Anda di halaman 1dari 5

I.

Pendahuluan
Hubungan negara dengan warga negara sangat erat kaitannya karena dalam
hal ini dianggap negara terbentuk karena adanya masyarakat bentukan manusia.
Fungsi Negara sebagai pihak yang menertibkan kekacauan yang terjadi. Walaupun
negara merupakan bentukan dari masyarakat, namun kedudukan negara merupakan
penyelenggara ketertiban dalam masyarakat agar tidak terjadi konflik, pencurian, dan
lain-lain (Modul Kewarganegaraan 2012, 48). Permasalahan yang terjadi di dalam
negara bagi masyarakat mengenai hak dan kewajiban. Mengapa hal ini penting? Hal
ini sangatlah penting karena dalam kaitannya hak dan kewajiban yang dipegang dan
diberikan seutuhnya kepada masyarakat biasanya terjadi hal yang sangat tumpang
tindih, yaitu tidak teratur adanya.
Hak dan negara yang didapatkan oleh warga negara dalam pelaksanaannya ini
mengalami pasang surut. Hal ini terjadi karena adanya pelanggaran yang dilakukan
oleh negara maupun warga negara baik itu di dalam negeri maupun diluar negeri.
Dalam menjalankan hak dan kewajiban baik itu bagi warga negara maupun negara
diperlukan pedoman dalam mengatur dan mengawasi pelaksanaannya. Pelaksanaan
ini diatur untuk mengawal pelaksanaan hak dan kewajiban dengan adanya institusi
(Modul Kewarganegaraan 2012, 64).
II. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah hubungan negara dan warga negara?
2. Apa sajakah peran warga negara terhadap negara?
3. Mengapa warga negara mempunyai peran penting dalam menjalin hubungan antar
negara?
III.Pembahasan
Hubungan negara dengan warga negara sangat erat kaitannya karena dalam
hal ini dianggap negara terbentuk karena adanya masyarakat bentukan manusia.
Fungsi negara adalah menertibkan kekacauan yang terjadi di masyarakat. Walaupun
negara merupakan bentukan dari masyarakat, namun kedudukan negara merupakan
penyelenggara ketertiban dalam masyarakat agar tidak terjadi konflik, pencurian, dan
lain-lain (Modul Kewarganegaraan 2012, 48). Permasalahan yang terjadi di dalam
negara bagi masyarakat mengenai hak dan kewajiban. Mengapa hal ini penting? Hal
ini sangatlah penting karena dalam kaitannya hak dan kewajiban yang dipegang dan
diberikan seutuhnya kepada masyarakat biasanya terjadi hal yang sangat tumpang
tindih, yaitu tidak teratur adanya.
Pengertian hak ialah sesuatu yang diminta masyarakat untuk dirinya karena
sudah menjalankan kewajibannya. Sedangkan, pengertian kewajiban adalah sesuatu
yang dikerjakan masyarakat untuk menuntut hak yang menjadi tuntutannya. Dalam
hal ini terdapat hak asasi manusia yang memang sudah diberikan kepada manusia
semenjak berada di dalam kandungan. Pengertian hak asasi manusia terdapat dalam
pasal 1 pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999, yaitu Hak
Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan
manusia sabagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang
wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dillindungi oleh negara, hukum dan
Pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia, namun terdapat juga kewajiban asasi. Kewajiban asasi ialah
kewajiban dasar yang harus dijalankan oleh seseorang dalam kaitannya dengan
kepentingan dirinya sendiri, alam semesta, masyarakat, bangsa, negara, maupun
kedudukannya sebagai makhluk Tuhan (Modul Kewarganegaraan 2012, 49).
1

