Anda di halaman 1dari 31

TUJUAN

Tujuan Umum:
Mahasiswa mampu melakukan prosedur klinis sesuai
masalah dan kebutuhan pasien
Tujuan khusus:
1. Mahasiswa mampu menjelaskan regio penyuntikan
intramuskular, subkutan, intrakutan dan intravena
2. Mahasiswa mengetahui alat dan bahan yang
digunakan
3. Mahasiswa

mampu

melakukan

prosedur

klinis

tindakan injeksi intramuskular, subkutan, intrakutan


dan intravena

RENCANA PEMBELAJARAN
Skill lab ini diajarkan dalam satu sesi
Prasesi
Mahasiswa menyaksikan video melalui link berikut :
http://www.youtube.com/watch?v=x2IF86N3nVM
http://www.youtube.com/watch?v=Qp2AG9JdBes
http://www.youtube.com/watch?v=U9kZozuDt1c
http://www.youtube.com/watch?v=sOo87-XACzU
dan menjawab pertanyaan (work plan) berikut :
- Pertanyaan untuk dijawab
1. Jelaskan
cara
menentukan
regio-regio
penyuntikan

intramuskular,

subkutan

dan

intrakutan serta intravena


2. Jelaskan prosedur penyuntikan intrakutan
3. Sebutkan vena apa saja yang sering dipilih
-

dalam penyuntikan intravena


Pertanyaan yang diajukan mahasiswa maksimal 3
buah per orang (Pertanyaan harus berbeda antar
mahasiswa)

Sesi Terbimbing
1. Perkenalan

(5

menit)
2. Diskusi work plan

(25

menit)
3. Mahasiswa mencoba melakukan injeksi subkutan,
intrakutan, muskular dan intravena
memberikan feedback

(70 menit)

dan

instruktur

TINJAUAN TEORI
Injeksi adalah mendorong obat ke dalam tubuh dengan
menggunakan jarum suntik. Pemberian obat dengan cara injeksi
disebut juga dengan cara parenteral. Terdapat banyak cara
injeksi, namun pada skill lab ini hanya akan dibahas beberapa
diantaranya yang sering dilakukan, yaitu:
1. Intramuscular (IM) yaitu muenyuntikkan obat ke dalam lapisan otot
tubuh
2. Subcutaneous (SC) yaitu menyuntikkan obat ke dalam jaringan
yang berada dibawah lapisan dermis.
3. Intradermal/intracutan (ID/IC) yaitu menyuntikkan obat ke dalam
lapisan dermis, dibawah epidermis
4. Intravenous (IV) yaitu menyuntikkan obat ke dalam vena
Selain keempat cara diatas, pemebrian obat secara parenteral dapat juga
sering

dilakukan

secara

intrathecal.atau

intraspinal,

intracardial,

intrapleural, intraarterial dan intraarticular.


Untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh, obat
disiapkan dan diberikan dengan menggunakan prinsip steril. Larutan obat,
jarum dan spuit yang telah terkontaminasi,akan menyebabkan terjadinya
infeksi. Obat-obat yang diberikan melalui parenteral ini diabsorbsi lebih
cepat dibandingkan obat yang diberikan melalui sistem gastrointestinal,
karena obat tidak perlu melewati barier jaringan epitel pada organ
gastrointestinal sebelum akhirnya masuk ke dalam sirkulasi darah.
Obat

intramuscular

diabsorbsi

lebih

cepat

daripada

obat

subcutaneous atau intradermal, karena otot memiliki jaringan pembuluh


darah yang lebih banyak daripada kulit atau jaringan subkutan.
Obat intracutan merupakan obat yang diabsorbsi paling lambat
karena obat harus melalui beberapa jaringan epitel sebelum akhirnya
masuk ke dalam pembuluh darah. Karena itu cara intracutan digunakan
untuk menyuntikkan zat asing untuk mengetahui reaksi organ dan
jaringan terhadap adanya alergi, yang biasa disebut skin test. Absorbsi

melalui subcutaneos relatif lambat tetapi efektif untuk absobsi sejumlah


obat yang tidak diabsorbsi melalui sistem gastointestinal.
Keuntungan pemberian obat melalui parenteral adalah obat dapat
diabsorbsi dengan cepat melalui pembuluh darah. Cara parenteral ini
dapat dilakukan jika obat tidak dapat diabsorbsi melalui sistem
gastrointestinal atau malah akan dihancurkan olehnya. Obat juga
diberikan pada pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif yang tidak
dapat atau tidak mau menelan obat oral. Disamping keuntungan diatas,
terdapat beberapa kerugian pada pemberian obat melalui parenteral ini.
Pasien, terutama anak-anak akan merasa cemas jika akan disuntuk.
Penyuntikan akan menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan tidak nyaman.
Iritasi atau reaksi lokal dapat terjadi akibat efek obat pada jaringan.
Pemberian obat melalui parenteral juga dapat menyebabkan terjadinya
infeksi,

