Anda di halaman 1dari 8

Nama : Rizal Dzul Fadly

Kelas :Pend.Kimia
NIM : 1413040009

Terorisme
Hingga saat ini, definisi terorisme masih menjadi perdebatan meskipun sudah ada
ahli yang merumuskan dan dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan.
Negara-negara yang menyuarakan memerangi terorisme belum memberikan
definisi yang gamblang dan jelas sehingga semua orang bisa memahami makna
sesungguhnya tanpa dilanda keraguan, tidak merasa didiskriminasikan serta
dimarjinalkan. Kejelasan definisi ini diperlukan agar tidak terjadi salah tangkap,
dan berakibat dan berakibat merugikan kepentingan banyak pihak, disamping
demi kepentingan atau target merespon hak asasi manusia (HAM) yang
seharusnya wajib dihormati oleh semua orang beradab.
Kata teroris (pelaku) dan terorisme (aksi) berasal dari kata latin terrere yang
kurang berarti membuat gemetar atau menggetarkan. Juga dikenal dengan kata
teror dengan maksud kengerian. Pada dasarnya istilah terorisme merupakan
sebuah konsep yang memiliki konotasi yang sangat sensitif karena terorisme
menyebabkan terjadinya pembunuhan dan penyengsaraan bagi orang yang tidak
berdosa.
Amerika serikat misalnya menganggap Irak sebagai teroris karena dianggap
memiliki senjata pemusnah masal, namun disisi lain justru banyak yang
menganggap Amerikalah teroris sejati dan layak diposisikan sebagai negara
adidaya dalam kasus terorisme negara karena telah melakukan invansi ke
negara yang berdaulat tanpa persetujuan dewan keamanan PBB.
Pengertian terorisme pertama kali dibahas dalam European Convention on the
Supression of Terrorism (ECST) di Eropa 1977 terjadi perluasan paradigma arti
dari Crime against State menjadi Crime against Humanity. Crime against
humanity meliputi tindak pidana untuk menciptakan suatu keadaan yang
mengakibatkan individu, golongan, dan masyarakat umum ada dalam suasana
teror. Wacana pembuatan perundang-undangan disambut pro-kontra mengingat

polemik definisi terorisme masih bersifat multi interpretatif, umumnya mengarah


pada kepentingan negara atau state interested.
Tindak pidana terorisme merupakan tindak pidana murni (malaperse) yang
dibedakan dengan administrative criminal law (mala prohibita). Kriminalisasi
tindak pidana terorisme sebagai bagian dari perkembangan hukum pidana dapat
dilakukan banyak cara seperti Melalui sistem evolusi amandemen terhadapa pasalpasal KUHP. b. Melalui sistem global melalui pengaturan yang lengkap diluar
KUHP termasuk kekhususan hukum acaranya.
c. Sistem kompromi dalam bentuk memasukkan bab baru dalam KUHP tentang
kejahatan terorisme. (Muladi 2002).
Untuk memahami makna terorisme lebih jauh dan mendalam, kiranya dikaji
terlebih dahulu pngertian atau definisi terorisme yang dikemukakan baik oleh
beberapa lembaga maupun oleh beberapa penulis/pakar atau ahli, yaitu:
a). US Central Inteligence Agency (CIA)
terorisme internasional adalah terorisme yang dilakukan dengan dukungan
pemerintah atau organisasi asing dan atau diarahkan untuk melawan negara
lembaga atau pemerintah asing.
b). US Federal Bureu of Infestigation (FBI)
terorisme adalah penggunaan kekerasan tidak sah atau kekerasan atas seseorang
atau harta untuk mengintimidasi sebuah pemerintah, penduduk sipil elemenelemennya untuk mencapai tujuan sosial atau politik ( suya, 11 September 2002).
c). US Departements of State and Defense.
Terorisme adalah kekerasan bermotif politik dan dilakukan oleh agen negara atau
kelompok subnasional terhadap sasaran kelompok non kombotan. Biasanya

