Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK CHITATO 15 GRAM

MENGGUNAKAN PETA KENDALI VARIABEL


STATISTICAL PROCESS CONTROL
Resita Alia
(Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNISMA)
Abstrak
Chitato kemasan 15 gram merupakan salah satu produk dari PT. Indofood Fritolay Makmur
Indonesia yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Chitato berbentuk keripik
kentang dengan tekstur bergelombang yang menjadi ciri khasnya. Untuk menghasilkan suatu
produk yang baik dalam arti dapat memenuhi standar dan kepuasan konsumen, perlu diterapkan
pengendalian kualitas pada proses produksi karena kualitas merupakan faktor yang sangat penting
bagi perusahaan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode SPC
(Statistical Process Control) menggunakan peta kendali variabel guna untuk menganalisis produk
chitato berdasarkan berat bersih (netto). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah
acak dengan karakteristik tingkatan penjualan snack antara lain: warung kecil, pasar, alfamidi,
indomart, swalayan, dan hypermart. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 bungkus chitato
dengan netto 15 gram. Penelitian ini dilakukan pada hari Senin, 23 Maret 2015 di Laboratorium
Pusat Universitas Islam Malang. Hasil dari penelitian ini, menunjukkan bahwa pengendalian
kualitas produk berdasarkan netto pada produk chitato 15 gram oleh PT. Indofood Fritolay
Makmur Indonesia masih terkendali, dengan batas kendali bawah 12, 396 gram, batas kendali atas
20,516 gram dan nilai target netto produk chitato adalah 16,456 gram. Sedangkan nilai rata-rata
variasi netto produk yang dihasilkan sebesar 7,04 gram. Dari data diatas, peneliti dapat
memberikan informasi yang berguna untuk meningkatkan kinerja atau sistem pengendalian
kualitas bagi perusahaan dan memberikan informasi kualitas produk chitato berdasarkan netto.
Kata kunci : pengendalian kualitas, peta kendali variabel, chitato.

PENDAHULUAN
Perkembangan zaman dan kemajuan
teknologi semakin membuat gaya hidup, pola
pikir, sikap dan perilaku masyarakat Indonesia
ikut berubah dan semakin maju, khususnya di
bidang pemasaran. Kecanggihan teknologi,
terutama teknologi komunikasi juga sekaligus
membuat persaingan bisnis menjadi sangat
tajam, baik di pasar domestik maupun pasar
internasional,
untuk
dapat
merebut
pelanggannya. Saat ini masyarakat semakin
pintar dan selektif dalam membeli sebuah
produk. Berbagai produk ditawarkan kepada
masyarakat mulai dari kebutuhan primer,
sekunder dan tersier. Dengan kemajuan
masyarakat maka kebutuhan mereka pun sudah
pasti berbeda-beda, semua itu dibuktikan dengan

semakin banyaknya produk-produk yang beredar


di pasaran. Di Indonesia, bisnis makanan dan
minuman khususnya kategori makanan ringan
(snack) telah berkembang cukup pesat. Hal ini
dapat dibuktikan dengan maraknya produk
dengan kategori snack berbagai merek beredar di
pasaran.
Menurut
data
dari
www.milis.mediacare.com Pasar snack di
Indonesia cukup kompetitif, terus tumbuh dan
bertambah baik dari segi volume maupun value.
Tiap tahunnya dan ratusan merek baru memasuki
pasar. Nielsen Retail Audit 2007 menyebutkan
pertumbuhan volume di pasar snack berkisar
27% dan pertumbuhan value sebesar 34%.
Pertumbuhan ini terjadi baik di pasar tradisional
maupun pasar swalayan (modern trade), dimana

