Anda di halaman 1dari 12

KARTU IDENTITAS KONTAMINAN/POLUTAN

Nama Kontaminan/Polutan

: Karbon Monoksida (CO)

Alamat

: Perioda Golongan -

1.

Karakter (sifat-sifat Fisik)

Sifat Fisika:

Struktur molekul:

Terdiri dari satu atom karbon dan satu atom oksigen

Tidak berbau

Tidak berasa

Pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna

Berbentuk cairan pada suhu di bawah -1290C

Mudah terbakar

Beracun

Titik leleh -2050C

Titik didih -191,50C

Massa jenis 1,229 g/L

Massa molekul 28,010 g mol-1

Terbakar pada udara dengan nyala biru cerah

Larut pada kloroform, asam asetat, etil asetat, etanol dan ammonium
hidroksida

Terikat dengan ikatan kovalen ganda dengan panjang 112,8 pm

CO tidak stabil dan membentuk CO2 untuk mencapai kestabilan fasanya

Sifat termodinamika:
Hfo

: -26,41kcal/mole

Gfo

: -32,79 kcal/mole

So

: 47,25 cal/degree mole

Cp

: 6,96 cal/degree mole

Hfus

: 0,198 kcal/mole

Hvap : 1,44 kcal/mole


Kimia Indonesia. 2013. Pencemaran Udara Oleh Gas CO (Karbon

Daftar
Pustaka

Monoksida).
http://indonesiakimia.blogspot.com/2011/05/pencemaranudara-oleh-gas-co-karbon.html. Diakses pada 22 Februari
2015.
Manahann Stanley E. 1994. Environmental Chemistry, Sixth
Edition. America: Lewis Publisher.

2.

Sumber (Asal kontaminan/polutan)


Karbon monoksida di lingkungan dapat terbentuk secara alamiah, tetapi
sumber utamanya adalah dari kegiatan manusia. Karbon monoksida
yang berasal dari alam termasuk dari lautan, oksidasi metal di atmosfir,
pegunungan, kebakaran hutan dan badai listrik alam.

Sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor, terutama yang


menggunakan bahan bakar bensin. Berdasarkan estimasi, jumlah CO
dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta Ton per tahun.
Separuh dari jumlah ini berasal dari kendaraan bermotor yang
menggunakan bakan bakar bensin dan sepertiganya berasal dari sumber
tidak bergerak seperti pembakaran batubara dan minyak dari industri
dan pembakaran sampah domestik.

Karbon monoksida, CO, dihasilkan dari pembakaran yang tidak


sempurna dari bahan bakar yang mengandung karbon dan oleh
pembakaran pada tekanan dan suhu tinggi yang terjadi pada mesin.

Karbon monoksida dapat juga dihasilkan dari reaksi oksidasi gas


metana oleh radikal hidroksi dan dari perombakan/pembusukan
tanaman meskipun tidak sebensar yang dihasilkan oleh bensin.

Sumber CO dari dalam ruang (indoor) termasuk dari tungku dapur


rumah tangga dan tungku pemanas ruang. Dalam beberapa penelitian
ditemukan kadar CO cukup tinggi di dalam kendaraan sedan maupun
bus. Sumber lain CO adalah gas arang batu yang mengandung lebih 5%
CO, yaitu alat pemanas berbahan bakar gas, lemari es gas, kompor gas,
dan cerobong asap yang bekerja tidak baik

Degradasi klorofil pada saat musim gugur menghasilkan CO sebanyak


20% per tahunnya

Daftar

Asap

rokok

juga

mengandung

CO,

sehingga

perokok

akan

membahayakan dirinya dari asap rokok yang dihisapnya


Kimia Indonesia. 2013. Pencemaran Udara Oleh Gas CO (Karbon

Pustaka

Monoksida).
http://indonesiakimia.blogspot.com/2011/05/pencemaranudara-oleh-gas-co-karbon.html. Diakses pada 22 Februari
2015.
Manahan, Stanley E. 1994. Environmental Chemistry, Sixth Edition.
America: Lewis Publisher.
Putra, Angga Eri, dkk. 2013. Parameter Pencemar Udara: Karbon
Monoksida.
https://airpollution8.wordpress.com/2013/02/23/karbonmonoksida/. Diakses pada 22 Februari 2015.
Pradyat, Patnik. 2002. Hand Book of Inorganic Chemical. New
York: Mc Graw Hill Companies.