bermaksud untuk mempengaruhi audien. Terorisme internasional adalah terorisme


yang melibatkan warga negara atau wilayah lebih dari satu.
d). Blacks Law Dictionarary.
Tindakan terorisme adalah kegiatan yang mengakibatkan unsur kekerasan atau
yang menimbulkan efek bahaya bagi kehidupan manusia yang melanggar hukum
pidana Amerika atau bagian negara Amerika. Dan jelas dimaksudkan untuk
mengintimidasi masyarakat sipil dan mempengaruhi kebijakan pemerintah dan
mempengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara penculikan dan pembunuhan.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwasannya kegiatan terorisme
tidak akan pernah dibenarkan karena ciri utamanya yaitu:
1. Aksi yang digunakan menggunakan cara kekerasan dan ancaman untuk
menciptakan ketakutan publik.
2. Ditujukan kepada negara masyarakat atau individu, atau kelompok masyarakat
tertentu.
3. Memerintah angota-anggotanya dengan cara teror juga.
4. Melakukan kekerasan dengan maksud untuk mendapat dukungan dengan cara
yang sistematis dan terorganisir.
Teror sendiri mempunyai definisi umum dan hal itu sesuai dengan ciri utama
diatas bahwasanya terorisme sebagai kekerasan atau ancaman yang dilakukan
untuk menciptakan rasa takut dikalangan sasaran, biasanya pemerintah, kelompok
etnis, partai politik dan sebagainya.
Meskipun unsur-unsur terorisme sudah dipahami banyak pihak namun tidak
mudah untuk ditetapkan, karena terorisme berhadapan dengan wacana lain tentang
kekerasan yang secara riil dihadapi masyarakat. Kekerasan yang dihadapi oleh
masyarakat. Kekerasan yang dilakukan oleh negara memiliki persamaan dengan

ciri-ciri terorisme. Setiap upaya memberikan definisi terorisme ada


kecenderungan yang ditujukan pada masyarakat.
2. Karakteristik atau ciri terorisme.
Dalam tindakan kriminal terorisme tentunya ada beberapa ciri mengenai tindakan
tersebut diantaranya pendapat para ahli yakni Loudewijk f. Paulus karakteristik
ditinjau dari empat macam pengelompokan yang terterdiri dari:
Pertama, karakteristik organisasi yang meliputi: organisasi, rekrutmen, pendanaan
dan hubungan internasional. Karakteritik operasi yang meliputi: perencanaan
waktu, taktik dan kolusi.
Kedua, karakteristik perilaku yang meliputi: motifasi, dedikasi, disiplin, keinginan
membunuh dan keinginan menyerah hidup-hidup. Karakteristik sumberdaya
meliputi: latihan atau kemampuan, pengalaman seseorang dibidang tehnologi,
persenjataan, perlengkapan dan transportasi. Motif terorisme, terorisme
termotifasi oleh motif yang berbeda. Motif terorisme diklasifikasikan menjadi tiga
kategori: rasional, psikologi, dan budaya yang kemudian dapat dijabarkan lebih
luas.
Bentuk-bentuk terorisme
Ada beberapa bentuk terorisme yang dikenal, yang perlu kita bahas dari bentuk
ituantara lain teror kriminal, dan teror politik. Kalau mengenai teror kriminal
biasanya hanya untuk kepentingan pribadi dan memperkaya diri sendiri. Biasanya
cara yang digunakan oleh para penteror adalah dengan cara pemerasan dan
intimidasi. Mereka biasanya menggunakan kata-kata yang dapat menimbulakan
ketakutan atau teror psikis. Beda dengan teror bersifat politik yakni dengan cara
tidak memili-milih korban. Dan teror politik biasanya selalu siap melakukan aksi
pembunuhan terhadap orang-orang sipil dengan tidak memandang usia dengan
tanpa memppertimbngkan politik maupun moral. Teror politik merupakan
fenomena sosial yang sangat penting. Sedangkan terorisme politik mempunyai

karakteristik sebagai berikut: 1. Merupakan intimidasi koersif 2. Memakai


pemunuhan destruktif secara sistematis sebagai sarana untuk tujuan tertentu, 3.
Korban bukan tujuan, melainkan sarana untuk menciptakan perang urat saraf,
yakni bunuh satu orang untuk menakuti seribu orang.4. target aksi teror pilihan,
bekerja secara rahasia, namun tujuannya adalah publisitas, 5.pesan aksi itu cukup
jelas meski pelaku tidak menyatakan diri secara personal. Miasalnya berjuang
demi agama dan kemanusiaan.
Oleh karena itu terorisme harus mendapat perhatian husus bagi kita semua
hususnya pemerintah yang dalam hala ini akan menjamin keamanan bagi
rakyatnya. Dalam menanggulangi dan mengatasi tindakan teror prlu adanya
regulasi yang mengatur tentang hal tersebut sehingga dalam peristiwa yang bisa
mengancam keselamatan naywa seseorang dapat dihindari sejauh mungkin.
Dari uraian diatas dengan deikian istilah teror ialah suatu kesatuan aksi tak
langsung dan terarah untuk mencapai hasil politik tertentu melalui dampak yang
ditimbulkannya. Dari kacamata politik, teror merupakan aksi sekunder dan bukan
yang utama. Artinya, teror jarang sekali merupakan aksi atau tujuan utamanya
atau aksi yang independen(forum keadilan 2002).
Kalau dilihat dari sejarahnya sesungguhnya terorisme mempnyai beberapa
tipologi diantaranya ; bentuk pertama, terdiri dari pembunuhan politik terhadap
pejabat pemerintah yang itu terjadi sebelum perang dunia II. Bentuk yang kedua,
terorisme dimulai di al-jazair di tahun lima puluhan dilakukan oleh FLN yang
dipopulerkan serangan yang bersifat acak terhadap masyarakat sipil yang tidak
berdoa. Bentuk ketiga, terorisme muncul pada tahun enampuluhan dan terkenal
dengan istilah terorisme media.
Landasan Hukum Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme
Dasar hukum yang dipakai dalam menanggulangi TPT di Indonesia terutama
adalah UU nomor. 15 tahun 2003 yang menetapkan Perpu No. 1 tahun 2001
tentang pemberantasan terorismemenjadi Undang-Undang. Pengertian PTP

