Anda di halaman 1dari 72

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Autis adalah suatu keadaan dimana seorang anak berbuat
semaunya sendiri baik cara berfikir maupun berprilaku ( Faisal, 2003 ).
Autisme merupakan sindrom gangguan perkembangan sistem saraf
pusat yang ditemukan pada sejumlah anak ketika masa kanak kanak
hingga masa masa sesudahnya. Sindrom tersebut membuat anak
anak yang menyandangnya tidak mampu menjalin hubungan sosial
secara normal bahkan tidak mampu untuk menjalin komunikasi dua arah.
Tidak mampu bersosialisasi, mengalami kesulitan dalam menggunakan
bahasa, berpriaku berulang ulang, serta bereaksi tidak biasa terhadap
rangsangan sekitarnya ( Hembing, 2004 ).
Prevalensi pada 10 20 tahun lalu jumlah penyandang autisme
hanya 2 4 per 10.000 anak, tiga tahun belakangan jumlah tersebut
meningkat menjadi 15 20 anak 1 per 500 anak. Tahun lalu di AS
ditemukan 20 60 anak, kira kira 1/200 atau 1/250 anak. Di Indonesia,
pendataan belum pernah dilakukan, namun para profesional yang
menangani anak melaporkan adanya peningkatan jumlah penyandang
autisme yang sangat pesat, (Maulana, 2007). Dari studi pendahuluan
pada tanggal 5 Juli 2013 di Yayasan Pembinaan Anak Cacat didapatkan

1 8

hasil data dengan jumlah 20 anak, diantaranya terdapat 8 anak yang


mengalami gangguan perkembangan komunikasi, tetapi hanya 1 anak
yang terdiagnosa Autisme Reaktif.
Gerakan senam otak ini akan menggunakan seluruh otak melalui
pembaruan pola gerakan tertentu membuka bagian bagian otak yang
sebelumnya tertutup atau terhambat dan juga meningkatkan komunikasi
otak. Ada tiga komunikasi yakni komunikasi otak kanan dengan otak kiri,
otak depan dan otak belakang, serta otak atas dan bawah. Komunikasi
ini berguna untuk meningkatkan efisiensi dari informasi sensorik yang
paling berguna bagi autisme. Brain gym mampu mengembangkan
bahasa karena dari berbagai gerakan yang dapat membuka bagian bagian otak di korteks otak besar (cerebral cortex, grey matter)
merupakan lapisan tipis berwarna abu abu yang terdiri dari 15 33
miliar neuron yang masing masing tersambung ke sekitar 10.000
sinaps, 1 milimeter kubik terdapat kurang lebih satu miliar sinapsis.
Komunikasi antar neuron terjadi dalam bentuk deret panjang sinyal yang
disebut potensial aksi yang dimungkinkan melalui fiber protoplamik yang
disebut akson. Akson dapat dikirimkan hingga kebagian jauh dari otak
atau tubuh untuk menemukan reseptor sel tertentu. Dalam hal ini,
terdapat enam lapisan korteks, neokorteks/isokorteks, arcikorteks,
paleokorteks, allokorteks yang berlipat lipat sehingga permukaannya
menjadi lebih luas dengan ketebalan 2 4 mm. Lapisan korteks terdapat
dalam berbagai macam pusat saraf yang mengendalikan ingatan,

penglihatan, persepsi, pertimbangan, bahasa, dan kesadaran. Gerakan


ini dapat dilakukan di rumah sebelum belajar, dapat dilakukan selama 7
10 menit sehari. Metode belajar dalam senam otak ini dikembangkan
oleh Paul E. Dennison, Dr. Phill ahli senam otak dari lembaga
Educational Kinesiology, Amerika Serikat, mengatakan meski sederhana
brain

gym

mampu

pemahaman bahasa,

memudahkan

perkembangan

komunikasi,

kegiatan belajar dan melakukan penyesuain

terhadap ketegangan, tantangan, dan meningkatkan konsentrasi.


Penatalaksanaan untuk mengatasi perkembangan komunikasi
anak autis dapat dilakukan dengan berbagai metode terapi yaitu terapi
wicara, terapi perilaku, terapi musik, terapi bermain dan metode brain
gym (senam otak), (Prasetyono,2008). Dari pihak yayasan terapi yang
telah dilakukan adalah terapi wicara dan terapi perilaku yang dilakukan
setiap 3 kali seminggu pada hari selasa, jumat dan sabtu untuk
membantu perkembangan komunikasi pada anak autis, hasil dari
tindakan terapi tersebut semakin hari semakin meningkat asalkan anak
rutin terapi. Salah satu intervensi yang diterapkan adalah

brain gym

(senam otak ) yaitu serangkain gerak sederhana yang menyenagkan dan


salah satu kegunaannya adalah untuk meningkatkan kemampuan belajar
anak anak dengan menggunakan keseluruhan otak. Kelebihan metode
ini dibanding metode lain adalah gerakannya mudah di ingat dan
sederhana, dan karena senam merupakan teknik elektrik yang membantu
otak dan tubuh bekerja lebih efektif secara bersamaan. Brain gym tidak

hanya untuk anak yang berkebutuhan khusus tetapi brain gym juga dapat
dilakukan pada bayi, muda, orang tua, maupun lansia. Inti dari senam
otak ini adalah bergerak merupakan kunci untuk belajar dan penting
untuk perkembangan otak,(Muhammad,2011).
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti mengambil studi kasus
tentang Pemberian Terapi Brain Gym Sebagai Salah Satu Intervensi
Keperawatan Dalam Upaya Membantu Perkembangan Komunikasi Pada
Anak Autis.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengkajian pada anak M dengan autis di Yayasan
Pembinaan Anak Cacat?
2. Apa sajakah diagnosa keperawatan yang muncul pada anak M
dengan autis di Yayasan Pembinaan Anak Cacat ?
3. Bagaimana intervensi keperawatan pada anak M dengan autis di
Yayasan Pembinaan Anak Cacat?
4. Bagaimana tindakan keperawatan pada anak M dengan autis di
Yayasan Pembinaan Anak Cacat?
5. Bagaimana evaluasi keperawatan pada anak M dengan autis di
Yayasan Pembinaan Anak Cacat?
6. Bagaimana perkembangan komunikasi setelah pemberian terapi
brain gym pada anak M di Yayasan Pembinaan Anak Cacat?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menyusun asuhan keperawatan dan pemberian terapi brain gym
sebagai salah satu intervensi keperawatan dalam upaya membantu
perkembangan komunikasi pada anak autis.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian pada anak M

dengan autis di Yayasan

Pembinaan Anak Cacat.


2. Merumuskan diagnosa keperawatan yang muncul pada anak M .
dengan autis di Yayasan Pembinaan Anak Cacat.
3. Menyusun rencana keperawatan (intervensi keperawatan) pada
anak M dengan autis di Yayasan Pembinaan Anak Cacat.
4. Menerapkan tindakan keperawatan pada anak M dengan autis di
Yayasan Pembinaan Anak Cacat.
5. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada anak M dengan
autis di Yayasan Pembinaan Anak Cacat.
6. Mengidentifikasi perkembangan komunikasi pada anak M dengan
autis di Yayasan Pembinaan Anak Cacat.

1.4 Manfaat Studi Kasus


1. Bagi ilmu keperawatan
Memberikan informasi dan pengetahuan tentang pentingnya
pemberian terapi brain gym dalam upaya perkembangan komunikasi
pada anak autis.
2. Bagi klien
Klien dapat mengembangkan komunikasi melalui terapi brain gym
dan dapat mengembangkan pembelajaran dibidang komunikasi, serta
meningkatkan perkembangan komunikasi klien.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya
yang berkaitan dengan pemberian terapi brain gym lainnya.
4. Bagi peneliti
Diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan
dan mengaplikasikan beberapa ilmu yang telah didapat selama
berada di bangku perkuliahan, khususnya mengenai pemberian terapi
brain gym.
5. Bagi orang tua klien
Diharapkan mampu menambah wawasan pengetahuan orang tua
terhadap

terapi

brain

komunikasi pada anak.


6. Bagi institusi yayasan

gym

untuk

membantu

perkembangan

Memberikan informasi dan pengetahuan tentang terapi brain gym


terhadap perkembangan komunikasi pada anak autis.

1.5 Batasan Studi Kasus


Batasan studi kasus ini adalah mengajarkan pemberian terapi brain
gym pada anak X untuk membantu perkembangan komunikasi pada
anak autis.

