Anda di halaman 1dari 18

PENGUATAN KELEMBAGAAN

PEMERINTAH DAERAH DALAM


RANGKA PERCEPATAN
REFORMASI BIROKRASI
Oleh:

Menteri Dalam Negeri


Jakarta, 28 Mei 2013
2013

KEBIJAKAN NASIONAL REFORMASI BIROKRASI

MAKNA
REFORMASI
BIROKRASI

LANDASAN
HUKUM

UPAYA UNTUK MELAKUKAN


PERUBAHAN SISTEMATIK DAN
TERENCANA MENUJU
TATANAN ADMINISTRASI
PUBLIK YANG LEBIH BAIK

 PERPRES NOMOR 81 TAHUN 2010 TENTANG


GRAND DESIGN REFORMASI BIROKRASI
TAHUN 2010-2025;
 PERMENPAN-RB NOMOR 20 TAHUN 2010
TENTANG
ROAD
MAP
REFORMASI
BIROKRASI TAHUN 2010-2014.

BEBERAPA MASALAH
BIROKRASI PEMERINTAHAN
DI INDONESIA

 MASIH ADA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG


TUMPANG TINDIH;
 ORGANISASI PEMERINTAHAN YANG BELUM TEPAT FUNGSI
DAN TEPAT UKURAN (TERMASUK ORGANISASI PEMDA);
 MASIH ADANYA PRAKTEK PENYALAHGUNAAN WEWENANG;
 PELAYANAN PUBLIK YANG BELUM MENGAKOMODASI
KEPENTINGAN SELURUH LAPISAN MASYARAKAT;
 MANAJEMEN SDM YANG BELUM EFEKTIF DAN OPTIMAL
UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME APARATUR;
 POLA PIKIR DAN BUDAYA KERJA APARATUR YANG BELUM
MENDUKUNG TERWUJUDNYA BIROKRASI YANG EFISIEN,
EFEKTIF, PRODUKTIF, DAN PROFESIONAL;
3

Tujuan

Meningkatkan
profesionalisme dan
integritas aparatur
pemerintah.

TUJUAN DAN
SASARAN
BIROKRASI
REFORMASI

Sasaran

Meningkatnya kinerja
birokrasi yg berorientasi
hasil melalui perubahan
secara terencana,
bertahap, & terintegrasi
dari berbagai komponen
strategis birokrasi
pemerintah

Manajemen Perubahan
Penataan Peraturan Perundang-undangan

SEMBILAN
PROGRAM
UTAMA
REFORMASI
BIROKRASI

Penataan dan Penguatan Organisasi


Penataan Ketatalaksanaan
Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur
Penguatan Pengawasan
Penguatan Akuntabilitas Kinerja
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan

KEBERHASILAN
REFORMASI
BIROKRASI

SANGAT DITENTUKAN OLEH


KOMITMEN PIMPINAN SERTA
KEMAMPUAN DAN INTEGRITAS
BIROKRAT PELAKSANA
5

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

POKOK POKOK PENGATURAN DALAM


PP NOMOR 41 TAHUN 2007
1. Dasar Pembentukan dengan Perda.
2. Mempertegas Tupoksi Masing-Masing (Setda, Setwan, Inspektorat,
Dinas, dan LTD, Kecamatan dan Kelurahan).
3. Kriteria dengan Variable Jumlah Penduduk, Luas Wilayah, dan
Besaran APBD untuk menentukan jumlah SKPD.
4. Perumpunan Urusan yang diwadahi dalam bentuk Dinas dan LTD
(Badan atau Kantor).
5. Pola dan Susunan Organisasi masing masing SKPD.
6. Eselon.
7. Staf Ahli.
8. Perangkat Daerah Otonom Baru.
9. Perangkat Daerah yang memiliki istimewa dan khusus.
10. Lembaga Lain yang diamanatkan oleh Per-UU-an
11. Pembinaan dan Pengendalian serta Evaluasi.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

POKOK POKOK PERMASALAHAN PENATAAN ORGANISASI


PERANGKAT DAERAH (PP NO. 41 TAHUN 2007)
1.
2.

3.
4.
5.
6.
7.

