Paru all cases (kasus baru dan kasus lama) adalah 2.226 dengan prevalensi
125,18

per 100.000 penduduk dengan jumlah kematian 19 (CFR

1,07/100.000 penduduk). Namun dari jumlah tersebut yang sudah bisa


dievaluasi sejumlah 843 dengan persentase kesembuhan 83,51 % (704 kasus).
Angka ini belum memenuhi target yang ditetapkan yaitu > 85%.

c. Penyakit HIV/AIDS
Perkembangan penemuan penyakit Human Immuno Deficiency Virus /
Acquired Immuno Deficiency Syndrom (HIV/AIDS) terus menunjukkan
peningkatan, meskipun berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan.
Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentrasentra pembangunan ekonomi di Indonesia, meningkatnya kecenderungan
perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA

melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat risiko


penyebaran HIV/AIDS.
HIV adalah virus yang menginfeksi sel-sel system immunology sehingga
merusak system kekebalan manusia. HIV dapat ditularkan dari satu orang ke
orang lain melalui kontak dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi HIV,
misalnya melalui hubungan sexual, transfuse darah, penggunaan jarum
suntik yang terkontaminasi, dan penularan dari ibu ke anak yang dilahirkan
atau disusui.
AIDS adalah kondisi kesehatan seseorang ketika HIV telah merusak system
kekebalan terhadap penyakit.
Di Kabupaten Sidoarjo penderita penyakit

HIV/AIDS terus mengalami

peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 ditemukan 262 kasus
dan meningkat menjadi 283 kasus pada tahun 2009 dan berlipat hampir dua
kalinya di tahun 2010 menjadi 557 kasus. Pada tahun 2011 terdapat 296
kasus HIV dengan 187 orang laki-laki dan 109 orang perempuan. Sedangkan
jumlah kasus AIDS yang pada tahun 2011 adalah 439 orang dengan jenis
kelamin laki-laki 329 orang dan perempuan 110 orang. Adapun kematian
akibat AIDS pada adalah 214 kasus dengan jenis kelamin laki-laki 166 kasus
dan perempuan 48 kasus.
Dari data diatas berarti jumlah keseluruhan penderita HIV/AIDS pada tahun
2011 adalah 735.
Target prevalensi HIV AIDS baik Nasional, Propinsi maupun kabupaten
adalah < 0,5 per 100.000 penduduk namun di Sidoarjo keadaannya sudah
jauh diatas angka tersebut yaitu 31 per 100.000 penduduk pada tahun 2010
dan meningkat menjadi 41 per 100.000 penduduk pada tahun 2011. Dari sisi
surveilance angka penemuan yang besar menunjukkan

semakin bagus

kinerja program.
Kasus baru HIV ditemukan paling banyak di Kecamatan Sidoarjo yaitu 39
kasus dan 30 kasus di kecamatan Waru. Sedangkan kasus baru AIDS paling

banyak juga ditemukan di Kecamatan Sidoarjo yaitu 112 kasus dan peringkat
kedua kecamatan Waru dengan 64 kasus.
Keberadaan penderita HIV/AIDS bagaikan fenomena gunung es, dimana
jumlah penderita yang ditemukan jauh lebih sedikit dari penderita yang
sebenarnya ada. Sehingga tidak menutup kemungkinan jumlah penderita
HIV/AIDS di Kabupeten Sidoarjo jauh lebih besar lagi. Untuk itu diperlukan
upaya bersama dalam pemberantasan penyakit HIV/AIDS, yang tidak saja
ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan tetapi juga diarahkan
pada upaya pencegahan yang dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap
darah donor dan pengobatan penderita penyakit menular seksual.
Gambar 6. Jumlah Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo tahun 2003
tahun 2011

alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga


telinga tengah, dan pleura (selaput paru).
Penyakit ISPA yang menjadi fokus program kesehatan adalah pneumonia,
karena pneuminia menjadi salah satu penyebab utama kematian bayi dan
Balita.
Upaya pemberantasan ISPA lebih difokuskan pada kegiatan penemuan dini
dan tatalaksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita pneumonia
Balita yang ditemukan.
Jumlah Balita yang menderita pneumonia yang dilaporkan di Kabupaten
Sidoarjo pada tahun 2011 sebanyak 7.106 menurun dibandingkan tahun
2010 yaitu 8.721 Balita, dimana keseluruhan penderita dapat ditangani.
Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang
ditemukan harus mendapat tata laksana sesuai standart, dengan demikian
angka penemuan kasus ISPA juga menggambarkan penatalaksnaan kasus
ISPA.
Kegiatan dalam rangka penurunan kasus pneumonia Balita antara lain
sosialisasi lintas program dalam penghitungan frekuensi nafas/penanganan
penderita yang sesuai prosedur ketetapan. Namun demikian bila dalam
wilayah tersebut memang ada peningkatan kasus, maka perlu diantisipasi
dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku pola hidup
bersih dan sehat, terutama dalam hal pemberian ASI ekslusif dan menjaga
kesehatan lingkungan.

e. Penyakit Kusta
Kusta atau Lepra adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium leprae. Bila tidak ditangani dengan baik, kusta dapat
menjadi progresif, menyebabkab kerusakan permanen pada kulit, saraf,
anggota gerak dan mata.

Sampai saat ini penyakit kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan
masyarakat, hal ini terbukti dengan masih tingginya jumlah penderita kusta
di Indonesia dan merupakan negara dengan urutan ketiga penderita
terbanyak di dunia.
Seseorang dikatakan menderita kusta apabila terdapat satu tanda-tanda di
bawah ini:
1.

Kulit dengan bercak putih atau kemerahan disertai mati rasa atau
anestesi

2.

Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati
rasa dan kelemahan/kelumpuhan pada otot tangan, kaki dan mata, kulit
kering serta pertumbuhan rambut yang terganggu

3.

Pada pemeriksaan kerokan jaringan kulit (slit=skin=smear) didapatkan


adanya kuman M. Leprae

Di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011 terdapat 74 kasus kusta yang terdiri
11 kasus PB dan 63 kasus MB, Dengan angka penemuan kasus baru Kusta
(NCDR) 4,16 per 100.000 penduduk. Adapun NCDR anak umur 0 14 tahun
adalah 8,11%. Secara keseluruhan Release From Treatmen (RFT) kusta atau
penderita yang sudah selesai mendapatkan pengobatan pada tahun 2011
belum bisa dihitung karena pengobatan kusta MB dan PB memerlukan
waktu yang berbeda, untuk kusta PB 6 dosis dalam waktu 6 9 bulan dan
kusta MB 12 dosis selama 12 18 bulan
Pada tahun 2010 terdapat 5 penderita kusta PB yang semuanya selesai
berobat dengan RFT 100%. Sementara untuk kusta MB yang sudah bisa
dievaluasi adalah kasus yang ditemukan dan diobati pada tahun 2009 yaitu
dari 62 penderita kusta yang selesai berobat (RFT) adalah 39 penderita
(62,9%).

Keadaan ini belum sesuai dengan target kinerja pelayanan

Kabupaten Sidoarjo tahun 2011 yaitu penderita kusta yang selesai berobat
(RFT) 90%.

f. Infeksi Menular Seksual Diobati


Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Kabupaten Sidoarjo pada tahun
2011 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun
2010 terdapat 127 menurun menjadi 93 kasus pada tahun 2011 dengan
penderita laki-laki 25 orang dan penderita perempuan 68. Penurunan ini
ditunjang dengan semakin baiknya fungsi Klinik Voluntair Conseling and
Testing (VCT) yang diharapkan dapat menjaring lebih banyak penemuan dini
kasus IMS.

2. Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)


PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas atau ditekan
dengan pelaksanaan program imunisasi. Pada profil kesehatan ini akan dibahas
penyakit Polio, tetanus neonatorum, campak, difteri, pertusis dan Hepatitis B

a. Polio dan AFP


Penyakit Polio adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus yang dapat
menyerang semua umur, tetapi biasanya menyerang anak-anak yang berusia
kurang dari 3 tahun. Penyakit ini bisa menyebabkan kelumpuhan sehingga
penderita tidak dapat menggerakkan salah satu bagian tubuhnya.
AFP adalah kondisi

apnormal yang ditandai melemahnya/hilangnya

kekuatan otot tanpa sebab yang jelas.


Selama tahun 2011 terdapat 5 kasus AFP yang tersebar di 4 wilayah
Puskesmas yaitu 2 kasus di wilayah kerja Puskesmas Tanggulangin, dan 3
lainnya ada di Wilayah Puskesmas Ganting, Waru dan Taman. Dari 5 kasus
tersebut semuanya setelah diperiksa secara laboratorium dan tidak
ditemukan virus Polio.

b. Tetanus Neonatorum
Penyakit Tetanus Neonatorum adalah suatu bentuk tetanus infeksius yang
berat dan terjadi selama beberapa hari pertama setelah lahir, yang
disebabkan oleh faktor faktor seperti tindakan perawatan sisa tali pusar
yang tidak higienis, circumsisi bayi laki laki dan perempuan yang tidak
steril dan kekurangan imunisasi maternal.
Pada tahun 2011 tidak ditemukan kasus Tetanus Neonatorum. Penemuan
kasus Tetanus Neonatorum merupakan suatu kejadian Luar Biasa yang harus
segera ditindaklabjuti. Dalam 4 tahun terakhir baru tahun 2010 yang
ditemukan kasus Tetanus Neonatorum sedangkan tahun 2009 dan tahun
2008 belum pernah dilaporkan adanya kasus Tetanus Neonatorum.
Penanganan kasus Tetanus Neonatorum memang tidak mudah tetapi juga
bukannya tidak mungkin untuk dicegah. Yang terpenting adalah upaya
pencegahan melalui pertolongan persalinan yang higienis ditunjang dengan
imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil.

c. Campak
Penyakit campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh Morbilivirus,
ditandai dengan munculnya bintik merah (ruam) dimana sering terjadi
pertama kali pada saat anak-anak.
Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan Kejadian
Luar Biasa (KLB).
Pada tahun 2011 ditemukan 84 kasus dengan tanpa kematian. Pada tahun
2010 ditemukan 73 kasus dengan 1 kematian.
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan anak yang sudah diimunisasi
campak masih terjangkit Campak, salah satunya karena mutu rantai dingin
penyimpanan vaksin kurang baik. Sehingga sangatlah perlu adanya monitoring
terhadap rantai dingin di Puskesmas.

d. Difteri
Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan bakteri
Corynebacterium Diphteriae, ditandai dengan pembentukan membran di
kerongkongan dan aliran udara lainnya yang menyebabkan sulit bernafas.
Dari tahun ke tahun jumlah penderita Difteri terus meningkat yaitu 12 kasus
pada tahun 2009, 17 kasus pada tahun 2010 dan 38 pada tahun 2011.
Gambar 7. Jumlah Kasus Difteri di Kabupaten Sidoarjo tahun 2009 tahun
2011

Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi DPT 1, DPT 2 dan
DPT 3. Selain pemberian imunisasi, perlu juga diberikan penyuluhan kepada
masyarakat terutama kepada orang tua tentang bahaya dari difteri dan
perlunya imunisasi aktif diberikan kepada bayi dan anak-anak. Selain itu
sangatlah perlu untuk menjaga kebersihan badan, pakaian dan lingkungan.
Penyakit menular seperti difteri mudah menular dalam lingkungan yang
buruk dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh karena itu, selain menjaga
kebersihan diri, kita juga harus menjaga kebersihan lingkungan sekitar, juga
yang tidak kalah penting adalah memperhatikan kebersihan makanan yang
dikonsumsi.

e. Penyakit Pertusis
Penyakit Pertusis adalah penyakit membran mukosa pernafasan dengan
gejala demam ringan, bersin, hidung berair dan batuk kering. Selama 3
tahun terakhir yaitu mulai tahun 2009 sampai dengan tahun 2011

di

Kabupaten Sidoarjo tidak ditemukan kasus penyakit Pertusis yang dilaporkan


Puskesmas.

f. Hepatitis B
Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Hepatitis B dengan
gejala demam, nyeri ulu hati dan icterus. Selama tahun 2009 sampai dengan
tahun 2011 di Kabupaten Sidoarjo tidak ditemukan kasus penyakit Hepatitis
yang dilaporkan Puskesmas.

3. Penyakit Potensi Kejadian Luar Biasa (KLB / Wabah)


a. Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas ke seluruh
wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan
angka kesakitan dan angka kematian yang relatif tinggi. Angka kesakitan DBD
pada tahun 2011 adalah 125 kasus menurun sangat signifikan bila dibanding
dua tahun sebelumnya yaitu 704 pada tahun 2010 dan 526 pada tahun 2009.
Upaya

pencegahan

dan

pemberantasan

DBD

dititikberatkan

pada

penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam


pemberantasan sarang nyamuk dengan gerakan 3 M, pemantauan Angka
Bebas Jentik (ABJ) serta pengenalan dini gejala DBD dan penanganannya di
rumah tangga. Mulai tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 pemerintah
daerah memberikan honor kepada para jumantik desa yang merupakan
ujung tombak keberhasilan program 3 M plus di masyarakat. Semakin
intensifnya pemeriksaan jentik di rumah diharapkan dapat merangsang
kesadaran masyarakat untuk melaksanakan gerakan 3 M secara teratur

sehingga memberi dampak positif pada upaya pemutusan mata rantai


penularan penyakit DBD. Kegiatan lain dalam upaya pemberantasan DBD
adalah pengasapan (fogging) baik fogging fokus maupun fogging swadaya.

Gambar 8. Kasus DBD di kabupaten Sidoarjo tahun 2003 tahun 2011

b. Diare
Penyakit Diare masih merupakan salah satu penyebab kematian bayi dan
Balita. Jumlah kasus Diare pada Balita di Kabupaten Sidoarjo pada tahun
2011 adalah 88.793 meningkat sangat tajam bila dibanding tahun 2010
dengan kasus 26.296 dimana kesemuanya ditangani. Jumlah kasus diare
tertinggi ditemukan di wilayah Puskesmas Taman (7.457 kasus) kemudian
disusul oleh Puskesmas Sukodono (5.483 kasus) dan Puskesmas Candi
(5.406 kasus).
c. Filariasis
Penyakit Filariasis adalah penyakit menular kronis yang disebabkan cacing
filarial yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening serta merusak

system limfe. Penyakit Filariasis menimbulkan pembengkakan tangan, kaki,


granula mammae dan scrotum.
Sebagai agent penularan dari penyakit ini adalah semua jenis nyamuk betina
terutama jenis armigeres, mansonia dan culex, untuk itu dalam rangka
pencegahan diperlukan peningkatan kebersihan lingkungan. Sosialisasi
tentang gejala awal penyakit Filariasis juga harus tetap dilakukan kepada
masyarakat agar bisa diobati secara dini untuk mencegah kecacatan
(pembesaran kaki) permanent.
Jumlah kasus Filariasis di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011 adalah 14
kasus dengan angka kesakitan 0,79/100.000 penduduk. Dengan kampanye
perilaku hidup bersih dan sehat di seluruh masyarakat, sekolah dan institusi
kesehatan diharapkan tahun-tahun kedepan tidak lagi ditemukan kasus
penyakit ini.