3.

Reaksi-reaksi yang Relevan (Karakter Kimia)


Karbon monoksida dapat dibuat dengan beberapa metode. Dalam skala
industri dengan cara pencampuran Co, H 2 dan CO2. Juga dapat dibuat
dengan penguapan coal dan coke dengan oksigen pada 1.5000C

Pada laboratorium, CO dapat diproduksi dengan memanaskan CaCO3


dengan serbuk Zn atau dehidrasi asam formiat:
CaCO3 + Zn

CaO +CO +ZnO

HCOOH CO + H2O

Reaksi dengan katalis uap dengan ZnO-CuO atau Fe-Cr menghasilkan


hidrogen.
CO + H2O CO2 + H2
Reaksi Fischer-Tropsch melibatkan reduksi CO dengan H2 dan
campuran

methanol

dan olefin sebagai variasi

katalis

untuk

menghasilkan campuran produk oksidasi.

Reduksi H2 pada Fe, Ni, atau Ru menghasilkan metana dan alkane lain
dengan oksidasi.
CO + 3H2 CH4 + H2O

Karbon monoksida juga dibuat dengan reduksi biji besi oksida dengan
karbon

MO + C M + CO
Daftar
Manahan, Stanley E. 1994. Environmental Chemistry, Sixth Edition.
Pustaka

America: Lewis Publisher.


Wikipedia.

2014.

Karbon

Monoksida.

http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon_monoksida#Reaksi_kim
ia_dasar. Diakses pada 22 Februari 2015.
4.

Perubahan-perubahan Spesies (Karakter Kimia)


Reaksi dengan katalis uap dengan ZnO-CuO atau Fe-Cr menghasilkan
hidrogen.
CO + H2O CO2 + H2

Reaksi Fischer-Tropsch melibatkan reduksi CO dengan H2 dan campuran


methanol dan olefin sebagai variasi katalis untuk menghasilkan campuran
produk oksidasi.
Reduksi dengan oksida:
CO + 3H2 CH4 + H2O
CO + H2 HCHO (formaldehyde)
CO + 2H2 CH3OH CH3COOH CH3COOH3
(methanol)

(acetic acid)

(methyl acetate)

CO + 2H2 CH3OH CH3CHO + CH3CH2OH


(Acetaldehyde) (ethanol)

2CO + 3H2 (CH2OH)2


Daftar Pustaka

(ethilene glycol)
Pradyat, Patnik. 2002. Hand Book of Inorganic Chemical.
New York: Mc Graw Hill Companies.

5.

Perpindahan (Jejak di Sistem & Lingkungan air, udara, atau


tanah)

Keberadaan atau umur gas CO di atmosfir tidak lama hanya sekitar 4


bulan. Hal ini terjadi karena karbon monoksida di atmosfir dihilangkan melalui
reaksi dengan radikal hidroksil, HO*. Radikal hidroksil seringkali dihilangkan
dari troposfer melalui reaksi dengan metana ataupun karbon dioksida:
CH4 + HO* H3C* + H2O
CO + HO* CO2 + H
Karbon monoksida yang masuk ke atmosfir juga cepat teroksidasi membentuk
karbon dioksida.
Di dalam air, CO sulit larut. Karbon monoksida termasuk zat yang tidak
meracuni air. Karbon monoksida memiliki densitas yang kira-kira sama dengan
udara. Gas CO di udara juga dapat berkurang jumlahnya karena adanya proses
biologi dalam tanah. Di samping itu angin juga dapat mengurangi konsentrasi