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Autisme
2.1.1 Definisi
Autisme adalah suatu bentuk ketidak mampuan dan gangguan
perilaku

yang

membuat

penyandangnya

lebih

suka

menyendiri

( Prasetyono, 2008). Autisme disebut juga sindrome Kenner, dengan


gejala tidak mampu bersosialisasi, mengalami kesulitan menggunakan
bahasa, berprilaku berulang ulang, serta bereaksi tidak biasa terhadap
rangsangan sekitarnya. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda,
biasanya sekitar usia 2-3 tahun. Autisme bisa mengenai siapa saja, baik
yang sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak atau dewasa, dan
semua etnis ( Faisal, 2003).
2.1.2 Etiologi
Penyebab

terjadinya

belum

diketahui

secara

pasti, hanya

diperkirakan mungkin adanya kelainan dari sistem saraf (neurologi)


dalam berbagai derajat berat ringannya penyakit. Penyebab yang tepat
masih dalam taraf perdebatan diantara para ahli.
Pada mulanya dulu di tahun 40-an dr. Leo Kenner pernah
melaporkan temuannya bahwa orang tua dari anak yang autisme,
ternyata kurang memiliki rasa kehangatan dalam membesarkan anaknya.

Pendapat yang sudah menjadi konsensus bersama para ahli


belakangan ini mengakui bahwa autisme diakibatkan terjadi kelainan
fungsi di daerah otak.

Kelainan fungsi ini bisa disebabkan berbagai macam trauma seperti:


1. Sewaktu bayi dalam kandungan, misalnya karena keadaan
keracunan kehamilan (toxemia gravidarum), infeksi virus rubella,
virus cytomegalo, dan lain-lain.
2. Kejadian segera setelah lahir (perinatal) seperti kekurangan
oksigen (anoksia).
3. Keadaan selama kehamilan seperti pembentukan otak kecil yang
lebih kecil (mikrosepali) atau terjadi pengerutan jaringan otak
(tuber sklerosis).
4. Mungkin karena kelainan metabolisme seperti pada penyakit
Addison,

(karena

infeksi

Tuberkulosa,

dimana

terjadi

bertambahnya pigment tubuh dan kemunduran mental).


5. Mungkin karena kelainan crhomosom seperti pada sindrome
crhomosoma X yang fragil seperti diberitakan belakangan ini tinggi
insidennya di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan
sindroma crhomosom Xyp Y.
6. Mungkin faktor lain.
Kelompok kelainan perilaku yang hampir selalu ditemukan pada
autisme, antara lain:

10

1) Mengalami kesulitan untuk menjalin pergaulan yang baik.


2) Sangat kurang menggunakan bahasa.
3) Sangat lemah kemampuan berkomunikasi.
4) kelainan lain-lain:
a. Sangat peka terhadap perubahan lingkungan.
b. Setiap perubahan bagi anak autisme selalu dirasakan
buruk.
c. Memperlihatkan gerakan gerakan tubuh yang aneh
(Faisal,2003).
2.1.3 Klasifikasi
Menurut Faisal (2003), klasifikasi autisme dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1. Autisme Persepsi
Autisme persepsi dianggap autisme asli dan disebut juga
autisme internal (endogenous) karena kelainan sudah timbul
sebelum lahir. Gejala yang dapat diamati, antara lain:
a. Rangsangan dari luar baik yang kecil maupun yang kuat, akan
menimbulkan kecemasan. Tubuh akan mengadakan mekanisme
dan reaksi pertahanan hingga terlihat timbul pengembangan
masalah.
b. Banyaknya pengaruh rangsangan dari orang tua, tidak bisa
ditentukan. Orang tua tidak ingin peduli terhadap kebingungan dan
dan kesengsaraan anaknya. Kebingungan anaknya perlahan

11

berubah menjadi kekecewaan. Lama kelamaan rangsangan


ditolak atau anak bersikap masa bodoh.
Anak yang terlalu peka atau sangat kurang peka terhadap
rangsangan dan pengaruh luar, pada tahap awal sulit di diagnosa
tidak seperti memeriksa rasa penciuman, atau rasa sedap
makanan, atau kepekaan rangsang raba. Hanya bisa dilakukan
dengan pengawasan dan pengamatan yang ketat.
2. Autisme Reaktif
Pada autisme reaktif , penderita membuat gerakan
gerakan tertentu berulang ulang dan kadang kadang disertai
kejang kejang. Gejala yang dapat diamati, antara lain:
a. Autisme ini biasa terlihat pada anak usia lebih besar (6 7 tahun)
sebelum anak memasuki tahap berpikir logis. Namun demikian,
bisa saja terjadi sejak usia minggu minggu pertama.
b. Mempunyai sifat rapuh, mudah terkena pengaruh luar yang timbul
setelah lahir, baik karena trauma fisik atau psikis, tetapi bukan
disebabkan karena kehilangan ibu.
c. Setiap kondisi, bisa saja merupakan trauma pada anak yang
berjiwa rapuh ini, sehingga mempengaruhi perkembangan normal
kemudian harinya.
Beberapa faktor risiko pada kejadian autisme reaktif yaitu:

12

a. Anak yang tekena autis reaktif menghadapi kecemasan yang berat


pada masa kanak kanak, memberikan reaksi terhadap
pengalamannya yang menimbulkan trauma psikis tersebut.
b. Trauma kecemasan ini terjadi sebelum anak berada pada
penyimpanan memory di awal kehidupannya tetapi proses
sosialisasi dengan sekitarnya akan terganggu.
c. Trauma kecemasan yang terjadi setelah masa penyimpanan
memory akan berpengaruh pada anak usia 2 3 tahun. Karena
itu, meskipun anak masih memperlihatkan emosi yang normal
tetapi kemampuan berbicara dan berbahasanya sudah mulai
terganggu.
3. Autisme yang timbul kemudian
Kelainan ini dikenal setelah anak agak besar tentu akan
sulit memberikan pelatihan dan pendidikan untuk mengubah
perilakunya yang sudah melekat, ditambah beberapa pengalaman
baru dan mungkin diperberat dengan kelainan jaringan otak yang
terjadi setelah lahir, (Faisal, 2003).
2.1.4 Tanda dan Gejala
Untuk mengetahui apakah seorang anak menderita autis atau
tidak, digunakan standar internasional tentang autis yaitu ICD -10
(International Classification of Diseases), ICD tersebut adalah:
1.

Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik:

13

a.

Tidak

mampu

menjalin

interaksi

sosial

yang

cukup

memadai, seperti kontak mata sangat kurang, ekspresi muka


kurang hidup dan gerak-gerik kurang tertuju.
b.

Tidak bisa bermain dengan teman sebaya. Tidak ada


empati (tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain).

c.

Kurang

mampu

mengadakan

hubungan

sosial

dan

emosional yang timbal balik.


2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi:
a. Perkembangan

bicara

terlambat

atau

sama

sekali

tidak

berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara


nonverbal. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai
untuk berkomunikasi.
b. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
c. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat
meniru.
3. Adanya suatu pola yang diperhatikan dan diulang-ulang dalam
perilaku,minat, dan kegiatan:
a. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat
khas dan berlebihan.
b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas dan
tidak ada gunanya.
c. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.

14

d. Sering

kali

sangat

terpukau

pada

bagian-bagian

benda

(Prasetyono,2008).
2.1.5 Patofisiologi
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk
mengalirkan implus listrik (akson) serta serabut untuk menerima implus
listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna
kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak
dibagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain
lewat sinaps. Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh
bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai
pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak
berusia sekitar dua tahun. Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan
pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson,
dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui
sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses
belajar anak. Makin banyak sinaps terbentuk anak makin cerdas.
Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada
stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar
menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan
bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel. Kelainan
genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat
menyebabkan terjadinya gangguan pada proses proses tersebut,
sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf. Pada

15

pemeriksaan darah pada bayi yang baru lahir diketahui pertumbuhan


abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan
neuropeptida otak (brain derived neurotrophic factor, neurotrophin-4,
vasoaktive intestinal peptide, calcitoninrelated gene peptide) yang
merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur
penambahan

sel

saraf,

migrasi,

diferensiasi,

pertumbuhan,

dan

perkembangan jalinan sel saraf. Pada gangguan autistik terjadi kondisi


growt without guidance, dimana bagian bagian otak tumbuh dan mati
secara tak beraturan.
Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel purkinye (sel saraf
tempat keluar hasil pemrosesan indera dan implus saraf) di otak kecil
pada autisme. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel
purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa
kehamilan, degenerasi sekunder terjadi bila sel

purkinye sudah

berkembang kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan


sel purkinye, kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum
alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide.
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Yatim ( 2003) Pemeriksaan penunjang meliputi:
1. Pemeriksaan CT scanning dan pneumo encephalogram pada anak
autisme, tampak:
a. Ventrikel lateral otak tidak normal, terutama daerah temporal.
b. Juga terlihat pelebaran ventrikel lateral otak.

16

2. Pemeriksaan histopatologi:
Pembentukan sel sel di daerah hipocampus terlihat tidak normal
dan amygdala di kedua sisi otak.
3. Pemeriksaan EEG:
Kelainan tidak khas, meskipun kadang kadang tampak discharge
temporal.
4. Pemeriksaan laboratorium:
Diduga ada kaitaanya dengan banyaknya pembuangan zat phenil
keton melalui air seni (phenil ketonuria).
2.1.7 Pencegahan
Autisme memang merupakan gangguan neurobiologis yang
menetap. Walaupun gangguan neurobiologis tidak bisa diobati,
tapi

gejala

gejalanya

bisa

dihilangkan

atau

dikurangi.

