Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
Malnutrisi dapat terjadi akibat dari konsumsi makanan yang tidak sesuai atau
tidak cukup akibat dari penyerapan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan,
kebiasaan diet jelek, mengikuti mode makanan dan faktor-faktor emosi dapat
membatasi konsumsi. Upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat telah
dilaksanakan melalui berbagai program perbaikan gizi oleh Departemen
Kesehatan bekerja sama dengan masyarakat. Marasmus adalah salah satu bentuk
gizi buruk yang sering ditemui pada Balita. Penyebabnya multifaktorial antara
lain asupan makanan yang kurang, faktor penyakit dan faktor lingkungan serta
ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi dan keadaan ekonomi yang
rendah. Diagnosis berdasarkan gambaran klinis yaitu untuk menentukan penyebab
dari perlunya anamnesis makanan dan penyakit lain. Pencegahan terhadap
marasmus ditujukan kepada penyebab dan memerlukan pelayanan kesehatan, serta
penyuluhan yang baik. Pengobatan marasmus ialah pemberian diet tinggi kalori
dan tinggi protein. Penatalaksanaan di rumah sakit yang dibagi atas: tahap awal,
tahap penyesuaian dan rehabilitasi. Marasmus adalah permasalahan gizi serius
yang terjadi di negara-negara berkembang.
Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya
dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk
terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Menurut Departemen
Kesehatan (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar 27,5% (5 juta balita kurang
gizi), 3,5 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan 1,5 juta anak gizi
buruk (8,3%). WHO (1999) mengelompokkan wilayah berdasarkan prevalensi
gizi kurang ke dalam 4 kelompok yaitu: rendah (di bawah 10%), sedang (1019%), tinggi (20-29%), sangat tinggi (30%).4,5
Gizi buruk masih merupakan masalah di Indonesia, walaupun Pemerintah
Indonesia telah berupaya untuk menanggulanginya. Data Dusenas menunjukkan
bahwa jumlah balita yang BB/U < -3 SD Z-score WHO-NCHS sejak tahun 1989

meningkatkan dari 6,3 % menjadi 7,2 % tahun 1992 dan mencapai puncaknya
11,6% pada tahun 1995. Upaya Pemerintah antara lain melalui pemberian
makanan tambahan dalam jaringan pengaman sosial (JPS) dan peningkatan
pelayanan gizi melalui pelatihan-pelatihan tatalaksana gizi buruk kepada tenaga
kesehatan, berhasil menurunkan angka gizi buruk menjadi 10,1% pada tahun
1998, 8,1% pada tahun 1999, dan 6,3% tahun 2001. Namun pada tahun 2002
terjadi peningkatan kembali 7% dan pada tahun 2003 menjadi 8,15%.4,7
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dan Laporan Survei Departemen
Kesehatan-Unicef tahun 2005, dari 343 kabupaten/kota di Indonesia penderita gizi
buruk sebanyak 169 kabupaten/kota tergolong prevalensi sangat tinggi dan 257
kabupaten/kota lainnya prevalensi tinggi. Dari data Depkes juga terungkap
masalah gizi di Indonesia ternyata lebih serius dari yang kita bayangkan selama
ini. Gizi buruk atau anemia gizi tidak hanya diderita anak balita, tetapi semua
kelompok umur. Perempuan adalah yang paling rentan, disamping anak-anak.
Sekitar 4 juta ibu hamil, setengahnya mengalami anemia gizi dan satu juta lainnya
kekurangan energi kronis (KEK). Dalam kondisi itu, rata-rata setiap tahun lahir
350.000 bayi lahir dengan kekurangan berat badan (berat badan rendah).4

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
Marasmus adalah bentuk malnutrisi energi protein yang terutama
disebabkan kekurangan kalori berat dalam jangka waktu lama, terutama terjadi
selama tahun pertama kehidupan, yang ditandai dengan retardasi pertumbuhan
dan pengurangan lemak bawah kulit dan otot secara progresif tetapi biasanya
masih ada nafsu makan dan kesadaran mental.4

2.2 ETIOLOGI
Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara
garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan
yang kurang dan anak sering sakit atau terkena infeksi. Selain itu gizi buruk
dipengaruhi oleh faktor lain seperti sosial ekonomi, kepadatan penduduk,
kemiskinan, dan lain-lain.4,5
Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan
dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan, ada beberapa faktor lain pada diri
anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya
marasmus.
Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut:
1. Masukan makanan yang kurang.
Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit,pemberian makanan
yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang
tua si anak; misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu
encer.

2. Infeksi
Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi
enteral misalnya infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephritis
dan sifilis kongenital.
3. Kelainan struktur bawaan
Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas
palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosispilorus, hiatus hernia,
hidrosefalus, cystic fibrosis pancreas.
4. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus
Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI yang kurang.
5. Pemberian ASI
Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan
yang cukup.
6. Gangguan metabolik
Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose
intolerance.
7. Tumor hypothalamus
Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang lain
telah disingkirkan.
8. Penyapihan
Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang
kurang akan menimbulkan marasmus.
9. Urbanisasi
Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya
marasmus; meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan
penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan
susu yang terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli susu; dan bila
diserta idengan infeksi berulang, terutama gastro enteritis akan
menyebabkan anak jatuh dalam marasmus.

2.3 PATOFISIOLOGI
Malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor.
Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri
(host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet
(makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan.
Marasmus adalah compensated malnutrition atau sebuah mekanisme adaptasi
tubuh terhadap kekurangan energi dalam waktu yang lama. Dalam keadaan
kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan
memenuhi

kebutuhan

pokok

atau

energi.

Kemampuan

tubuh

untuk

mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat


penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai
oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, tetapi kemampuan tubuh untuk
menyimpan karbohidrat sangat sedikit. Akibatnya katabolisme protein terjadi
setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi
karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama kurangnya intake makanan, jaringan
lemak akan dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Setelah lemak
tidak dapat mencukupi kebutuhan energi, maka otot dapat mempergunakan asam
lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan. Pada
akhirnya setelah semua tidak dapat memenuhi kebutuhan akan energi lagi, protein
akan dipecah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal tubuh. Proses ini
berjalan menahun, dan merupakan respon adaptasi terhadap ketidak cukupan
asupan energi dan protein.1
2.4 KLASIFIKASI
Tujuannya adalah untuk menentukan prevalensi KEP di suatu daerah,
sehingga dapat menentukan presentasi gizi-kurang dan berat di daerah tersebut.4
II.4.1 Klasifikasi menurut derajat beratnya KEP
a. Klasifikasi menurut Gomez

Klasifikasi tersebut berdasarkan atas berat badan individu dibandingkan


dengan berat badan yang diharapakan pada anak sehat yang seumur. Sebagai baku
patokan dipakai persentil 50 baku Harvard (Stuart dan Stevenson, 1945). Gomez
mengelompokkan KEP dalam KEP ringan, sedang, dan berat.4
Tabel 2.1. Klasifikasi KEP menurut Gomez4
Derajat KEP

Berat Badan % dari baku*

0 = normal

90 %

1 = ringan

89-75 %

2 = sedang

74-60 %

3 = berat

< 60 %

*Baku = persentil 50 Harvard


b. Modifikasi Bengoa atas Klasifikasi Gomez
Bengoa pada tahun 1970 mengadakan modifikasi pada klasifikasi Gomez,
yang hanya didasarkan pada defisit berat badan saja. Penderita KEP dengan
edema, tanpa menlihat defisit berat badannya digolongkan oleh Bengoa dalam
derajat 3. Penderita kwarsiorkor berat badannya jarang menurun hingga kurang
dari 60% disebabkan oleh adanya edema, sedangkan lemak tubuh dan otot-ototnya
tidak mengurang sebanyak seperti pada keadaan marasmus. Padahal kwarshiorkor
merupakan penyakit yang serius dengan angka kematian tinggi.
c. Modifikasi yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan R.I.
Demi keseragaman dalam membuat rencana dan mengevaluasi programprogram pangan dan gizi serta kesehatan masyarakat, maka Lokakarya
Antropometri Gizi Departemen Kesehatan R.I yang diadakan pada tahun 1975
membuat keputusan yang merupakan modifikasi klasifikasi Gomez. Berbeda
dengan

penggolongan yang ditetapkan Gomez, lokakarya mengklasifikasikan

status gizi dalam gizi lebih, gizi kurang, dan gizi buruk.