kerena

itu

diperlukan

penggunaaan

tehnik

steril

untuk menyiapkan dan memberikan obat ini. Pemberian obat perenteral


ini merupakan kontraindikasi untuk pasien yang mengalami masalah
perdarahan atau sedang mendapatkan terapi antikoagulan.
Beberapa istilah yang sering digunakan adalah :
1. Antisepsis : proses menurunkan jumlah mikroorganisme
pada kulit dan selaput lendir atau duh tubuh lainnya
dengan menggunakan bahan antimikrobial (antiseptik)
2. Asepsis dan teknik aseptik : upaya kombinasi untuk
mencegah masuknya mikroorganisme kedalam area tubuh
manapun yang sering menyebabkan infeksi. Tujuan asepsis
adalah

menurunkan

sampai

ketingkat

aman

atau

membasmi jumlah mikroorganisme pada permukaan hidup


(kulit dan jaringan) dan objek mati (alat-alat bedah dan
barang-barang yang lain)
3. Dekontaminasi : proses yang membuat objek mati lebih
aman ditangani staf sebelum dibersihkan {umpama :
menginaktifasi

HBV

(Hepatits

Virus),

HIV

serta

menurunkan

tetapi

tidak

membasmi,

jumlah

mikroorganisme lain yang mengkontaminasi}


4. Disinfeksi tingkat tinggi (DDT) : proses menghilangkan
semua

mikroorganisme,

kecuali

beberapa

endospora

bakteri pada benda mati dengan merebus, mengukus atau


penggunaan disinfektan kimia
5. Pembersihan : proses yang secara fisik menghilangkan
semua debu, kotoran, darah atau duh tubuh lain yang
tampak pada objek mati dan membuang sejumlah besar
mikroorganisme untuk mengurangi risiko bagi mereka yang
menyentuh kulit atau menangani benda tersebut.
6. Sterilisasi : proses menghilangkan semua mikroorganisme
(bakteri, virus, jamur, parasit) termasuk endospora bakteri
pada benda mati dengan uap panas tekanan tinggi
(otoklaf), panas kering (oven) atau radiasi.
7. Aspirasi : menyedot cairan (darah) dengan jarum suntik

TEKNIK ASPIRASI
Walaupun aspirasi tidak lagi dilakukan pada metode
injeksi

subkutan,

pada

penyuntikan

intramuscular

dan

intravena prosedur ini harus dilakukan. Apabila pada injeksi


intramuscular secara tidak sengaja ujung jarum menembus
pembuluh darah, maka obat yang disuntikkan akhirnya masuk
secara intravena. Hal ini dapat mengakibatkan terbentuknya
emboli sebagai akibat reaksi komponen kimia dari obat
tersebut.
Aspirasi dilakukan dengan cara berikut: Setelah Anda
menusukkan jarum ke lokasi suntikan, pegang bagian bawah
syringe dengan tangan nondominan Anda, dan tarik bagian
tongkat syringe ke atas dengan tangan dominan. Apabila
jarum telah menembus pembuluh darah, darah akan masuk
tertarik ke dalam syringe. Apabila ini terjadi, dan tehnik injeksi
yang Anda lakukan adalah injeksi intravena, maka prosedur
yang Anda lakukan sejauh ini benar. Jarum telah memasuki
pembuluh darah, dan obat kini siap dimasukkan langsung ke
pembuluh darah balik tersebut. Apabila darah masuk tertarik,
dan teknik injeksi yang Anda lakukan adalah intramuscular,
maka

prosedur

yang

Anda

lakukan

salah.

Jarum

yang

semestinya mencapai jaringan otot rupanya bersarang di


pembuluh darah.Hal ini biasanya terjadi karena lokasi injeksi
kurang tepat. Cabut jarum dan ulangi prosedur penyuntikan
dari awal.
TEKNIK DESINFEKSI KULIT DI LOKASI SUNTIKAN
Walaupun tehnik desinfeksi kulit dengan kapas
alkohol sebelum prosedur penyuntikan sudah dikenal
luas,

pada

Misalnya

kenyataannya
menggunakan

ada
kapas

perbedaan
alkohol

temuan.
sebelum

menyuntikkan

insulin

secara

subkutan

seringkali

membuat kulit menjadi mengeras karena efek alkohol.


Para ahli berpendapat bahwa apabila pasien
tampak bersih secara fisik, dan tenaga medis juga
mengikuti standar asepsis yang benar, desinfeksi kulit
sebelum penyuntikan intramuscular adalah tidak perlu.
Dan apabila memang dipandang perlu,maka kulit itu
harus diswab dengan kapas alkohol selama 30 detik,
dan kemudian tunggu 30 detik lagi agar kulit menjadi
kering lagi. Jika injeksi dilakukan sebelum kulit kering,
masih ada kemungkinan bakteri belum mati, dan malah
bersama-sama

dengan

menginokulasi

lokasi

alkohol

bisa

saja

penyuntikan

ikut

sehingga

meningkatkan risiko infeksi.