Dasar Pembentukan dengan Peraturan Daerah (terjadi politisasi dalam


pembentukan SKPD).
Terjadi Pola Organisasi yang sama antar daerah (Provinsi dan Kab/Kota),
tidak sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, potensi, dan karakteristik
daerah.
Perumpunan menyebabkan kesulitan dalam melakukan koordinasi dengan
K/L dan kesulitan dalam menetapkan kompetensi pimpinan SKPD).
Susunan Organisasi SKPD dibuat tidak berdasarkan hasil analisis beban
kerja (ABK) dalam arti Pemda cenderung mengambil pola maksimal.
Nomenklatur SKPD antar Prov/Kab/Kota sangat variatif.
Eselon terpola secara nasional tanpa memperhatikan beban kerja (eselon
Sekda Provinsi Babel dengan Provinsi Jawa Timur sama yaitu eselon Ib).
Kriteria Variabel hanya menentukan jumlah SKPD yang terdiri dari jumlah
penduduk, luas wilayah, dan jumlah APBD.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

POKOK POKOK PERMASALAHAN PENATAAN ORGANISASI


PERANGKAT DAERAH (PP NO. 41 TAHUN 2007)
8.
9.

10.

11.
12.
13.
14.
15.
16.

Lembaga yang dibentuk berdasarkan amanah peraturan perundangundangan (Lembaga Lain) menyebabkan pembebanan APBD.
Tidak mengatur pembentukan lembaga sesuai dengan karakteristik daerah
(misalnya Bakorwil di Provinsi Jatim, Jateng dan Jabar ) serta Provinsi yang
berkarakteristik kepulauan.
Kelembagaan Daerah yang memiliki istimewa dan khusus (Khususnya
Provinsi DKI Jakarta, mengingat Walikota/ Bupati Administrasi merupakan
Jabatan karir struktural).
Staf Ahli Kepala Daerah, tugas dan fungsi serta kewenangan yang tidak
jelas.
Belum ada Kriteria Pembentukan UPTD sehingga jumlahnya tidak terkendali.
Sebagian kab/kota tidak melaporkan kepada Menteri Dalam Negeri dalam
rangka pembinaan dan evaluasi.
Pemberdayaan Kapasitas SKPD oleh K/L tidak diatur.
Pemanfaatan Jabatan Fungsional belum optimal.
Ketiadaan sanksi terhadap pelanggaran PP Nomor 41 Tahun 2007.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

PRINSIP PRINSIP PENATAAN SATUAN KERJA


PERANGKAT DAERAH
1.

Penataan SKPD diarahkan untuk mewujudkan tujuan otonomi daerah


yaitu peningkatan pelayanan, peningkatan kesejahteraan, daya saing
daerah, percepatan pembangunan, serta memberikan partisipasi yang
luas kepada masyarakat.

2.

Penataan SKPD setidaknya mengikuti prinsip dasar dalam penataan


organisasi antara lain pembagian habis tugas, membangun struktur
tepat fungsi dan tepat ukuran (struktur), pendelegasian kewenangan,
tata kerja yang jelas, dll.

3.

Pembentukan SKPD sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, potensi,


dan karakteristik daerah masing-masing.

4.

Kesamaan nomenklatur antara K/L dengan perangkat daerah untuk


memudahkan koordinasi dan sikronisasi program pusat dan daerah.

5.

Pengembangan Jabatan Fungsional.

ANGGARAN BELANJA PEGAWAI


PROVINSI, KABUPATEN DAN KOTA
TAHUN ANGGARAN 2013

BELANJA PEGAWAI PADA PROVINSI, KABUPATEN DAN KOTA SE-INDONESIA


TA 2013
0
Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua

dalam miliar rupiah

10,000

20,000

30,000

10,739.32
16,686.40
8,942.47
10,006.33
3,708.04
5,313.78
3,884.33
9,141.03
2,508.12
8,352.92
12,808.90
7,175.62

29,804.41
30,041.18

4,725.53
6,108.52
5,240.26
6,825.51
11,431.90
1,959.02
5,021.93
2,229.99
4,926.97
12,034.94
4,945.56
6,515.75
5,669.62
7,486.30
3,853.29
2,518.47
8,676.30

32,328.60

RASIO TERHADAP BELANJA DAERAH


0%

Nanggroe Aceh Darussalam


Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

20%

40%

60%

39.11%
41.56%
51.02%
31.19%
34.20%
41.58%
49.59%
35.80%
38.40%
46.18%
28.10%
42.26%
35.86%
50.13%
53.39%
46.35%
38.89%
37.93%
40.05%
23.67%
44.56%
49.02%
48.79%
47.12%
47.31%
46.70%
42.49%
49.22%
48.78%
47.41%
36.12%
29.00%
24.44%