Tabel 2.2. Klasifikasi KEP menurut Dep.Kes (1975)


Derajat KEP

Berat badan % dari baku*

0 = normal

80%

1 = gizi kurang

60-79 %

2 = gizi buruk

< 60 %

*Sebagai baku patokan dipakai persentil 50 Harvard.


II.4.2 Klasifikasi menurut tipe (Klasifikasi Kualitatif).
Klasifikasi ini menggolongkan KEP menurut tipenya: gizi kurang,
marasmus, kwarshiorkor, dan marasmus-kwarshiorkor.
a. Klasifikasi kualitatif menurut Wellcome Trust.
Cara Wellcome Trust dapat dipraktekan dengan mudah, tidak ditemukan
penentuan gejala klinis maupun laboratories, dan dapat dilakukan oleh para tenaga
medis setelah diberi latihan seperlunya. Cara ini dapat digunakan untuk survei
lapangan, namun apabila dilakukan pada penderita yang sudah mengalami
perawatan dan pengobatan

selama beberapa hari dapat membuat diagnosa

menjadi salah. Misalnya pada penderita kwarshiorkor dengan berat badan > 60%,
jika dirawat selama 1 minggu maka edema akan hilang dan berat badan menjadi <
60% walaupun gejala lainnya masih ada. Dengan berat badan < 60% dan tidak ada
edema, maka penderita tersebut dapat didiagnosa sebagai marasmus dengan
menggunakan metode Wellcome Trust(3).

Tabel 2.3. Klasifikasi Kualitatif KEP menurut Wellcome Trust.


Berat badan % dari baku*

>60%

Edema
Tidak ada

Ada

Gizi kurang

Kwarshiorkor

<60%

Marasmus

Marasmic-Kwarshiorkor

* baku = persentil 50 Harvard.


b. Klasifikasi Kualitatif menurut McLaren
McLaren mengklasifikasikan golongan KEP berat dalam 3 kelompok
menurut tipenya. Gejala klinis edema, dermatosis, edema disertai dermatosis,
perubahan pada rambut, dan pembesaran hati diberi angka bersama-sama dengan
menurunnya kadar albumin atau total protein serum. Cara seperti ini dikenal
sebagai scoring system McLaren.
Tabel. 2.4. Cara Pemberian Angka menurut McLaren.
Gejala klinis/laboratoris

Angk
a

Edema

Dermatosis

Edema disertai dermatosis

Perubahan pada rambut

Hepatomegali

Albumin serum atau protein


total serum/g %
< 1.00

< 3.25

1.00 1.49

3.25 3.99

1.50 1.99

4.00 4.75

2.00 2.49

4.75 5.49

2.50 2.99

5.50 6.24

3.00 3.49

6.25 6.99

3.50 3.99

7.00 7.74

>4.00

> 7.75

Penentuan tipe didasarkan atas jumlah angka yang dapat dikumpulkan dari
tiap penderita:
0 3 angka = marasmus
4 8 angka = marasmic-kwarshiorkor
9 15 angka = kwarshirkor
Cara demikian dapat mengurangi kesalahan jika dibandingkan dengan cara
Wellcome Trust, akan tetapi harus dilakukan oleh seorang dokter dengan bantuan
laboratorium(3).
c. Klasifikasi KEP menurut Waterlow
Waterlow (1973) membedakan antara penyakit KEP yang terjadi akut dan
menahun. Beliau berpendapat, bahwa defisit berat badan terhadap tinggi badan
mencerminkan gangguan gizi yang akut dan menyebabkan keadaan wasting
(kurus-kering), sedangkan defisit tinggi badan menurut umur merupakan akibat
kekurangan gizi yang berlangsung sangat lama. Akibat tersebut dapat
mengganggu laju pertumbuhan tinggi badan, sehingga anak menjadi pendek
(stunting) untuk umurnya. Waterlow membagi keadaan wasting dan stunting
dalam 3 kategori.

Tabel 2.5. Klasifikasi KEP menurut Waterlow.


Derajat gangguan

Stunting
(tinggi menurut umur)

Wasting
(berat terhadap tinggi)

>95%

>90%

95 90 %

90 80 %

80 70 %

80 70 %

< 70 %

< 70 %

Lokakarya Antropometri Dep.Kes. R.I pada tahun 1975 memutuskan untuk


mengambil baku Harvard persentil 50 sebagai patokan dan menggolongkannya
sebagai berikut:
Bagi tinggi menurut umur
Tinggi normal : diatas 85% Harvard persentil 50
Tinggi kurang : 70 84 % Harvard persentil 50
Tinggi sangat kurang : < 70% Harvard persentil 50
Bagi berat terhadap tinggi
Gizi baik : 90% Harvard persentil 50
Gizi kurang dan buruk : < 90% Harvard persentil 50
Beberapa cara membuat klasifikasi direncanakan sedemikian, sehingga
hanya memerlukan alat-alat yang sederhana, tidak diperlukan untuk menkalkulir
hasilnya, tidak perlu mengetahui umur yang akan diperiksa, sehingga dapat
dilakukan oleh tenaga paramedik atau sukarelawan setelah mendapat petunjuk
seperlunya. Cara Quack stick (Arnold, 1969) merupakan salah satu cara yang
dapat digunakan, dengan mengukur lingkar lengan dan tinggi badan(3).
Gizi buruk juga dapat dikaslifikasikan berdasarkan gambaran klinis sebagai
berikut:
1.

Marasmus (atrofi, infantile, kelemahan, insufisiensi nutrisi bayi (athrepesia))


Malnutrisi berat pada bayi sering terdapat di daerah dengan makanan yang
tidak cukup atau hygiene jelek. Sinonim marasmus ditetapkan pada pola penyakit
klinis yang menekankan satu atau lebih tanda defisiensi protein dan kalori.
Gambaran klinis marasmus berasal dari masukan kalori yang tidak cukup karena
diet yang tidak cukup. Hal ini berhubungan dengan kebiasaan makan yang tidak
tepat seperti pada hubungan orang tua dan anak yang terganggu, atau karena
kelainan metabolik atau malformasi kongenital. Gangguan berat setiap sistem
tubuh dapat mengakibatkan malnutrisi(4).

Pada awalnya, terjadi kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan


kehilangan berat badan sampai berakibat kurus, dengan kehilangan turgor pada
kulit, sehingga kulit menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang.
Lemak pada daerah pipi adalah bagian yang terakhir hilang, sehingga dalam
beberapa waktu wajah bayi tampak terlihat relatif normal sampai nantinya
menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung atau datar dan gambaran usus
dapat dengan mudah dilihat. Terjadi atrofi otot akibat hipotoni. Suhu biasanya
subnormal, nadi mungkin lambat, dan angka metabolisme dasar cenderung
menurun. Mula-mula mungkin bayi rewel, tapi kemudian menjadi lesu dan nafsu
makan hilang. Bayi biasanya konstipasi,tetapi dapat muncul diare dengan buang
air besar sering, tinja berisi mucus dan sedikit.
2.

