Anda di halaman 1dari 74

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH TEKNIK PRODUKSI BENIH HIBRIDA

Disusun Oleh
Kelompok 1 TIB A P.1
Fauzan Hidayatullah S

J3G111002

Rimna Margareta

J3G111003

M. Ikbal Suhaemi S

J3G111016

Ridwan Budiar F

J3G111026

Mega Nurhayati

J3G111000

PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum
Produksi Benih Hibrida. Laporan ini dibuat sebagai salah satu tugas akhir dalam
praktikum Produksi Benih Hibrida.
Berdasarkan

pengalaman praktikum, penulis melihat bahwa produksi

benih hibrida merupakan salah satu cara mencapai terciptanya benih varietas
unggul. Benih hibrida ini memiliki sifat heterosis yang merupakan gabuangan dari
kedua tetuanya yang unggul.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan dan penyusunan
laporan ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak agar dalam penyusunan
laporan menjadi lebih baik.

Bogor, 12 Januari 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................I
DAFTAR ISI..........................................................................................................II
DAFTAR TABEL................................................................................................III
DAFTAR GAMBAR............................................................................................IV
DAFTRA LAMPIRAN.........................................................................................V
PRODUKSI BENIH HIBRIDA CABAI..............................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................2
1.1 LATAR BELAKANG..........................................................................................2
1.2 TUJUAN...........................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................5
METODOLOGI.....................................................................................................6
3.1 ALAT DAN BAHAN..........................................................................................6
3.2 METODE..........................................................................................................6
HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................14
4.1 HASIL............................................................................................................14
4.2 PEMBAHASAN...............................................................................................14
PENUTUP.............................................................................................................15
5.1 KESIMPULAN................................................................................................15
5.2 SARAN..........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................16
PRODUKSI BENIH HIBRIDA TOMAT...........................................................17
PRODUKSI BENIH HIBRIDA JAGUNG........................................................31
PRODUKSI BENIH HIBRIDA PADI................................................................50

DAFTAR TABEL
2

TABEL 1. HASIL PERSILANGAN CABAI HIBRIDA....................................................14


TABEL 2. HASIL RENDEMEN TETUA CABAI...........................................................14
TABEL 3. DATA PANEN...........................................................................................25
TABEL 4. DATA PERSILANGAN KELOMPOK 1 TIB A/P1.........................................26
TABEL 5. HASIL PANEN..........................................................................................43
TABEL 6. DAYA TUMBUH BENIH............................................................................61
TABEL 7. DATA PERSILANGAN PADI......................................................................61

DAFTAR GAMBAR
GAMBAR 1. LETAK TETUA JANTAN DAN TETUA BETINA.......................................40
GAMBAR 2. STRUKTUR BUNGA TANAMAN PADI...................................................53
GAMBAR 3. ALUR PRODUKSI BENIH HIBRIDA......................................................55
GAMBAR 4. PROSES PENYERBUKAN GALUR CMS................................................57
GAMBAR 5. TAHAPAN PERSILANGAN BUNGA PADI...............................................60
GAMBAR 6. KONDISI LAHAN PRAKTIKUM DENGAN GENANGAN AIR....................62
GAMBAR 7. KONDISI BUNGA PADI PADA KEDUA VARIETAS................................63

DAFTRA LAMPIRAN

LAMPIRAN 1. FOTO KEGIATAN PRAKTIKUM PRODUKSI BENIH HIBRIDA TOMAT...29


LAMPIRAN 2. FOTO KEGIATAN PRAKTIKUM PRODUKSI BENIH HIBRIDA JAGUNG. 48
LAMPIRAN 3. DESKRIPSI VARIETAS PADI SITU PATENGGANG...............................66

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


PRODUKSI BENIH HIBRIDA CABAI

Disusun oleh :
Kelompok 1 ( P1)

PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang cukup penting
dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, khususnya bagi masyarakat Indonesia.
Buah cabai umumnya dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai bahan
penyedap masakan, bahan baku industri makanan, kosmetik, serta obat-obatan.
Menurut Kusandriani dan Permadani (1996), spesies cabai yang secara luas
dibudidayakan di Indonesia yaitu Capsicum annuum dan Capsicum frutescens.
Menurut Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jendral Hortikuktura
Departemen Pertanian (2012), produksi cabai merah pada tahun 2007 sampai
2011 berturut-turut adalah 676 828, 695 707, 787 433, 807 160, dan 888 852 ton.
Luas panen cabai merah pada tahun yang sama yaitu 107 362, 109 178, 117 178,
122 755, dan 110 341 ha, sehingga produktifitas cabai berturut-turut sebesar 6.30,
6.37, 6.72, 6.58, dan 7.34 ton ha -1. Menurut Hamid dan Haryanto (2012), angka
tersebut masih tergolong rendah karena potensi produktivitas cabai tertinggi dapat
mencapai 20-30 ton ha -1 pada beberapa varietas.
Produksi cabai di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, serta konsumsi
per kapita juga cenderung meningkat.Permintaan cabai yang meningkat diiringi
dengan meningkatnya benih cabai.Ketersediaan benih cabai ditunjang dengan
kegiatan produksi benih.
Produksi benih merupakan suatu proses kegiatan memperbanyak benih
dengan jumlah dan mutu tertentu. Produksi benih secara komersial memiliki 3
komponen yaitu : benih, lingkungan tumbuh atau lapangan produksi, dan
pengelolaan atau tektik budidaya. Komponen lapangan produksi mencakup
substrat, iklim, dan biologis.Komponen teknik budidaya mencakup prinsip genetis
dan agronomis.Prinsip genetis, teknik budidaya diarahkan untuk menghasilkan
benih bermutu genetik tinggi, yakni benih yang sesuai dengan deskripsi
varietasnya.Prinsip agronomis, teknik budidaya tanaman diarahkan untuk
menghasilkan benih yang bermutu fisiologis dan mutu fisik yang tinggi, selain
hasilnya juga tinggi (Mugnisjah dan Setiawan 2004).

Benih bermutu adalah benih yang memiliki varietas yang benar dan murni
dengan mutu genetik, fisiologis, dan mutu fisik yang tinggi sesuai dengan standar
mutu pada kelas benihnya. Menurut Sadjat (1993), benih secara struktural
merupakan bakal biji yang dibuahi yang dapat digunakan sebagai sarana untuk
mencapai produksi yang maksimum. Benih dalam wahana teknologi maju dapat
melestarikan identitas dan kemurnian genetik yang setinggi-tingginya.Secara
bioteknologi benih merupakan produk artifisial yang sangat spesifik dan efisien.
Pencapaian benih bermutu salah satunya dengan memproduksi benih
hibrida yang dapat melalui program pemuliaan.Pemuliaan tanaman merupakan
perpaduan antara seni dan ilmu dalam merakit keragaman genetik suatu populasi
tanaman tertentu menjadi lebih baik dan unggul dari sebelumnya.Tujuan dari
pemuliaan tanaman yaitu untuk memperoleh atau mengembangkan varietas agar
lebih efisien dalam menggunakan unsur hara, tahan terhadap cekaman lingkungan
abiotik dan biotik, serta memberikan hasil tertinggi per satuan luas yang sangat
menguntungkan (Syukur 2012).Hal tersebut merupakan suatu alasan pentingnya
menggunakan benih hibrida.
Menurut Mangoendidjojo (2003), benih hibrida merupakan generasi
pertama atau F1 dari hasil persilangan sepasang atau lebih tetua (galur murni),
klon, atau benih bersari bebas yang memiliki karakter unggul. Produktivitas cabai
benih hibrida jauh lebih tinggi dibandingkan dengan benih bersari bebas (Open
Pollinated/OP). Menurut Syukur (2012), benih cabai hibrida ini harus selalu
disediakan. Penyediaan benih cabai hibrida dilakukan dengan melalui persilangan
dan sangat tergantung dari ketersediaan galur murni yang potensial, oleh karena
itu usaha untuk memperoleh galur murni ini merupakan langkah paling
menentukan.
Produksi

benih

cabai

hibrida

harus

memperhatikan

sinkronisasi

pembungaan antar galur dan juga isolasi dalam penanamannya.Sinkronisasi


pembungaan merupakan suatu upaya untuk mengatur saat pembungaan agar dapat
terjadi secara bersamaan dari dua galur tersebut sehingga penyerbukannya terjadi
secara maksimal (Syukur 2012).Isolasi dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi
penyerbukan silang yang tidak diinginkan.Isolasi ini berupa isolasi jarak dan
isolasi waktu yang diperlukan dalam menghasilkan benih hibrida. Isolasi hanya

dilakukan apabila tanaman tersebut mempunyai peluang terjadinya penyerbukan


silang dari serbuk sari lain yang tidak diinginkan.
Teknik-teknik yang dilakukan dalam memproduksi benih cabai hibrida
memang cukup sulit, akan tetapi hasil yang diperoleh dari benih cabai hibrida
tersebut akan sangat menguntungkan bagi petani. Peningkatan hasil dari benih
cabai hibrida dapat mencapai 61% lebih tinggi dibandingkan kedua tetuanya
(Kalloo 1986 dalam Pradipta 2010). Produksi benih cabai hibrida melalui proses
yang sulit dilapang, maka mutunya harus tetap dijaga pada tahap-tahap
selanjutnya yaitu pengolahan dan penyimpanan.
Benih cabai hibrida sudah digunakan oleh petani saat ini, akan tetapi
sebagian benih cabai hibrida tersebut merupakan benih impor. Indonesia juga
mengekspor benih cabai hibrida ke negara-negara lain seperti Thailand, Vietnam,
Belanda, dan Cina.Menurut data Direktorat Jenderal Hortikultura (2011), volume
benih cabai impor dan ekspor secara berturut-turut sebesar 28.887 ton dan 6.837
ton.Perakitan benih hibrida di dalam negeri perlu ditingkatkan untuk mendapatkan
varietas-varietas yang unggul yang mempunyai karakter yang sesuai dengan
keinginan konsumen.
Karakter tanaman cabai yang banyak diminati oleh konsumen umumnya
antara lain produktivitas tinggi, umur panen genjah, tahan terhadap serangan hama
dan penyakit, daya simpan lama, mempunyai tingkat kepedasan tertentu, kualitas
buah baik, dan tanaman cabai tidak mengenal musim (Syukur 2012). Berdasarkan
permintaan tersebut para produsen benih berlomba-lomba dalam menghasilkan
benih cabai hibrida untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
1.2 Tujuan
Tujuan teknik produksi benih cabai hibrida adalah :
1. Memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman produksi benih
cabai hibrida.
2. Mampu mengidentifikasi karakteristik benih cabai hibrida.
3. Memiliki keterampilan dalam teknik pengamanan kemurnian genetik
benih cabai hibrida

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, cabai dikasifikasikan dalam taksonomi


sebagai berikut :
Kingdom

: Plante

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Subkelas

: Sympetale

Ordo

: Tubliflorare (Solanes)

Genus

: Capsicum

Spesies

: Capsicum Annum l.
Tanaman cabai termasuk ke dalam famili solanaseae. Tanaman yang lain

masih sekerabat dengan cabai diantaranya kentang (solanum tuberosum), terung


(solanum melongena L), leunca (solanum nigrum L), akokak (solanum torvum
Swartz), dan tomat (solanum lycopersicum).
Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terung-terungan (solanaceae).
Keluarga ini diduga memiliki sekitar 90 genus dan sekitar 2000 spesies yang
terdiri dari tumbuhan herba, semak, dan tumbuhan kerdil lainnya. Tanaman cabai
(capsicum sp) sendiri diperkirakan ada sekitar 20 spesies yang sebagian besar
tumbuh di tempat asalnya, Amerika.Diantaranya yang sudah akrab denagn
kehidupan manusia baru beberapa spesies saja, yaitu cabai besar (C. Annum),
cabai kecil (C. frustescens), C. Baccatum, C. Pubescens, dan C. Chinense.
Selama bertahun-tahun kita hanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu
cabai kecil yang pedas atau cabai besar tapi kurang pedas.Kini ada pilihan ketiga
yang menggabungkan sifat-sifat unggul dari pilihan tersebut.Hadirnya cabai
hibrida IPB CH3, memberikan pilihan varian cabai besar dengan rasa yang pedas.
Produktivitas cabai IPB CH3 tergolong tinggi, yaitu 1,11 kg per tanaman. Cabai
yang mendapat predikat kelas mutu I menurut standar SNI ini juga memiliki umur
panen yang lebih cepat dibandingkan cabai besar varietas lainnya.Cabai ini sangat
adaptif dengan lingkungan optimum dan cocok dibudidayakan di Indonesia,
karena merupakan hasil persilangan dari genotipe lokal.
5

METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah cangkul, kored, ember,
meteran, tugal, cemplong, gembor, tangki semprot, pinset, gunting, timbangan,
dan alat tulis lain.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini ialah pupuk kandang, bibit
cabai, mulsa, ajir, pupuk NPK Mutiara, fungisida kocor, antracol, curacron,
furadan, dithane, urea, SP36, KCl, yosan, perekat AB stick, kertas penyungkup,
isolatip, plastik, tali rafia, dan label.
3.2 Metode
1. Persemaian
Persemaian merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum penanaman di
lapang.kegiatan persemaian bertujuan untuk menumbuhkan benih cabai menjadi
bibit yang siap untuk ditanam di lapang dan menciptakan pertumbuhan yang sama
atau serempak pada saat di lapangan. Kegiatan dalam proses persemaian yaitu
benih cabai disemai dalam tray semai menggunakan media semai steril. Benih
cabai yang digunakan 2 genotipe yaitu IPB C2 (Makmur) dan IPB C5
(Perbani).Setelah daun pertama membuka sempurna, bibit dipupuk denagn NPK
mutiara (10g/l) dengan sistem kocor serta disemprot dengan insektisida Curacron
(2cc/l) dan fungisida Antracol (2gr/l) seminggu sekali.Pemupukan dilakukan
betujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan pada saat pertumbuhan
bibit agar bibit dapat tumbuh secara optimal.Setelah berumur 4 minggu (atau telah
memiliki 4 pasang daun) bibit dipindahkan ke lapang.
2. Persiapan Lahan
Persiapan lahan merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum proses
penanaman. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan media tumbuh yang ideal
bagi tanaman dengan cara memperbaiki tekstur tanah, drainase, aerasi, pH tanah,
patogen maupun toksin dalam tanah. Kegiatan yang dilakukan yaitu pengolahan
lahan, pemasangan dan pembolongan mulsa.