Kesembuhan dipengaruhi oleh berbagai faktor: gejalanya ringan,


kecerdasan cukup ( 50% lebih penyandang mempnyai kecerdasan
kurang), cukup cepat dalam belajar berbicara ( 20% penyandang
autisme tetap tidak bisa berbicara sampai dewasa), usia (2 5
tahun ), dan tentu saja intervensi dini yang tepat dan intensif.
(Mirza, 2007). Salah satu metode intervensi dini yang banyak
diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih
dikenal sebagai metode Applied Behavioral Analysis (ABA).
Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang

17

sangat terstruktur, kurikulumya jelas dan keberhasilannya bisa


dinilai secara sobjektif.
2.1.8 Penatalaksanaan
Menurut para ahli, sebagian besar anak autisme bila di
diagnosa cepat ditegagkan dan ditanggulangi dengan baik oleh
para ahli penyakit jiwa, bisa tumbuh sampai dewasa dan masih
bisa berbuat dan berguna untuk sesama meskipun mungkin cara
hidup kesehariannya masih austitik (menurut keinginan dan
caranya masih sendiri). Menurut Prasetyono (2008) ada beberapa
metode untuk menangani autisme yaitu:
1. Terapi perilaku dengan metode ABA (applied behavioral
analysis) atau metode lovaas.
2. Terapi wicara (speech and language therapy).
3. Terapi fisik dan okupasi (phisycal and occupational therapy
[OT] dan sensory integration [SI]).
4. Diet casien free (CF), gluten free (GF), dan sugar free (SF).
Selain itu, juga menghindari pengawet makanan, perasa
buatan, MSG, dan pewarna buatan.
5. Terapi medis berupa obat atau intervensi biomedik berupa
pemberian

suplemen

dan

vitamin

megadosis

(jika

diperlukan dan mendapat rekomendasi dari dokter yang


menangani anak).

18

6. Terapi dengan metode floor time, yaitu dengan pendekatan


interaktif antara anak dengan orang tua atau keluarga.
7. Nama nama terapi lainnya adalah auditory integration
training (AIT), cara berkomunikasi dengan picture exchange
communication system (PECS), penggunaan computerized
pictograph (COMPIC), terapi musik, brain gym, metode
Gleen Doman, dan metode RDI.
2.1.9 Komplikasi
Semua gangguan pervasif lain, gangguan sosio emosional
sekunder, gangguan atachment reaktif, keterbelakangan mental disertai
gangguan emosional dan perilaku, penyakit gangguan jiwa jenis
schizophrenia tahap awal dan Sindrom Rett. (Faisal, 2003).
2.2

Konsep Brain Gym

2.2.1 Definisi
Brain gym (senam otak ) adalah serangkain latihan gerak
sederhana yang menyenagkan dan salah satu kegunaannya adalah
untuk

meningkatkan

kemampuan

belajar

anak

anak

dengan

menggunakan keseluruhan otak. Metode belajar dalam senam otak ini


dikembangkan oleh Paul E. Dennison, Dr. Phill ahli senam otak dari
lembaga Educational Kinesiology, Amerika Serikat, mengatakan meski
sederhana brain gym mampu memudahkan perkembangan komunikasi,
pemahaman bahasa,

kegiatan belajar dan melakukan penyesuain

terhadap ketegangan, tantangan, dan meningkatkan konsentrasi. Edu

19

K (Educational Kinesiology) berasal dari kata latin educare yang artinya


menarik keluar dan kinesiologi = kinesis yang berasal dari kata Yunani,
yaitu ilmu tentang gerakan tubuh manusia, (Asadi, 2011).
2.2.2 Tujuan Brain Gym
Untuk membuka bagian bagian otak yang sebelumnya tertutup
atau terhambat dan mampu memudahkan perkembangan komunikasi
dan pemahaman bahasa. Senam otak dikembangkan untuk membantu
meningkatkan kecerdasan anak anak sekolah atau bisa juga untuk
bayi. Gerakan gerakan senam ringan yang dilakukan dalam senam
otak, seperti melalui olah tangan dan kaki yang dapat memberikan
rangsangan atau stimulus ke otak. Stimulus itulah yang dapat
meningkatkan kemampuan kognitif, misalnya kewaspadaan, konsentrasi,
dan kecepatan dalam proses belajar, serta memori, pemecahan masalah,
ataupun kreativitas. (Asadi, 2011).
2.2.3 Macam Macam Gerakan Senam Otak
Sebelum menerapkan senam otak, ada beberapa hal yang harus
dilakukan yaitu gerakan PACE (Positive, Active,Clear, dan Energetic) .
PACE diketahui dapat membantu mengurangi kecemasan mereka dan
membuat mereka berada dalam kondisi yang santai. Berikut ini adalah
penjelasan dari masing masing istilah tersebut:
1. Energetic
Untuk bersikap energik, diperlukan pendukung berupa air
putih minimal 125 cc/ hari. Hal ini berguna dalam menyalurkan

20

oksigen

ke

otak

dan

melarutkan

garam

sehingga

mengoptimalkan fungsi energi listrik di dalam tubuh.

2. Clear
Untuk menjernihkan otak (clear), diperlukan pemijatan pada
daerah saklar otak (brain button). Daerah yang dipijat adalah
titik dua jari di bawah tulang selangka (clavikula) dengan satu
tangan dan tangan dan tangan lainnya menggosok daerah
pusar.

3. Active

21

Agar otak dapat aktif, bisa melakukan dengan cara gerakan


silang (cross crawl), yaitu menggerakan tangan kanan
bersamaan dengan kaki kiri, dan sebaliknya.

4. Positive
Gerakan positif, yaitu melakukan gerakan kait rileks (book
ups). Tangan disilangkan dengan jempol di bagian bawah, lalu
diputar sambil kaki disilangkan.

Gerakan senam otak dapat dilakukan hanya dengan


menghabiskan waktu 7 menit setiap berlatih.

22

Adapun beberapa macam dalam gerakan senam otak adalah


sebagai berikut:
1. Gerakan Tombol Bumi
Kedua tangan diletakkan di depan garis tengah lateral, lalu
pusatkan perhatian anda pada titik pusat acuan yang
diperlukan untuk mengambil keputusan tentang posisi objek
dalam suatu ruang.

2. Gerakan Tombol Imbang


Sentuhlah tombol imbang yang terdapat di belakang telinga,
pada sebuah lekukan di batas rambut antara tengkorak dan
tengkuk (4 5 cm ke keri dan ke kanan dari garis tengah
tulang belakang) dan persis di belakang daerah mastoid
(processus mastoideus).

23

3. Gerakan Kait Rileks


Pola angka 8 untuk tangan dan kaki (bagian 1) mengikuti
garis aliran energi tubuh. Sentuhan ujung jari berpasangan
(bagian 2 ). Pada bagian 1, sambil duduk, silangkan
pergelangan kaki kiri di atas kaki kanan. Julurkan tangan ke
depan, menyilangkan pergelangan tangan kiri ke atas tangan
kanan,lalu menjalin jari jari, menarik kedua tangan, dan
meletakkannya di dada.
Pada bagian 2, harus membuka silangan kaki. Selain itu,
menyentuhkan ujung jari kedua tangan secara bersamaan, dan
tetap bernafas dalam selama 1 menit.

4.

Gerakan Olengan Pinggul

24

Caranya melakukan gerakan olengan pinggul duduk di


lantai, dengan posisi tangan kebelakang bertumpu pada lantai
dengan siku ditekuk. Angkat kaki sedikit lalu oleng- olengkan
pinggul ke kiri ke kanan dengan rileks.

5. Gerakan Coretan Ganda


Kegiatan menggambar di kedua sisi tubuh yang dilakukan
pada bidang tengah, dan berusaha untuk menciptakan kembali
suatu bentuk (gambar)bberdasarkan ingatannya saja.

6. Gerakan Abjad 8

25

Gerakan dengan membuat angka delapan tidur di udara,


tangan mengepal dan jari jempol ke atas, dimulai dengan
menggerakkan kepalan ke sebelah kiri atas dan membentuk
angka delapan tidur. Diikuti dengan gerakan mata melihat ke
ujung jari jempol. Buatlah angka 8 tidur 3 kali setiap tangan dan
dilanjutkan 3 kali dengan kedua tangan.

7. Gerakan Burung Hantu


Berdirilah dengan kedua kaki meregang, letakkan telapak
tangan kiri pada bahu kanan, sementara tangan kanan
dibiarkan bebas sambil menengok kekiri dan kanan, telapak
tangan kiri meremas- remas bahu. Keluarkanlah napas pada
setiap putaran kepala, yakni ke kiri, lalu ke kanan kembali ke
posisi

tengah

dengan

menghembuskan napas.

menundukkan

kepala

sambil

26

8. Gerakan Tombol Angkasa


Kedua tangan diletakkan di garis tengah tubuh, satu di atas
bibir di garis tengah depan, yang lain di garis tengah belakang
pada tulang ekor atau lebih ke atas agar aman dan sopan, lalu
tarik napas, setelah itu bernapas ke atas sepanjang tulang
belakang, supaya sadar dan memperhatikan relaksasi.