INJEKSI INTRAMUSCULAR
Injeksi

intramuscular

adalah

tindakan

menyuntikkan obat ke dalam otot yang terperfusi baik,


sehingga

akan

mampu

memberikan

efek

sistemik

dalam waktu yang singkat, dan juga biasanya mampu


menyerap dalam dosis yang besar. Lokasi penyuntikan
harus dipertimbangkan dengan mengingat kondisi fisik
pasien,

usia

pasien,

diberikan.

Apabila

diinginkan

terdapat

dan

jumlah

pada

lokasi

obat

yang

suntikan

pembengkakan,

akan
yang

peradangan,

infeksi, ataupun terdapat lesi dalam bentuk apapun,


penyuntikan di lokasi ini harus dihindari.
Regio penyuntikan intramuskular
1. Musculus Vastus Lateralis ( pada daerah paha)
Sering dilakukan pada anak- anak terutama anak di bawah
usia 3 tahun.

Bagian ini merupakan bagian yang mudah

dilihat, biasanya untuk menentukan lokasi penyuntikan ini,


daerah paha dibagi menjadi 3 daerah sejajar sumbu
panjang paha dan penyuntikan dilakukan pada

bagian

sepertiga tengah. Pada bayi atau orang tua, kadangkadang kulit di atasnya perlu ditarik atau sedikit
dicubit untuk membantu jarum mencapai kedalaman
yang tepat. Volume injeksi ideal antara 1-5 ml (untuk
bayi antara 1-3 ml).

2. Musculus Deltoideus (otot pada lengan atas)


Bila kita akan melakukan penyuntikan pada lokasi ini,
pasien boleh dalam posisi duduk, berdiri atau berbaring,
namun lebih baik duduk.

Penyuntikan dilakukan pada

bagian tengah dari daerah segitiga terbalik yang telah kita


tentukan yaitu : Tentukan daerah processus acromion, tepat
di bawahnya merupakan dasar dari daerah segitiga tadi.
Titik pucak dari segitiga ditentukan dengan menarik garis
lurus dari bagian tegah segitiga, ke bawah sampai setinggi
lipat axilla, lokasi penyuntikan adalah tepat di tengah dari
segitiga tersebut, lebih kurang 1 sampai 2 inci di bawah
dasar dari processus acromion (gambar 5 dan gambar 6).
Hati-hati terhadap a.brachialis atau n.radialis yang

dapat terkena apabila kita menyuntik lebih jauh ke


bawah daripada yang seharusnya.
Lokasi ini mudah dilakukan pada pasien dengan otot
lengan yang terlatih atau pasien gemuk, lebih sulit dilakukan
pada pasien kurus karena otot yang tipis. Minta pasien
untuk meletakkan tangannya di pinggul (seperti gaya
seorang peragawati), dengan demikian tonus ototnya
akan berada kondisi yang mudah untuk disuntik dan
dapat mengurangi nyeri. Volume

obat yang ideal

antara 0,5-1 ml.


-

3. Musculus dorsogluteal
i.
Daerah ini merupakan

lokasi

yang

paling

sering

digunakan untuk melakukan penyuntikan intramuskuler.


Lokasi

penyuntikan

dapat

kita

tentukan

dengan

membuat garis khayal yang menghubungkan SIAS dan


os coccigis, bagi menjadi tiga bagian dan penyuntikan
dilakukan pada sepertiga lateral dari garis khayal tadi.
Cara lain adalah dengan membagi glutea menjadi 4
kuadran ( lateral atas, medial atas, lateral bawah,
medial bawah) dan lokasi penyuntikan adalah pada

kuadran
ii.
iii.

lateral

atas..

Paling

mudah

dilakukan,

namun angka terjadi komplikasi paling tinggi.


Hati-hati terhadap n.sciatus dan a.glutea superior
Volume suntikan ideal antara 2-4 ml.Minta pasien
berbaring ke samping dengan lutut sedikit fleksi

INJEKSI SUBKUTAN
Teknik ini digunakan apabila kita ingin obat yang disuntikkan
akan diabsorpsi oleh tubuh dengan pelan dan berdurasi
panjang (slow and sustained absorption). Biasanya volume
obat yang disuntikkan terbatas pada 1-2 ml per sekali suntik.
Injeksi

subkutan

dilakukan

dengan

menyuntikkan

jarum

menyudut 45 derajat dari permukaan kulit. Kulit sebaiknya


sedikit dicubit untuk menjauhkan jaringan subkutis dari
jaringan otot, terutama bila dilakukan pada daerah abdomen
atau paha. Hal ini berbahaya karena obat, misalnya insulin,
yang disuntikkan ke otot akan diserap lebih cepat oleh tubuh.
Menurut beberapa ahli, suntikan subkutan dipercaya tidak lagi

memerlukan aspirasi. Dari gambaran CT scan ditemukan


bahwa suntikan dengan tehnik subkutan hampir tidak pernah
menembus

pembuluh

darah.