Negara merupakan Organisasi sekelompok Orang yang bersama-sama


mendiami dan tinggal di satu wilayah dan mengakui suatu pemerintahan. Unsur-unsur
terbentuknya suatu negara secara konstitutif adalah wilayah, rakyat, dan
pemerintahan. Sesuai UUD 1945 pasal 26 ayat 1, warga negara Indonesia adalah
orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang bertempat
tinggal di Indonesia, dan mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia
kepada NKRI yang disahkan dengan UU.
Indonesia menganut sistem Pemerintahan Demokrasi sesuai dengan Pancasila,
dimana warga negaranya diberi kebebasan untuk menyalurkan aspirasinya tetapi
tentunya dalam konteks yang positif. Sistem demokrasi ini menandakan bahwa
bangsa Indonesia sangat menghargai Warga Negaranya sebagai mahluk ciptaan Allah
SWT dan mengakui persamaan derajat manusia.
Sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, Tujuan Negara Republik Indonesia :
1) Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia;
2) Memajukan kesejahteraan umum;
3) Mencerdaskan kehidupan bangsa;
4) Ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Tidak akan ada Negara tanpa Warga Negara. Warga Negara merupakan unsur
terpenting dalam hal terbentuknya Negara. Warga Negara dan Negara merupakan satu
kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling berkaitan dan memiliki hak dan
kewajiban masing-masing yang berupa hubungan timbal balik. Warga negara
mempunyai kewajiban untuk menjaga nama baik negara dan membelanya. Sedangkan
negara mempunyai kewajiban untuk memenuhi dan mensejahterakan kehidupan
warga negaranya.
Sementara untuk hak, warga negara memiliki hak untuk mendapatkan
kesejahteraan dan penghidupan yang layak dari negara, sedangkan negara memiliki
hak untuk mendapatkan pembelaan dan penjagaan nama baik dari Warga Negaranya.
Dapat disimpulkan bahwa hak negara merupakan kewajiban warga negara dan
sebaliknya kewajiban negara merupakan hak warga negara. Selain itu, tentunya kita
sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, memiliki banyak kewajiban yang harus
kita laksanakan untuk Negara. Diantaranya yang terpenting adalah mematuhi hukumhukum yang berlaku. Negara membuat suatu peraturan dan hukum, pasti bertujuan
yang baik untuk kelangsungan hidup dan tertatanya suatu Negara. Hukum di
Indonesia
jika
diklasifikasikan
menurut
wujudnya
ada
2
:
Hukum
tertulis
(UUD,
UU,
Perpu,
PP)
Hukum tidak tertulis (Inpres, Kepres, Adat).
Sikap saling menghargai antar warga negara dan negaranya (pemerintah)
sangat diperlukan untuk terciptanya dan terwujudnya tujuan NKRI yang tercantum di
UUD 1945. Apabila warga negara mematuhi hukum dan peraturan negara, dan negara
(pemerintah) menanggapi dan berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan negaranya,
maka terwujudlah Indonesia yang aman, tentram, damai, dan sejahtera. Marilah kita
saling menghargai satu sama lain demi Indonesia.

IV. PENUTUPAN
2

Kesimpulan :

Dalam hubungan negara dengan warga negra diperlukan sikap saling menghargai
antar warga dan negara (pemerintah) untuk terciptanya dan terwujudnya NKRI yang
sesuai dengan yang tercantum di UUD 1945. Apabila warga Negara mematuhi
hukum dan peraturan Negara yang sudah ada.

Warga Negara berperan menanggapi dan berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan


negara, taat pada hukum, Wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara dan wajib
menghormati hak asasi manusia orang lain sehingga dapat terwujud Indonesia yang
aman, tentram, damai, dan sejahtera.

Masyarakat merupakan unsur yang paling mendominasi suatu Negara, Apalagi


dengan prinsip demokrasi kita yaitu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Saran:
Mari kita menjaga kesejahteraan NKRI demi kemakmuran bersama, hormati
perbedaan pendapat masing-masing individu, karena permedaan lah yang melengkapi
kita.Hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda, kerukunan adalah sumber
terbentuknya persatuan dan kesatuan.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan
dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan kerena terbatasnya
pengetahuan kurangnya rujukan atau referensi yang kami peroleh hubungannya dengan
makalah ini Penulis banyak berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik
saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis para pembaca khusus pada penulis.

Amin

V. Daftar Pustaka

Haji, nurul. Hak dan kewajiban warga Indonesia. 24 September 2014.


http://nurulhaj19.wordpress.com/hak-dan-kewajiban-warga-negara-indonesia/
Irena, Anastasya,Negara dan Warga Negara. 24 September 2014.
http://irena040506.wordpress.com/2011/02/13/negara-dan-warga-negara/
Jana, Siti. ,Negara dan Warga Negara. 24 September 2014. http://zayna-zaynacerb.blogspot.com/2010/11/warga-negara-dan-negara.html

VI.