gas CO pada suatu tempat karena dipindahkan ke tempat yang lain. Kadar CO
bebas dapat diserap oleh mikroorganisme tanah. Di dalam tanah CO
mengendap dan mengalami biosintesis lagi dari akar menuju ke daun.
Tumbuhan mengolah CO membentuk CO2 atau methan. Di dalam tubuh
manusia CO dirubah menjadi zat yang bersifat karsinogen.
Daftar Pustaka
Prodjosantoso A. K. dan Tutik R. 2011. Kimia Lingkungan.
Yogyakarta: Kanisius.
Manahan, Stanley E. 2006. Green Chemistry. Columbia:
ChemChar Research, Inc.
6.

Efek Toksikologi

Waktu paruh CO terikat dalam darah kira-kira 250 menit. Bila masuk ke dalam
darah melalui pernapasan, gas karbon monoksida bereaksi dengan hemoglobin
darah, membentuk karboksihemoglobin (COHb). Ikatan CO dengan Hb lebih
kuat dibanding O2 dengan Hb sehingga menghalangi fungsi vital Hb untuk
membawa oksigen bagi tubuh, yang berakibat tubuh kekurangan oksigen
sehingga menimbulkan rasa sakit kepala dan gangguan pernafasan bahkan
kematian.
CO + Hb COHb
Hemoglobin seharusnya bereaksi dengan oksigen menjadi oksihemoglobin
(O2Hb) dan dibawa ke sel-sel jaringan tubuh yang memerlukan.

O2 + Hb O2Hb
Bahkan hemoglobin yang telah mengikat oksigen dapat diserang oleh gas
karbon monoksida.
CO + O2Hb COHb + O2
Jadi, gas karbon monoksida menghalangi fungsi vital hemoglobin untuk
membawa oksigen bagi tubuh.
Pada manusia:
LCLO 4.000 ppm, pernafasan (30 menit)
TCLO 650 ppm, pernafasan (45 menit)
Pada hewan:
Tikus sawah

LC50 1.807 ppm, pernafasan (4 jam)

Tikus rumah LC50 2.444 ppm, pernafasan (4 jam)


Kucing

MLC 10.040 mg/m3, pernafasan (35 menit)

Babi

LC50 2.811 mg/m3, pernafasan (4 jam)

Ikan

LD > 1,2 mg/L

Pada tumbuhan karbon monoksida tidak beracun jika ia segera teroksidasi


membentuk karbon dioksida yang digunakan untuk fotosintesis.
Daftar Pustaka Manahan, Stanley E. 2006. Green Chemistry. Columbia:
ChemChar Research, Inc.
7.
Dengan uji nyala:

Identifikasi (Kualitatif / prinsip)

Mereaksikan H2C2O4.2H2O dengan H2SO4 pekat sehingga menghasilkan gas


CO, karena gas tersebut menyebabkan nyala api berwarna biru terang yang
erasal dari CO2.
2CO (g) + O2 (g) = 2 CO2 (g)
Dengan menggunakan larutan PdCl2
0,05 gram PdCl2 dilarutkan dalam 100 mL air. Kemudian diambil 10 mL dan
dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian gas CO dialirkan pada
larutan. Setelah diuji, akan terjadi perubahan warna dari merah ke hijau lalu
menjadi hitam kecoklatan, dan terdapat endapan hitam.
PdCl2 (aq) + CO (g) + H2O CO2 (g) + Pd (s) + 2HCl (aq)
Dengan spektrofotometer FTIR

Gas CO yang dapat dihasilkan dengan mereaksikan HCOOH dengan H2SO4


pekat diuji menggunakan instrumen FTIR sehingga dapat diketahui gugus
C=O dari spektra yang dihasilkan. Gugus C=O muncul di sekitar 1690-1760
cm-1.
Dengan menggunakan Kromatografi Gas Detektor Ionisasi Nyala atau Gas
Chromatography with Flame Ionization Detector (GC-FID).
GC-FID selektif terhadap hidrokarbon, dan konversi CO menjadi metana
dalam sampel diperlukan. Hal ini dapat dilakukan dengan mereaksikannya
dengan hidrogen melalui katalis nikel pada suhu 3600C.
CO + 3H2 CH4 + H2O
Daftar Pustaka
Manahan, Stanley E. 2006. Green Chemistry. Columbia:
ChemChar Research, Inc.
8.

