Anda di halaman 1dari 13

I.

PENDAHULUAN
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, tulang sendi.
Berdasarkan klasifikasi secara klinis fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan
fraktur tertutup. Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan
dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within
(dari dalam) atau from without (dari luar).
Fraktur dapat terjadi pada semua bagian tubuh salah satunya adalah fraktur
femur. Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi
akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya
lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam syok.

II.

ANAMNESIS

Beberapa Hal Mengenal Pengambilan Anamnese


Pengambilan anamnese merupakan suatu seni yang harus di peroleh dari
pengalaman. Tidak ada hal-hal yang tidak penting oleh karena diagnose yang te4pat
sering tergantung kepada suatu pertimbangan yang seksama dari kemungkinankemungkinan.
Menimbulkan hubungan yang wajar antara dokter dan pasien merupakan hal yg
sangat berguna,maka penting untuk mengadakan suatu privacy sampai derajat tertentu
dan menciptakan suatu suasana leluasa bagi pasien untuk mengatakan atau bahkan
berbicara bebas tentang beberapa hal yang berguna bagi pemeriksaan.
Keluhan Utama
Keluhan utama dari penderita yang mencari perawatan bedah biasanya cukup
kongkrit,seperti misalnya: Pembengkakan di inguinal,ulcus di ibujari kaki,atau rasa
sakit sesudah makan. Beberapa penderita dapat menyembunyikan gejala-gejala yang
tidak berarti,yang diharapkannya akan diketemukan pada pemeriksaan. Penderita
yang lain melebih-lebihkan keluhkesah utama,sehingga diperlukan suatu pengalaman

dan keahlian yang cukup dari pemeriksaan untuk menempatkannya dalam proporsi
yang tepat.
Kadang-kadang keluhkesah pasien menggambarkan suatu dasar ketidaksamaan
atau ketakutan yang tidak mempunyai dasar organik. Mendengarkan cerita penderita
dan serentak memeriksanya sebagai individu memberikan suatu petunjuk yang
terbaik kearah arti dan realitas dari keluh kesah. Keluhan utama merupakan titik
pangkal dari mana pemeriksa melanjutkan riwayat penyakit sekarang.
Bagaimana gejala pertama timbul? Gejala lain yang mana yang bersamaan
dengannya ? Apakah telah dilakukan suatu pengobatan ? Adakah gangguan-gangguan
fungsi yang lain ? Pemeriksa harus menyusun fakta dalam urutan yang dapat di
mengerti. Kadang-kadang penederita sama sekali tidak bisa di percaya,maka riwayat
penyakit harus diperoleh dari teman atau familinya.
Penilaian Terhadap Gejala-gejala
Berikut ini suatu contoh cara dimana hal-hal yang kecil dari anamneses harus
diteliti dengan seksama :
Rasa sakit. (1) Bilamana dimulai dan bagaimana permulaannya ? Jawabannya
terhadap pertanyaan ini sangatlah penting. Untuk mendapatkannya harus diperoleh
dari penderita dengan tepat apa yang sedang dikerjakannya ketika rasa sakit itu
timbul. Ini untuk menentukan berat dan kecepatan timbulnya penyakit.

(2)

Bagaimana sifat rasa sakitnya : Kolik,konstan,menusuk,samar-samar atau menyiksa ?


Apakah rasa sakitnya menyebar dan apakah terdapat bersamaan dengan gejala-gejala
yang ditimbulkan oleh rasa sakit seperti keinginan untuk kencing atau buang
airbesar ?
Berikut ini beberapa conteh yang bisa diperoleh dengan menganalisa sifat dari
rasa nyeri abdomen :
A. Suatu rasa sakit yang sangat hebat yang tidak dapat dikurangi dengan pemberian
morphin menunjukkan kelainan vaskuler seperti thrombosis mesenterii atau
aneurysma aortae yang pecah.