BELANJA PEGAWAI PADA PROVINSI SE-INDONESIA TA 2013


0
Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

dalam miliar rupiah

4,000

8,000

12,000

1,300.48
723.65
730.71
1,290.21
426.13
579.90
543.16
735.29
384.60
706.01
2,102.40
607.14
1,933.58
628.36
2,807.21
624.83
479.36
806.69
1,524.88
249.12
550.06
313.43
488.45
969.07
577.48
821.95
604.16
581.35
458.01
301.77
947.78
427.92

12,808.90

RASIO TERHADAP BELANJA DAERAH


0%

Nanggroe Aceh Darussalam


Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

20%

40%

11.04%
8.16%
22.05%
15.30%
16.68%
21.86%
30.72%
12.76%
20.14%
16.01%
28.10%
12.00%
10.03%
15.19%
25.60%
18.28%
18.72%
18.82%
17.72%
11.82%
21.78%
28.04%
29.05%
22.12%
17.17%
28.32%
19.04%
24.28%
24.21%
29.17%
21.50%
11.80%
10.06%

BELANJA PEGAWAI PADA KABUPATEN DAN KOTA SE-INDONESIA TA 2013


0
Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

dalam miliar rupiah

10,000

20,000

30,000

9,438.84
15,962.76
8,211.76
8,716.13
3,281.91
4,733.88
3,341.17
8,405.74
2,123.53
7,646.92
0.00
6,568.48
4,097.16

27,702.01
28,107.60

29,521.39
5,483.68
4,760.90
6,018.82
9,907.02
1,709.89
4,471.87
1,916.56
4,438.53
11,065.87
4,368.08
5,693.80
5,065.46
6,904.95
3,395.29
2,216.70
7,728.52
2,656.41

RASIO TERHADAP BELANJA DAERAH


0%

Nanggroe Aceh Darussalam


Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

20%

40%

60%

80%

60.19%
51.02%
57.77%
36.85%
39.60%
46.74%
55.09%
42.51%
45.94%
55.92%
0.00%
52.26%
47.06%
59.56%
64.06%
54.28%
44.32%
42.25%
48.18%
28.00%
52.58%
53.99%
54.89%
53.81%
55.91%
51.09%
51.67%
56.10%
53.33%
51.78%
39.81%
35.32%
31.75%

BELANJA PEGAWAI PADA KABUPATEN SE-INDONESIA TA 2013


0
Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

dalam miliar rupiah

10,000

20,000

30,000

7,726.19
11,550.84
5,492.14
7,121.37
1,949.89
3,798.20
2,845.77
6,042.65
1,798.94
6,339.78
0.00
20,354.22
3,759.48
24,570.68
3,459.42
24,151.73
4,445.67
4,232.84
4,975.21
7,117.42
1,709.89
3,094.94
1,484.11
3,843.67
9,354.98
3,389.76
5,060.07
4,183.52
6,331.13
2,630.47
1,561.04
7,259.61
2,330.29

RASIO TERHADAP BELANJA DAERAH


0%

Nanggroe Aceh Darussalam


Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

20%

40%

60%

80%

60.37%
52.59%
57.24%
34.77%
34.30%
45.38%
53.63%
39.59%
45.02%
56.11%
0.00%
54.14%
50.69%
60.62%
65.76%
56.82%
43.02%
40.61%
47.62%
26.62%
52.58%
53.04%
53.54%
53.28%
56.61%
48.48%
52.35%
55.60%
52.30%
49.07%
35.75%
34.58%
30.25%

BELANJA PEGAWAI PADA KOTA SE-INDONESIA TA 2013


0
Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

2,000

dalam miliar rupiah


4,000

6,000

8,000

1,712.65
4,411.92
2,719.62
1,594.76
1,332.02
935.68
495.40
2,363.09
324.58
1,307.13
0.00
7,347.80
2,809.00
3,536.92
637.74
5,369.65
1,038.01
528.06
1,043.61
2,789.60
0.00
1,376.92
432.45
594.86
1,710.89
978.32
633.73
881.94
573.82
764.82
655.67
468.91
326.11