Bahkan

aspirasi

pada

penyuntikan subkutan dapat meningkatkan risiko terjadinya


hematom di area subkutan.
Regio penyuntikan subkutan :
Penyuntikan subkutan dapat dilakukan pada lengan atas
daerah luar, kaki bagian atas, dan daerah sekitar pusat.
Namun perlu dihindari penyuntikan pada radius 2 cm dari
pusat.

INJEKSI INTRAVENA
Injeksi IV ada 2, yaitu : sentral dan perifer. IV perifer dibagi
menjadi 2 lagi, yaitu IV kontinu (infus) dan IV intermitten.

Penyuntikan

dapat

dilakukan

dalam

posisi

duduk

atau

berbaring.
Regio penyuntikan intravena
Penyuntikan intravena dapat dilakukan pada vena manapun,
namun terdapat beberapa vena yang sering dipakai karena
lebih mudah didapatkan.
1. Pada lengan (vena mediana cubiti / vena cephalica)
2. Pada tungkai (vena saphenosus)
3. Pada leher (vena jugularis) khusus pada anak
4. Pada kepala (vena frontalis, atau vena temporalis) khusus
pada anak
Terdapat beberapa risiko injeksi iv :

Infeksi

terutama

oleh Staphylococcus

aureus dan Candida albicans

Phlebitis : iritasi vena bukan karena infeksi bakterial

Infiltrasi : zat yang disuntikkan masuk ke jaringan


sekitar.

Embolism : gumpalan darah, massa padat atau udara


menyumbat pembuluh darah, terutama pada pemberian
central iv. Udara sebanyak 30 ml dapat mengancam
sirkulasi

darah.

Jika

sekaligus

banyak,

maka

dapat

merusak sirkulasi pulmonal dan mengancam jiwa. Udara


yang sangat besar (3-8 ml/kgBB) dapat menghentikan
jantung.
INJEKSI INTRAKUTAN
Injeksi intrakutan adalah memasukkan cairan obat langsung
pada lapisan dermis atau dibawah epidermis atau permukaan
kulit. Penyuntikan ini biasanya dilakukan dengan tujuan :
a. Test tuberkulin atau tes alergi terhadap obat-obatan tertentu
b. Pemberian vaksinasi

Regio penyuntikan intrakutan


Penyuntikan intrakutan dapat dillakukan di mana saja,
namuin beberapa daerah yang biasa digunakan adalah :
a. Lengan bawah bagian dalam
b. Dada bagian atas
c. Punggung pada area scapula

I.

PERSIAPAN
a. Persiapan pasien
1. Perkenalkan diri
2. Tanyakan identitas pasien dan cocokkan dengan catatan
medis pasien
3. Periksa catatan medis pasien untuk mengidentifikasi
pengobatan yang akan diberikan pada pasien, nama
obat dan cara pemberian
4. Lakukan informed consent ( jelaskan terlebih dahulu
mengnai tindakan yang akan dilakukan, nama obat, cara
pemberian, dosis dan kemungkinan efek samping), bila
pasien adalah anak- anak, lakukan informed consent
pada orang tuanya.
5. Meminta pasien untuk duduk/ berbaring
6. Lakukan pemeriksaan tekanan darah

(bila

belum

dilakukan)
b. Persiapan alat dan bahan
1. Kran air (jika memungkinkan)
2. Sabun (sabun cair/sabun antiseptik)
3. Handuk bersih dan kering
4. Sepasang sarung tangan (handscoen)
5. Baki instrument
6. Instrument basin dengan tutup
7. Jarum suntik (needle) steril (ukuran #23 G #25 G
(semakin besar nomor jarum ukuran lubang jarum

semakin kecil, Syringe : tergantung pada volume obat


yang akan diberikan, tersedia mulai ukuran
50,20,10,5,3,2,5,1 cc.
8. Kapas kering
9. Kassa steril (ukuran 22 cm)
10. Alkohol (70-90%)
11. Obat injeksi (dalam bentuk vital, ampul, bubuk
kering+pelarutnya)
12. Pinset sirurgis
13. Larutan dekointaminasi, isi lar. Chloride 0,5%
14. Cawan ginjal (Basin kidney/nierbecken)
15. Tempat jarum bekas
16. Tempat pembuangan sampah
17. Siapkan antidotum : adrenalin (ingat komplikasi segera
dan fatal proses penyuntikan reaksi anafilaktik,
komplikasi lain a.1 : luka, kolaps vena, infeksi : abses,
emboli)
c. Persiapan obat
Dari Vial
1. Lepaskan penutup metal pada bagian atas vial (dengan
menggunakan pinset) dan letakkan pada cawan ginjal.
2. Bersihkan bagian atas vial dengan kapas dan alkohol,
biarkan mengering.
3. Buang kapas alkohol kedalam instrumen basin.
4. Ambil jarum suntik dan lepaskan penutup jarum dengan
teknik satu tangan. Letakkan penutup jarum pada
instrumen basin.
5. Campur dengan rata obat yang terdapat pada vial.
6. Tusuk jarum pada vial.