B. Suatu rasa sakit yang menusuk dan konstan, menghebat pada gerakan dan aktifitas
yang menunjukkan suatu lesi karena infeksi seperti appendicitis atau didiverticulitis.
C. Suatu rasa sakit yang intermitten yang makin lama makin hebat yang rhytmis dan
bercorak crescendo ( sedikit demi sedikit menghebat ) menunjukkan obstruksi dalam
usus halus.
D. Suatu rasa sakit intermiten yang sangat sampai yang paling hebat dan kemudian
berkurang tanpa pengobatan, merupakan sifat suatu kolik. Kecepatan timbulnya rasa
sakit memberikan petunjuk yang penting sebagai diagnose khususnya lesi abdominal.
Suatu permulaan yang hebat dan mendadak bersamaan dengan collaps menandakan
bahwa ada rupture alat visceral atau ada perdarahan akut. Rasa sakit yang berjalan
cepat menunjukkan thrombosis mesenterii, pancreatitis acuta, hernia. Rasa sakit
abdominal yang perkembangannya lambat dan bertahap ( sedikit demi sedikit ) lebih
khas bagi lesi inflamatoris atau karena infeksi seperti appendicitis atau diverticulitis.
Muntah, Bilamana muntah itu dimulai ? Apakah yang di muntahkannya ?
Berapa banyak ? Berapa kali sehari ini ? Apakah ada rasa mual ? Apakah dengan
muntah ini rasa sakitnya berkurang ? Apakah terdapat bilus dalam muntahannya atau
adakah mengandung darah ? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan
mempunyai arti yang tertentu. Bilamana vomitus tidak dengan rasa sakit atau
mendahului rasa sakit dalam waktu yang cukup lama,maka ini tidak begitu mengarah
pada sesuatu lesi bedah yang akut. Vomitus yang awal dan persisten menunjukkan
suatu obstruksi tinggi. Muntah yang berulang-ulang disertai dengan nausea yang
persisten umumnya terdapat pada pancreatitis. Bila tidak ada bilus dalam
muntahannya sedangkan muntah merupakan hal yang menonjol pada penyakitnya,
ini berarti ada obstruksi pylorus. Regurgitasi yang berulang-ulang dari makanan yang
belum tercerna, menunjukkan obstruksi lambung

yang tinggi atau obstruksi

oesophagus . Vomitus yang timbul bersamaan dengan rasa sakit di epigastrium atau
kwadran kanan atas yang persisten merupakan sifat kolik bilier dan cholecystitis
acuta. Vomitus yang mula-mula terdiri dari bahan makanan dan isi lambung lalu di
susul dengan material faeces menunjukkan obstruksi intestinal yang rendah. Jika
disertai dengan distensi dan obstipasi, ini juga menunjukkan kelainan tertentu.
Perdarahan. Pengeluaran darah melalui suatu lubang merupakan suatu
pengalaman yang mengejutkan pasien dan jumlah darah yang hilang seringkali di