Malnutrisi protein (Malnutrisi protein kalori, kwarshiorkor).


Anak harus mengkonsumsi cukup makanan nitrogen untuk mempertahankan
keseimbangan positif (karena sedang dalam masa pertumbuhan). Walaupun
defisiensi kalori dan nutrient lain mempersulit gambaran klinik dan kimia, gejala
utama malnutrisi protein disebabkan karena masuknya protein tidak cukup
bernilai biologis baik. Dapat juga karena penyerapan protein terganggu, seperti
pada diare kronis, kehilangan protein abnormal seperti proteinuria atau nefrosis,
infeksi, perdarahan atau luka bakar, dan gagal mensintesis protein seperti pada
penyakit hati kronis(4).
Kwarshiorkor merupakan sindroma klinis akibat dari malnutrisi protein
berat (MEP berat) dan masukan kalori tidak cukup. Dari kekurangan masukan
atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolic yang
disebabkan oleh infeksi kronis, akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat turut
menimbulkan tanda dan gejala tersebut. Bentuk malnutrisi yang paling serius dan
menonjol di dunia saat ini terutama pada daerah industri belum berkembang.
Kwarshiorkor berarti anak tersingkirkan yaitu anak yang tidak lagi mengisap,
dapat menjadi jelas sejak masa bayi sampai sekitar usia 5 tahun, biasanya sudah
menyapih dari ASI. Walaupun penambahan tinggi dan berat badan dipercepat

dengan pengobatan, ukuran ini tidak akan pernah sama dengan tinggi dan berat
badan anak normal(4).

2.5 ANTROPOMETRI
Berat Badan
Berat badan adalah parameter pertumbuhan yang paling sederhana, mudah
diukur dan diulang dan merupakan indeks untuk status nutrisi sesaat. Hasil
pengukuran berat badan dipetakan pada kurva standar Berat badan/ Umur (BB/U)
dan Berat Badan/ Tinggi Badan (BB/TB). Adapun interpretasi pengukuran berat
badan yaitu:4
BB/U dibandingkan dengan acuan standard (CDC 2000) dan dinyatakan
dalam persentase:4

> 120 %

80 120 % : disebut gizi baik

60 80 % : tanpa edema ; gizi kurang dengan edema ; gizi buruk

: disebut gizi lebih

(kwashiorkor)

< 60%

: gizi buruk : tanpa edema (marasmus) dengan edema

(marasmus kwashiorkor)
Tinggi Badan (TB)
Tinggi badan pasien harus diukur pada tiap kunjungan . Pengukuran berat
badan akan memberikan informasi yang bermakna kepada dokter tentang status
nutrisi dan pertumbuhan fisis anak. Seperti pada pengukuran berat badan, untuk
pengukuran tinggi badan juga diperlukan informasi umur yang tepat, jenis
kelamin dan baku yang diacu yaitu CDC 2000.4
Interpretasi dari dari TB/U dibandingkan standar baku berupa:4

90 110 % : baik/normal

70 89 %

: tinggi kurang

< 70 %

: tinggi sangat kurang

Rasio Berat Badan menurut tinggi badan (BB/TB)


Rasio BB/TB bila dikombinasikan dengan beraat badan menurut umur dan
tinggi badan menurut umur sangat penting dan lebih akurat dalam penilaian status
nutrisi karena ia mencerminkan proporsi tubuh serta dapat membedakan antar
wasting dan stunting atau perawakan pendek. Indeks ini digunakan pada anak
perempuan hanya sampai tinggi badan 138 cm, dan pada anak lelaki sampai tinggi
badan 145 cm. Setelah itu rasio BB/TB tidak begitu banyak artinya, karena
adanya percepatan tumbuh (growth spurt). Keuntungan indeks ini adalah tidak
diperlukannya faktor umur, yang seringkali tidak diketahui secara tepat.3,4
BB/TB (%) = (BB terukur saat itu) (BB standar sesuai untuk TB terukur) x
100%, interpretasi di nilai sebagai berikut:4

> 120 %

110 120 % : Overweight

90 110 % : normal

70 90 %

: gizi kurang

< 70 %

: gizi buruk

: Obesitas

2.6 GEJALA KLINIS


Pada kasus malnutrisi yang berat, gejala klinis terbagi menjadi dua bagian
besar, yaitu kwashiokor dan marasmus. Pada kenyataannya jarang sekali
ditemukan suatu kasus yang hanya menggambarkan salah satu dari bagian tertentu
saja. Sering kali pada kebanyakan anak-anak penderita gizi buruk, yang
ditemukan merupakan perpaduan gejala dan tanda dari kedua bentuk malnutrisi

berat tersebut. Marasmus lebih sering ditemukan pada anak-anak dibawah usia
satu tahun, sedangkan insiden pada anak-anak dengan kwashiokor terjadi pada
usia satu hingga enam tahun. Pada beberapa negara seperti di Asia dan Afrika,
marasmus juga didapatkan pada anak yang lebih dewasa dari usia satu tahun
(toddlers), sedangkan di Chili, marasmus terjadi pada bulan pertama kehidupan
anak tersebutnya.1,2
Gejala pertama dari malnutrisi tipe marasmus adalah kegagalan tumbuh
kembang. Pada kasus yang lebih berat, pertumbuhan bahkan dapat terhenti sama
sekali. Selain itu didapatkan penurunan aktifias fisik dan keterlambatan
perkembangan psikomotorik. Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik, akan
ditemukan suara tangisan anak yang monoton, lemah, dan tanpa air mata, lemak
subkutan menghilang dan lemak pada telapak kaki juga menghilang sehingga
memberikan kesan tapak kaki seperti orang dewasa. Kulit anak menjadi tipis dan
halus, mudah terjadi luka tergantung adanya defisiensi nutrisi lain yang ikut
menyertai keadaan marasmus. Kaki dan tangan menjadi kurus karena otot-otot
lengan serta tungkai mengalami atrofi disertai lemak subkutan yang turut
menghilang. Pada pemeriksaan protein serum, ditemukan hasil yang normal atau
sedikit meningkat. Selain itu keadaan yang terlihat mencolok adalah hilangnya
lemak subkutan pada wajah. Akibatnya ialah wajah anak menjadi

lonjong,

berkeriput dan tampak lebih tua (old man face). Tulang rusuk tampak lebih jelas.
Dinding perut hipotonus dan kulitnya longgar. Berat badan turun menjadi kurang
dari 60% berat badan menurut usianya. Suhu tubuh bisa rendah karena lapisan
penahan panas hilang. Cengeng dan rewel serta lebih sering disertai diare kronik
atau konstipasi, serta penyakit kronik. Tekanan darah, detak jantung dan
pernafasan menjadi berkurang.2,3
Manifestasi Klinik
Marasmus8

Pertumbuh
an berkurang atau
berhenti

Kwshiorkor8

Perubahan
mental sampai apatis
Anemia

Obesitas7

wajah bulat
dengan pipi tembem dan
dagu rangkap

Terlihat
sangat kurus

Penampilan
wajah seperti orangtua

Perubahan
mental

Cengeng

Kulit
kering, dingin,
mengendor, keriput

Lemak
subkutan menghilang
hingga turgor kulit
berkurang

Otot atrofi
sehingga kontur tulang
terlihat jelas

Vena
superfisialis tampak
jelas

Ubun
ubun besar cekung

tulang pipi
dan dagu kelihatan
menonjol

mata
tampak besar dan
dalam

Kadang
terdapat bradikardi

Tekanan
darah lebih rendah
dibandingkan anak
sebaya
*Manifestasi klinis dari
marasmus dan kwashiorkor

