Anda di halaman 1dari 13

Pengertian Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks dan
terorganisasi, suatu himpunan atau perpaduan ha-hal atau bagian yang membentuk suatu
kebulatan atau keseluruhan yang kompleks. Di dalam sistem ada komponen yang
terhubung dan mempunyai fungsi masing-masing terhubung menjadi sistem menurut pola.
Sistem merupakan susunan pandangan, teori, asas yang teratur. Sistem adalah metode.
Prinsipnya, pada tiap sistem selalu terdiri dari empat elemen:
1. Objek, yang dapat berupa bagian, elemen, maupun variabel. Ia dapat benda fisik,
abstrak, ataupun keduanya sekaligus; tergantung kepada sifat sistem tersebut
Lingkungan, tempat di mana sistem berada.
Atribut, yang menentukan kualitas atau sifat kepemilikan sistem dan objeknya.
Hubungan internal, di antara objek-objek di dalamnya.
Syarat-syarat sistem :
Sistem wajib dibuat untuk mengatasi masalah.
Unsur dasar dari proses ( energi, arus informasi dan material) lebih penting dari pada
elemen sistem.
Terdapat hubungan diantara elemen sistem.
Elemen sistem harus memiliki rencana yang ditetapkan.
Tujuan organisasi lebih penting dari pada tujuan elemen.
Berkaitan dengan pemerintahan, sistem berarti susunan yang teratur dari pandangan,
teori, atau asas tentang pemerintahan negara. Pemerintah pusat, selanjutnya disebut
Pemerintah, menurut UU no 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 1 adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
Pemerintahan adalah suatu proses ketatanegaraan dalam suatu negara. Pemerintahan di
jalankan oleh alat kelengkapan yaitu pemerintah. Pemerintah sebagai alat pelaksana dan
kelengkapan pemerintahan memiliki fungsi melaksanakan tugas-tugas esensial dan
fakultatif negara. Tugas esensial adala mempertahankan negara sebagai organisasi yang
berdaulat. Tugas esensial disebut juga tugas asli negara. Tugas fakultatif negara adalah
untuk memperbesar kesejahteraan umum baik moral, intelektual, sosial, dan ekonomi.

Sistem pemerintahan mempunyai sistem dan tujuan untuk menjaga suatu


kestabilan negara itu. Namun di beberapa negara sering terjadi tindakan separatisme
karena sistem pemerintahan yang dianggap memberatkan rakyat ataupun merugikan
rakyat. Sistem pemerintahan mempunyai fondasi yang kuat dimana tidak bisa diubah dan
menjadi statis. Jika suatu pemerintahan mempunya sistem pemerintahan yang statis,
absolut maka hal itu akan berlangsung selama-lamanya hingga adanya desakan kaum
minoritas untuk memprotes hal tersebut.
Secara luas berarti sistem pemerintahan itu menjaga kestabilan masyarakat, menjaga
tingkah laku kaum mayoritas maupun minoritas, menjaga fondasi pemerintahan, menjaga
kekuatan politik, pertahanan, ekonomi, keamanan sehingga menjadi sistem pemerintahan
yang kontinu dan demokrasi dimana seharusnya masyarakat bisa ikut turut andil dalam
pembangunan sistem pemerintahan tersebut.Hingga saat ini hanya sedikit negara yang
bisa mempraktikkan sistem pemerintahan itu secara menyeluruh.
Secara sempit,Sistem pemerintahan hanya sebagai sarana kelompok untuk menjalankan
roda pemerintahan guna menjaga kestabilan negara dalam waktu relatif lama dan
mencegah adanya perilaku reaksioner maupun radikal dari rakyatnya itu sendiri.

Sistem Pemerintahan Indonesia


Pembukaan UUD 1945 Alinea IV menyatakan bahwa kemerdekaan kebangsaan Indonesia
itu disusun dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam
suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat. Berdasarkan Pasal
1 Ayat 1 UUD 1945, Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik.
Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa bentuk negara Indonesia adalah kesatuan,
sedangkan bentuk pemerintahannya adalah republik.
Selain bentuk negara kesatuan dan bentuk pemerintahan republik, Presiden Republik
Indonesia memegang kekuasaan sebagai kepala negara dan sekaligus kepala
pemerintahan. Hal itu didasarkan pada Pasal 4 Ayat 1 yang berbunyi, Presiden Republik
Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. Dengan
demikian, sistem pemerintahan di Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial.
Apa yang dimaksud dengan sistem pemerintahan presidensial? Untuk mengetahuinya,
terlebih dahulu dibahas mengenai sistem pemerintahan.
I. Secara teori, berdasarkan UUD 1945, Indonesia menganut sistem pemerintahan
presidensiil. Namun dalam prakteknya banyak bagian-bagian dari sistem pemerintahan
parlementer yang masuk ke dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Sehingga secara
singkat bisa dikatakan bahwa sistem pemerintahan yang berjalan i Indonesia adalah
sistem pemerintahan yang merupakan gabungan atau perpaduan antara sistem