9. Gerakan Titik Positif


Berpikirlah tentang sesuatu yang ingin di ingat, seperti cara
menulis sesuatu kata atau konsentrasi pada situasi yang dapat
menimbulkan stres, seperti tes mengeja. Tutup mata dan
bayangkan

situasi

yang

membuatnya

ketegangan itu teraasa berangsur hilang.

tegang,

sampai

27

10. Gerakan Putaran Leher


Tundukkan kapala dan ayunkan seperti bandul bergoyang,
gerakkan kepala ke arah kanan dan kiri dengan sikap tubuh
tegak.
11. Gerakan Mengaktifkan Tangan
Luruskan satu tangan ke atas, lalu ke samping kuping,
kemudian

buang

napas

lalu

dorong

tangan

kedepan,

kebelakang, baik ke dalam maupun luar. Sementara itu, satu


tangan lainnya menahan dorongan tersebut, lakukan berulang
ulang dengan tangan bergantain.

12. Gerakan Pasang Telinga


Posisikan agar kepala tegak dan dagu lurus dengan
nyaman, setelah itu letakkan tangan di telinga dengan jari

28

jempol di belakang telinga lalu dipijat. Lakukan latihan ini


sebanyak 3 kali atau lebih.

13. Gerakan Menguap Energi


Caranya ketika kita seolah olah menguap, tutup mata
rapat rapat dan pijat pipi setingkat geraham atas dan bawah.
Menguaolah dengan suara yang dalam rileks saat memijat otot
tersebut.
14. Gerakan Pompa Betis
Berdiri dan sanggakan tangan pada dinding atau sandaran
kursi, sedangkan salah satu kaki kebelakang dan badan
condong ke depan, menekukkan lutut kaki yang di depan
sementara kaki belakang dan punggung membentuk satu garis
lurus. Pada posisi awal, tumit kaki belakang di angkat dari
lantai sehingga beban ada di kaki depan.

29

15. Gerakan Lambaian Kaki


Duduk dengan pergelangan kaki diletakkan pada lutut yang
lain, sementara anda menempatkan ujung jari pada awal dan
akhir daerah otot betis. Membayangkan seolah tendon dan otot
yang mulai dari belakang lutut sampai mata kaki tersebut
seperti segumpal tanah liat, lalu cari titik yang tegang pada
awal dan akhir dari segumpal tanah liat tersbut dan dengan
perlahan menekannya sampai terasa lembut dan lunak. Ketika
memegang titik titik tersebut, secara pelan dan teratur
lambaikan kaki ke atas dan ke bawah dengan gerakan yang
semakin luas dan mudah.

16. Gerakan Pasang Kuda - Kuda


Kaki dibuka dengan jarak lebih lebar dari pada bahu,
arahkan satu kaki ke samping dan tekuk lutut, sedangkan kaki
lainnya tetap lurus namun keduanya tetap di stu garis. Lutut

30

yang tertekuk bergerak dalam garis lurus melewati kaki, tetapi


tidak lebih jauh dari pada ujung jarinya. Sementara itu tubuh
bagian atas dan pinggul tetap menghadap lurus ke depan,
sambil kepala dan lutut yang ditekuk dan kakinya menghadap
ke samping.

17. Gerakan Silang Berbaring


Gerakan ini bisa di lakukan berbaring di lantai dengan
menggunakan alas untuk melindungi tulang ekor Lakuakan
gerakan dalam posisi telentang, lalu lutut dan kepala diangkat
dan diletakkan di belakang kepala sebagai penyangga. Setelah
itu, sentuhkanlah satu siku pada lutut yang berlawanan dan
bergantian seolah olah mengayuh sepeda, sedangakan
tengkuk tetap rileks dan bernapas secara berirama. Bayangkan
pula ada sebuah benda yang menghubungkan pinggul dan
bahu untuk meningkatkan kesadaran otot perutnya.
18. Membayangkan Huruf X

31

Harus bisa mengingatkan diri untuk menanggapi semua


situasi

secara

optimal

secara

keseluruhan

dengan

mmembayangkan huruf X.
19. Gerakan Mengisi Energi
Usahakan bahu tetap terbuka dan rileks. Ingat, untuk
bernapas ke dasar tulang belakang, rasakan napas (bukan otot
) sebagai sumber kekuatan.
20. Gerakan Luncuran Gravitasi
Duduk dengan nyaman, menyilakan kaki di pergelangan
dan merentangkan tangan depan, lalu meluncur ke daerah
kaki. Setelah itu membungkuk ke depan untuk membiarkan
gravitasi bekerja, selanjutnya julurkan tangan ke depan, kepala
menunduk, dan biarkan lengan meluncur ke berbagai arah
yang bisa dicapai. Keluarkan napas saat juluran tangan ke
bawah dan ke depan, kemudian tarik napas waktu lengan dan
tubuh bagian atas diangkat, dan parabel dengan lantai.

32

21. Gerakan Pernapasan Perut


Mengeluarkan napas pendek pendek melalui bibir yang
diruncingkan (seakan menjaga sebuah bulu tetap terapung),
hembuskan napas melalui hidung juga. Letakkan tangan pada
perut bagian bawah, dan pada waktu pengambilan napas,
perut ikut mengembang. Tarik napas sampai hitungan ketiga,
dan tahan sampai hitungan ketiga, lalu buang napas selama
tiga hitungan serta tahan napas lagi sampai hitungan.
2.3 Konsep Komunikasi
2.3.1 Definisi
Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa ingin berhubungan
dengan orang lain. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan
ingin mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Rasa ingin tahu inilah
yang memaksa manusia untuk berkomunikasi.
Menurut Kleinjan, E yang dikutip oleh Cangara (2004) mengemukakan
bahwakomunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia
seperti halnya bernafas.
Menurut Harrold D. Lasdswell yang dikutip oleh Cangara (2004) dalam
dasar ilmu

komunikasi

menyebutkan

bahwa

fungsi

dasar

yang

mendorong manusia mempelajari ilmu komunikasi adalah sebagai


berikut:
1. Komunikasi untuk memenuhi hasrat manusia dalam mengontrol
lingkungannya.

33

Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui peluang peluang


yang ada untuk memanfaatkan, memelihara, dan menghindar dari
hal hal yang mengancam di alam sekitarnya.
2. Melalui

komunikasi

manusia

dapat

beradaptasi

dengan

lingkungannya.
Manusia tidak saja dituntut untuk mampu memberi tanggapan
terhadap kejaadian yang memengaruhi perilaku individu, tetapi
juga harus mampu menyesuaikan diri agar manusia dapat hidup
dalam suasana yang harmonis.
3. Adanya

komunikasi

membuat

manusia

dapat

melakukan

transformasi warisan sosialisasi.


Masyarakat yang ingin mempertahankan keberadaanya, anggota
mayarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku,
dan peranan.
Kata komunikasi berasal dari bahasa latin Coomunicare

yang

berarti berpartisipasi atau memberitahukan. Hingga sekarang, definisi


komunikasi masih terus didiskusikan oleh para ilmu komunikasi,
(Mundakir, 2006).
Menurut

Harrold

D.

Lasswell

yang

dikutip

Cangara

(2004),

menerangkan tindakan komunikasi adalah menjawab pertanyaan siapa


yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melaluii saluran apa,
kepada siapa, dan apa pengaruhnya.

34

Menurut Duldt-Bettey yang dikutip Suryani (2006) mendifinisikan


komunikasi sebagai sebuah proses penyesuaian dan adaptasi yang
dinamis antara dua orang atau lebih dalam sebuah interaksi tatap muka
dan terjadi pertukaran ide, makna, perasaan, dan perhatian.
2.3.2 Tujuan Komunikasi
Komunikasi mempunyai beberapa tujuan. Tujuan utama
komunikasi

adalah

untuk

memebangun/menciptakan

pemahaman atau pengertian bersama. Saling memahami atau


mengerti bukan berarti harus menyetujui, tetapi mungkin
dengan komunikasi terjadi suatu perubahan sikap, pendapat,
perilaku, ataupun perubahan secara sosial (Nasir. Dkk, 2009 ).
Indikator komunikasi biasanya pada umur 1 sampai 5
tahun, anak ini lebih jelas menunjukkan gangguan komunikasi
dan berbahasa.
1. Perubahan sikap (attitude change)
Seorang komunikan setelah menerima pesan kemudian sikapnya
berubah, baik positif maupun negatif. Dalam berbagai situasi kita
berusaha memengaruhi sikap orang lain dan berusaha agar orang
lain bersikap positif sesui keinginan kita.
2. Perubahan pendapat (opinion change)
Dalam

komunikasi

berusaha

menciptakan

pemahaman.

