Anda di halaman 1dari 37

GEODAS

SIKLUS BATUAN
Berdasarkan pengetahuan tentang batuan beku, sedimen dan metamorf serta proses
pembentukannya maka menjadi semakin jelas hubungan jenis batuan satu dengan lainnya.
Setelah membahas tentang macam-macam batuan menurut terjadinya maka dapat dibuat
skema atau siklus batuan mulai dari magma yang membeku menjadi batuan beku kemudian
mengalami pelapukan dan erosi, mengalami pengendapan menjadi batuan sedimen selanjutnya
mengalami perubahan bentuk menjadi batuan metamorf.

Berdasarkan mekanisme daur batuan di alam dapat diuraikan sebagai berikut :


Magma mengalami proses pendinginan terjadi kristalisasi membentuk batuan beku.
Batuan beku mengalami pelapukan tererosi, terangkut dalam bentuk larutan ataupun tidak larut,
diendapkan, sedimentasi membentuk batuan sedimen. Ada pula yang langsung mengalami
perubahan bentuk menjadi batuan metamorf.
Batuan sedimen dapat mengalami perubahan baik secara kontak, dynamo dan hidrotermik akan
mengalami perubahan bentuk dan menjadi batuan metamorf.
Batuan metamorf yang mencapai lapisan bumi yang suhunya tinggi mungkin berubah lagi
menjadi magma lewat proses magmatisasi.
JENIS PELAPUKAN BATUAN

Pelapukan atau weathering (weather) merupakan perusakan batuan pada kulit bumi karena
pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin). Karena itu pelapukan adalah
penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan menjadi
hancur atau larut dalam air. Pelapukan dibagi dalam tiga macam, yaitu pelapukan mekanis,
pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis.
a. Pelapukan fisik dan mekanik.
Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun ukuranya. Batuan
yang besar menjadi kecil dan yang kecil menjadi halus. Pelapukan ini di sebut juga pelapukan
mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik. Penyebab terjadinya pelapukan mekanik
yaitu:
1. Adanya perbedaan temperatur yang tinggi. Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang
beriklim kontinental atau beriklim Gurun di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat
mencapai 50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi mengembang,
pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus
menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
2. Adanya pembekuan air di dalam batuan
Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan
tekanan, karena tekanan ini maka batuan menjadi rusak atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi
di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.
3. Berubahnya air garam menjadi kristal.
Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan garam akan
mengkristal. Kristal garam garam ini tajam sekali dan dapat merusak batuan pegunungan di
sekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai.
b. Pelapukan organik
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan dan manusia, binatang yang
dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga. Dibatu-batu karang daerah pantai
sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh
tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu
berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah
disekitarnya.Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar-akar serat
makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman
mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan
pohon, pembangunan maupun penambangan.

c. Pelapukan kimiawi
Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa
pengelupasan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst).
Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak
mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO2).
Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst. Di Indonesia pelapukan
yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonasia banyak turun hujan.
Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi. Gejala atau bentuk - bentuk
alam yang terjadi di daerah karst diantaranya:
a. Dolina
Dolina adalah lubang lubang yang berbentuk corong. Dolina dapat terjadi karena erosi
(pelarutan) atau karena runtuhan. Dolina terdapat hampir di semua bagian pegunungan kapur di
jawa bagian selatan, yaitu di pegunungan seribu.
b. Gua dan sungai di dalam Tanah
Di dalam tanah kapur mula-mula terdapat celah atau retakan. Retakan akan semakin besar dan
membentuk gua-gua atau lubang-lubang, karena pengaruh larutan.Jika lubang-lubang itu
berhubungan, akan terbentuklah sungai-sungai di dalam tanah. Contoh Goa Cemplong di
Parangtritis ( besok kalian akan melihat disana )
c. Stalaktit adalah kerucut kerucut kapur yang bergantungan pada atap gua. Terbentuk dari kapur
yang tebal akibat udara masuk dalam gua. Stalakmit adalah kerucut-kerucut kapur yang berdiri
pada dasar gua. Contohnnya stalaktit dan stalakmit di Gua Cemplong Parangtritis , gua Gong di
Pacitan, jawa Timur serta Gua jatijajar di Kebumen, Jateng.
STRUKTUR GEOLOGI
Struktur geologi merupakan ilmu geologi yang mempelajari tentang asal mula terjadinya kerak
bumi, dan faktor-faktor yang menyebabakanya digolongkan menjadi dua :
Faktor batuan
Faktor gaya yang terdiri dari :
Gaya kompresif atau gaya tekanan
Gaya tensional atau gaya tarikan
Gaya geser atau kopel

Dari faktor-faktor di atas dapat menimbulkan suatau struktur geologi yang digolongkan menjadi
dua :
A. Struktur primer
Struktur sekunder yang terdiri dari :
Struktur kekar atau rekahan
Yang disebabkan akibat gaya yang bekerja pada batuan. Struktur kekar terdiri dari :
Kekar tekan (tension joint) berbentuk seperti gunting/berpasangan.
Kegunaan kekar tekan dalam bidang geologi :
Untuk data-data pengukuran yang dimasukan ke dalam tabulasi atau tabel guna pembuatan
diagram kipas. Diagram kipas itu sendiri adalah untuk mengetahui arah gaya utama (

) yang

menyebabkan terbentuknya struktur geologi (sesar, kekar, lipatan) di daerah tersebut.


Kekar tarik (shear joint) berbentuk rekahan-rekahan yang berisi mineral-mineral .
Kegunaan kekar tarik dalam bidang geologi :
Untuk mencari bahan-bahan yang bernilai ekonomis yang biasanya terdapat di dalam kekar
tersebut.
Struktur patahan atau sesar
Adalah struktur rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sepanjang bidang
rekahanya. Struktur sesar merupakan struktur yang sangat penting karena berkaitan dengan
kejadian gempa bumi dan terjebaknya endapan mineral serta minyak bumi. Sesar dibedakan
menjadi tiga, yaitu :
Sesar normal (normal fault)
Adalah sesar dengan hanging wall bergerak turun relatif terhadap foot wall. Suatu sesar normal
dapat disebabkan oleh gaya kompresif vertical atau oleh gaya tarikan horizontal. Blok yang
dibatasi di kedua sisinya oleh sesar normal disebut graben jika merupakan lembah dan disebut
horst jika merupakan sembulan atau tinggian
Sesar sejajar (sesar strike-slip)
Adalah sesar yang pergeseranya sejajar dengan jurus sesar. Sesar ini biasa disebut juga sesar
geser mendatar, terdiri dari dua macam pergeseran :
Sesar geser mendatar kanan (right-lateral-fault)

Sesar geser mendatar kiri (left-lateral-fault)


Sesar geser mendatar umumnya sesar besar.
Sesar naik (reverse fault)
Adalah sesar dengan hanging wall bergerak naik relatif terhadap foot wall. Suatu sesar naik
umumnya disebabkan oleh gaya kompresif yang berarah horizontal. Jika sesar naik memiliki
bidang sesar dengan dip yang landai (<450) maka sesar ini disebut sesar sungkup atau thurst
fault

Struktur lipatan (fold)


a1). Lipatan / Fold : yaitu gerakan pada lapisan bumi yang tidak terlalu besar dan berlangsung
dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi berkerut atau melipat, kerutan
atau lipatan bumi ini yang nantinya menjadi pegunungan. Punggung lipatan dinamakan
antiklinal, daerah lembah (sinklinal) yang sangat luas dinamakan geosinklinal, ada beberapa
lipatan, yaitu lipatan tegak miring, rebah, menggantung, isoklin dan kelopak.

a. lipatan tegak

d. lipatan menggantung

b. lipatan miring

e. lipatan isoklin

c. lipatan rebah

f. lipatan kelopak

Dalam keterangan tersebut struktur lipatan terdiri dari dua bentuk :


Anticlin
Bagian lipatan yang berbentuk melengkung ke atas yang disebabkan karena mendapat gaya
endogen.
Sinklin
Bagian lipatan yang berbentuk melengkung ke bawah karena mendapat gaya endogen.