pemerintahan presidensiil dengan sistem pemerintahan parlementer. Apalagi bila dirunut


dari sejarahnya, Indonesia mengalami beberapa kali perubahan sistem pemerintahan.
Indonesia pernah menganut sistem kabinet parlementer pada tahun 1945 - 1949.
kemudian pada rentang waktu tahun 1949 - 1950, Indonesia menganut sistem
pemerintahan parlementer yang semu. Pada tahun 1950 - 1959, Indonesia masih
menganut sistem pemerintahan parlementer dengan demokrasi liberal yang masih
bersifat semu. Sedangkan pada tahun 1959 - 1966, Indonesia menganut sistem
pemerintahan secara demokrasi terpimpin. Perubahan dalam sistem pemerintahan tidak
hanya berhenti sampai disitu saja. Karena terjadi perbedaan pelaksanaan sistem
pemerintahan menurut UUD 1945 sebelum UUD 1945 diamandemen dan setelah terjadi
amandemen UUD 1945 pada tahun 1999 - 2002. Berikut ini adalah perbedaan sistem
pemerintahan sebelum terjadi amandemen dan setelah terjadi amandemen pada UUD
1945 :
Sebelum terjadi amandemen :
1. MPR menerima kekuasaan tertinggi dari rakyat
2. Presiden sebagai kepala penyelenggara pemerintahan
3.DPR berperan sebagai pembuat Undang - Undang
4. BPK berperan sebagai badan pengaudit keuangan
5. DPA berfungsi sebagai pemberi saran/pertimbangan kepada presiden / pemerintahan
6. MA berperan sebagai lembaga pengadilan dan penguki aturan yang diterbitkan
pemerintah.
Setelah terjadi amandemen :
1.
2.
3.
4.
5.

Kekuasaan legislatif lebih dominan


Presiden tidak dapat membubarkan DPR
Rakyat memilih secara langsung presiden dan wakil presiden
MPR tidak berperan sebagai lembaga tertinggi lagi
Anggota MPR terdiri dari seluruh anggota DPR ditambah anggota DPD yang
dipilih secara langsung oleh rakyat

Dalam sistem pemerintahaan presidensiil yang dianut di Indonesia, pengaruh rakyat


terhadap kebijaksanaan politik kurang menjadi perhatian. Selain itu, pengawasan rakyat
terhadap pemerintahan juga kura begitu berpengaruh karena pada dasarnya terjadi
kecenderungan terlalu kuatnya otoritas dan konsentrasi kekuasaan yang ada di tangan
presiden. Selain itu, terlalu sering terjadi pergantian pejabat di kabinet karena
presiden mempunyai hak prerogatif untuk melakukan itu.

a. Sistem Pemerintahan Negara Indonesia Berdasarkan UUD 1945 Sebelum


Diamandemen.
Pokok-pokok sistem pemerintahan negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 sebelum
diamandemen tertuang dalam Penjelasan UUD 1945 tentang tujuh kunci pokok sistem
pemerintahan negara tersebut sebagai berikut. Indonesia adalah negara yang
berdasarkan atas hukum (rechtsstaat).