Perubahan
leher relatif
warna dan tekstur
pendek
rambut, mudah

dada
dicabut / rontok
membusung dengan
Gangguan
payudara membesar
sistem gastrointestinal
- perut membuncit dan
Pembesara
striae abdomen
n hati
Perubahan - pada anak laki-laki :
Burried penis,
kulit
gynaecomastia
Atrofi otot
Edema
- pubertas dini
simetris pada kedua
punggung kaki, dapat
- genu valgum (tungkai
sampai seluruh tubuh.
berbentuk X) dengan
kedua pangkal paha
bagian dalam
saling menempel dan
bergesekan yang dapat
menyebabkan laserasi
kulit

marasmic-kwashiorkor merupakan campuran gejala

2.7 DIAGNOSIS
Diagnosis marasmus dibuat berdasarkan gambaran klinis, tetapi untuk
mengetahui penyebab harus dilakukan anamnesis makanan dan kebiasaan makan

anak serta riwayat penyakit yang lalu. Pada awalnya, terjadi kegagalan menaikkan
berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,
dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar
karena lemak subkutan hilang. Lemak pada daerah pipih adalah bagian terakhir
yang hilang sehingga untuk beberapa waktu muka bayi tampak relative normal
sampai nantinya menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung atau datar
dan gambaran usus dapat dengan mudah dilihat. Terjadi atrofi otot dengan akibat
hipotoni. Suhu biasanya subnormal, nadi mungkin lambat, dan angka metabolism
basal cenderung menurun. Mula-mula bayi mungkin rewel, tetapi kemudian
menjadi lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat
muncul diare dengan buang air besar sering, tinja berisi mucus dan sedikit.3,4
Ciri dari marasmus antara lain:3,4
- Penampilan wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
- Perubahan mental
- Kulit kering, dingin dan kendur
- Rambut kering, tipis dan mudah rontok
- Lemak subkutan menghilang sehingga turgor kulit berkurang
- Otot atrofi sehingga tulang terlihat jelas
- Sering diare atau konstipasi
- Kadang terdapat bradikardi
- Tekanan darah lebih rendah dibandingkan anak sehat yang sebaya
- Kadang frekuensi pernafasan menurun
Selain itu marasmus harus dapat dibedakan dengan kasus malnutrisi
lainnya yaitu kwashiokor agar tidak terjadi kesalahan dalam penegakkan diagnosa
yang dapat berpengaruh pada tindak lanjut kasus ini. Kwashiorkor merupakan
sindroma klinis akibat dari malnutrisi protein berat (MEP berat) dengan masukan
kalori yang cukup. Bentuk malnutrisi yang paling serius dan paling menonjol di
dunia saat ini terutama yang berada didaerah industri belum berkembang.
Kwashiorkor berarti anak tersingkirkan, yaitu anak yang tidak lagi menghisap,
gejalanya dapat menjadi jelas sejak masa bayi awal sampai sekitar usia 5 tahun,

biasanya sesudah menyapih dari ASI. Walaupun penambahan tinggi dan berat
badan dipercepat dengan pengobatan, ukuran ini tidak pernah sama dengan tinggi
dan berat badan anak normal.3
Ciri dari Kwashiorkor menurut antara lain:3,4
- Perubahan mental sampai apatis
- Sering dijumpai Edema
- Atrofi otot
- Gangguan sistem gastrointestinal
- Perubahan rambut dan kulit
- Pembesaran hati
- Anemia
Diagnosis ditegakkan dengan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta
pengukuran antropometri. Anak didiagnosis gizi buruk apabila:
- BB/TB < -3 SD atau , 70 % dari median (marasmus)
-

Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor:

BB/TB > - 3 SD atau marasmic kwashiorkor: BB/TB < -3SD).


Jika BB/TB tidak dapat diukur, gunakan tanda klinis berupa anak tampak
sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak mempunyai jaringan lemak bawah
kulit terutama pada kedua bahu, lengan, pantat, paha, tulang iga terlihat jelas,
dengan atau tanpa adanya edema.
Anak anak dengan BB/U <60% belum tentu gizi buruk, karena mungkin
anak tersebut pendek, sehingga tidak terlihat sangat kurus. Anak seperti itu tidak
membutuhkan perawatan di rumah sakit, kecuali jika ditemukan penyakit lain
yang berat.

2.8 PENCEGAHAN
Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik
bila penyebabnya diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan

prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi.
Beberapa diantaranya ialah:4,7
1. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber
energi yang paling baik untuk bayi.
2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan bergizi dan berprotein
serta energi tinggi pada anak sejak umur 6 bulan ke atas
3. Pencegahan

penyakit

infeksi,

dengan

meningkatkan

kebersihan

lingkungan dan kebersihan perorangan


4. Pemberian imunisasi.
5. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu
kerap.
6. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat
merupakan usaha pencegahan jangka panjang.
7. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang
endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.
8. Meningkatkan hasil produksi pertanian agar persediaan makan mencukupi.
9. Memperbaiki infrastruktur pemasaran dan mensubsidi harga bahan
makanan
10. Melakukan program transmigrasi ke daerah lain agar terjadi pemerataan
penduduk.
Pentingnya Deteksi Dan Intervensi Dini
Mengingat penyebabnya sangat kompleks, pengelolaan gizi buruk
memerlukan kerjasama yang komprehensif dari semua pihak. Tidak hanya dari
dokter maupun tenaga medis, namun juga pihak orang tua, keluarga, pemuka
masyarakat maupun agama dan pemerintah. Langkah awal pengelolaan gizi buruk
adalah mengatasi kegawatan yang ditimbulkannya, dilanjutkan dengan frekuen
feeding ( pemberian makan yang sering, pemantauan akseptabilitas diet
( penerimaan tubuh terhadap diet yang diberikan), pengelolaan infeksi dan
pemberian stimulasi. Perlunya pemberian diet seimbang, cukup kalori dan protein
serta pentingnya edukasi pemberian makan yang benar sesuai umur anak. Pada

daerah endemis gizi buruk, diperlukan tambahan distribusi makanan yang


memadai.5,7
Posyandu dan puskesmas sebagai ujung tombak dalam melakukan skrining
atau deteksi dini dan pelayanan pertama menjadi vital dalam pencegahan kasus
gizi buruk saat ini. Penggunaan kartu menuju sehat dan pemberian makanan
tambahan di posyandu perlu digalakkan lagi. Tindakan cepat pada balita yang 2x
berturut-turut tidak naik timbangan berat badannya untuk segera mendapat akses
pelayanan dan edukasi lebih lanjut, dapat menjadi sarana deteksi dan intervensi
yang efektif. Termasuk juga peningkatan cakupan imunisasi untuk menghindari
penyakit yang dapat dicegah, serta propaganda kebersihan personal maupun
lingkungan. Pemuka masyarakat maupun agama akan sangat efektif jika
membantu dalam pemberian edukasi pada masyarakat, terutama dalam
menanggulangi kebiasaan atau mitos-mitos yang salah pada pemberian makan
pada anak.5,7

2.9 PENATALAKSANAAN
Tatalaksana umum malnutrisi energi protein:

Penilaian triase anak dengan gizi buruk dengan tatalaksana syok


pada anak
dengan gizi buruk

Jika ditemukan ulkus kornea, beri vitamin A dan obat tetes mata
kloramfenikol/tetrasiklin dan atropin; tutup mata dengan kasa yang
telah dibasahi dengan larutan garam normal, dan balutlah. Jangan beri
obat mata yang mengandung steroid.