C. KEADAAN STATUS GIZI


Keadaan gizi yang baik merupakan prasyarat utama dalam mewujudkan sumber
daya manusia yang sehat dan berkualitas. Jika ditelusuri, masalah gizi terjadi
disetiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam kandungan (janin), bayi, anak,
dewasa, dan usia lanjut.
Periode dua tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan masa kritis
karena itu terjadinya gangguan gizi dimasa tersebut dapat bersifat permanen
dan tidak dapat pulih walaupun kebutuhan gizi kebutuhan gizi dimasa
selanjutnya terpenuhi.
Status gizi masyarakat dapat dilihat melalui beberapa indikator, antara lain bayi
dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan status gizi Balita

a. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)


BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram yang ditimbang
pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir.

Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu
faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal.
BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena premature atau BBLR
karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup
bulan tetapi berat badannya kurang.
Jumlah BBLR yang dilaporkan di Kabupaten Sidoarjo pada tahun

2011

sebanyak 596 (2,1%) dari seluruh kelahiran hidup dan meningkat dibanding
keadaan tahun 2010 yaitu 490 (1,78%) dari seluruh jumlah kelahiran hidup.
Seluruh BBLR yang dilaporkan di Kabupaten Sidoarjo ditangani sesuai
prosedur pelayanan kesehatan neonatal dasar seperti tindakan resusitasi,
pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan
infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit dan pemberian imunisasi,
pemberian vitamin K, Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM), penanganan
penyulit / komplikasi / masalah dan penyuluhan perawatan neonatus
dirumah.

b. Balita dengan Gizi Buruk


Status gizi Balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan
tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi Balita
adalah dengan pengukuran antopometri yang menggunakan indeks Berat
Badan menurut Umur (BB/U) maupun menurut Tinggi badan (BB/TB).
Status Gizi Buruk adalah status gizi menurut berat badan dan tinggi badan
dengan Z skore < -3, dan atau dengan tanda-tanda klinis (marasmus,
kwasiorkor, marasmus kwasiorkor)
Pada tahun 2011 persentase Balita gizi buruk 1,36 (1420) meningkat sangat
tajam bila di banding tahun 2010 dimana prosentase Balita gizi buruknya
0,04% (45 kasus).

Gambar 9 : Prosentase Balita Gizi buruk Tahun 2009 tahun 2011

Sementara itu berdasarkan penimbangan Balita yang dilakukan selama


tahun 2011 jumlah Balita bawah garis merah

(BGM) adalah 5,81

meningkat bila dibandingka tahun 2010 dimana Balita Bawah Garis Merah
(BGM) adalah 2.150 Balita atau 2,13 %.

Gambar 10 : Prosentase Balita Bawah Garis Merah di Kabupaten Sidoarjo tahun


2009 tahun 2011

Kondisi ini sangat perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti dengan beberapa


upaya yang bisa dilakukan antara lain pemantauan berat badan Balita melalui
penimbangan di posyandu dan juga yang tidak kalah penting adalah pentingnya
penyuluhan kepada masyarakat, dalam hal ini orang tua Balita tentang pola
pemberian nutrisi pada Balita.

BAB IV
UPAYA KESEHATAN

paya kesehatan yang diselenggarakan meliputi pelayanan kesehatan, Akses


dan mutu pelayanan kesehatan, Perilaku hidup masyarakat dan keadaan

lingkungan.

A. PELAYANAN KESEHATAN
1. Pelayanan Antenatal (Kunjungan ke 1 (K1) dan Kunjungan ke 4 (K4))
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga
kesehatan profesional (dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dokter
umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya.
Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan K1 dan K4
Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan
gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke
fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal.
Pada tahun 2011 cakupan K1 di Kabupaten Sidoarjo adalah 98,80% dari
30.349 ibu hamil menurun bila dibandingan cakupan K1 pada tahun 2010
yaitu 99,97% dari 30.349 ibu hamil.
K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan
ibu hamil sesuai standar serta paling sedikit empat kali kunjungan (sekali
pada trimester pertama, sekali pada trimester kedua, dan dua kali pada
trimester ketiga). Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas
pelayanan kesehatan ibu hamil. Tetapi untuk gambaran persentase cakupan
pelayanan K4 Kabupaten Sidoarjo justru mengalami penurunan yaitu dari
28.479 (93.84%) pada tahun 2010 menjadi 27.348 (90,11%) pada tahun
2011.

2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan kompetensi


kebidanan
Pada tahun 2011 cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan

sebesar

93,72% menurun bila dibandingkan cakupan persalinan oleh tenaga


kesehatan pada tahun 2010 yaitu 99,01%. Dari persantase tersebut berarti
pada tahun 2011 masih terdapat 3001 Ibu bersalin yang pertolongan
persalinannya dilakukan oleh tenaga non kesehatan. Diharapkan dengan
meningkatnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan bisa menekan
serendah mungkin angka kematian ibu dan angka kematian bayi sehingga
percepatan pencapaian MDGs segera terwujud.
Untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, Seksi Kesehatan
Keluarga pada tahun 2011 telah melakukan berbagai pelatihan untuk tenaga
bidan diantaranya adalah pelatihan BBLR, Manajemen Asfiksi Bayi Baru Lahir
(BBL), dan APN (Asuhan Persalinan Normal).

3. Ibu Hamil Risiko Tinggi /Komplikasi Kebidanan Ditangani


Ibu hamil risti /komplikasi adalah ibu hamil dengan keadaan penyimpangan
dari normal yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian
bagi ibu maupun bayinya.
Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di desa dan puskesmas,
beberapa ibu hamil diantaranya tergolong dalam kasus risiko tinggi (risti)
dan memerlukan pelayanan kesehatan.
Kasus-kasus komplikasi kebidanan antara lain HB < 8 g%, tekanan darah
tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg), ketuban pecah dini,
perdarahan pervaginam, Oedema nyata, eklamsia, eklamsia, letak lintang
usia kehamilan >32 minggu, letak sungsang, pada primigravida, infeksi berat
/ sepsis dan persalinan prematur. Akibat yang dapat ditimbulkan dari kondisi
tersebut antara lain bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR)

keguguran, persalinan macet, janin mati dikandungan, ataupun kematian ibu


hamil.
Jumlah ibu hamil risiko tinggi yang ditangani pada tahun 2011 adalah 4.479
(73,79%) dari 6.070 sasaran komplikasi kebidanan. Prosentase ini meningkat
dibandingkan 2010 adalah 2.873 (47,33%) dari 6.070 sasaran komplikasi
kebidanan. Deteksi dini ibu hamil risti sangat penting dilakukan oleh tenaga
kesehatan, selain itu juga perlu diberikan pengetahuan kepada para kader
yang ada tentang bagaimana mendeteksi ibu hamil risti, Sehingga kondisi
yang patologis dapat diketahui lebih awal dan dapat menentukan tindakan
selanjutnya yang harus dilakukan untuk mengantisipasi masalah potensial
yang mungkin terjadi.
Gambaran cakupan pelayanan ibu hamil komplikasi menurut wilayah
Puskesmas adalah sebagai berikut:
Gambar 11

: cakupan pelayanan ibu hamil komplikasi menurut wilayah


Puskesmas

4. Pelayanan Nifas
Pelayanan ibu nifas adalah pelayanan 6 jam pasca persalinan sampai dengan
42 hari minimal 3 kali sesuai standar. Masa nifas adalah masa 6-8 minggu
setelah persalinan dimana organ reproduksi mengalami pemulihan untuk
kembali normal.
Kunjungan nifas bertujuan untuk deteksi dini komplikasi dengan melakukan
kunjungan minimal 3 kali dengan distribusi waktu :
1. Kunjungan nifas pertama pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari
2. Kunjungan nifas kedua dilakukan pada minggu kedua setelah persalinan
3. Kunjungan nifas ke tiga dilakukan pada minggu keenam setelah
persalinan.
Cakupan Ibu nifas mendapat pelayanan pada tahun 2011 adalah 91,03%.
Keadaan ini menurun dibanding Cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun
2010 yaitu 27.428 (98,41%) dari 27.871 sasaran ibu nifas.
Pelayanan masa nifas ini meliputi pemantauan keadaan umum dan fisik ibu
dan bayi serta keadaan psikologis ibu. Juga pemantauan tanda bahaya yang
mungkin terjadi pada ibu dan bayi sampai dengan konseling KB bagi ibu.

5. Neonatal Komplikasi ditangani


Neonatal komplikasi ditangani yaitu bayi (0-28 hari) dengan penyakit dan
kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan dan kematian seperti asfiksi,
icterus, BBLR, trauma lahir, Tetanus Neonatorum, syndroma gangguan
pernafasan, infeksi/sepsis dan kelainan kongenital.
Pada tahun 2011 terdapat

3.131 (49,77%) neonatal komplikasi yang

ditangani dari 4.139 neonatal komplikasi. Keadaan ini meningkat dibanding


tahun 2010 yaitu terdapat 1.852 (44,76%) neonatal komplikasi yang
ditangani dari 4.138 neonatal komplikasi.

6. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)


Begitu pesatnya pertumbuhan penduduk menjadi persoalan yang mendesak
untuk dituntaskan pemerintah, terkait dengan langkah-langkah yang harus
ditempuh guna mengendalikan laju pertumbuhan. Untuk menekan laju
pertumbuhan penduduk, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan
meningkatkan pemakaian kontrasepsi. Di samping itu, juga dengan
meningkatkan pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan reproduksi
yang terjangkau, bermutu, serta efektif menuju terbentuknya keluarga kecil
berkualitas dan memantapkan kembali pelembagaan paradigma keluarga
kecil bahagia dan sejahtera. Keluarga yang sejahtera dan tertata merupakan
investasi bagi masa depan bangsa dan negara. Program Keluarga Berencana
(KB) merupakan salah satu komponen yang berperan secara signifikan untuk
mewujudkan hal ini. Keberhasilan program KB merupakan tanggung jawab
bersama untuk kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga serta mewujudkan
keluarga yang berkualitas.
Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011
adalah 354.912 orang. Dari jumlah PUS tersebut yang menjadi peserta KB
baru sebanyak 47.549 (13,70%) dan peserta KB aktif 293.544 (84,86%).
Cakupan KB aktif ini sudah memenuhi target standar pelayanan minimal
yaitu > 70%.
Berdasarkan jenis kontrasepsi yang digunakan peserta KB aktif

20,3%

akseptor memilih metode kontrasepsi jangka panjang seperti IUD, implant


dan MOP/MOW, sedangkan 79,7% memilih metode kontrasepsi jangka
pendek seperti pil, suntik, maupun kondom. Proporsi metode kontrasepsi
yang digunakan akseptor KB aktif terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 12 :

Proporsi jenis alat kontrasepsi peserta KB aktif di Kabupaten


Sidoarjo tahun 2011.

Dari gambar diatas terlihat bahwa akseptor KB aktif sebagian besar memilih
metode suntik (58,6% ). Kecenderungan yang sama juga terjadi pada peserta
KB baru yaitu 87,84% akseptor lebih memilih metode kontrasepsi jangka
pendek dan sebagian besar memilih suntik (64,68%) seperti terlihat pada
gambar dibawah ini.
Gambar 13 : Proporsi jenis alat kontrasepsi peserta KB Baru di Kabupaten
Sidoarjo tahun 2011

7. Pelayanan Imunisasi
Pelayanan imunisasi merupakan bagian dari upaya pencegahan dan pemutusan
mata rantai penularan pada penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilan program imunisasi adalah
angka UCI (universal child Immunization)
Pada awalnya uci dijabarkan sebagai tercapainya cakupan imunisasi lengkap
minimal 80% untuk tiga jenis antigen yaitu DPT3, Polio dan campak. Namun sejak
tahun 2003 , indikator perhitungan UCI sudah mencakup semua antigen. Bila
cakupan uci dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu , berarti dalam
wilayah tersebut juga tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat
terhadap penularan PD3I. Adapun sasaran program imunisasi adalah bayi (0 11
bulan), ibu hamil, WUS dan murid SD.
Cakupan UCI di Kabupaten Sidoarjo tahun 2011 sebesar 98,89 % dan telah
memenuhi target > 95%. Tiga Puskesmas yang belum mencapai target yaitu
Puskesmas Porong, Puskesmas Tanggulangin dan Puskesmas Ganting.
Walaupun pencapaian UCI di Kabupaten Sidoarjo sudah cukup tinggi namun tetap
diwaspadai munculnya kasus-kasus PD3I, terutama karena masih ada puskesmas
yang belum mencapai target UCI dan tingkat drop out imunisasi DPT 1-Campak
tahun 2011 masih 3,6% .
Upaya

peningkatan

kualitas

imunisasi

dilaksanakan

melalui

kampanye,

peningkatan, peningkatan skill petugas imunisasi, kualitas penyimpangan vaksin


dan sweeping sasaran.

8. Kunjungan Neonatus (KN Lengkap)


Bayi hingga usia kurang dari satu bulan (0-28 hari) atau neonatus
merupakan golongan umur yang paling rentan karena memiliki risiko
gangguan kesehatan paling tinggi. Dalam melaksanakan pelayanan
neonatus,

petugas

kesehatan

disamping

melakukan

pemeriksaan

kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu.

Cakupan Kunjungan Neonatus lengkap (KN Lengkap) di Kabupaten Sidoarjo


dalam 2 tahun terakhir mengalami penurunan yaitu dari 98,19% neonatus
pada tahun 2010 menjadi 94,24% pada tahun 2011.

Artinya pada tahun

2011, masih terdapat 5,761% bayi neonatus yang tidak melakukan


kunjungan lengkap ke sarana pelayanan kesehatan setempat. Kunjungan
lengkap

sangatlah penting untuk memantau kesehatan neonatus dan

mendeteksi dini adanya kelainan / komplikasi yang mungkin terjadi pada


masa ini.

9. Kunjungan Bayi
Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan bayi (umur 1 12 bulan) termasuk
neonatus (umur 1 28 hari) yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai
dengan standar oleh dokter, bidan, perawat yang memiliki kompetensi klinis
kesehatan, paling sedikit 4 kali (bayi) dan 2 kali (neonatus).
Di Kabupaten Sidoarjo Cakupan kunjungan bayi pada tahun 2010 sebanyak
24.959 (90,46%) dan meningkat menjadi 27.340 (99,9%) pada tahun 2011.
Kenaikan kunjungan ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah semakin
sadar akan pentingnya menjaga kesehatan bayinya.

10. Pelayanan Kesehatan Usia Sekolah


Pelayanan kesehatan pada kelompok usia sekolah dilakukan dengan
pelaksanaan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan
kesehatan pemeriksaan anak sekolah dasar/sederajat.
Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD/MI adalah cakupan siswa kelas 1
(satu) SD/MI yang mendapat pelayanan kesehatan sesuai standart oleh
tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS atau dokter kecil) melalui
penjaringan kesehatan (screening).