BATUAN
ILMU KRISTAL DAN MINERAL
Grafi

= graphy = graphein = gambaran

Kristal = zat padat yang mempunyai susunan atom atau molekul yang teratur, berulang secara
3D yang dapat mendifraksi sinar X.
Kristal dibatasi oleh bidang banyak yang mengikuti hukum-hukum matematika terutama hukum
simetri.
Keteraturan kristal tercermin dalam permukaan kristal berupa bidang-bidang datar dan rata yang
mengikuti pola-pola tertentu.
Unsur simetri

Titik simetri Pusat simetri


Titik yang terletak persis di tengah-tengah kristal dan semua sumbu berserikat pada 1 titik

Garis simetri Sumbu simetri


Garis yang menghubungkan titik-titik berat sepasang bidang simetri

Bidang simetri
Bidang yang seolah merupakan bayangan pencerminan bidang yang satu terhadap bidang
yang lain
* B.S. Pokok : bidang simetri yang melalui dua sumbu simetri
* B.S.Tambahan : bidang simetri yang melalui satu sumbu simetri

Sistem Kristal

Isometrik

3 sumbu saling tegak lurus


ab;bc;ca
a=b=c
sumbu a+ dibuat 30 derajat terhadap bparameter a dibuat 1/3b (b = c = 3a)
contoh : Halit

Tetragonal

3 sumbu saling tegak lurus


ab;bc;ca
a=bc
sumbu a+ dibuat 30 derajat terhadap bparameter c dibuat 6a atau 2b (2b = c = 6a)
contoh : scheelite

Orthorombik

3 sumbu saling tegak lurus


ab;bc;ca

abc
sumbu a+ dibuat 30 derajat terhadap bparameter dibuat
b = 4a
c = 6a
contoh : belerang

Heksagonal

4 sumbu, 3 sumbu saling membuat sudut 120 derajat dan sumbu ke 4 tegak lurus dengan ke 3
sumbu tersebut,
ac;bc;dc
contoh : VANadinit, Kuarsa

Trigonal

4 sumbu, 3 sumbu saling membuat sudut 120 derajat dan sumbu ke 4 tegak lurus dengan ke 3
sumbu tersebut,
ac;bc;dc
contoh : Magnesit, Kalsit

Monoklin

3 sumbu
ab;bc
c < a 90 derajat
abc
Sumbu a+ dibuat 30 derajat terhadap c- dan b c
Contoh : krokoit, gipsum

Triklin

3 sumbu, masing2 saling tidak tegak lurus.


abc

Sumbu a+ dibuat 45 derajat terhadap c- dan Sumbu b+ dibuat 60 derajat terhadap cContoh : rhodokrosit

Sifat Fisik mineral

2.1. Warna.
Warna mineral adalah warna yang kita tangkap dengan mata bilamana mineral tersebut terkena
sinar. Warna ini penting untuk membedakan antara warna yang disebabkan oleh campuran atau
pengotoran dan warna asli elemen-elemen utama pada mineral tersebut. Banyak pula mineral
yang dinamakan berdasarkan warna mineralnya misalnya :
Albit (bahasa Yunani albus = putih)
Chlorit (bahasa Yunani chloro = hijau)
Melanit (bahasa Yunani melas = hitam)
Rhodonit (bahasa yunani rodon = merah jambu)
Eritorit (bahasa Yunani erythos =merah)
Warna asli dari elemen-elemen utama pada mineral (ediochromatis), yaitu merupakan warna
yang tetap dan karakteristik, misalnya :
Pirit

= kuning loyang

Magnetit = hitam
Malachit = hijau
Belerang = kuning
Azurit

= biru

Warna karena adanya pengotoran (allochromatis) ini merupakan warna yang tidak tetap atau
tidak berubah-ubah, misalnya :
Kwarsa tidak berwarna tetapi karena pengotoran warna dapat berubah-ubah menjadi :
violet (amesthyst)
merah jambu
coklat kehitam-hitaman dan lain sebagainya.
Halit warnanya bermacam-macam :

abu-abu
kuning
coklat gelap
merah jambu
dan bervariasi biru.
Di samping itu ada beberapa elemen terutama pada mineral-mineral berat yang memberikan efek
warna tertentu, misalnya :
Mineral sekunder mengandung :
Tembaga hijau kebiruan
Vanadium merah
Uranium kuning
Mangan dalam silikat karbonat merah jambu
Silikat berbesi hijau gelap sampai hitam.
Bagi orang yang berpengalaman dan mempunyai keahlian untuk membedakan, maka warna
sangat berguna untuk menentukan nama mineral. Warna berhubungan langsung dengan
komposisi seprti pada mineral-mineral yang mengandung unsur : Ti, V, Mn, Fe, Ni, Co, dan
unsur-unsur Cu. Ada kalanya warna mineral telah diperkuat oleh adanya sebuah unsur yang
terdapat dalam dua jenis valensi, misalnya pada mineral yang mengandung besi, apabila besi itu
seluruhnya terdapat dalam satu valensi (fero atau feri saja) biasanya berwarna pucat, tetapi jika
terdapat dalam dua valensi (fero dan feri) akan berwarna hijau tua hingga hitam.
2.2. Kilap (luster)
Merupakan sifat optis dari mineral yang rapat hubungannya dengan refleksi dan refraksi. Kilap
sebagai hasil pantulan cahaya dari permukaan mineral . Intensitas dari kilap sebenarnya
tergantung kwantitas cahaya pantul dan pada umumnya tergantung pada besarnya indeks refraksi
mineral.
Kilap dapat dibagi mejadi ;
a) Kilap logam (metalic luster)
Mineral mineral opak dalam fragmen-fragmen yang tipis dan mempunyai indeks refraksi ( n =
3 ) atau lebih pada umumnya mempunyai kilap logam, misal : pirit, galena, sulfida, logam alam.

b) Kilap sub metalik


Kilap sub metalik terdapat pada mineral mineral semi opak sampai opak dan mempunyai indeks
refraksi (n = 2,6 dan 3). Contoh : mineral cuprit, cinabar, hematit, alabandit.
c) Kilap bukan logam (non metalic luster)
Kilap bukan logam biasanya terlihat pada mineral-mineral yang mempunyai warna-warna
muda dan dapat melukiskan cahaya pada bagian-bagian yang tipis. Kilap bukan logam dapat
dibadakan menjadi :
d) Kilap kaca (vitreous luster)
Kilap seperti pada pecahan kaca, contoh : kwarsa, flourit, halit, karbonat, sulfat, silikat, spinel,
corundum, garnet, leucit.
Kilap intan (adamantine luster)
Adalah kilap yang sangat cemerlang seperti berlian. Contoh : intan, zircon, kasiterit, belerang,
rutil.
- Kilap damar (resinous luster)
kilap seperti pada damar, kombinasi dari warna kuning dan coklat. Contoh : sfalerit.
Kilap lemak (greasy luster)
Kilap seperti lemak, seakan-akan berlapis dengan lemak. Contoh : nefelin, halit yang sudah
berhubungan dengan udara bebas.
- Kilap sutera ( silky luster)
Kilap seperti sutera, biasanya terdapat pada mineral-mineral yang menyerat. Misalnya : asbes,
serpenten, gips.
Kilap mutiara ( pearly luster)
Kilap seperti mutiara, biasanya terlihat pada bidang-bidang belah dasar. Contoh : talk, mika, gips
yang kristalnya kasar.
- Kilap tanah (earthy luster)
Kilap yang biasanya terlihat pada mineral-mineral yang kompak. Contoh : kapur, diatomea,
kaolin, pirolusit.
Kilap lilin (waxy luster)
Kilap seperti lilin, contoh : serpenten, cerargirit.

Pada umumnya orang dapat dengan mudah sekali membedakan antara kilap logam, dan bukan
logam. Akan tetapi biasanya tidak dapat atau sukar melihat dengan teliti perbedaan jenis kilap
lainnya. Padahal justru perbedaan itulah yang sangat penting untuk penentuan (determinasi) dari
suatu mineral.
2.3. Cerat/gores (streak)
Cerat ini membedakan dari dua mineral yang warnanya sama akan tetapi warna ceratnya
berbeda. Gores/cerat lebih dapat dipercaya dari pada warna, karena lebih stabil.
Mineral yang kekerasannya kurang dari 6, cerat dapat diperoleh dengan menumbuk
mineral tersebut sampai halus dengan menggunakan palu. Mineral-mineral silikat biasanya
mempunyai gores putih kadang-kadang abu-abu coklat. Mineral-mineral oksida, sulfida,
karbonat, dan phosphat, arsenat, sulfat juga mempuyai goresan yang karakteristik. Untuk
mineral-mineral yang transparan dan translusent mempunyai kilap bukan logam mempunyai
gores lebih terang dari warnanya, sedangkan mineral-mineral dengan kilap logam kerap kali
mempunyai gores yang lebih gelap dari warnanya. Pada beberapa mineral warna dan gores
sering menunjukkan warna yang sama.
Misalnya :
Cinabar

warna dan goresnya merah.

Magnetit warna dan goresnya hitam


Lazurit

warna dan goresnya biru

Tetapi juga ada mineral warna dan goresnya berlainan.


Contohnya :
Hematit - warna abu-abu hitam gores hitam
Pirit warna kuning loyang gores hitam
Biasanya mineral-mineral yang transparant dan translusent mempunyai gores yang putih atau
tidak berwarna, atau warna-warna yang muda. Oleh karena itu gores ini sangat penting untuk
penentuan mineral-mineral opaque yang sangat translusent.
Contoh :
Emas kuning
Molibdenit kehijau-hijauan
Grafit hitam

2.4. Belahan
Adalah suatu sifat fisika mineral yang mampu belah yang disebabkan oleh tekanan dari luar atau
pemukulan dengan palu. Yang dimaksud dengan belah di sini adalah bila mineral kita pukul tidak
hancur tetapi terbelah-belah melalui bidang-bidang belah yang licin. Tidak semua mineral
mempunyai sifat ini, sehingga dipakai istilah mudah dibelah, sukar dibelah, atau tidak dapat
dibelah. Mineral-mineral yang mempunyai belahan yang baik adalah ;
Muskovit atau biotit mempunyai belahan satu arah, jadi dapat terbelah berupa lempeng-lempeng
tipis.
Feldsfar dan Pyroxene (augit) mempunyai belahan dua arah tegak lurus.
Hornblende mempunyai belahan dua arah yang membentuk sudut 1240.
Halit (NaCl) mempuyai belahan tiga arah yang saling tegak lurus.
Calcite mempunyai belahan tiga arah yang tidak saling tegak lurus.
2.5. Pecahan
Bila tidak membelah secara teratur, maka mineral akan pecah dengan arah yang tidak
teratur. Ada beberapa macam pecahan :- Concoidal : memperlihatkan gelombang yang
melengkung di permukaan pecahan seperti kenampakan kulit kerang atau botol pecah.
Contoh : Kwarsa.
- Splintery / fibrous : menunjukkan gejala seperti serat. Contoh : Asbestos, Augit, Hypersthene.
- Uneven atau ireguler : permukaan kasar tidak teratur.
Contoh : garnet, hematite, chalcopyrite.
- Hackly : permukaan tidak teratur dengan ujung-ujungnya yang runcing.
Contoh : native metals (Cu Ag).