Jika terdapat anemia berat, diperlukan penanganan segera (lampiran 2)

- Penanganan umum meliputi 10 langkah dan terbagi dalam 3 fase yaitu:


fase stabilisasi, fase transisi, fase rehabilitasi dan fase tindak
lanjut.Tabel 1. Sepuluh langkah tatalaksana gizi buruk1,7

No Tindakan Pelayanan

Fase Stabilisasi

Fase Rehabilitasi Fase

H1-2H3-7

Minggu ke 3 - 6

Tindak lanjut *)
Minggu ke

7 -26
1. Mencegah dan mengatasi
hipoglikemia
2. Mencegah dan mengatasi
hipotermia
3. Mencegah dan mengatasi
dehidrasi
4. Memperbaiki gangguan
keseimbangan elektrolit
5. Mengobati infeksi
6. Memperbaiki zat gizi mikro

Tanpa Fe Dengan Fe

7. Memberikan makanan
untuk stabilisasi dan
transisi
8. Memberikan makanan
untuk tumbuh kejar
9. Memberikan stimulasi
tumbuh kembang
10. Mempersiapkan untuk
tindak lanjut di rumah
*) Pada fase tindak lanjut dapat dilakukan di rumah, dimana anak secara berkala
(1minggu/ kali) berobat jalan ke Puskesmas atau Rumah Sakit.
Pada pasien dengan gizi buruk dibagi dalam 4 fase yang harus dilalui yaitu
fase stabilisasi (Hari 1-7), fase transisi (Hari 8 14), fase rehabilitasi (Minggu ke
3 6), fase tindak lanjut (Minggu ke 7 26) seperti tampak pada tabel diatas.1,7
1. Mencegah dan mengatasi hipoglikemi

Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula darah < 3
mmol/L atau < 54 mg/dl) sehingga setiap anak gizi buruk harus diberi makan atau
larutan glukosa/gula pasir 10% segera setelah masuk rumah sakit.
Jika fasilitas setempat tidak memungkinkan untuk memeriksa kadar gula darah,
maka semua anak gizi buruk harus dianggap menderita hipoglikemia dan segera
ditangani sesuai panduan.
Tatalaksana
-

Segera beri F-75 pertama atau modifikasinya bila penyediaannya memungkinkan.

Bila F-75 pertama tidak dapat disediakan dengan cepat, berikan 50 ml larutan
glukosa atau gula 10% (1 sendok teh gula dalam 50 ml air) secara oral atau
melalui NGT.

Lanjutkan pemberian F-75 setiap 23 jam, siang dan malam selama minimal dua
hari.

Bila masih mendapat ASI teruskan pemberian ASI di luar jadwal pemberian F-75.

Jika anak tidak sadar (letargis), berikan larutan glukosa 10% secara intravena
(bolus) sebanyak 5 ml/kg BB, atau larutan glukosa/larutan gula pasir 50 ml
dengan NGT.

Beri antibiotik.
Pemantauan
Jika kadar gula darah awal rendah, ulangi pengukuran kadar gula darah setelah 30
menit.

Jika kadar gula darah di bawah 3 mmol/L (< 54 mg/dl), ulangi pemberian larutan
glukosa atau gula 10%.

Jika suhu rektal < 35.5 C atau bila kesadaran memburuk, mungkin hipoglikemia
disebabkan oleh hipotermia, ulangi pengukuran kadar gula darah dan tangani
sesuai keadaan (hipotermia dan hipoglikemia).
Pencegahan
Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin atau jika perlu,
lakukan rehidrasi lebih dulu. Pemberian makan harus teratur setiap 2-3 jam siang
malam.

2. Mencegah dan mengatasi hipotermia


Diagnosis
Suhu aksilar < 35.5 C
Tatalaksana
-

Segera beri makan F-75 (jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu).

Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya). Tutup dengan selimut


hangat dan letakkan pemanas (tidak mengarah langsung kepada anak) atau lampu
di dekatnya, atau letakkan anak langsung pada dada atau perut ibunya (dari kulit
ke kulit: metode kanguru). Bila menggunakan lampu listrik, letakkan lampu pijar
60 W dengan jarak 60 cm dari tubuh anak.

Beri antibiotik sesuai pedoman.


Pemantauan

Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi 36.5 C atau
lebih. Jika digunakan pemanas, ukur suhu tiap setengah jam. Hentikan pemanasan
bila suhu mencapai 36.5 C

Pastikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut, terutama pada malam
hari

Periksa kadar gula darah bila ditemukan hipotermia


Pencegahan

Letakkan tempat tidur di area yang hangat, di bagian bangsal yang bebas angin
dan pastikan anak selalu tertutup pakaian/selimut

Ganti pakaian dan seprai yang basah, jaga agar anak dan tempat tidur tetap kering

Hindarkan anak dari suasana dingin (misalnya: sewaktu dan setelah mandi, atau
selama pemeriksaan medis)

Biarkan anak tidur dengan dipeluk orang tuanya agar tetap hangat, terutama di
malam hari

Beri makan F-75 atau modifikasinya setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin,
sepanjang hari, siang dan malam.

3. Mencegah dan mengatasi dehidrasi


Diagnosis

Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi yang


berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi buruk. Hal ini
disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara tepat pada anak
dengan gizi buruk, hanya dengan menggunakan gejala klinis saja. Anak gizi buruk
dengan diare cair, bila gejala dehidrasi tidak jelas, anggap dehidrasi ringan.
Tatalaksana
-

Jangan gunakan infus untuk rehidrasi, kecuali pada kasus dehidrasi berat dengan
syok.

Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT, lakukan lebih lambat disbanding
jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik.
-

Beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama

Setelah 2 jam, berikan ReSoMal 510 ml/kgBB/jam berselang-seling

dengan F-75 dengan jumlah yang sama, setiap jam selama 10 jam.
Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak mau, volume tinja yang
keluar dan apakah anak muntah.
-

Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam

Jika masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia < 1 th: 50-100ml
setiap buang air besar, usia 1 th: 100-200 ml setiap buang air besar.

4. Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit


Pemantauan
Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis setiap setengah
jam selama 2 jam pertama, kemudian tiap jam sampai 10 jam berikutnya.
Waspada terhadap gejala kelebihan cairan, yang sangat berbahaya dan bisa
mengakibatkan gagal jantung dan kematian.
Periksalah:
-

frekuensi napas

frekuensi nadi

frekuensi miksi dan jumlah produksi urin

frekuensi buang air besar dan muntah


Selama proses rehidrasi, frekuensi napas dan nadi akan berkurang dan mulai ada
diuresis. Kembalinya air mata, mulut basah cekung mata dan fontanel berkurang

serta turgor kulit membaik merupakan tanda membaiknya hidrasi, tetapi anak gizi
buruk seringkali tidak memperlihatkan tanda tersebut walaupun rehidrasi penuh
telah terjadi, sehingga sangat penting untuk memantau berat badan.
Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas meningkat 5x/menit dan
frekuensi nadi 15x/menit), hentikan pemberian cairan/ReSoMal segera dan
lakukan penilaian ulang setelah 1 jam.
Pencegahan
Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama dengan pada anak
dengan gizi baik, kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai pengganti larutan
oralit standar.
-

Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI

Pemberian F-75 sesegera mungkin

Beri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap buang air besar cair.


Tatalaksana

Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan Magnesium, yang


sudah terkandung di dalam larutan Mineral-Mix yang ditambahkan ke dalam F75, F-100 atau ReSoMal

Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi

Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl).