RASIO TERHADAP BELANJA DAERAH


0%

Nanggroe Aceh Darussalam


Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

20%

40%

60%

80%

59.39%
47.32%
58.87%
50.35%
51.17%
53.26%
65.29%
52.40%
51.82%
54.98%
0.00%
47.67%
42.93%
53.09%
56.19%
45.20%
50.96%
62.46%
51.06%
32.26%
0.00%
56.28%
60.07%
57.49%
52.33%
62.77%
46.81%
58.62%
68.26%
63.91%
54.55%
52.80%
49.34%

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN


ORGANISASI PERANGKAT
DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO
1

POKOK
PERMASALAHAN
DASAR PEMBENTUKAN
DENGAN PERATURAN
DAERAH (TERJADI
POLITISASI DALAM
PEMBENTUKAN SKPD).

ARAH KEBIJAKAN
DASAR PEMBENTUKAN
SKPD DIATUR DENGAN
PERDA
(MENGATUR
POLA
ORGANISASI)
SEDANGKAN
KEDUDUKAN, TUGAS,
FUNGSI,
NOMENKLATUR,
SUSUNAN
ORGANISASI, DAN TATA
KERJA
PERANGKAT
DAERAH
DIATUR
DENGAN PERATURAN
GUBERNUR
/
BUPATI/WALIKOTA.
PASAL 2 RPP REV PP
41 TAHUN 2007.

RPP REVISI PP 41 THN 2007


ALT 1
PASAL 2
1.

POLA ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


DITETAPKAN DENGAN PERATURAN DAERAH
BERPEDOMAN
PADA
PERATURAN
PEMERINTAH INI.

2.

PENGATURAN LEBIH LANJUT MENGENAI


KEDUDUKAN,
TUGAS,
FUNGSI,
NOMENKLATUR, SUSUNAN ORGANISASI, DAN
TATA
KERJA
PERANGKAT
DAERAH
SEBAGAIMANA DIMAKSUD PADA AYAT (2)
DIATUR
DENGAN
PERATURAN
GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA.

ALT 2
PEMBENTUKAN ORGANISASI PERANGKAT
DAERAH DITETAPKAN DENGAN PERATURAN
KEPALA DAERAH DENGAN BERPEDOMAN
PADA PERATURAN PEMERINTAH INI.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

POKOK
PERMASALAHAN

ARAH KEBIJAKAN

RPP REVISI PP 41 THN 2007

TERJADI
POLA
ORGANISASI YANG
SAMA
ANTAR
DAERAH (PROVINSI
DAN
KAB/KOTA),
TIDAK
SESUAI
DENGAN
KEMAMPUAN,
KEBUTUHAN,
POTENSI,
DAN
KARAKTERISTIK
DAERAH.

MENGATUR SECARA
TEGAS DAN JELAS
URUSAN
ANTARA
PROVINSI DENGAN
KAB/KOTA SEBAGAI
DASAR
PEMBENTUKAN
DINAS
(SEMUA
URUSAN DIWADAHI
DALAM
BENTUK
DINAS DAN NON
URUSAN/
PENUNJANG
DIWADAHI DALAM
BENTUK BADAN).

LAMPIRAN KRITERIA VARIABEL


DINAS DAN BADAN DIBENTUK DEGAN
TIPOLOGI A, B, DAN C (PASAL8, PASAL
17,PASAL 10 DAN PASAL 19).
REVISI PP 38 TAHUN 2007 TENTANG
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN
ANTARA PEMERINTAH, PEMERINTAHAN
DAERAH PROVINSI, DAN PEMERINTAHAN
DAERAH KABUPATEN/KOTA.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

POKOK
PERMASALAHAN
PERUMPUNAN
MENYEBABKAN
KESULITAN DALAM
MELAKUKAN
KOORDINASI
DENGAN K/L DAN
KESULITAN DALAM
MENETAPKAN
KOMPETENSI
PIMPINAN SKPD).

ARAH KEBIJAKAN

RPP REVISI PP 41 THN 2007

SETIAP URUSAN
PASAL 16
DIWADAHI DALAM
BENTUK DINAS,
SATU URUSAN DIWADAHI DALAM SATU
URUSAN PENUNJANG DINAS.
DIWADAHI DALAM
BENTUK BADAN

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO
4

POKOK
PERMASALAHAN
SUSUNAN
ORGANISASI SKPD
DIBUAT TIDAK
BERDASARKAN
HASIL ANALISIS
BEBAN KERJA (ABK)
DALAM ARTI PEMDA
CENDERUNG
MENGAMBIL POLA
MAKSIMAL.