Sistem Konstitusional.
Kekuasaan negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Presiden
adalah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi dibawah Majelis
Permusyawaratan Rakyat. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan
Rakyat. Menteri negara ialah pembantu presiden, menteri negara tidak
bertanggungjawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Kekuasaan kepala negara tidak tak
terbatas.
Berdasarkan tujuh kunci pokok sistem pemerintahan, sistem pemerintahan Indonesia
menurut UUD 1945 menganut sistem pemerintahan presidensial. Sistem pemerintahan
ini dijalankan semasa pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto.
Ciri dari sistem pemerintahan masa itu adalah adanya kekuasaan yang amat besar pada
lembaga kepresidenan. Hampir semua kewenangan presiden yang di atur menurut UUD
1945 tersebut dilakukan tanpa melibatkan pertimbangan atau persetujuan DPR sebagai
wakil rakyat. Karena itu tidak adanya pengawasan dan tanpa persetujuan DPR, maka
kekuasaan presiden sangat besar dan cenderung dapat disalahgunakan. Mekipun adanya
kelemahan, kekuasaan yang besar pada presiden juga ada dampak positifnya yaitu
presiden dapat mengendalikan seluruh penyelenggaraan pemerintahan sehingga mampu
menciptakan pemerintahan yang kompak dan solid. Sistem pemerintahan lebih stabil,
tidak mudah jatuh atau berganti. Konflik dan pertentangan antar pejabat negara dapat
dihindari. Namun, dalam praktik perjalanan sistem pemerintahan di Indonesia ternyata
kekuasaan yang besar dalam diri presiden lebih banyak merugikan bangsa dan negara
daripada keuntungan yang didapatkanya.
Memasuki masa Reformasi ini, bangsa Indonesia bertekad untuk menciptakan sistem
pemerintahan yang demokratis. Untuk itu, perlu disusun pemerintahan yang
konstitusional atau pemerintahan yang berdasarkan pada konstitusi. Pemerintah
konstitusional bercirikan bahwa konstitusi negara itu berisi adanya pembatasan
kekuasaan pemerintahan atau eksekutif, jaminan atas hak asasi manusia dan hak-hak
warga negara.
Berdasarkan hal itu, Reformasi yang harus dilakukan adalah melakukan perubahan atau
amandemen atas UUD 1945. dengan mengamandemen UUD 1945 menjadi konstitusi yang

bersifat konstitusional, diharapkan dapat terbentuk sistem pemerintahan yang lebih


baik dari yang sebelumnya. Amandemen atas UUD 1945 telah dilakukan oleh MPR
sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002. berdasarkan UUD
1945 yang telah diamandemen itulah menjadi pedoman bagi sistem pemerintaha
Indonesia sekarang ini.
b. Sistem pemerintahan Negara Indonesia Berdasarkan UUD 1945 Setelah
Diamandemen
Sekarang ini sistem pemerintahan di Indonesia masih dalam masa transisi. Sebelum
diberlakukannya sistem pemerintahan baru berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen
keempat tahun 2002, sistem pemerintahan Indonesia masih mendasarkan pada UUD
1945 dengan beberapa perubahan seiring dengan adanya transisi menuju sistem
pemerintahan yang baru. Sistem pemerintahan baru diharapkan berjalan mulai tahun
2004 setelah dilakukannya Pemilu 2004.
Pokok-pokok sistem pemerintahan Indonesia adalah sebagai berikut.
Bentuk negara kesatuan dengan prinsip otonomi daerah yang luas. Wilayah negara
terbagi dalam beberapa provinsi.
Bentuk pemerintahan adalah republik, sedangkan sistem pemerintahan presidensial.
Presiden adalah kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan. Presiden dan wakil
presiden dipilih secara langsung oleh rakyat dalam satu paket.
Kabinet atau menteri diangkat oleh presiden dan bertanggung jawab kepada presiden.
Parlemen terdiri atas dua bagian (bikameral), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan
Perwakilan Daerah (DPD). Para anggota dewan merupakan anggota MPR. DPR memiliki
kekuasaan legislatif dan kekuasaan mengawasi jalannya pemerintahan.
Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Makamah Agung dan badan peradilan dibawahnya.
Sistem pemerintahan ini juga mengambil unsur-unsur dari sistem pemerintahan
parlementer dan melakukan pembaharuan untuk menghilangkan kelemahan-kelemahan
yang ada dalam sistem presidensial. Beberapa variasi dari sistem pemerintahan
presidensial di Indonesia adalah sebagai berikut;
Presiden sewaktu-waktu dapat diberhentikan oleh MPR atas usul dari DPR. Jadi, DPR
tetap memiliki kekuasaan mengawasi presiden meskipun secara tidak langsung.
Presiden dalam mengangkat penjabat negara perlu pertimbangan atau persetujuan dari
DPR.

Presiden dalam mengeluarkan kebijakan tertentu perlu pertimbangan atau persetujuan


dari DPR.
Parlemen diberi kekuasaan yang lebih besar dalam hal membentuk undang-undang dan
hak budget (anggaran)
Dengan demikian, ada perubahan-perubahan baru dalam sistem pemerintahan Indonesia.
Hal itu diperuntukan dalam memperbaiki sistem presidensial yang lama. Perubahan baru
tersebut, antara lain adanya pemilihan secara langsung, sistem bikameral, mekanisme
cheks and balance, dan pemberian kekuasaan yang lebih besar kepada parlemen untuk
melakukan pengawasan dan fungsi anggaran.