Cakupan siswa SD/MI tahun 2011 yang mendapat pelayanan sesuai standart
adalah 33.253 (94,33%) sedikit menurun bila dibandingkan cakupan tahun
2010 yaitu sebesar 95,40%.

11. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut


Jumlah penduduk usia lanjut menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Hal ini sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup serta menjadi tanda
membaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat. Di lain sisi, peningkatan
penduduk usia lanjut mengakibatkan meningkatnya penyakit degenerative di
masyarakat. Tanpa diimbangi dengan upaya promotif dan preventif, maka
beban sosial yang ditimbulkan maupun biaya yang akan dikeluarkan untuk
pelayanan kesehatan akan cukup besar. Salah satu sarana pelayanan
promotif dan preventiv bagi warga usia lanjut dilaksanankan melalui
posyandu lansia.
Jumlah warga usila umur >60 th di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011
adalah 296.166 orang dan yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebesar
127.824 (43%) sedikit menurun bila dibandingkan capaian tahun 2010 yaitu
51,01%

12. Kesehatan Gigi dan Mulut


Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut seharusnya dilakukan sejak
dini. Usia sekolah dasar merupakan saat yang tepat untuk dilakukan upaya
kesehatan gigi dan mulut, karena pada usia tersebut merupakan awal
tumbuh kembangnya gigi permanen dan merupakan kelompok umur dengan
resiko kerusakan paling tinggi. Oleh karena itu upaya kegiatan pelayanan
kesehatan gigi mulut dilakukan dengan upaya promotif dan preventif di
sekolah dengan kegiatan sikat gigi masal dan pemeriksaan gigi siswa,
sedangkan tindakan kuratif (pencabutan, pengobatan dan penambalan gigi)
dilakukan di Puskesmas.

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut meliputi pelayanan dasar gigi dan Usaha
Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Pemeriksaan gigi dan mulut dalam bentuk
upaya promotif, preventiv dan kuratif sederhana seperti pencabutan gigi
sulung, pengobatan dan penambalan sementara dan tetap.
Pada tahun 2011 cakupan pelayanan dasar gigi di Puskesmas sebanyak
19.257 yang terdiri 9.730 tumpatan gigi tetap dan 9.527 pencabutan gigi
tetap dengan rasio tambal/cabut 1,02. Keadaan ini meningkat dibanding
tahun 2010 dimana cakupan pelayanan dasar gigi di Puskesmas sebanyak
15.514 yang terdiri dari 7.192 tumpatan gigi tetap dan pencabutan gigi tetap
sebanyak 1.763 sehingga rasio tambal/cabut sebesar 0,86.
Meningkatnya rasio tambal/cabut mengindikasikan semakin tingginya
kesadaran masyarakat untuk secara rutin memeriksakan kesehatan giginya
ke pelayanan kesehatan terdekat.
Untuk UKGS, tahun 2011 cakupan murid SD/MI diperiksa gigi dan mulut
sebanyak 78.908 (41,08%) dari total murid SD/MI sebanyak 192.072 murid
SD/MI. Sedangkan cakupan murid SD/MI yang mendapat perawatan adalah
28.407 (79,85%) dari jumlah 35.577 yang perlu mendapat perawatan.
Diperlukan penyuluhan yang lebih intensif tentang pentingnya fungsi gigi
dalam proses pencernakan makanan dan estetika wajah, sehingga
masyarakat akan lebih memperhatikan kesehatan gigi dan mulutnya.

13. Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Gawat Darurat


Yang dimaksud sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat
adalah sarana kesehatan (Rumah Bersalin, Puskesmas dan Rumah Sakit)
yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan gawat
darurat sesuai standar dan dapat diakses oleh masyarakat. Pada tahun
2011 di Kabupaten Sidoarjo terdapat 35 sarana

kesehatan yang

mempunyai kemampuan gawat darurat yaitu 14 Rumah sakit umum, 8


rumah sakit khusus dan 13 Puskesmas Perawatan.

14. Balita BGM


Jumlah Balita BGM yang ada sampai bulan Desember 2011 sebanyak 1.420
(1,36%) Balita menurun dibandingkan keadaan tahun 2010 di mana Jumlah
BGM pada tahun tersebut adalah sebanyak 2.150 (2,13%) dari 100.858
Balita yang ditimbang. Sedangkan rerata Balita BGM selama tahun 2011
adalah 1.786 dari 104.108 Balita (1,7%)

15. Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan


Masalah penanggulangan gizi buruk merupakan program prioritas /
unggulan. Pada tahun 2011 terdapat 39 kasus gizi buruk dan semuanya
mendapat perawatan. Jumlah ini menurun bila dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya dimana terdapat 45 kasus pada tahun 2010, 54 kasus pada
tahun 2009, 69 kasus pada tahun 2008 dan 84 kasus pada tahun 2007.
Keseluruhan Balita gizi buruk tersebut mendapat perawatan (100 %).
Dari tahun ke tahun kasus gizi buruk terus mengalami penurunan. Hal ini
tidak lepas dari kerja keras tenaga gizi yang responsif dan dukungan dana
APBD untuk menindaklanjuti apabila terdapat kasus BGM di lapangan
sehingga kasus tidak berkembang menjadi gizi buruk. Ke depan diharapkan
anggaran pemerintah untuk penanggulangan kasus gizi buruk tetap
mendapat prioritas sehingga jumlah Balita gizi buruk dapat diturunkan.

16. Pemberian Kapsul Vitamin A


Cakupan pemberian kapsul vitamin A dua kali pada anak Balita Pada tahun
2011 adalah 106.817 (91,54%) dari 116.686. sedangkan untuk bayi yang
mendapat vitamin A adalah 29.366 (106,4%) dari 27.592 bayi. Diharapkan
melalui program Revitalisasi Posyandu, peran serta masyarakat untuk
berpartisipasi diharapkan lebih meningkat agar cakupan Balita dan bayi
mendapatkan kapsul vitamin A dapat lebih ditingkatkan. Dengan demikian

tujuan pemberian vitamin A untuk mencegah terjadi nya kebutaan pada bayi
dan Balita dapat tercapai.

17. Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe


Pada tahun 2011 dari 30.349 ibu hamil yang mendapatnya tablet Fe1 (30
tablet) sebanyak 28.341 (93,38%) meningkat bila dibandingkan cakupan
tahun 2010 yaitu 25.933 (85,93%) sedangkan yang mendapatkan Fe3 (90
tablet )

pada tahun 2011 sebanyak 26.013 (85,71%) meningkat bila

dibandingkan cakupan tahun 2010 yang baru mencapai 25.298 (83,36%).


Untuk lebih meningkatkan lagi cakupan pemberian tablet Fe maka petugas
kesehatan harus lebih diintensifkan lagi dan tetap memberikan motivasi
agar tablet Fe tersebut benar-benar diminum oleh ibu hamil dalam rangka
mencegah terjadinya anemia ibu hamil sehingga dapat mengurangi
kejadian perdarahan pada saat ibu melahirkan.

18. ASI Eksklusif


Air Susu Ibu (ASI) terbukti secara ilmiah memberi manfaat bagi bayi dan
ibu. Bagi ibu dapat mempercepat pemulihan kondisi pasca melahirkan dan
bisa sebagai alat kontrasepsi alami (penundaan kehamilan). Sedangkan
bagi bayi, ASI sangat baik dari aspek gizi, aspek imunologik, aspek
psikologik, aspek kecerdasan, aspek neurologik, aspek ekonomik.
Disamping itu, ASI juga dapat melindungi bayi dari sindroma kematian
mendadak (Sudden Infant Death Syndrome / SIDS).
Di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011 bayi yang mendapatkan ASI
eksklusif sebesar 44,6% atau 7.926 dari 17.763 bayi yang ada. Meningkat
bila dibandingkan cakupan tahun 2010 yaitu bayi yang mendapatkan ASI
eksklusif sebesar 26,29% atau 7.253 dari 27.593 bayi yang ada.
Dibandingkan target sebesar 70%, maka pencapaian ASI eksklusif di
Kabupaten Sidoarjo masih jauh dibawah target. Berbagai faktor

kemungkinan yang menyebabkan rendahnya penggunaan ASI esklusif


antara lain karena semakin banyaknya ibu yang bekerja dalam rangka
membantu perekonomian rumah tangga dan penggunaan susu formula
yang menjadi trend pada masyarakat. Untuk itu promosi ASI eksklusif
harus lebih diintensifkan lagi.

19. Desa Terkena KLB


Yang dimaksud dengan Desa/Kelurahan Terkena KLB adalah desa / kelurahan
dimana terjadi peningkatan kesakitan atau kematian penyakit potensial KLB,
penyakit karantina atau keracunan makanan. Di Kabupaten Sidoarjo, pada
tahun 2011 terdapat 38 desa/kelurahan terkena KLB yang tersebar di 11
kecamatn yang semuanya ditangani kurang dari 24 jam. Dari sisi jumlah
kejadian terdapat peningkatan dibandingkan keadaan tahun 2010 yaitu
terdapat 29 desa/kelurahan terkena KLB yang tersebar di 12 kecamatan yang
semuanya ditangani < 24 jam.

B. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN


Penilaian kualitas pelayanan kesehatan dilihat dari tingkat kemudahan
masyarakat untuk menjangkau sarana kesehatan (aksesibilitas) dan mutu
pelayanan yang diberikan, menyangkut kelengkapan pelayanan dasar,
ketersediaan obat esensial dan generik.

1. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar


Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar adalah cara penyelenggaraan
pemeliharaan kesehatan yang paripurna berdasarkan azas usaha bersama dan
kekeluargaan berkesinambungan dengan mutu yang terjamin dan mutu
terkendali. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar meliputi
kepesertaan ASKES, JAMSOSTEK, Jamkesmas dan lain-lain. Tahun 2011
cakupan pemeliharaan kesehatan pra bayar di Kabupaten Sidoarjo mencapai

326.550 (18,36%) dari jumlah penduduk yang terdiri dari 62.384 (3,5%) ASKES
dan 212.883 (11,97%) peserta Jamkesmas. Jumlah ini tidak jauh berbeda
dibandingkan tahun 2010 dimana cakupan pemeliharaan kesehatan pra bayar
di Kabupaten Sidoarjo mencapai 326.373 (18,35%) dari jumlah penduduk, yang
terdiri dari 62.384 (3,5%) ASKES dan 264.166 (14,85%) peserta Jamkesmas.

2. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin dan Keluarga Rentan


Kesehatan adalah salah satu hak mendasar bagi masyarakat. Hak ini menjadi
salah satu kewajiban pemerintah kepada warganya terutama bagi masyarakat
miskin. Tujuan pelaksanaan program pelayanan kesehatan bagi masyarakat
miskin adalah meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan kepada
seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan
masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Pelayanan kesehatan ini
meliputi pelayanan rawat

jalan pelayanan rawat inap di Puskesmas dan

pelayanan kesehatan lainnya.


Masyarakat miskin yang mendapat pelayanan kesehatan adalah masyarakat
miskin sesuai kriteria pemerintah yang memperoleh pelayanan kesehatan
(rawat jalan/rawat inap) di sarana pelayanan kesehatan meliputi upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Masyarakat miskin di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011 sebanyak 212.883
dimana seluruhnya tercakup dalam program Jamkesmas. Dari jumlah tersebut
yang mendapat pelayanan dasar rawat jalan di sarana kesehatan strata 1
sejumlah 121.506 (57,1%) dan yang mendapat pelayanan rujukan rawat jalan
di sarana kesehatan strata II sejumlah 15.012 (7,1%).
Adapun masyarakat miskin yang mendapat pelayanan rawat inap di sarana
kesehatan strata I sebanyak 2.324 (1,09%) dan yang mendapat pelayanan
rujukan rawat inap di sarana kesehatan strata II sejumlah 15.012 (7,05%).

3. Rawat Jalan dan Rawat Inap


Sebagian besar sarana pelayanan di Puskesmas dipersiapkan untuk
memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi penderita melalui pelayanan
rawat jalan dan rawat inap bagi Puskesmas dengan tempat tidur (Puskesmas
Perawatan). Sementara rumah sakit yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas
merupakan sarana rujukan bagi Puskesmas terhadap kasus-kasus yang
membutuhkan penanganan lebih lanjut melalaui perawatan rawat inap,
disamping tetap menyediakan pelayanan rawat jalan bagi masyarakat yang
langsung datang ke Rumah sakit.
Cakupan pelayanan kesehatan dapat dilihat dari jumlah kunjungan rawat jalan
dan rawat inap. Kunjungan rawat jalan meliputi kunjungan baru dan lama.
Pada tahun 2011 jumlah masyarakat yang telah memanfaatkan pelayanan
rawat jalan di Puskesmas sebanyak 1.400.912 dan di rumah sakit sebanyak
386.652 dari 1.778.210 jumlah total penduduk. Sedangkan

jumlah

masyarakat yang telah memanfaatkan pelayanan rawat inap di Puskesmas


sebanyak 15.719 dan di rumah sakit sebanyak 381.354.
Gambar 14 : Kunjungan rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas dan
Rumah Sakit Kabupaten Sidoarjo tahun 2012

Berdasarkan gambar diatas terlihat bahwa masyarakt Kabupaten Sidoarjo


sebagian

besar

lebih

memilih

memanfaatkan

Puskesmas

untuk

mendapatkan pelayanan rawat jalan dan lebih memilih memanfaatkan


rumah sakit pada pelayanan rawat inap, mengingat kelengkapan fasilitas
yang ada pada sarana tersebut.
Kondisi diatas sebenarnya belum bisa menggambarkan situasi yang
sebenarnya di Kabupaten Sidoarjo karena dari 24 Rumah Sakit hanya 7
rumah sakit yang melaporkan kunjungannya, sedangkan sarana kesehatan
lainnya seperti klinik, rumah bersalin dan sarana kesehatan lainnya tidak ada
laporan

tentang

kunjungan

rawat

jalan

dari

masyarakat

yang

memanfaatkannya.

4.

Bed Occupancy Ratio (BOR), Average Length of Stay (ALOS), Turn Over
Interval (TOI).
BOR merupakan indikator yang digunakan untuk mengukut tingkat tinggi
rendahnya pemanfaatan tempat tidur Rumah Sakit dan Puskesmas Perawatan
dalam kurun waktu tertentu. Tingkat pemanfaatan diukur dari penggunaan
tempat tidur yang tersedia.
ALOS merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur rata-rata lama
waktu pasien mendapat perawatan. Standart ALOS yang ditentukan sebesar 69 hari. Angka ALOS yang terlalu rendah mengindikasikan kurangnya kualitas
layanan kesehatan, sedangkan terlalu tingginya ALOS mengindikasikan
lambatnya penanganan oleh tenaga medis.
TOI adalah indikator yang digunakan untuk mengukur waktu rata-rata tempat
tidur kosong atau waktu antar satu tempat tidur ditinggalkan oleh pasien
sampai ditempati lagi oleh pasioen lainnya. Waktu interval ini dimaksudkan
agar diperoleh waktu yang cukup untuk persiapan pergantian pasien baru
sehingga tidak terjadi infeksi nosokomial.