2.6. Kekerasan (hardness)


Kekerasan mineral diperlukan untuk mendapatkan perbandingan kekerasan mineral satu
terhadap mineral yang lain, denganj cara mengadakan saling gores antar mineral. Perlu diketahui
bahwa kekerasan mineral ke segala arah ditentukan oleh parameter tiap-tiap poros
kristalografinya. Sehingga untuk mineral satu mungkin ke segala arah sama keras dan untuk
mineral lainnya tidaklah demikian. Untuk menguji kekerasan yang lazim ditentukan dengan

menggunakan skala keras Mosh yang terdiri dari 10 macam kekerasan berturut-turut dari yang
terlunak sampai yang terkeras adalah dalam

tabel 1.

Cara menentukan kekerasan dilakukan dengan menggores mineral skala Mosh pada
mineral yang akan diselidiki. Agar tidak merusak mineral-mineral skala Mosh dalam penentuan
kekerasan kita harus selalu memulai menguji kekerasan mineral yang diselidiki dengan mineral
skala keras yang paling keras dalam hal ini adalah intan, dan selanjutnya secara bertahap kita
turunkan pengujian dengan mineral skala keras di atasnya (lihat tabel 1). Pengujian akan kita
hentikan bila mineral yang kita selidiki tidak tergores oleh mineral skala keras. Jadi skala
kekerasan mineral itu sama dengan kekerasan mineral skala keras yang dipakai untuk
mengujinya.
Tabel 1
Skala Keras Mosh

Kekerasan

Mineral

Keterangan

Talk

Tergores kuku

Gipsum

Tergores kuku, kekerasan kuku =2

Kalsit

Tergores pecahan botol, atau pisau

Flourit

Tergores pecahan botol, atau pisau

Apatit

Tergores dengan sukar oleh pisau

Ortoklas

Tergores pisau atau pecahan botol.

Kwarsa

Tergores pisau

Topas

Tergores pisau

Korondom

Tergores pisau

10

Intan

Tergores pisau

Dalam keadaan lain dapat juga terjadi umpama suatu mineral katakanlah tergores oleh kwarsa
tetapi tidak tergores oleh ortoklas, di sini kita hadapi mineral yang memepunyai kekerasan 6.
Janganlah menguji pada satu muka mineral saja, tetapi juga pada bagian muka lainnya,
sebab kemungkinan mineral tersebut kekerasannya tidak seragam pada segala arah.
2.7. Sifat dalam (tetanitas)

Sifat mineral adalah sifat mienral itu bilamana kita berusaha untuk mematahkannya,
menghancurkannya, membengkokkannya, ataupun mengiriskannya. Termasuk sifat dalam adalah
:
- Rapuh : mudah hancur tetapi dapat dipotong-potong, contoh pada mineral kwarsa, ortoklas,
kalsit, pirit.
- Mudah ditempa : dapat ditempa menjadi lapisan yang tipis, seperti pada emas dan tembaga.
- Dapat diiris atau sectile : dapat diiris dengan pisau, hasil irisan rapuh. Contoh pada Gipsum.
- Fleksibel : mineral berupa lapisa tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan sesudah
menjadi bengkok kembali lagi seperti semula. Contoh : pada mineral talk, selenit.
- Elastis : berupa lapisan tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan kembali sebagai
semula bila kita berhenti menekannya. Contoh : mineral muskovit.

BATUAN BERDASAR KANDUNGAN KUARSA


Beku asam

> 66 %

Beku intermediet

52 % - 66 %

Beku basa

45 % - 52 %

Beku ultrabasa

< 45 %

TEKSTUR BATUAN METAMORF


Tekstur pada batuan metamorf dibagi dalam dua golongan , yaitu Tekstur Kristaloblastik dan
Tekstur Palimpsest.
Tekstur Kristaloblastik : ialah Tekstur pada batuan metamorf yang terjadi pada saat Tumbuhnya
mineral dalam suasana padat dan bukan mengkristal dalam suasana cair Karena itu kristal yang
terjadi disebut Blastos . Tekstur batuan asalnya sudah tidak tampak lagi , diganti dengan tekstur
baru.
Tekstur Kristaloblastik ini dibagi lagi menjadi 6 bagian tekstur , yaitu :
Tekstur Lepidoblastik
Ialah tekstur batuan metamorf yang didominasi oleh mineral mineral pipih dan
memperlihatkan orientasi sejajar , seperti mineral mineral biotit, muscovit dll.

Tekstur Granoblastik
Ialah tekstur pada batuan metamorf yang terdiri dari mineral mineral yang mem
bentuk butiran yang seragam, seperti mineral kwarsa, kalsit, garnet dl.
Tekstur Nematoblastik
Ialah tekstur pada batuan metamorf yang terdiri dari mineral mineral yang berbentuk
prismatik, menjarum dan memperlihatkan orientasi sejajar .
Contoh seperti pada mineral amphibol, silimanit, piroksin dll.
Tekstur Porfiroblastik
Ialah tekstur pada batuan metamorf dimana suatu kristal besar ( fenokris ) tertanam dalam
massa dasar yang relatif halus .
Identik dengan tekstur Porfiritik pada batuan beku
Tekstur Idioblastik
Ialah tekstur pada batuan metamorf dimana bentuk mineral penyusunnya euhedral
Tekstur Xenoblastik
Ialah tekstur pada batuan metamorf dimana bentuk mineral penyusunnya anhedral

Tekstur Palimpsest : ialah Tekstur sisa dari batuan asalnya yang masih dijumpai
pada batuan metamorf yang terbentuk .
Tekstur Palimpsest ini dibagi lagi menjadi 4 bagian tekstur , yaitu :
Tekstur Blastoporfiritik
Ialah tekstur sisa dari batuan asal yang bertekstur porfiritik.
Tekstur Blastopsefit
Ialah tekstur sisa dari batuan sedimen yang ukuran butirnya lebih besar dari pasir ( psefite ).
Tekstur Blastopsamit
Ialah tekstur sisa dari batuan sedimen yang ukuran butirnya sama besar dengan Pasir
( psamite )
Tekstur Blastopellite

Ialah tekstur sisa dari batuan sedimen yang ukuran butirnya sama besar dengan Lempung
( pellite )

PROFIL TANAH:
Tanah merupakan bagian penting di permukaan bumi. Tanah memiliki lapisan
dari atas hingga paling bawah yang disebut horizon tanah dan setiap
lapisan/horizon memiliki karakteristiknya masing-masing. Penampang tanah
secara horizontal dapat dibedakan menjadi 5 lapisan yaitu O, A, B, C dan R

Horizon O
Merupakan lapisan paling atas dan disebut juga lapisan humus karena kaya akan
mineral organik yang berasal dari pembusukan daun, tanaman dan bahan lainnya
oleh dekomposer. Lapisan ini sangat tipis dan hanya beberapa centimeter saja.
Lapisan ini berwarna gelap kehitaman.
Horizon A
Disebut juga lapisan topsoil. Lapisan ini merupakan lapisan tanah bagian atas,
memiliki ketebalan rata-rata 20-35 cm. Horizon a masih realtif subur karena masih
dekat dengan lapisan humus. Warna tanah pad alapisan ini masih cenderung gelap
kehitaman hingga coklat tua.
Horizon B
Disebut juga lapisan subsoil. Tingkat kesuburan lapisan ini mulai berkurang dan
dicirikan warnanya yang mulai merah kekuningan. Horizon ini juga merupakan
batas akar tanaman terbawah.
Horizon C
Merupakan lapisan sisa batuan induk yang melapuk/regolith.
Horizon R/Bedrock
Disebut juga regolith atau lapisan batuan induk. Lapisan ini merupakan bagian
terbawah.