7. Ambil vial dengan tangan kiri (tangan yang tidak


dominan) dan ambil volume yang sesuai untuk
pengobatan.
8. Periksa ada tidaknya gelembung udara pada jarum
suntik dan dikeluarkan gelembung udara tersebut.
9. Periksa ulang volume yang sesuai yang diperlukan
untuk pengobatan
10. Lepaskan jarum dari vial.
11. Masukkan jarum pada penutupnya dengan teknik satu
tangan.
12. Ganti jarum dengan yang baru dan letakkan jarum yang
telah dipergunakan sebelumnya (untuk mengambil obat
dari vial) pada instrumen basin.
Dari Ampul
1. Pastikan bahwa isi cairan obat dalam ampul terletak di
bagian bawah dari leher ampul.
2. Patahkan leher ampul dengan cara memotong leher
ampul dengan kassa steril dan patahkan dengan
menekan

jari

jempol

atau

menggunakan

pisau

pemotong botol yang biasa dipergunakan oleh bagian


farmasi.
3. Ambil jarum suntik dan lepaskan penutup jarum dengan
teknik satu tangan. Letakkan penutup jarum pada
instrumen basin.
4. Pegang ampul dengan tangan kiri (tangan yang tidak
dominan) jika memungkinkan.
5. Masukkan jarum kedalam ampul dan ambil volume obat
sesuai.
6. Tarik kembali jarum dari dalam ampul.

7. Arahkan jarum secara vertikal dan masukkan kedalam


penutupnya.
8. Keluarkan gelembung udara dalam syringe.
9. Cek ulang secara tepat volume obat yang diberikan.
10. Lepaskan jarum dari syringe dengan teknik satu tangan.
11. Letakkan syringe dan jarumnya pada instrument basin
II.PROSEDUR KERJA
a. Injeksi Intramuskular
1. Periksa kembali vial atau ampul untuk mengecek label
obat yang akan diberikan dan lakukan penghitungan
kembali dosis yang diperlukan.
2. Secara santun konfirmasi ulang kepada pasien/bantu
pasien menyingkirkan tempat yang akan dilakukan
penyuntikan.
3. Cuci tangan steril dan pakai sarung tangan
4. Tentukan daerah penyuntikan dengan tepat, identifikasi
daerah penyuntikan secara anatomis dengan tangan
kiri (tangan yang tidak dominan).
5. Lakukan peregangan pada area

tersebut

dengan

gentle.
6. Bersihkan area tersebut dengan kapas dan alkohol,
biarkan mengering.
7. Lepaskan penutup jarum, letakkan penutupnya pada
instrument basin.
8. Tekan dan tarik sedikit kulit pada daerah penyuntikan,
dengan

menggunakan

tangan

kiri

pertahankan

sebentar.
9. Suntikkan jarum membentuk 90O pada daerah yang
telah diidentifikasi untuk dilakukan penyuntikan dengan
menggunakan tangan kanan sambil melepaskan secara
perlahan pegangan pada tangan kiri tadi. Masukkan
jarum dengan arah tegak lurus sampai bagian jarum
masuk ke dalam otot.

10.

Pastikan

bahwa

ujung

jarum

tidak

mengenai

pembuluh darah dengan melakukThe an aspirasi.


11. Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan
seluruh obat dalam syringe.
12. Tarik jarum suntik kembali keluar dengan cepat, usap
dan lakukan massage (jika diperlukan) pada area
penyuntikan dengan kapas alkohol.
13.

Evaluasi keadaan pasien selama beberapa saat,

untuk melihat tanda ada tidaknya efek samping yang


ditimbulkan.
b. Injeksi Subcutan
1. Periksa kembali vial atau ampul untuk mengecek label
obat yang akan diberikan (untuk ketiga kalinya) dan
lakukan penghitungan kembali dosis yang diperlukan.
2. Jelaskan sekali lagi bahwa kita akan melakukan
penyuntikan.
3. Secara santun konfirmasi ulang kepada pasien/bantu
pasien menyingkirkan tempat yang akan dilakukan
penyuntikan.
4. Cuci tangan steril (cara biasa; baca pedoman tindakan
asepsis antisepsis) dan pakai sarung tangan (baca
kembali pedoman pemasangan sarung tangan steril)
5. Tentukan daerah penyuntikan dengan tepat, identifikasi
daerah penyuntikan secara anatomis dengan tangan
kiri (tangan yang tidak dominan).
6. Angkat sedikit kulit dengan cubitan ringan oleh tangan
kiri
7. Bersihkan area tersebut dengan kapas dan alkohol,
biarkan mengering.
8. Lepaskan penutup jarum, letakkan penutupnya pada
instrument basin.

