Anda di halaman 1dari 1

Manusia pada dasarnya menginginkan selalu dalam kondisi sehat baik fisik maupun psikis

untuk dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara optimal. Namun pada kenyataannya manusia
dihadapkan pada berbagai masalah kesehatan, salah satunya berupa penyakit yang dideritanya
(Patricia, 2005). Penyakit yang diderita dapat berupa penyakit ringan dimana proses pengobatan
tergolong mudah dan tidak menimbulkan tekanan psikologis bagi penderita. Tetapi ada juga
penyakit yang berbahaya dan menimbulkan gangguan emosional, salah satunya adalah penyakit
gagal ginjal kronik (Syamsuddin, 2009).
Penyakit gagal ginjal kronik terjadi karena kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan
metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang
progresif dengan manifestasi penumpukan sisa metabolisme (toksik uremik) di dalam darah
(Muttaqin, 2011). Gagal ginjal kronis merupakan salah satu penyakit terminal dan apabila tidak
mendapatkan terapi yang tepat dan sesuai maka akan menyebabkan suatu keadaan yang disebut
uremic state/ sindrome uremic yang berujung pada kematian (Lorrain, 2002). Upaya untuk
mengatasi komplikasi gagal ginjal kronik dapat dilakukan dengan berbagai terapi, salah satunya
adalah hemodialisa. Terapi hemodialisa bertujuan agar fungsi ginjal dalam membersihkan dan
mengatur kadar plasma darah digantikan oleh mesin. Proses tersebut harus dilakukan secara rutin
dan berkala oleh pasien (berkisar antara 1-3 kali seminggu), yang dianggap cukup efektif untuk
menjaga homeostasis tubuh pasien. Sampai saat ini hemodialisis masih digunakan sebagai terapi
utama dalam penanganan gagal ginjal kronik (Noer, 2012).