pasar tradisional di daerah urban tumbuh sebesar


33% secara volume dan 40% secara value tahun
2007.
Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa
pasar snack memberikan kontribusi yang cukup
besar bagi pertumbuhan pasar di Indonesia, baik
pasar tradisional maupun pasar swalayan, serta
menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang
begitu konsumtif. Snack memang banyak di
gemari oleh semua kalangan, mulai dari anakanak, remaja, dewasa, hingga orang tua, baik pria
maupun wanita. Budaya ngemil dikalangan
masyarakat membuat snack menjadi satusatunya pilihan yang tepat untuk menemani
mereka kapan dan dimanapun mereka berada.
Saat beraktivitas, bersantai, ataupun sekedar
menjadi teman ngobrol bersama teman dan
keluarga.
Tak heran jika bisnis snack yang
berkembang cukup pesat ini membuat para
produsen terus berkompetisi untuk melakukan
inovasi-inovasi agar dapat memenangkan
pikiran, mulut dan hati konsumen. Untuk
memenuhi keinginan masyarakat yang tinggi,
harus menekankan pada produk yang dihasilkan
dan diperhatikan mutu serta proses produksi. Hal
yang paling penting adalah perhatian pada mutu
bukan pada produk akhir, namun produk yang
masih ada dalam proses (work in process) bila
ada kesalahan, masih dapat diperbaiki. Dengan
demikian, produk akhir yang dihasilkan adalah
produk yang bebas cacat dan tidak ada lagi
pemborosan karena produk tersebut harus
dibuang atau dilakukan pengerjaan ulang
(rework).
Salah satu teknik pengendalian mutu
yang dapat digunakan suatu industri adalah
pengendalian mutu secara statistik. Statistik
dalam arti sempit, berarti data ringkasan
berbentuk angka (kuantitatif). Sedangkan dalam
arti luas, statistik berarti suatu ilmu yang
mempelajari
cara
pengumpulan,
pengelompokan, penyajian, dan analisis data
serta cara pengambilan kesimpulan secara umum
berdasarkan hasil penelitian yang tidak
menyeluruh. Pengertian ini merujuk pada istilah
statistik yang biasanya diterjemahkan dengan
istilah statistika.

Definisi ini lebih ditekankan kepada


urutan kegiatan dalam memperoleh data sampai
data itu berguna untuk dasar pembuatan
keputusan. Jadi, apabila seseorang memerlukan
data untuk dasar pengambilan keputusan, maka
data tersebut harus dikumpulkan, diolah,
disajikan dan dianalisis, kemudian diambil
kesimpulannya. Yang perlu ditekankan di sini
adalah bahwa metode pengumpulan data secara
statistik sangat efisien, maksudnya bisa
menghemat tenaga, biaya, waktu, dan bisa
diperoleh dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
Suatu definisi yang teoritis sifatnya, (Anderson
dan Bancrof) statistika adalah ilmu dan seni
pengembangan dan penerapan metode yang
paling efektif untuk kemungkinan salah dalam
kesimpulan dan estimasi dapat diperkirakan
dengan menggunakan penalaran induktif
berdasarkan matematika probabilitas.
Salah satu teknik pengendalian mutu
secara statistik adalah Statistical Process
Control (SPC). Statistical proses control adalah
suatu cara pengendalian proses yang dilakukan
melalui pengumpulan dan analisis data
kuantitatif selama berlangsungnya proses
produksi. Selanjutnya dilakukan penentuan dan
interpretasi hasil-hasil pengukuran yang telah
dilakukan, sehingga diperoleh gambaran yang
menjelaskan baik tidaknya suatu proses untuk
peningkatan mutu produk agar memenuhi
kebutuhan dan harapan pelanggan(Gasperz,
1998).
Secara etimologi, SPC terdiri dari :
1. Process: adalah suatu kegiatan yang
melibatkan penggunaan mesin (alat),
penerapan suatu metode, penggunaan suatu
material dan atau pendayagunaan orang untuk
mencapai suatu tujuan.
2. Control: adalah suatu rangkaian kegiatan
umpan balik (reciprocal) untuk mengukur
suatu hasil yang harus dicapai apabila
dibandingkan
dengan
standar
serta
melakukan
tindakan
jika
terjadi
penyimpangan (abnormality).
Sedangkan secara epistemologi, SPC
adalah penerapan teknik statistik untuk
mengukur dan menganalisa variasi yang terjadi
selama proses (produksi-red) berlangsung. SPC
menggunakan statistik alat untuk mengamati