ARAH KEBIJAKAN
SETIAP URUSAN
DIWADAHI DALAM
BENTUK DINAS ,
DINAS DIBAGI
MENJADI 3 (TIGA)
TIPE.
a. DINAS TIPE A
DIBENTUK UNTUK
MEWADAHI
URUSAN
PEMERINTAHAN
DAERAH DENGAN
BEBAN KERJA
YANG BESAR;
b. .lanjut..

RPP REVISI PP 41 THN 2007


PASAL 8, PASAL 10, PASAL 17 DAN PASAL
19
SETIAP URUSAN DIWADAHI DALAM SATU
DINAS, DALAM BEBERAPA TIPOLOGI.

10

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO
4

POKOK
PERMASALAHAN
LANJUTAN

ARAH KEBIJAKAN

RPP REVISI PP 41 THN 2007

b. DINAS TIPE B
DIBENTUK UNTUK
MEWADAHI URUSAN
PEMERINTAHAN
DAERAH DENGAN
BEBAN KERJA YANG
SEDANG; DAN
c. DINAS TIPE C
DIBENTUK UNTUK
MEWADAHI URUSAN
PEMERINTAHAN
DAERAH DENGAN
BEBAN KERJA YANG
KECIL.
DEMIKIAN JUGA UNTUK
BADAN DIBAGI MENJADI
3 TIPE A,B DAN C

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH

NO

POKOK
PERMASALAHAN

ARAH KEBIJAKAN

ESELON TERPOLA
SECARA NASIONAL
TANPA
MEMPERHATIKAN
BEBAN KERJA (ESELON
SEKDA PROVINSI BABEL
DENGAN PROVINSI
JAWA TIMUR SAMA
YAITU ESELON IB).

ESELON KEPALA DINAS


DAN KEPALA BADAN
DIBEDAKAN
ANTARA
SATU PROVINSI DAN
PROVINSI YANG LAIN,
ANTARA
SATU
KAB/KOTA
DAN
KAB/KOTA YANG LAIN
BERDASARKAN FAKTOR
UMUM DAN FAKTOR
TEKNIS
SEDANGKAN
ESELON SEKDA ANTARA
PROVINSI
DENGAN
PROVINSI YANG LAIN,
ANTARA
KAB/KOTA
DENGAN
KAB/KOTA
YANG
LAIN
BELUM
DIBEDAKAN

RPP REVISI PP 41 THN 2007

PASAL 36 DAN PASAL 37


WACANA AKAN DIBEDAKAN :
ESELONISASI SETDA PROVINSI DENGAN
PERTIMBANGAN JUMLAH PENDUDUK DAN
JUMLAH KAB/KOTA.
ESELONISASI SETDA KAB/KOTA DENGAN
PERTIMBANGAN JUMLAH PENDUDUK DAN LUAS
WILAYAH.

11

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

POKOK
PERMASALAHAN
NOMENKLATUR SKPD
ANTAR
PROV/KAB/KOTA
SANGAT VARIATIF.

ARAH KEBIJAKAN

PERANGKAT PROVINSI
TERDIRI:
1. SETDA;
2. SETWAN;
3. DINAS;
4. BADAN;
5. UNIT PELAKSANA
DAERAH.

RPP REVISI PP 41 THN 2007

SATU URUSAN DIWADAHI DALAM SATU DINAS


DAN NOMENKLATUR SUSUNAN ORGANISASI
DISESUAIKAN DENGAN POTENSI DAN
KARAKTERISTIK DAERAH.
AKAN DIATUR DALAM PETUNJUK TEKNIS.

PERANGKAT KAB/KOTA
TERDIRI:
1. SETDA;
2. SETWAN;
3. DINAS;
4. BADAN;
5. UNIT PELAKSANA
DAERAH;
6. KECAMATAN.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

POKOK
PERMASALAHAN
KRITERIA VARIABEL
HANYA
MENENTUKAN
JUMLAH SKPD YANG
TERDIRI DARI
JUMLAH PENDUDUK,
LUAS WILAYAH, DAN
JUMLAH APBD.