Dari tujuh Rumah sakit yang melaporkan datanya ke Dinas kesehatan pada
tahun 2011 di ketahui bahwa BOR 55,86, ALOS 3,07 dan TOI 2,43.
Capaian BOR 55,86% menggambarkan bahwa tingkat pemanfaatan Rumah
Sakit kurang dari 60%, maka rumah sakit tersebut kurang diminati oleh
masyarakat dan ALOS 3,07 menunjukkan bahwa rata-rata pasien dirawat di
Rumah Sakit adalah 3 hari sedangkan TOI 2,43 menggambarkan bahwa jarak
antara satu tempat tidur ditinggalkan oleh pasien sampai ditempati lagi oleh
pasien lainnya adalah 2,43 hari.

C. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT


1.

Rumah Tangga ber-PHBS


Rumah tangga ber PHBS adalah rumah tangga yang seluruh anggota
keluarganya berperilaku hidup bersih yang meliputi 10 indikator yaitu :
Persalinan oleh tenaga kesehatan, bayi dengan ASI ekslusif, menimbang bayi
dan Balita secara teratur, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan
air bersih dan sabun, mengunakan jamban sehat, memberantas jentik,
makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, tidak
merokok didalam rumah. Terdapat 3 indikator lama yang berubah yaitu :
Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM), kesesuaian luas lantai
dengan jumlah penghuni dan lantai rumah bukan dari tanah.
Bila dilihat dari cakupan persentase rumah tangga dengan 10 indikator maka
Kabupaten Sidoarjo masih belum mencapai target yang ditentukan yaitu 44
%.
Persentase Rumah Tangga sehat di Kabupaten Sidoarjo dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan yaitu 47,87% di tahun 2011, 47,95% di tahun 2010,
41,58 % Di tahun 2009, 39,03 % di tahun 2008 dan 37,1% di tahun 2007.
Pencapaian target Rumah Tangga Sehat akan terwujud bila secara
berkesinambungan dan terus menerus dilakukan intervensi kepada
masyarakat dari berbagai komponen baik lintas sektor, swasta, LSM dan

tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh, keteladanan dan motivasi


pada masyarakat sehingga berangsur-angsur

dapat mengubah perilaku

masyarakat ke arah yang lebih baik sesuai anjuran perilaku hidup bersih dan
sehat.

2. Posyandu Aktif
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan
sumber daya yang ada di masyarakat. Posyandu merupakan salah satu
bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang paling
dekat di masyarakat. Posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata, yaitu
Pratama,

Madya,

Purnama,

dan

Mandiri

berdasarkan

penilaian

kelembagaan, gedung, sarana dan prasarana, kader, sumber dana dan


program unggulan.
Posyandu aktif adalah Posyandu yang melaksanakan kegiatan hari buka
dengan frekwensi 8 kali per tahun, rata-rata jumlah kader yang bertugas
5 orang, cakupan utama (KIA, KB Gizi dan imunisasi 50%) dan sudah ada
program tambahan serta cakupan JPKM 50%.
Pada tahun 2010 terdapat 1.702 posyandu bertambah 21 posyandu
dibanding tahun 2009 yang jumlahnya hanya 1681.
Dari 1.702 Posyandu yang ada pada tahun 2010, dapat dirinci jumlah
Posyandu pratama sebanyak 175 (10,28 %), madya sebanyak 453 (26,62 %),
purnama sebanyak 1.024 (60,16%) dan mandiri sebanyak 50 (2,94 %).

D. KEADAAN LINGKUNGAN
Untuk memperkecil risiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat
kondisi lingkungan yang kurang sehat, dilakukan berbagai upaya peningkatan
kualitas lingkungan, antara lain dengan pembinaan kesehatan lingkungan pada
rumah (keluarga / KK) , Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) yang

dilakukan secara berkala. Upaya yang dilakukan mencakup pemantauan dan


pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitasi dasar.

1. Rumah Sehat
Rumah dikategorikan rumah sehat jika memenuhi syarat kesehatan yaitu
jamban sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana
pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah
yang sesuai dan lantai rumah yang tidak dari tanah.
Berdasarkan pemantauan kesehatan lingkungan tahun 2011

diketahui

jumlah rumah seluruhnya sebanyak 394.598 dan yang diperiksa sebanyak


282.371 (71,56 %). Dari jumlah yang diperiksa tersebut, yang termasuk
rumah sehat sebanyak 192.182 (68,06%).

2. Keluarga Memiliki Akses Air Bersih dan Sarana Sanitasi Dasar


Dari pemantauan kesehatan lingkungan di lapangan, diketahui jumlah
keluarga yang diperiksa kepemilikan sarana air bersih dan sanitasi dasar
sebanyak 241.306 keluarga (60, 75%). Dari jumlah tersebut, yang memiliki
akses air bersih sebanyak 214.887 (89,05 %) dengan perincian yang
menggunakan air kemasan sebanyak 115.557 (47,9%), Air isi ulang 25.400
(10,5%) sumur pompa tangan (SPT) sebanyak 28.586 (11,8%), Ledeng
meteran sebanyak 43.452 (18%).

3. Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat


Tempat Umum meliputi hotel, ponpes,pasar, tempat wisata, terminal
(utama) dan stasiun (Utama) dan TUPM lain. Tempat umum dan TUPM yang
memenuhi syarat adalah tempat umum yang memenuhi akses sanitasi dasar
(air, jamban, limbah dan sampah), terlaksana pengendalian vektor, higene
sanitasi makanan minuman, pencahayaan dan ventilasi sesuai kriteria,
persayaratan atau standar kesehatan.

Dari pemantauan di lapangan pada tahun 2011 dapat disebutkan jumlah


hotel yang ada sebanyak 23 buah dan diperiksa sebanyak 23 buah, 16
diantaranya sudah memenuhi syarat kesehatan (76,19%).

Jumlah

Restoran/Rumah Makan di Kabupaten Sidoarjo sebanyak 116 buah dan


diperiksa 116 buah, 114 diantaranya sudah memenuhi syarat kesehatan.
Secara keseluruhan jumlah TUPM di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011
adalah 161 buah dan yang diperiksa 160 buah dan yang memenuhi syarat
kesehatan adalah 153 (96%)

4. Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes


Di Kabupaten Sidoarjo, telah dianggarkan honorarium bagi Juru Pemantau
Jentik (Jumantik) yang tugasnya memeriksa jentik secara berkala di
lingkungannya pada semua tempat penampungan air diantaranya kamar
mandi, tandon, gentong air, tempat minum burung, vas bunga,dll.
Dari hasil pemeriksaan rumah selama tahun 2011 diketahui bahwa dari
587.845 rumah yang ada, yang dilakukan pemeriksaan sebanyak 666.793
(113,43 %) dengan Angka Bebas Jentik sebesar 90,54 %.

Hal ini

menunjukkan rata-rata satu rumah/bangunan diperiksa sebanyak 2 kali


selama setahun.
Tujuan akhir pemeriksaan ini adalah untuk memutus mata rantai penularan
demam berdarah dan mamberikan motivasi kepada masyarakat untuk selalu
melaksanakan gerakan 3 M (Menguras, Menutup dan Mengubur).

BAB V
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

A. SARANA KESEHATAN
1. Rumah Sakit
Pada tahun 2011 di Kabupaten Sidoarjo terdapat 25 Rumah Sakit dengan 16
Rumah sakit umum dan 9 Rumah Sakit khusus (Rumah Sakit bedah, Rumah
Sakit Bersalin dan Rumah Sakit Mata).

Tabel V.1. Daftar Rumah Sakit di Kabupaten Sidoarjo Tahun 2011


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

NAMA RUMAH SAKIT


RSIA KIRANA
RSAB SOERYA
RS MATA FATMA
RSB BUAH DELIMA
RS BEDAH ROCHMAN RACHIM
RSIA ARAFAH ANWAR MEDIKA
SUKODONO
RSAB PRIMA HUSADA
RSB PONDOK TJANDRA
RSIA MITRA HUSADA
RS DKT (Polri) SIDOARJO
RSU JASEM
RS BHAYANGKARA
RS SITI FATIMAH
RS USADA
RSU ASSAKINAH MEDIKA
RS RUMKITAL dr SOEKANTYO JAHJA
RSU DELTA SURYA
RS SITI KHODIJAH
RS MITRA KELUARGA
RSU AL ISLAM MAWARDI
RS CITRA MEDIKA
RSU ANWAR MEDIKA
RS KRIAN HUSADA
RSI SITI HAJAR
RSUD SIDOARJO

STATUS
KHUSUS ( C )
KHUSUS ( C )
KHUSUS ( C )
KHUSUS ( C )
KHUSUS ( C )
KHUSUS ( C )
KHUSUS ( C )
KHUSUS ( C )
KHUSUS ( C )
UMUM ( D )
UMUM ( D )
UMUM ( D )
UMUM ( D )
UMUM ( D )
UMUM ( D )
UMUM ( D )
UMUM ( C )
UMUM ( C )
UMUM ( C )
UMUM ( C )
UMUM ( C )
UMUM ( C )
UMUM ( C )
UMUM ( D )
UMUM (B+)

Indikator yang digunakan untuk menilai sarana Rumah Sakit adalah dengan
melihat :
a. BOR (Bed Occupancy Rate) yaitu persentase penggunaan tempat tidur
suatu Rumah sakit untuk menggambarkan efisiensi pelayanan dengan
nilai ideal

antara 60-85%. Dari 7 Rumah sakit yang melaporkan

kinerjanya pada tahun 2011, BOR tertinggi adalah di Rumah Sakit Umum
Daerah Kabupaten Sidoarjo dengan BOR

70,97%. BOR tersebut

menggambarkan bahwa tingkat pemanfaatan Rumah Sakit lebih dari 60%


yang berarti rumah sakit tersebut masih diminati oleh masyarakat.
Sedangkan BOR terendah adalah rumah Sakit Prima HUsada sebesar
30,25 %.
b. ALOS (Average Length of Stay) yaitu rata-rata hari rawat per pasien.
Standart ALOS yang ditentukan sebesar 6-9 hari. ALOS tertinggi adalah
Rumah Sakit Anak Bersalin Prima Husada yaitu 3,51 hari sedangkan yang
terendah adalah Rumah Sakit Anwar Medika yaitu 2,09 hari.
c. TOI (Turn Over Interval) yaitu rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati
dari saat terisi ke saat terisi berikutnya. TOI tertinggi ditempati oleh
Rumah Sakit Mata Fatma yaitu 23,5 sedangkan yang terendah yaitu
Rumah Sakit Anak Bersalin Prima Husada yaitu -1,3.

2. Puskesmas
Pada tahun 2011 jumlah Puskesmas di Kabupaten Sidoarjo adalah 26 buah
dengan 13 Puskesmas Perawatan yaitu Puskesmas Porong,

Puskesmas

Krian, Puskesmas Taman, Puskesmas Sukodono, Puskesmas Wonoayu,


Puskesmas Tarik, Puskesmas Waru, Puskesmas Prambon, Puskesmas
Balongbendo,

Puskesmas

Jabon,

Puskesmas

Krembung,

Puskesmas

Barengkrajan dan Puskesmas Sedati . Dari 13 Puskesmas Perawatan tersebut


enam diantaranya adalah Puskesmas dengan Pelayanan Obstetri Neonatal

Emergency Dasar (PONED) yaitu Puskesmas Krian, Puskesmas Taman,


Puskesmas Porong, Puskesmas Tarik, Puskesmas Waru, dan Puskesmas Jabon.
Secara konseptual, Puskesmas menganut konsep wilayah dan diharapkan
dapat melayani penduduk rata-rata 30.000 jiwa setiap Puskesmas. Dengan
jumlah penduduk 1.778.210, berarti satu Puskesmas di Kabupaten Sidoarjo
rata-rata masih melayani 68.392 jiwa.
Sesuai standar dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia rasio
Puskesmas terhadap jumlah penduduk adalah 1:30.000 penduduk, sehingga
jumlah Puskesmas yang ideal di Kabupaten Sidoarjo tahun 2011 adalah 59
Puskesmas.
Dalam rangka memperluas akses pelayanan kesehatan, selain Puskesmas
juga disediakan Puskesmas Pembantu, dimana pada tahun 2011 di
Kabupaten Sidoarjo terdapat 56 unit Puskesmas Permbantu. Dari jumlah
tersebut berarti setiap Puskesmas didukung oleh satu sampai tiga
Puskesmas Pembantu dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat.
3. Sarana Kesehatan Lainnya.
Selain Puskesmas dan Rumah sakit keberadaan sarana kesehatan yang lain
sangat membantu terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat
Sidoarjo.
Sarana Kesehatan lainnya yang ada di kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011
meliputi :
1. Rumah bersalin sebanyak 48 buah
2. Balai Pengobatan/ klinik / poliklinik sebanyak 181 buah
3. Praktek dokter perorangan sebanyak 1.621 buah
4. Praktek pengobatan tradisionla sebanyak 111 buah
5. Apotik sebanyak 301 buah
6. Toko obat 13 buah

4. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat


Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan
sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya Kesehatan Bersumber Daya
Masyarakat (UKBM) diantaranya adalah posyandu, polindes, Pos Obat Desa
(POD)
Jumlah posyandu di Kabupaten Sidoarjo menurut hasil kompilasi data dari
Puskesmas pada tahun 2008 berjumlah 1.662, pada tahun 2009 berkembang
jumlah Posyandu menjadi

1681, dan pada tahun 2010 meningkat lagi

menjadi 1.702 dan tahun 2011 menjadi 1721.


Polindes merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam rangka
mendekatkan pelayanan kebidanan melalui penyediaan tempat pertolongan
persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk Keluarga
Berencana. Pada tahun 2008, jumlah polindes yang ada di Kabupaten
Sidoarjo adalah 234 buah, berkembang menjadi 244 pada tahun 2009,
menurun menjadi 240 pada tahun 2010. Sedangkan untuk Poskesdes tidak
mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 349 pada tahun 2010
menjadi 347 pada tahun 2011.

Banyaknya UKBM ini diharapkan bisa

mendukung pelaksanaan desa siaga yang berjumlah 349 desa dengan desa
siaga aktif 347 desa di Kabupaten Sidoarjo.
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya
dan kemampuan dan kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalahmasalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara
mandiri. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila telah memiliki
sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes).