Pemahaman ialah kemampuan memahami pesan secara cermat


sebagaimana dimaksudkan oleh komunikator. Setelah memahami apa

35

yang dimaksud komunikator, maka akan tercipta pendapat yang


berbeda beda bagi komunikan.
3. Perubahan perilaku (behavior change)
Komunikasi bertujuan untuk mengubah perilaku maupun tindakan
seseorang, dari perilaku yang destruktif (tidak mencerminkan perilaku
hidup sehat, menuju perilaku hidup sehat).
4. Perubahan sosial (social change)
Membangun dan memilihara ikatan hubungan dengan orang lain
sehingga menjadi hubungan yang makin baik. Dalam proses
komunikasi yang efektif secara tidak sengaja meningkatkan kadar
hubungan interpersonal.
2.3.3 Fungsi Komunikasi
Dalam aktifitas keseharian, fungsi komunikasi sangat luas dan
menyentuh

pada

banyak

aspek

kehidupan.

Beberapa

fungsi

komunikasi trsebut antara lain:


1. Informasi, pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyabaran
berita, data, gambar, fakta, pesan, opini, dan komentar yang
dibutuhkan agar dapat dimengerti dan bereaksi secara jelas
terhadap kondisi lingkungan dan orang lain agar dapat mengambil
keputusan yang tepat.
2. Sosialisasi
Dengan komunikasi, sesuatu yang ingin disampaikan dapat
disebarluaskan kemasyarakat luas. Fungsi sosialisasi ini sangat

36

efektif bila dilakukan dengan pendekatan yang tepat, misalnya


komunikasi massa baik langsung maupun tidak langsung (melalui
media).
3. Motivasi
Proses

komunikasi

yang

dilakukan

secara

persuaive

dan

argumentative dapat berfungsi sebagai penggerak semangat,


pendorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang
diinginkan oleh komunikator.
4. Perdebatan dan diskusi
Suatu permasalahan yang masih kontroversial atau polemik dalam
hubungan dengan masalah masalah publik dapat dibahas dan
diselesaikan dengan menggunakan komunikasi yang intens baik
melalui debat maupun diskusi.
5. Pendidikan
Proses pengalihan (transformasi ) ilmu pengetahuan dan tehnologi
untuk mendorong perkembangan intelektual, pembentukan watak,
serta membentuk keterampilan dan kemahiran dapat dilakukan
melalui komunikasi yang baik dan efektif.
6. Memajukan kehidupan
Menyebarkan kebudayaan dan seni dengan maksud melestarikan
warisan masa lalu, membuat leaflet, booklet atau sejenisnya yang
berisi tentang bagaimana hidup sehat, membangun imajinasi dan
mendorong kreatifitas dan kebutuhan estetika dan lain lain.

37

7. Hiburan
Dunia entertement telah banyak muncul dari produk komunikasi,
misalnya lawak, menyanyi, drama, sastra, seni dan lain lain.
8. Integrasi
Adanya kesempatan untuk memperoleh berbagai informasi dan
pesan yang diperlukan dapat mempengaruhi seseorang dalam
bersikap, berprilaku dan berpola fikir serta sebagai sarana untuk
menghargai dan memahami pandangan orang lain dapat diperoleh
dari komunikasi yang dilakukan (Mundakir, 2006).
2.3.4 Proses Komukasi
Komunikasi terjadi bila ada sumber informasi yang merupakan
bahan atau materi yang akan disampaikan oleh komunikator. Sebelum
informasi

disampaikan

komunikator

perlu

melakukan

penyandian

(encoding) untuk mengubah ide dalam otak ke dalam suatu sandi yang
cocok dengan transmiiter. Contoh dari bentuk penyandian ini adalah kata
kata dalam komunikasi nonverbal,anggukan kepala, sentuhan, kontak
mata dan sebagainya. Setelah pesan disandikan kemudian komunikator
menyampaikan pesan kepada penerima pesan (komunikasn) melalui
saluran atau media. Ketepatan komunikan dalam menerima pesan
sangat dipengaruhi oleh kemampuan komunikan dalam melakukan
penafsiran atau decoding disamping juga dipengaruhi oleh faktor
pengganggu (noice). Ketepatan komunikan dalam menafsiran pesan
(decoding) dipengaruhi oleh banyak hal misalnya : pengetahuan,

38

pengalaman, fungsi alat indra yang digunakan dan sebagainya.


Komunikasi berlangsung efektif bila terjadi feed back yang baik antara
penerima pesan dengan pembawa pesan sebelum terjadinya perubahan
ataau efek sebagai dampak dari komunikasi, (Mundakir, 2006).
2.3.5 Karakteristik Dasar Komunikasi
Untuk

memeperoleh

keefektifan

komunikasi,

seseorang

harus

memperhatikan beberapa karakteristik dasar berikut ini, antara lain :


1. Komunikasi membutuhkan lebih dari dua orang yang akan
menentukan tingkat hubungan dengan orang lain.
2. Komunikasi

terjadi

secara

berkesinambungan

dan

terjadi

hubungan timbal balik.


3. Proses komunikasi dapat melalui komunikasi verbal dan nonverbal
yang bisa terjadi secara simultan.
4. Dalam berkomunikasi seseorang akan berespon terhadap pesan
yang diterima baik secara langsung maupun tidak langsung, verbal
maupun nonverbal.
5. Pesan yang diterima tidak selalu diasumsikan sama antara
penerima dan pengirim.
6. Pertukaran informasi dibutuhkan ilmu pengetahuan.
7. Pesan yang dikirim dan diterima dipengaruhi oleh pengalaman
masa lalu, pendidikan, keyakinan dan budaya.
8. Komunikasi dipengaruhi oleh perasaan diri sendiri, subyek yang
dikomunikasikan dan orang lain.

39

9. Posisi

seseorang

didalam

sistem

sosiokultural

dapat

memepengaruhi proses komunikasi, (Mundakir, 2006).


2.3.6 Jenis Komunikasi
1. Komunikasi tertulis
Komunikasi tertulis adalah komunikasi yang disampaikan secara
tertulis, baik dengan tulisan manual maupun tulisan dari media. Jenis
komunikasi ini dapat berupa surat, surat kabar/media massa atau media
elektonik yang disampaikan dalam bentuk tulisan.
2. Komunikasi verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang disampaikan secara
lisan. Komunikasi ini dapat dilaksanakan secara langsung dengan
percakapan tatap muka, maupun secara tidak langsung melalui telepon,
teleconference dan sebagainya. Keuntungan dari komunikasi ini adalah
dapat dilakukan secara cepat, langsung, jelas dan kemungkinan salah
faham kecil karena proses umpan balik dapat terlaksana kecuali
komunikasi yang sifatnya satu arah dan formal. Sedangkan kekurangan
komunikasi ini adalah bahasa yang digunakan harus dimengerti oleh
komunikan, membutuhkan pegetahuan yang cukup agar komunikasi
yang dilaksanakan berlangsung lancar.
3. Komunikasi non verbal
Adalah komunikasi yang terjadi dengan menggunakan mimik atau
bahasa tubuh, pantonim, dan atau bahasa isyarat.
4. Komunikasi satu arah

40

Komunikasi ini biasanya bersifat koersif, yang dapat berupa perintah,


instruksi, dan bersifat memaksa dengan menggunakan sanksi sanksi.
Komunikasi ini jarang bahkan tidak ada kesempatan untuk melakukan
umpan balik karena sifat pesannya mau-tidak mau harus diterima oleh
komunikan.
5. Komunikasi dua arah
Komunikasi

yang

memungkinkan

bahkan

harus

ada

proses

feedback, biasanya bersifat informative dan atau persuasive, (Mundakir,


2006).
2.3.7 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi
1. Faktor Sumber Pesan
a. Bahasa yang digunakan
Kebanyakan sumber sumber informasi/pesan terutama buku
karangan orang luar negri,serta internet yang mengakses informasi
informasi dunia adalah bahasa asing (inggris). Hal ini tentunya sangat
menghambat sebagian besar masyarakat kita dalam memperoleh
sumber karena kenyataan memang belum banyak yang memahami
bahasa asing.
b. Faktor tehnis
Faktor ini terikat dengan tehnis operasional dalam memanfaatkan
sumber informasi.
c. Ketersediaan dan keterjangkauan sumber
2. Faktor komunikator (Comunicator)

41

Komunikasi dapat berjalan lancar dan efektif tidak jarang karena


faktor kominkator.
a. Penampilan dan sikap
Penampilan komunikator dalam berkomunikasi dapat meliputi
beberapa

hal

antara

lain

sikap,ekspresi

verbal

maupun

nonverbal,busana yang dipakai dan kerapian komunikator sangat


mempengaruhi proses komunikasi yang dilaksanakan.
b. Penguasaan masalah
Selain

meningkatkan

kepercayaan

diri

bagi

komikator,

penguasaan masalah juga dapatmenghilangkan keraguan dari


komunikan karena yakin mendapatkan pesan/informasi dengan benar.
c. Penguasaan bahasa
Penguasaan bahasa akan sangat membantu komunikator dalam
memperoleh

sumber

yang

bagus

penguasaan

bahasa

seorang

dan

berkualitas.

komunikator

dapat

Dengan

melakukan

komunikasi dengan sistematis, terarah, dan mudah difahami oleh


komunikan.
d. Kesempatan
Adanya waktu dan tempat serta suasana psikologis yang
memungkinkan terlaksananya komunikasi secara dinamis.
e. Saluran

42

Saluran

yang

dimaksud

adalah

alat

indra

( penglihatan,pendengaran, pembauan, rasa, wicara) yang digunakan


komunikator dalam mendapatkan dan menyampaikan pesan.
3. Faktor pesan (message)
a. Tehnik penyampaian pesan yang digunakan.
Bagaimana pesan disampaikan?
Apakah secara langsung, secara verbal, atau nonverbal?
b. Bentuk pesan
Bentuk

pesan

yang

disampaikan

dapat

bersifat

informatif,persuasif,dan koerasif.
1.) Informatif adalah bentuk pesan yang memberikan keterangan
keterangan (fakta fakta ) atau pengetahuan pengetahuan bagi
komunikan kemudian komunikan mengambil kesimpulan sendiri.
2.) Persuasif adalah bentuk penyampaian pesan dengan maksud
memepengaruhi

audien/komunikan

untuk

menerima

atau

menggunakan maksud pesan yang disampaikan oleh komunikator.