2.1 Pengolahan Lahan


Pengolahan lahan dilakukan dengan tujuan menciptakan media tumbuh
yang ideal bagi tanaman dengan cara memperbaiki tekstur tanah, drainase, aerasi,
pH tanah, patogen maupun toksin dalam tanah. Kegiatan ini dilakukan yaitu
pengolahan

lahan

dengan

menggunakan

cangkul

sekaligus

pembuatan

bedengan.Kegiatan ini bertujuan untuk mencacah tanah sehingga tekstur tanah


menjadi lebih remah dan menghilangkan racun-racun yang terdapat pada tanah
dengan perantaraan sinar matahari. Cabai ditanam pada bedengan berukuran 1m
5m, tinggi bedengan 30 cm, dan lebar saluran drainase sebesar 0.4 m.
Pembuatan bedengan tanaman cabai bertujuan untuk mempermudah
saluran drainase sehingga berfungsi secara maksimal, memperkokoh akar
tanaman, dan mempermudah pemasangan mulsa.Bedengan tersebut dibirakan
terlebih dahulu selama seminggu sebagai upaya penguraian pupuk kandang yang
diaplikasikan sebelum lahan siap untuk ditanami.
Kegiatan setelah pembuatan bedengan yaitu pemberian pupuk kandang
(0.25 karung/petak) dan kapur (0.5 kg/petak). Pupuk kandang digunakan sebagai
penambah unsur hara bagi tanaman.Keadaan tanah yang padat atau tanah latosol
diperlukan penambahan unsur hara oleh pupuk organik untuk memudahkan
tanaman dalam penyerapan air dan unsur hara.
2.2 Pemasangan Mulsa dan Pembolongan Mulsa
Kegiatan pemasangan mulsa plastik hitam perak (mphp) dan pemberian
patok pada bagian sampingnya yang bertujuan agar mulsa dapat terpasang dengan
baik.Mulsa terdapat dua sisi yaitu sisi yang berwarna perak pada bagian atas dan
hitam pada sisi bagian bawah. Warna perak pada mulsa akan memantulkan cahaya
matahari sehingga proses fotosintesis menjadi lebih optimal, kondisi pertanaman
tidak terlalu lembab, mengurangi serangan penyakit, dan mengusir seranggaserangga pengganggu tanaman seperti thrips dan aphids. Warna hitam pada mulsa
akan menyerap panas sehingga suhu pada perakaran tanaman menjadi hangat dan
akibatnya perkembangan akar akan optimal. Warna hitam juga mencegah sinar
matahari menembus ke dalam tanah sehingga benih-benih gulma tidak akan
tumbuh.

Bedengan yang telah terpasang mulsa kemudian diberikan lubang tanam


sebanyak 20 lubang dalam 2 baris pada setiap bedengan dengan menggunakan alat
pembolong mulsa.Alat pembolong mulsa terbuat dari kaleng dan biasanya
berbentuk bulat. Pada saat aplikasi, kaleng tersebut dipanaskan dengan
menggunakan bara api agar mulsa dapat terlubangi. Jarak tanam untuk tanaman
cabai berukuran 50 cm 50 cm dengan dua baris dalam satu bedeng.Jarak tanam
digunakan dengan tujuan memberikan jarak antar tanaman agar tanaman dapat
tumbuh optimal dan memudahkan dalam pemeliharaan.Bibit ditanam sebanyak 1
bibit/lubang. Setiap kelompok akan menanam 2 genotipe.
3. Penanaman
Penanaman merupakan proses pemindahan bibit cabai hasil persemaian ke
lapangan. Kegiatan penanaman bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan
tanaman cabai sehingga menghasilkan produksi yang optimal.Bibit ditanam pada
setiap lubang tanam dan sesuai genotipe yang tertera pada patok.
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman selama di lapang harus diperhatikan untuk
mendapatkan hasil yang optimal. Kegiatan yang dilakukan dalam pemeliharaan
tanaman cabai yaitu penyiraman, pemasangan ajir, pengikatan, pewiwilan,
pembumbunan, pemupukan, pengendalian gulma, serta pengendalian hama dan
penyakit.
4.1 Penyiraman
Bibit tanaman cabai yang baru pindah tanam rentan akan stres, maka perlu
penyiraman secara teratur agar pertumbuhannya optimal. Penyiraman sebaiknya
tidak sampai membuat genangan air pada lubang tanam karena akan memicu
tumbuhnya penyakit seperti cendawan penyebab rebah kecambah. Penyiraman
dilakukan pagi hari bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah agar tanaman
dapat mensuplai air sehingga tidak layu.
4.2 Pemasangan ajir dan pengikatan
Pemasangan ajir pada tanaman cabai dilakukan pada umur 21 Hari Setelah
Tanam, akan tetapi jika pemasangan ajir lebih dari 21 HST maka akan merusak

perakaran. Kegiatan pemasangan ajir bertujuan untuk menopang tanaman agar


dapat tumbuh dengan tegak dan kokoh serta memudahkan dalam pemeliharaan.
Kegiatan lain setelah pemasangan ajir yaitu pengikatan dengan tali rafia dengan
membentuk angka 8 antara tanaman cabai dan ajir. Pengikatan dilakukan pada
umur 22 HST.
4.3 Pewiwilan
Pewiwilan dilakukan pada tanaman cabai yang bertujuan untuk
menyeragamkan buah, menekan hama dan penyakit, memudahkan dalam
pemeliharaan dan meningkatkan produksi. Tunas air menyerap unsur hara lebih
banyak sehingga pertumbuhannya lebih cepat dari pada percabangan, akan tetapi
dalam menghasilkan buah tidak optimal dan mnyebabkan percabangan tidak
teratur ayau rimbun. Pewiwilan pada cabai biasanya dilakukan dalam tiga tahapan
yaitu 28, 45, dan 75 HST. Tanaman cabai apabila diwiwil secara teratur, maka
akan menghasilkan buah seragam.
4.4 Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan pada lubang tanam tanaman cabai yang
bertujuan

untuk

mengokohkan

akar

sehingga

tanaman

dapat

tumbuh

tegak.Kegiatan pembumbunan dilakukan dengan menambahkan tanah pada setiap


lubang tanam.
4.5 Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan tujuan penambahan unsur hara ke dalam
tanah apabila kandungan hara dalam tanah tidak mencukupi untuk mendukung
pertumbuhan tanaman secara optimal pada fase pertumbuhannya. Pengaplikasian
pupuk pada tanaman cabai dengan cara dikocor dan disemprot. Pengkocoran
dilakukan dengan menggunakan aqua gelas untuk setiap tanaman.Larutan pupuk
dimasukkan melalui lubang tanam, dekat pangkal batang tanaman cabai.
Pemupukan yang mengandung unsur N sebaiknya tidak mengenai daun tanaman,
karena dosis dari pupuk yang diberikan akan membuat daun terbakar. Selain
aplikasi kocor, pemupukan pada tanaman cabai juga dapat dilakukan dengan
penyemprotan.

Beberapa jenis pupuk yang aplikasinya dengan cara semprot biasanya


dilakukan berbarengan dengan pengendalian hama dan penyakit yaitu dilakuakn
penyemprotan ke seluruh bagian tanaman, karena pupuk tersebut dapat diserap
oleh tanaman secara maksimal dibandingkan kocor. Aplikasi pemupukan
dilakukan setiap minggu secara teratur.
Pada saat tanam dan setiap minggu, sampai 4 MST pupuk kocor yang
digunakan ialah 100 gram NPK Mutiara, 10 gram Antracol yang dilarutkan dalam
10 liter air. Setiap tanaman diberi 250 ml larutan tersebut. Pada 5 MST sampai
akhir praktikum diberi pupuk kocor dengan komposisi 200 gram NPK Mutiara, 10
gram Antracol yang dilarutkan dalam 10 liter air. Setiap tanaman diberi 250 ml
larutan tersebut.Pengendalain HPT dilakukan setiap minggu dengan konsentrasi
1.5 gram/liter Curacron, 1.5 gram/liter Antracol.
4.6 Pengendalian gulma
Pengendalian gulma dengan menggunakan cara manual, gulma akan berbahaya
apabila tidak dikendalikan, karena gulam kana menyerap unsur hara pada tanah.
Unsur hara yang diserap gulma akan mengurangi unsur hara yang seharusnya
diserap

oleh

pertanaman,

sehingga

pertanaman

kurang

optimal

dalam

pertumbuhan.
5. Penyerbukan
Penyerbukan merupakan proses jatuhnya serbuk sari ke kepala putik.
Proses penyerbukan dilakukan untuk memproduksi benih terutama produksi benih
hibrida. Jenis penyerbukan pada tanaman cabai yang dilakukan yaitu penyerbukan
silang.Jenis bunga yang digunakan ialah tanaman berbunga fertil, tanaman
berbunga hermaprodit dimana benang sarinya subur. Waktu penyerbukan optimal
yaitu pada pagi hari, karena pada siang hari kepala putik akan kering sehingga
serbuk sari sulit untuk menempel.
5.1 Persilangan
Persilangan merupakan proses menggabungkan dua karakter yang berbeda
daai tetua yang berbeda dengan minimal dua tetua yang digunakan. Kegiatan
persilangan bertujuan untuk menghasilkan keturunan yang diharapkan lebih
unggul dari kedua tetuanya. Teknik persilangan di lapang antara lain pemilihan
10

bunag yang siap mekar, kastrasi, emaskulasi, pengumpulan serbuk sari dari tetua
jantan, penyerbukan, penyungkupan, dan pelabelan.
Pemilihan bunga cabai yang

siap mekar dan siap diserbuki. Ciri-ciri

bunga yang siap mekar ialah bunganya berwarna putih dan menggembung
sebelum terjadi penyerbukan sendiri.Tujuan dari penggunaan bunga yang siap
mekar dibandingkan dengan bunga yang masih kuncup, yaitu putik siap untuk
diserbuki sehingga mengoptimalkan hasil persilangan.
Proses kastrasi dan emaskulasi pada persilangan. Kastrasi adalah
membersihkan bagian tanaman yang ada disekitar bunga yang akan diemaskulasi,
dari kotoran, serangga, serta mahkota dan kelopak. Emaskulasi merupakan
pembuangan benang sari pada tetua betina sebelum bunga mekar atau sebelum
terjadi penyerbukan sendiri.
Proses pengumpulan serbuk sari dari bunga berbeda yang akan dijadikan
sebagai tetua janta pada kegiatan persilangan. Serbuk sari dapat dikumpulkan
terlebih dahulu terutama untuk persilangan dalam jumlah banyak agar lebih
efisien.Pengumpulan serbuk sari dapat menggunakan pinset steril apabila serbuk
sari belum pecah.
Proses peletakan serbuk sari ke kepala putik pada kegiatan persilangan
merupakan proses penyerbukan. Teknik yang digunakan dapat mengguankan
pinset steril agar kemurnian genetiknya terjaga.
Proses isolasi fisik pada bunga cabai dengan menggunakan sungkup
plastik.

Sungkup

plastik

digunakan

dengan

tujuan

untuk

menghindari

pencampuran serbuk sari lain yang tidak dikehendaki, sehingga kemurnian


genetiknya tetap terjaga. Sungkup plastik akan lepas dengan sendirinya seiring
dengan perkembangan buah cabai hasil persilangan.
Proses pelabelan merupakan tahapan dari kegiatan persilangan tanaman
cabai. Pelabelan bertujuan sebagai pemberi identitas pada buah hasil persilangan.
Label yang digunakan sebaiknya terbuat dari plastik tahan air sehingga identitas
tetap jelas. Penggunaan spidol permanen juga diperlukan dalam pemberian
identitas pada label sehingga mudah terbaca. Label biasanya berisi nama atau
nomor tetua betina dan tetua jantan.