1. PEKERJAAN SURVEY GEOLAPANGAN


Survey Tinjau

Survey tinjau merupakan tahap eksplorasi batubara atau mineral yang paling
awal dengan tujuan untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang mengandung
endapan batubara atau mineral yang prospek untuk diselidiki lebih lanjut.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi studi geologi regional,
interpretasi

foto

udara,

geofisika

(geolistrik),

dan

peninjauan

lapangan

pendahuluan.
Prospeksi
Pada tahap ini, dilakukan pemilihan lokasi daerah yang mengandung endapan
batubara atau mineral yang potensial untuk dikembangkan dengan tujuan untuk
mengidentifikasi sebaran dan potensi endapan batubara atau mineral yang
akan menjadi target eksplorasi selanjutnya. Pemboran uji atau test pit pada
tahap ini bertujuan untuk mempelajari stratigrafi regional atau litologi,
khususnya di daerah yang mempunyai indikasi adanya endapan batubara atau
mineral.
Eksplorasi Awal dan Eksplorasi Detail
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperoleh gambaran awal tentang
endapan batubara yang meliputi jarak titik pengamatan, ketebalan, kemiringan
lapisan, bentuk, korelasi lapisan, sebaran, struktur geologi dan sedimen,
kuantitas dan kualitasnya. Sehingga dari kegiatan ini akan dihasilkan model

geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi,


kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan apakah daerah survei yang
bersangkutan memberikan harapan prospek atau tidak prospek. Sedangkan
eksplorasi detail Kegiatan utama dalam tahap ini adalah sampling dengan jarak
yang lebih dekat (jarak antar titik bor 200 meter), yaitu dengan memperbanyak
sumur uji atau lubang bor untuk mendapatkan data yang lebih teliti mengenai
penyebaran dan ketebalan cadangan (volume cadangan), penyebaran kadar
atau kualitas secara mendatar maupun tegak.

1. Pengikisan
Definisi pengikisan atau erosi adalah proses pelepasan dan pemindahan massa
batuan secara alami dari satu tempat ke tempat lain oleh suatu tenaga yang
bergerak di atas permukaan bumi. Ditinjau dari pelaku yang mengikis batuan,
a.

pengikisan dibedakan menjadi empat macam, yaitu:


Pengikisan oleh air (yang mengalir). Pengikisan jenis ini berikutnya lebih tepat
disebut erosi (erosion). Pengikisan oleh air yang mengalir ini juga sering disebut

ablasi
b. Pengikisan oleh gelombang laut. Pengikisan yang pelakunya berupa gelombang
c.

laut disebut abrasi.


Pengikisan oleh angin. Pengikisan yan dilakukan oleh angin disebut

deflasi (deflasion).
d. Pengikisan oleh gletser. Pengikisan yang pelakuknya adalah gletsyer disebut
eksarasi.
2. Pengendapan
Sebelum menjadi batuan sedimen, awalnya terjadi proses pengendapan yang
kemudian akan mengalami suatu proses litifikasi membentuk batuan beku.
Berikut beberapa cara pengendapannya :
a. Pengendapan secara mekanik
Batuan sedimen hasil dari pembentukan secara mekanik dapat dibagi berdasarkan
ukuran butir. Batuan ini terbentuk oleh batuan yang telah ada terlebih dahulu
yang mengalami pelapukan, hancur lalu dibawa oleh air, angin, atau ombak dan
diendapkan di tempat lain yang lebih rendah. Setelah itu mengalami proses
diagenesis menjadi batuan yang kompak. Pengendapan dapat terjadi di manamana, baik di daratan (tepi rawa, danau), pantai, dan di bawah permukaan laut.
b. Pengendapan secara kimiawi
Pembentukan endapan ini karena proses penguapan pada larutan, sehingga
menjadi jenuh dan yang tertinggal hanya kandungan garam. Biasanya endapan
ini tersusun dari kristal-kristal garam, misalnya garam dapur, gips, dan
sebagainya. Tidak ditemukan fosil (bekas hewan atau tumbuhan) karena
terbentuk pada air yang mempunyai konsentrasi tinggi sehingga tidak ada
kehidupan.
c. Pengendapan secara biologis (organik)
Batuan sedimen yang terbentuk oleh adanya organisme, baik berupa binatang
ataupun tumbuhan.

Gambar 6. Pengendapan yang membentuk batuan sedimen


3. Masswasting
Secara garis besar gerak masa batuan (Mass Movement) dapat diartikan sebagai
perpindahan material batuan di permukaan bumi akibat gaya grafitasi yang
dimiliki bumi. Perpindahan ini dapat terjadi dalam waktu yang singkat maupun
waktu yang lama. Satu ciri yang dapat digunakan sebagai acuan bahwa bentuk
lahan yang ada akibat adanya pergerakan masa batuan adalah tidak adanya
sortasi/pemilahan material. Seluruh material baik kasar maupun halus akan
tercampur aduk menjadi satu. Perpindahan Masa Batuan ini sendiri dapat
dibedakan menjadi beberapa tipe, antara lain :
a. Tipe Creep (Rayapan)
Rayapan merupakan gerak masa batuan yang sangat lambat, sehingga proses
rayapannya hampir tak dapat diamati. Perpindahan Masa Batuan bertipe Creep
ini hanya bisa diketahui dengan gejala-gejala seperti menjadi miringnya tiang
listrik atau dengan melihat ketidakteraturan permukaan tanah. Jika dilihat dari
kecepatannya maka tipe Creep ini memiliki kecepatan antara 1 mm hingga 10
m pertahun.

Gambar 7. Gerak masa batuan tipe rayapan


b. Tipe Luncuran (Slides)
Tipe Luncuran ini lebih sering dikenal orang awam dengan bencana tanah lonsor.
Gerakan masa batuan seperi inilah yang sering menimbulkan korban jiwa.
Secara umum luncuran batuan dapat diartikan sebagai pepindahan material
permukaan bumi menuruni lereng dengan cepat. Berdasarkan bidang
luncurannya maka tipe pepindahan masa batuan ini dapat dibedakan menjadi
transisional dan rotasional. Untuk luncuran yang memiliki bidang luncur lurus
disebut dengan transitional slide, sedangkan luncuran yang memiliki bidang
luncur melengkung disebut sebagai rotational slide contoh: Slump.

Gambar 8. Gerak masa batuan tipe luncuran


c. Tipe Aliran
Gerak Masa Batuan tipe aliran ini dicirikan dengan adanya bidang geser (shear
plan). Tipe aliran ini dapat dibedakan dengan rayapan dari batas yang tegar dan
material yang terpindahkan. Menurut Vames (1978) aliran masa batuan dapat
dibedakan menjadi aliran kering, suliflaction, aliran tanah, aliran debris, dan
debris avelanche. Dari berbagai tipe tersebut tipe suliflaction adalah gerak
masa batuan tipe aliran yang paling lambat bergerak. Hal ini terjadi karena
lapisan tanah memiliki kejenuhan yang tinggi terhadap air. Tipe suliflaction
dapat berlangsung pada medan dengan kemiringan hanya 1 dan dapat pula
terjadi pada lingkungan periglasial.
d. Tipe Heave
Gerak masa batuan bertipe Heave ini terjadi karena adanya proses kembang kerut
tanah. Tanah yang banyak mengandung lempung smectile biasa mengalami
kembang kerut. Ketika tanah ini mengembang maka volume akan bertambah
kearah tegak lurus bidang lereng. Oleh sebab itu akan terjadi desakan kearah
lereng bawah. Tipe heave sendiri masih dapt dibagi menjadi rayapan tanah dan
rayapan talus. Tipe heave ini dikendalikan oleh kuanitas kandungan tanah
terhadp lempung jenis smectile atau illit dan relief mikro akibat adanya proses
kembang kempis.
e. Tipe Jatuhan
Gerak masa batuan bertipe jatuhan ini dicirikan oleh pegerakan melalui udara. Pada
umumnya fragmen batuanlah yang seolah terbang. Didalm kenyataannya
sangat sulit menemui tip pergerakn masa batuan seperti ini. Suatupengecualian
pada tebing sungai yang runtuh dan sering diistilahkan dengan bank calving.
f. Tipe Runtuhan (Subsidence)
Ciri utama dri pergerakan masa batuan ini adalah tak kuatnya lagi penopang batuan
yang ada. Ketika penopang sudah tak kuat atau bahkan sudah hilang maka
masa batuan diatasnya akan jatuh secara cepat yang disebut dengan runtuh.

UKUR TANAH
1. Jenis peta berdasarkan tujuannya :

Peta Topograf, peta yang menyajikan berbagai jenis informasi unsur-unsur


alam dan buatan permukaan bumi dan dapat digunakan untuk berbagai
keperluan pekerjaan. Peta topografi dikenal juga sebagai peta dasar, karena
dapat digunakan untuk pembuatan peta-peta lainnya.
Contoh peta yang digolongkan sebagai peta topografi:

Peta planimetrik, peta yang menyajikan beberapa jenis unsur permukaan


bumi tanpa penyajian informasi ketinggian.

Peta kadaster/pendaftaran tanah, peta yang menyajikan data mengenai


kepemilikan tanah, ukuran, dan bentuk lahan serta beberapa informasi
lainnya.

Peta bathimetrik, peta yang menyajikan informasi kedalaman dan bentuk


dasar laut.

2. Jenis peta berdasarkan tema :


Peta Tematik, peta yang menyajikan unsur/tema tertentu permukaan bumi
sesuai dengan keperluan penggunaan peta tersebut. Data tematik yang
disajikan dapat dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif.
Contoh peta yang digolongkan sebagai peta tematik

Peta diagram, pada peta ini subyek tematik yang berelasi disajikan dalam
bentuk diagram yang proporsional.