lebih-lebihkan olehnya. Bahwa darah didapati merupakan petunjuk adanya erosi atau
ulcerasi. Tetapi maknanya bagi diagnose agak terbatas. Perdarahan tanpa rasa sakit
menandai neoplasma, dan ini membutuhkan pemeriksaan yang bersungguh-sungguh
untuk mengetahui sebabnya. Suatu alasan perdarahan yang jelas dan sederhana
seperti misalnya hemorrhoid tidak boleh diterima sebagai causa tanpa penyelidikan
lengkap untuk meniadakan faktor-faktor yang lebih serius.
Tumor-tumor. Penilaian tentang tumor atau pembengkakan dari anamnese
dapat sangat mengelirukan. Sering penderita tidak sadar akan adanya tumor sampai
diketemukan oleh pemeriksa. Pada keadaan yang lain penderita secara sadar dapat
menyembunyikan lamanya lesi atau menyangkal adanya pembesaran yang baru
terjadi. Dsini, sekali lagi, pemeriksaan yang teliti dari pihak pemeriksa dapat
menjelaskan fakta, khususnya dalam hubungannya dengan tumor dari mammae.
Trauma. Trauma itu merupakan hal yang begitu umum sehingga harus dinilai
dengan pertimbangan yang cukup. Seringkali pasien menghubungkan penyakit atau
timbulnya lesi dengan suatu trauma karena ia tidak dapat memikirkan sebab-sebab
yang lain yang dapat menimbulkan penyakit tersebut. Riwayat penyakit dahulu
seperti trauma yang ringan dapat membantu diagnose pada keadaan-keadaan tertentu,
misalnya pada necrose lemak traumatic pada mamma. Kejadian mendetail pada
trauma yang akut sangat penting artinya. Pada luka tembus, posisi pasien ketika
terkena, sangatlah pentingnya olehkarena jalan peluru akan dapat ditentukan dan ini
member petunjuk bagi kerusakan viscera yang potensiil.
Kehilangan kesadaraan. Kehilangn kesadaran atau amnesia retrograde
( yaitu kehilangn ingatan tentang kejadian-kejadian tepat sebelum peristiwa )
merupakan tanda dari trauma capitis yang dapat menyebabkan suatu haematoma
subdural atau extradural. Jika pasien tidak secara khusus ditanyai tentang kejadian itu
ia tidak bisa menjawab.
Demikianlah beberapa contoh detail darimana setiap gejala dari pasien harus
di analisa apabila hendak memperoleh keterangan dari riwayat pasien.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
UMUM

Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur multipel,


fraktur pelvis, fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka yang
mengalami infeksi
LOKAL

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Foto Rontgen
- Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung
- Mengetahui tempat dan type fraktur
Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses
penyembuhan secara periodic. Dilakukan dengan mengambil 2 sendi, sendi genu
dan panggul, secara AP dan lateral.
b. Skor tulang tomography, skor C1, Mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi
kerusakan jaringan lunak.
c. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler.
d. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple).

V.

ETIOLOGI
Fraktur (patah) tulang adalah terputusnya tulang. Istilah-istilah yang
digunakan untuk menjelaskan berbagai jenis fraktur tulang antara lain adalah :
Fraktur komplit

: fraktur yang mengenai suatu tulang secara

keseluruhan
Fraktur inkomplit

: fraktur yang meluas secara parsial pada suatu

tulang
Fraktur sederhana (tertutup)
Fraktur compound (terbuka)

: fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit


: fraktur yang menyebabkan robeknya kulit

Fraktur terbuka dan tertutup dapat bersifat komplit atau inkomplit. Istilahistilah lain dapat digunakan untuk menjelaskan fraktur, berdasarkan sudut pemutusan
atau apakah tulang melengkung tanpa terputus.
Patah tulang sering disebabkan oleh trauma, terutama pada anak-anak dan
dewasa muda. Apabila tulang melemah, patah dapat terjadi hanya akibat trauma

minimal atau tekanan ringan. Hal ini disebut fraktur patologis. Fraktur patologis
sering terjadi pada orang tua yang mengidap osteoporosis, atau penderita tumor,
infeksi, atau penyakit lain.
Fraktur stres dapat terjadi pada tulang normal akibat stres tingkat rendah atau
berkepanjangan atau berulang. Fraktur stres, juga disebut fraktur kelelahan (fatigue
fracture), biasanya terjadi akibat peningkatan drastis tingkat latihan pada seorang
atlit, atau pada permulaan aktivitas fisik baru. Karena kekuatan otot meningkat secara
lebih cepat dibandingkan dengan kekuatan tulang, maka individu dapat merasa
mampu berprestasi melebihi tingkat sebelumnya walaupun tulang-tulang mereka
mungkin tidak dapat menunjang peningkatan tekanan. Fraktur stres biasanya terjadi
pada mereka yang menjalani olahraga daya tahan misalnya lari jarak jauh. Fraktur
stres dapat terjadi pada tulang yang lemah akibat peningkatan ringan aktivitas. Hal ini
disebut fraktur insufisiensi.
Efek Fraktur Tulang
Sewaktu tulang patah, maka sel-sel tulang mati. Pendarahan biasanya terjadi
di sekitar tempat patah dan ke dalam jaringan lunak di sekitar tulang tersebut.
Jaringan lunak biasanya juga mengalami kerusakan. Reaksi peradangan hebat timbul
setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan selmast berakumulasi menyebabkan
peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel
mati dimulai. Di tempat patah terbentuk bekuan fibrin (hematom fraktur) dan
berfungsi sebagai jala untuk melekatnya sel-sel baru. Aktivitas osteoblas segera
terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut kalus. Beukan fibrin
direabsorpsi dan sel-sel tulang baru secara perlahan mengalami remodeling untuk
membentuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan kalus dan secara perlahan
mengalami kalsifikasi. Penyembuhan memerlukan waktu beberapa minggu sampai
beberapa bulan (fraktur pada anak sembuh lebih cepat). Penyembuhan dapat
terganggu atau terlambat apabila hematom fraktur atau kalus rusak sebelum tulang
sejati terbentuk atau apabila sel-sel tulang baru rusak selama proses kalsifikasi dan
pengerasan.