11

6. Panen
Pemanenan pada buah cabai dilakukan pada buah cabai yang sudah masak
fisiologis dengan ciri-ciri buah cabai berwarna merah sekitar 80%.Umur panen
buah cabai berwarna merah sekitar 82 hari tergantung varietasnya.Waktu panen,
teknik, dan ketelitian pada saat panen merupakan hal yang penting untuk
diperhatikan supaya kualitas benih tidak menurun ketika dipanen.Waktu yang
ideal untuk panen buah cabai yaitu pada saat pagi hari karena kandungan air
dalam buah optimum.Teknik yang tepat pada saat panen cabai yaitu memetik buah
cabai dengan tangkai buahnya agar buah cabai dapat bertahan lebih lama.Selain
itu ketelitian pada saat panen cabai sangat diperhatikan.
7. Estimasi
Estimasi pada tanaman cabai merupakan kegiatan memperkirakan potensi
hasil buah per tanaman.Kegiatan estimasi ini dilakukan dengan menghitung total
buah per tanaman setelah dilakukan beberapa kali panen.
8. Pascapanen
Pascapanen merupakan kegiatan yang dilakukan sesudah panen produksi
benih.Kegiatan pascapanen bertujuan untuk mendapatkan benih yang bermutu
baik, mempertahankan daya berkecambah benih dan vigor sampai waktu
penanaman. Kegiatan yang dilakukan antara lain penimbangan hasil panen,
karakterisasi, ekstaraksi, pengeringan benih, pengemasan dan penomoran baru,
serta penyimpanan.
8.1 Penimbangan hasil panen
Penimbangan hasil panen merupakan kegiatan yang dilakukan setelah
panen.Buah yang dipanen merupakan hasil persilangan dan hasil bersari
bebas.Penimbangan hasil panen bertujuan untuk mengetahui produktivitas setiap
hasil panen buah cabai.Penimbangan bobot buah ini dilakukan pada setiap kali
panen.Selain penimbangan bobot buah cabai, dilakukan penimbangan bobot benih
cabai setelah dikeringkan, untuk mendapatkan rendemen benih cabai.
8.2 Ekstraksi cabai

12

Ekstraksi

merupakan

kegiatan

memisahkan

biji

dari

daging

buahnya.Kegiatan ekstraksi bertujuan untuk memudahkan pada saat pengeringan


benih.Ekstraksi cabai dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan
karena jumlah buah yang diekstraksi dalam jumlah sedikit.Ekstraksi cabai secara
manual lebih efisien dan efektif karena bagian benihnya tidak ada yang terluka
dibandingkan menggunakan mesin ekstraksi.
8.3 Pengeringan benih
Kegiatan pengeringan benih dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi
kadar air di dalam benih sampai batas kritikal agar dapat disimpan dalam jangka
waktu yang lama. Kandungan air dalam benih sangat menentukan daya simpan
benih. Pengeringan cabai dilakukan dengan cara manual sinar matahari.
8.4 Pengemasan dan penomoran benih
Pengemasan benih merupakan kegiatan memasukkan benih ke dalam
kemasan yang memberikan perlindungan kepada benih terhadap hama penyakit
pada gudang simpan. Benih yang sudah dikemas dan tertutup rapat kemudian
diberi label atau penomoran pada kemasan. Kegiatan penomoran bertujuan untuk
pemberian identitas pada benih sehingga memudahkan proses penyimpanan dan
saat pengambilan.
8.5 Penyimpanan benih
Penyimpanan benih merupakan kegiatan mempertahankan viabilitas benih
dari mulai benih dihasilkan sampai benih tersebut ditanam kembali.Gudang
penyimpanan benih suhu 18.7 0C dan kelembaban relatif 30%. Alat yang
digunakan yaitu Air Conditioner untuk mengatur suhu dan dehumidifier untuk
mengatur RH. Suhu dan RH pada gudang simpan harus tetap dijaga agar tetap
stabil dengan tujuan untuk mempertahankan viabilitas benih agar tetap 100%,
sehingga pada saat di tanam di lapang mutu benih tetap terjaga.

13

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Tabel 1. Hasil Persilangan Cabai Hibrida
Tetua
IPB C2 IPB C5

Keberhasilan (%)
60 %

Kegagalan (%)
40 %

Tabel 2. Hasil Rendemen Tetua Cabai


Rendemen (%) IPB C2
4,6 %

Rendemen (%) IPB C5


5,4 %

4.2 Pembahasan
Berdasarkan tabel 1.hasil persilangan cabai hibrida didapatkan persentase
keberhasilan dan persentase kegagalan dari persilangan IPB C2 IPB C5. Data
persilangan ini merupakan data kelompok, persentase keberhasilan 60% dan
persentase kegagalan 40%.Persentase keberhasilan masih rendah karena banyak
faktor penyebab diantaranya waktu berbunga tanaman cabai antar tetua tidak
serempak, hal ini mengakibatkan sulitnya persilangan.Buah cabai cepat terserang
penyakit busuk buah dikarenakan tanaman pinggir dan ternaungi oleh pepohonan
dan tidak mendapat sinar matahari optimal.
Berdasarkan tabel 2.hasil rendemen tetua cabai didapatkan rendemen tetua
C2 sekitar 4,6% dan rendemen tetua C5 sekitar 5,4%. Rendemen tetua betina C2
lebih rendah dibandingkan dengan tetua jantan C5 lebih tinggi, hal ini disebabkan
produksi buah tetua betina lebih sedikit dibandingkan dengan produksi buah tetua
jantan.

14

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Produksi benih cabai hibrida dengan persentase keberhasilan yang rendah
disebabkan berbagai faktor penyebab diantaranya waktu berbunga tidak serempak
dan terserang penyakit busuk buah.

5.2 Saran
Saran untuk produksi benih hibrida ialah lahan pertanaman sebaiknya
dirotasi untuk menghindari hama dan penyakit yang sama dan semakin banyak.

15

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian.


2012.
Outlook
Komoditas
Pertanian
Hortikultura.
http://www.hortikultura.deptan.go.id.
Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011. Volume Ekspor Impor Total Sayuran.
http://www.hortikultura.deptan.go.id.
Hamid A dan Haryanto M. 2012.Untung Besar Dari Bertanam Cabai Hibrida.
Jakarta (ID) : PT Agromedia Pustaka.
Kusandriani Y dan Permadi AH. 1996. Pemuliaan Tanaman Cabai, hal. 28-35.
Dalam Duriat AS, Hadisoeganda AWW, Soetiasso TA, dan Prabaningrum
L. (Eds). Teknologi Produksi Cabai Merah. Lembang (ID) : Balitsa.
Mangoendidjojo W. 2003.Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta (ID) :
Kanisius.
Mugnisjah WQ dan Setiawan A. 2004.Produksi Benih. Jakarta (ID) : Bumi
Aksara.
Pradipta A. 2010. Evaluasi Daya Hasil Empat Cabai (Capsicum Annum L.)
Hibrida IPB di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo [Skripsi]. Bogor (ID) :
Fakultas Pertanian IPB.
Sadjad S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Jakarta (ID) : PT Grasindo.
Syukur M. 2012. Sukses Panen Cabai Tiap Hari. Jakarta (ID) : Penebar Swadaya.
Syukur M. 2012. Teknik Pemuliaan Tanaman. Jakarta (ID) : Penebar Swadaya.
Syukur M. 2012. Cabai Prospek Bisnis dan Teknologi Mancanegara. Jakarta
(ID) : Agriflo.

16

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


PRODUKSI BENIH HIBRIDA TOMAT

Disusun oleh :
Kelompok 1 ( P1)

PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
17

2014
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tujuan utama pemuliaan tanaman tomat adalah mendapatkan kultivar
tomat berdaya hasil tinggi dan beradaptasi luas.Mutu buah juga perlu
diperhatikan, karena berkaitan dengan selera konsumen dan menentukan varietas
bisa diterima atau tidak.Mutu buah tomat mencakup semua sifat dan karakter yang
melekat pada buah tersebut.Kenampakan bagian luar seperti kekerasan, lama
waktu masak dan daya simpan buah tomat, merupakan faktor penting yang
menentukan buah tomat tersebut untuk dapat diterima dan memiliki pangsa pasar
yang bagus.Selain itu mutu buah tomat ditentukan pula oleh rasa dan kandungan
gizi yang bagus.Varietas unggul menjadi salah satu komponen yang tidak dapat
diabaikan, karena menjadi penjamin keberhasilan usahatani hortikultura.Penentu
jaminan tersebut dibuktikan oleh peran yang nyata dalam peningkatan produksi,
baik dalam jumlah maupun hasil tanaman.
Tomat merupakan satu dari sayuran yang paling banyak dibudidayakan di
dunia. Sebagai sayuran buah, tomat merupakan sumber vitamin A dan C. Tomat
tumbuh baik pada temperatur 20 -27C, pembentukan buah terhambat pada
temperatur >30C atau < 10C. Tomat baik ditanam pada tanah yang berdrainase
baik, dengan pH optimum 6.0 -7.0.
Tomat dapat ditanam sebagai rotasi pada lahan sawah. Hindari menanam
tomat pada lahan yang sebelumnya ditanami tanaman dari keluarga Solanaceae,
seperti: terung, cabai, tomat dan yang lainnya untuk menghindarkan hama dan
penyakit. Beberapa tipe tomat yang dibudidayakan antara lain: buah segar
(biasanya berwarna merah dengan variasi dalam bentuk, ukuran dan warna);
chery-buah kecil; dan prosesing buah dengan warna merah yang kuat dan tinggi
dalam kandungan bahan padat, sesuai untuk dibuat pasta, sup atau saos.

18

Berdasarkan pertumbuhannya, tomat diklasifikasikan sebagai determinat


(menyemak, pendek) dimana pertumbuhan batang diakhiri dengan karangan
bunga,

semideterminate

atau

indeterminat

(tinggi)

tumbuh

berterusan

menghasilkan daun dan bunga. Pada indeterminat, memungkinkan masa panen


yang lebih panjang, yang mungkin bermanfaat pada waktu harga berfluktuasi,
akan tetapi jenis ini perlu menggunakan turus dan harus dipangkas secara teratur
yang dapat menambah tenaga kerja. Untuk varietas yang ditanam dapat dipilih
berdasarkan varietas yang tahan penyakit, disesuaikan dengan musim, atau
varietas hibrida maupun OP, tergantung dari kebutuhan budi daya.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu memahami dan
terampil dalam melakukan persilangan serta menghasilkan benih hibrida.

19

TINJAUAN PUSTAKA
Ciri Tanaman Berdasarkan Perkembangbiakan Tanaman
Bunga tanaman tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan
dengan jumlah 5-10 bunga per dompolan atau tergantung dari varietasnya.
Kuntum bunga terdiri dari lima helai daun kelopak dan lima helai mahkota. Pada
serbuk sari bunga terdapat kantong yang letaknya menjadi satu dan membentuk
bumbung yang mengelilingi tangkai kepala putik.Bunga tomat dapat melakukan
penyerbukan sendiri karena tipe bunganya berumah satu.Meskipun demikian tidak
menutup kemungkinan terjadi penyerbukan silang (Wiryanta dalam Saragih,
2008).
Perkembangan Bunga Dari Kuncup Sampai Mekar dan Siap Disilangkan
Tanaman tomat mulai berbunga ketika memasuki umur 18-25 hari setelah
tanam.Umur berbunga pada setiap varietas tanaman tomat berbeda-beda. Dalam
perkembangannya proses pembungaan memiliki beberapa tahapan, yaitu :
1. Induksi bunga
Tahap pertama dari proses pembungaan ketika meristem vegetatif
deprogram untuk mulai berubah menjadi sistem reproduktif. Peristiwa ini
terjadi di dalam sel dan dapat dideteksi secara kimiawi dari peningkatan
sintesis asam nukleat dan protein yang dibutuhkan dalam diferensiasi dan
pembelahan sel.
2. Inisiasi bunga
Tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup reproduktif
mulai dapat terdeteksi secara makroskopis untuk pertama kalinya.Inisiasi
dan pembungaan berkaitan dengan sifat tumbuhannya yang juga
dipengaruhi oleh iklim.
3. Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis ( bunga mekar)
20

Ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga. Pada tahap


ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk
penyempurnaan dan pematangan organ-organ reproduksi jantan dan
betina.
4. Anthesis
Tahap ketika terjadi pemekaran bunga.Biasanya anthesis terjadi
bersamaan dengan masaknya organ reproduksi. Ada kalanya organ
reproduksi masak sebelum anthesis atau bahkan jauh setelah terjadinya
anthesis.
Cara Pemilihan Tetua
Pilih tomat yang memiliki warna berbeda, misalnya merah dan kuning.
Jika galur murni, variasi warna akan tampak pada F 2. Selain variasi warna
mungkin timbul variasi karakter lain (Astarini, 2009).

21

METODOLOGI
3.1Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk budidaya penanaman tanaman tomat adalah
cangkul, kored, ajir, meteran, gembor dan tali.Sedangkan alat yang digunakan
untuk persilangan tanaman tomat adalah pinset, gunting, label, dan plastik.
Bahan yang digunakan untuk budidaya penanaman tomat adalah benih
tomat, kapur, pupuk kandang, pupuk NPK, urea, KCL, SP-36, insektisida, dan
fungisida.Sedangkan bahan yang digunakan untuk melakukan persilangan adalah
label, solasi dan benang.