Peta distribusi, pada peta ini menggunakan simbol titik untuk menyajikan
suatu informasi yang spesifik dan memiliki kuantitas yang pasti.

Peta isoline, pada peta ini menyajikan harga numerik untuk distribusi
yang kontinu dalam bentuk garis yang terhubung pada suatu nilai yang
sama.

3. Diketahui skala, menghitung jarak sebenarnya


4. Jarak datar (Dt) = 100 s

Jarak miring (Dm) = 100 s cos


S = ba-bb
5. Beda tinggi
Beda tinggi (h) = Dt tg (Dari Pak Sar)
Beda tinggi (h) = Dt tg + (Ti - bt) (Modul Pengukuran jarak optis UGM)
Beda tinggi (h) = Dm sin (dari Pak Sar)
Ti = tinggi alat
Bt = batas tengah
PERPETAAN
1. Kriteria peta lintasan yang baik
Dengan mempertimbangkan

kondisi

morfologi,

keamananan

dan

keselamatkan kerja serta tersedianya jaringan jalan, jalur sungai yang


bisa dilalui, maka lintasan orientasi agar diusahakan untuk mewakill
seluruh batuan yang ada serta dapat diselesaikan dengan cepat. Oleh
karena itu untuk tahap orientasi sebaiknya jangan mengambil jalur yang

sulit penempuhannya.
Apabila batuan yang tersingkap menunjukkan kemiringan perlapisan yang
jelas, maka dengan memperhatikan jaringan jalan maupun sungai yang

ada, jalur lintasan agar diusahakan untuk melalui arah yang memotong
jurus umum dari perlapisan batuan, sehingga ketebalan dari setiap

batuan dapat ditentukan.


Lintasan agar diusahakan sedemikian rupa sehingga dalam waktu singkat
dapat dilalui semua jenis, macam dan variasi batuan yang ada. Untuk ini
diperlukan bantuan peta geologi regional yang meliputi daerah penelitian

sebagai garmbaran garis besar.


Lintasan agar diusahakan untuk

rnelewati

ter mpat

yang

banyak

singkapannya, misalnya tebing sungai, perpotongan jalan dengan bukit dan


sebagainya. Untuk ini dapat dilihat pada peta topografi yang berskala
besar ( 1:25.000 atau 1:12.500 ) serta kalau dimungkinkan ditetapkan
berdasar foto udara.
2. Manfaat pengukuran penampang stratigrafi (tebal, umur, dll)
Mendapatkan data litologi terperinci dari urut-urutan perlapisan dapat
menentukan satuan stratigrafinya (satuan batuan, kelompok, formasi,

anggota).
Mendapatkan ketebalan yang teliti dari satuan stratigrafi
Mempelajari hubungan stratigrafi antar satuan dan

urut-urutan

sedimentasinya

lingkungan

secara

vertikal

dapat

menafsirkan

pengendapannya.
PEMBORAN
1. Menghitung kedalaman suatu bahan galian dari kedalaman lubag bor
(Jumlah stang bor x panjang @ stang) panjang di permukaan
2. Menghitung ketebalan bahan galian dari data pemboran
Kedalaman bottom bahan galian kedalaman permukaan bahan galian
TEKNIK PENAMBANGAN
1. Membedakan sistem penambangan terbuka
Open pit / Open cut / Open cast / Open mine adalah tambang terbuka
yang diterapkan untuk menambang endapan endapan bijih (ore),
perbedaan open pit dengan open cut / open cast / open mine adalah arah
penggaliannya.
- open pit apabila penambangannya dilakukan dari permukaan relatif
datar menuju ke arah bawah di mana endapan bijih tersebut berada
-

sehingga akan membentuk semacam cekungan atau pit.


open cut / open cast / open mine
metode penambangan untuk
endapan bijiih yang terletak pada lereng bukit. Dengan demikian
medan kerja digali dari arah bawah ke atas atau sebaliknya (side hill
type). Bentuk tambang dapat pula melingkari bukit atau undakan, hal
tersebut

tergantung

dari

letak

endapan

penambangan

yang

diinginkan.
Quary Adalah cara-cara penambangan terbuka yang dilakukan untuk
menggali endapan-endapan bahan galian industri atau mineral industri,
seperti batu marmer, batu granit, batu andesit, batu gamping, dll. Bentuk

tambang berdasarkan letak endapan bahan galian industri itu senderi ada
2 (dua) macam, yaitu:
a. Side hill type, merupakan bentuk penambangan untuk batuan atau
bahan galian indutri yang terletak dilereng-lereng bukit. Medan kerja
dibuat mengikuti arah lereng-lereng bukit itu dengan 2 (dua)
kemungkinan, yaitu:
- Bila seluruh lereng bukit itu akan digali dari atas ke bawah,
maka medan kerja dapat dibuat melingkar bukit dengan jalan
-

masuk (access road) berbentuk spiral.


Jika hanya sebagian lereng bukit saja yang akan di tambang
atau bentuk bukit itu memanjang, maka medan kerja dibuat
memanjang pula dengan jalan masuk dari salah satu sisisnya
atau dari depan yang disebut straight ramp.

Keuntungan side hill type ini ialah:


-

Dapat diusahakan adanya cara penirisan alamiah dengan


membuat medan kerja sedikit miring ke arah luar dan di tepi

jalan masuk dibuatkan saluran air.


Alat-angkut bermuatan bergerak ke arah bawah yang berarti
mendapat bantuan gaya gravitasi. Dengan demikian waktu
pengangkutannya (cycle time) menjadi lebih singkat.

Kerugiannya adalah:
-

Meterial penutup harus dikupas dan dibuang sekaligus sebelum


penambangan dilakukan, berarti diperlukan modal yang besar

untuk mengongkosi pengupasan material penutup.


Karena jalan masuknya miring, kalau pengemudi-pengemudi
alat-alat angkut kurang hati-hati karena ingin dapat premi
produksi, maka hal ini akan dapat menyebabkan kecelakaan,

terutama pada jalan masuk yang berbentuk spiral.


b. Pit type / subsurface type, merupakan bentuk penambangan untuk
batuan atau bahan galian industri yang terletak pada suatu daerah
yang mendatar. Dengan demikian medan kerja harus digali ke arah
bawah sehingga akan membentuk kerja atau cekungan (pit). Bentuk
medan kerja atau cekungan tersebut ada 2 (dua) kemungkinan, yaitu:
- Kalau bentuk endapan kurang lebih bulat atau lonjong (oval),
-

maka medan kerja dan jalan masuk dibuat berbentuk spiral.


Bila bentuk endapan kurang lebih empat persegi panjang atau
bujur sangkar, maka medan kerjapun di buat seperti bentukbentuk tersebut di atas dengan jalan masuk dari sisi yang
disebut straight ramp atau berbentuk switch back.

Strip Mine

Strip Mine adalah cara-cara penambangan terbuka yang dialakukan untuk


endapan-endapan yang letaknya mendatar atau sedikit miring. Yang harus
diperhitungkan dalam penambangan cara ini adalah nisbah penguapan
(stripping ratio) dari endapan yang akan ditambang, yaitu perbandingan
banyaknya volume tanah penutup (m3 atau BCM) yang harus dikupas

untuk mendapatkan 1 ton endapan. Cara ini sering diterapkan pada


penambangan batubara, atau endapan garam-garam.
Alluvial Mine, Adalah tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang
endapan-endapan alluvial, misalnya tambang bijih timah, pasir besi, emas
dll. Berdasarkan cara penggaliannya, maka alluvial mine dapat dibedakan
menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:
a. Tambang semprot (hydraulicking).
Pada tambang semprot penggalian endapan alluvial dilakukan dengan
menggunakan semprotan air yang bertekanan tinggi yang berasal dari
penyemprotan yang disebut monitor atau water jet atau giant.
Tekanan aliran air yang dihasilkan oleh monitor dapat diatur sesuai
dengan keadaan material yang akan digali atau disemprot yang
biasanya bisa mencapai tekanan sampai 10 atm.
Untuk memperbesar produksi biasanya:
- Digunakan lebih dari satu monitor, baik bekerja sendiri-sendiri
-

atau bersama di satu permuka kerja;


Monitor dibantu dengan alat mekanis seperti back hoe atau

buldoser.
b. Penambangan dengan kapal keruk (dredging/MGM).
Penambangan dengan kapal keruk (MGM = Mesin Gali Mangkok) ini
digunakan bila endapan yang akan digali terletak di bawah permukaan
air, misalnya di lepas pantai, sungai danau atau dia suatu lembah
dimana tersedia banyak air.
Berdasarkan macam alat-galinya, maka kapal keruk yang digunakan
untuk penambangan dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:
- Multi bucket dredge (lihat Gambar 13), yaitu kapal keruk yang
-

alat-galinya berupa rangkaian mangkok (bucket).


Cutter suction dredge, yaitu kapal keruk dengan alat-gali berupa

pisau pemotong yang menyerupai bentuk mahkota.


Bucket wheel dredge, yaitu kapal keruk yang dilengkapi dengan
timba yang berputar (bucket wheel) sebagai alat-gali.

Sistem penggalian dengan kapal keruk dapat dibedakan menjadi 3


(tiga) macam, yaitu:
-

Sistem

tangga (benches),

yaitu

cara

pengerukan

dengan

membuat atau membentuk tangga atau jenjang (benches).