kinerja proses produksi untuk memprediksi


penyimpangan yang signifikan kemudian dapat
mengakibatkan produk ditolak. Konsep utama
adalah untuk setiap karakteristik proses terukur,
gagasan yang menyebabkan variasi dapat
dipisahkan menjadi dua kelas yang berbeda:
1. Normal (kadang-kadang juga disebut sebagai
umum atau kesempatan) menyebabkan
variasi.
2. Dapat ditetapkan (kadang-kadang juga
disebut sebagai khusus) menyebabkan
variasi.
Idenya adalah bahwa proses yang
memiliki banyak penyebab variasi, kebanyakan
dari mereka yang kecil, dapat diabaikan dan jika
kita hanya dapat mengidentifikasi penyebab
dominan beberapa saat, kemudian kita bisa
memfokuskan sumber daya kita pada
mereka. SPC memungkinkan kita untuk
mendeteksi ketika penyebab dominan beberapa
variasi yang hadir. Jika (dialihkan) dominan
penyebab variasi dapat dideteksi, berpotensi
mereka dapat diidentifikasi dan dihapus. Setelah
dihapus, proses dikatakan stabil, yang berarti
bahwa variasi yang dihasilkan yang dapat
diharapkan untuk tetap dalam satu set dikenal
batas, setidaknya sampai penyebab lain dapat
ditetapkan variasi diperkenalkan. Sebagai
contoh, snack dapat dirancang untuk mengisi
setiap bungkus dengan netto 15 gram, tetapi
beberapa bungkus akan memiliki sedikit lebih
dari 15 gram, dan beberapa akan memiliki sedikit
kurang sesuai dengan distribusi netto.
Manfaat Umum Penerapan SPC
Secara umum dengan menerapkan SPC akan
diperoleh beberapa manfaat, antara lain:
1. Meningkatkan daya saing produksi dengan
menekan terjadinya variasi.
2. Mengurangi biaya-biaya yang seharusnya
tidak perlu dikeluarkan, misalnya: rework
cost,
sorting
cost,
Punishment
cost akibat customer complaint, dll.
3. Meningkatakan mutu bahan dan material
yang dibeli melalui penerapan Incoming
Inspection.
4. Meningkatkan
produktivitas
dengan
menekan persentase cacat, ataupun rework.

Peta Kendali
Peta kendali adalah satu dari banyak alat
untuk memonitoring proses dan mengendalikan
kualitas.
Alat-alat
tersebut
merupakan
pengembangan metode untuk peningkatan
kualitas. Tujuan dari peta kendali adalah untuk
menentukan apakah hasil kerja suatu proses
masih dipertahankan pada taraf kualitas yang
dapat diterima. Hal ini dilakukan dengan
mendeteksi apakah suatu proses dalam keadaan
tak acak atau tak terkendali. Suatu karakteristik
kualitas yang menjadi perhatian dan satuan
proses akan disampel menurut waktu.
Karakteristik
kualitas
yang
mendasari
pembentukan peta kendali pada umumnya ada
dua macam yaitu peubah dan sifat (attribute).
Untuk peta kendali peubah, ciri yang diamati
adalah pengukuran seperti rata-rata. Sedang
untuk peta sifat maka yang diamati adalah
apakah tiap produk telah sesuai (cacat atau
tidak).
Teknik yang umum digunakan dalam
pengendalian statistik adalah peta kendali
Shewhart. Peta ini bentuknya sederhana yaitu
terdiri atas tiga buah garis mendatar yang sejajar,
yaitu menyatakan garis sentral/ Central Limit
(CL), batas kendali bawah/ Lower Central Limit
(LCL) dan batas kendali atas/ Upper Central
Limit (UCL). Beberapa manfaat yang diperoleh
dari peta kendali adalah:
1. Kapan tindakan perbaikan perlu dilakukan.
Suatu peta kendali dapat digunakan sebagai
pedoman untuk menunjukkan telah terjadi
kesalahan proses sehingga perlu diambil
tindakan perbaikan.
2. Jenis tindakan perbaikan yang perlu diambil.
Pola dari peta kendali dapat memberikan
informasi diagnostik tentang penyebabpenyebab tidak terkendali sehingga tindakan
yang sesuai dapat dilakukan.
3. Kapan membiarkan proses terus berlangsung.
Variasi merupakan kejadian umum dalam
suatu proses. Peta kendali dapat digunakan
untuk menentukan apakah variasi yang ada
bersifat alami (normal) atau tidak alami. Jika
bersifat alami maka dikatakan tidak ada
penyebab khusus yang mempengaruhi proses.
Sebaliknya jika tidak alami maka diduga ada
penyebab khusus yang mempengaruhi