3.2 Langkah Kerja


3.2.1 Teknik budidaya
Penanaman tomat dilakuan dengan menyemai benih dalam trysemai
menggunakan media semai steril.Setelah daun pertaman membuka sempurna,
bibit dipupuk dengan NPK mutiara (10 g/l) dengan sistem kocor serta disemprot
dengan insektisida Curacron (2 cc/l) dan fungisida Antracol (2 g/l) seminggu
sekali.Setelah berumur 4 minggu atau telah memiliki 4 pasang daun bibit
dipindahkan ke lapang.
Tomat ditanam pada bedengan berukuran 1m x 5m. Setelah diolah, lahan
diberi pupuk kandang (0,25 karung/petak) dan kapur (0,5 kg/petak). Selanjutnya
bedengan ditutup dengan mulsa plastik hitam perak. Jarak tanam yang digunakan
50 cm x 50 cm. Benih ditanam sebanyak 1 bibit/ lubang. Setiap kelompok akan
menanam dua genotipe.
3.2.2 Teknik Persilangan
Persiapan
Alat-alat yang perlu dipersiapkan untuk melakukan kastrasi dan
penyerbukan silang adalah sebagai berikut: pisau kecil yang tajam, gunting kecil,
pinset dengan ujung yang tajam dan melengkung sedikit, jarum yang panjang dan
lurus. Kantung untuk membungkus bunga sebelum dan sesusah dilakukan

22

penyerbukan. Label dari kertas yang tebal dan diberi nomor urut dan tanggal
persilangan.
Kastrasi
Kastrasi adalah membersihkan atau membuang bagian tanaman yang ada
di sekitar bunga yang akan di emaskulasi, dari kotoran, serangga, kuncup-kuncup
bunga yang tidak dipakai. Membuang mahkota dan kelopak juga termasuk
kegiatan kastrasi.
Emaskulasi
Emaskulasi adalah pembuangan alat kelamin jantan (stamen) pada tetua
betina,

sebelum

bunga

mekar

atau

sebelum

terjadi

penyerbukan

sendiri.Emaskulasi terutama dilakukan pada tanaman berumah satu yang


hermaprodit dan fertil.Cara emaskulasi tergantung pada morfologi bunganya.
Emaskulasi dilakukan dengan cara kuncup dibuka dengan pinset atau dipotong
dengan gunting, kemudian antera atau stamen dibuang dengan pinset.
Adapun cara melakukan emaskulasi menggunakan piset adalah sebagai
berikut :
a. Terlebih dahulu kantong yang membentuk kuncup bunga dibuka perlahanlahan.
b. Bagian ujung dari kuncup bunga dipotong dengan pisau silet atau gunting,
sehingga kepala putiknya keliahatan jelas dari atas, pekerjaan ini harus
dilakukan dengan hati-hati jangan sampai putiknya turut terpotong atau
rusak.
c. Kemudian mahkota dari kuncup bunga dibuka perlahan-lahan satu persatu
dengan menggunakan sebuah pinset sampai semua benang sari terlihat
jelas dari luar.
d. Dengan sebuah pinset benang sarinya dapat dicabuti satu persatu sampai
habis. Bila perlu semua mahkota dibuang.

23

e. Bila pekerjaan ini dilakukan dengan baik, dan tidak menyentuhputik, maka
kepala putiknya akan terlihat bersih, sehat, segar dan tidak rusak. Keadaan
kepala putik dapat diperiksa dengan menggunakan kaca pembesar.
f. Kemudian bunganya dibungkus lagi agar tidak mendapat gangguan dari
luar.
g. Baik pinset maupun gunting kecil harus steril.
h. Setelah emaskulasi hendaknya pada tangkai bunga segera digantungkan
sebuah label yang telah diberi nomer dan dicatat dalam daftar.

Isolasi
Isolasi dilakukan agar bunga yang telah diemaskulasi atau telah diserbuki
tidak tersebuki oleh serbuk sari asing.Dengan demikian baik bunga jantan maupun
betina harus disungkup dengan kantong.kantong disesuaikan dengan ukuran
bunga tanaman yang bersangkutan.
Pengumpulan serbuk sari
Dilakukan dengan mengambil serbuk sari yang akan digunakan untuk
penyerbukan. Serbuk sari yang digunakan adalah kuncup-kuncup bunga yang
masih segar. Kuncup bunga hendaknya dipetik dan diangkat pada pagi hari
sebelum matahari terbit atau pada sore hari setelah matahari terbenam.
Penyerbukan
Polen (serbuk sari) yang telah di kumpulkan kemudian diserbukkan ke
stigma tetua betina yang telah dilakukan emaskulasi.Penyerbukan menggunakan
pinset, dengan mengambil poleh tersebut dan oleskan ke stigma.Penyerbukan
bunga jantan diatas bunga betina, sehingga polen jantan jatuh ke stigma dari
bunga tetua betina yang tellah di emaskulasi.
Pelabelan
Label yang dipasang ke bunga yang telah disilangkan berisi innformasi
tentang : nama tetua jantan dan betina, waktu persilangan dan nama inisial orang
yang melakukan persilangan.

24

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Tabel 3. Data Panen

Varietas

Panen Tanaman

Jumlah

ke

(buah)
buah (gr) Benih (gr) (%)
8
430
2.26
8
460
2.44
4
210
1.41
4
230
1.47
4
161
1.38
4
202
1.38
3
91
0.87
0
0
0
35
1784
11.21
0
0
0
0
0
0
3
200
0.58
3
210
0.61
5
295
1.67
6
394
2.01
0
0
0
8
242
0.77
25
1341
5.64

1
2
IPB T-13
3
4

ke
4
8
4
8
4
8
4
8

Total
1
2
IPB T-78
3
4
Total

2
3
2
3
2
3
2
3

Bobot

Bobot

Rendemen
0.52
0.53
0.67
0.63
0.85
0.68
0.95
0
4.83
0
0
0.29
0.29
0.56
0.51
0
0.31
1.96

25

Tabel 4. Data Persilangan Kelompok 1 TIB A/P1


Jumlah
Nama genotipe

Nama Penyilang

Fauzan Hidayatullah
IPB T-13 x T- Ridwan Budiar
Rimna Margaretha
78
M. Ikbal Suhaemi
Mega Nurhayati
Total
Fauzan Hidayatullah
IPB T-78 x T- Ridwan Budiar
Rimna Margaretha
13
M. Ikbal Suhaemi
Mega Nurhayati
Total

bunga yang
disilangkan
50
10
4
7
4
75
16
9
3
8
4
40

Jumlah

Benih

buah (buah)

(kantong)

7
2
4
3
2
18
2
4
0
2
1
9

6
2
4
3
2
17
2
4
0
2
1
9

4.2 Pembahasan
Panen dilakukan sebanyak empat kali.Dalam setiap panennya diambil dua
sampel tanaman terbaik untuk ditimbang kemudian dihitung rendemennya.
Produksi tomat varietas IPB T-13 lebih banyak dibandingkan dengan varietas IPB
T-78. Pada tomat T-13 jumlah buah yang dihasilkan yaitu sebanyak 35 buah,
bobot buah sebesar 1784 gr, bobot benih 11.21 gr dan rendemen sebesar 4.83 %.
Sedangkan untuk varietas IP T-78 jumlah buah yang dihasilkan yaitu sebanyak 25
buah, bobot buah 1341 gr, bobot benih 5.64gr dan rendemen sebesar 1.96 %. Hal
ini disebabkan karena lokasi lahan yang kurang mendukung untuk pertumbuhan
tomat.Tanaman tomat yang ditanam berada di pinggir lahan.Selain itu struktur
tanah masih banyak terdapat sampah dan batuan krikil.Sehingga tanaman tomat
IPB T-78 kurang memproduksi buah yang maksimal.
Hasil persilangan yang dilakukan memiliki tingkat keberhasilan yang
kurang baik, hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam teknik persilangan.Ketidakberhasilan persilangan juga
dikarenakan bunga yang telah disilangkan gugur atau jatuh sehingga tidak dapat
tumbuh menjadi buah. Total benih yang didapatkan adalah

26

Dalam teknik persilangan perlu diperhatikan pada saat kastrasi (Membuang


mahkota dan kelopak). Hal ini disebabkan karena bunga yang akan disilangkan
memiliki ukuran yang kecil sehingga cukup sulit apabila hanya menyisakan
kepala putiknya saja. Oleh karena itu perlu hati-hati dalam mengerjakan kastrasi
ini.
Selain itu hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat isolasi.Isolasi
bertujuan agar bunga yang telah di silangkan serbuk sarinya tidak jatuh saat ada
angin dan menjaga serbuk sari agar tetap menempel pada kepala putik.Pada saat
dilakukan isolasi bunga yang telah disilangkan sebaiknya dilakukan dengan hatihati.

27

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah bahwa bunga
tomat dapat melakukan penyerbukan sendiri karena tipe bunganya berumah
satu.Tetapi dengan melakukan persilangan kita dapat menghasilkan buah yang
baik sehingga dapat dijadikan benih yang memiliki keunggulan dari tanaman yang
ditanam sebelumnya.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan persilangan teknik yang dilakukan harus
secara berurutan dan dilakukan dengan hati-hati dan teliti.

28

LAMPIRAN
Lampiran 1. Foto Kegiatan Praktikum Produksi Benih Hibrida Tomat

Tanaman tomat T-78


Tanaman tomat T-13

Hasil Panen

29

DAFTAR PUSTAKA

Saragih, W.C. 2008. Respon Pertumbuhan dan Produksi Tomat Terhadap


Pemberian Pupuk Phospat dan Bahan Organik.Skripsi. Universitas
Sumatera Utara
Astarini, I.D. 2009. Pemuliaan Tanaman Sayuran. Tidak Diketahui

30

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


PRODUKSI BENIH HIBRIDA JAGUNG

Disusun oleh :
Kelompok 1 ( P1)

PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

31

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan akan pangan karbohidrat yang semakin meningkat akibat
pertumbuhan penduduk sulit dipenuhi dengan hanya mengandalkan produksi padi,
mengingat terbatasnya sumber daya terutama lahan dan irigasi. Jagung merupakan
bahan pangan karbohidrat yang dapat membantu pencapaian dan pelestarian
swasembada pangan. Disamping itu, jagung juga merupakan bahan pakan, bahan
ekspor nonmigas dan bahan baku industri .Varietas jagung hibrida telah terbukti
memberikan hasil yang lebih baik dari varietas jagung bersari bebas. Secara
umum, varietas hibrida lebih seragam dan mampu berproduksi lebih tinggi 15 20% dari varietas bersari bebas .Selain itu, varietas hibrida menghasilkan biji
yang lebih besar dibandingkan varietas bersari bebas .
Pemerintah terus menggalakkan penggunaan benih jagung hibrida untuk
menggenjot produksi jagung nasional.Pangsa pasar jagung hibrida pun terus
tumbuh pesat, seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang bergerak di
bidang produksi benih jagung hibrida. Pangsa pasar jagung hibrida saat ini
mencapai 50-60% dari total 4 juta ha lahan pertanaman jagung di Indonesia.
Berbagai

program

berbantuan

dilakukan

oleh

pemerintah

untuk

menggalakkan penggunaan benih hibrida diantaranya Bantuan Langsung Benih


Unggul (BLBU), Cadangan Benih Nasional (CBN), Program SL-PTT dan lainlain.
Untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara produsen jagung yang
tangguh dan mandiri, strategi kebijakan adalah meningkatkan tingkat penggunaan
benih hibrida di tingkat petani untuk menggantikan jagung komposit dan jagung
lokal yang produktivitasnya rendah.Produktivitas jagung hibrida berkisar 10-13
t/ha lebih tinggi dibanding varietas komposit atau lokal yang hanya < 3 t/ha.
Jagung hibrida merupakan generasi pertama hasil persilangan dua galur
murni.Pemulia jagung umumnya memulai perakitan jagung hibrida melalui
persilangan galur/plasmanutfah.Plasmanutfah sendiri memegang peranan yang
sangat vital karena berperan dalam menentukan ketersediaantetua unggul. Tetua

32

yang berasal dari plasma nutfah superior dengan karakter agronomi ideal akan
menghasilkan galur yang memiliki daya gabung yang baik.
Jagung hibrida merupakan generasi F1 hasil persilangan dua atau lebih
galur murni dan memiliki perbedaan keragaman antar varietas, tergantung dari
tipe hibridisasi dan stabilitas galur murni .Komersialisasi jagung hibrida sudah
dimulai sejak tahun 1930, namun penanaman jagung hibrida secara luas
(ekstensif) di Asia baru dimulai pada tahun 1950-1960.
Di sebagian besar negara berkembang, 61% dari lahan pertananaman
jagung masih ditanami varietas bersari bebas.Meskipun demikian, varietas jagung
hibrida telah memberikan hasil yang memuaskan di sebagian negara-negara
berkembang, terutama di negara-negara yang sudah memiliki industri benih
swasta.Varietas hibrida memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas
bersari bebas, diantaranya mampu berproduksi lebih tinggi 15 - 20% dan memiliki
karakteristik baru yang diinginkan seperti ketahanan terhadap penyakit. Selain itu,
penampilan varietas hibrida lebih seragam , dimana varietas bersari bebas pada
umumnya memiliki keragaman yang tinggi pada karakteristik tongkol dan biji.
1.2 Tujuan
Praktikum Produksi Benih Hibrida Jagung ini bertujuan agar mahasiswa
mampu memproduksi benih jagung hibrida, dan mengetahui cara persilangan
double cross hybrid, serta agar mahasiswa mengetahui teknis budidaya jagung
hibrida.