menurut perpu no. 1 tahun 2002 adalah segala perbuatan yang memenuhi unsurunsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam pasal 6 adalah: setiap orang
yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan
menimbulakan korban yang bersifat masal, denagn cara merampas kemerdekaan
atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk menimbulkan
kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang setrategis atau
lingkungan hidup atu fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidanakan
dengan pidana mati atau penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama
20 (dua puluh tahun).
Pasal 7 Perpu No. 1 tahun 2002:
setiap orang yang dengan sengaja menggunaka kekerasan atau ancaman
kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap
orang secara meluas atau menimbulakan korban yang bersifat masal dengan cara
merampas kemerdekaaan atu hilangnya nyawa atau kehancuran terhadap objekobjek vital starategis ataua lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas
internasional, dipidana dengan pidana penjara paling lama seumur hidup.
Tujuan diundangnya Undang-undang ini adalah dalam rangka memulihkan
kehidupan masyarakat yang tertib dan aman serta untuk memulihkan kehidupan
masyarakat yang tertib, aman serta untuk memberikan landasan hukum yang kuat
dan kepastian hukum dalam mengatasi permasalahan yang mendesak dalam
pemberantaan PTP.
Kejahatan terorisme adlah kejahatan yang baru masuk dalam dalam peraturan
perundang-undangan Indonesia yaitu sejak peristiwa bom Bali. Peningkatan
secara tajam TPT di Indonesia baik kualitas maupun kuantitas memerlukan
penanganan yang serius dari pemerintah dan aparat pendukung terutama
kepolisian, kejaksaan dan dan pengadilan.
Permasalahan dalam penanganan terorisme di Indonesia.

Dalam memberi perlindungan dan payung hukum Indonesia sebagai negara


hukum memberlakukan Undang-undang no. 15 tahun 2003 yang isinya
menetapkan perpu no. 1 2002 menjadi undang-undang.
Berkaitan dengan payung hukum tersebut dapat diberikan beberapa catatan yang
kajian akademik yang antara lain berkaitan dengan:
1. Rumusan pasal-pasal yang bersifat elastis.
Rumusan-rumusan yang sifatnya elastis dapat dilihat pada pasal 6 dan pasal 7
perpu no. 1 tahun 2002 akan menyulitkan orang yang terkena dampak ataupun
aparat penegak hukum ynag menjadi pelaksana dari akibat berlakunya perpu ini.
Dari uraian diatas selintas dapat dilihat bahwa definisi terorisme seperti yang
dimaksud oleh perpu ini belum dapat digunakan untuk mengkalkulasi/
kuantifikasi sesuatu perbuatan dan akibat dari perbuatan tersebut sehingga
perbuatan itu dapat dikategorikan sebagai TPT.
Kebijakan Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Kalau kita mengamati dan memperhatikan keberadaan tindak pidana terorisme
yang ada di Indonesia maka sikap kita sebagai warga negara yang menganut
negara hukum dalam melakukan pemberantasan tindak pidana terorisme maka
didasarkan pada paradigma yang sesuia dengan ciri negara hukum. Undangundang kita menganut dan berkarakter kedaulatan rakyat, juga dianutnya asas
legalitas dan dihormatinya hak asasi manusia dengan mengejewantahkan
peradilan yang bebas dan mandiri. Max weber mengungkapkan konsep negara
hukum dan rasional, diantaranya: aturan hukumnya memiliki suatun kualitas
normatif yang umum dan abstrak, merupakan hukum positif yang diputuskan
secara sadar diperkuat oleh kekuasaan yang memaksa dari negara dalam bentuk
sanksi, sistematis, dan substansi hukum sama sekali terpisah daripertimbanganpertimbangan agama dan ethis.

Dari pendapat Max Weber tersebut diatas, maka kebijakan pemberantasan tindak
pidana terorisme diwujudkan sebagi upaya mewujudkan fungsi dan ciri hukum
sebagaimana diamnatkan oleh undang-undang 1945, yakni Indonesia sebagai
negara hukum harus melindungi masyarakat dari ancaman bahaya dan tindakan
merugikan yang datang dari sesamanya dan atau kelompok masyarakat.