B. TENAGA KESEHATAN
Jumlah tenaga kesehatan di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011 sebanyak
3.935 orang yang tersebar di 26 Puskesmas sebanyak 918, di Rumah Sakit dan

sarana kesehatan lain sebesar 2.959, dan di Dinas kesehatan sebanyak dan GFK
sebanyak 58 orang.
Jumlah dan jenis tenaga kesehatan di Kabupaten Sidoarjo adalah :
1. Dokter Spesialis berjumlah 337 orang, sehingga jika dihitung rata-rata per
100.000 penduduk Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh 18,95 dokter spesialis.
2. Dokter umum berjumlah 1098 orang, sehingga jika dihitung rata-rata per
100.000 penduduk Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh 61,74 dokter.
3. Dokter gigi berjumlah 186 orang, sehingga jika dihitung rata-rata per
100.000 penduduk Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh 10,45 dokter gigi.
4. Tenaga Farmasi sebanyak 744 orang, sehingga jika dihitung rata-rata per
100.000 penduduk Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh 41,83 orang tenaga
Farmasi.
5. Ahli Gizi (berpendidikan D1 D4/S1 Gizi) sebanyak 104 orang sehingga jika
dihitung rata-rata per 100.000 penduduk Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh
5,84 ahli gizi.
6. Perawat sebanyak 1.862 orang, sehingga jika dihitung rata-rata per 100.000
penduduk Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh 104,71 perawat.
7. Bidan sebanyak 848 orang, sehingga jika dihitung rata-rata per 100.000
penduduk Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh 47,68 bidan.
8. Ahli Kesehatan Masyarakat sebanyak 73 orang sehingga jika dihitung ratarata per 100.000 penduduk Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh 4,10 ahli
kesehatan masyarakat .
9. Ahli Sanitasi terdiri dari lulusan SPPH, APK dan D3 Kesehatan Lingkungan
sebanyak 38 orang, sehingga jika dihitung rata-rata per 100.000 penduduk
Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh 2,13 ahli sanitasi .
10. Teknisi Medis terdiri dari Analis Lab, Tenaga medis dan Pranata Rotgen,
Pranata anestesi dan Fisioterapis sebanyak 283 orang, sehingga jika dihitung
rata-rata per 100.000 penduduk Kabupaten Sidoarjo dilayani oleh 15,85
Tenaga Tehnisi Medis.

C. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Pembiayaan/Anggaran kesehatan di Kabupaten Sidoarjo bersumber dari
pemerintah, masyarakat dan swasta yang kemudian dikelompokkan dalam
mata anggaran yang bersumber dari APBD Kabupaten, APBD Propinsi,
APBN, Pinjaman Luar Negeri, dan Sumber Pemerintah lainnya.
Pada tahun 2011 Total anggaran Kesehatan sebesar Rp. 108.585.123.862,-

yang terdiri dari belanja tidak tidak langsung (gaji) Rp. 55.197.174.975,dan belanja langsung (kegiatan program) Rp. 53.387.948.887

Belanja langsung untuk kegiatan program berasal dari APBD Kabupaten yang
ada di DPA Dinas Kesehatan dan Pos Bantuan langsung di DPKKA.
Dalam penanggulangan kemiskinan dibidang kesehatan Dinas kesehatan
juga mendapat alokasi dana Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
dan

Dana Jaminan Kesehatan Masyarakat daerah (Jamkesmasda). Untuk

dana Jamkesmas dasar yang bersumber dari APBN sebesar Rp. 2.447.676,-,
Dana Jaminan Kesehatan Persalinan (Jampersal) Rp. 5.735.789.000,- dan
dana Jamkesda yang bersumber dari APBD sebesar Rp. 4.500.000.000,- yang
ada di Dinas Pendapatan dan pengelolaan Aset Kabupaten Sidoarjo dan Rp.
4.500.000.000,- ada di APBD Propinsi.
Untuk percepatan pencapaian MDGs dan pencapaian SPM Pemerintah Pusat
mengucurkan dana ke daerah melalui program Bantuan Operasional
Kesehatan (BOK) senilai Rp. 1.960.000.000,Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 Tentang
Kesehatan dalam Bab XV Pasal 171 disebutkan bahwa : Besar anggaran
kesehatan Pemerintah Daerah Provinsi//Kabupaten Kota dialokasikan
minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan Belanja
daerah di luar gaji.

Dengan mengacu pada undang-undang tersebut berarti Persentase APBD


kesehatan terhadap APBD Kabupaten kota adalah 7,89% dengan sebaran
1,85% di Dinas Kesehatan/Puskesmas dan 6,03% di Rumah Sakit Umum.

BAB VII
PENUTUP

ata dan informasi merupakan sumber daya yang strategis bagi


pimpinan dan organisasi dalam pelaksanaan manajemen. Oleh karena
itu penyediaan data dan informasi yang berkualitas sangat dibutuhkan

sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan.


Di

bidang

kesehatan,

data

dan

informasi

ini

diperoleh

melalui

penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. Perlu disadari bahwa sistem


informasi kesehatan yang ada saat ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan
data dan informasi kesehatan secara optimal. Namun demikian, diharapkan Profil
Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dapat memberikan gambaran secara garis besar dan
menyeluruh tentang seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah
dicapai.

Sidoarjo, Mei 2011

BAB VI
PROGRAM INOVASI
A.

DETEKSI KANKER LEHER RAHIM / SERVIKS ( KLR ) DENGAN PROGRAM SEE AND
TREAT

Kesehatan adalah investasi sekaligus merupakan tujuan utama kita bernegara.


Satu negara tidak bisa dikatakan kuat bila kesehatan rakyatnya buruk. Begitu
juga secara individu dan keluarga. Sakitnya salah satu anggota keluarga akan
membawa dampak pada kehidupan keluarga. Beban ekonomi, sosial dan
psikologi langsung dirasakan oleh seluruh keluarga. Sedangkan meningkatnya
usia

harapan

membawa

problema

hidup
baru

dengan pola penyakit yang


telah

bergeser

secara

bermakna. Kalau 30 tahun


lalu negara kita disibukkan
oleh penyakit infeksi, kini
muncul penyakit-penyakit
Pelatihan See dan Treat Di Dinas Kesehatan Sidoarjo

lain seperti stroke, seranan jantung, penyakit kanker.


WHO telah mencanangkan, kanker adalah problem kesehatan utama di dunia
saat ini dan akan datang. Di
tahun 2005 didapatkan angka 7
juta kematian akibat penyakit
kanker. Pada tahun 2030 di
prediksi, meningkat menjadi 17
juta kematian. Jumlah pasien
baru akan
Kegiatan Pelatihan See and Threat diikuti oleh jajaran
kesehatan dan lintas sektor

menjadi 27 juta dan 75 juta manusia hidup bersama penyakit kanker. Ironisnya,
70 % problema kanker akan berada di negara berkembang, termasuk ndonesia.
Sehingga layak kita mempertanyakan kesiapan ( Pemerintah ) kita
menanggulangi ancaman ini. Usaha strategis hanya mungkin dilakukan bila
semua pihak yang terlibat memahami peran masing-masing dan memiliki
pemahaman yang optimal mengenai penyakit kanker. Sehingga semua kegiatan
menuju ke faktor

Determinative . Artinya fokus


pada

faktor-faktor

yang

bermakna menurunkan angka


kesakitan dan angka kematian
kanker.
Kanker merupakan salah satu
Kegiatan Pelatihan See and Threat diikuti oleh jajaran
kesehatan dan lintas sektor

jenis penyakit yang

sudah tak asing lagi di telinga, berbagai jenis kasus baru ditemukan. Di
Indonesia sendiri di perkirakan setiap harinya terjadinya 41 kasus baru kanker
serviks dan 20 perempuan meninggal dunia karena penyakit tersebut.
Tingginya angka ini biasanya
disebabkan oleh rendahnya
pengetahuan dan kesadaran
akan bahaya kanker serviks,
kanker

serviks

cenderung

muncul

pada

perempuan

berusia 35-55 tahun,, namun


dapat pula muncul
Nara Sumber sedang menjelaskan tentang proses
pelaksanaan See and Threat di Puskesmas

pada perempuan dengan usia lebih muda.


Kanker serviks atau kanker leher rahim ( sering juga disebut kanker mulut
rahim ) merupakan salah satu penyakit kanker yang paling banyak terjadi bagi
kaum wanita. Setiap 1 jam, 1 wanita meninggal di Indonesia karena kanker
serviks atau kanker leher rahim ini.
Menurut Prof.dr.H.Suhatno,SpOG (K), kanker serviks di negara maju
merupakan kanker nomer 2 setelah kanker payudara, ditemukan kasus baru
sebanyak 490.000 dan angka kematian mencapai 274.000, di Asia Pasifik 1
wanita meningal setiap menit karena kanker serviks, tiap tahun 270.000 wanita
menderita kanker srviks dan 140.000 wanita meninggal karenanya. Di
Indonesia kanker serviks menduduki tempat teratas pada kanker ginekologi
wanita, 18 % dari seluruh kanker pada wanita, 78 % dari sluruh kanker pada
genetalia wanita. Dengan ditemukannya penyakit dalam stadium dini
bahkan pada stadium lesi pra kanker, maka pengobatan yang tuntas pada
fase ini akan mencegah penyakit pada stadium lanjut

PENGERTIAN
Kanker serviks atau kanker leher rahim terjadi di bagian organ reproduksi
wanita, leher rahim adalah bagian yang sempit di sebelah bawah antara vagina
dan rahim seorang wanita. Dibagian inilah tempat terjadi dan tumbuhnya
kanker serviks.
Menurut Prof.dr.H.Suhatno,SpOG (K), kanker leher rahim adalah tumor ganas
pada lapisan permukaan leher rahim, terjadi penggandaan dan berubah sifat,
berbentuk tumor/dungkul, luka/borok dengan keluhan keputihan-perdarahan
& dapat menyebar sekitar panggul/paru/tulang/hati dll.

PENYEBAB
Penyebab pasti belum jelas, namun ada beberapa teori mengatakan faktor
keturunan, virus, bahan perangsang, penyakit kelamin, gizi jelek, kebersihan.

Sedangkan faktor resiko nya adalah Hubungan sex / menikah pada usia muda,
berganti-ganti pasangan sex, melahirkan banyak anak, pasangan yang tidak di
kithan, kebersihan alat kelamin tidak terjaga, penyakit kelamin kronik, sering
keputihan, usia diatas 40 th, sos-ek rendah.

GEJALA
Gejala kanker serviks pada kondisi pra kanker ditandai dengan ditemukannya
sel-sel abnormal di bagian bawah serviks yang dapat di deteksi melalui tes Pap
smear, atau yang baru-baru ini di sosialisasikan yaitu Inspeksi Visual dengan
Asam Asetat. Seringkali kanker serviks tidak menimbulkan gejala, namun bila
sudah berkembang menjadi kanker serviks barulah muncul gejala-gejala seperti
pendarahan serta keputihan pada vagina yang tidak normal, sakit saat buang
air kecil dan rasa sakit saat berhubungan seksual.

PENCEGAHAN KANKER LEHER RAHIM


Kanker leher rahim adalah penyakit yang dapat di cegah dengan cara:
-

Pencegahan Primer
Pencegahan primer kanker leher rahim dilakukan dengan melakukan
pendidikan kanker masyarakat tentang perilaku seksual ( Peran PKTP ) serta
menghindari ekspos dengan virus HPV dengan perlindungan Imunisasi

Pencegahan Sekunder : Mengobati kelainan pra kanker sebelum akhirnya


berkembang memburuk menjadi kanker ( Program See & Treat )

DETEKSI DINI KANKER LEHER RAHIM


Ada beberapa cara yang dilaksanakan untuk mendeteksi kanker leher rahim,
diantaranya adalah :
- Cara Standart yaitu dengan Pap test / Pap Smear
- Cara lain yaitu dengan VIA ( Visual Inspection with acetic acid ) atau IVA (
Inspeksi Visual dengan Asam asetat ) melalui Program See & Treat

IVA merupakan suatu metode untuk melihat leher rahim dengan mengoleskan
asam asetat pada permukaan mulut rahim, dapat mendeteksi mulut rahim
yang
Screening S & T di Puskesmas Wonoayu

abnormal,

akan

tampak warna putih (


Acetowhite)

yang

mencerminkan keadaan
pra kanker atau kanker,
sensitivitas

dan

spesifisitas IVA 70-92 % (


lebih rendah dari Pap
Test ).
Pelaksanaan See and Threat oleh Petugas Puskesmas

See & Treat merupakan deteksi dini sederhana, efektif, murah, dengan
menggunakan metode IVA menggantikan Pap Smear yang lebih mahal, butuh
tenaga patologi yang terbatas di Indonesia ( 1 : 1 juta penduduk ), bila
ditemukan kelainan pra
kanker

leher

rahim

langsung di terapi di
tempat ( Cryo Therapie).
Cryo

Therapi

merupakan
untuk

adalah
prosedur

menghancurkan

sel pra kanker dengan


cara mendinginkan
Sosialisasi See and Threat oleh Petugas Puskesmas kepada lintas sektor

serviks, menggunakan CO2 yang dipadatkan atau gas Nitrous Oxide (N2O)
sebagai pendingin, keuntungannya adalah : tidak perlu rawat inap, mudah

cepat, tanpa pengggunaan anestesi, dapat dilakukan dokter umum, paramedic,


kerugiannya adalah tidak ada sample jaringan yang diambil untuk memastikan
bahwa seluruh lesi telah disingkirkan.
Mengapa IVA sebagai alternatif pemecahan masalah kanker leher rahim di
Indonesia ?
- Mudah
- Murah
- Tidak invasif
- Dapat dikerjakan oleh semua tingkat layanan kesehatan
- Dapat dikerjakan oleh Bidan atau Perawat wanita
- Hasil dapat segera diketahui
- Pengobatan dapat dilakukan seketika saat pemeriksaan ( S & T)
- Semua persyaratan perawatan terdapat di tempat
- Dapat dilakukan perawatan lebih lanjut
- Sangat sesuai untuk keadaan ekonomi yang terbatas (ditujukan untuk
maskin).
- Ada follow up 3, 6 bulanan selama alamat penderita jelas

KESIMPULAN
- Kanker adalah masalah bersama ( PKTP)
- Kanker leher rahim dapat dicegah
- Kanker leher rahim dapat diketahui secara dini dengan Pap test atau IVA
- Makin dini makin baik dan makin murah (Bisa sembuh 100 %)
- Dengan pendidikan kanker masyarakat yang kontinyu melalui PKTP dan PKK
sebagai tulang punggung
- Metode S & T sesuai untuk penanggulangan kanker leher rahim

B.

PROGRAM PENANGGULANGAN HIV/AIDS KABUPATEN SIDOARJO


TAHUN 2010

1. PEMILIHAN DUTA PEDULI AIDS


Pemilihan duta peduli AIDS atau pemilihan putera puteri peduli AIDS di
Kabupaten Sidoarjo untuk tahun 2010 adalah yang kedua kalinya. Pertama
dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2008 dengan dibantu oleh teman-teman
dari Paguyuban Guk Yuk Sidoarjo sebagai Operational Committee, namun
untuk tahun ini pelaksanaannya sudah sangat mandiri yaitu 100% oleh PARPAS
(Paguyuban Remaja Peduli AIDS Kabupaten Sidoarjo) dengan didampingi oleh
LSM Peduli AIDS yang bergerak di Kabupaten Sidoarjo.
Pelaksanaan pemilihan duta peduli AIDS tahun 2010 meliputi beberapa tahap
kegiatan, diantaranya adalah : Pertemuan pendahuluan, Technical meeting
peserta lomba, tes tulis dan wawancara, gladi bersih dan leadership outbond,
dan terakhir adalah grand final sekaligus Malam Renungan AIDS Nusantara
(MRAN).
Pertemuan Pendahuluan
Pertemuan pendahuluan ini dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2010 di ruang
pertemuan KPA Kabupaten Sidoarjo. Pada pertemuan tersebut dibahas
mengenai

susunan

kepanitiaan, menentukan
konsep dan model acara,
menyiapkan materi untuk
technical meeting serta
membahas masalah tes
tulis dan tes wawancara.
Kegiatan Pertemuan Pendahuluan MRAN

Hasil dari pertemuan ini disepakati bahwa ketua panitia berasal dari PARPAS
yaitu Sdr. Vicky dengan susunan kepanitiaan meliputi Steering Committe

berasal dari KPA dan LSM, sedang Operational Committe semuanya berasal dari
PARPAS.