33

TINJAUAN PUSTAKA
Deskripsi Jagung Manis Varietas Sugar 75
Asal

: Syngenta Thailand Co.Ltd., Thailand

Silsilah

: SF 8717 (F) x 1035 (M)

Golongan varietas

: hibrida silang tunggal

Umur mulai panen

: 75 hari setelah tanam

Tinggi tanaman

: 160 170 cm

Perakaran

: kokoh

Kerebahan

: tahan

Bentuk batang

: bulat

Warna batang

: hijau

Bentuk daun

: bangun pita

Warna daun

: hijau tua

Ukuran daun

: panjang 90 110 cm; lebar 9 12 cm

Bentuk malai

: tegak dan agak terbuka

Warna malai

: putih

Warna rambut

: putih

Bentuk tongkol

: runcing memanjang

Ukuran tongkol

: panjang 20 cm, diameter 5 cm

Berat per tongkol

: 350 400 g

Jumlah tongkol

: 1 2 tongkol

Warna tongkol

: hijau

Baris biji

: berkelok

Jumlah baris biji

: 18 baris

Warna biji

: kuning

Kadar gula

: 14,12 obrix

Berat 1.00 biji


Hasil

: 130 g
: 19 21 ton/ha

34

Deskripsi Jagung Manis Varietas Talenta


Golongan varietas

: hibrida silang tunggal

Umur mulai panen

: 73 hari setelah tanam

Tinggi tanaman

: 170 200 cm

Perakaran

: kokoh

Kerebahan

: tahan

Bentuk batang

: bulat

Warna batang

: hijau

Bentuk daun

: bangun pita

Warna daun

: hijau tua

Ukuran daun

: panjang 95 115 cm; lebar 10 15 cm

Bentuk malai

: tegak dan agak terbuka

Warna malai

: putih

Warna rambut

: putih

Bentuk tongkol

: runcing memanjang

Ukuran tongkol

: panjang 22 cm, diameter 6 cm

Berat per tongkol

: 310 450 g

Jumlah tongkol

: 1 2 tongkol

Warna tongkol

: hijau

Baris biji

: berkelok

Jumlah baris biji

: 18 baris

Warna biji

: kuning

Kadar gula

: 12,14 obrix

Berat 1.00 biji

: 145 g

Hasil

: 18 25 ton/ha
Sejak

tahun

Indonesiamengalami

1995

penanaman

perkembangan

pesat.

varietas
Hingga

jagung
tahun

hibrida
2006

di

terdapat

enamperusahaan benih jagung hibrida swasta dan BUMN, yaitu PT Sang


HyangSeri (BUMN), PT Pertani, PT BISI, PT Pioneer, PT Monagro Kimia, dan
Syngenta.Badan Litbang Pertanian maupun perusahaan benih swasta telah
melepasvarietas jagung hibrida dengan potensi hasil 9,0-10,0 t/ha. Balai
PenelitianTanaman Serealia (Balitsereal) pada awal tahun 2007 telah melepas
35

duavarietas jagung hibrida silang tunggal, yaitu Bima-2 Bantimurung dan Bima-3
Bantimurung, masing-masing mampu ber-produksi 11 t dan 10 t/ha pipilankering,
toleran terhadap penyakit bulai, dan dapat beradaptasi pada lahanoptimal maupun
suboptimal (Deptan 2007a; Deptan 2007b ).
Areal

pertanaman

masihdidominasi

oleh

varietas
hibrida

jagung
yang

hibrida

hingga

dihasilkan

oleh

tahun

2005

perusahaan

multinasional.Varietas yang populer adalah BISI, Pioneer, dan NK. Salah satu
perusahanbenih nasional, PT Sang Hyang Seri, pada tahun 1991 mampu
memproduksibenih jagung hibrida sebanyak 279 ton dengan volume penjualan
255 tondan pada tahun 2002 mengalami peningkatan produksi mencapai 500
tondan terserap semua oleh petani. Empat perusahaan benih berskala besarpada
tahun 2000 memiliki kapasitas produksi sebesar 2.985 ton dan diharapkanakan
terus meningkat. Penyebaran penggunaan varietas jagung padatahun 2002 adalah
28% hibrida, 47% komposit unggul, dan 25% kompositlokal (Damardjati et al.
2005).
Menurut Martodireso (2002; 58) untuk mengasilkan varietas unggul
diperlukan pemilihan benih penjenis jagung yang unggul.Perlu adanya
pertimbangan kemurnian jagung baik fisik maupun genetiknya. Karena
sebenarnya dalam pemuliaan/ produksi benih ada empat macam benih yang
penting diperhatikan yaitu breeder seed, foundation seed, registered/ parent seed
dan commercial seed.
Jagung hibrida merupakan turunan F1 dari persilangan antara galur-galur dengan
varietas bersari bebas atau antara dua varietas bersari bebas.
Menurut Warisno (1998) menyebutkan bahwa jagung hibrida dapat
diperoleh dari hasil seleksi kombinasi atau biasa dikenal dengan hibridisasi yaitu
menyerbuki bunga-bunga yang telah dikebiri dengan tepung sari dari tanaman
yang dikehendaki.
Menurut Rukmana (1997) menyatakan bahwa jagung hibrida keturunan
pertama (F1) dari persilangan antara galur-galur, antara galur single cross dengan
varietas

bersari

bebas

atau

antar

dua

varietas

bersari

bebas.

Untuk mendapatkan galur unggul dapat dilakukan melalui seleksi yang dimulai
dengan inventarisasi varietas atau spesies tanaman jagung.

36

Menurut Warisno (1998), semakin luas tingkat koleksi sifat maka akan
semakin tinggi sifat yang dikehendaki. Jagung hibrida juga dapat dihasilkan dari
hasil persilangan single cross dengan varietas hibrida yang telah stabil sifatnya
dan dikenal dengan hibrida double cross.Hasil panenan jagung hibrida tidak dapat
lagi digunakan sebagai benih karena sudah tidak murni lagi.
Tiga tipe hibrida sudah digunakan secara komersial, yaitu hibrida silang tunggal
(single cross hybrid), hibrida silang ganda (double cross hybrid), dan hibrida
silang tiga (three-way cross hybrid) (Sprague dan Dudley, 1988). Setiap tipe
hibrida memiliki konstitusi genetik yang berbeda.
Hibrida silang tunggal adalah hibrida dari persilangan antara dua galur
murni yang tidak berhubungan satu sama lain. Galur-galur murni yang digunakan
dalam silang tunggal diasumsikan telah homozigot.Oleh karena itu, tanaman
hibrida silang tunggal bersifat heterozigot pada semua lokus dimana kedua galur
murni berbeda. Silang tunggal yang superior mendapatkan kembali vigor dan
produktivitas yang hilang saat penyerbukan sendiri dan akan lebih vigor dan
produktif dibandingkan dengan tetuanya. Tidak semua kombianasi galur murni
akan menghasilkan silang tunggal yang superior.
Pada

kenyataannya,

agak

jarang

kombinasi

galur

murni

yang

menghasilkan silang tunggal dengan hasil yang superior. Kombinasi galur murni
harus diuji daya gabungnya untuk menemukan kombinasi mana yang akan
berguna untuk produksi benih hibrida. Disamping memiliki hasil yang tinggi,
hibrida silang tunggal lebih seragam dan produksi benihnya relatif lebih mudah
dibandingkan dengan hibrida silang tiga dan silang ganda (Singh, 1987).Namun
demikian, bahwa hibrida silang tunggal memiliki stabilitas penampilan yang lebih
rendah dibandingkan dengan hibrida silang ganda (Sprague dan Dudley, 1988).
Hibrida silang tunggal yang dimodifikasi adalah hibrida dari sebuah silang
tiga yang menggunakan progeni dari dua galur murni yang berhubungan sebagai
tetua betina dan satu galur murni yang tidak berhubungan sebagai tetua
jantan.Dua galur murni yang berhubungan (A_dan A__) mempunyai kemiripan
genetic mengenai tipe tanaman sehingga terdapat segregasi minimal untuk
karakteristik tanaman yang dikenali pada progreni hibrida (A_A__).Karena
progeni tersebut menghasilkan benih lebih banyak dibandingkan galur A_ atau

37

A__, maka progeny tersebut digunakan sebagai tetua betina pada silang tunggal
yang dimodifikasi.Galur murni yang tidak berhubungan digunakan sebagai tetua
jantan.Penampilan silang tunggal yang dimodifikasi pada lahan petani memiliki
kemiripan dengan silang tunggal.
Hibrida silang tiga adalah hibrida dari persilangan antara silang tunggal
dengan satu galur murni.Silang tiga berbeda dengan modifikasi silang tunggal,
dimana ketiga galur murni tidak berhubungan sehingga lebih berbeda secara
genetik dan penampilannya lebih beragam. Langkah-langkah produksi silang tiga
sama dengan silang tunggal yang dimodifikasi. Hibrida silang tiga yang
dihasilkan dari galur murni A, B, dan C dapat ditulis sebagai (A x B) x C.
Hibrida silang ganda adalah progeni hibrida dari persilangan antara dua
silang tunggal. Silang ganda melibatkan empat galur murni yang tidak
berhubungan satu sama lain. Pasangan galur murni disilangkan sehingga
membentuk dua silang tunggal, kemudian disilangkan untuk menghasilkan silang
ganda.Benih silang ganda dihasilkan dari tanaman silang tunggal yang telah
diserbuki oleh silang tunggal kedua. Hibrida silang ganda yang dihasilkan dari
galur murni A, B, C, dan D dapat ditulis sebagai (A x B) x (C x D).
Dua kombinasi persilangan yang lain adalah top cross dan multiple cross.
Top cross adalah progeni hibrida yang dihasilkan melalui penyerbukan suatu galur
murni dengan suatu populasi yang menghasilkan pollen yang tercampur secara
genetik. Top cross pada awalnya dihasilkan melalui penyerbukan satu galur murni
dengan varietas menyerbuk terbuka, dan kadang-kadang disebut persilangan galur
murni - varietas (inbred-variety cross). Saat ini, silang tunggal lebih umum
digunakan sebagai tetua jantan dalam top cross. Multiple cross dapat merupakan
hasil dari kombinasi persilangan yang menggunakan lebih dari empat galur murni
(Poehlman, 1983).

38

METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum produksi benih hibrida jagung ini
meliputi cangkul, kored, tangki semprot, ember, pisau, serta timbangan. Bahanbahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu, benih jagung varietas Talenta,
benih jagung varietas SG 75, Urea dengan dosis 200 kg/ha, KCl 150 kg/ha, SP-36
150 kg/ha, furadan, dan pupuk kandang.
3.2 Langkah Kerja
1. Penyiapan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya terutama jika
pertanaman sebelumnya adalah jagung. Jika gulma dapat mengganggu pengolahan
tanah dapat diberikan herbisida kontak untuk mempercepat pengolahan tanah, luas
lahan pertanamannya ( 4 x 5 )
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan bajak (2 kali) dan
diikuti dengan garu/sisir sampai tanah tidak berbongkah-bongkah dan rata.
3. Penyiapan Benih
Dalam pembentukan benih jagung hibrida dikenal ada 2 induk yaitu induk
tanaman jantan dan induk tanaman betina.Kedua induk tersebut berbeda
sifatsifatnya tetapi mempunyai daya gabung baik.Benih kedua induk tersebut
harus dipisahkan. Dalam memproduksi benih jagung hibrida (F1), kebutuhan
benih untuk tanaman induk jantan sekitar dan induk betina dari kebutuhan
total benih (tergantung varietasnya). Contoh: jika kebutuhan benih seluruhnya
sebanyak 20 kg, maka benih untuk induk jantan 5 kg dan induk betina 15 kg.
Sebelum benih ditanam, benih diberi perlakukan dengan metalaksil sebanyak 2
g/1 kg benih yang dicampur dengan air sebanyak 10 ml.
4. Penanaman

39

Dalam memproduksi benih jagung hibrida, perbandingan antara baris


induk tanaman jantan dan betina umumnya 1 : 2 (1 baris tanaman jantan dan 2
baris tanaman bentina). Namun perbandingan ini sangat tergantung dari
varietasnya.Pada umumnya induk tanaman jantan mempunyai umur berbunga
lebih lambat dibanding induk tanaman betina, dan perbedaannya berkisar antara 0
- 5 hari.Oleh karena itu agar waktu berbunganya bersamaan dan dapat terjadi
penyerbukan secara sempurna, maka untuk induk tanaman jantan biasanya
ditanam lebih dahulu dengan selisih waktu berkisar antara 0 - 5 hari tergantung
perbedaan umur berbunga dari tanaman jantan dan betina.
Berikut ini adalah gambar letak antara tanaman jantan dan betina pada
jagung hibrida. Dengan O ( Sebagai Tetua Betina ) dan X ( Sebagai Tetua Jantan ),
Dengan perbandingan 2 : 1 , yang artinya dalam 2 baris tetua betina terdapat 1
baris jantan.
O
O X O O X O O X
O
O X O O X O O X
O
O X O O X O O X
O
O X O O X O O X
O
O X O O X O O X
O
O X O O X O O X
Gambar 1. Letak Tetua Jantan dan Tetua Betina

O
O
O
O
O
O

O
O
O
O
O
O

5. Pemupukan
Setelah 3-5 hari dari saat benih ditanam, biasanya benih sudah tumbuh
menj adi tanaman kecil dan sudah muncul di atas permukaan tanah. Pemupukan
diberikan sebanyak 2-3 kali dengan porsi pemberian pupuk N pada setiap aplikasi
perlu disesuaikan dengan stadia pertumbuhan tanaman
6. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan pertama yang diikuti dengan pembumbunan ini dilakukan saat
tanaman berumur 15-20 hari setelah tanam.Penyiangan dan pembum-bunan dapat
dilakukan dengan menggunakan cangkul yang sekaligus membuat saluran irigasi
untuk pendistribusian air ke tanaman, jika diperlukan pada saat tanaman nanti

40

membutuhkan air.Penyiangan ke dua dilakukan sesuai dengan kondisi


pertumbuhan gulma di lapangan.
Pada umumnya dilakukan sesaat setelah pemupukan ke dua.Penyiangan ke
dua dapat dilakukan dengan meng-gunakan herbisida kontak atau secara manual
dengan cangkul.Penyiangan menggunakan herbisida kontak dapat dilakukan
dengan sprayer yang pada ujung nozzle-nya ditambahkan alat pelindung agar
percikan herbisida tidak mengenai daun tanaman. Penyemprotan dianjurkan pada
pagi hari dengan cara mengarahkan nozzle sedekat mungkin dengan permukaan
tanah.
7. Pengendalian hama
Hama utama yang biasanya dijumpai pada pertanaman jagung adalah lalat
bibit, penggerek batang dan tongkol. Khusus untuk pencegahan serangan hama
lalat bibit (terutama pada daerah endemik lalat bibit), dapat dilakukan dengan
pemberian carbofuran bersamaan dengan penanaman benih dalam lubang tanam,
takaran 10-15 kg (produk)/ha. Pengendalian hama penggerek batang dilakukan
jika ada gejala serangan hama, untuk itu dapat diberikan carbofuran melalui pucuk
tanaman dengan takaran 10 kg produk/ha (3-4 butir/tanaman).
8. Pemberian air
Pemberian air perlu dilakukan jika tanaman menunjukkan gejala
kekurangan air (daun mulai menggulung). Pendistribusian air sebaiknya dilakukan
melalui

alur

alur

di

antara

baris

tanaman

yang

telah

dibuat

saat

pembumbunan.Selama pertumbuhan tanaman jagung pada musim kemarau


biasanya memerlukan pemberian air sampai 6-8 kali (tergantung saat tanam dan
tekstur tanahnya).
9. Pencabutan bunga jantan
Dalam memproduksi benih jagung hibrida, pencabutan bunga jantan pada
induk tanaman bentina harus dilakukan.Hal ini untuk mencegah agar tidak terjadi
penyerbukan sendiri.Pencabutan bunga jantan pada induk tanaman betina
dilakukan sebelum malai bunga jantan keluar (saat masih terbungkus daun
bendera).Untuk mencegah agar tidak ada tanaman yang terlewatkan tidak tercabut
bunga jantannya, maka pencabutan dilakukan setiap hari selama periode
berbunga.Pencabutan bunga jantan ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari.