9. Tekan dan tarik sedikit kulit pada daerah penyuntikan,


dengan

menggunakan

tangan

kiri

pertahankan

sebentar
10. Suntikkan jarum membentuk 45O pada daerah yang
telah diidentifikasi untuk dilakukan penyuntikan dengan
menggunakan tangan kanan sambil melepaskan secara
perlahan pegangan pada tangan kiri tadi.
11. Pastikan bahwa ujung jarum tidak mengenai pembuluh
darah dengan melakukan prosedur sbb : Lakukan
aspirasi dengan cara menarik pendorong jarum suntik
(plunger), jika darah mengisi syringe, atur kembali
kedalaman invasi jarum, kemudian lakukan aspirasi
kembali (tarik kembali plunger), jika tidak terdapat
darah pada syringe maka dapat dilanjutkan prosedur
berikutnya.
12. Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan
seluruh obat dalam syringe.
13. Tarik jarum suntik kembali keluar dengan cepat, usap
dan lakukan massage (jika diperlukan) pada area
penyuntikan dengan kapas alkohol.
14. Jika darah keluar dari tempat penyuntikan, bersihkan
dan

lakukan

penekanan

dengan

gentle

daerah

penyuntikan dengan kapas steril.


15. Katakan pada pasien bahwa prosedur penyuntikan
telah

selesai,

dampingi

dan

bantu

pasien

untuk

mengenakan kembali pakaiannya, evaluasi keadaan


pasien selama beberapa saat, untuk melihat tanda ada
tidaknya efek samping yang ditimbulkan.
c. Injeksi Intracutan
1. Siapkan peralatan ke dekat pasien
2. Mencuci tangan dengan baik dan benar
3. Memakai sarung tangan dengan baik

4. Posisikan pasien dan bebaskan daerah yang akan


disuntik dari pakaian pasien
5. Memasukkan obat kedalam spuit sesuai dosis dengan
teknik septik dan aseptic
6. Menentukan daerah yang akan disuntik (misalnya di
lengan bawah volar, lengan atas (M. Deltoideus),
punggung, dll)
7. Melakukan desinfeksi menggunakan kapas alkohol pada
daerah yang akan disuntik dan biarkan kering sendiri
8. Memasukkan jarum dengan posisi tepat yaitu lubang
jarum menghadap keatas, jarum dan kulit membentuk
sudut 10-15 .
9. Masukkan obat

secara

perlahan

hingga

muncul

gelembung
10. Tarik jarum dan tidak menekan bekas suntikan

d. Injeksi Intravena
1. Siapkan peralatan ke dekat pasien
2. Mencuci tangan dengan baik dan benar
3. Memakai sarung tangan dengan baik
4. Posisikan pasien dan bebaskan daerah yang akan
disuntik dari pakaian pasien of the
5. Memasukkan obat kedalam spuit sesuai dosis dengan
teknik septik dan aseptic
6. Menentukan daerah yang akan disuntik
7. Memasang tourniquet 10 cm diatas vena yang akan
disuntik sampai vena terlihat jelas
8. Melakukan desinfeksi menggunakan kapas alkohol pada
daerah yang akan disuntik dan biarkan kering sendiri

9. Memasukkan jarum dengan posisi tepat yaitu lubang


jarum menghadap keatas, jarum dan kulit membentuk
sudut 20 .
10. Lakukan aspirasi yaitu tarik penghisap sedikit untuk
memeriksa apakah jarum sudah masuk kedalam vena
yang ditandai dengan darah masuk kedalam tabung
spuit (saat aspirasi jika ada darah berarti jarum telah
masuk kedalam vena, jika tidak ada darah masukkan
sedikit lagi jarum sampai terasa masuk di vena)
12. Buka tourniquet dan anjurkan pasien membuka
kepalan tangannya, masukkan obat secara perlahan
jangan terlalu cepat
13. Tarik jarum keluar setelah obat masuk (pada saat
menarik jarum keluar tekan lokasi suntikan dengan
kapas alkohol agar darah tidak keluar )

III. SETELAH PENYUNTIKAN


1. Isi jarum suntik bekas pakai dengan lar. Chloride 0,5% dan
potong jarum, masukkan kedalam tempat jarum bekas.
2. Masukkan peralatan lainnya (termasuk kapas, kassa steril)
kedalam lar. Chloride 0,5%.
3. Rendam kedua tangan kedalam lar. Chloride 0,5% selama
beberapa menit, kemudian lepaskan kedua sarung tangan
dengan cara skin to skin, glove to glove.
4. Cuci tangan.