ARAH KEBIJAKAN

RPP REVISI PP 41 THN 2007

PASAL 25 AYAT (1) S.D. AYAT (4)


SETIAP URUSAN
DITETAPKAN
DENGAN INDIKATOR MENGATUR SECARA TEKNIS KRITERIA DAN
VARIABEL MASING-MASING URUSAN.
VARIABEL FAKTOR
UMUM DAN FAKTOR
TEKNIS YANG LEBIH
DETAIL AGAR
MENDAPATKAN
ORGANISASI DINAS
YANG LEBIH RIGHT
SIZING SESUAI
DENGAN
KEMAMPUAN,
POTENSI,
KARAKTERISTIK DAN
KEBUTUHAN DAERAH

12

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO
8

POKOK
PERMASALAHAN

ARAH KEBIJAKAN

LEMBAGA YANG
DIBENTUK
BERDASARKAN
AMANAH
PERATURAN
PERUNDANGUNDANGAN
(LEMBAGA LAIN)
MENYEBABKAN
PEMBEBANAN APBD.

LEMBAGA LAIN BISA


BERDIRI SENDIRI
ATAU MENJADI
BAGIAN SATUAN
KERJA PERANGKAT
DAERAH SESUAI
DENGAN
KEBUTUHAN DAN
KEMAMPUAN,
KEUANGAN,
POTENSI,
KARAKTERISTIK
DAERAH MISAL
BADAN
PENANGGULANGAN
BENCANA DAERAH
(BPBD) BISA
DILEBUR KE DINAS
SOSIAL

RPP REVISI PP 41 THN 2007


PASAL 12 DAN PASAL 21
SESUAI DENGAN KEMAMPUAN DAERAH,
YANG PENTING ADA YANG MELAKSANAKAN
FUNGSI TERSEBUT.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

POKOK
PERMASALAHAN

ARAH KEBIJAKAN

TIDAK MENGATUR
PEMBENTUKAN
LEMBAGA SESUAI
DENGAN
KARAKTERISTIK
DAERAH (MISALNYA
BAKORWIL DI
PROVINSI JATIM,
JATENG DAN JABAR )
SERTA PROVINSI
YANG
BERKARAKTERISTIK
KEPULAUAN.

MENGATUR TENTANG
KEBERADAAN
LEMBAGA SESUAI
KARAKTERISTIK
DAERAH

RPP REVISI PP 41 THN 2007

PASAL 9 AYAT (6) DAN PASAL 18 AYAT (6)


UNTUK PROVINSI YANG MEMILIK JUMLAH
KAB/KOTA-NYA LEBIH DARI 20 (DUA
PULUH) DAPAT MEMBENTUK BAKORWIL
MAKSIMAL 3 (TIGA).
MISAL : JATIM, JATENG, JABAR, SUMUT,
PAPUA.

13

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

POKOK
PERMASALAHAN

ARAH KEBIJAKAN

RPP REVISI PP 41 THN 2007

10

KELEMBAGAAN
DAERAH
YANG
MEMILIKI ISTIMEWA
DAN
KHUSUS
(KHUSUSNYA
PROVINSI
DKI
JAKARTA, MENGINGAT
WALIKOTA/
BUPATI
ADMINISTRASI
MERUPAKAN JABATAN
KARIR STRUKTURAL).

DAERAH
YANG
MEMILIKI
STATUS
ISTIMEWA
ATAU
OTONOMI
KHUSUS,
PEMBENTUKAN
PERANGKAT DAERAH
UNTUK
MELAKSANAKAN
STATUS
ISTIMEWA
DAN
OTONOMI
KHUSUS
DIATUR
DALAM PERMENDAGRI
TERSENDIRI DENGAN
PERTIMBANGAN DARI
MENTERI
YANG
MEMBIDANGI
APARATUR
NEGARA
DAN
REFORMASI
BIROKRASI.

PASAL 48
DIATUR
TERSENDIRI
SESUAI
DENGAN
UNDANG UNDANG YANG DIJABARKAN
DALAM PERMENDAGRI.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

11

POKOK
PERMASALAHAN
STAF AHLI KEPALA
DAERAH, TUGAS DAN
FUNGSI SERTA
KEWENANGAN YANG
TIDAK JELAS.