Dengan demikian, sistem pemerintahan suatu negara dapat dijadikan sebagai bahan
perbandingan atau type yang dapat diadopsi menjadi bagian dari sistem pemerintahan
negara lain. Amerika Serikat john Inggris masing-masing telah mampu membuktikan diri
sebagai negara yang menganut sistem pemerintahan presidensial john parlementer seara
excellent. Sistem pemerintahan dari kedua negara tersebut selanjutnya banyak ditiru
oleh negara-negara lain di dunia yang tentunya disesuaikan dengan negara yang
bersangkutan.
Sistem Pemerintahan Negara Indonesia Berdasarkan UUD 1945 Sebelum Diamandemen.
Pokok-pokok sistem pemerintahan negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 sebelum
diamandemen tertuang dalam Penjelasan UUD 1945 tentang tujuh kunci pokok sistem
pemerintahan negara tersebut sebagai berikut. Indonesia adalah negara yang
berdasarkan atas hukum (rechtsstaat).
Sistem Konstitusional.
Kekuasaan negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Presiden adalah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi dibawah Majelis
Permusyawaratan Rakyat. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan
Rakyat.
Menteri negara ialah pembantu presiden, menteri negara tidak bertanggungjawab
kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.
Berdasarkan tujuh kunci pokok sistem pemerintahan, sistem pemerintahan
Indonesia menurut UUD 1945 menganut sistem pemerintahan presidensial. Sistem
pemerintahan ini dijalankan semasa pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan
Presiden Suharto. Ciri dari sistem pemerintahan masa itu adalah adanya kekuasaan yang
amat besar pada lembaga kepresidenan. Hampir semua kewenangan presiden yang di atur

menurut UUD 1945 tersebut dilakukan tanpa melibatkan pertimbangan atau persetujuan
DPR sebagai wakil rakyat. Karena itu tidak adanya pengawasan john tanpa persetujuan
DPR, maka kekuasaan presiden sangat besar john cenderung dapat disalahgunakan.
Mekipun adanya kelemahan, kekuasaan yang besar pada presiden juga ada dampak
positifnya yaitu presiden dapat mengendalikan seluruh penyelenggaraan pemerintahan
sehingga mampu menciptakan pemerintahan yang kompak john sound. Sistem
pemerintahan lebih stabil, tidak mudah jatuh atau berganti. Konflik john pertentangan
antar pejabat negara dapat dihindari. Namun, dalam praktik perjalanan sistem
pemerintahan di Indonesia ternyata kekuasaan yang besar dalam diri presiden lebih
banyak merugikan bangsa john negara daripada keuntungan yang didapatkanya.
Memasuki masa Reformasi ini, bangsa Indonesia bertekad untuk menciptakan sistem
pemerintahan yang demokratis. Untuk itu, perlu disusun pemerintahan yang
konstitusional atau pemerintahan yang berdasarkan pada konstitusi. Pemerintah
konstitusional bercirikan bahwa konstitusi negara itu berisi adanya pembatasan
kekuasaan pemerintahan atau eksekutif, jaminan atas hak asasi manusia john hak-hak
warga negara. Berdasarkan hal itu, Reformasi yang harus dilakukan adalah melakukan
perubahan atau amandemen atas UUD 1945. dengan mengamandemen UUD 1945 menjadi
konstitusi yang bersifat konstitusional, diharapkan dapat terbentuk sistem
pemerintahan yang lebih baik dari yang sebelumnya. Amandemen atas UUD 1945 telah
dilakukan oleh MPR sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001, john 2002.
berdasarkan UUD 1945 yang telah diamandemen itulah menjadi pedoman bagi sistem
pemerintaha Indonesia sekarang ini. w. Sistem pemerintahan Negara Indonesia
Berdasarkan UUD 1945 Setelah Diamandemen Sekarang ini sistem pemerintahan di
Indonesia masih dalam masa transisi. Sebelum diberlakukannya sistem pemerintahan
baru berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen keempat tahun 2002, sistem
pemerintahan Indonesia masih mendasarkan pada UUD 1945 dengan beberapa
perubahan seiring dengan adanya transisi menuju sistem pemerintahan yang baru.
Sistem pemerintahan baru diharapkan berjalan mulai tahun 2004 setelah dilakukannya
Pemilu 2004.
Pokok-pokok sistem pemerintahan Indonesia adalah sebagai berikut. Bentuk negara
kesatuan dengan prinsip otonomi daerah yang luas. Wilayah negara terbagi dalam
beberapa provinsi. Bentuk pemerintahan adalah republik, sedangkan sistem
pemerintahan presidensial. Presiden adalah kepala negara john sekaligus kepala
pemerintahan. Presiden john wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat dalam
satu paket. Kabinet atau menteri diangkat oleh presiden john bertanggung jawab kepada
presiden. Parlemen terdiri atas dua bagian (bikameral), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
john Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Para anggota dewan merupakan anggota MPR. DPR

