Anda di halaman 1dari 36

Open Fraktur Segmental

Left Tibia et Fibula


LAPORAN KASUS
Dikerjakan Oleh:
Frank D.E Runtuboi
1

PENDAHULUAN
BAB I

LATAR BELAKANG
Trauma

suatu keadaan dimana seseorang mengalami cedera oleh


sesuatu sebab.

Penyebab trauma KLL, indunstri, olahraga, & trauma rumah tangga.


Setiap tahun 60 juta penduduk di AS mengalami trauma & 50

%
memerlukan tindakan medis, 3,6 juta (12% dr 30 juta) membutuhkan
perawatan dirumah sakit & menghabiskan biaya sekitar 100 milyar dolar
(40%) dari biaya kesehatan di amerika serikat. Didapat 300 ribu orang
menderita kecacatan yang menetap (1%) kematian sebanyak 145 ribu orang
pertahun (0,5%).

Di Indonesia kematian akibat KLL sekitar 12 ribu orang pertahun

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
BAB II

ANATOMI TIBIA FIBULA

DEFINISI FRAKTUR
Fraktur hilangnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan
sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang
parsial
Fraktur kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan
membengkok, memutar dan tarikan
7

KLASIFIKASI
Klasifikasi Etiologi
Klasifikasi Klinis
Klasifikasi Radiologis
8

MANIFESTASI KLINIS

ANAMNESIS
Biasanya pasien dtg dgn suatu trauma baik yg hebat maupun trauma ringan
& diikuti dgn ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak

Pasien biasanya dtg karena, adanya nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi


anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau datang dengan
gejala-gejala lain.

MANIFESTASI KLINIS

PEMERIKSAAN FISIK
Syok, anemia atau perdarahan
Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sum-sum tulang belakang,
atau organ-organ dalam rongga thoraks, panggul dan abdomen.
Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
10

MANIFESTASI KLINIS

PEMERIKSAAN STATUS LOKALIS


Inspeksi (Look)
Palpasi (Feel)
Pergerakan (Move)
11

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
Tomografi, misalnya pada fraktur vertebra atau pada fraktur kondilus tibia
CT Scan
MRI
Radioisotop scanning
12

PENATALAKSANAAN FRAKTUR TERTUTUP


Konservatif
Reduksi tertutup dengan fiksasi eksterna atau fiksasi perkutaneus dengan
K-Wire
Reduksi terbuka dan fiksasi interna atau fiksasi eksterna tulang
Eksisi fragmen tulang & penggantian dengan prostesis
13

PENATALAKSANAAN FRAKTUR TERBUKA


Pembersihan luka
Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debrideman)
Pengobatan fraktur itu sendiri
Penutupan kulit
Pemberian antibiotik
Pencegahan tetanus
14

LAPORAN KASUS
BAB III

15

IDENTITAS
Nama

: Tn. FW

No. DM

: 38 46 56

Umur

: 22 tahun

Alamat

: Tanah Hitam

Pekerjaan

: Swasta

Agama

: Islam

TMRS

: 11 Maret 2015
16

ANAMNESIS

MECHANISM OF INJURY
Pasien dtg dgn KU luka di kaki kiri post KLL pd tgl 9/3/2015 jam 15.00
Wit. Pasien mengendarai motor & tergelincir dan keluar jalur lalu
menabrak pohon.
Saat menabrak pohon, kaki kiri pasien yg pertama terbentur dgn
pohon. Saat kejadian pasien dlm keadaan sadar, mual & muntah (-),
pingsan (-). Saat terjadi kecelakaan pasien tdk dlm pengaruh alkohol.
17

PRIMARY SOURVEY
Airway

: Bebas, pasien dapat berbicara jelas (CLEAR).

Breathing

: Dada simetris, jejas (-), retraksi (-), RR 20/min, deviasi trakea (-).

Circulation

: Nadi 84/min, TD 120/80 mmHg, CRT < 3 detik.

Disabillity

: Kesadaran : Alert

Exposure
: SB 36,9 C, Regio pedis sinistra Look: Deformitas (+), edema (+), tampak
vulnus laceratum (+), Feel: Nyeri (+), Hangat (+), Move: Terbatas karena nyeri
18

SECONDARY SOURVEY
KU luka di kaki kiri post kecelakaan lalu lintas pada tanggal 9 maret 2015

RPS Pasien dtg dgn KU luka di kaki kiri post KLL pd tfl 9/3/2015 jam 15.00 Wit. Menurut
Pasien, pasien mengendarai motor dgn kecepatan 60 km/jam saat hendak membelok di
tikungan pasien tergelincir & terjatuh sambil terseret dgn motor keluar jalur lalu menabrak
pohon. Saat menabrak pohon, kaki kiri pasien yg bertama bersentuhan dgn pohon. Saat
kejadian pasien dlm keadaan sadar, mual dan muntah (-), pingsan (-). Saat terjadi
kecelakaan pasien tdk dlm pengaruh alkohol. Makan/minum baik, BAB/BAK baik. Pasien
sempat dirujuk ke RS Bhayangkara tetapi ditolak krn tdk mampu membayar biaya
administrasi sehingga pasien akhirnya dirujuk ke RSUD Dok II Jayapura. Pasien tiba di RSUD
Dok 2 Jayapura tanggal 11 maret 2015 jam 18.00 Wit
19