5. Mengobati infeksi
Pada gizi buruk, gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti demam, seringkali
tidak ada, padahal infeksi ganda merupakan hal yang sering terjadi. Oleh karena
itu, anggaplah semua anak dengan gizi buruk mengalami infeksi saat mereka
datang ke rumah sakit dan segera tangani dengan antibiotik. Hipoglikemia dan
hipotermia merupakan tanda infeksi berat.
Tatalaksana
Berikan pada semua anak dengan gizi buruk:
-

Antibiotik spektrum luas

Vaksin campak jika anak berumur 6 bulan dan belum pernah mendapatkannya,
atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah diberi vaksin sebelum
berumur 9 bulan.

Tunda imunisasi jika anak syok.


Pilihan antibiotik spektrum luas

Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata, beri Kotrimoksazol per oral
(25 mg SMZ + 5 mg TMP/kgBB setiap 12 jam selama 5 hari

Jika ada komplikasi (hipoglikemia, hipotermia, atau anak terlihat letargis atau
tampak sakit berat), atau jelas ada infeksi, beri:

Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari), dilanjutkan dengan
Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8 jam selama 5 hari) ATAU, jika tidak
tersedia amoksisilin, beri Ampisilin per oral (50 mg/kgBB setiap 6 jam selama 5
hari) sehingga total selama 7 hari
DITAMBAH:

Gentamisin (7.5 mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari selama 7 hari.

Jika diduga meningitis, lakukan pungsi lumbal untuk memastikan dan obati
dengan Kloramfenikol (25 mg/kg setiap 6 jam) selama 10 hari

Jika ditemukan infeksi spesifik lainnya (seperti pneumonia, tuberkulosis, malaria,


disentri, infeksi kulit atau jaringan lunak), beri antibiotik yang sesuai.

Beri obat antimalaria bila pada apusan darah tepi ditemukan parasit malaria.

Walaupun tuberkulosis merupakan penyakit yang umum terdapat, obat anti


tuberkulosis hanya diberikan bila anak terbukti atau sangat diduga menderita
tuberkulosis.
Pemantauan
Jika terdapat anoreksia setelah pemberian antibiotik di atas, lanjutkan pengobatan
sampai seluruhnya 10 hari penuh. Jika nafsu makan belum membaik, lakukan
penilaian ulang menyeluruh pada anak.

6. Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro


Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Meskipun
sering ditemukan anemia, jangan beri zat besi pada fase awal, tetapi tunggu
sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai bertambah berat
adannya (biasanya pada minggu kedua, mulai fase rehabilitasi), karena zat besi
dapat memperparah infeksi.

Tatalaksana
Berikan setiap hari paling sedikit dalam 2 minggu:
-

Multivitamin

Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)

Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)

Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)

Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase rehabilitasi)

Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah diberikan
sebelum dirujuk), dengan dosis seperti di bawah ini :
Umur

dosis

<6 bulan
6 12 bulan
1 5 tahun

50 000 (1/2 kapsul biru)


100 000 (1 kapsul biru)
200 000 (1 kapsul merah)

Jika ada gejala defisiensi vitamin A, atau pernah sakit campak dalam 3 bulan
terakhir, beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada hari ke 1, 2, dan 15.
7. Memberikan makanan untuk stabilisasi dan transisi
Pada fase awal, pemberian makan (formula) harus diberikan secara hati-hati sebab
keadaan fisiologis anak masih rapuh.
Tatalaksana
Sifat utama yang menonjol dari pemberian makan awal adalah:
-

Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah osmolaritas maupun
rendah laktosa

Berikan secara oral atau melalui NGT, hindari penggunaan parenteral

Energi: 100 kkal/kgBB/hari

Protein: 1-1.5 g/kgBB/hari

Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari)

Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan bahwa jumlah

F-75 yang ditentukan harus dipenuhi seperti di bawah ini:

Hari

Frekuensi

Volume/kgBB/pemberian

Volume/kgBB/hari

11 ml
16 ml
22 ml

130 ml
130 ml
130 ml

ke :
12
35
6 dst

2 jam
3 jam
4 jam

Pada anak dengan nafsu makan baik dan tanpa edema, jadwal di atas
dapatdipercepat menjadi 2-3 hari. Jika jumlah petugas terbatas, beri prioritas
untuk pemberian makan setiap 2 jam hanya pada kasus yang keadaan klinisnya
paling berat, dan bila terpaksa upayakan paling tidak tiap 3 jam pada fase
permulaan. Libatkan dan ajari orang tua atau penunggu pasien.
Pemberian makan sepanjang malam hari sangat penting agar anak tidak terlalu
lama tanpa pemberian makan (puasa dapat meningkatkan risiko kematian).
Apabila pemberian makanan per oral pada fase awal tidak mencapai kebutuhan
minimal (80 kkal/kgBB/hari), berikan sisanya melalui NGT. Jangan melebihi 100
kkal/kgBB/hari pada fase awal ini.
Pada cuaca yang sangat panas dan anak berkeringat banyak maka anak perlu
mendapat ekstra air/cairan.
Pemantauan
Pantau dan catat setiap hari:

Jumlah makanan yang diberikan dan dihabiskan

Muntah

Frekuensi defekasi dan konsistensi feses

Berat badan.

8. Memberikan makanan untuk tumbuh kejar


Tanda yang menunjukkan bahwa anak telah mencapai fase ini adalah:
Kembalinya nafsu makan
Edema minimal atau hilang.
Tatalaksana

Lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75) ke formula tumbuhkejar (F-100) (fase transisi):

Ganti F 75 dengan F 100. Beri F-100 sejumlah yang sama dengan F-75 selama 2
hari berturutan.

Selanjutnya naikkan jumlah F-100 sebanyak 10 ml setiap kali pemberian sampai


anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit. Biasanya hal ini terjadi
ketika pemberian formula mencapai 200 ml/kgBB/hari.

Dapat pula digunakan bubur atau makanan pendamping ASI yang dimodifikasi
sehingga kandungan energi dan proteinnya sebanding dengan F-100.

Setelah transisi bertahap, beri anak:

pemberian makan yang sering dengan jumlah tidak terbatas (sesuai kemampuan
anak)

energi: 150-220 kkal/kgBB/hari

protein: 4-6 g/kgBB/hari.


Bila anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI tetapi pastikan anak
sudah mendapat F-100 sesuai kebutuhan karena ASI tidak mengandung cukup
energi untuk menunjang tumbuh-kejar. Makanan-terapeutik-siap-saji (ready to use
therapeutic food = RUTF) yang mengandung energi sebanyak 500 kkal/sachet
92g dapat digunakan pada fase rehabilitasi.
Pemantauan
Hindari terjadinya gagal jantung.
Amati gejala dini gagal jantung (nadi cepat dan napas cepat). Jika nadi maupun
frekuensi napas meningkat (pernapasan naik 5x/menit dan nadi naik 25x/menit),
dan kenaikan ini menetap selama 2 kali pemeriksaan dengan jarak 4 jam berturutturut, maka hal ini merupakan tanda bahaya (cari penyebabnya).
Lakukan segera:

kurangi volume makanan menjadi 100 ml/kgBB/hari selama 24 jam

kemudian, tingkatkan perlahan-lahan sebagai berikut:

115 ml/kgBB/hari selama 24 jam berikutnya

130 ml/kgBB/hari selama 48 jam berikutnya

selanjutnya, tingkatkan setiap kali makan dengan 10 ml sebagaimana dijelaskan


sebelumnya.

atasi penyebab
Penilaian kemajuan
Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan setelah taha ptransisi
dan mendapat F-100:

Timbang dan catat berat badan setiap pagi sebelum diberi makan

Hitung dan catat kenaikan berat badan setiap 3 hari dalam gram/kgBB/hari

Jika kenaikan berat badan:

kurang (< 5 g/kgBB/hari), anak membutuhkan penilaian ulang lengkap

sedang (5-10 g/kgBB/hari), periksa apakah target asupan terpenuhi, atau mungkin
ada infeksi yang tidak terdeteksi.

baik (> 10 g/kgBB/hari).

9. Memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang


-

ungkapan kasih sayang

lingkungan yang ceria

terapi bermain terstruktur selama 1530 menit per hari

aktivitas fisik segera setelah anak cukup sehat

keterlibatan ibu sesering mungkin (misalnya menghibur, memberi makan,


memandikan, bermain)

10. Mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah


Bila telah tercapai BB/TB > -2 SD (setara dengan >80%) dapat dianggap anak
telah sembuh. Anak mungkin masih mempunyai BB/U rendah karena anak
berperawakan pendek. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap
dilanjutkan di rumah.
Berikan contoh kepada orang tua:
-

Menu dan cara membuat makanan kaya energi dan padat gizi serta frekuensi
pemberian makan yang sering.

Terapi bermain yang terstruktur


Sarankan:

Melengkapi imunisasi dasar dan/atau ulangan

Mengikuti program pemberian vitamin A (Februari dan Agustus)


Pemulangan sebelum sembuh total
Anak yang belum sembuh total mempunyai risiko tinggi untuk kambuh. Waktu
untuk pemulangan harus mempertimbangkan manfaat dan faktor risiko. Faktor
sosial juga harus dipertimbangkan. Anak membutuhkan perawatan lanjutan
melalui rawat jalan untuk menyelesaikan fase rehabilitasi serta untuk mencegah
kekambuhan.
Beberapa pertimbangan agar perawatan di rumah berhasil:
Anak seharusnya:
telah menyelesaikan pengobatan antibiotik
mempunyai nafsu makan baik
menunjukkan kenaikan berat badan yang baik
edema sudah hilang atau setidaknya sudah berkurang.
Ibu atau pengasuh seharusnya:
mempunyai waktu untuk mengasuh anak
memperoleh pelatihan mengenai pemberian makan yang tepat (jenis, jumlah
dan frekuensi)
mempunyai sumber daya untuk memberi makan anak. Jika tidak mungkin,
nasihati tentang dukungan yang tersedia.
Tindak lanjut bagi anak yang pulang sebelum sembuh
Jika anak dipulangkan lebih awal, buatlah rencana untuk tindak lanjut sampai
anak sembuh:
Hubungi unit rawat jalan, pusat rehabilitasi gizi, klinik kesehatan local untuk
melakukan supervisi dan pendampingan.
Anak harus ditimbang secara teratur setiap minggu. Jika ada kegagalan kenaikan
berat badan dalam waktu 2 minggu berturut-turut atau terjadi penurunan berat
badan, anak harus dirujuk kembali ke rumah sakit.

2.10 KOMPLIKASI

Keadaan malnutrisi marasmus dapat menyebabkan anak mendapatkan


penyakit penyerta yang terkadang tidak ringan apabila penatalaksanaan marasmus
tidak segera dilakukan. Beberapa keadaan tersebut ialah:4,6
1. Noma
Noma merupakan penyakit yang kadang-kadang menyertai malnutrisi tipe
marasmus-kwashiokor. Noma atau stomatitis gangraenosa merupakan
pembusukan mukosa mulut yang bersifat progresif sehingga dapat
menembus pipi. Noma terjadi pada malnutrisi berat karena adanya
penurunan daya tahan tubuh. Penyakit ini mempunyai bau yang khas dan
tercium dari jarak beberapa meter. Noma dapat sembuh tetapi
menimbulkan bekas luka yang tidak dapat hilang seperti lenyapnya hidung
atau tidak dapat menutupnya mata karena proses fibrosis.
2. Xeroftalmia
Penyakit ini sering ditemukan pada malnutrisi yang berat terutama pada
tipe marasmus-kwashiokor. Pada kasus malnutrisi ini vitamin A serum
sangat rendah sehingga dapat menyebabkan kebutaan. Oleh sebab itu
setiap anak dengan malnutrisi sebaiknya diberikan vitamin A baik secara
parenteral maupun oral, ditambah dengan diet yang cukup mengandung
vitamin A.
3. Tuberkulosis
Pada anak dengan keadaan malnutrisi berat, akan terjadi penurunan
kekebalan tubuh yang akan berdampak mudahnya terinfeksi kuman. Salah
satunya adalah mudahnya anak dengan malnutrisi berat terinfeksi kuman
mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan penyakit tuberkulosis.
4. Sirosis hepatis
Sirosis hepatis terjadi karena timbulnya perlemakan dan penimbunan
lemak pada saluran portal hingga seluruh parenkim hepar tertimbun lemak.
Penimbunan lemak ini juga disertai adanya infeksi pada hepar seperti
hepatitis yang menimbulkan penyakit sirosis hepatis pada anak dengan
malnutrisi berat.

5. Hipotermia
Hipotermia merupakan komplikasi serius pada malnutrisi berat tipe
marasmus. Hipotermia terjadi karena tubuh tidak menghasilkan energi
yang akan diubah menjadi energi panas sesuai yang dibutuhkan oleh
tubuh. Selain itu lemak subkutan yang tipis bahkan menghilang akan
menyebabkan suhu lingkungan sangat mempengaruhi suhu tubuh
penderita.
6. Hipoglikemia
Hipoglikemia dapat terjadi pada hari-hari pertama perawatan anak dengan
malnutrisi berat. Kadar gula darah yang sangat rendah ini sangat
mempengaruhi tingkat kesadaran anak dengan malnutrisi berat sehingga
dapat membahayakan penderitanya.
7. Infeksi traktus urinarius
Infeksi traktus urinarius merupakan infeksi yang sering terjadi pada anak
bergantung kepada tingkat kekebalan tubuh anak. Anak dengan malnutrisi
berat mempunyai daya tahan tubuh yang sangat menurun sehingga dapat
mempermudah terjadinya infeksi tersebut.
8. Penurunan kecerdasan
Pada anak dengan malnutrisi berat, akan terjadi penurunan perkembangan
organ tubuhnya. Organ penting yang paling terkena pengaruh salah
satunya ialah otak. Otak akan terhambat perkembangannya yang
diakibatkan karena kurangnya asupan nutrisi untuk pembentukan sel-sel
neuron otak. Keadaan ini akan berpengaruh pada kecerdasan seorang anak
yang membuat fungsi afektif dan kognitif menurun, terutama dalam hal
daya tangkap, analisa, dan memori.
2.11 PROGNOSIS
Prognosis pada penyakit ini buruk karena banyak menyebabkan kematian
dari penderitanya akibat infeksi yang menyertai penyakit tersebut, tetapi
prognosisnya dapat dikatakan baik apabila malnutrisi tipe marasmus ini ditangani
secara cepat dan tepat. Kematian dapat dihindarkan apabila dehidrasi berat dan

penyakit infeksi kronis lain seperti tuberkulosis atau hepatitis yang menyebabkan
terjadinya sirosis hepatis dapat dihindari. Pada anak yang mendapatkan malnutrisi
pada usia yang lebih muda, akan terjadi penurunan tingkat kecerdasan yang lebih
besar dan irreversibel dibanding dengan anak yang mendapat keadaan malnutrisi
pada usia yang lebih dewasa. Hal ini berbanding terbalik dengan psikomotor anak
yang mendapat penanganan malnutrisi lebih cepat menurut umurnya, anak yang
lebih muda saat mendapat perbaikan keadaan gizinya akan cenderung
mendapatkan kesembuhan psikomotornya lebih sempurna dibandingkan dengan
anak yang lebih tua, sekalipun telah mendapatkan penanganan yang sama. Hanya
saja pertumbuhan dan perkembangan anak yang pernah mengalami kondisi
marasmus ini cenderung lebih lambat, terutama terlihat jelas dalam hal
pertumbuhan tinggi badan anak dan pertambahan berat anak, walaupun jika dilihat
secara ratio berat dan tinggi anak berada dalam batas yang normal.1,4,7