kualitas proses dan penyebab ini harus


dihilangkan/diatasi agar proses terkendali
secara statistik.
4. Mengukur kemampuan proses memenuhi
persyaratan tertentu. Jika peta kendali
menyatakan proses terkendali secara statistik
maka
dapat
dilakukan
penaksiran
kemampuan proses dalam memenuhi
persyaratan yang telah ditentukan.
5. Sebagai alat peningkatan mutu. Disamping
dapat membantu dalam pengendalian proses,
peta kendali memberikan informasi mengenai
tindakan yang perlu diambil untuk
peningkatan kualitas.
6. Bagaimana menyusun spesifikasi proses.
Karena informasi dari peta kendali dapat
digunakan untuk menentukan kemampuan
proses, informasi ini (ditambah persyaratan
teknis) dapat membantu menyusun spesifikasi
produk yang lebih realistis. Selanjutnya, jika
informasi dari grafik kendali menyatakan
bahwa proses tidak mampu menghasilkan
produk yang memenuhi persyaratan maka
perlu dilakukan fokus pada program
peningkatan mutu dan mengubah proses
untuk mencapai standar yang diinginkan.
Peta Kendali Variabel
Pada dasarnya setiap peta kontrol memiliki :
1. Garis tengah (central line), yang biasa
dinotasikan CL.
2. Sepasang batas kontrol (control limit), yakni
batas kontrol atas (upper control
limit) dinotasikan UCL dan batas kontrol
bawah (lower control limit) dinotasikan
LCL.
3. Tebaran nilai-nilai karakteristik kualitas
yang menggambarkan keadaan dari proses.
Peta Kontrol X-bar dan R
1. Peta kontrol x-bar(rata-rata) dan R(range)
digunakan untuk memantau proses yang
mempunyai
karakteristik
berdimensi
kontinu, sehingga sering disebut peta kontrol
untuk data variabel.
2. Peta kontrol memberikan penjelasan tentang
apakah perubahan-perubahan telah terjadi
dalam ukuran titik pusat (central
tendency) atau rata-rata dari suatu proses.

3. Peta kontrol R (range) menjelaskan tentang


apakah perubahan-perubahan telah terjadi
dalam ukuran variasi, dengan demikian
berkaitan dengan perubahan homogenitas
produk yang dihasilkan melalui suatu proses.
Chitato Potato Chips adalah salah satu
produk snack yang ikut meramaikan persaingan
pasar snack di Indonesia. Chitato diproduksi oleh
PT. Indofood Fritolay Makmur yang merupakan
anak perusahaan dari PT. Indofood, sebuah
produsen makanan yang cukup besar di
Indonesia. Chitato berbahan dasar kentang yang
juga sebagai bahan makanan, kentang terbukti
digemari oleh banyak orang. Di beberapa daerah
di Indonesiapun ada yang menjadikannya
sebagai makanan pokok. Selain itu, kentang juga
banyak mengandung vitamin B, vitamin C,
vitamin A dan sumber karbohidrat yang penting.
Selain chitato, PT. Indofood Fritolay
Makmur juga memproduksi snack dalam
kemasan lain diantaranya: Chiki Balls, Cheetos,
Jet-Z, Qtela dan Lays. Produk-produk tersebut
memiliki berbagai varian rasa dan keberadaan
produk snack kemasan tersebut disesuaikan
dengan berbagai golongan masyarakat yang luas,
bukan hanya untuk anak-anak melainkan juga
bagi orang dewasa. Penulis mendapat informasi
yang diperoleh dari Product Brief Chitato 2008,
chitato sudah hadir di pasar snack Indonesia
sejak tahun 1994. Tidak heran jika brand
awareness chitato tergolong cukup tinggi bagi
masyarakat Indonesia. Di tengah persaingan
pasar kategori produk snack yang semakin
kompetitif, chitato sebagai salah satu produk
unggulan dari PT. Indofood Fritolay Makmur
yang terkenal dengan bentuk kentangnya yang
bergelombang, serta melakukan inovasi-inovasi
terutama dari sisi produk (kemasan dan rasa).
METODE
Berdasarkan metodenya, penelitian ini
adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk
menggambarkan fenomena-fenomena yang ada,
yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau.
Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau
pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi
menggambarkan suatu kondisi apa adanya.
Penggambaran kondisi dapat secara individual