Sistem tekan, yaitu cara pengerukan dengan menekan tangga
(ladder) sampai pada kedalaman yang dikehendaki, kemudian

maju secara bertahap tanpa membentuk tangga.


Sistem kombinasi, yaitu merupakan gabungan dari cara atau
sistem tangga dengan sistem tekan. Biasanya sistem tangga
dipakai untuk menggalikan tanah penutup, sedangkan sistem

tekan untuk menggali endapan bijihnya (kaksa).


c. Manual mining method.
Manual method atau penambangan secara sederhana adalah
penambangan yang menggunakan tanaga manusia atau hampir tidak
menggunakan tenaga masin atau alat mekanis.
Cara ini biasanya dilakukan oleh rakyat setempat atau kontraktor kecil
untuk menambang endapan yang:
- Ukuran atau jumlah cadangannya tidak besar.
- Letaknya tersebar dan terpencil.
- Tetapi endapannya cukup kaya.

Alat-alat konsetrasi yang biasanya digunakan pada manual method


ialah:
- Pan / batea / dulang.
- Rocker (craddle).
- Sluice box.
2. Macam-macam peralatan tambang dan fungsinya
Dump-truck: Pemuatan Pengangkutan Penumpahan Kembali
Bull-dozer: Penancapan blade penggusuran Pengangkatan Blade

Memutar
Excavator: Penggalian Ayun bermuatan Penumpahan Ayun kosong
Dragline: Pelemparan bucket Pengerukan Pengangkatan bucket Ayun

bermuatan Penumpahan Ayun kosong


a. Persiapan Peralatan Penambangan
Penambangan yang akan dilakukan difokuskan dengan menggunakan
peralatan mekanis. Adapun alat yang digunakan diperlukan untuk
menunjang kegiatan penambangan, yaitu :
Bulldozer, yang digunakan untuk pembersihan lahan dan pengupasan

lapisan tanah penutup.


Loader, yang digunakan untuk memuat bongkahan batu gamping

hasil dari pembongkaran keatas alat angkut.


Truck, yang digunakan sebagai alat angkut hasil front penambangan

ke tempat pabrik peremukan/penggerusan.


Crushing Plant, yaitu suatu unit pengolahan yang berfungsi sebagai
alat

preparasi

gamping

dari

front

penambangan

guna

mendapatkan ukuran butiran yang diinginkan oleh pasar.


Pembangkit Listrik, berfungsi sebagai sumber tenaga listrik yang akan
dipakai

batu

sebagai

penerangan,

untuk

alat

pengolahan

dan

menggerakkan alat alat yang bekerja didalam pabrik.


Pompa Air, digunakan untuk memompa atau mengambil air guna
memenuhi kebutuhan peralatan dan karyawan.

TEKNIK PELEDAKAN
1. Menggolongkan jenis bahan peledak berdasarkan daya/kekuatan ledak
Berdasarkan Keppres No. 5/1988 juga SK Menhankam No. SKEP/974/VI/1988
membagi bahan peledak (Explosives) menjadi dua golongan besar yaitu :
a.

Bahan peledak industri (komersial)

b.

Bahan peledak militer

Bahan peledak industri dibedakan ke dalam dua kelompok sesuai dengan


kecepatan kejutnya (Jimeno dkk, 1995), yaitu :
a. Bahan peledak cepat (Rapid and Detonating Explosives)
Memiliki kecepatan antar 2000-7000 m/detik dan dibedakan lagi menjadi
dua yaitu primer (energinya tinggi dan sensitive, ntuk isian detonator dan
primer cetak, seperty mercury fulminate, PETN, pentolite), dan sekunder
yang kurang sensitive, dipakai untuk isian lubang ledak.
b. Bahan peledak lambat (Slow and Deflagrating Explosives)
Memiliki kecepatan di bawah 2000 m/detik, contoh gunpowder senyawa
piroteknik dan senyawa propulsive untuk artileri.

Ahli bahan peledak lain (Manon, 1976) membedakan bahan peledak industri
menjadi dua kelompok yaitu :
a. Bahan peledak kuat (High Explosives).
Mempunyai kecepatan detonasi antar 1600-7500 m/detik, sifat reaksinya
detonasi

(propagasi

gelombang

kejut)

dan

menghasilkan

efek

menghancurkan (Shattering effect). Contoh : dynamite, TNT (Tri Nitro


Toluene), PETN (Penta Era-Thritol Tetra Nitrate)
Bahan peledak kuat dapat dibagi menjadi dua yaitu :
-

Primary explosive ( initiating explosive ), yaitu bahan peledak


yang mudah meledak karena terkena api, benturan, gesekan,
dan semacamnya. Misalnya Pb N6 (ONC)2

Secondary explosive ( non initiating explosive ), yaitu bahan


peledak yang hanya akan meledak apabila ada ledakan yang
mendahuluinya. Misalnya ledakan dari sebuah detonator

b. Bahan peledak lemah (Low Explosives).


Kecepatan reaksi kurang dari 1600 m/detik, sifat reaksinya deflagrasi
(reaksi kimia yang cepat), dan menimbulkan efek pengangkatan (heaving
effect). Contoh : black powder, propelant
2. Menggolongkan jenis bahan peledak berdasarkan komposisi
Berdasarkan komposisi kimia, bahan peledak dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
a. Senyawa tunggal terdiri dari satu macam senyawa saja yang sudah
merupakan bahan peledak. Senyawa tunggal ini dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu :
Senyawa an-organik misalnya : PbN6, Amonium nitrat.
Senyawa organik misalnya : Nitrogliserin, Trinitrotoluena dan lain-lain.
b. Campuran yang merupakan penggabungan dari berbagai macam
senyawa tunggal. Misalnya : dinamit, black powder, ANFO,
Tambahan :
Propelan merupakan suatu bahan bakar yang proses pembakarannya tidak
memerlukan udara (oksigen), karena kebutuhan oksigen yang diperlukan
untuk proses pembakaran telah terkandung dalam Propelan itu sendiri.
Berdasarkan fasa propelan dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
a. Propelan padat terdiri dari : dasar tunggal (single base), dasar ganda
(double base) dan komposisi.
b. Propelan cair dapat dibedakan menjadi monopropelan dan bipropelan.
- Monopropelan artinya dalam propelan tersebut telah mengandung
-

unsur utama dalam tiap molekulnya.


Bipropelan berarti bahan bakar dan oksidator terpisah dan baru akan
tercampur didalam ruang bakar.

Berdasarkan sifat campurannya, propelan padat dapat menjadi dua macam,


yaitu :

a. Tipe propelan padat homogen, yaitu propelan padat dengan nitroselulosa


sebagai bahan dasar dalam komposisinya dan bahan lain yang pada
umumnya beruoa senyawa organik.
- Disebut single base propelan kalau propelan homogen tersebut
dibuat
-

dari

nitroselulosa

sebagai

bahan

utama

dalam

komposisinya.
Disebut double base propelan bila propelan homogen tersebut
dibuat dengan nitroselulosa dan nitrogliserin sebagai bahan

utama dalam komposisinya.


Disebut triple base propelan bila propelan homogen tersebut
dibuat dengan nitroselulosa, nitrogliserin, dan nitroguanidin

sebagai bahan utama dalam komposisinya.


b. Tipe komposisi propelan padat, yaitu suatu jenis propelan padat yang
dibuat dengan mencampurkan bahan bakar dengan bahan pengikat
lainnya dengan oksidator ditambah berbagai macam additive. Fuel/binder
yang dipakai umumnya merupakan senyawa organik polimer tinggi
(Poliviniklorida,

Polibutadiena,

Polisulfida,

Poliuretan),

sedangkan

oksidatornya berupa kristal anorganik yang diserbukkan halus (50-400)


mesh. Composite solid propelan merupakan campuran yang sifatnya
ikatan fisik
3. Peralatan dan perlengkapan peledakan
Peralatan peledakan (Blasting equipment) adalah alat-alat yang dapat
digunakan berulang kali, misalnya blasting machine, crimper dan sebagainya.
Sedangkan perlengkapan peledakan hanya dipergunakan dalam satu kali
proses peledakan atau tidak bisa digunakan berulang kali.

TEKNIK EKSPLORASI BAGAL


1. Metode eksplorasi di permukaan
Metoda ini dapat dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu :
1. Penyelidikan singkapan (out crop)
Singkapan segar umumnya dijumpai pada :
Lembah-lembah sungai, hal ini dapat terjadi karena pada lembah
sungai terjadi pengikisan oleh air sungai sehingga lapisan yang
menutupi tubuh batuan tertransportasi yang menyebabkan tubuh
batuan nampak sebagai singkapan segar
Bentuk-bentuk menonjol pada permukaan bumi, hal ini terjadi secara
alami yang umumnya disebabkan oleh pengaruh gaya yang berasal
dari dalam bumi yang disebut gaya endogen misalnya adanya letusan
gunung berapi yang memuntahkan material ke permukaan bumi dan
dapat juga dilihat dari adanya gempa bumi akibat adanya gesekan
antara kerak bumi yang dapat mengakibatkan terjadinya patahan atau
timbulnya singkapan ke permukaan bumi yang dapat dijadikan
petunjuk letak tubuh batuan.