Contoh kasus :
Peran Negara Lemah, RI Diobok-obok Malaysia
LINTAS INDONESIA - Pemerintah dinilai masih lemah dalam upaya memberikan
perlindungan terhadap warga negaranya sendiri, termasuk dalam persoalan teritorial
yang terus dirongrong Malaysia.Untuk itu, diperlukan suatu sikap tegas pemerintah
guna menghadapi masalah-masalah yang mengemuka, dengan memperkuat peranan
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia untuk lebih agresif dalam
berdiplomasi manakala suatu permasalahan terjadi.
Jika tidak, bangsa Indonesia akan terus menerus dilecehkan dan diobok-obok oleh
Malaysia, bahkan dirongrong kedaulatannya, juga dicemooh lantaran tidak bisa
memberikan perlindungan terhadap warga negaranya.Negara masih sangat lemah
dalam upaya memberikan perlindungan terhadap warga negaranya. Kasus-kasus yang
muncul dalam hubungan bilateral ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa main-main
dalam berhubungan dengan Malaysia. Kasus Manohara dan Ambalat menunjukkan
bahwa kita memang sedang diobok-obok oleh Malaysia, tandas Prof Anak Agung
Banyu Perwita, PhD, seorang Pengamat Hubungan Internasional Universitas
Parahyangan, Bandung.
Menurut pengamatan beliau tentang diplomasi kasus Manohara sejauh ini tampaknya
peran KBRI memang belum cukup optimal untuk melindungi warga negaranya.
Padahal sebagaimana yang di amanatkan Undang-undang Dasar 1945, negara itu
harus melindungi semua warga negaranya. Kasus Manohara merupakan salah satu
contoh dari banyak contoh kasus-kasus yang lain di mana KBRI sangat diharapkan
peran pentingnya di sini. Namun pada kenyataannya, banyak warga negara Indonesia
(WNI) yang begitu banyaknya ada di Malaysia seperti tenaga kerja Indonesia (TKI)
itu, namun kurang mendapat perlindungan maupun upaya diplomasi dari pihak KBRI
dalam menangani kasus-kasus yang dihadapi warga negaranya sendiri.Nah, dalam
kasus Manohara ini, kebetulan kita berhubungan langsung dengan pusat kekuasaan
dari Kerajaan Malaysia. Tapi menurut pribadi, siapa pun dia yang bertindak
sewenang-wenang terhadap WNI, pemerintah wajib untuk melakukan tindakan atau
perlindungan, sebab itu adalah kewajiban negara terhadap warganya.
Dalam perspektif beliau,kasus-kasus lainnya terkait WNI di Malaysia merupakan
suatu pelecehan Malaysia terhadap bangsa kita Terlebih dalam konteks hubungan
Indonesia-Malaysia, memang merupakan suatu dinamika betapa Malaysia terkesan
kurang menghormati bangsa kita selama ini. Kasus Manohara belum tuntas, muncul
4

lagi kasus Ambalat, bahkan ada sejumlah TKI kita yang terpaksa harus meninggal
hanya karena terindikasi adanya perlakukan sewenang-wenang dari pemerintah
maupun warga negara Malaysia.Semua ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa mainmain dalam berhubungan dengan Malaysia. Kasus Manohara dan Ambalat
menunjukkan bahwa kita memang sedang diobok-obok oleh Malaysia. Menurut
beliau seharusnya pemerintah Indonesia harus bisa tegas dalam meninjau kembali
hubungan yang telah dibangun selama ini dengan Malaysia.
Salah satu point yang ingin saya tunjukkan di sini, bahwa kedekatan kultural tidak
sama sekali bisa membuat hubungan suatu negara dengan negara lainnya menjadi
sangat positif atau kuat. Sebab, dalam konteks hubungan Indonesia-Malaysia seperti
sekarang ini, kita lebih cenderung memposisikannya pada masalah kedaulatan atau
teritorial, termasuk perlindungan terhadap warganya. Hal ini bisa menjadi suatu
taruhan bagi hubungan kedua negara selanjutnya. Isu-isu seperti ini harus bisa jadi
pengawal dari nasib bangsa kita ke depan dalam berhubungan dengan negara lain
seperti Malaysia.
Menurut beliau, solusi dari masalah ini bukanlah dengan menggalang semangat
ultranasionalisme lagi, untuk mengganyang Malaysia. Kita harus berhati-hati, bolehboleh saja kita merasa terganggu dan memprotes tindakan Malaysia itu, tapi kita harus
tahu dulu bagaimana sih sebenarnya mekanisme langkah yang diambil oleh negara.
Dan kita sebagai warga negara harus menaatinya.Saya pikir akan terlalu mahal
biayanya untuk memekikkan kembali semangat ganyang Malaysia ini. Sebab
persoalannya ini merupakan persoalan negara. Jadi, kita biarkan negara bermain
terlebih dahulu dan kita sebagai warga harus tetap mendukung pemerintah dalam
upaya penyelesaian kasus-kasus seperti ini agar negara kita bisa menjadi lebih kuat
ketika berhadapan dengan negara lain, bukan hanya dengan Malaysia, tapi dengan
negara-negara di seluruh dunia.
Langkah efektif yang dapat dilakukan dalam kasus ini.Pertama, harus memberikan
proteksi terlebih dahulu terhadap WNI yang berada di Malaysia. Seperti kasus
Manohara, termasuk soal Ambalat di mana pemerintah kita sebenarnya harus bisa
segera mempertanyakannya ke pemerintah Malaysia. Dan di sini peran KBRI sangat
menentukan untuk bisa lebih serius dalam menangani kasus yang dihadapi warga
negara.Dalam kasus seperti ini tentu ada keterkaitan instansi Departemen Luar Negeri
dan Departemen Pertahanan Keamanan sekaligus Panglima TNI. Sebab, TNI bertugas
sebagai pengawal, sementara KBRI bertugas untuk berdiplomasi, dalam konteks
diplomasi pertahanan. Semua itu memiiki peranan yang sangat penting, apalagi
selama ini diplomasi pertahanan kita tampaknya masih lemah.