atau menggunakan angka-angka(Sukmadinata,


2006:5).
Populasi dalam penelitian ini adalah
chitato potato chips dengan netto 15 gram tiap
bungkus dengan variasi rasa. Metode
pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh
dengan menggunakan sistem acak berbentuk
kemasan yang sudah dipasarkan di beberapa
tempat penjualan snack. Pengamatan yang
dijadikan dasar dalam pengambilan sampel
adalah tingkatan tempat penjualan snack. Jumlah
sampel yang dijadikan pengamatan berjumlah 30
bungkus berdasarkan 6 tingkatan, yaitu: warung
kecil, pasar, indomart, alfa midi, Citra swalayan,
dan hypermart. Frekuensi pengambilan sampel
dilakukan terhadap masing-masing tingkatan
tempat penjualan snack. Pengambilan sampel
dilakukan sebanyak 5 pengamatan untuk
masing-masing sampel. Jumlah data yang
diperlukan dalam penelitian ini adalah 30 buah
berdasarkan dari 6 tingkatan tempat penjualan
yang berbeda. Penimbangan sampel dilakukan
dengan menggunakan timbangan digital yang
terdapat di Laboratorium Pusat Universitas Islam
Malang dengan ketelitian 0,0001 gram. Data
yang diperoleh dengan menggunakan SPC untuk
membuat peta kendali variabel yaitu peta kendali
X-Bar dan R.

Gambar 1 Diagram Peta Kendali

Setelah memiliki peta kendali tersebut,


kemudian dianalisis apakah proses dalam
keadaan terkendali atau tidak terkendali. Jika
proses dalam keadaan terkendali, maka
menghitung kapabilitas proses dan saran
peningkatan proses. Sedangkan tidak terkendali,
maka membuat diagram sebab akibat dan
menerapkan tindakan pengendalian lalu kembali
ke langkah pengumpulan data hingga proses
dalam keadaan terkendali. Dalam melakukan
pembuatan diagram, peneliti menggunakan
bantuan program Minitab 14.
HASIL DAN PEMBAHASAN
PT. Indofood Fritolay Makmur Indonesia
selama ini belum pernah menerapkan teknik
bagan
kendali (control chart) dalam
mengendalikan
mutu
produk-produknya.
Sebagai langkah awal, maka dicoba diterapkan
untuk menganalisa dan mengendalikan netto
pada produk chitato potato chips. Snack chitato
potato chips merupakan snack varian Indofood
yang paling sering diproduksi di PT. Indofood
Fritolay Makmur Indonesia. Produk ini dikemas
dalam kemasan plastik/bungkus dan memiliki
netto yang tertera pada kemasan yaitu 15 gram.
Proses pengendalian proses produk
dilakukan terhadap netto. Netto produk harus
sesuai dengan spesifikasi perusahaan agar
konsumen tidak dirugikan dan produsen atau
pihak perusahaan dapat dikatakan telah
melakukan proses pengendalian mutu dengan
baik terhadap produknya sebelum dipasarkan.
Netto produk yang tidak sesuai spesifikasi
memiliki indikasi bahwa pihak perusahaan
belum melakukan pengendalian mutu dengan
baik. Netto produk yang kurang dari spesifikasi
akan merugikan pihak konsumen, sedangkan
berat produk yang melebihi spesifikasi akan
merugikan pihak produsen karena menyebabkan
penambahan biaya produksi yang sebenarnya
dapat dihindari. Tahap awal dalam proses
analisis netto produk snack chitato dilaksanakan
dengan melakukan penimbangan netto dalam
setiap produk setelah dikemas dan dipasarkan di
beberapa tempat penjualan berdasarkan
tingkatannya.