Technical Meeting Peserta Lomba


Kegiatan technical meeting dilaksanakan di Ruang Pertemuan Delta Graha pada
hari Sabtu tanggal 22 Mei 2010. Pada acara tersebut dihadiri kurang lebih 200
peserta yang sebagian besar pesertanya adalah perempuan. Kegiatan technical
meeting merupakan kegiatan
sosialisasi mengenai Program
Penanggulangan HIV/AIDS di
Kabupaten

Sidoarjo

yang

meliputi teori tentang virus


HIV,

proses

penularan

dan

media

serta

cara

pencegahannya.
itu Duta
pada
acara
Kegiatan tehnicalDisamping
meeting Pemilihan
Peduli
AIDS
technical meeting ini juga
disampaikan tentang aturan
dan tata cara tes tulis dan
wawancara
dilaksanakan

yang
esok

akan
hari

termasuk jadwal acara besok


dan punish bagi yang
Peserta dengan khikmad mengikuti rangkaianm Kegiatan
tehnical meeting Pemilihan Duta Peduli AIDS

terlambat dan lupa membawa tanda peserta.


Narasumber technical meeting berasal dari LSM dan PARPAS. Untuk kegiatan
sosialisasinya maka semua narasumber berasal dari PARPAS sedang pada sesi
tanya jawab dan testimoni maka narasumbernya berasal dari teman-teman
LSM Peduli AIDS Kabupaten Sidoarjo.

Tes Tulis, Penampilan dan Wawancara


Tes tulis dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 23 Mei 2010 di Delta Praja.
Pelaksanaan tes tulis tepat pada pukul 08.00 pagi dengan rentang waktu
keterlambatan selama 5 menit, selebihnya peserta yang datang terlambat akan
dikenai sangsi berupa
pengurangan point nilai
antara 2 10 point
tergantung dari besar
kecilnya

kesalahan

yang dibuat peserta.


Kegiatan

tes

dilaksanakan mulai

Suasana tes tulis Pemilihan Duta Peduli AIDS

pukul 08.05 WIB sampai


dengan 09.30 WIB. Peserta
diberi

kesempatan

jeda

istirahat selama 30 menit


kemudian acara dilanjutkan
dengan

tes

penampilan

dengan materi yang dinilai


meliputi keserasian dalam
Peserta mengikuti Wawancara Pemilihan Duta Peduli AIDS

berpakaian, keserasian dalam berjalan dan penampilan fisik secara umum.

tulis

Juri pada tes penampilan adalah adalah dosen tata busana pada sebuah perguruan
tinggi pariwisata Surabaya.
Kegiatan

lanjutan

setelah tes penampilan


adalah tes wawancara
dengan materi seputar
pemahaman

masalah
program

penanggulangan
HIV/AIDS, stigma dan

Antri mengikuti tes penampilan dalam Pemilihan Duta Peduli AIDS

diskriminasi terhadap ODHA dan tanggapan. Juri tes wawancara ini


meliputi personil KPA dan teman-teman LSM dari DCC, Genta, dan EJA. Setiap
peserta akan mendapatkan pertanyaan mengenai apa HIV dan AIDS, cara
penularan virus HIV, media hidup virus HIV dan dimana bila kita ingin mengetahui
status kita apakah terinfeksi HIV atau tidak serta cara pencegahannya. Pertanyaan
kemudian akan dilanjutkan pada permasalahan stigma dan diskriminasi yang
dialami

ODHA

dan

OHIDHA
Acara tes tulis
dan

wawancara

berakhir

pada

ini
pukul

kurang lebih 17.15 WIB


sekaligus diumumkan 10
finalis putera peduli AIDS
dan 10 finalis puteri
Peserta, Panitia dan Tim Juri Foto bersama setelah mengikuti rangkaian
audisi pemilihan Duta Peduli AIDS

peduli AIDS tahun 2010 yang akan di training dengan outbond dan gladi bersih dan
masuk Grand final memperebutkan juara 1, 2 dan 3 putera puteri Peduli AIDS (Duta
AIDS) Kabupaten Sidolarjo tahun 2010.

Outbond dan Gladi Bersih


Kegiatan outbond dilaksanakan pada tanggal 26 - 27 Mei 2010 di areal KPA
Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan ini diikuti oleh finalis putera puteri peduli AIDS dan
dibantu

oleh

Kegiatan

LSM.

outbond

diawali

dengan

pelemasan

otot

kemudian

baris

berbaris.

Acara

lanjutan

berupa

keakraban

dalam

bentuk saling kenalan


antar peserta.
Berikutnya acara

Pemanasan sesaat sebelum mengikuti outbond

outbond ini memasuki inti acara yaitu


motivation
berupa

and

leadership

permainan-permainan

outbond
yang

menuntut kebersamaan tim sekaligus


pembelajaran tentang ketekunan dan
kesabaran. Model permainannya antara
lain dalam bentuk permainan leadership,
membaca pikiran teman,
team work training dan card game. Target
dari permainan ini adalah terbentuknya
Permainan yang menuntut kebersamaan tim sekaligus
pembelajaran
tentang ketekunan
dan kesabaran
mental pemimpin
yang
bijak dan

natural (natural leader). Oleh sebab itu

outbond
dilaksanakan

yang
melalui

beberapa sesi tersebut


diharapkan

mampu

menciptakan jiwa-jiwa
yang
Kreativitas peserta grand final. Beberapa peserta menampilkan puisi
dan sajak, ada yang menampilkan musik dan seni tari

bertanggung

tangguh,
jawab,

dan menjadi pelindung bagi temannya yang lain. Pada malam harinya masih
pada tanggal

26 Mei 2010 kegiatan outbond ini diisi dengan acara


Pada sore dan malam harinya tanggal 27 Mei acara dilanjutkan gladi bersih
sekaligus

ujicoba

panggung di pendopo
delta wibawa. Pada
acara gladi bersih ini
setiap peserta harus
menghapalkan urutan
barisnya,

masuknya

ke panggung sampai
dengan pembelajaran
cara jalan dan ketika menjawab pertanyaan dewan juri.

Grand Final Pemilihan Duta AIDS dan MRAN 2010


Grand final pemilihan putera puteri peduli AIDS Kabupaten Sidoarjo dilaksanakan
pada hari Jumat malam
tanggal

29

Mei

2010

bertempat di Pendopo
Delta Wibawa Kabupaten
Sidoarjo.

Acara

grand

final dijadwalkan pukul


18.00 WIB dan dimulai
pada pukul 19.00 WIB
yang sedianya dibuka
Peserta Grand Final berfoto bersama sebelum mengikuti acara puncak
Grand Final pemilihan Duta Peduli AIDS

secara langsung oleh


Bapak Bupati Sidoarjo
selaku

Ketua

Komisi

Penanggulangan
Kabupaten
namun

AIDS

Sidoarjo
karana

kesibukannya

maka

pembukaan

acara

Grand Final Pemilihan


peserta finalis diarak keliling penonton sebelum satu persatu masuk ke
areal panggung

Putera Puteri Peduli AIDS tahun 2010 ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Sidoarjo selaku Wakil Ketua III Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten
Sidoarjo. Beberapa pejabat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang juga sekaligus
selaku pengurus harian Komisi Penanggulangan AIDS Kabuapten Sidoarjo hadir
pada acara tersebut.

Kegiatan grand final


merupakan

puncak

acara dari serangkaian


acara

yang

telah

dilaksanakan

pada

hari-hari sebelumnya.
Setiap

finalis

harus

tampil

Akhirnya terpilih 3 pasang Duta Peduli AIDS Kabupaten Sidoarjo Tahun 2010

secara maksimal dengan busana dan penampilan yang seserasi mungkin. Bertindak
sebagai juri didatangkan langsung dari Surabaya dan juga berasal dari LSM peduli
AIDS.
Pada grand final ini peserta
finalis diarak keliling penonton sebelum
satu persatu masuk ke areal panggung.
Kemudian finalis masuk kembali ke
belakang panggung untuk menunggu MC
untuk memangil peserta per pasangan
yaitu satu putera dan satu puteri finalis
untuk naik kembali keatas panggung
guna menjawab pertanyaan dewan juri.
Pertanyaan pertanyaan yang diajukan
oleh dewan juri sebenarnya berasal dari
peserta finalis itu sendiri yang diambil
secara acak oleh panitia sehingga setiap
finalis tidak tahu yang mana pertanyaan
yang akan diajukan kepadanya.

Penari Ular ikut memeriahkan malam Grand


Final Pemilihan Duta Peduli AIDS

Pada akhir sesi penilaian sambil menunggu dewan juri untuk menghitung dan
menentukan juaranya, acara diisi kesenian tari ular sebagai bantuan dari LSM
Perwasid Sidoarjo.
Penutup
Serangkaian kegiatan lomba pemilihan Duta Peduli AIDS Kabupaten Sidoarjo tahun
2010 telah berhasil dilaksanakan dan terpilih 3 orang putera dan 3 orang puteri
Duta Peduli AIDS untuk periode 2010-2010. Pada sesi akhir acara ini Paguyuban
Remaja
Kabupaten

Peduli

AIDS
Sidoarjo

(PARPAS)

melaksanakan

syukuran

sekaligus

pembubaran panitia.
Pada kesempatan tersebut
sekaligus

dibentuk

susunan pengurus baru


PARPAS periode 2010 2011 melalui proses voting
untuk pemilihan ketua, wakil ketua sampai dengan sekretaris.

KEGIATAN PERINGATAN HARI AIDS SEDUNIA TAHUN 2010


1. Kegiatan
: Peringatan Hari AIDS Sedunia Kabupaten Sidoarjo
tahun 2010
2. Hari, tanggal
: Sabtu, 27 Nopember dan Minggu, 5 Desember 2010
3. Tempat
: Sun City dan Alun-alun Kabupaten Sidoarjo
Saat ini di Kabupaten Sidoarjo telah terdapat 557 kasus HIV/AIDS yang tersebar
di semua wilayah kecamatan di Sidoarjo, sedikitnya sebanyak 145 orang dari
mereka telah dinyatakan meninggal dunia. Oleh sebab itu untuk mengingat
mereka maka diseluruh dunia ditetapkan setiap tanggal 1 Desember sebagai Hari
AIDS Sedunia.

Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Sidoarjo dilaksanakan dalam 2 tahap.


Pertama adalah pada tanggal 27 Nopember diperingati dalam bentuk parade
musik yang dimotori oleh Paguyuban Remaja Peduli AIDS Kabupaten Sidoarjo.
Pada kesempatan tersebut beberapa partisipan seperti Parpas sendiri, LSM Bina
Hati, Yayasan media dan remaja-remaja SMA ikut serta memeriahkan acara
tersebut.
FOTO DOKUMENTER KEGIATAN PARADE MUSIK PEDULI AIDS

Kedua adalah mengadakan acara Jalan Sehat yang dilaksanakan pada hari
Minggu tanggal 5 Desember 2010 di alun-alun Kabupaten Sidoarjo dengan
start di Paseban Kabupaten. Kegiatan Jalan Sehat Peringatan Hari AIDS Sedunia
tahun 2010 di Kabupaten Sidoarjo ini di buka dan dihadiri secara langsung oleh
Wakil Gubernur Jawa Timur yaitu Bpk. Saifulah Yusuf (Gus Ipul). Tema ini
merupakan sub tema dari tema Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2010 yaitu

Stop AIDS! Lindungi diri dan Orang lain dari bahaya Penularan HIV/AIDS.
Sedang sub temanya adalah Hilangkan stigma dan diskriminasi untuk ODHA
dan OHIDHA. Hal ini disadari bahwa di Kabupaten Sidoarjo sendiri kejadian
stigma yang buruk terhadap ODHA yang diikuti dengan adanya diskriminasi
masih banyak terjadi.
FOTO DOKUMENTER KEGIATAN JALAN SEHAT PERINGATAN HAS 2010
Di sela-sela kegiatan jalan sehat
tersebut

juga

kegiatan

mobile

pelayanan

dilaksanakan
VCT

kesehatan

dilaksanakan

di

dan
yang

Paseban

Kabupaten Sidoarjo sebelah barat.


Sebanyak 50 an peserta jalan

sehat

berpartisipasi

untuk

memeriksakan diri dalam kegiatan


mobile VCt tersebut.

FOTO KEGIATAN MOBILE VCT DI PASEBAN KABUPATEN

D. POLA PENDAMPINGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PEMULIHAN


(PMT-P) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
DI KABUPATEN SIDOARJO
Dalam krisis pangan dapat dipastikan keadaan gizi seimbang tidak tercapai, yang
terjadi adalah kekurangan zat gizi. Kekurangan energi dan protein dalam jumlah
yang besar dapat mengakibatkan menurunnya status gizi individu dalam waktu
beberapa hari atau minggu saja yang ditandai dengan penurunan berat badan
dengan istilah Gizi Kurang atau Gizi Buruk atau istilah lain yang dikenal dengan
Kurang Energi Protein (KEP).
Kasus Kurang Energi Protein (KEP) berat atau kasus Gizi Buruk dewasa ini marak
terjadi dimana-mana hampir diseluruh wilayah Indonesia, juga

Kabupaten

Sidoarjo yang merupakan daerah semi urban yang berdampak pada masalah
kependudukan, ekonomi dan kesehatan. Berdasarkan dari hasil kegiatan
penimbangan di Posyandu ditemukan kasus gizi buruk pada Balita yang
membutuhkan penanganan yang serius. Keberhasilan atau kesembuhan
penanganan kasus gizi buruk tersebut belum optimal
Gizi buruk Tahun 2008 sebanyak 69 kasus dan setelah ditangani yang sembuh
44 kasus, DO 2 kasus, 4 kasus meninggal dan 19 kasus masih penanganan.
Sedangkan Gizi buruk sampai dengan 29 Desember Tahun 2009 sebanyak 53
kasus, dan setelah ditangani yang sembuh 35 kasus, DO 2 kasus, meninggal 4
kasus dan 12 kasus masih penanganan. Dan tahun 2010 jumlah kasus gizi buruk
(KLB) sebanyak 45 kasus setelah penanganan sembuh 31 kasus, meninggal 4
kasus dan masih penanganan 10 kasus. Dari hasil pelacakan kasus gizi buruk
dibeberapa daerah, selain dari faktor kemiskinan struktural, faktor pengetahuan
orangtua dan penyakit penyerta (infeksi seperti Bronkopnemoni, HIV/AIDS dll)
sebagai penyebab utama kasusu gizi buruk tersebut.
Ancaman yang serius dari kejadian tersebut adalah munculnya kasus marasmus
dan kwasiorkor akibat kurang pangan, sehingga memerlukan perhatian khusus
dan kerjasama antara petugas kesehatan dan lintas sektor lain khususnya PKK,

Kader Posyandu, dan tokoh masyarakat lainnya. Penanggulangan Kasus Gizi


buruk, marasmus dan kwasiorkhor perlu dilaksanakan secara cepat dan tepat
dengan keterlibatan program dan sektor terkait. Selain itu pengetahuan orang
tua dalam penanganan kasus gizi buruk khususnya dalam pemberian makanan
pada anak-anak sangat menentukan, sehingga untuk mendukung keberhasilan
penanganan/penanggulangan Balita gizi buruk

diperlukan program untuk

mengatasi masalah tersebut yaitu Pola Pendampingan PMT-P pada Balita gizi
buruk

Gambar diatas menunjukkan Saat pelatihan pola pendampingan PMT-Pemulihan , Kepala Puskesmas diajari
cara membuat Fomula Word Health Organisation (WHO) untuk makanan gizi buruk & Kader Posyandu diajari
memonitoring tumbuh kembang untuk deteksi dini gizi Balita agar tidak menjadi gizi buruk.