41

10. Roughing
Roguing I (7-15 hst) : cek warna batang, dan tanaman yang tumbuh di luar
barisan tanaman yang dikehendaki, bentuk daun tinggi tanaman dll. Roguing II
(32-35 hst) : cek warna batang, bentuk daun, tekstur daun, bentuk lidah daun
Roguing III (45-52 hst) : cek warna bunga betina/jantan, bentuk malai, posisi
tongkol dan warna rambut yang tidak dikehendaki. Roughing Panen/seleksi
tongkol : Tetua jantan dipanen lebih awal, lalu tetua betina sebagai benih hibrida
F1
11. Panen dan Prosesing
Penen dapat dilakukan setelah masak fisiologis atau kelobot telah
mongering berwarna kecoklatan (biji telah mengeras dan pangkal biji telah mulai
membentuk lapisan hitam/black layer minimal 50% di setiap barisan biji). Pada
saat itu biasanya kadar air biji telah mencapai kurang dari 30%.
Semua tongkol yang telah lolos seleksi pertanaman di lapangan dipanen,
kemudian dijemur di lantai jemur sampai kering sambil dilakukan seleksi tongkol
(tongkol yang memenuhi kriteria diproses lebih lanjut untuk dijadikan
benih).Penjemuran tongkol dilakukan sampai kadar air biji mencapai sekitar 16%,
selanjutnya dipipil dengan mesin pemipil pada kecepatan sedang agar biji tidak
pecah/retak atau dengan alat pemipil khusus benih.
Setelah biji terpipil, dilakukan sortasi biji dengan menggunakan sayakan
yang diameternya disesuaikan varietasnya atau ukuran ayakan disesuaikan dengan
ukuran biji dari setiap varietas, biji-biji yang tidak lolos ayakan dijadikan sebagai
benih.Biji-biji yang terpilih sebagai benih dijemur kembali atau dikeringkan
dengan alat pengering (untuk mempercepat proses pengeringan) sampai kadar air
mencapai 9-10%. Benih siap dikemas.
Pengemasan dilakukan dalam kemasan kantong plastik yang mempunyai
ketebalan 0,2 mm, sebaiknya plastik yang digunakan tidak tembus cahaya dan
berwarna putih, benih yang sudah dikemas sebaiknya disimpan dalam ruang ber
AC agar umur benih lebih lama.

42

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Dari hasil panen yang kami proleh di dapatkan data seperti berikut :
Tabel 5. Hasil Panen
Hasil Panen
Tongkol Jantan
Tongkol Betina
Luas Lahan
Tongkol Betina
53 Buah
Luas Lahan
Tongkol Betina
20000

Kelobot
11,5 Kg
Kelobot
17 ton

Jumlah Tongkol
15 buah
53 Buah
4x5
Tanpa Kelobot
9,8 Kg
1 ha
Tanpa Kelobot
15,9 ton

4.2 Pembahasan
Galur murni dihasilkan dari penyerbukan sendiri hingga diperoleh
tanaman yang homozigot. Galur murni dapat terjadi apabila persilangan dalam
suatu galur antara 2 individu menghasilkan keturunan dengan penampilan standar
yang sama dengan tetuanya. Hal ini umumnya memerlukan waktu lima hingga
tujuh generasi penyerbukan sendiri yang terkontrol.
Dalam membentuk galur murni baru, seorang pemulia mulai dengan
plasmanutfah/ individu tanaman yang heterozigot.Dengan penyerbukan sendiri,
terjadi segregasi, penurunan vigor, kemampuan tumbuh dan berproduksi.
Tambahan penurunan vigor akan terlihat pada tiap generasi penyerbukan sendiri
hingga galur homozigot terbentuk. Sekitar setengah dari total penurunan vigor
terjadi pada generasi pertama penyerbukan sendiri, kemudian menjadi
setengahnya pada generasi berikutnya. Selain mengalami penurunan vigor
individu tanaman yang diserbuk sendiri penampakkan berbagai kekurangan
seperti: tanaman bertambah pendek, cenderung rebah, peka terhadap penyakit, dan
bermacam-macam karakter lain yang tidak diinginkan. Munculnya fenomena-

43

fenomena tersebut dikenal dengan istilah depresi silang dalam atau inbreeding
depression.
Tanaman yang tidak diinginkan dibuang dan tanaman-tanaman yang
paling

vigor

dipelihara

dan

diserbuk

sendiri

pada

generasi-generasi

berikutnya.Perbedaan yang nyata diantara galur semakin tampak sejalan dengan


semakin lanjutnya generasi penyerbukan sendiri. Setelah lima hingga tujuh
generasi penyerbukan sendiri, penampilan tanaman di dalam satu galur menjadi
lebih seragam.
Tujuan penyerbukan sendiri adalah untuk mengatur karakter-karakter yang
diinginkan dalam kondisi homozigot sehingga genotipe tersebut dapat dipelihara
tanpa perubahan genetik. Selama proses penyerbukan sendiri, banyak gen-gen
resesif yang tidak diinginkan menjadi homozigot dan menampakkan fenotipenya.
Karakteristik yang diinginkan dari galur murni, seperti batang yang kuat dan
ketahanan terhadap penyakit, diwariskan kepada progeni hibrida ketika galurgalur murni tersebut disilangkan hibrida ketika galur-galur murni tersebut
disilangkan.
Tanaman asal dinamakan S0, dan progeni penyerbukan sendiri dari
tanaman tersebut dinamakan S1 (progeni penyerbukan sendiri generasi
pertama).Progeni penyerbukan sendiri generasi kedua dinamakan S2, dan
seterusnya.
Pembentukan Hibrida.
Hibrida silang tunggal adalah hibrida dari persilangan antara dua galur
murni yang tidak berhubungan satu sama lain.Silang tunggal yang superior
mendapatkan kembali vigor dan produktivitas yang hilang saat penyerbukan
sendiri dan akan lebih vigor dan produktif dibandingkan dengan tetuanya.
Disamping memiliki hasil yang tinggi, hibrida silang tunggal lebih seragam dan
produksi benihnya relatif lebih mudah dibandingkan dengan hibrida silang tiga g a
l u r dan silang ganda.
Faktor utama yang menentukan keunggulan hibrida adalah daya gabung
galur murni.Daya gabung umum merupakan penampilan rata-rata galur murni
dalam berbagai kombinasi hibrida, sedangkan daya gabung khusus menunjukkan
penampilan galur murni dalam suatu kombinasi hibrida dibandingkan dengan

44

kombinasi lainnya.Untuk membuat hibrida dibutuhkan tetua yang mempunyai


daya gabung khusus yang baik.
Pemuliaan tanaman menyerbuk silang seperti jagung didasari oleh adanya
efek heterosis.Heterosis didefinisikan sebagai peningkatan ukuran atau vigor
hibrida di atas rata-rata kedua tetuanya.Untuk mendapatkan hibrida dengan hasil
yang tinggi, galur murni perlu dibentuk dari dua atau lebih populasi dasar yang
berbeda secara genetic sehingga memberikan tingkat heterosis yang tinggi pada
F1 hasil persilangan. Keturunan hasil persilangan dua galur murni akan
menampakkan peningkatan vigor melampaui galur-galur tetuanya.
Heterosis dihasilkan dari pembawaan bersama gen-gen dominan yang
baik.Berdasarkan teori ini, gen-gen yang mengendalikan vigor dan pertumbuhan
adalah dominan, dan gen yang berbahaya terhadap individu adalah resesif. Gengen dominan yang berasal dari salah satu tetua dapat berkomplementasi dengan
gen dominan yang berasal dari tetua lainnya, sehingga F1 akan memiliki
kombinasi yang gen dominan yang lebih baik c dibandingkan dengan tetuanya.
Dalam produksi jagung hibrida, teori ini bekerja sebagai berikut: Diasumsikan
bahwa gen dominan ABCDE mengendalikan hasil yang tinggi. Galur murni A
memiliki genotype AABBccddEE (ABE dominan). Inbred B memiliki genotipe
aabbCCDDEE (CDE dominan).
Varietas jagung hibrida merupakan generasi pertama (F1) hasil persilangan
dua tetua galur murni atau lebih (Poehlman dan Sleper, 1995).Galur murni didapat
setelah dilakukan penyerbukan sendiri (selfing) minimal 5-6 generasi, karena pada
generasi kelima secara teoritis didapat tingkat kehomozigotannya yang mendekati
97% (Allard, 1960). Penyerbukan sendiri (selfing) pada tanaman yang secara
alami menyerbuk silang menyebabkan terjadinya tekanan silang dalam
(inbreeding depression), yaitu kemunduran pada vigor tanaman yang disebabkan
oleh

bertambahnya

frekuensi

dari

alel-alel

homozigot,

sedangkan

heterozigotannya berkurang 50% pada setiap fokus (Sprague, 1995).


Jika tanaman jagung diserbuki sendiri, keturunan yang diperoleh (galur
S1) mempunyai vigor yang lebih rendah daripada tanaman S0 semula, daya hasil
berkurang, tinggi tanaman lebih kecil, tongkol lebih besar, dan lainlain.Sebaliknya jika dua galur yang berbeda disilangkan, maka keturunan yang

45

diperoleh (tanaman F1) mempunyai vigor yang lebih besar daripada kedua galur
induknya, seperti daya hasil lebih tinggi, tanaman lebih tinggi, tongkol lebih
besar, dan lain-lain (Moentono, 1998).Bertambahnya vigor pada generasi F1 hasil
persilangan antar dua galur murni disebut gejala heterosis.Heterosis adalah
keunggulan hibrida atau hasil persilangan (F1) yang melebih nilai atau kisaran
kedua tetuanya.
Varietas hibrida dapat dibentuk dengan berbagai macam kombinasi
persilangan galur murni. Kombinasi tersebut adalah: Single Cross, Double Cross,
Three Way Cross, Top Cross, Modified Single Cross dan lain-lain. Single Cross
(SC) adalah hibrida yang berasal dari persilangan dua galur murni.Double Cross
(DC) adalah hibrida yang berasal dari persilangan antara dua Single Cross.
Sedangkan Three Way Cross adalah hibrida yang berasal dari persilangan antara
Single Cross dan suatu galur murni yang lain. Top Cross adalah hibrida yang
berasal dari persilangan antara galur murni dengan suatu varietas atau populasi.
Modified Single Cross adalah hibrida yang berasal dari persilangan antara Single
Cross (yang berasal dari 2 galur yang satu keturunan) dengan galur lain.
Pada umumnya jagung varietas hibrida yang terbaik akan memberikan
hasil lebih tinggi dari pada jagung bersari bebas. Hasil rata-rata yang tinggi di
beberapa negara Eropa dan Amerika adalah karena digunakannya varietas
hibrida.Namun terdapat beberapa kelemahan dari penggunaan varietas jagung
hibrida, karena dasar berikut.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimum, varietas hibrida memerlukan
pemupukan yang tinggi dan lingkungan tumbuh yang lebih baik.
Setiap musim pertanaman, petani harus membeli benih baru (F1) yang harganya
relatif mahal.
Produksi benihnya sukar dan mahal sedangkan keuntungan pemakaian
varietas bersari bebas adalah benihnya tidak mahal dan dapat dipoduksi oleh
petani, kendati hasil produksinya lebih rendah dibandingkan varietas hibrida.

46

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah di kerjakan terhadap proses persilangan antara
jagung varietas talenta dan jagung varietas SG 75 dengan cara silang ganda, apa
yang di maksud dengan silang ganda itu sendiri adalah

Hibrida silang ganda adalah progeni hibrida dari persilangan antara dua
silang tunggal. Silang ganda melibatkan empat galur murni yang tidak
berhubungan satu sama lain. Pasangan galur murni disilangkan sehingga
membentuk dua silang tunggal, kemudian disilangkan untuk menghasilkan silang
ganda.Benih silang ganda dihasilkan dari tanaman silang tunggal yang telah
diserbuki oleh silang tunggal kedua. Hibrida silang ganda yang dihasilkan dari
galur murni A, B, C, dan D dapat ditulis sebagai (A x B) x (C x D).
Hibrida silang ganda jauh lebih baik dari pada silag tunggal karena tingkat
heterogenitas yang tinggi dan jauh lebih seragam dalam bentuk tongkol, sehingga
tonase panen jauh lebih unggul, karna bobot dari hibrida silang tunggal lebih
besar.
5.2 Saran
Pengembangan jagung hibrida perlu di peluas lagi, agar mendapatkan
varietas - varietas yang benar benar cocok untuk di tanam di berbagai wilayah,
sehingga dapat meningkatkan taraf hidup petani jagung di indonesia, ketersediaan
benihnya juga harus di jaga dan di harapkan peneliti juga melakukan persilangan
sehingga menemukan indukan yang terbaik.