Tabel 1 Data Netto Chitato 15 gram


SAMPEL
Warung
kecil
Pasar
Alfa Midi
Indomart
Swalayan
Hipermart

PENGAMATAN (gram)
2
3
4

14,98

15,5

16,86

14,75

15,45

15,98
14,73
17,16
15,73
13,5

16,46
15,66
15,18
16,3
19,95

16,54
15,03
15,39
25,36
27,46

15,81
15,69
15,36
12,45
15,53

15,89
15,13
15,25
15,91
18,69

Analisis Peta Kendali


Teknik dasar pengendalian mutu yang
digunakan adalah peta kendali SPC. Peta kendali
variabel digunakan sebagai alat untuk
menganalisis secara statistik data netto produk
yang telah diperoleh dari hasil penimbangan.
Peta kendali dapat digunakan untuk mengetahui
keadaan selama proses produksi dalam
mengendalikan suatu karakteristik mutu produk
yang menunjukkan telah berada dalam keadaan
terkendali atau belum. Berdasarkan data yang
diperoleh, maka peta kendali variabel yang
digunakan untuk menganalisis netto produk
secara statistik adalah peta kendali X-bar dan R.
Peta kendali X-bar dan R digunakan
untuk memantau proses yang mempunyai
karakteristik berdimensi kontinyu dengan jenis
data yang diolah berupa data variabel. Peta
kendali X-bar dan R yang digunakan
menggunakan tiga sigma, yaitu sebuah central

line dan dua buah batas pengendali, masingmasing terdiri atas satu buah batas pengendali
atas dan batas pengendali bawah. Penentuan
central line/garis tengah pada peta kendali dibuat
dengan metode standard given. Hal ini berarti
garis tengah yang terdapat pada bagan kendali
merupakan nilai target netto produk chitato yang
telah ditentukan berdasarkan spesifikasi
perusahaan. Proses pembuatan peta kendali Xbar dan R dalam menganalisis netto produk
chitato menggunakan bantuan program pengolah
data statistik Minitab 14. Pengamatan netto
produk
chitato
dilakukan
berdasarkan
pengambilan data pada beberapa sampel.
Frekuensi pengambilan sampel dilakukan
berdasarkan tingkatan tempat penjualan snack
yang masing-masing dilakukan 5 kali
pengamatan. Tempat penjualan snack yang
dijadikan sebagai sampel diantaranya warung
kecil, pasar, alfa midi, indomart, Citra swalayan,
dan
Hipermart.
Pengamatan
bertujuan
mengetahui
netto setiap produk dalam
menghasilkan produk chitato dengan netto yang
sesuai dengan spesifikasi perusahaan yaitu 15
gram. Data-data yang diperoleh adalah data
primer dari hasil penimbangan netto produk
chitato yang dijadikan subjek pengamatan. Data
netto yang diperoleh merupakan hasil
penimbangan yang dilakukan pada tanggal 23
Maret 2015 di Laboratorium Pusat Universitas
Islam Malang.

'pengamatan 1,..., pengamatan 5'


U C L=20,516

Sample Mean

20
18

_
_
X=16,456

16
14

LC L=12,396

12
1

Sample

Sample Range

16

U C L=14,88

12
_
R=7,04

8
4
0

LC L=0
1

4
Sample

Gambar 2 Peta Kendali X-Bar dan R

Hasil analisis data yang diperoleh


menggunakan peta kendali X-bar dan R dapat
dilihat pada Gambar 2. Peta kendali X-bar
menyatakan rata-rata berat produk Chitato yang
dihasilkan selama proses produksi berlangsung,
sedangkan bagan kendali R menyatakan
variasi/rentang netto produk Chitato yang
dihasilkan selama proses produksi berlangsung.
Keterangan:
1. Garis berwarna hijau adalah central line (CL)
Untuk bagan kendali X-bar CL adalah nilai
target netto produk chitato berdasarkan
spesifikasi perusahaan yaitu 15 gram,
sedangkan untuk bagan kendali R, CL adalah
nilai rata-rata variasi netto produk chitato yang
dihasilkan.
2. Garis berwarna merah adalah batas
pengendali/control limit, terdiri atas batas
pengendali atas/upper control limit (UCL) dan
batas pengendali bawah/lower control limit
(LCL).
3. Titik-titik berwarna merah menunjukkan terjadi
variasi penyebab khusus (special causes
variation) atau variasi penyebab umum
(common cause variation) pada proses
produksi.
Berdasarkan data-data yang diperoleh,
pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa CL adalah