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Penyakit KEP atau Protein Energy Malnutrition (kekurangan energi dan
protein) merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting bagi negaranegara tertinggal maupun negara berkembang seperti Indonesia dan lainnya.
Prevalensi tertinggi terdapat pada anak-anak dibawah umur lima tahun (balita),
dan ibu yang sedang mengandung atau menyusui. Pada kondisi ini ditemukan
berbagai macam keadaan patologis disebabkan oleh kekurangan energi maupun
protein dalam tingkat yang bermacam-macam. Akibat dari kondisi tersebut,
ditemukan malnutrisi dari derajat yang ringan hingga berat. Pada keadaan yang
sangat ringan tidak ditemukan kelainan dan hanya terdapat pertumbuhan yang
kurang sedangkan kelainan biokimiawi dan gejala klinis tidak terlihat. Pada
keadaan yang berat ditemukan dua tipe malnutrisi, yaitu marasmus dan
kwashiokor, serta diantara keduanya terdapat suatu keadaan dimana ditemukan
percampuran ciri-ciri kedua tipe malnutrisi tersebut yang dinamakan marasmuskwashiokor. Masing-masing dari tipe itu mempunyai gejala-gejala klinis yang

khas. Pada semua derajat maupun tipe malnutrisi ini mempunyai persamaan
bahwa adanya gangguan pertumbuhan pada penderitanya. Untuk membedakan
tipe ataupun derajat beratnyamalnutrisi terdapat beberapa cara maupun klasifikasi,
salah satunya menurut Gomez atau Wellcome trust dan yang biasa dipakai seharihari menurut perhitungan antropometri. Banyak faktor yang mempengaruhi
terjadinya malnutrisi pada anak, terutama adalah peranan diet sehari-hari yang
kurang mencukupi kebutuhan gizi seimbang anak pada masa usia pertumbuhan,
adanya penyakit penyerta yang memperburuk keadaan gizi serta peranan sosial
ekonomi yang mempunyai peranan tinggi terutama kemiskinan dalam hal
mempengaruhi status gizi seseorang. Gejala klinis yang timbul pada kekurangan
gizi tipe marasmus mempunyai gambaran yang khas dalam hal membedakannya
dengan kekurangan gizi tipe kwashiokor. Pada tipe marasmus, gejala klinis yang
lebih menonjol bahwa penderita terlihat wajahnya seperti orang tua dan anak
sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak dan atrofi dari otot-ototnya.
Sedangkan pada tipe kwashiokor, gejala klinis yang lebih terlihat adalah
penampilannya yang gemuk disertai adanya edema ringan maupun berat dan
adanya ascites dikarenakan kekurangan protein, disamping itu juga terlihat
perubahan warna rambut menjadi merah seperti rambut pada jagung serta mudah
dicabut. Pengobatan marasmus adalah dengan pemberian diet tinggi protein,
sedangkan pada malnutrisi tipe kwashiokor terutama dengan pemberian diet tinggi
protein disertai pemberian cairan untuk menanggulangi dehidrasi jika ada. Selain
itu juga diberikan vitamin A untuk mencegah terjadinya kebutaan pada matanya
dan pemberian mineral lain untuk membantu meningkatkan gizi penderita.
Penyakit ini mempunyai komplikasi dari yang ringan seperti infeksi traktus
urinarius hingga yang berat seperti tuberkulosis. Penatalaksanaannya dilakukan
secara

bersama-sama

dengan

memperbaiki

keadaan

gizinya.

Walaupun

prognosisnya terlihat buruk tetapi dengan penganganan yang cepat dan tepat dapat
menghindarkan penderitanya dari kematian.1,2,7
3.2 SARAN

Penyakit marasmus ini merupakan penyakit kekurangan gizi yang banyak


sekali terjadi di Indonesia dan terutama anak-anaklah yang banyak terkena kondisi
gizi buruk atau malnutrisi ini. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut maka akan
banyak sekali anak indonesia yang terhambat perkembangan dan pertumbuhannya
dalam menatap masa depannya, sehingga diperlukan usaha yang ekstra untuk
menanggulangi permasalahan tersebut, diantaranya adalah:4,7
1. Anak-anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sebaiknya
mendapatkan asupan gizi yang adekuat sesuai empat sehat lima
sempurna, yaitu kecukupan karbohidrat, lemak, protein, serat, vitamin,
dan mineral dalam makanan sehari-harinya.
2. Orang tua harus lebih memperhatikan asupan anak-anaknya apakah
makanan yang diberikan sudah mencukupi nutrisi yang dibutuhkan dalam
masa tumbuh kembangnya, selain itu orang tua sebaiknya memeriksakan
anak-anaknya ke pusat kesehatan terdekat seperti posyandu atau
puskesmas secara rutin untuk memantau tumbuh kembang anak-anaknya.
3. Pemerintah bersama-sama dengan masyarakat melalui posyandu dan
puskesmas turut berperan serta aktif sebagai basis terdepan dalam usaha
meningkatkan taraf hidup masyarakat terutama anak-anak dalam menuju
indonesia sehat di masa yang akan datang.
4. Pemerintah menggalakan kembali program Keluarga Berencana melalui
puskesmas-puskesmas yang tersebar di kota maupun di daerah tertinggal
untuk menekan tingkat pertumbuhan penduduk sehingga dengan
rendahnya pertumbuhan penduduk maka akan meningkatkan tingkat
kesejahteraan individu dan keluarga terutama anak-anak. Sehingga kasus
gizi buruk pada anak-anak dapat ditekan serendah-rendahnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Pudjiadi Solihin. Penyakit KEP (Kurang Energi dan Protein) dari Ilmu Gizi
Klinis pada Anak edisi keempat, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta, 2005
2. Behrman RE, RM Kliegman, HB Jenson. Marasmus in Nelson Textbook of
Pediatric 18th edition, 2004
3. Deterding RR, WW. Hay Jr, Mj. Levin, JM Sondheimer. Marasmus in
Current Pediatric Diagnosis & Treatment. 2012
4. Rudolph CD, AM. Rudolph. Marasmus in Rudolphs Pediatrics. 2005; 13361350
5. Nurhayati, soetjiningsih, Suandi IKG. Relationship Between Protein Energy
Malnutrition and Social Maturity in Children Aged 1-2 Years in Paediatrica
Indonesiana, 42th volume, December, 2012
6. Rosli AW, Rauf S, Lisal JS, Albar H. Relationship Between Protein Energy
Malnutrition and Urinary Tract Infectiont in Children in Paediatrica
Indonesiana, 48th volume, May, 2008
7. Departement of Child and Adolescent Health and Development. Severe
Malnutrition in Management of The Child With a Serious Infection or
Severe Malnutrition, World Health Organization, 2004
8. Hidajat B, Irawan R, Hidjati S. Kurang Energi Protein (KEP)
http://pediatrik.com/pdt/07110-rswg255.html

Anda mungkin juga menyukai