47

LAMPIRAN
Lampiran 2. Foto Kegiatan Praktikum Produksi Benih Hibrida Jagung

Pertanaman Sebelum Panen

Pengeringan Jagung Sebelum Dipipil

Penimbangan Hasil Panen

Pemipilan Jagung

48

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2008. Budidaya jagung. Available at http :// http://www.google.com/.
Verivied at December, 7th 2008.
Dahlan, M.M. 1994. Pemuliaan tanaman.Diktat Bahan Kuliah Pemuliaan
Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Putra Bangsa, Surabaya. 95 p.
Hallauer, A. R. and J. B. Miranda. 1988. Quantitative Genetics in Maize Breeding.
Second edition.Iowa State University Press. Iowa. Asian Seed.2 : 3-4.
Martodireso, Sudadi. 2002 Agribisnis Kemitraan Usaha Bersama.Kanisius : Jogja
Poehlman, J.M. and D.A. Sleeper. 1995. Breeding field crops. 4th ed. Iowa State
University Press/Ames.
Sparague and Brimhall. 1952. Relative effectiveness of two system of selection
for oil content of the corn kernel. Agron. J. 42:83-88.
Sprague, G. F. and L. A. Tatum. 1942. General vs Specific Combining Ability in
Single Cross of Corn. J. Am. Soc. Agron. 32:923-32.
Warisno. 1998. Budidaya Jagung Hibrida. Kanisius. Jogja.

49

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


PRODUKSI BENIH HIBRIDA PADI

Disusun oleh :
Kelompok 1 ( P1)

PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

50

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan pertanian memegang peranan yang sangat penting dan
strategis dalam pelaksanaan Pembangunan Nasional.Komoditi tanaman pangan
merupakan salah satu bagian utama dari sektor pertanian, oleh karena itu dalam
upaya pengamanan komoditas tanaman pangan, pemerintah setiap tahunnya selalu
menempatkan

sebagai

hal

utama

dalam

setiap

perencanaan

pembangunan.Komoditas tanaman pangan diupayakan selalu tersedia dalam


keadaan cukup, hal ini untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan, dan industri
dalam negeri, dimana setiap tahunnya cenderung meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri.
Salah satu komoditi utama tanaman pangan adalah padi. Komoditi ini
berperan sebagai pemenuh kebutuhan pokok karbohidrat masyarakat dan bahan
baku industri. Karena ketersediaan komoditas padi sangat diperlukan sepanjang
tahun terutama sebagai bahan makanan pokok masyarakat Indonesia pada
umumnya, maka upaya peningkatan produksi yang dilaksanakan oleh pemerintah
selain untuk meningkatkan kesejahteraan petani, juga merupakan salah satu tugas
utama pemerintah dalam penyediaan bahan pangan pokok masyarakat.
Permalasahan-permasalahan yang dihadapi dalam rangka peningkatan
produksi tanaman pangan antara lain yaitu adanya alih fungsi lahan pertanian ke
non pertanian, tingkat produktivitas lahan yang semakin berkurang, perubahan
sosial budaya masyarakat, faktor iklim dan kemampuan sumberdaya manusia
pertanian (petugas dan petani), oleh karena itu upaya peningkatan produksi padi
saat ini dan ke depan perlu difokuskan pada peningkatan produktivitas dan
perubahan kondisi lahan pertanian.
Peningkatan produksi padi merupakan bagian dari upaya dalam
meningkatkan produksi pertanian khususnya tanaman pangan.Salah satu alternatif
peningkatan produksi padi adalah dengan pengembangan padi hibrida.Padi
hibrida dikembangkan dengan memanfaatkan fenomena heterosis sehingga F1
hibrida menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan tetua
pembentuknya (Satoto & Suprihatno 2008).

51

Padi hibrida memberikan hasil lebih tinggi 15 20 % atau lebih dari 1 ton
per hektar di atas varietas inbrida terbaik. Program intensifikasi padi hibrida yang
sukses di Cina telah mengoptimalkan penggunaan lahan, dan dapat juga ditanami
tanaman yang lain. Dengan penduduknya yang lebih dari satu milyar orang, padi
hibrida berperan besar dalam meningkatkan produktivitas padi Cina dari 3,5
menjadi 6,2 ton/ha (Bayer, 2005).
Produktivitas padi hibrida yang tinggi ini dapat menjawab masalahmasalah yang terjadi dalam upaya peningkatan produksi tanaman pangan di
Indonesia terutama padi. Sehingga produksi benih hibrida padi sangat diharapkan
agar bias berkembang dengan baik di Indonesia, agar dapat membantu produksi
pangan Indonesia.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk memproduksi benih hibrida padi hasil
persilangan antara varietas Situpatenggang dengan Inpago 8 atau sebaliknya.
Selain itu praktikum ini bertujuan melatih pengetahuan dan kemampuan
mahasiswa dalam melakukan teknik produksi benih hibrida padi, dengan melatih
kemampuan persilangan mahasiswa.

52

TINJAUAN PUSTAKA
Berdasarkan literatur Grist (1960), tanaman padi dalam sistematika
tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan ke dalam Divisio Spermatophyta, dengan
Sub divisio Angiospermae, termasuk ke dalam kelas Monocotyledoneae, Ordo
adalah Poales, Famili adalah Graminae, Genus adalah Oryza Linn, dan Speciesnya
adalah Oryza sativa L.
Tanaman Padi memiliki bungayang mempunyai alat kelamin jantan dan
betina dengan bakal buah yang diatas.Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai
sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua kandung
serbuk.Putik mempunyai dua tangkai putik dengan dua buah kepala putik yang
berbentuk malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu (Departemen
Pertanian, 1983).

Gambar 2. Struktur Bunga Tanaman Padi


Buah tanaman padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau bulir/gabah,
sebenarnya bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan
palea.Buah ini terjadi setelah selesai penyerbukan dan pembuahan. Lemma dan
palea serta bagian lain akan membentuk sekam atau kulit gabah (Departemen
Pertanian, 1983).
Dalam rangka usaha peningkatan produksi padi, pemerintah selalu
berupaya untuk mendapatkan jenis-jenis padi yang mempunyai sifat-sifat

53

baik.Jenis padi yang mempunyai sifat-sifat baik itu disebut dengan Padi jenis
unggul atau disebut Varietas unggul.Secara alami varietas padi yang terbentuk
berupa galur murni (inbrida) dikarenakan padi merupakan tanaman menyerbuk
sendiri.Namun, saat ini telah dikembangkan juga varietas hibrida yang diyakini
mampu berproduksi lebih tinggi dari pada varietas inbrida.
Varietas hibrida pertama kali berkembang secara komersial di negeri China
pada tahun 1976.Di Indonesia, varietas unggul padi hibrida mulai dilepas pada
tahun 2001, yaitu Intani 1 dan Intani 2. Pada tahun 2002, dilepas varietas Maro
dan Rokan hasil penelitian Badan Litbang Departemen Pertanian.Selanjutnya
berkembanglah berbagai hibrida dari berbagai pihak, dengan berbagai
keistimewaan yang ditawarkan (Susanto, 2001).
Pengembangan padi hibrida dimulai sekitar tahun 1970, saat ditemukan
tanaman jantan steril dari populasi padi liar (Oryza sativa f. Spontanea) di Hainan,
Cina.Padi liar ini disebut sebagai wild rice with abortive pollen atau disingkat
padi WA. Padi WA ini disilang dengan padi lain untuk menghasilkan jantan steril
yang disebut sebagai galur maintainer. Melalui proses persilangan yang diulang
terus menerus (backcross) dengan induk dari galur maintainer ini diperoleh
tanaman padi dengan karakter jantan steril yang stabil, yang disebut galur padi
cytoplasmic male sterile atau disingkat CMS (Lakitan, 2008).
Tanaman padi CMS ini digunakan sebagai salah satu induk untuk
menghasilkan padi hibrida.Induk lainnya disebut sebagai galur restorer yang
berfungsi memulihkan fertilitas galur CMS setelah disilangkan.Benih yang
dihasilkan merupakan benih hibrida F1 yang mempunyai sifat superior (daya hasil
tinggi), tetapi potensi hasil ini tidak dapat diturunkan ke generasi berikutnya (F2
dan seterusnya) (Lakitan, 2008).
Padi hibrida adalah hasil perkawinan dua tetua yang berbeda
genotipenya.Melalui perkawinan itulah terkumpul gen-gen yang keberadaannya
secara bersamaan memberikan efek heterosis, yaitu fenomena dimana tanaman
yang tumbuh dari benih hasil persilangan dua genotipe yang berbeda (disebut
generasi F1) memiliki sifat lebih baik dari tetuanya.Efek heterosis tersebut hanya
terjadi pada tanaman generasi F1, sedangkan keturunan dari F1 (F2) tidak lagi
mampu menampilkan efek heterosis.

54

Efek heterosis terjadi karena interaksi banyak gen yang harus ada secara
bersama-sama. Gen-gen tersebut terkumpul hanya pada generasi F1, dan
akanmemisah (segregasi) pada generasi F2, sehingga kombinasi gen-gen yang
menyebabkan heterosis tidak terkumpul lagi. Padi hibrida memiliki penampilan
tanaman yang seragam, tetapi gen-gen pada pasangan lotusnya tidak seragam
(heterosigot). Oleh karena itu, jika padi tersebut tumbuh dan secara alami
melakukan kawin sendiri, akan terjadi segregasi gen-gen di dalamnya, sehingga
keturunan yang dihasilkan tidak akan seragam.
Pada setiap produksi benih hibrida dilakukan empat kegiatan, yaitu :
persilangan antara CMS dengan restorer untuk menghasilkan benih hibrida yang
dijual kepada petani, persilangan antara CMS dengan galur Maintainer untuk
menghasilkan CMS, serta penanaman Maintainer dan Restorer yang masingmasing melakukan perkawinan sendiri untuk menghasilkan Maintanier dan
Restorer kembali. Seleksi terhadap tanaman tipe simpang juga dilakukan untuk
menjaga kemurnian CMS, restorer, maupun maintainer.

Gambar 3. Alur Produksi Benih Hibrida


Dilihat dari segi teknologinya, produksi benih padi hibrida dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu produksi benih yang melibatkan galur mandul
jantan dan yang hanya melibatkan galur normal. Karena bersifat normal, teknik
produksi kedua galur tersebut hampir sama dengan produksi benih varietas
konvensional (inhibrida). Perbedaan teknologi produksi benih antara padi hibrida

55

dengan padi inhibrida terletak pada produksi benih yang melibatkan galur mandul
jantan, yaitu produksi benih galur A (CMS) dan produksi benih hibrida.
Areal produksi benih padi galur A dan hibrida harus bebas atau terisolasi
dari pertanaman padi lainnya. Pada kondisi normal (fertil), terjadinya persilangan
antar varietas tanaman padi sangat kecil meskipun ditanam berdekatan.Akan
tetapi, pada galur mandul jantan sangat mudah terjadi kontaminasi. Oleh sebab
itu produksi benih padi galur A maupun benih hibrida harus dilakukan pada areal
yang terisolasi dengan baik. Isolasi dapat menggunakan isolasi jarak atau isolasi
waktu.
Isolasi jarak minimal antara areal pertanaman produksi benih galur A atau
hibrida dengan pertanaman padi lainnya adalah :
500 m untuk produksi benih CMS kelas BS
200 m untuk produksi benih CMS kelas FS
100 m untuk produksi benih hibrida
Diantara jarak tersebut dapat ditanami tanaman lain yang bukan padi.
Berbeda dengan benih padi hibrida, pada benih padi hibrida hanya terdapat tiga
kelas benih, yaitu benih sumber atau breeder seed (BS) dan benih dasar (FS)
untuk benih galur tetua, dan benih hibrida. Isolasi waktu dapat dilakukan dengan
mengatur waktu tanam sehingga perbedaan waktu berbunga antara tanaman pada
areal produksi benih dengan pertanaman di sekitarnya minimal 21 hari.
Keberhasilan perbanyakan benih galur CMS atau produksi benih hibrida
akan bergantung pada kesesuaian pembungaan dari tetua (seed parent) dan tetua
(pollen parent), penyesuaian pembungaan berarti tetua dan tetua dirancang
untuk dapat berbunga pada waktu yang sama meskipun keduanya mempunyai
umur yang berbeda.
Penyesuaian pembungaan sangat penting, sebab kita menginginkan serbuk
sari dari galur B atau R tersedia untuk galur A selama periode pembungaan.
Penyesuaian pembungaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Mengatur waktu tanam/sebar tetua dan pesemaian sehingga benih-benih
tersebut berbunga pada saat yang sama di lapangan. Kegiatan ini disebut
Differential seeding. Waktu sebar selalu bergantung pada umur tetua (parents),
baik pada perbanyakan benih galur CMS atau memproduksi benih hibrida.

56

Mengaturwaktu pembungaan antara galur A & R pada fase pertumbuhan


tanaman melalui teknik- teknik pengelolaan tanaman.
Hal yang tidak kalah penting dalam produksi benih hibrida adalah kegiatan
penyerbukan.Pada produksi benih hibrida padi yang menggunakan CMS, kegiatan
penyerbukan merupakan kegiatan menggoyang kanopi tanaman jantan pada saat
pembungaan untuk meningkatkan penyerbukan silang.Penyerbukan dikerjakan
oleh dua orang menarik tambang (diameter 1 cm) sepanjang barisan dari dua galur
R dan satu orang menggoyang lapisan kanopi dari galur R dengan bambu.