Pola pendampingan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P)


sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah gizi yang ada di masyarakat,
karena dengan pola pendampingan diketahui masalah yang menjadi
penyebab terjadi masalah terutama masalah gizi buruk khususnya pada Balita.
Secara umum tujuan dari kegiatan ini adalah mendukung keberhasilan
Penanggulangan Balita gizi buruk dengan Pemberian Makanan Tambahan
Pemulihan (PMT-P)
Sedangkan tujuan khususnya adalah:
-

Menggali potensi yang ada pada masyarakat khususnya penderita.

Menggali permasalahan yang ada pada masyarakat khususnya


penderita.

Memberikan rekomendasi berdasarkan potensi & masalah yang ada

di masyarakat khususnya penderita.


Menentukan langkah tindak lanjut penanganan dan perencanaan

program penanggulangan mendatang.

Dalam operasional program sistem pelaksanaan yang digunakan pada

Pola

Pendampingan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) adalah


dengan menyediakan dana untuk transpot petugas pendampingan dimana saat
ini cukup untuk 45 kasus sebanyak 3 kali kunjungan oleh satu orang Petugas Gizi
dan satu orang kader/PKK.
Dalam pendampingan meliputi beberapa kunjungan dengan kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
a. Kunjungan pertama
1.

2.

Memotret potensi keluarga kasus :

Pendapatan uang belanja per hari

Potensi pekarangan

Aset Keluarga

Memotret masalah keluarga kasus :




Melakukan anamnesa (diagnosa) dan mengukur Status gizi ibu &


anak (Asntropometri, Klinik, laboratorium/Biokimia)

3.

Konsumsi pangan, dietetik dengan recall 24 jam yang lalu

Kebersihan

Ketrampilan merawat anak.

Melaksanakan Advokasi berupa rekomendasi/masukan pada keluarga


kasus untuk memanfaatkan sumber daya keluarga sebagai pemecahan
masalah yang berkaitan dengan kasus :


Pemanfaatan uang belanja

Pemanfaatan pekarangan

Latihan perawatan anak cara membuatkan makanan yang sesuai


untuk

anak/kasus.

b. Kunjungan ke dua :
Mengevaluasi apakah rekomendasi/masukan yang diberikan kepada
keluarga sudah dilaksanakan atau belum, serta memantau perkembangan
status gizi Balita.
Apabila rekomendasi belum dilaksanakan maka ditanyakan tentang
kesulitannya dan dimotivasi terus agar mau merubah pola perilaku yang
kurang betul dalam perawatan/penanganan Balita serta diajak membuat
makanan untuk anaknya dan memperagakan cara memberikan.
c. Kunjungan ke tiga :
Mengevaluasi perkembangan tumbuh kembang dan status gizi Balita dan
merencanakan langkah tindak lanjut berikutnya, yaitu merubah formula
makanan secara bertahap, dari formula makanan fase stabilitasi, fase
Transisi beralih ke fase Rehabilitasi (makanan tumbuh kejar)

d. Kunjungan ke empat :
Mengevaluasi perkembangan tumbuh kembang dan status gizi Balita dan
merencanakan langkah tindak lanjut berikutnya, sampai Balita sembuh.
Kunjungan Pendampingan dilakukan minimal 4 kali selama 3 bulan

Dokumentasi Kegiatan:

Gambar diatas menunjukkan kegiatan Pendampingan Balita Gizi buruk dengan hypotiroid dari ibu
penderita hypertiroid wilayah puskesmas kedungsolo.

Pendampingan penderita Gizi buruk wilayah Porong.


setelah 2 bulan ditangan sembuh dan bisa berjalan aktif lagi
An. Robianto/Edy Kusnariyo (badut)/Ponidah, desa Kedondong puskesmas Kepadangan, lahir 21
Maret 2007, BBL 2,8 Kg, Saat ditemukan KU lemah tidak bisa bergerak sama sekali pada Oktober
07 7 bl , di beri PMT-P (Pan Enteral + Profimilk +Kap Vit A + Syrup Zink + Kap Yodium) KU baik bisa
tertawa, bercelote, BB 5,8 Kg, TB 43 Cm, LIKA 48 Cm, LILA 35. Pada 1 Nop 07 TB 54 Cm. Pada 18
jan 2008 , 9 bl, TB 62 Cm, BB 6,3 Kg (Pusk), 6,8 Kg (Posy), LIKA 50 Cm Dilahirkan dari ibu dengan
kekurangan yodium (GAKY) lahir dengan kondisi kretin/cebol, kembar sejagat)  GAKIN rumah
tembok depan belakang gedeg lantai tanah

Kondisi tgl 31 Okt 2007, 7 bl


BB 5,8Kg TB 43 Cm
LIKA 48 Cm

Kondisi 15 Peb 2008


bisa mengangkat kepala

Kondisi tgl 18 Jan 2008,


9 bl BB 6,3KgTB 62 Cm,
LIKA 50 Cm

Kondisi sekarang umur 47 bln


sdh berjalan BB 8,4 Kg

An. Aprilia Isrotul Khasana Ds.Segodobancanng Kec.Tarik ditemukan umur 3 bl BB 2


Kg, PB 49 Cm lemah, apatis, Ortu kerja serabutan GAKIN, umur 6 bl BB3,5 Kg &
kondisi sekarang umur 30 bl BB 5,2 Kg TB sdh berjalan
3 bl BB 2 Kg PB 49 Cm

6 bulan BB 3,5 Kg

30 bl BB 5,2 Kg bisa berjalan

Rendi (Jangan Asem Trompoasri, Jabon) 23 Peb 2006 BBL 2,5Kg, ditemukan 26
Peb 2007 (12 bl) BB 5,2Kg, TB 60 Cm, Status Gizi Kwasiorkhor, setelah
penanganan (Pan Enteral & Modisco + Biskuit+ Vit A, Syrup Zink, Salep zink, Fe
& Antibiotik penyakit penyerta ISPA + Batuk) tgl 15 Mei 2007 (15 bl) BB 6,05 Kg
TB 62 Cm, dan kondisi sekarang 51 bulan sudah sehat

26 Peb 12 bl BB 5,2 Kg
TB 60 Cm

15 Mei (15 bl) BB 6,05Kg


TB 62 Cm

Fina Rahmawati , Balong tani Jabon an Bp. Husein buruh tani/jualansaat


ditemukan 29 Sept 2009; 13 bl, 7,7 Kg, 67,5 Cm, Kwasiorkhor, oedema, muka
sembab, rambut merah/jagung, kulit crazi, mata kelura sekret(rembes), susu (-)
diberi air gula selama 5 bl

BB/U= -1,91; TB/U=-2,76;BB/TB=0. diberikan

penanganan : Pan Enteral, oralit, KCL, Sirup Zink, zink Salep, Profimilk dan
multivitamin.
Dengan penanganan intensif selama 4 bulan, kondisi membaik BB/U=-2,14;
TB/U=-3,30; BB/TB=-0,44. Kondisi Fisik dapat dilihat pada foto dan kondisi
sekarang sudah sehat & cantik
Tgl 29 Sept

5 Nop 09)

23 Januari 2010
Sudah sehat &
Cantik

E. PENINGKATAN STATUS GIZI BALITA MELALUI PENDEKATAN POSITIVE


DEVIANCE/PENYIMPANGAN POSITIF DENGAN PEMBENTUKAN POS GIZI

Gangguan gizi yang terjadi pada masa bayi dan anak Balita akan berpengaruh
pada proses tumbuh kembang masa berikutnya, sehingga perlu mendapat
perhatian. Efektifitas penanggulangan gizi kurang ditentukan oleh dua hal. Pertama
ketepatan dalam melakukan identifikasi dini gangguan pertumbuhan, dan kedua
ketepatan dan kecepatan tindak lanjut setiap gangguan pertumbuhan.
Pemantauan pertumbuhan merupakan kegiatan utama perbaikan gizi di
Posyandu yang pelaksanaannya melibatkan ibu Balita, kader dan petugas
kesehatan. Ibu Balita merupakan ujung tombak dan pemegang peranan dalam
pemantauan pertumbuhan pada Balita. Ibu Balita diharapkan dapat memahami arti
pertumbuhan anaknya sesuai dengan hasil penimbangan dalam Kartu Menuju
Sehat (KMS). Oleh karenanya perlu terus diupayakan semaksimal mungkin untuk
memotivasi ibu Balita agar rajin ke Posyandu setiap bulan dalam rangka memantau
pertumbuhan anaknya.
Dengan adanya Balita Bawah Garis Merah (BGM) yang terus meningkat,
didukung dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan dan dengan adanya bencana
Lapindo di Kabupaten Sidoarjo serta dana untuk penanggulangan yang terbatas,
maka sarana Posyandu yang cukup serta ketrampilan kader bisa digunakan sebagai
bahan pertimbangan pelaksanaan penanggulangan gizi buruk.
Mengingat kompleksnya penyebab masalah gizi kurang, maka perlu dicarikan
pendekatan alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Salah satu
pendekatan yang sedang dikembangkan di Indonesia adalah dengan pendekatan
penyimpangan positif / Positive Deviance (PD) dalam mengatasi masalah gizi Balita
oleh orang tua Balita itu sendiri. Oleh karena itu metode PD ini diharapkan dapat
digunakan secara lokal sesuai situasi dan kondisi setempat untuk membantu
mempercepat penurunan prevalensi Balita gizi kurang dan gizi buruk. Untuk

mendukung upaya tersebut, setiap petugas (kader) perlu dibekali kemampuan yang
cukup untuk melaksanakan perbaikan gizi dengan pendekatan PD.
Positive Deviance merupakan Solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi
di masyarakat yang berada tepat di depan mata kita dengan kegiatan :
1. Pendekatan perkembangan berdasarkan prinsip bahwa solusi dari
persoalan komunitas/masyarakat sudah ada pada masyarakat itu sendiri.
2. Penekanan pada hal-hal yang berhasil bukan pada hal-hal yang tidak
berjalan baik.
3. Berfokus pada sumber daya yang sudah selalu tersedia bagi semua
anggota masyarakat
4. Dapat menciptakan intervensi yang berdampak langsung dan tidak
membutuhkan penelitian jangka panjang sebelum dilaksanakan.
5. Dapat mendorong dan memperdayakan masyarakat agar mencari
pemecahan untuk persoalan mereka sendiri.
6. Membutuhkan pola perilaku yang baru.
7. Membutuhkan

dukungan

untuk

perilaku

Positive

Deviance/Penyimpangan Positif.

Tujuan pendekatan PD adalah penanganan secara rehabilitasi, kesinambungan


dan pencegahan Balita dari masalah gizi dengan terfokus pada praktek. Adapun
secara khusus tujuan dari kegiatan ini adalah
1. Ditemukan pendekatan perkembangan berdasarkan prinsip bahwa solusi
dari persoalan komunitas/masyarakat sudah ada pada masyarakat itu
sendiri.
2. Diperoleh penanganan dengan penekanan pada hal-hal yang berhasil bukan
pada hal-hal yang tidak berjalan mulus.
3. Penanganan berdasarkan/terfokus pada sumber daya yang sudah selalu
tersedia bagi semua anggota masyarakat.

4. Dapat menciptakan intervensi yang berdampak langsung dan tidak


membutuhkan penelitian jangka panjang sebelum dilaksanakan.
5. Dapat mendorong dan memperdayakan masyarakat agar mencari
pemecahan untuk persoalan mereka sendiri.
6. Diperoleh pola perilaku yang baru untuk penanganan masalah gizi Balita.
7. Diperoleh

dukungan untuk perilaku Positive Deviance/Penyimpangan

Positif.

Pendekatan

PD

berdasarkan

pada

analisa

data

yang

ada

dilapangan/masyarakat yaitu hasil penimbangan di Posyandu; Merumuskan dan


mengenali masalah dan mengharapkan hasil yang diinginkan harus melibatkan
masyarakat (tokoh masyarakat, tokoh agama dan aparat desa), didiskusikan
sehingga masyarakat merasa bahwa masalah gizi adalah masalah mereka bukan
masalah pemerintahan saja.
Pendekatan PD mengadobsi keberhasilan keluarga yang tidak mampu dalam
merawat anaknya dengan keterbatasan ekonomi menjadikan anaknya berhasil
dan status gizinya tetap baik, kita tetapkan perilaku yang khusus yang belum
dilakukan oleh orang tua/pengasuh/nenek dan sebagainya dari keluarga
mampu tetapi anaknya dengan status gizi kurang (BGM/Pita Kuning). Perilaku
yang khusus tadi disebut Penyimpangan Positif/Positive Deviance
digunakan

sebagai

acuan

dalam

pelaksanaan

pendekatan

yang
Positive

Deviance/Penyimpangan yang Positif.


Bentuk kegiatan pendekatan PD dilapangan adalah pos gizi selama 12 hari
dilaksanakan setelah hari buka Posyandu; dirumah salah satu masyarakat yang
ditunjuk berdasarkan kesepakatan sasaran/peserta pos gizi.
Melalui musyawarah mufakat desa disahkan terbentuknya pos gizi dengan
donatur tetap berupa peralatan dan bahan baku (beras, minyak) untuk
pelaksanaan pos gizi dari masyarakat sekitarnya, sedangkan untuk peserta pos

gizi membawa apa yang dipunyai dirumah untuk digunakan memasak menu
yang sudah disepakati.