5. Keringkan dengan handuk.


6. Lengkapi data pada catatan medik pasien

SKENARIO KLINIS
Ibu Ani, 35 tahun,

datang ke poliklinik KB untuk berkonsultasi

tentang kontrasepsi, anda seorang dokter umum yang sedang


bertugas

di

poli

tersebut.

Setelah

berdiskusi,

Ibu

Ani

memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi suntik KB 3 bulan


(Depoprogestin).

Lakukan

informed

consent

dan

injeksi

Depoprogestin secara lege artis (kasus 1)


Bayi Bintang, 1 bulan, dibawa ibunya ke Puskesmas untuk
imunisasi BCG. Anda sebagai dokter umum di Puskesmas
tersebut. Ibu Bintang bertanya apakah anaknya bisa mendapat
imunisasi BCG hari ini. Lakukan informed consent dan injeksi
imunisasi BCG secara lege artis (kasus 2)
An. Daffa, 6 tahun, siswa kelas 1 SD sedang dirawat inap karena
menderita

bronkopneumonia.

Anda

sebagai

dokter

jaga

ditugaskan untukmelakukan skin test sebelum memasukkan obat


berupa antibiotik. Lakukan informed consent dan injeksi skin test
antibiotik secara lege artis (kasus 3)
Tn Ali, 45 tahun, menderita DM tipe II sejak 10 tahun yang lalu.
Saat ini Tn Ali dirawat di RS dan mendapat terapi insulin 3x8 IU
(0,8cc). Lakukan informed consent dan injeksi insulin secara lege
artis (kasus 4)

REFERENSI

1. http://medicomedisch.wordpress.com/2010/11/19/carapemberian-injeksi/
2. http://nursingstandard.rcnpublishing.co.uk/archive/articleintramuscular-injection-techniques
3. http://nursingstandard.rcnpublishing.co.uk/archive/articlesafe-injection-techniques-2623
4. http://yunitapuspitasari.files.wordpress.com/2010/05/tehnik
_injeksi.pdf

CHECKLIST
I. PENYUNTIKAN INTRAMUSKULAR

No.

SKOR
0 1 2

KRITERIA

1.

Mengucapkan salam & memperkenalkan diri

2.

Melakukan informed consent


-

Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan.


Menanyakan
riwayat
alergi
dan
penyakit

sekarang
Melihat apakah ada luka atau infeksi di lokasi

3.
4.
5.

penyuntikan
Menentukan posisi pasien
Mempersiapkan alat dan bahan sesuai skenario
Mempersiapkan obat (vial/ ampul), menarik cairan obat

6.

dari dalam ampul ke dalam spuit yang sesuai


Mengganti needle yang telah digunakan

7.

mengambil obat dengan needle baru


Mempersilahkan pasien utnuk membuka

untuk
pakaian

seperlunya agar lokasi penyuntikan terlihat dengan


8.
9.

jelas.
Cuci tangan (cara biasa) dan memakai handscoen
Melakukan tindakan asepsis antisepsis pada lokasi

10.

penyuntikan
Regangkan

11.

penyuntikan,dengan menggunakan tangan kiri


Suntikkan jarum membentuk 90O dengan tangan kanan

sedikit

kulit

pada

daerah

sambil melepaskan secara perlahan pegangan pada


tangan kiri. Arah tegak lurus sampai bagian jarum
masuk ke dalam otot
12. Melakukan aspirasi untuk memastikan jaru.m
13.

tidak mengenai pembuluh darah


Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan
obat dalam syringe (sesuai dosis)
suntik kembali keluar dengan cepat

dan tarik jarum

14.
15.
16.
17.

Usap area penyuntikan dengan kapas alkohol


Tutup kembali pakaian pasien
Membuang jarum dan spuit pada disposal container
Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan
Total skor

Keterangan :
0 : tidak melakukan
1 : melakukan dengan tidak sempurna
2 : melakukan dengan sempurna

II. PENYUNTIKAN SUBKUTAN

No.

SKOR
0 1 2

KRITERIA

1.

Mengucapkan salam & memperkenalkan diri

2.

Melakukan informed consent


-

Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan.