VI.

MANIFESTASI KLINIS
Patah tulang traumatik dan cedera jaringan lunak biasanya disertai nyeri.
Setelah patah tulang dapat timbul spasme otot yang menambah rasa nyeri. Pada
fraktur stress, nyeri biasanya timbul pada aktivitas dan menghilang saat istirahat.
Fraktur patologis mungkin tidak disertai nyeri. Mungkin tampak jelas posisi tulang
atau ekstremitas yang tidak alami
Pembengkakan di sekitar fraktur akan menyertai proses peradangan. Dapat
terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan, yang mengisyaratkan kerusakan syaraf.
Denyut nadi dibagian distal fraktur harus utuh dan setara dengan bagian nonfraktur.
Hilangnya denyut nadi disebelah distal mungkin mengisyaratkan syok kompartemen.
Krepitus (suara gemertak) dapat terdengar sewaktu tulang digerakkan akibat
pergeseran ujung-ujung patahan tulang satu sama lain.

VII.

DIAGNOSIS

DIAGNOSIS UTAMA
DIAGNOSIS BANDING
VIII. PATOFISIOLOGI

Tulang merupakan bagian tubuh yang tersusun dari dua macam material.
Yang pertama merupakan material ekstraselular organic yang terdiri dari kolagen
(sekitar 30-35% dari berat tulang) yang menyusun tulang sehingga fleksibel dan
ketahanan tulang. Sedangkan material kedua adalah kalsium dan garam fosfor,
terutama hidroksi apatit [Ca10(PO4)6(OH)2] yang berjumlah sekitar 65-70% dari berat
tulang dan berperan dalam penyusun keras dan kekakuan tulang. Secara mikroskopis
tulang dapat dibedakan menjadi tulang pipih (lamellar) dan tulang panjang (woven).
Tulang mulai terbentuk saat janin. Ketika anak-anak, tulang tumbuh
memanjang dan membesar sesuai dengan asupan nutrisi, lingkungan, serta faktor

genetik keluarga. Pada anak-anak, pertumbuhan tulang dapat optimal karena adanya
lempeng epifisis (epiphyseal growth plate). Lempeng epifisis merupakan lapisan
dimana sel mesenkim berdiferensiasi dan tersusun sebagai tulang. Umumnya lempeng
epifisis akan terus aktif hingga puber (perempuan hingga datang menstruasi dan
sekitar <17 tahun, laki-laki sekitar <21 tahun). Umumnya setelah melewati masa
puber, seseorang tidaklah lagi mengalami pertumbuhan yang signifikan karena
lempeng epifisis akan menghilang dan selebihnya mengalami perkembangan.
Fraktur merupakan keadaan dimana tulang tidak lagi bersatu (non-union),
keadaan yang sering disebut sebagai patah tulang. Fraktur dapat disebabkan berbagai
hal, namun untuk terjadinya fraktur hanyalah membutuhkan satu syarat, yaitu adanya
beban yang diterima tulang melebihi kekuatan topang tulang.

