Anda di halaman 1dari 2

NAMA

: ANI NURMULIYANI

NIM

: 1112046100134

SEMESTER : 6 C

PENURUNAN NILAI TUKAR RUPIAH

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kuartal pertama di tahun2015 ini mengalami


penurunan jika dibandingkan dengan petumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun lalu, yakni dari
5,21% turun menjadi 4.71%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia ini menjadi salah
satu penyebab melemahnya nilai rupiah.
Sekarang ini nilai tukar rupiah berada pada posisi paling bawah dengan nyaris menyentuh
level Rp. 12.300 per dollar AS. Banyak faktor yang menyebabkan anjloknya nilai rupiah tersebut
diantaranya kebijakan pemerintah yang dirasa belum mampu memperkuat perekonomian di
tanah air, pelemahan harga minyak mentah dunia dan penurunan nilai ekspor impor.
Selain itu isu keinginan pemerintah untuk memangkas suku bunga juga menjadi salah
satu penyebab menurunnya nilai tukar rupiah. Dimana jika Bank Indonesia memutuskan untuk
menurunkan BI Rate, maka imbal hasil yang didapat oleh investor di instrumen pasar uang juga
akan menurun. Hal tersebut mengakibatkan larinya dana-dana asing (capital outflow). Tak bisa
dipungkiri bahwa perlambatan ekonomi Cina dan menguatnya perokonomian Amerika juga
menjadi penyebab melemahnya nilai tukar rupiah. Tidak hanya Indonesia saja yang mengalami
hal tersebut Negara-negara Asia lainnya juga mengalami dampak yang sama, seperti Korea
Selatan misalnya.
Melemahnya nilai rupiah ini memiliki dampak yang negative bagi perusahaanperusahaan terutama bagi mereka yang menggunakan dollar dalam setiap transaksi bisnisnya.
Selain perusahaan, industri-industri yang menggunakan bahan baku impor juga ikut merasakan
dampaknya, misalnya industri tempe dan tahu. Kebutuhan kedelai Indonesia sebagian besar
dipenuhi dari impor, sehingga bila kurs Rupiah melemah terus menerus, maka harga kedelai akan

makin menjulang tinggi, dan dampaknya harga tempe dan tahu naik, serta industrinya terancam
gulung tikar. Semakin banyak industri berbahan baku impor di Indonesia, maka dampak kurs
rupiah melemah terhadap perekonomian akan semakin berat. Selain karena perusahaan-perusahaan
di industri itu terancam tutup, para pegawainya bisa di-PHK, dan pertumbuhan ekonomi juga
terancam melambat. Padahal, jumlah industri berbahan baku impor ini banyak sekali, bukan hanya
industri tempe dan tahu.

Selain itu beban hutang Negara dan swasta juga menjadi semakin berat dengan lemahnya
kurs rupiah ini. Dimana pemerintah dalam menjalankan pembangunan Negara sering kali perlu
berhutang baik pada suatu lembaga atau Negara tertentu, maupun dengan menerbitkan obligasi
(surat hutang). Perusahaan-perusahaan swasta pun seringkali perlu berhutang dulu untuk
mengembangkan usahanya. Jika hutang-hutang ini dilakukan dalam bentuk Dolar AS, maka
pengembaliannya pun harus dilakukan dengan mata uang yang sama, walaupun kurs Rupiah saat
pengembalian hutang berbeda dengan saat pemberian hutang.

Salah satu upaya yang sedang di jalankan BI untuk menghadapi persoalan ini adalah
dengan dengan mengeluarkan aturan tentang kewajiban masyarakat

untuk menggunakan mata uang rupiah dalam bertransaksi di Tanah


Air. Hal ini dilakukan untuk menjadikan mata uang Rupiah sebagai tuan
rumah di Republik Indonesia, dengan menggunakan Rupiah dalam
bertransaksi, masyarakat turut mendukung stabilitas nilai tukar.
Sehingga permintaan dolar AS akan menurun dan membuat tekanan
kepada Rupiah akan berkurang, dan

nilai tukar Rupiah pun tidak

mengalami fluktuasi seperti yang terjadi akhir-akhir ini.