Anda di halaman 1dari 5

PENATALAKSANAAN INFERTILITAS PADA WANITA(1)

1. Uji pascasanggama yang abnormal


Estrogen, klomifen sitrat, cawan serviks, dan inseminasi buatan intrauterin
dengan semen suami telah dicoba untuk pengobatan jika disebabkan oleh faktor
imunologi.
Dietil stillbestrol (DES) yang diberikan dengan dosis 0,1-0,2 mg per hari dimulai
pada hari kelima sampai ke-20 dari siklus haid dapat memperbaiki uji
pascasanggama yang abnormal, kalau sebabnya adalah kualitas dan jumlah
lendir serviks yang kurang, akan tetapi pasti tidak akan lebih memperbaiki lagi
kalau lendir serviksnya normal. Akan tetapi pemberian DES dengan dosis seperti
itu dapat juga menghambat terjadinya ovulasi.
Pemberian klomifen sitrat untuk memperbaiki uji pascasanggama didasarkan
atas anggapan bahwa lendir serviks yang kurang baik itu dapat disebabkan oleh
perkembangan folikular yang kurang adekuat. Tidak diragukan lagi bahwa
perkembangan folikular akan bertambah baik dengan pemberian obat tersebut,
akan tetapi efek anti-estrogenik dari obat ini terhadap lendir serviks juga berlaku
juga, apalagi jika ovulasinya terjadi dalam 6 hari setelah selesai pengobatan
tersebut.
Inseminasi buatan dengan memakai cawan serviks dapat bermanfaat untuk
beberapa kasus normospermia volume rendah, dan oligospermia ringan. Angka
kehamilannya dapat mencapai 30-50%. Inseminasi intrauterin telah dicoba pula
untuk lendir serviks yang kurang ramah. Pasien yang besar kemungkinannya
menjadi hamil dengan inseminasi intrauterin adalah mereka yang
spermatozoanya tampak bergerak baik dalam lendir serviks, akan tetapi tidak
bergerak maju.

2. Mioma uteri
Miomektomi membuktikan 50% wanita melakukan ini menjadi hamil setelah 18
bulan melakukan miomektomi.

3. Masalah tuba yang tersumbat


Jika infertilitas ternyata ada hubungannya dengan masalah tuba yang tersumbat,
maka pengobatan saja sangat sedikit kemungkinan membawa hasil.
Istri dengan riwayat infeksi pelvic yang berulang dapat dicoba dengan
pemberian antibiotik dalam jangka panjang. Pemberian antibiotika secukupnya
selang satu bulan selama 6-12 bulan dapat lebih memungkinkan terjadinya
patensi tuba daripada kelompok istri yang tidak diberikan pengobatan tersebut.
Terapi kimiawi terhadap tuberkulosis pelvic sangat sedikit membawa hasil.
Kalaupun ada, akan dihadapkan kepada kehamilan di luar kandungan yang

sangat tinggi. Kemungkinan terjadinya kehamilan sangat tergantung kepada


kerusakan yang ditimbulkan pada endosalping.
Endometriosis pada tuba dapat diobati dengan pil-KB, progesteron, atau
danazol, yang diberikan secara terus-menerus atau selang-seling. Akan tetapi
penyembuhan endometriosis itu akan menimbulkan parut, yang dapat
menyumbat atau menekuk tuba sehingga akhirnya memerlukan pembedahan
untuk mengatasinya.

4. Endometriosis
Terapi endometriosis terdiri dari: menunggu sampai terjadi kehamilan sendiri,
pengobatan hormonal, atau pembedahan konservatif.
Dengan menunggu aja pasien dapat hamil dengan sendirinya. Tentu saja umur
pasien dan lama infertilitas harus menjadi pertimbangan untuk tidak melakukan
terapi menunggu ini. Pada umumnya, kalau pasien mengidap endometriosis
ringan tanpa keluhan yang berarti, kecuali untuk fertilitas, dapat ditunggu untuk
beberapa waktu lamanya sebelum dilakukan pengobatan.
Apabila pengobatan ditujukan untuk infertilitasnya karena endometriosis, harus
pula dipertimbangkan umur pasien, tahap penyakitnya, lama infertilitasnya, dan
kehebatan keluhannya. Harus pula diingat bahwa terapi hormonal memerlukan
waktu lama dan tidak selalu menyembuhkan endometriosis, kebanyakan hanya
menekan untuk beberapa waktu lamanya. Oleh karena itu, pada pasien yang
sudah lanjut usia dan sudah lama infertilitasnya, sebaiknya dianjurkan untuk
menempuh pembedahan konservatif. Pasien dengan tahap penyakit yang berat
dan ingin anak segera, pasti bukan calon untuk pengobatan hormonal.
Pil KB yang berkhasiat progestasional kuat seperti noretinodrel 5 mg +
mestranol 75 mikrogram (Enovid) dapat dipakai untuk pengobatan
endometriosis. Pengobatannya adalah sebagai berikut: 1-2 tablet sehari setiap
hari terus-menerus, kemudian dinaikkan dengan 1-2 tablet lagi setiap minggu,
sampai pasien mendapatkan 20mg (4 tablet) seharinya. Pengobatan ini
berlangsung selama 6 sampai 9 bulan.
Preparat progestasional saja dapat juga dipakai, akan tetapi sering menimbulkan
perdarahan dari uterus yang abnormal, sehingga memerlukan pengobatan
tambahan dengan estrogen.
Dengan pengobatan hormonal tersebut di atas, yang mengakibatkan keadaan
kehamilan semu, mendapatkan angak kehamilan 50% dan angka kambuh kirakira 17%.
Danazol, obat endometriosis baru yang berkhasiat antigonadotrofik dan
menghambat streoidogenesis ovarium akan mengakibatkan keadaan
menopause semu. Ovulasi akan dihambat, dan dengan demikian endometrium

akan menjadi atrofik. Kekurangan estrogen akan mengakibatkan gejala-gejala


pascamenopause, seperti berkeringat, hot flush, dan gangguan vasomotor
lainnya. Virilisasi dan jerawat dapat pula terjadi. Danazol disampaikan dalam
kapsul dengan dosis 200mg, yang dimakan 2 kali 2 kapsul, atau 4 kali 1 kapsul
sehari, terus-menerus selama 6 bulan atau sampai respon klinik memuaskan.
Setelah pengobatan dihentikan, haid akan kembali seperti biasa 3-6 bulan
kemudian. Kebanyakan kehamilan akan terjadi dalam 6 bulan pertama.