Identifikasi (Kuantitatif, termasuk prinsip dasar reaksi dan kerja

instrumen/alat)
Jenis yang paling umum yang lain dari instrumen analisa didasarkan pada
korelasi filter gas. Prinsip dasarnya adalah radiasi infra merah berjalan
berurutan melalui sel-sel gas yang mengandung karbon monoksida dan
molekul nitrogen yang terkandung dalam kepingan putar, sebelum radiasi lolos
melalui melalui sel optik da ditarik melalui udara ambien. Ada dua beam
pemisah pada satu waktu tetapi bukanlah sebuah ruang, salah satu yang diserap
oleh karbon monoksida di udara ambien yang melewati sel sampel; yang lain
dari yang sudah habis diserap dalam panjang gelombang oleh karbon
monoksida dan dipengaruhi hanya dengan penyerapan oleh komponen selain
karbon monoksida dalam sampel udara. Perbedaan sinyal antara dua beam
demikian hasil penyerapan oleh karbon monoksida bersama dalam sel sampel.
Gangguan dari uap air dan karbon dioksida diabaikan. Instrumen ini memiliki
batas deteksi minimum sekitar 0,1 ppm hingga 50 ppm.
Analisis kuantitatif dapat dilakukan pada gas karbon monoksida (CO) dalam
emisi gas buang kendaraan bermotor. Metode yang digunakan untuk mengukur
gas karbon monoksida (CO) dari emisi gas buang kendaraan bermotor yaitu
sensor gas semi konduktor jenis TGS 2201 keluaran Figaro. Sensor ini
digunakan untuk mendeteksi gas buang CO dari kendaraan berbahan bakar

bensin maupun solar. Sebagai sensor pembanding digunakan sensor IR untuk


mengukur konsentrasi gas CO.
Daftar Pustaka Roy M, Harrison. 2000. Pollution: causes, effect, and control
fourth edition. British: The Royal Society of
Chemistry

9.

Perundang-undangan yang Terkait dan Tuntutan yang

diberlakukan
Berbagai aturan undang-undang yang mengatur mengenai jumlah polutan
karbon monoksida CO di lingkungan diantaranya adalah:
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No. 41 Tahun 1999
Tentang
Pengendalian Pencemaran Udara
Menimbang :
-

Bahwa udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan


manusia serta makhluk hidup lainnya harus dijaga dan dipelihara
kelestarian fungsinya untuk pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan
manusia serta perlindungan bagi makhluk hidup lainnya;

Bahawa agar udara dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi pelestarian


fungsi lingkungan hidup, maka udara perli dipelihara, dijaga dan
dijamin mutunya melalui pengendalian pencemaran udara;

Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut diatas dan sebagai pelaksanaan


Undang-Undang

Nomor

23

Tahun

1997

tentang

Pengelolaan

Lingkungan Hidup dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah


tentang Penegndalian Pencemaran udara;
-

Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;

Undang-Undang

Nomor

23

Tahun

1997

tentang

Pengelolaan

Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68,


Tambahan Lembaran Negara Nomor 36 Tahin 1999);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan:

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGENDALIAN


PENCEMARAN UDARA.
Parameter

Waktu

Baku Mutu

Metode

Peralatan

CO

Pengukuran
1 jam

(g/Nm3)
30.000

analisis
NIDR

NIDR

24 jam

10.000

analyzer

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 tahun 2000 tentang


Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 81 tahun 1999 tentang
Pengamanan Rokok bagi Kesehatan