Tujuan dari penyampaian bentuk pesan persuasif ini adalah
perubahan kesadaran atas kehendak sendiri (bukan paksaan).
3.) Koersif ini bersifat memaksa dengan menggunakan sanksi
sanksi apabila komunikan tidak mengikuti makna pesan yang
disampaikan oleh komunikator.
c. Pesan sesuai kebutuhan

43

Pesan yang disampaikan oleh komunikator dapat menimbulkan


ketertarikan atau sebaliknya kepada komunikan.
d. Jelas
Faktor kejelasan pesan dapat menjamin keefektifan komunikasi
yang dilakukan.
e. Simple
Penyampain pesan yang terlalu banyak juga merupakan faktor
yang dapat mengganggu proses komunikasi.
4. Faktor media/saluran (channel)
Adalah alat/sarana yang dilalui oleh suara, antara lain:
a. mata (penglihatan)
b. hidung (penciuman)
c. otak
d. tangan
e. telinga
5. Faktor umpan balik (Feedback)
Terjadinya umpan balik dalam proses komunikasi menandakan
komunikasi berjalan aktif. Faktor umpan balik dapat mempengaruhi
berlangsungnya komunikasi adalah :
a. Relevansi dan pentingnya umpan balik (feedback)
Umpan balik yang dilaksanakan tidak sesuai dengan topik pesan
yang dismpaikan, akan menimbulkan kebiasaan atau kekacauan
dalam mencapai tujuan komunikasi yang dilakukan. Feedback

44

hendaknya dilakukan sesuai dengan arah dan tujuan komunikasi


(relevan) yang diinginkan serta dipandang perlu dilakukan umpan
balik.
b. Sifat umpan balik (feedback)
Umpan balik hendaknya tidak bersifat penilain (judgement), namun
lebih baik bersifat evaluatif. Umpan balik yang bersifat penilaian
(judgement) biasanya akan berdampak kurang baik dalam proses
komunikasi.
c. Waktu (timing)
Pelaksanaan umpan balik (feedback) yang dilakukan tidak pada
waktu dan tempat yang tepat juga akan mempengaruhi komunikasi
yang dilangsungkan.
6. Faktor komunikan (Comunican)
Dalam konteks komunikan (penerima pesan), komunikasi akan
dapat berjalan lancar dan efektif dipengaruhi oleh:
a. Penampilan dan Sikap
Penampilan dan sikap komunikan dalam menerima pesan ini
meliputi beberapa hal antara lain sikap, ekspresi verbal maupun
nonverbal, busana yang dipakai dan kerapian komunikan.
b. Pengetahuan
Seseorang yang mempunyai pengetahuan terbatas, kurang
informasi akan sulit menerima atau mengikuti pembicaraan orang lain.
Selain itu, dampak dari pengetahuan yang kurang ini juga akan

45

mempengaruhi komunikan dalam mempresepsikan informasi yang


diterima secara benar.
c. Sistem sosial
Pola, nilai dan norma yang berlaku dalma suatu masyarakat perlu
difahami oleh seseorang dalam berkomunikasi.
d. Saluran
Saluran

yang

dimaksud

adalah

alt

indra

(penglihatan,

pendengaran, pembauan, rasa, wicara) yan dimiliki komunikan dalam


menerima dan mempersiapkan pesan.
7. Faktor efek (Effect)
Hasil atau efek dari komunikasi ini juga mempengaruhi terjadinya
komunikasi. Komunikasi dengan tujuan tertentu yang sudah lama dan
sering dilakukan namun bila tidak membawa dampak atau efek yang
nyata dari hasil komunikasi tersebut, maka orang atau komunikator
cenderung jemu atau bosan untuk menyampaikan pesan berikutnya,
karena merasa tidak ada gunanya dilakukannya komunikasi kepada
orang tersebut, (Mundakir, 2006).
2.3.8 Hambatan Dalam Proses Komunikasi
Secara umum hambatan yang terjadi selama komunikasi adalah
sebagai berikut:
1. Kurangnya penggunaan sumber komunikasi yang tepat.
2. Kurangnya perencanaan dalam berkomunikasi.

46

3. penampilan, sikap dan kecakapan yang kurang tepat selama


berkomunikasi.
4. Kurangya pengetahuan.
5. Perbedaan persepsi.
6. Perbedaan harapan.
7. Kondisi fisik dan mental yang kurang baik.
8. Pesan yang tidak jelas.
9. Prasangka yang buruk.
10. Transmisi/media yang kurang baik.
11. Penilaian yang prematur.
12. Tidak ada kepercayaan.
13. Ada ancaman.
14. Perbedaan status, pengetahuan, dan bahasa.
15. Distrorsi (kesalahan informasi), (Mundakir, 2006).
2.3.9 Upaya Upaya Untuk Mengatasi Hambatan
Untuk mengatasi hambatan tersebut dapat ditanggulangi dengan
cara sebagai berikut:
1. Mengecek arti atau maksud yang disampaikan.
2. Meminta penjelasan lebih lanjut.
3. Mengecek umpan balik atau hasil.
4. Mengulangi pesan yang disampaikan memperkuat dengan bahasa
isyarat.
5. Mengakrabkan antar pengirim dan penerima.

47

6. Membuat pesan secara singkat, jelas dan tepat.


7. Mengurangi informasi/pesan yang meluas.
8. Menggunakan orientasi penerima. (Mundakir, 2006).
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Autisme.
2.4.1 Pengkajian.
Pengkajian adalah tahap awal dan dasar dalam asuhan
keperawatan.Pengkajian merupakan tahap paling menentukan bagi
tahap berikutnya. Kemampuan mengidentifikasi masalah keperawatan
yang terjadi pada tahap ini akan menentukan diagnosis keperawatan.
Diagnosis yang diangkat akan menentukan desain perencanaan yang
ditetapkan.

Selanjutnya,

tindakan

keperawatan

dan

evaluasi

mengikuti perencanaan yang dibuat. Oleh karena itu, pengkajian


harus dilakukan dengan teliti dan cermat, sehingga seluruh kebutuhan
perawatan pada klien dapat diidentifikasi.
Pengkajiannya meliputi:
a. Usia
b. Jenis kelamin
c. Tingkat pendidikan
d. Status mental, meliputi penampilan dan sikap, tingkat
kesadaran, aktivitas motorik, pikiran, dan cara bicara, alam
perasaan dan afek, persepsi, orientasi, memori, informasi
umum,

kalkulasi,

kapasitas

membaca

dan

menulis,

48

kemampuan visual-spasial, rentang perhatian, abstraksi,


penilaian dan daya tilik diri.
e. Status neorologik, meliputi system motorik, (tonus otot,
kekuatan, kesimitrisan, dan gaya berjalan; fungsi otak kecil),
fungsi saraf kranial.
f. Riwayat pengobatan, meliputi neuroleptik, agens ansiolitik,
antidepresan,

barbiturat,

obat

nyeri,

alkohol,

obat

rekreasional.
g. Karakteristik bicara, meliputi koherensi topik; logika dan
relevansi respons; volume; nada dan modulasi suara;
adanya defek bicara, seperti gagap, bicara sangat cepat
atau sangat lambat, interupsi mendadak, bicara tidak jelas,
atau bicara berlebihan atau sangat sedikit bicara; disartia;
memutar balikkan kata;ekolalia ;afasia ;disfasia.
h. Status psikologis, meliputi perubahan nafsu makan, tingkat
energi, motivasi, higiene pribadi, citra diri, harga diri, pola
tidur, dorongan seksual, atau kompetensi; perubahan hidup,
penyalahguaan alkohol atau obat; riwayat psikiatrik,meliputi
awitan, jenis, dan keparahan gejala, dampak terhadap
kemampuan berfungsi, jenis penanganan, dan respon
terhadap penanganan.
i. Hasil uji laboratorium dan uji diagnostic, meliputi kadar
elektrolit serum, skrining teksikologi obat, kadar hemoglobin

49

dan hematorik,kadr glukosa darah, uji fungsi tiroid dan hati,


CT scan,MRI, tomografi emisi positron,arteriografi
serebral,angiografi substraksi digital,EEG,GCS.
1. Psikososial
a. Menarik diri dan tidak responsif tehadap orang tua.
b. Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem.
c. Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek.
d. Prilaku menstimulasi diri.
e. Pola tidur tidak teratur.
f. Permainan stereotip.
g. Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain.
h. Tantrum yang sering.
i. Peka terhadap suara suara yang lembut bukan pada
suatu pembicaraan.
j. Kemampuan bertutur kata menurun.
k. Menolak mengonsumsi makanan yang tidak halus.
2. Neorubiologis
a. Respons yang tidak sesuai terhadap stimulus.
b. Refleks mengisap buruk.
c. Tidak mamapu menangis ketika lapar.
3. Gastrointestinal
a. Penurunan nafsu makan.
b. Penurunan berat badanntifikasi (Nikmatur.2008:24).