Gambar 4. Proses Penyerbukan Galur CMS


Pemanenan produksi benih padi hibrida berbeda dengan panen pertanaman
padi biasa.Pertama-tama panen galur R, kemudian panen galur A, galur A yang
dipanen harus benar-benar hanya galur yang layak dijual sebagai benih padi
hibrida. Panen galur A dan galur R harus tetap dipisahkan satu sama lain selama
panen, perontokan, penjemuran, dan pengarungan. Pemanenan ini dilakukan jika
90% dari bulir malai tanaman galur A tampak bersih, tegak, dan berwarna jerami,
dan kadar air biji kurang dari 20%.

57

METODOLOGI
3.1 Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum produksi benih hibrida ini
meliputi; lahan seluas 2m x 1m, pupuk kandang ayam sebanyak karung, tali
raffia, benih padi varietas Situpatenggang dan varietas Inpago 8, insektisida
furadan, pupuk urea 60 gr, pupuk KCl, dan pupuk SP-36, serta plastik es lilin. Alat
yang digunakan dalam praktikum produksi benih hibrida ini, yaitu cangkul, kored,
gembor, meteran, ember, pinset, gunting, serta spidol dan alat tulis.

3.2 Langkah Kerja


3.2.1 Kegiatan Budidaya
Lahan untuk produksi benih hibrida padi dibuat menjadi bedengan dengan
luasan 2m x 1m.Lahan dibuatkan drainase, dan digemburkan menggunakan
cangkul dan kored sambil membuang batu-batu kerikil dan sampah plastik.Pupuk
kandang ayam sebanyak karung diberikan ke bedengan.Pupuk kandang yang
telah diberikan, dicampurkan dengan merata di bedengan.
Jarak tanam benih dibuat dengan bantuan tali raffia agar lurus. Jarak tanam
yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu jarak antar tanaman 25 cm, dan jarak
antar baris selebar 50 cm. Lubang tanam dibuat dengan mengunakan tugal, dan
satu lubang tanam berisi 3 butir 5 butir benih padi. Setiap lubang tanam juga
diberikan furadan sekitar 5 butir.
Penanaman diatur dengan disebelah selatan varietas Situpatenggang dan
disebelah timur varietas Inpago 8.Sehingga dalam satu bedengen terdapat 2 baris
tanaman, dan dalam satu baris tanam ada 8 tanaman, dengan setiap baris ditanam
varietas yang berbeda.
Pemupukan dilakukan dengan pupuk urea sebanyak 60 g, KCl 40 g, dan
SP-36 40 g. Pemupukan ini dilakukan pada saat tanam dengan membuat alur di
58

sebelah kiri alur tanam. Khusus untuk pupuk urea, pemupukan dilakukan dua kali
dengan pemupukan pertama saat penanaman dengan dosis 30 g atau setengah
dosis, dan pemupukan kedua pada saat 3 MST dengan dosis 30 g.
Tanaman padi dipelihara dengan melakukan penyiangan gulma dan
penyiraman.Penyiangan gulma dilakukan setiap minggu deng menggunakan kored
untuk menyiangi.Sedangkan penyiraman dilakukan setiap hari, dengan catatan
tidak turun hujan.
3.2.2 Kegiatan Persilangan
Kegiatan persilangan dilakukan pertama-tama dengan memilih bunga
betina yang polennya belum pecah.Bunga betina yang terpilih, dipotong 1/3 malai
bagian atas dan 1/3 malai bagian bawah.Kemudian satu-persatu bunga dikastrasi
dengan memotong miring bunga bagian atas.Bunga diemaskulasi keenam benang
sarinya yang terdapat pada setiap bunga.Emaskulasi dilakukan dengan
menggunakan pinset yang mempunyai ujung yang runcing.
Bunga jantan dipilih yang telah terlihat polennya sudah pecah, atau bisa
juga digunakan bunga jantan yang telah disungkup sehari sebelum hari
penyerbukan.Bunga atau malai jantan yang terpilih, digoyangkan didekat bunga
betina yang telah diemaskulasi untuk melakukan penyerbukan.Penyerbukan ini
sebaiknya dilakukan antara pukul 8.00 WIB pukul 11.00 WIB.
Bunga betina yang telah selesai diserbuki, harus disungkup menggunakan
plastik atau pun kertas khusus. Pada sungkup diberi identitas persilangan padi
dengan menuliskan tanggal persilangan, tetua jantan dan tetua betina, jumlah
bunga dalam satu malai, serta nama yang menyilangkan.

59

Penyungkupan dan Pelabelan

Penyerbukan

60

Gambar 5. Tahapan Persilangan Bunga Padi

61

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Praktikum produksi benih hibrida padi ini telah selesai ketika tanaman
padi masih dalam tahap pembungaan.Sehingga hasil persilangan yang telah
dilakukan mahasiswa belum ketahuan berhasil ataukah gagal.Sehingga data yang
didapatkan hanyalah data jumlah persilangan dan daya tumbuh benih padi.
Tabel 6. Daya Tumbuh Benih
Varietas
Situpatenggang
Inpago 8

Daya Tumbuh
68 %
50 %

Tabel 7. Data Persilangan Padi


Tetua
(A X B)
Situpatenggang X Inpago 8
Situpatenggang X Inpago 8
Situpatenggang X Inpago 8
Situpatenggang X Inpago 8
Inpago 8 X Situpatenggang

Jumlah Bunga

Jumlah

Yang
Disilangkan
10
35
27
35
18

Berhasil

Gagal

4.2 Pembahasan
Daya tumbuh benih padi yang didapatkan pada kedua varietas sangatlah
kecil, hanya 68% untuk varietas situpatenggang dan 50% untuk varietas Inpago 8.
Hal ini juga berarti bahwa tanaman padi yang tumbuh sangatlah sedikit. Keadaan
seperti ini sangatlah merugikan dalam hal produksi benih hibrida, karena dengan
sedikitnya tanaman yang tumbuh maka akan lebih sedikit juga malai yang akan
terbentuk.
Rendahnya daya tumbuh benih ini salah satunya disebabkan oleh kelalaian
praktikan dalam penanaman dan perawatan tanaman. Hal ini dapat dilihat dari
kelompok lain yang memiliki daya tumbuh yang lebih tinggi. Misalnya data daya

62

tumbuh kelompok 3, yang memiliki daya tumbuh 86% untuk varietas


Situpatenggang dan 90% untuk varietas Inpago 8.
Faktor lain yang menyebabkan rendahnya daya tumbuh benih dan
buruknya pertumbuhan tanaman adalah karena lahan kelompok 1 berada di dekat
kran air yang sering dipakai mahasisawa untuk mencuci peralatan praktikum.
Kegiatan mencuci inilah yang menjadi masalah dikarenakan, air limpahan dari
kegiatan

mencuci

peralatan

praktikum

ini

membuat

lahan

menjadi

tergenang.Genangan air ini membuat pertumbuhan padi yang berada didekatnya


menjadi sangat buruk.

Gambar 6. Kondisi Lahan Praktikum dengan Genangan Air


Proses persilangan dalam praktikum produksi benih hibrida padi

ini

tidak berjalan dengan lancar. Ini karena waktu pembungaan yang sangat berjauhan
antara kedua varietas.Varietas Situpatenggang telah berbunga terlebih dahulu
dibandingkan dengan varietas Inpago 8.
Hal ini membuat proses persilangan mengalami kendala, karena ketika
bunga dari varietas Situpatenggang telah muncul, tetapi bunga pada varietas
Inpago 8 masih belum muncul. Begitu juga sebaliknya, ketika bunga dari varietas
Inpago 8 sudah muncul, bunga dari varietas Situpatenggang sudah mulai habis.
Sehingga persilangan kedua varietas ini sulit sekali mendapatkan bunga yang
cocok untuk menjadi bunga jantan dan untuk bunga betinanya.

63

Gambar 7. Kondisi Bunga Padi Pada Kedua Varietas


Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (2006),
bahwa untuk menyamakan pembungan kedua tetua bisa menggunakan tiga cara,
yaitu:
-

Menerapkan waktu sebar atau waktu tanam yang berbeda


Penghambatan pembungaan dengan memberikan larutan pupuk Nitrogen
(urea dengan konsentrasi 2%), segera setelah pengamatan fase

pertumbuhan malai
Mempercepat pembungaan

dengan

menyemprotkan

pupuk

fosfat

konsentrasi 1%, setelah pengamatan fase pertumbuhan malai.


Pembungan yang serempak antara kedua varietas tetua sangatlah penting.
Ini dikarenakan jika pembungaan atara kedua tetua tidak serempak maka akan
menyebabkan bunga yang akan disilangkan menjadi lebih sedikit, yang berarti
benih hibrida yang dihasilkan lebih sedikit pula.
Praktikum produksi benih hibrida ini tidak dilakukan sampai selesai
karena sampai hari terkhir praktikum bunga masih belum membentuk buah atau
bulir.Sehingga praktikum hanya dilakukan sampai dengan simulasi persilangan
saja.Hal ini disebabkan karena waktu praktikum dari awal tanam sampai hari
terakhir praktikum hanya 106 hari.Sedangkan menurut Balai Besar Penelitian
Tanaman Padi (2009), menyatakan bahwa umur tanaman padi varietas
Situpatenggang yaitu 110 120 hari.

64

Produksi benih hibrida yang dilakukan dalam praktikum merupakan


produksi benih hibrida dengan cara manual atau tidak menggunakan galur CMS.
Sedangkan di banyak produsen benih hibrida telah menggunakan galur CMS yang
lebih efisien. Produksi benih hibrida padi yang dilakukan pada saat praktikum ini
tidak efektif untuk dilakukan pada produksi benih hibrida dalam sekala besar. Hal
ini karena kegiatan persilangan yang rumit dengan cara satu-persatu akan
memakan waktu yang lama, sehingga bunga yang disilangkan juga akan menjadi
lebih sedikit. Berbeda halnya dengan menggunakan galur CMS, proses
persilangan akan sangat mudah karena hanya menggoyangkan tanaman saja.

65

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Padi hibrida adalah hasil perkawinan dua tetua yang berbeda genotipenya.
Melalui perkawinan itulah terkumpul gen-gen yang keberadaannya secara
bersamaan memberikan efek heterosis. Untuk mendapatkan benih hibrida,
diperlukan kesesuaian waktu berbunga yang tepat antara kedua agar dapat saling
menyerbuki. Produksi hibrida menggunakan galur CMS memiliki keunggulan
yang signifikan dibandingkan dengan produksi benih hibrida tanpa galus mandul
jantan.

5.2 Saran
Produksi benih hibrida padi sebaiknya menggunakan galur CMS untuk
meningkatkan efisiensi dan efektifitas persilangan. Diperlukan juga pengaturan
pembungaan yang tepat antara kedua tetua, agar jumlah bunga yang disilangkan
dapat lebih dimaksimalkan lagi.

66

LAMPIRAN
Lampiran 3. Deskripsi Varietas Padi Situ Patenggang

Nama seleksi
Asal persilangan

:
:

Golongan
Umur tanaman
Bentuk tanaman
Tinggi tanaman
Anakan produktif
Warna kaki
Warna batang
Warna telinga
daun
Warna lidah daun
Warna daun

:
:
:
:
:
:
:
:

Muka daun

Posisi daun
Daun bendera

:
:

Bentuk gabah
Warna gabah
Kerontokan
Kerebahan
Tekstur nasi
Kadar amilosa
Bobot 1000 butir
Rata-rata hasil
Potensi hasil
Ketahanan terhadap
Penyakit
Sifat khusus

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Anjuran tanam

:
:

:
:

BP1153C-9-12
Kartuna / TB47HMR-10
Cere
110 -120 hari
Tegak
100 -110 cm
10 - 11 batang
Ungu tua
Hijau tua
Kuning kotor
Ungu
Hijau, tepi daun
tua berkilau ungu
Bagian atas
kasar, bawah
permukaan halus
Tegak
Menyudut 35 50
derajat
Agak gemuk
Kuning kotor
Sedang
Tahan
Sedang
24 %
27 g
4, 6 t/ha
6,0 t/ha
TTahan blas
AAromatik, respon
terhadap
pemupukan,
mampu
dikembangkan di
sawah
Lahan kering
musim hujan,
tumpangsari,
lahan tipe tanah
Aluvial dan
Podsolik
ketinggian tidak

67

lebih dari 300 m


dpl

DAFTAR PUSTAKA
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2009. Deskripsi Varietas Padi. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Sukamandi
Bayer.

2005.

Mengapa

Harus

Padi

Hibrida?.

http://www.bayer.co.id/ina/cs_bs_benefit.php. [29 Desember 2013].


Departemen Pertanian, 1983. Pedoman Bercocok Tanam Padi Palawija Sayur
sayuran. Departemen Pertanian Satuan Pengendali BIMAS. Jakarta.
Grist D.H., 1960. Rice. Formerly Agricultural Economist, Colonial Agricultural
Service, Malaya. Longmans, Green and Co Ltd. London.
Lakitan, B. 2008. Padi Hibrida: Apakah ini jawabnya?. http://www.drn.go.id. [29
Desember 2013].
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2006. Petunjuk Teknis
Produsi Benih Padi Hibrida. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Bogor
Susanto,

U.

2008.

Padi

Inbrida

Vs

Padi

Hibrida.

Dikutip

dari:

http://www.tanindo.com. [29 Desember 2013].

68