Anda di halaman 1dari 2

SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU

Bicara tentang kesuksesan berarti bicara soal pencapaian. Banyak orang mengira sukses
bermakna sekolah di tempat idaman banyak orang, kuliah dengan nilai super memuaskan, lulus tepat
pada waktunya, mendapatkan pekerjaan mapan dengan gaji ber-nol banyak, lalu menikah dengan
orang dengan kriteria serupa. Tidak. Untuk saya, makna sukses tidaklah senaif itu.
Dalam hidup, setiap orang pasti ingin hidup berkecukupan dan serba mudah. Pun, saya
membayangkan hidup pasti akan lebih menyenangkan bila mendapatkan kemapanan semacam itu.
Namun, hidup penuh kejutan, dan seringkali tak sesuai wacana. Sukses, berarti mampu untuk
melewati semua dan bangkit menjadi manusia yang lebih kuat dari sebelumnya.
Selama kuliah, saya terbilang cukup aktif berinteraksi dengan rekan sejawat maupun dosen
pengajar. Forum yang saya geluti, Forum Studi Sains dan Teknologi (FS2T), mengajarkan saya banyak
hal baru yang amat menyenangkan. Belum pernah saya menemui puluhan orang dengan passion sains
tingkat tinggi berdebat membicarakan hal yang sulit menjadi nyata, namun sangat layak coba.
Disamping diskusi seru tentang perkembangan sains dan teknologi, mereka juga memberikan
perkawanan karib sehingga kami bisa bercerita tentang apapun hingga lupa waktu. Menjadi ketua
pelaksana National Scientific Paper Competition (NSPC) mengajarkan bagaimana caranya bersosialisasi
dengan rekan kerja, lobbying, membuat kesepakatan, mengambil keputusan dikala genting, dan
memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk membuat acara berkelas nasional. Bukan berarti
semua itu dapat terlewati tanpa halangan: banyak sekali. Dari merekalah saya banyak belajar
memaknai bahwa tabir antara kegagalan dan kesuksesan itu sangatlah tipis.
Semester 5 merupakan masa yang sangat berkesan untuk saya. Berhasil menjadi salah satu
penerima beasiswa yang diberikan oleh Djarum Foundation, kembali, saya dipertemukan dengan
ratusan orang jenius dengan beragam latar belakang pendidikan dan budaya dari seantero negeri.
Berbagai macam pelatihan tentang kebangsaan, karakter, dan kepemimpinan yang diberikan telah
banyak memperbaiki pola pikir saya yang awalnya skeptis menjadi lebih peduli dan terhadap
kemajuan bangsa. Beswan, begitu kami dipanggil, kembali diuji kemampuannya dalam berbagai
perlombaan, seperti lomba karya tulis ilmiah dan kompetisi blog, untuk mencari yang paling baik
diantara yang terbaik. Sayapun mengambil peran dalam kompetisi tersebut, namun apa dikata,
ternyata kemampuan saya masih jauh dibawah rekan-rekan Beswan yang lain. Pengalaman tersebut
memberi pelajaran: jangan lekas berpuas diri dalam sebuah pencapaian, karena mereka yang lekas
puas akan tertinggal dengan mereka yang terus berlari meraih kesuksesan yang lebih besar.

Sukses Terbesar dalam Hidupku | Putranty Widha Nugraheni

Selepas kuliah, saya segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan program master. Berbagai
persiapan pun saya lakukan. Mulai dari riset berbagai universitas tujuan yang mengakomodasi jurusan
impian saya, memperbaiki kemampuan berbahasa, memburu surat rekomendasi dari dosen-dosen
terbaik di jurusan saya, dan melamar ke universitas impian. Proses tersebut memakan waktu yang
cukup lama. Sampai akhirnya kabar gembira pun datang: unconditional offer datang kepada saya.
Sayapun bergegas mendaftar ke belasan penyedia beasiswa, karena berat bagi saya kuliah ke luar
negeri tanpa beasiswa. Apa daya, kualitas berbahasa saya dibawah standar yang ditetapkan. Alhasil,
saya pun menunda keinginan untuk meraih master secepat mungkin.
Sembari menunggu kesempatan kembali datang, sayapun tidak tinggal diam. Saya
pmenyibukkan diri dengan mengajar di sebuah lembaga belajar, sekolah, dan seringkali menjadi guru
privat. Saya pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan volunteer,
seperti Young on Top, Swayanaka Indonesia, dan 1000 Guru, yang memberi saya banyak pengalaman
baru di luar kegiatan kuliah. Akhir Maret lalu, saya berkesempatan mengajar MI Al-Ikhlas, sebuah
sekolah di daerah terpencil di selatan Kabupaten Malang. Berbagai keterbatasan tidak memadamkan
semangat belajar yang ditebarkan oleh anak-anak di sana. Cita-cita mereka juga tidak kalah tinggi
dengan anak-anak di perkotaan. Senyum dan tatapan lugu mereka sungguh menggugah hati saya
untuk kembali mengingat cita-cita saya yang tidak kalah tingginya dengan mereka. Faktanya,
keterbatasan tidak akan pernah mampu merendahkan cita-cita. Akhirnya saya menyadari: menunggu
tidak selamanya sia-sia.
Berbagai pelajaran tersebut memberikan saya pelajaran. Belajar memaknai, bahwa sukses
bukanlah soal materi dan kemapanan belaka, namun bagaimana kita bisa tetap bangkit dan terus
berlari meskipun terjatuh puluhan kali. Tetap berusaha tegak meskipun kegagalan menerpa ratusan
kali, serta berani menggantung mimpi yang tinggi, karena saya percaya, bila saya belum takut untuk
meraih mimpi, berarti mimpi saya belum cukup besar. Pun, tak ada yang tahu doa mana yang akan
dikabulkan dan usaha mana yang akan diterima. Keduanya sama: perbanyak.
Jadi, sukses terbesar dalam hidupku?
Bisa kembali menegakkan kepala setelah puluhan kali terjatuh dengan bekal pembelajaran
yang baik sehingga jauh lebih siap untuk menghadapi terpaan berikutnya.

Sukses Terbesar dalam Hidupku | Putranty Widha Nugraheni