memiliki kekuasaan legislatif john kekuasaan mengawasi jalannya pemerintahan.


Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Makamah Agung john badan peradilan dibawahnya.
Sistem pemerintahan ini juga mengambil unsur-unsur dari sistem pemerintahan
parlementer john melakukan pembaharuan untuk menghilangkan kelemahan-kelemahan
yang ada dalam sistem presidensial. Beberapa variasi dari sistem pemerintahan
presidensial di Indonesia adalah sebagai berikut; Presiden sewaktu-waktu dapat
diberhentikan oleh MPR atas usul dari DPR. Jadi, DPR tetap memiliki kekuasaan
mengawasi presiden meskipun secara tidak langsung. Presiden dalam mengangkat
penjabat negara perlu pertimbangan atau persetujuan dari DPR. Presiden dalam
mengeluarkan kebijakan tertentu perlu pertimbangan atau persetujuan dari DPR.
Parlemen diberi kekuasaan yang lebih besar dalam hal membentuk undang-undang john
hak price range (anggaran) Dengan demikian, ada perubahan-perubahan baru dalam
sistem pemerintahan Indonesia. Hal itu diperuntukan dalam memperbaiki sistem
presidensial yang lama. Perubahan baru tersebut, antara lain adanya pemilihan secara
langsung, sistem bikameral, mekanisme cheks as well as sense of balance, john
pemberian kekuasaan yang lebih besar kepada parlemen untuk melakukan pengawasan
john fungsi anggaran.

Sistem Pemerintahan Iran


Ideologi
Ideologi negara berdasarkan kepada Agama Islam Madzhab Shiah Imam 12 (Jafari).
Untuk melaksanakan prinsip ini maka diciptakan sistem Velayat-e Faqih (Supremasi kaum
ulama) di mana seorang pemimpin agama memiliki hak untuk memberikan fatwa
keagamaan dan sekaligus memegang kekuasaan tertinggi dalam masalah ketatanegaraan.
Marja-e Taqlid (ulama senior) memiliki wewenang untuk memberikan fatwa hukum
kepada masa penganut ajarannya yang tersebar di berbagai wilayah. Jumlah Marja-e
Taqlid di Iran sebanyak 8 orang. Tetapi Imam Khomeini yang merupakan Pemimpin
Revolusi Islam Iran 1979 kemudian dikukuhkan dalam Konstitusi sebagai Ayatollah Uzma
yang berkedudukan sebagai Rahbar yang berkuasa di bidang politik sekaligus bidang
keagamaan (sebagai Marja-e Taqlid). Agama resmi Negara adalah Islam beraliran Jafari
(Shiah Imam ke 12). Aliran Islam lainnya yang bermadzhab SyafiI, Hambali, Hanafi dan
Maliki serta Shiah Zaidiyah diakui dan pelaksanaan syariat-syariatnya dilindungi oleh
UU.
Konstitusi