Langkah - Langkah Kegiatan P3G Pos Gizi melalui pendekatan PD di


Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo 2007 sebagai berikut:
1. Pelatihan PD Tingkat Kabupaten dengan peserta Tenaga Pelaksana Gizi
Puskesmas dan Kader desa dengan Balita Gizi Buruk.
2. Persiapan desa implementasi PD termasuk persiapan informal dan
Implementasi PD dengan membentuk Pos Gizi
3. Sosialisasi PD di desa dan persiapan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD).
4. MMD pertama :
4.1 Penyajian Data derajat kesehatan dan status gizi desa dan
mengemukakan adanya masalah.
4.2 Menjelaskan tujuan P3G Pos Gizi : (3 M)
4.2.1. Memperbaiki status gizi.
4.2.2. Mempertahankan gizi baik.
4.2.3. Mencegah terjadi gizi buruk dan atau BBLR
4.3 Diskusi, Sudah ada keluarga dengan pemecahan masalah kurang
gizi/belajar PD dari keluarga tidak mampu tetapi mempunyai balita
dengan status gizi baik.
4.4 Mempersiapkan kader untuk melakukan FGD dan PD Inquiry.
5 Focus Group Diskusi (FGD)
Menggali perilaku umum dari kelompok ibu, bapak, kakak, nenek, pemilik
warung. Hal-hal yang digali tentang perilaku: pemberian makanan,
perawatan anak, kebersihan, dan pemeliharaan kesehatan anak
6

Positive Deviance Inquiry (PD Inquiry)


Menggali perilaku unik atau berbeda pada keluarga :
6.1 Keluarga tidak mampu tetapi mempunyai balita gizi baik
6.2 Keluarga mampu tetapi mempunyai balita kurang gizi

MMD kedua:
7.1 Membahas hasil FGD dan PD inquiry
7.2 Membentuk Komite Kesehatan Desa, Fasilitator Masyarakat, dan
menamakan kegiatan P3G Pos Gizi
7.3 Perilaku unik/berbeda yang ditemukan ditunjukkan pada masyarakat
kemudian dipilih perilaku mana yang bisa ditiru oleh keluarga/orang
lain.
7.4 Membicarakan kontribusi dari masyarakat, orang tua balita, petugas,
dll.

Pelatihan Kader : (materi dan metode disesuaikan dengan kebutuhan)


8.1 Konsep PD (review PD)
8.2 Perencanaan menu 600 kalori, 26 gram protein.
8.3 Konseling
8.4 Protokol harian kegiatan P3G Pos Gizi
8.5 Pembuatan gambar dan pencatatan.

Implementasi/pelaksanaan P3G Pos Gizi


9.1 Pertemuan kader dengan tokoh masyarakat untuk mereview PD,
pelatihan, dan persiapan posyandu.
9.2 Penimbangan Posyandu, analisa data berapa balita gizi buruk dan balita
gizi kurang.
9.3 Pertemuan dengan orang tua balita kurang gizi untuk menyusun
protokol harian kegiatan P3G Pos Gizi dan pentingnya kontribusi serta
kehadiran.
9.4 Pelaksanaan kegiatan di P3G Pos Gizi : (sesuai dengan protokol harian
12 hari)
9.4.1. Pengumpulan bahan makanan kontribusi
9.4.2. Pengolahan bahan makanan
9.4.3. Penyajian makanana
9.4.4. Penyuluhan / konseling

9.4.5. Penyampaian pesan kesehatan dan gizi


9.4.5.Permainan psikomotorik
9.4.5. dll
10 Monitoring dan evaluasi
10.1 Penimbangan berat badan: hari pertama, hari ke 12 (terakhir), dan saat
posyandu
10.2 Monitoring perilaku baru di rumah peserta P3G (observasi oleh kader).
10.3 Evaluasi bulanan.

KESIMPULAN
Program Pendidikan dan Pemulihan Gizi (P3G) Pos Gizi

melalui

pendekatan Positive Deviance baru dilaksanakan pada daerah-daerah rawan gizi


yang ada di Kabupaten Sidoarjo, dan mulai diperkenalkan pada tahun 2007.
Pendekatan PD ini cukup berhasil dalam merubah perilaku yang diawali dengan
mempraktekan perilaku unik/ berbeda yang ditemukan pada keluarga penyimpang
positif (keluarga balita gizi baik) dan juga telah berhasil mencapai tujuan yang
meliputi; 1. Memperbaiki balita kurang gizi (gizi buruk dan gizi kurang) menjadi gizi
baik, 2. Mempertahankan balita gizi baik, dan 3 mencegah terjadinya balita kurang
gizi dan atau BBLR. Kekuatan dari pendekatan PD ini terletak pada penggerakan
sasaran dan keterlibatan berbagai elemen yang ada pada masyarakat serta dapat
berkesinambungannya kegiatan yang dikoordinasikan oleh komite kesehatan desa
yang berfungsi sebagai fasilitator dan mediator program pendidikan dan pemulihan
gizi. Sedangkan kelemahannya memerlukan sumber daya manusia yang harus
dipersiapkan terlebih dahulu agar mampu melakukan FGD dan PDI (penyelidikan
perilaku unik) serta bersedia belajar dari masyarakat.

1. Komponen Input
a. Sumber daya Manusia
1. SDM yang berperan dalam pelaksanaan kegiatan adalah tenaga yang
sudah

ada di masing-masing tingkatan baik tenaga pelaksana gizi

kabupaten maupun puskesmasyang terdiri dari dokter, TPG, bidan, dan


perawat desa yang berperan fasilitator dan mediator di masyarakat.
2. Di tingkat masyarakat melibatkan berbagai elemen seperti kader, toma,
tokoh pemuda, karang taruna, guru ngaji, LPM, BPD, Kepala desa dan
jajarannya. serta ibu-ibu balita.

b. Pemahaman SDM tentang Positive Deviance


1. Petugas memahami dengan tepat tentang konsep PD demikian juga
dengan kader kesehatan.
2. Petugas dan kader dapat menjelaskan tujuan pendekatan positive
deviance dengan tepat yaitu perbaikan status gizi dengan cara melakukan
perubahan perilaku

c. Sarana
Sarana yang digunakan untuk mendukung kelancaran kegiatan dari
proses

awal sampai akhir adalah KMS, alat timbang. alat masak dan alat

kebersihan. Untuk sosialisasi kegiatan menggunakan mekanisme yang sudah


ada di masing-masing tingkatan, seperti forum pertemuan. Rapat koordinasi,
rapat dinas, serta orientasi program.

Dan di tingkat kecamatan dapat

memanfaatkan pertemuan bulanan. Rakoorcam. Lokakarya bulanan.dan


minguan serta pertemuan informal seperti pengajian maupun arisan

d. Dukungan dan Pendanaan


1. Masyarakat memberikan dukungan yang positif terhadap pelaksanaan PD.
Dengan membawa bahan makanan yang kalau dinominalkan sebesar Rp
1.000 perhari kali 12 hari.
2. Terdapat alokasi biaya untuk Pelatihan pembentukan Pos Gizi melalui
Pendekatan PD mulai tahun 2007 dan seterusnya sampai semua kecamatan
mempunyai desa pilot project .
3. Dukungan yang positip baik dari pemerintah maupun unsur masyarakat
serta LSM baik dalam bentuk moril atau material.

2. Komponen Proses ( 6 langkah PD).


a.. Define, perumusan masalah kurang gizi hasil penimbangan di posyandu.
b. Determine, penentuan pelaku penyimpangan positif dalam masalah gizi, yaitu
terdapat keluarga tidak mampu tetapi mempunyai balita status gizi baik.
c.

Discover, perilaku penyimpangan positive ditemukan melalui FGD dan


penyelidikan terhadap kelurga penyimpang positif.

d. Design, rancangan program pemulihan dan pndidikan gizi beragam macam


kegiatan yang memiliki kekhasan masing-masing sesuai dengan kondisi
wilayah pos gizi.
e. Discern, monitoring dan evaluasi terhadap berat badan perilaku baru yang
dilakukan melalui penimbangan dan kunjungan rumah.
f. Disseminate, penyebaran kegiatan pos gizi dilakukan oleh pesert kader, dan
toma
g. Penerapan PD di lapangan langsung dilakukan setelah selesai pelatihan
h. petugas beserta dengan kader mendapatkan pembekalan pelatihan tentang
konsep PD dan topik lainnya yang mendukung pelaksanaan PD
j.

Pencapaian tujuan pelaksanaan pendekatan Positive deviance (PD) yaitu


perubahan perilaku tidak cukup dalam waktu 2 tahun

k. Di dalam masyarakat terdapat perilaku penyimpang positif yang

strateginya

bisa diterapkan pada keluarga yang lain dengan mempraktekkan minimal 12


kali praktek.
l. Indikator keberhasilan yang diharapkan adanya kesinambungan dalam
menyembuhkan anak kurang gizi secara mandiri.

3. Komponen Output (Internalisasi dan perubahan perilaku)


1. Internalisasi
Individu-individu dalam masyarakat dapat berperilaku yang mendorong
terhadap upaya perbaikan gizi keluarga dan masyarakat.
2 Perubahan perilaku
Perubahan perilaku ibu terhadap anak balita dititik beratkan kepada tiga hal,
yaitu; pemberian makan, kebersihan diri, dan pengobatan.
a. Pemberian Makan Anak
1. Perubahan pemberian makanan sudah mulai terlihat, baik itu dari segi
frekuensi, jenis makanan dan cara memberikan makanan. Walaupun
perubahan ini belum merata namun perubahan itu sudah mulai terlihat di
beberapa ibu balita
2. Frekuensi makanan anak yang biasanya 2 kali menjadi 3 kali bahkan ada
informan yang tidak menjadwalkan tetapi memberikan makanan pada
saat anak memintanya
3. Jenis makanan yang diberikan semakin bervariasi, yang dulunya jarang
memberikan sayur sekarang mulai rutin memberikan sayur. Demikian
juga dengan jajanan dimana ibu mulai memilih-milih jajanan anak yang
sehat.
4. Dalam memberikan makanan, ibu semakin sabar dan melakukan
berbagai upaya agar anaknya mau makan

b. Pencarian Pengobatan
1. Bahwa pola pencarian pengobatan masih belum mengalami perubahan
yang besar
2. Pengobatan penyakit yang ringan masih dilakukan sendiri dengan
menggunakan obat warung ataupun dukun. Apabila penyakit sudah
parah barulah dibawa ke puskesmas atau fasilitas lainnya.
3. Hambatan dalam penggunaan fasilitas kesehatan/ tenaga kesehatan
adalah faktor jarak sehingga dibutuhkan biaya transport yang seringkali
melebihi biaya obat yang harus dikeluarkan

c. Kebersihan Diri
1. Cuci tangan sebelum makan merupakan hal yang jarang sekali dilakukan
oleh masyarakat namun melalui pos gizi praktek mencuci tangan mulai
disebarluaskan.
2. Peserta pos gizi mulai terbiasa mencuci tangan dengan sabun sebelum
makan setidak-tidaknya pada saat melakukan pos gizi.
3. Kebiasaan mandi dengan menggunakan sabun bisanya dilakukan 1 kali
menjadi 2 kali sehari
4. Bahwa menggosok gigi anak sudah mulai di praktekkan di rumah.

d. Tumbuh Kembang Anak


1. Bahwa tumbuh kembang anak hanya diinofrmasikan sesuai
dengan apa yang tertera dalam kartu KMS
2. Pengetahuan kader tentang tumbuh kembang anak masih sangat
terbatas.

3. Keberlangsungan dan Tantangan Pelaksanaan PD


a.

Para petugas yakin bahwa PD bisa dilakukan secara berkesinambungan.

b. PD merupakan pendekatan yang pemecahan masalahnya dilakukan oleh


masyarakat dan bisa dilakukan oleh masyarakat
c. Dukungan dari semua pihak termasuk masyarakat sangan diperlukan untuk
keberlangsungan PD
d. Permasalahan utama dalam keberlangsungan pos gizi adalah terbatasnya
kemampuan

masyarakat

dalam

menyediakan

kontribusi

dalam

pelaksanaan pos gizi

4. Komponen Outcome (Status Gizi)


Ada peningkatan partisipasi masyarakat (D/S) antara 3,2% sampai dengan
19,85% berarti motivasi masyarakat untuk datang ke Posyandu setelah ada
Pos Gizi meningkat. Dan Balita BGM (Bawah garis Merah) prevalensinya
menurun antara 1,29% - 2,5% atau Jumlah balita BGM antara 2 5 anak,
dengan demikian dengan adanya Pos Gizi dapat meningkatkan status gizi
balita di wilayah Pos Gizi.
Perubahan status gizi pada balita di Pos Gizi terjadi peningkatan BB
dari Buruk/kurang menjadi Status Gizi Baik selamam 3 periode Pos Gizi; Pos
Gizi Porong (Juwet Kenongo) 90%, Krembung desa Wonmlati Pos Gizi
Balongdowo 66,67%, Guyangan Balaidesa

58,33%, Guyangan Selatan

72,73%; Mlaten Timur 42,86%; Mlaten Barat 80%; Balongdowo 66,67%; Kec.
Sukodono Desa Suruh Pos Gizi Prumpon 75%; Suruh 72,73%; Lengki 87,5%
dan Kec. Jabon Desa Panggreh 50%.
Biaya dari pemerintah

yang dikeluarkan untuk menangani balita

kurang gizi (BGM) berkurang hanya dialokasikan untuk kegiatan Pelatihan


KP3G Pos Gizi saja, karena ada dana pemberdayaan dari masyarakat
(sebagai donatur Pos Gizi)

SARAN
1. Komponen Input
a. Sumber daya Manusia
Pelibatan sektor lain perlu dipertimbangkan karena masalah gizi balita adalah
masalah masyarakat yang perlu penanganan dari berbagai sektor bukan hanya
sektor kesehatan saja.
Dokumentasi Pelaksanaan Positif Deviance
a. Pelaksanaan Positif Deviance di Desa Wonomlati Kecamatan Krembung

b. Pelaksanaan Positif Deviance di Desa Balong Macekan Kecamatan Tarik

Dok. Kegiatan Praktek Perilaku Pemulihan Gizi (KP3G) Pos Gizi Desa Panggreh

Absensi balita

Makan bersama pada saat KP3G Pos Gizi

Contoh Evaluasi Pelaksanaan Pos Gizi


Desa Panggreh Kec. Jabon
Eka R, 34 bl (Mei 09) : 10,5  11,5
Kg (40 bl, Nov 09) Anak terawat
dg bik & lebih cantik

Choirun Nisa 15 bl BB 8 kg  9,1 Kg 20


bl, KU > baik tidak cengeng, anak
mau makan sendiri

Pelaksanaan PD ( Pos Gizi desa Becirongengor Kec Wonoayu)

BAB VII
PENUTUP

ata dan informasi merupakan sumber daya yang strategis bagi


pimpinan dan organisasi dalam pelaksanaan manajemen. Oleh karena
itu penyediaan data dan informasi yang berkualitas sangat dibutuhkan

sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan.


Di

bidang

kesehatan,

data

dan

informasi

ini

diperoleh

melalui

penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. Perlu disadari bahwa sistem


informasi kesehatan yang ada saat ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan
data dan informasi kesehatan secara optimal. Namun demikian, diharapkan Profil
Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dapat memberikan gambaran secara garis besar dan
menyeluruh tentang seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah
dicapai.

Sidoarjo, Mei 2011