2. Tracing Float (penjejakan)


Float adalah fragmen-fragmen atau potongan-potongan biji yang berasal
dari penghancuran singkapan yang umumnya disebabkan oleh erosi,
kemudian tertransportasi yang biasanya dilakukan oleh air, dan dalam
melakukan tracing kita harus berjalan berlawanan arah dengan arah
aliran sungai sampai float dari bijih yang kita cari tidak ditemukan lagi,
kemudian kita mulai melakukan pengecekan pada daerah antara float
yang terakhir dengan float yang sebelumnya dengan cara membuat parit
yang arahnya tegak lurus dengan arah aliran sungai, tetapi jika pada
pembuatan parit ini dirasa kurang dapat memberikan data yang
diinginkan maka kita dapat membuat sumur uji sepanjang parit untuk
mendata tubuh batuan yang terletak jauh dibawah over burden.
3. Tracing dengan Panning (mendulang)
Caranya sama seperti tracing float, tetapi bedanya terdapat pada ukuran
butiran mineral yang dicara biasanya cara ini digunakan untuk mencari
jejak mineral yang ukurannya halus dan memiliki masa jenis yang relatif
besar. Persamaan dari cara tracing yaitu pada kegiatan lanjutan yaitu
trencing atau test pitting.
Cara-cara tracing, baik tracing float maupun tracing dengan panning akan
dilanjutkan dengan cara trenching atau test pitting.
ii. Trenching (pembuatan parit)
Pembuatan parit memiliki keterbatasan yaitu hanya bisa dilakukan
pada overburden yang tipis, karena pada pembuatan parit kedalaman
yang efektif dan ekonomis yang dapat dibuat hanya sedalam 2 - 2,5
meter, selebih dari itu pembuatan parit dinilai tidak efektif dan
ekonomis. Pembuatan parit ini dilakukan dengan arah tegak lurus ore
body dan jika pembuatan parit ini dilakukan di tepi sungai maka
pembuatan parit harus tegak lurus dengan arah arus sungai.
Paritan dibangun dengan tujuan untuk mengetahui tebal lapisan
permukaan, kemiringan perlapisan, struktur tanah dan lain-lain.
iii. Test Pitting (pembuatan sumur uji)
Jika dengan trenching tidak dapat memberikan data yang akurat
maka sebaiknya dilakukan test pitting untuk menyelidiki tubuh batuan
yang letaknya relatif dalam. Kita harus ingat bahwa pada test pitting
kita harus memilih daerah yang terbebas dari bongkahan-bongkahan
maka hal ini akan menyulitkan kita pada waktu pembuatan sumur uji
dan juga daerah yang hendak kita buat sumur uji harus bebas dari
air, karena dengan adanya air dapat menyulitkan kita pada waktu
melakukan penyelidikan struktur batuan yang terdapat pada sumur
uji yang kita buat. Pada pembuatan sumur uji ini kita juga harus
mempertimbangkan faktor keamanan, kita harus dapat membuat
sumur dengan penyangga sesedikit mungkin tetapi tidak mudah
runtuh. Hal ini juga akan mempengaruhi kenyamanan pada waktu
melakukan penelitian. Kedalaman sumur uji yang kita buat bisa
mencapai kedalaman sampai 30 meter.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari penggalian sumur adalah gejala
longsoran, keluarnya gas beracun, bahaya akan banjir dan lain-lain.
2. Metode eksplorasi di bawah permukaan
Eksplorasi langsung bawah permukaan dilakukan bila tidak ada singkapan di
permukaan atau pada eksplorasi permukaan tidak dapat memberikan
informasi yang baik, karena pada eksplorasi langsung permukaan, kedalaman
maksimum yang dapat dicapai + 30 meter. Eksplorasi langsung bawah
permukaan juga dapat dilakukan apabila keadaan permukaan memungkinkan
untuk diadakan eksplorasi bawah permukaan, sebab apabila permukaan tidak
memungkinkan, misalnya permukaan itu tergenang air atau tertutup bongkah

batu yang tidak stabil, maka hal ini akan memberikan resiko yang besar jika
dilakukan eksplorasi permukaan.
Dalam eksplorasi bawah permukaan ada hal-hal yang harus diperhatikan
misalnya, pekerjaan harus berlangsung tetap didalam badan bijih, hal ini
untuk memudahkan diadakan pengamatan dan proses sampling pekerjaan
juga diusahakan dimulai dari daerah-daerah yang memiliki singkapan yang
baik, karena dengan singkapan yang baik dapat memudahkan kita untuk
menentukan strike atau dipnya, yang tidak kalah pentingnya yang harus
diperhatikan adalah masalah biaya, dimana dalam pekerjaan eksplorasi ini
biaya tidak boleh terlalu besar, hal ini bertujuan untuk menghindari adanya
dana yang terbuang percuma jika nantinya eksplorasi yang dilakukan
hasilnya mengecewakan.
Eksplorasi bawah permukaan dapat dilakukan dengan membuat Tunel, Shaft,
Drift, Winse dan lain-lain.
iv. Tunnel : suatu lubang bukaan mendatar atau hampir mendatar yang
menembus
kedua kaki bukit.
v. Shaft
: suatu lubang bukaan yang menghubungkan tambang bawah
tanah dengan

permukaan bumi dan berfungsi sebagai jalan

pengangkutan karyawan

serta alat-alat kebutuhan

tambang, ventilasi dan penirisan.


vi. Drift
: suatu bukaan mendatar yang dibuat dekat atau pada endapan
bijih yang

arahnya sejajar dengan jurus atau dimensi

terpanjang dari endapan


bijihnya (dalam pengeboran).
vii. Winze
: lubang bukaan vertikal atau arah miring yang dari level ke
arah level

yang dibawahnya.

Eksplorasi bawah tanah juga dapat dilakukan dengan pengeboran inti.


Pengeboran sumur minyak yang pertama dilakukan oleh Kol. Drake pada tahun
1959 dengan menggunakan bor (RIG) permanen (tidak dapat dipindah-pindah)
dan pada pengeborannya menggunakan sistem perkusif (tumbuk), pada
pengeboran ini kedalaman maximum yang dapat dicapai adalah 60 ft (+ 20 m)
dengan bor lurus (vertical drilling).
Saat ini pengeboran dilakukan dengan teknik bor putar (rotary drilling) dengan
menara bor yang dapat dipindah-pindah (portablering) dan dilakukan dengan
beberapa cara pengeboran yaitu dengan cara perkusif, rotasi atau dengan
perkusif-rotasi. Pemboran dapat dilakukan di darat maupun di laut (on shore atau
off shore). Pemboran tidak terbatas pada pemboran decara vertikal saja tetapi
dapat dilakukan secara miring (kemiringan dapat mencapai 90 o), apabila saat
pengeboran kita menemukan batuan yang keras dan susah ditembus oleh mata
bor, maka dengan teknologi sekarang, pipa yang berada jauh di dalam tanah
dapat dirubah arahnya (dibelokkan) untuk menghidari batuan yang keras
tersebut.
Pengeboran yang dilakukan pada eksplorasi bertujuan untuk mengambil contoh
(sampling) untuk diamati, pengeboran juga bisa bertujuan untuk produksi atau
konstruksi (misalnya air tanah, minyak bumi) dan pemboran dapat juga untuk
memudahkan proses peledakan (pada kegiatan penambangan material keras).
Dari data pengeboran dan sampling kita dapat membuat peta stratigrafi daerah
pengeboran. Dari peta ini kita dapat mengetahui susunan batuan dan ketebalan
cadangan dan akhirnya kita dapat memperkirakan besar cadangan secara
keseluruhan.
REKLAMASI

1. Tujuan reklamasi daerah bekas tambang


Reklamasi bekas tambang yang selanjutnya disebut reklamasi adalah usaha
memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi dalam kawasan
hutan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan dan energi
agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya.
(Permenhut Nomor: 146-Kpts-II-1999)
2. Menentukan vegetasi yang cocok untuk daerah bekas tambang yang
direklamasi
Lahan-lahan bekas tambang umumnya memiliki iklim mikro yang tidak
mendukung pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu pada tahap pertama
kegiatan revegetasi lahan bekas tambang harus ditanami terlebih dahulu
dengan tanaman-tanaman pioner cepat tumbuh yang mampu beradaptasi
cepat dengan kondisi lingkungan. Beberapa jenis tanaman cepat tumbuh
yang umum digunakan untuk revegetasi adalah sengon laut (Albizzia falcata),
akasia (Acasia mangium, Acasia crassicarpa), lamtoro (Leucaena glauca), turi
(Sesbania grandiflora), gamal (Gliricidia sepium), dll.
Kriteria tanaman pioner cepat tumbuh adalah:
1)
2)
3)
4)
5)

tumbuh cepat & mampu tumbuh pada tanah kurang subur,


tidak mengalami gugur daun pada musim tertentu,
tidak bersaing dalam kebutuhan air dan hara dengan tanaman pokok,
tidak menjadi inang penyakit, tahan akan angin dan mudah dimusnahkan,
sebaiknya dapat bernilai ekonomis.