Hukum tertinggi adalah Konstitusi Republik Islam Iran yang disahkan pertama kali oleh
Majelis Ahli tanggal 15 November 1979 dan diamandemen pada Juli 1989.
Lembaga Eksekutif
Kepala pemerintahan dijabat seorang Presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat
untuk masa jabatan 4 tahun, dapat dapat dipilih kembali maksimal satu kali. Presiden
dibantu oleh 9 orang wakil presiden yang membidangi tugas masing-masing serta 21
menteri anggota kabinet. Sistem pemerintahan Iran menganut sistem presidensiil dan
parlementer, di mana anggota kabinet ditunjuk/diangkat oleh Presiden tetapi harus
mendapat persetujuan dari Majelis serta bertanggungjawab kepada Presiden dan
Majelis.
Presiden harus bertanggungjawab kepada rakyat, Leader dan Parlemen (Majelis). Jika
Presiden berhalangan selama dua bulan lebih, maka Wakil Presiden I akan menjalankan
fungsi pemerintahan atas persetujuan Leader. Secara administratif, Iran terbagi
menjadi 28 Propinsi dan 114 tingkat kabupaten. Setiap Propinsi dipimpin seorang
Gubernur Jenderal sedangkan kabupaten/kotamadya dipimpin Gubernur. Sejak
terbentuknya Islamic Council tingkat Daerah (DPRD) hasil Pemilu Februari 1999
pengangkatan para Gubernur Jenderal dan Gubernur didilakukan oleh DPRD.
Lembaga Legislatif
Parlemen Iran (Majelis-e Syura-e Islami) merupakan lembaga legislatif yang
beranggotakan 290 orang. Anggota Majelis dipilih melalui Pemilu setiap 4 tahun sekali
dengan sistem distrik. Setiap 10 tahun rasio anggota Majelis ditinjau kembali sesuai
dengan jumlah penduduk. Parlemen saat ini merupakan hasil pemilu tahun 2008. Ketua
Parlemen saat ini adalah Ali Larijani.
Majelis secara tidak langsung dapat menjatuhkan Presiden dan menteri-menteri Kabinet
melalui mosi tidak percaya. Hearing terhadap menteri diajukan sekurangnya oleh 10
anggota dan menteri yang bersangkutan mengeluarkan mosi tidak percaya kepada
Presiden, hasil sidang disampaikan kepada Leader untuk memecat Presiden.
Lembaga Judikatif
Kekuasaan tertinggi lembaga peradilan dijabat oleh Ketua Justisi yang diangkat langsung
oleh Leader untuk masa jabatan 5 tahun. Ia haruslah seorang Ulama Ahli Fiqih
(Mujtahid).
Ketua Lembaga Judikatif (Chief of Judiciary) saat ini adalah Ayatollah Hashemi
Shahroudi. Fungsi utamanya adalah mengangkat dan memberhentikan ketua dan anggota
Mahkamah Agung dan Jaksa Agung serta menyusun RUU. Ia juga mengusulkan calon

Menteri Kehakiman kepada Presiden. Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan


lembaga-lembaga Judikatif, sementara Kementerian Kehakiman mengatur koordinasi
antara lembaga judikatif dan lembaga-lembaga Eksekutif dan Legislatif serta bertugas
di bidang organisasi pemerintahan dan anggaran.
Sistem peradilan Iran mempunyai dua bentuk yaitu peradilan umum dan khusus.
Peradilan umum meliputi Pengadilan Tinggi Pidana, Pengadilan Rendah Pidana, Pengadilan
Tinggi Perdata, Pengadilan Rendah Perdata dan Pengadilan Perdata Khusus. Sedangkan
Pengadilan Khusus terdiri dari Pengadilan Revolusi Islam, Pengadilan Khusus Ulama dan
Pengadilan Pers.
Sesuai dengan Konstitusi terdapat beberapa institusi lain yang berada di bawah
Lembaga Judikatif seperti Peradilan Militer yang merupakan bagian dari Lembaga
Peradilan yang menangani kasus-kasus pidana yang melibatkan anggota Angkatan
Bersenjata, Polisi dan Pasdaran; Peradilan Tinggi Administrasi yang menangani kasuskasus yang terkait dengan administrasi pemerintah; dan Kepala Inspektur Negara yang
bertugas mengawasi kinerja kementerian.
Lembaga Tinggi Negara Lainnya
Majelis Ahli
Kedudukan Majelis Ahli diatur dalam Konstitusi dan keanggotaannya ditetapkan melalui
Pemilu setiap 8 tahun. Majelis Ahli saat ini adalah hasil pemilihan pada bulan Desember
2006 dan diketuai oleh Hashemi Rafsanjani dengan 86 orang anggota.
Fungsi Majelis Ahli adalah memilih Rahbar (Leader), mengawasi dan memberhentikannya.
Leader berfungsi sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin agama yang memang
konsep Imam Khomeini. Di Iran masalah agama tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan
politik.
Sekalipun kewenangan Leader nampak absolut, namun sesuai Konstitusi, kedudukan
Leader sama dengan warga negara biasa lainnya (tidak kebal hukum). Leader juga
senantiasa menerima kunjungan semua kepala negara atau perdana menteri asing yang
sedang berkunjung ke Tehran.
Leader pertama adalah Ayatollah Khomeini yang merupakan Pemimpin Revolusi dan
Pendiri Negara Republik Islam Iran dan konseptor Velayat-e Faqih. Setelah
meninggalnya Khomeini pada 1989, Majelis Ahli memilih Ayatollah Seyyed Ali Khomenei.
Dewan Pengawas Konstitusi
Guna menjamin kesesuaian setiap RUU dengan Konstitusi (Shura-e Negahban-e Qanun-e
Assassi) yang beranggotakan 12 orang (6 ahli hukum agama yang ditunjuk oleh Leader