Fraktur Tertutup (closed)


Jika tidak adanya celah antara fraktur dengan lingkungan luar, tidak
terdapatnya luka seperti sobek di tempat fraktur.
Fraktur Terbuka (open/compound)
Jika terdapatnya celah antara fraktur dengan lingkungan luar karena adanya
luka di kulit pada tempat fraktur.
Derajat I
Dengan ciri-ciri seperti luka <1cm, kerusakan jaringan lunak sedirik, tak ada
tanda luka remuk, fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan, serta
kontaminasi minimal.
Derajat II
Dengan cirri-ciri luka >1cm, ada kerusakan jaringan lunak namun tidak luas,
flap/avulse, merupakan fraktur kominutif sedang serta terdapat kontaminasi sedang.
Derajat III
Dengan ciri-ciri terdapat kerusakan jaringan lunak yang luas pada kulit, otot,
serta neurovascular serta adanya kontaminasi berat.
Selain kriteria berat-ringannya fraktur, fraktur dibagi menjadi beberapa
keadaan lain, yaitu:

Komplit/tidak komplit
Komplit bila garis patahan melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua
korteks tulang.

Tidak komplit (incomplete) bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang,
seperti hairline fracture, Buckle Fracture atau torus fracture, green stick fracture

(pada tulang panjang anak-anak).


Bentuk garis fraktur yang berhubungan dengan mekanisme trauma
Garis patah melintang : trauma angulasi atau langsung
Garis patah oblik : trauma angulasi
Garis patah spiral : trauma rotasi
Fraktur avulsi : trauma tarikan/traksi otot pada insersi di tulang
Jumlah garis fraktur
Fraktur kominutif : lebih dari satu dan saling berhubungan
Fraktur segmental : lebih dari satu, tidak berhubungan
Fraktur multiple : lebih dari satu, di tulang berlainan

Pergeseran yang terjadi


Displaced : terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur
Ad longitudinam cum contractionum dan distructionum, dislokasi ad axim,
dislokasi ad latus
Undisplaced : garis patah komplit namun fragmen tidak bergeser serta periosteum
tetap utuh.
Komplikasi/tanpa komplikasi
Fraktur dapat terjadi pada distal, proksimal, maupun tengah tergantung arah
trauma.

IX.

PENATALAKSANAAN
MEDIKA MENTOSA
Pada kasus fraktur, pasien akan merasakan sakit terutama jika fraktur hebat.
Terkadang rasa sakit tersebut tidak tertahankan sehingga perlu dibantu dengan obatobatan analgesic seperti dari golongan NSAID.7 Pada trauma berat, sangat mungkin
untuk diberikan obat analgesic golongan opioid.
Selain itu untuk membantu mempercepat pemulihan tulang dibantu dengan
banyak mengkonsumsi kalsium dan vitamin D baik dari makanan maupun suplemen
tambahan.
NON MEDIKA MENTOSA