Menanyakan
riwayat
alergi
dan
penyakit

sekarang
Melihat apakah ada luka atau infeksi di lokasi

3.
4.
5.

penyuntikan
Menentukan posisi pasien
Mempersiapkan alat dan bahan sesuai skenario
Mempersiapkan obat (vial/ ampul), menarik cairan obat

6.

dari dalam ampul ke dalam spuit yang sesuai


Mengganti needle yang telah digunakan

7.

mengambil obat dengan needle baru


Mempersilahkan pasien utnuk membuka

untuk
pakaian

seperlunya agar lokasi penyuntikan terlihat dengan


8.
9.

jelas.
Cuci tangan (cara biasa) dan memakai handscoen
Melakukan tindakan asepsis antisepsis pada lokasi

10.

penyuntikan
Cubit sedikit kulit pada daerah penyuntikan,dengan

11.

menggunakan tangan kiri


Suntikkan jarum membentuk 45O dengan tangan kanan
sambil melepaskan secara perlahan pegangan pada

tangan kiri.
12. Melakukan
13.

aspirasi

untuk

memastikan

tidak mengenai pembuluh darah


Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan
obat dalam syringe (sesuai dosis)

14.
15.
16.

jarum

dan tarik jarum

suntik kembali keluar dengan cepat


Usap area penyuntikan dengan kapas alkohol
Tutup kembali pakaian pasien
Membuang jarum dan spuit pada disposal container

17.

Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan


Total skor

Keterangan :
0 : tidak melakukan
1 : melakukan dengan tidak sempurna
2 : melakukan dengan sempurna

III. PENYUNTIKAN INTRADERMAL

No.

SKOR
0 1 2

KRITERIA

1.

Mengucapkan salam & memperkenalkan diri

2.

Melakukan informed consent


-

Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan.


Menanyakan
riwayat
alergi
dan
penyakit

sekarang
Melihat apakah ada luka atau infeksi di lokasi

3.
4.
5.

penyuntikan
Menentukan posisi pasien
Mempersiapkan alat dan bahan sesuai scenario
Mempersiapkan obat (vial/ ampul), menarik cairan obat

6.

dari dalam ampul ke dalam spuit yang sesuai


Mengganti needle yang telah digunakan

7.

mengambil obat dengan needle baru


Mempersilahkan pasien utnuk membuka

untuk
pakaian

seperlunya agar lokasi penyuntikan terlihat dengan


8.
9.

jelas.
Cuci tangan (cara biasa) dan memakai handscoen
Melakukan tindakan asepsis antisepsis pada lokasi

10.

penyuntikan
Regangkan

11.

penyuntikan,dengan menggunakan tangan kiri


Suntikkan jarum membentuk 10-15O dengan tangan

sedikit

kulit

pada

daerah

kanan sambil melepaskan secara perlahan pegangan


12.

pada tangan kiri.


Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan
obat dalam syringe (sesuai dosis)

hingga muncul

gelembung dan tarik jarum suntik kembali keluar

13.
14.
15.

dengan cepat
Usap area penyuntikan dengan kapas alkohol dengan
tidak menekan bekas suntikan
Tutup kembali pakaian pasien
Membuang jarum dan spuit pada disposal container

16.

Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan


Total skor

Keterangan :
0 : tidak melakukan
1 : melakukan dengan tidak sempurna
2 : melakukan dengan sempurna

IV. PENYUNTIKAN INTRAVENA

No.

SKOR
0 1 2

KRITERIA

1.

Mengucapkan salam & memperkenalkan diri

2.

Melakukan informed consent


-

Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan.


Menanyakan
riwayat
alergi
dan
penyakit

sekarang
Melihat apakah ada luka atau infeksi di lokasi

3.
4.
5.

penyuntikan
Menentukan posisi pasien
Mempersiapkan alat dan bahan sesuai skenario
Mempersiapkan obat (vial/ ampul), menarik cairan obat

6.

dari dalam ampul ke dalam spuit yang sesuai


Mengganti needle yang telah digunakan

7.

mengambil obat dengan needle baru


Mempersilahkan pasien utnuk membuka

untuk
pakaian

seperlunya agar lokasi penyuntikan terlihat dengan


8.
9.

jelas. Pasang torniquet (IV).


Cuci tangan (cara biasa) dan memakai handscoen
Melakukan tindakan asepsis antisepsis pada lokasi

10.

penyuntikan
Regangkan (IC, IM, IV) atau cubit (SC) sedikit kulit pada

11.

daerah penyuntikan,dengan menggunakan tangan kiri


Suntikkan jarum membentuk 20O dengan tangan kanan
sambil melepaskan secara perlahan pegangan pada

tangan kiri.
12. Melakukan

aspirasi

untuk

memastikan

jarum

13.

telah masuk pembuluh darah


Buka tourniquet dan anjurkan pasien membuka kepalan

14.

tangannya
Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan
obat dalam syringe (sesuai dosis)

15.

dan tarik jarum

suntik kembali keluar dengan cepat


Usap area penyuntikan dan tekan dengan kapas alkohol

16.
17.
18.

Tutup kembali pakaian pasien


Membuang jarum dan spuit pada disposal container
Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan
Total skor

Keterangan :
0 : tidak melakukan
1 : melakukan dengan tidak sempurna
2 : melakukan dengan sempurna