dan 6 ahli dari berbagai disiplin ilmu hukum umum yang dipilih oleh Majelis). Masa
jabatan 6 tahun dan setiap 3 tahun diadakan pemilihan bagi 6 orang anggotanya.
Kekuasaan Dewan Pengawas Konstitusi meliputi mengesahkan UU yang dibuat Majelis,
menafsirkan Konstitusi dan bertindak sebagai badan yang melitsus semua calon anggota
Majelis Ahli, Presiden, Majelis, dan referendum.
Dewan Kebijaksanaan Nasional
Dewan Kebijaksanaan Nasional (Majma-e Mashlahat-e Nezam) merupakan Dewan yang
bertugas untuk menengahi perbedaan antara Majelis dengan Dewan Pengawasan. Namun
dalam prakteknya, Dewan ini telah diberi tugas oleh Leader untuk membahas isu lainnya
yang penting seperti RAPBN,Repelita dan Kawasan Perdagangan Bebas. Jumlah anggota
Dewan ini sebanyak 25 orang yang dipilih oleh Leader.
Dewan Keamanan Nasional
Sesuai dengan Konstitusi, Presiden juga merangkap sebagai Ketua Dewan Keamanan
Nasional. Dewan ini berwenang membuat kebijakan pertahanan nasional sesuai dengan
yang telah digariskan oleh Leader, mengkoordinasikan kegiatan politik, intelijen, sosial
budaya dan ekonomi yang terkait dengan kebijakan keamanan nasional, serta mengkaji
sumber-sumber materi dan non materi dalam menghadapi ancaman dari dalam maupun
luar negeri. Anggota Dewan terdiri dari para pimpinan Legislatif, Eksekutif dan
Judikatif, Kepala Staf AB, Pejabat Badan Perencanaan dan Anggaran Negara, dua Wakil
yang ditunjuk Leader, Menlu, Mendagri, Menteri Intelijen dan sejumlah menteri terkait.
Partai Politik dan Interest Groups
Konstitusi Iran memberikan kebebasan adanya partai-partai politik, namun dalam
kenyataannya pernah dihapuskan pada masa Imam Khomeini pada 1989 dengan alasan
telah menyebabkan perpecahan di kalangan keluarga besar Revolusi.
Orsospol terbagi kedalam koalisi parpol right wing (garis keras), left wing
(konservatif/reformis) dan independen. Adapun orsospol yang dikenal secara umum,
yakni:
The Coalition of Harmonious Croup yang dimotori Jame-e Ruhaniat-e Mubarez/JRM
(the Society of Combatant Clergy), sebuah kelompok mullah garis keras (right wing)
didirikan pada 1979.
The Coordinating Council of the May 23 Front (tanggal kemenangan Khatami pada Pemilu
Presiden 23 Mei 1997) yang dimotori Majma Ruhaniyat-e Mobarez/MRM (the Assembly
of Combatant Clerics), sebuah kelompok mullah konservatif (left wing) yang didirikan
pada 1988.