Perbandingan antara 2 metode penambangan tersebut adalah :


Tambang Terbuka

Development sedikit

Stripping O/B banyak

Banyak lokasi untuk dumping area

Gangguan pada kemantapan lereng, kelongsoran

Kebisingan, polusi debu

Keselamatan kerja baik

Penggunaan alat lebih leluasa

Produktifitas dipengaruhi oleh iklim

Kedalaman penggalian dibatasi biaya SR O/B

Biaya reklamasi

Tambang Bawah Tanah

Shaft, bukaan-bukaan lain

Batubara ditambang dari bukaan kearah lapisan batubara

Tidak ada

Ambegan (subsident) berakibat pada instalasi diatasnya, gas beracun

Daerah terganggu pada sekeliling bukaan

Perlu ventilasi dan penerangan

Tidak leluasa

Semakin dalam temperatur naik

Tidak terbatas

Perawatan penyanggaan
1. Proses pemfosilan
Proses tak termineralisasi:
1.

Pertrifaksi, berubah menjadi batu oleh adanya bahan-bahan : silika,

kalsiumkarbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang
serta pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati sehingga menjadi
keras/membatu menjadi fosil.
2.

Proses Destilasi, tumbuhan atau bahan organik lainnya yang telah mati

dengan cepat tertutup oleh lapisan tanah.


3.

Proses Kompresi, tumbuhan tertimbun dalam lapisan tanah, maka air

dan gas yang terkandung dalam bahan organic dari tumbuhan itu tertekan
keluar oleh beratnya lapisan tanah yang menimbunnya. Akibatnya, karbon
dari tumbuhan itu tertinggal dan lama kelamaan akan menjadi batubara,
lignit dan bahan bakar lainnya.
4.

Impresi, tanda fosil yang terdapat di dalam lapisan tanah sedangkan

fosilnya sendiri hilang.


5.

Bekas gigi, kadang-kadang fosil tulang menunjukan bekas gigitan

hewan carnivore atau hewan pengerat.


6.

Koprolit, bekas kotoran hewan yang menjadi fosil.

7.

Gastrolit, batu yang halus permukaannya ditemukan di dalam badan

hewan yang telah menjadi fosil.


8.

Liang di dalam tanah, dapat terisi oleh batuan dan berubah sebagai

fosil, merupakan cetakan.


9.

Pembentukan

Kerak,

hewan

dan

tumbuhan

terbungkus

oleh

kalsiumkarbonat yang berasal dari travertine ataupun talaktit.


10. Pemfosilan di dalam Tuff, pemfosilan ini jarang terjadi kecuali di daerah
yang berudara kering sehingga bakteri pembusuk tidak dapat terjadi.

11. Pemfosilan dengan cara pembekuan, hewan yang mati tertutup serta
terlindung lapisan es dapat membeku dengan segera. Oleh karena dinginnya
es maka tidak ada bakteri pembusuk yang hidup dalam bangkai tersebut.
Proses termineralisasi:
1.

Histometabasis, Penggantian sebagian tubuh fosil tumbuhan dengan


pengisian mineral lain (cth : silika) dimana fosil tersebut diendapkan

2.

Permineralisasi , Histometabasis pada binatang

3.

Rekristalisasi, Berubahnya seluruh/sebagian tubuh fosil akibat P & T


yang tinggi, sehingga molekul-molekul dari tubuh fosil (non-kristalin) akan
mengikat agregat tubuh fosil itu sendiri menjadi kristalin

4.

Replacement/Mineralisasi/Petrifkasi, Penggantian seluruh bagian


fosil dengan mineral lain

5.

Dehydrasi/Leaching/Pelarutan

6.

Mold/Depression, Fosil berongga dan terisi mineral lempung

7.

Trail & Track


Trail : cetakan/jejak-jejak kehidupan binatang purba yang menimbulkan

kenampakan yang lebih halus


Track : sama dengan trail, namun ukurannya lebih besar
Burrow : lubang-lubang tempat tinggal yang ditinggalkan binatang purba.
Borring : lubang pemboran
Tube : struktur fosil berupa pipa
2. Manfaat fosil foraminifera
Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang
terus

berkembang

sejalan

dengan

perkembangan

mikropaleontologi

dan

geologi. Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigraf, paleoekologi,


paleobiogeograf, dan eksplorasi minyak dan gas bumi.
BIOSTRATIGRAFI
Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut
Ada beberapa alasan bahwa fosil foraminifera adalah mikrofosil yang sangat
berharga khususnya untuk menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan sedimen
laut. Data

penelitian

menunjukkan

foraminifera

ada di

bumi

sejak

jaman

Kambrium, lebih dari 500 juta tahun yang lalu. Foraminifera mengalami
perkembangan secara terus-menerus, dengan demikian spesies yang berbeda
diketemukan pada waktu (umur) yang berbeda-beda. Foraminifera mempunyai
populasi

yang

melimpah

dan

penyebaran

horizontal

yang

luas,

sehingga

diketemukan di semua lingkungan laut. Alasan terakhir, karena ukuran fosil

foraminifera yang kecil dan pengumpulan atau cara mendapatkannya relatif mudah
meskipun dari sumur minyak yang dalam.
PALEOEKOLOGI DAN PALEOBIOGEOGRAFI
Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau
(skala Geologi)
Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di lingkungan yang
berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan fosil foraminifera
untuk menentukan lingkungan masa lampau tempat foraminifera tersebut hidup.
Data foraminifera telah dimanfaatkan untuk memetakan posisi daerah tropik di
masa lampau, menentukan letak garis pantai masa lampau, dan perubahan
perubahan suhu global yang terjadi selama jaman es. Jika sebuah perconto
kumpulan fosil foraminifera mengandung banyak spesies yang masih hidup sampai
sekarang, maka pola penyebaran modern dari spesies-spesies tersebut dapat
digunakan untuk menduga lingkungan masa lampau - di tempat kumpulan fosil
foraminifera diperoleh - ketika fosil foraminifera tersebut masih hidup. Jika sebuah
perconto mengandung kumpulan fosil foraminifera yang semuanya atau sebagian
besar sudah punah, masih ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk
menduga lingkungan masa lampau. Petunjuk tersebut adalah keragaman spesies,
jumlah relatif dari spesies plangtonik dan bentonik (prosentase foraminifera
plangtonik dari total kumpulan foraminifera plangtonik dan bentonik), rasio dari
tipe-tipe cangkang (rasio Rotaliidae, Miliolidae, dan Textulariidae), dan aspek
kimia material penyusun cangkang.
Aspek

kimia

cangkang

fosil

foraminifera

sangat

bermanfaat

karena

mencerminkan sifat kimia perairan tempat foraminifera ketika tumbuh. Sebagai


contoh, perban-dingan isotop oksigen stabil tergantung dari suhu air. Sebab air
bersuhu lebih tinggi cenderung untuk menguapkan lebih banyak isotop yang lebih
ringan. Pengukuran isotop oksigen stabil pada cangkang foraminifera plangtonik
dan bentonik yang berasal dari ratusan batuan teras inti dasar laut di seluruh dunia
telah dimanfaatkan untuk meme-takan permukaan dan suhu dasar perairan masa
lampau. Data tersebut sebagai dasar pemahaman bagaimana iklim dan arus laut
telah berubah di masa lampau dan untuk memperkirakan perubahan-perubahan di
masa yang akan datang (keakurasiannya belum teruji).
EKSPLORASI MINYAK
Foraminifera dimanfaatkan untuk menemukan minyak bumi.
Banyak spesies foraminifera dalam skala biostratigraf mempunyai kisaran
hidup yang pendek. Dan banyak pula spesies foraminifera yang diketemukan hanya

pada lingkungan yang spesifik atau ter-tentu. Oleh karena itu, seorang ahli
paleontologi dapat meneliti sekeping kecil perconto batuan yang diperoleh selama
pengeboron sumur minyak dan selanjutnya menentukan umur geologi dan
lingkungan saat batuan tersebut terben-uk. Sejak 1920-an industri perminyakan
memanfaatkan jasa penelitian mikropaleontologi dari seorang ahli mikrofosil.
Kontrol stratigrafi dengan menggunakan fosil foraminifera memberikan sumbangan
yang berharga dalam mengarahkan suatu pengeboran ke arah samping pada
horison yang mengandung minyak bumi guna meningkatkan produktifikas minyak.

3. Morfologi fosil foraminifera

Morfologi Foraminifera
Bentuk luar foraminifera, jika diamati dibawah mikroskop dapat menunjukkan
beberapa kenampakan yang bermacam-macam dari cangkang foraminifera,
meliputi :

Dinding, lapisan terluar dari cangkang foraminifera yang berfungsi


melindungi bagian dalam tubuhnya. Dapat terbuat dari zat-zat organik yang
dihasilkan sendiri atau dari material asing yang diambil dari sekelilingnya.

Kamar, bagian dalam foraminifera dimana protoplasma berada.

Protoculum, kamar utama pada cangkang foraminifera.

Septa, sekat-sekat yang memisahkan antar kamar.

Suture, suatu bidang yang memisahkan antar 2 kamar yang berdekatan.

Aperture, lubang utama pada cangkang foraminiferra yang berfungsi


sebagai mulut atau juga jalan keluarnya protoplasma

Beri Nilai