pemberian posisi pasien dan peralatan khusus yang diperlukan bergantung


pada jenis fraktur dan ekstremitas yang terkena. Dapat digunakan sebuah meja fraktur
atau meja lengan. Peralatan lain yang diperlukan biasanya adalah bor dan gergaji
mesin, fluoroskopi, serta implan dan instrumentasi sesuai pilihan ahli bedah.
Sekarang ahli bedah ortopedi memiliki banyak pilihan yang tersedia untuk
menangani fraktur. Teknik-teknik pengolahan dapat digolongkan sebagai reduksi
tertutup, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal.
Reduksi Tertutup
Fraktur sederhana pada sebuah tulang panjang yang sedikit atau tidak
menyebabkan pergeseran tulang dapat diterapi dengan teknik reduksi tertutup. Untuk
kenyamanan pasien biasanya dilakukan anestesi umum, tetapi dapat juga dilakukan
anestesi spinal atau blok. Fraktur direduksi melalui manipulasi manual, dibantu oleh
fluoroskopi, dan dimobilisasi dengan gips.
Pin dan gips
Kadang-kadang diindikasi reduksi tertutup pada lengan bawah atau
pergelangan tangan dan fraktur yang terjadi memerlukan stabilisasi tambahan dengan
pemasangan pin perkutis. Redaksi tertutup dilakukan dengan bantuan fluoroskopi.
Daerah operasi dibersihkan dan dilakukan pemasangan pin perkutis. Penyambungan
fraktur kemudian dinilai kembali dengan fluoroskopi dan apabila penyambungan
tersebut adekuat, dipasang gips atau gips fiberglass yang mengenai gips.
Traksi
Fraktur sederhana yang menyebabkan pergeseran ringan ujung-ujung tulang
dan kerusakan jaringan lunak minimal dapat direduksi dan dimobilisasi melalui traksi
kulit atau tulang. Aplikasi traksi kulit seperti traksi Buck atau Russel adalah prosedur
yang noninvasif. Traksi tulang memerlukan pemasangan satu atau lebih pin steril ke
dalam tulang yang terletak distal dari tempat fraktur. Pada pin kemudian dipasang
busur traksi, dan dilakukan traksi sesuai keinginan melalui sistem suspensi seimbang.
Walaupun mengurangi kemungkinan infeksi yang inheren pada prosedur terbuka,

namun teknik traksi memerlukan imobilisasi berkepanjangan dan meningkatkan


risiko yang berkaitan dengan tirah baring jangkan panjang.
Fiksasi Eksternal
Fiksasi eksternal memberikan stabilisasi yang kaku pada tulang melalui
alat-alat eksternal jika bentuk lain imobilisasi, karena berbagai alasan, dianggap tidak
sesuai. Teknik ini paling sering digunakan untuk fraktur yang disertai kerusakan
jaringan lunak yang cukup banyak. Fiksasi eksternal memungkinkan terapi yang
agresif dan simultan terhadap cedera tulang dan jaringan lunaknya. Mobilisasi dapat
dilakukan secara dini, dan gerakan sendi proksimal dan distal di dekatnya tidak
terbatasi. Fiksasi eksternal menguntungkan bagi luka tercemar karena teknik ini
memungkinkan kita melakukan terapi agresif terhadap kemungkinan infeksi yang
timbul. Penyulit utama yang berkaitan dengan fiksasi eksternal adalah infeksi lubang
pin, gangguan neurovaskular, dan perlambatan penyatuan tulang.
Reduksi terbuka dan fiksasi internal
Reduksi terbuka dan fiksasi internal adalah metode yang luas digunakan
untuk terapi fraktur. Metode ini memerlukan reduksi pembedahan
pemasangan

pin,

sekrup,

kawat,

paku,

batang,

dan/atau

terbuka dan

lempeng

untuk

mempertahankan reduksi. Perangkat fiksasi internal tersedia dalam berbagai bentuk


dan konfigurasi untuk digunakan pada berbagai ukuran tulang dan jenis fraktur.
Metode reduksi terbuka dan fiksasi internal untuk terapi fraktur memungkinkan
ahli bedah melihat secara langsung kerusakan pada struktur-struktur di sekitar fraktur,
untuk membersihkan dan memperbaiki tempat fraktur sesuai keperluan, dan untuk
melakukan penyatuan anatomis fraktur yang kompleks. Selain itu proses
penyembuhan tidak memerlukan imobilisasi berkepanjangan. Kekurangan metode
reduksi terbuka dan fiksasi internal meliputi perlunya anestesi umum dan peningkatan
risiko infeksi yang terjadi pada semua prosedur terbuka. Russel (1992) mencatat
bahwa fiksasi internal umumnya dikontraindikasikan untuk situasi berikut : 1) tulang
osteoporotik terlalu rapuh untuk menerima implan, 2) jaringan lunak diatasnya