Independence Group yang tidak mempunyai persamaan pandangan terhadap dua


kelompok di atas yakni the Moderation & Development Front (MDF), Green Party (GP)
dan perorangan.
Selain kelompok-kelompok di atas, terdapat pula kelompok yang dikenal sebagai Ansar-e
Hizbullah yang merupakan pembela setia Republik Islam.
Sebaliknya, kelompok oposisi bersenjata yang pernah ada, seperti Mojahedin-e Khalq
Organization (MKO), Peoples Fedayeen, dan Democratic Party of Iranian Kurdistan,
kini sudah sangat lemah dan tidak lagi mempunyai kemampuan untuk mengganggu
pemerintah.
Sistem pemerintahan Republik Islam Iran memiliki dua dimensi yang saling terkait.Yaitu
dimensi keislaman dan dimensi kerakyatannya. Dengan melihat kembali UUDIran, kedua
dimensi itu merupakan dua pilar utama negara yang saling melengkapi.Sebagaimana yang
disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Republik Iran Pasal 56yang berbunyiMutlak
kedaulatan atas dunia dan manusia adalah milik Allah, dan Dia-lah yangmenciptakan
manusia dan menguasai takdir sosialnya sendiri. Tidak seorang pundapat menghalangi
seseorang dari hak ilahi ini, atau tunduk kepada kepentinganindividu tertentu atau
kelompok. Rakyat melaksanakan hak ilahi ini dengan carayang ditentukan dalam artikel
berikut.Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa Negara Iran
inimenjalankan model demokrasi yang unik, yaitu demokrasi religius
(agama).Pelsaksanaan model demokrasi ini merupakan penyelarasan antara
kedaulatanrakyat yang berpedoman kepada syariat Islam.Bentuk pemerintahan Iran
yang menunjukan ciri pemerintahan yang demokratisterdapat pada Pasal 1 yaituBentuk
pemerintahan Iran adalah Republik Islam, didukung oleh rakyat Iran atasdasar
kepercayaan mereka dan kedaulatan kebenaran dan keadilan Quran.Selain itu mengenai
kekuasaan legislatif terdapat pada Pasal 57Kekuasaan pemerintah di Republik Islam
diberikan kepada badan legislatif,yudikatif, dan eksekutif, yang berfungsi di bawah
pengawasan mutlak Pemimpinkeagamaan dan Pimpinan umat, sesuai dengan pasal-pasal
yang akan diatur dalamKonstitusi ini.Sementara perihal kekuasaan legislatif dipegang
oleh wakil yang terpilih dari rakyatdiatur dalam Pasal 58Fungsi legislatif harus dilakukan
melalui Majelis Permusyawaratan Islam, yangterdiri dari para wakil terpilih dari rakyat.
Undang-undang yang disetujui oleh badan

ini, setelah melewati tahap-tahap yang disebutkan dalam artikel di bawah


ini,disampaikan kepada eksekutif dan yudikatif untuk dapat diimplementasikan.Iran
adalah Negara yang didominasi oleh kaum Syiah. Konsep yang paling terkebaldari Syiah
adalah konsep imamahnya. Pasca wafat Nabi, kaum Syiah mengangkatAli dan keturunan

mereka menjadi Imam mereka. Artinya Ali dan keturunannyaitulah yang menjadi
pemimpin mereka. Dalam kepercayaan mereka, Imam berhentidi Imam ke 12 sambil
menunggu kedatangan Imam yang ditunggu yaitu ImamMahdi, Imam yang katanya akan
membawa kejayaan Syiah. Sambil menunggukedatngan Imam itu, kaum Syiah dipimpin
oleh Wilayatul Faqih.Adapun dengan tetap adanya Wilayatul Faqih tersebut maka dapat
dikatakanbahwa Republik Islam Iran tetap menjaga konsep imamah itu sambil
diselaraskandengan konsep Negara modern yang mementingkan pembagian kekuasaan
[triaspolitica].Badan legislatif di Iran disebut sebagai Majlis of Iran/Majles-e ShurayeEslami,berperan menyusun Undang-Undang.Selain itu, eksekutif sebagai
pelaksanaUndangUndang dipegang oleh Presiden, dan kewenangan yudikatif
sebagaipengawas pelaksanaan pemerintahan.Didalam Al Quran dan tradisi Islam,
menjaga kesetiaan merupakan kewajibanmoral dan bagian esensial hukum Syariah
yang tidak dapat dilanggar. Jikaseseorang mempercayakan harta miliknya kepada
seorang wali, maka wali ituberkewajiban untuk melindungi harta tersebut dan
mengembalikannya tepat waktuserta tanpa kekurangan apapun kepada pemiliknya. Jika
itu dilanggar, maka waliharus bertanggungjawab dan wajib menggantikan setiap
kekurangan.Kekuasaan pemerintah merupakan harta pinjaman tuhan yang diserahkan
olehmanusia, yang merupakan pemilik sebenarnya kekuasaan tersebut,
kepadaseseorang atau beberapa orang wali. Kemudian pemegang kekuasaan
tersebutwajib melindungi kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka dalam
kerangkakesepakatan bersama. Dan yang terpenting, penguasa nantinya
harusmengembalikan harta itu kepada pemilik sahnya. Suara yang diberikan
rakyatdalam pemilu adalah harta yang dipercayakan rakyat kepada wali, yang
harusdijaga dengan baik.