5. Induksi ovulasi dengan klomifen sitrat


Pengobatan induksi ovulasi pada istri pasangan infertil yang tidak berovulasi
berkisar antara klomifen sitrat, bromokriptin, dan gonadotropin dari manusia.
Klomifen sitrat merupakan obat pilihan pertama untuk pasien dengan siklus haid
yang tidak berovulasi dan oligomenorea, dan pasti merupakan pilihan pertama
untuk pasien dengan amenorea sekunder yang kadar FSH, LH, dan prolaktinnya
normal.
Obat itu terdiri dari 2 isomer stereo. Bentuk-sis berkhasiat anti estrogenik,
sedangkan bentuk-trans berkhasiat anti-estrogenik lemah, bersama-sama dapat
menginduksi ovulasi 40-70% pasien yang diobati. Klomifen khususnya bekerja
terhadap hipotalamus, yang meningkatkan kadar FSH dan LH serum selagi
makan obat. Peningkatan kadar hormon gonadotropin itu cukup untuk
mematangkan folikel dan membuat puncak FSH dan LH pada hari ke-9 setelah
menyelesaikan pengobatan yang mengakibatkan ovulasi. Pada pasien lain yang
khususnya yang mengalami amenorea primer dan sekunder lama yang kadar
FSH dan LH-nya rendah selagi pengobatan dengan klomifen sitrat, tidak terjadi
folikel yang matang sehingga tidak terjadi ovulasi. Hasil yang berlainan diantara
beberapa pasien mungkin dapat diterangkan karena kepekaan tempat reseptor
hipotalamus yang berlainan pula terhadap umpan-balik estrogen yang dihasilkan
oleh ovarium dan kelenjar lainnya.
Kalau ada haid, klomifen sitrat diberikan pada hari kelima sampai hari ke-9
selama 5 hari. Kalau tidak ada haid, dibuatkan dulu perdarahan surut dengan
pemberian 5 mg noretisteron, 2x sehari selama 5 hari, dan pemberian klomifen
dimulai pada hari kelima setelah hari pertama terjadinya perdarahan-surut.
Terjadinya perdarahan-surut merupakan prognosis yang baik, karena diperlukan
pengeluaran kadar estrogen tertentu untuk mematangkan endometrium, untuk
selanjutnya dapat dimatangkan oleh progesteron.
Dosis permulaan klomifen adalah 50mg/hari selama 5 hari, dan ovulasi biasanya
terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-10 setelah tablet terakhir diminum. Pada
pasien dengan sindroma Stein-Leventhal, dosis permulaan klomifen cukup
dengan 25mg/hari selama 5 hari, karena mereka sangat peka terhadap klomifen,
yang dapat mengakibatkan kista ovarium kalau dosisnya berlebihan.

Terdapat 4 kemungkinan hasil pengobatan klomifen: 1. Terjadi ovulasi, 2. Hanya


terjadi pematangan folikel, mungkin dengan ovulasi yang lambat atau defek
korpus luteum, 3. Terjadi pematangan folikel tanpa terjadinya ovulasi, dan 4.
Tidak ada reaksi. Pada kemungkinan hasil 1. Pengobatan diulangi dengan dosis
yang sama. Pada kemungkinan hasil 2. Pengobatan diulangi dengan dosis yang
sama. Jika hasilnya tetap sama, dosis selanjutnya ditingkatkan. Pada
kemungkinan 3. Pengobatan diulangi dengan dosis yang sama ditambah
suntikan HCG (3000-5000 IU) selama 5-7 hari setelah dosis klomifen terakhir
diminum. Pada kemungkina 4. Dosis klomifen ditingkatkan pada setiap siklus,
dimulai dengan 100mg/hari selama 5 hari dan berakhir dengan dosis maksimal
200mg/hari selama 5 hari.

PENCEGAHAN INFERTILITAS PADA WANITA(2)


1. Menjaga berat badan
Kelebihan ataupu kekurangan berat badan pada wanita dapat meningkatkan
resiko gangguan ovulasi. Apabila ingin menurunkan berat badan, olahraga yang
secukupnya. Intensitas olahraga yang berlebihan (lebih dari 1 jam per minggu)
juga dapat menurunkan ovulasi.

2. Berhenti merokok
Tidak hanya berdampak negatif pada kesehatan umum seorang wanita dan
kesehatan janinnya tapi tembakau pada rokok juga dapat berdampak negatif
pada fertilitas seorang perempuan.

3. Batasi alkohol
Minum alkohol 8 gelas atau lebih per minggu dapat menyebabkan penurunan
fertilitas.

4. Kurangi stress
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasangan dengan stress psikologis
yang tinggi dapat meningkatkan resiko infertilitas.

5. Batasi kafein
Kurangi minum kopi kurang lebih 6 cangkir/hari.

1. W, Hanifa. Ilmu Kandungan ed.2. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. 2009

2. http://www.mayoclinic.com/health/female-

infertility/DS01053/DSECTION=prevention, Rabu, 30 Maret 2011, 17;28