berkualitas buruk, 3) terdapat infeksi, 4) adanya fraktur comminuted yang parah yang
menghambat rekonstruksi
Jenis implan fiksasi internal
Berbagai jenis implan ortopedik cukup memusingkan kecuali bagi perawat
perioperatif ortopedik yang paling berpengalaman. Secara prosedural, sebagian besar
reduksi terbuka dan fiksasi internal biasanya serupa. Namun, instrumen dan implan
yang digunakan bervariasi dan terutama bergantung pada jenis fraktur yang akan
diperbaiki. Pengetahuan mengenai berbagai implan dan jenis instrumen yang
diperlukan untuk memasangnya akan sangat membantu kemampuan perawat
perioperatif membuat rencana keperawatan yang efektif.
Fiksasi pin dan kawat. Untuk fiksasi fraktur kecil di daerah metafisis dan
epifisis kaki distal, lengan bawah, dan tangan sering digunakan kawat kirschner atau
pin Steinmann. Keduanya juga dapat digunakan bersama dengan reduksi tertutup
fraktur falang dan metakarpal yang mengalami pergeseran. Kawat dan pin dapat
dimasukkan secara perkutis di bawah fluoroskopi, atau digunakan bersama dengan
perangkat fiksasi lain pada prosedur terbuka
Sekrup. Terdapat bermacam-macam sekrup fiksasi. Semua sekrup terdiri
dari empat bagian : kepala, batang, alur, dan ujung. Kepala sekrup dapat berbentuk
heksagonal, bersilangan, berlubang, atau berdesain Philips dan menentukan jenis
obeng yang akan digunakan. Batang sekrup adalah bagian halus antara kepala dan
alur. Alur adalah bagian yang menjangkarkan fragmen dan mencegah sekrup terlepas.
Ujung sekrup mungkin bulat dan memerlukan perlubangan sebelumnya, atau bergalur
dan self-tapping

X.
XI.

EDUKASI
KOMPLIKASI
Dapat terjadi sindrom kompartemen. Sindrom kompartemen ditandai oleh
kerusakan atau kematian saraf dan pembuluh darah yang disebabkan oleh
pembengkakan dan edemia di daerah fraktur. Dengan pembengkakan interstisium

yang intens tersebut, timbul tekanan pada pembuluh-pembuluh darah yang dapat
menyebabkan mereka kolaps. Hal ini menimbulkan hipoksia jaringan dan dapat
menyebabkan kematian saraf-saraf yang mempersarafi daerah tersebut. Biasanya
timbul nyeri hebat. Individu mungkin tidak dapat menggerakkan jari tangan atau kaki.
Sindrom kompartemen biasanya terjadi pada ekstremitas yang memiliki restriksi
volume yang ketat. Risiko terjadinya sindrom kompartemen akan semakin besar
apabila telah terjadi trauma otot, karena pembengkakan yang terjadi akan hebat.
Pemakaian gips pada ekstremitas yang patah yang terlalu dini atau terlalu ketat dapat
menyebabkan peningkatan tekanan di kompartemen ekstremitas. Dapat terjadi
kerusakan permanen fungsi atau bahkan kehilangan ekstremitas itu sendiri. Oleh
sebab itu, gips harus segera dibuka dan kadang-kadang kulit ekstremitas harus
diperiksa.
Dapat timbul embolus lemak setelah tulang patah, terutama tulang panjang.
Embolus lemak dapat timbul akibat terpajannya sumsum tulang, atau akibat
pengaktivan sistem saraf simpatis setelah trauma. Embolus lemak yang timbul setelah
fraktur tulang panjang sering tersangkut di sirkulasi paru dan menimbulkan distres
atau kegagalan pernapasan.
XII.

PROGNOSIS
Prosedur penanganan yang dilakukan, waktu pelaksanaan, usia pasien, serta
faktor lain dapat mempengaruhi prognosis kasus fraktur. Adapun prognosis fraktur
pada anak-anak adalah baik dan tidak mengganggu pertumbuhan tulang (artinya
tulang masih dapat tumbuh panjang) selama lempeng epifisis tetap dalam keadaan
yang baik. Namun harus berhati-hati jika terdapat emboli.