50

2.4.2 Diagnosa Keperawatan


Merupakan pernyataan yang menggambarkan respon manusia
(keadaan sehat atau perubahan pola interaksi aktual/potensial) dari
individu atau kelompok ketika perawat secara legal mengidentifikasi dan
dapat memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status
kesehatan atau untuk mengurangi, menyingkirkan, atau mencegah
perubahan. Selain itu, diagnosis keperawatan juga diartikan sebagai
penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan aktual ataupun
potensial sebagai dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk
mencapai hasil di mana perawat bertanggung jawab. Tujuan dari
diagnosis keperawatan ini adalah : (1) Memungkinkan perawat untuk
menganalisis dan mensintesis data yang telah dikelompokkan di bawah
pola kesehatan, dan (2) untuk mengidentifikasi masalah, faktor
penyebab masalah, kemampuan klien untuk dapat mencegah atau
memecahkan masalah (Nikmatur,2008:56).
dilihat pada tabel 2.1.4 Diagnosa Keperawatan.

51

Tabel 2.1.4 Diagnosa Keperawatan pada anak Autisme:

No.
1.

Diagnosa Keperawatan

Definisi

Batasan karakteristik

Faktor yang berhubungan

Hambatan interaksi social

Penurunan kemampuan

- Afasia.

- Tidak adanya orang

berhubungan dengan

untuk bicara, memahami,

- Blocking, kehilangan jalan

terdekat.

hambatan komunikasi (Cynthia atau menggunakan kata-

pikiran.

- Perubahan pada system

M.Taylor,2010)

- Sirkumstansialitas.

saraf pusat.

- Kesulitan fonasi.

- Perubahan pada harga diri

- Disorientasi.

atau konsep diri.

- Ekolalia.

- Gangguan persepsi.

- Flight of idea.

- Defek anatomis (misalnya:

- Ketidak mampuan untuk

celah platum, perubahan

mengidentifikasi objek.

pada system neuromus kular

- Ketidak mampuan untuk

visual, system pendengaran

mengatur pembicaraan,

atau pita suara.

kata.

52

melafalkan kata, atau

- Tumor otak.

berbicara dalam kalimat.

- Perbedaan budaya.

- Kehilangan asosiasi.

- Penurunan sirkulasi

- Mutisme.

keotak.

- Neologisme.

- Perbedaan yang dikaitkan

- Perseverasi.

dengan usia.

- Bicara berat.

- Perkembangan.

- Gagap atau bicara kurang

- Kondisi emosi.

jelas.

- Kendala lingkungan.

- Verbigerasi.

- Kurang informasi.
- Hambatan psikologis.
- Kelemahan system
musculoskeletal,(Judith M.

2.

Perilaku mencedrai diri

Sengaja mencedrai diri

- Menyayat atau mencakar

Wilkinson, 2011).
- Status psikotik.

53

berhubungan dengan penyakit

sehingga menyebabkan

tubuh.

- Ketidak mampuan

emosi, (Cynthia M.

kerusakan jaringan, yang

- Mengorek luka.

mengungkapkan

Taylor,2010)

dilakukan dengan maksud

- Membakar diri.

ketegangan secara verbal.

menyebabkan cedera

- Menelan atau mengisap

- Gangguan atau

tidak fatal untuk

zat atau objek yang

Penganiayaan psikis di

mengurangi keregangan.

berbahaya.

masa kanak-kanak.

- Menggigit.

- Perilaku kekerasan

- Menggaruk.

diantara figur orang tua.

- Memotong.

- perceraian orang tua.

- Memasukkan benda

- Teman sebaya melakukan

kedalam tubuh atau lubang

mutilasi diri.

ditubuh.

- Terisolasi dari teman

- Memukul.

sebaya.

- Mencubit bagian tubuh.

- Harga diri rendah atau

- Perilaku labil.

tidak stabil.

54

- Ketidakmampuan
melakukan koping terhadap
3.

Ketidakefektifan pemeliharaan

Ketidakmampuan

- Gangguan persepsitual

peningkatan stres.
- Kurang motivasi

kesehatan berhubungan

mempertahankan status

atau fungsi kognitif.

- Kurang pendidikan atau

dengan gangguan persepsitual kesehatan.

- Gangguan memori jangka

kesiapan.

dan kognitif.(Cynthia M.

pendek atau panjang.

- Kurang akses ke layanan

Taylor,2010).

- Ketidakmampuan

perawatan kesehatan yang

berkonsentrasi atau

adekuat.

mengikuti instruksi.

- Penyuluhan kesehatan

- Kurang perilaku adaptif

yang tidak adekuat.

terhadap perubahan

- Kerusakan kemampuan

lingkungan internal atau

untuk memahami sekunder.

eksternal.

- Keamanan dari bahaya,

- Kurang perhatian terhadap

(Lynda Juall.2007).

55

pemeliharaan kesehatan.
- Ketidakmampuan yang
teramati atau dilaporkan
dalam bertanggung jawab
memenuhi kebutuhan
kesehatan dasar dalam
beberapa atau semua area
4.

Defisit perawatan diri: mandi

Ketidakmampuan

pola fungsional.
- Bukti klinis gangguan

dan higiene berhubungan

melakukan aktivitas

persepsi atau kognitif.

- Kendala lingkungan.

dengan gangguan persepsi

perawatan diri yang

- Ketidakmampuan

- Keridak mampuan untuk

dan kognitif, (Cynthia M.

berkaitan dengan mandi

mendapatkan perlengkapan

meraskan bagian tubuh.

Taylor, 2010).

dan higiene.

mandi.

- Ketidakmampuan untuk

- Ketidakmampuan

merasakan hubungan

membasuh tubuh atau

spasial.

- Penurunan motivasi

56

5.

bagian tubuh.

- Gannguan

- Ketidakmampuan

muskuloskelektal.

mencapai atau mengambil

- Kerusakan neuromuscular.

sumber air.

- Nyeri.

- Ketidakmampuan

- Gangguan persepsi atau

mengatur suhu atau aliran

kognitif.

air untuk mandi.

- Ansietas hebat, (Judith

- Ketidakmampuan

M.Wilkinson,2011).

Difisit perawatan diri:

Hambatan kemampuan

mengeringkan tubuh
Hambatan kemampuan

- Penurunan motivasi.

berpakaian /berhias, (Judith

untuk memenuhi aktivitas

untuk:

- Ketidaknyamanan.

M.Wilkinson,2011).

berpakaian lengkap dan

- Mengancingkan pakaian.

- Hambatan lingkungan.

berhias diri.

- Mengambil pakaian.

- Keletihan.

- Mengenakan atau melepas

- Gangguan

bagian-bagian pakaian yang

muskuloskelektal.

57

penting.

- Gangguan neuromuscular.

Ketidakmampuan untuk:

- Nyeri.

- Memilih pakaian.

- Gangguan kognitif atau

- Mempertahankan

persepsi.

penampilan pada tingkat

- Ansietas berat.

yang memuaskan.
- Mengambil pakaian.
- Mengenakan pakaian pada
tubuh bagian bawah.
- Mengenakan pakain pada
bagian tubuh atas.
- Mengenakan sepatu.
- Mengenakan kaos kaki.
- Melepaskai pakaian.
- Menggunakan alat Bantu.

58

- Menggunakan ritsleting.

2.4.3 Intervensi Keperawatan


Merupakan pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, mengatasi masalah yang telah di
identifikasi dalam diagnosis keperawatan. Desain perencanaan menggambarkan sejauh mana perawat mampu
menetapkan cara menyelesaikan masalah dengan efektif dan efisien (Nikatur.2008:75)

59

Tabel 2.2.4 intervensi Keperawatan pada anak X dengan Autisme.

No.
1.