nilai target netto produk chitato yang diinginkan,


yaitu sebesar 16,456 gram. UCL sebesar 20,516
gram dan LCL sebesar 12,396 gram. Sedangkan
peta kendali R menunjukkan nilai rata-rata
variasi/rentang netto produk yang dihasilkan yaitu
sebesar 7,04 gram yang tertera pada CL. Selain itu
juga dapat diketahui nilai UCL sebesar 14,88
gram dan LCL sebesar 0 gram. Berdasarkan
analisa tersebut, maka peta kendali menunjukkan
proses terkendali secara statistik karena tidak ada
proses yang diluar batas kendali.
Kapabilitas Proses (Cp)
Setelah selesai dengan peta kendali, kini
penilaian proses dilanjutkan untuk menentukan
kapabilitas proses. Kapabilitas proses (Cp)
merupakan satuan yang mengukur lebar spesifikasi
(S) dibanding dengan lebar proses (P). Cp
digunakan untuk mengukur besaran dari tebaran.
Uji ini sering disebut analisis kemampuan proses.
Cpk merupakan nilai kemampuan proses.
Montgomery (1998) menunjukkan batas minimal
Cpk yang dianjurkan untuk produk yang
berhubungan dengan keamanan, berat, kekuatan
atau parameter kritis (1 sisi) adalah 1.50 (catatan:
dalam kasus ini, batas spesifikasinya hanya 1,
maka digunakan spesifikasi 1 sisi).

Process Capability of Pengamatan 1, ..., Pengamatan 5


LSL
Within
Overall

P rocess Data
LSL
15
Target
*
U SL
*
Sample M ean 16,456
Sample N
30
StDev (Within) 3,02634
StDev (O v erall) 3,02927

P otential (Within) C apability


Cp
*
C P L 0.32
C PU
*
C pk 0.32
O v erall C apability
Pp
PPL
PPU
P pk
C pm

12
O bserv ed P erformance
% < LSL 16.67
% > U SL
*
% Total
16.67

16

Exp. Within P erformance


% < LSL 31.52
% > U SL
*
% Total
31.52

20

24

Exp. O v erall P erformance


% < LSL 31.54
% > U SL
*
% Total
31.54

Gambar 3 Kapabilitas Proses

28

*
0.32
*
0.32
*

Cpk merupakan alat yang sangat baik


untuk mengukur variabilitas dan kapabilitas
proses. Output pada Gambar 3 menunjukkan
nilai Cpk sebesar 0,32 dan masih di bawah batas
minimum Cpk yang dianjurkan.
Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan
bahwa:
1. Berdasarkan data Rerataan
a. Rerata dari proses masih mampu
memenuhi spesifikasi.
b. Proses sudah mendekati nilai target.
2. Berdasarkan data Rentang
a. Semua satuan produk belum mampu
memenuhi spesifikasi
b. Proses masih perlu diperbaiki untuk
dapat dilakukan Cost reduction
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian awal serta analisa
dan pembahasan yang telah dilakukan pada
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: hasil
aplikasi SPC pada peta kendali variabel dari
contoh sampel yang diambil, grafik peta kendali
X-bar dan R untuk netto produk chitato
menunjukkan bahwa proses dalam kondisi in
control dengan batas kendali bawah 12,396
gram, batas kendali atas 20,516 gram dan nilai
target netto produk chitato adalah 16,456 gram.
Sedangkan nilai rata-rata variasi netto produk
yang dihasilkan sebesar 7,04 gram. Dari data

diatas, peneliti dapat memberikan informasi


yang berguna untuk meningkatkan kinerja atau
sistem pengendalian kualitas bagi perusahaan
dan memberikan informasi kualitas produk
chitato berdasarkan netto.
DAFTAR PUSTAKA
Ariani, D.A. 2004. Pengendalian Kualitas
Statistik. ANDI, Yogyakarta.
Gaspersz, V. 1998. Statistical Process
Control, Penerapan Teknik-teknik
Statistikal dalam Manajemen Bisnis
Total. PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Hargo, H.D. 2013. Implementasi pengendalian
pengendalian kualitas pada proses
produksi
rafia
hitam
dengan
menggunakan metode statistik di UD
Kartika Plastik, Jombang. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Universitas Surabaya 2:17.
Ilham, M.N.U. 2012. Analisis Pengendalian
Kualitas Produk dengan Menggunakan
Statistical Processing Control (SPC)
pada PT. Bosowa Media Grafika
(Tribun
Timur).Universitas
Hasanuddin.Skripsi.
Iriawan, N dan S.P. Astuti. 2006. Mengolah
Data
Statistik
dengan
Mudah
Menggunakan Minitab 14. ANDI,
Yogyakarta.