Standar kualitas udara bersih di Negara Inggris berdasarkan


rekomendasi Expert Panel on Air Quality Standards (EPAQS), yang
akan dimunculkan pada tabel berikut:

Polutan

Konsentrasi

Standar

Data keluaran

Karbon

11 ppb (11,6 g

Pengukuran
Berjalan rata-rata

EPAQS
1994

Monoksida
Nitrogen

m-3)
150 ppb (287 g

8 jam
Rata-rata 1 jam

1996

Dioksida
Sulfur Dioksida

m-3)
100 ppb (266 g

Rata-rata 15

1994

Daftar Pustaka

m-3)
menit
- http://www.djpp.depkumham.go.id/inc/buka.php
- Anonim. 2010.Kualitas dara Buruk.
http://www.abhest.co.cc/ 2010 /01/ pencemaranudara.html. Diakses 11 April 2015.
- Pradyat, Patnik. 2002. Hand Book of Inorganic
Chemical. New York: Mc Graw Hill Companies

10.
Ide-ide Penanganan (preventif dan kuratif)
Sebagai seorang kimiawan, kita harus bertanggung jawab memberikan
kontribusi dalam penanganan polutan, terutama gas-gas beracun seperti Karbon

10.
Monoksida (CO).

Ide-ide Penanganan (preventif dan kuratif)

Berikut beberapa ide penanganan secara preventif (pencegahan):


- Mengembangkan energi alternatif dan teknologi yang ramah lingkungan
agar tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi
buang yang tidak sempurna
- Mewajibkan dilakukannya

AMDAL

(Analisis

Mengenai

Dampak

Lingkungan) bagi industry atau usaha yang menghasilkan limbah


- Tidak menggunakan kulkas yang memakai CFC (freon) dan membatasi
penggunaan AC dalam kehidupan sehari-hari
- Tidak membakar sampah di pekarangan rumah agar tidak menimbulkan
polusi udara
- Menanam tanaman hias di pekarangan atau di pot-pot sebagai penyerap gas
poliatomik seperti CO dan CO2
- Mensosialisasikan pelajaran lingkungan hidup (PLH) di sekolah dan
masyarakat, terutama pada generasi muda agar menjaga kelestarian
lingkungan
- Ikut memelihara dan tidak mengganggu taman kota dan pohon pelindung
- Diberlakukan peraturan dilarang merokok di dalam ruang umum dan publik
Selain usaha penanganan preventif, juga terdapat penanganan kuratif yang
berfungsi untuk mereduksi, atau bahkan menghilangkan polutan tersebut.
Berikut ini beberapa langkah kuratif dalam menangani polusi, diantaranya:
- menggalang dana untuk mengobati dan merawat korban pencemaran
lingkungan.
- kerja bakti rutin di tingkat RT/RW atau instansi terkait untuk membersihkan
lingkungan dari polutan, terutama penanaman tumbuhan hijau sebagai
penyerap polutan gas CO dan CO2
- melokalisasi tempat pembuangan sampah akhir (TPA) sebagai tempat/pabrik
-

daur ulang
menggunakan penyaring pada cerobong-cerobong di kilang minyak atau
pabrik yang menghasilkan asap atau jelaga penyebab pencemaran udara.

- mengidentifikasi dan menganalisa serta menemukan alat atau teknologi


tepat guna yang berwawasan lingkungan setelah adanya musibah/kejadian

10.
Ide-ide Penanganan (preventif dan kuratif)
akibat pencemaran udara, misalnya menemukan bahan bakar dengan
kandungan timbal yang rendah (BBG).
Daftar Pustaka - Anonim.2010.Karbonmonoksida. http://jurnalingkungan.
wordpress.com/ karbon-monoksida/. Diakses 11 April
2015.
-

Handayanri, Dewi Citra. 2010. Pencemaran Udara Oleh


Karbonmonoksida.

http://www.chem-is-

try.org/kimia_lingkungan/karbon monoksida. Diakses 11


April 2015.
-

http://www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF,
pada tanggal 10 April 2015

diakses