Diagnosa keperawatan

Tujuan

Intervensi

Rasional

Hambatan komunikasi Verbal

Anak mampu berkomunikasi dan

1. Observasi pasien secara

1. Dengan memberikan

berhubungan dengan

mampu mengungkapkan

ketat untuk mengantisipasi

perhatian penuh terhadap

gangguan psikologis atau

kebutuhannya dengan

kebutuhannya; contohnya,

isyarat nonverbal, anda

neurologis

menggunakan kata- kata atau

kegelisahan dapat

akan diajari tentang cara

gerakan tubuh yang sederhana

mengindikasikan kebutuhan

menginterprestasikan

60

dan konkret.

berkemih.

kebutuhan pasien.

2. Minimalkan stimulus

2. Untuk mengurangi

lingkungan pasien dan

ansietas.

pertahankan lingkungan yang


tenang dan tidak
mengancam.

3.Gerakan fisik dan suara


3. Gunakan irama, musik,

membantu anak mengenali

dan gerakan tubuh untuk

integritas tubuh serta

membantu perkembangan

batasan batasannya

komunikasi sampai anak

sehingga mendorongnya

dapat memahami bahasa.

terpisah dari objek dan


orang lain.
4. Kalimat yang sederhana

61

dan diulang ulang


4. Ketika berkomunikasi
dengan anak, bicaralah
dengan kalimat singkat yang
terdiri atas satu hingga tiga
kata, dan ulangi perintah
sesuai yang diperlukan.
Mintalah anak untuk melihat
kepada anda ketika anda
berbicara dan pantau bahasa
tubunya dengan cermat.

mungkin merupakan satu


satunya cara
berkomunikasi karena
anak autistik mungkin tidak
mampu mengembangkan
tahap pikiran operasional
yang konkert. Kontak mata
langsung mendorong anak
berkonsentrasi pada
pembicara serta
menghubungkan
pembicaraan dengan
bahasa dan komunikasi.
Karena artikulasi anak

62

yang tidak jelas, bahasa


tubuh dapat menjadi satu
satunya cara baginya
untuk mengomunikasikan
pengenalan atau
pemahamannya terhadap
isi pembicaraan.

63

2.

Perilaku mencedrai diri

-Pasien tidak melukai dirinya pada

1.Batasi anggota staf yang

1. Untuk menunjang

berhubungan dengan

saat dirumah.- Pasien

berinteraksi dengan pasien.

kontinuitas perawatan dan

penyakit emosi, (Cynthia M.

mengungkapkan peningkatan rasa

meningkatkan rasa aman

Taylor,2003)

aman.

pada pasien.

- Pasien berpartisipasi dalam

2. Untuk memastikan

lingkungan terapeutik.

2. Minta anggota staf


melakukan kontak singkat
dan sering dengan pasien.

3. Singkirkan semua objek


yang berbahaya dari

keadaan pasien tanpa


menggangu
kebebasannya.
3. Untuk meningkatkan
keamanan.

lingkungan pasien.

4. Diskusi tentang kejadian

4. Bila pasien mencedrai

dapat membantu pasien

dirinya, lakukan perawatan

menghubungkan perilaku

untuk cederanya dengan

merusak diri. Dengan

64

tenang, tanpa menghakimi.

perasaan yang

Dorong pasien untuk

mendahuluiya. Diskusi

membicarakan perasaan-

dapat juga memberikannya

perasaan yang mendorong

kesempatan untuk

perilaku mencedrai diri.

mengeksplorasi cara-cara
lain untuk mengatasi
pikiran dan perasaan
negatif.

65

3.

Ketidakefektifan

- Pasien mempertahankan status

1. Tentukan kemampuan

1. Pengkajian yang

pemeliharaan kesehatan

kesehatan saat ini.

pasien untuk

komprehensif memberikan

mempertahankan kesehatan,

suatu pijakan untuk

tingkat dukungan yang

mengevaluasi perubahan

kognitif.(Cynthia M.

diberikan keluarga, tingkat

fungsional di kemudian

Taylor,2003)

motivasi, dan tingkat

hari.

berhubungan dengan
gangguan persepsitual dan

- Pasientidak terkena bahaya atau


cedera.

ketergantungan. Laporkan
setiap, tingkat motivasi, dan
tingkat ketergantungan.
Laporkan setiap perubahan.

2. Untuk memfokuskan

2. Bantu pasien dan keluarga

pada intervensi.

untuk mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan
dalam mempertahankan
kesehatan (contoh,adanya

66

defisit perawatan diri).


3. Ajarkan anggota keluarga
bagaimana mempertahankan

3. Untuk menurunkan
risiko cedera pasien.

lingkungan yang aman.


4. Dorong pasien dan
keluarga atau pasangan
untuk menyatakan perasaan
dan keluhan yang
berhubungan dengan
pemeliharaan kesehatan.

4. Untuk membantu
mereka meningkatkan
pemahaman dan
menatalaksanakan
kesehatannya dengan
baik.

67

4.

Defisit perawatan diri: mandi

- Kebuthan perawatan diri pasien

1. Observasi,

dan higiene berhubungan

terpenuhi.

dokumentasikan, dan

perawat dapat

laporkan kemampuan

menyesuaikan tindakan

berfungsi dan persepsi atau

untuk memenuhi

kognitif pasien setiap hari.

kebutuhan pasien.

dengan gangguan persepsi


dan kognitif.(Cynthia M.
Taylor,2003)

- Komplikasi dapat dihindari atau


diminimalkan.

1. Melalui tindakan ini,

2. Untuk membantu
2. Biarkan pasien
mengungkapkan frustasi,
kemarahan, atau perasaan

mencapai tingkat
fungsional yang tertinggi
sesuai kemampuannya.

tidak mampu. Beri dukungan


emosional.
3. Ajarkan pasien tentang

3. Memudahkan pasien
untuk mengerti.

langkah-langkah mandi dan


hygiene, gunakan instruksi
sederhana, satu persatu.

4. Demonstrasi ulang

68

5.

4. Berikan petunjuk tertulis

dapat mengidentifikasi

pada anggota keluarga

area masalah dan

tentang teknik mandi dan

meningkatkan

higiene, dan awasi pada saat

kepercayaan diri anggota

pendemonstrasian ulang.

keluarga.

Defisit perawatan diri:

- Kebutuhan perawatan diri pasien

1. Observasi,

1. Melalui observasi yang

berpakain dan berhias

terpenuhi.

dokomentasikan, dan

cermat perawat dapat

laporkan kemampuan

menentukan tindakan

berfungsi dan persepsi atau

keperawatan yang sesuai

kognitif pasien setiap hari.

untuk memenuhi kebutuhan

berhubungan dengan
gangguan persepsi dan
kognitif.

- Pasien mampu menyampaikan


keluhannya.

pasien.
2. Untuk menumbuhkan
2. Ingatkan pasien tentang

rasa percaya diri.

69

tujuan yang akan dicapai


pada saat melakukan tugas

3. Agar mudah dimengerti.

saat ini. Berikan


penghargaan terhadap
pencapaian tugas.
3. Ajarkan pasien tentang
langkah-langkah berhias,
gunakan instruksi sederhana, 4. Pakaian tersebut lebih
satu persatu.

mudah dikenakan secara

4. Anjurkan anggota keluarga mandiri oleh pasien.


untuk menyediakan pakaian
yang mudah dikenakan oleh
pasien. Pakaian yang
berukuran sedikit lebih besar
daripada biasanya dan

70

menggunakan perekat Velcro


mungkin dapat membantu.

2.4.5 Implementasi Keperawatan


Realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga
meliputi pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksaan tindakan,dan
menilai data yang baru (Nikmatur,2008 : 89 ).

71

2.4.6 Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang diamati)
dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan
Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk :
1. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan
2. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan
3. Meneruskan rencana tindakan keperawatan.

73

2.5 Kerangka Konsep


Penyebab:
1. Sewaktu bayi dalam
kandungan.
2. Kejadian segera setelah
lahir.
3. Keadaan selama
kehamilan.
4. Kelainan metabolisme.
5. Kelainan crhomosom.
6. Faktor lain.

AUTISME

1.Reakti
f
2.Persepsi
3.Timbul kemudian

Penatalaksanaan
Diagnosa keperawatan:
1. Hambatan komunikasi
Farmakologi

Membantu
perkembangan
komunikasi

Non
Farmakologi

Membuka bagian-bagian
otak di korteks otak besar

yang sebelumnya
tertutup atau terhambat
sehingga dapat
meningkatkan
komunikasi pada otak

Tanda dan gejala:


1.Gangguan kualitatif
dalam interaksi sosial
yang timbal balik.
2.Gangguan
kualitatif dalam
bidang
komunikasi.
3. Pola yang
diperhatikan dan
diulang-ulang
dalam
prilaku,minat,dan
kegiatan

2. Perilaku mencedrai diri.


3. Ketidakefektifan pemeliharaan
kesehatan.
4. Defisit perawatan diri: mandi dan
hygiene.
1. Terapi bermain dan terapi
musik.
2. Terapi perilaku.
3. Terapi wicara
4. Brain Gym

Menggerakkan
anggota tubuh

Gambar 2.5.1 Kerangka Konsep pemberian terapi brain gym untuk


membantu perkembangan komunikasi pada anak autisme.

Keterangan :
: diteliti
: tidak diteliti
: menimbulkan
: berhubungan