STATUS GENERALIS & LOKALIS

/
Status Generalis Ca (+/+), udem extremitas ( )
/+

Status Lokalis Regio cruris sinistra: Look: Deformitas (+),


edema (+), tampak vulnus laceratum (+), Feel
: Nyeri (+),
Hangat (+) Pulsasi A. Dorsalis Pedis (+), Move: Terbatas
20

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tanggal

12/3/2015

Jenis Pemeriksaan

Hasil

WBC

10.03 mm3

HGB

8,9 g/dL

HCT

26,3 %

PLT

171.000

RBC

3,14

CT

730

BT

300

21

PEMERIKSAAN
RADIOLOGIS

22

DIAGNOSA

Open Fraktur Segmental


Tibia et fibula (s) grade IIIA
23

PENATALAKSANAAN
IVFD RL 20 tetes/min makro
Inj. Ketorolac 3 x 1 amp (iv)
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg (iv)
Inj. Kalnex 3 x 1 amp (iv)
Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr (iv)

Pasang back slab


24

PEMBAHASAN
BAB IV

25

PEMBAHASAN
Untuk menentukan suatu diagnosis pd kasus trauma, membutuhkan
ketelitian saat memeriksaan awal ketika pasien datang, hasil anamnesis &
pemeriksaan fisik yg baik akan membantu menentukan keberhasilan dari
tindakan yg akan diambil
Dari anamnesis yg dilakukan bahwa pasien mengalami trauma karena
KLL pd daerah tungkai bawah sebelah kiri. Dan saat kejadian, menurut
pasien sendiri terjadi banyak perdarahan dari luka tersebut
26

PEMBAHASAN
Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera
yang terstandar untuk mengurangi resiko infeksi

Primary sourvey pada pasien ini berupa penilaian keadaan pasien dan prioritas terapi
didasarkan jenis perlukaan, tanda-tanda vital dan mekanisme trauma. Pada pasien yang
terluka parah, terapi diberdasarkan prioritas. Tanda vital pasien harus dinilai secara cepat dan
efisien.

Pengelolaan pasien berupa primary sourvey yang cepat dan kemudian resusitasi, secondary
sourvey dan akhirnya terapi deinitif
27

PEMBAHASAN
Proses ini bertujuan untuk mengenali keadaan yg mengancam nyawa terlebh dahulu, dgn berpatokan pd
urutan berikut:
1) airway, menjaga airway dengan kontrol servikal,
2) breathing, menjaga pernapasan dengan ventiilasi,
3) circulation, dengan kontrol perdarahan
4) disabillity, yaitu dengan menilai status neurologis,
5) expossure/enviromental control, buka baju pasien, sambil kita mencegaah hipotermi. Selama primary
sourvey keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali, dan resusitasinya dilakukan saat itu juga.
28

PEMBAHASAN
Dari

pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit


sedang, kesadaran pasien compos mentis. TD 120/80 mmHg, Nadi 84/min,
Respirasi 20/min dan Suhu badan 36,8C. Untuk status interna didapatkan
konjungtiva anemis dan edema pada tungkai sebelah kiri.

Teori pd pasien-pasien dgn fraktur, terutama fraktur pada tulang panjang


seperti femur & tibia dapat menyebabkan kehilangan darah sampai 1500 cc.
Sehingga pada keadaan seperti ini dapat menyebabkan anemia pada
pasien-pasien yang mengalami fraktur.
29

PEMBAHASAN

Dari pemeriksaan pada status lokalis didapatkan Regio cruris sinistra : Look:
tampak terbalut elastic verban (+), edema (+), Feel: Nyeri (+), Hangat (+), Move:
Terbatas karena nyeri.
Teori pd pasien2 dgn fraktur terbuka pd pemeriksaan fisik akan didapatkan pd
inspeksi (look) adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan, deforitas
berupa angulasi, rotasi dan kependekan. Pd palpasi temperatur yang
meningkat & adanya nyeri tekan. Sedangkan pd pergerakan (move) penderita dgn
fraktur setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan
tidak boleh dilakukan secara kasar, kerusakan pada jaringan lunak seperti
pembuluh darah & saraf.
30

PEMBAHASAN
Untuk

menegakan diagnosis suatu fraktur sebenarnya berdasarkan


pemeriksaan fisik & mpemerikaan status lokalis kita sudah mencurigai
adanya suatu fraktur pada ekstremitas yang bersangkutan.

Tetapi

untuk menentukkan letak fraktur, & konfigurasi fraktur maka


dibutuhkan pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen ekstremitas yg
bersangkutan.

Berdasarkan hasil rontgen pasien ini didapatkan fraktur pd

tulang tibia &

fibula dgn konfigurasi frakur yaitu segmental


31

PEMBAHASAN
Untuk

penatalaksanaan pada pasien ini adalah luka pasien dibersihkan


dengan membuang jaringan-jaringan yang sudah mati. Lalu dilakukan
pengobatan fraktur itu sendiri berupa reduksi terbuka dengan pemasangan
fiksasi eksterna

32

Hal ini sesuai dengan teori bahwa. Tahap-tahap pengobatan fraktur terbuka
terdiri dari:

33

PENUTUP
BAB V

34

KESIMPULAN
Untuk menentukan suatu diagnosis pada kasus trauma pada ekstremitas
yang menyebabkan fraktur, membutuhkan ketelitian saat pemeriksaan awal
ketika pasien datang, hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang didapat
membantu menentukan keberhasilan dari tindakan yang akan diambil.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
yang di temukan pasien didiagnosis dengan Open fraktur segmental Tibia
et Fibula (s) grade III A.
35

36