ARAH KEBIJAKAN

STAF AHLI KEPALA


DAERAH DIHAPUS
KARENA TUGAS DAN
FUNGSI TIDAK JELAS

RPP REVISI PP 41 THN 2007

PASAL 39
WACANA : STAF AHLI AKAN DIHAPUS DENGAN
PERTIMBANGAN TUGAS DAN FUNGSI YANG
TIDAK JELAS KARENA SUDAH TERBAGI HABIS
DI SKPD.

14

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

12

POKOK
PERMASALAHAN

ARAH KEBIJAKAN

RPP REVISI PP 41 THN 2007

BELUM ADA
PENGATURAN
PASAL 6 DAN PASAL 9
KRITERIA
KRITERIA DALAM
PEMBENTUKAN UPTD PEMBENTUKAN UPTD DIATUR PROSEDUR KRITERIA
PEMBENTUKAN UPTD DENGAN
SEHINGGA
JUMLAHNYA TIDAK
PERSETUJUAN MENTERI
TERKENDALI.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

POKOK
PERMASALAHAN

ARAH KEBIJAKAN

13

SEBAGIAN KAB/KOTA
TIDAK MELAPORKAN
KEPADA MENTERI
DALAM NEGERI
DALAM RANGKA
PEMBINAAN DAN
EVALUASI.

PEMBERIAN SANKSI
APABILA TIDAK
MELAPORKAN
KEPADA MENTERI
DALAM NEGERI

RPP REVISI PP 41 THN 2007

PASAL 47
DIBERIKAN SANKSI BERUPA PEMBATALAN
HAK-HAK KEUANGAN DAN KEPEGAWAIAN
SERTA TINDAKAN ADMINISTRATIF
LAINNYA.

15

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO
14

POKOK
PERMASALAHAN
PEMBERDAYAAN
KAPASITAS SKPD
OLEH K/L TIDAK
DIATUR.

ARAH KEBIJAKAN
MENGKOORDINASI
KAN K/L DALAM
MELAKUKAN
PEMBERDAYAAN
KAPASITAS DI
PEMDA

RPP REVISI PP 41 THN 2007


PASAL 46
KEWAJIBAN K/L UNTUK MELAKUKAN
PEMBERDAYAAN KAPASITAS DINAS
DAN BADAN SESUAI DENGAN BIDANG
TUGASNYA.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

POKOK
PERMASALAHAN

ARAH KEBIJAKAN

15

PENETAPAN DAN
PENGEMBANGAN
JABATAN
FUNGSIONAL PADA
SKPD BELUM
OPTIMAL.

PENGOPTIMALAN
JABATAN
FUNGSIONAL
SEIRING DENGAN
PEMBAHASAN RUU
ASN

RPP REVISI PP 41 THN 2007

PASAL 53
PENGHAPUSAN JABATAN STRUKTURAL
ESELON TERENDAH PADA SKPD YANG
SUDAH MEMILIKI JABATAN FUNGSIONAL
MISAL : JAFUNG PERENCANA PADA
BAPPEDA, JAFUNG AUDITOR DAN P2 UPD
PADA INSPEKTORAT.

16

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ARAH KEBIJAKAN PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH


NO

POKOK
PERMASALAHAN

ARAH KEBIJAKAN

16

KETIADAAN SISTEM
SANKSI TERHADAP
PELANGGARAN PP
NOMOR 41 TAHUN
2007.

PENGATURAN
DALAM RPP REVISI
PP 41 TAHUN 2007

RPP REVISI PP 41 THN 2007

PASAL 47
DIBERIKAN SANKSI ADMINISTRASI
(DIBERIKAN SANKSI BERUPA PEMBATALAN
HAK-HAK KEUANGAN DAN KEPEGAWAIAN
SERTA TINDAKAN ADMINISTRATIF
LAINNYA).
.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

1. Penataan SKPD provinsi harus pararel dengan


penataan perangkat gubernur, sebagai wakil
pemerintah.
2. Revisi PP 41 tahun 2007 memperhatikan RUU
ASN Dan UU 32 Tahun 2004.
3. Pembentukan UPT Kementerian dan Lembaga
dilakukan secara selektif dan harus mendapat
rekomendasi Menteri Dalam Negeri selaku
Ketua
DPOD dan
Koordinator
Binwas
Penyelenggaraan Pemda.
4. Pengangkatan
Kepala
UPT
K/L harus
mendapatkan rekomendasi dan dilantik oleh
Gubernur.

17

18