Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Hati adalah organ tubuh yang terbesar dan sangat penting, oleh karena itu penting untuk

menjaga hati agar tetap dapat berfungsi dengan baik. Hati berperan penting dalam berbagai
proses kehidupan kita, yaitu sebagai proses pengolahan zat makanan yang diserap usus,
penyimpanan & pembentukan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh, dan penetral obat/racun.
Hepatitis adalah kelainan hati berupa peradangan (sel) hati. Peradangan ini ditandai
dengan peningkatan kadar enzim hati. Peningkatan ini disebabkan adanya gangguan atau
kerusakan membran hati. Ada dua faktor penyebabnya, yaitu faktor infeksi dan non infeksi. 1
Faktor penyebab infeksi antara lain virus hepatitis yaitu A, B, C, D, E atau virus lainnya, seperti
mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis nonvirus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan. Alkohol bersifat toksik terhadap hati. Adanya
penimbunan obat dalam hati (seperti acetaminophen) maupun gangguan pada metabolisme obat
dapat menyebabkan penyakit pada hati.
Salah satu gejala yang mudah terlihat pada penderita gangguan fungsi hati adalah kulit
dan selaput putih mata yang mungkin akan berubah warna menjadi kuning, sehingga sering
disebut oleh masyarakat sebagai penyakit kuning. Warna kuning ini timbul disebabkan oleh
cairan empedu yang sudah sangat berlebihan kadarnya di dalam darah.2
Di Indonesia penderita penyakit Hepatitis umumnya cenderung lebih banyak mengalami
golongan hepatitis B dan hepatitis C. Hepatitis B merupakan penyakit yang banyak ditemukan
didunia dan dianggap sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang harus diselesaikan. Hal ini
karena selain prevalensinya tinggi, virus hepatitis B dapat menimbulkan problema pasca akut
bahkan dapat terjadi cirroshis hepatitis dan karsinoma hepatoseluler primer. Sepuluh persen dari
infeksi virus hepatitis B akan menjadi kronik dan 20 % penderita hepatitis kronik ini dalam
waktu 25 tahun sejak tertular akan mengalami cirroshis hepatis dan karsinoma hepatoselluler

(hepatoma). Kemungkinan akan menjadi kronik lebih tinggi bila infeksi terjadi pada usia balita
dimana respon imun belum berkembang secara sempurna.3
Hepatitis merupakan penyakit yang lebih sering menjangkiti anak-anak muda. Tempat
tinggal yang sesak, kebersihan yang tidak terjamin dan kurangnya makanan yang sehat sangat
memegang peranan dalam menyebabkan timbulnya penyakit ini.2
Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut hepatitis akut, hepatitis yang
berlangsung lebih dari 6 bulan disebut hepatitis kronis.
1.2

Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar dapat mengetahui tentang penyakit hepatitis B

akut lebih dalam lagi, mulai dari anamnesis pasien, pemeriksaan, gejala yang akan ditimbulkan
serta cara pengobatan dan pencegahannya.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1

Anamnesis
Anamnesis merupakan suatu tehnik wawancara antara dokter terhadap pasien yang

mencakup identitas, riwayat penyakit terdahulu dan sekarang, serta riwayat penyakit keluarga.
Anamnesis yang baik disertai dengan empati dari dokter terhadap pasien.

4-6

Tujuan anamnesis

adalah dokter dapat memperoleh informasi mengenai keluhan dan gejala penyakit yang
dirasakan pasien, hal-hal yang diperkirakan sebagai penyebab penyakit, dan hal-hal lain yang
dapat mempengaruhi peralanan penyakit atau proses pengobatan.7

Identitas
Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atu tanggal lahir, jenis kelamin, nama
orang tua, pendidikan, pekerjaan suku bangsa dan agama. Identitas perlu ditanyakan
untuk memastikan bahwa pasien adalah benar pasien yang dimaksudkan. Selain itu
identitas ini juga perlu untuk data penelitian, asuransi dan lainnya.

Keluhan Utama (Presenting Symptom)


Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawa pasien pergi
kedokter ataupun mencari pertolongan. Dalam keluhan utam harus disertai dengan
indikator waktu, berapa lama pasien mengalami hal tersebut.

Riwayat Penyakit Sekarang


Riwayat perjalanan penyakit merupakan cerita yang kronologis, terinci dan jelas
mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama pasien datang berobat.
Riwayat perjalana penyakit disusun yang baik dan sesuai dengan apa yan diceritakan oleh
pasien.
1.

Waktu dan lama keluhan berlangsung

2.

Sifat dan beratnya serangan

3.

Lokalisasi dan penyebarannya, menjalar atau berpindah-pindah

4.

Hubungannya dengan waktu misalnya pagi lebih sakit atau siang atau sore

5.

Hubungan dengan aktivitas

6.

Keluhan-keluhanyang menyertai serangan

7.

Apakah keluhan baru pertama kali atau berulang kali

8.

Faktor risiko dan pencetus serangan.

Riwayat penyakit dahulu


Bertujuan untuk mengtahui kemungkina-kemungkinan adanya hubungan yang pernah
diderita dengan penyakit sekarang. Tanyakan pula apakah pasien pernah mengalami
kecelakaan, menderita penyakit yang berat dan menjalani operasi tertentu, riwayat alergi
obat dan makanan, lama perwatan, apakah sembuh sempurna atau tidak.

Riwayat pribadi
Riwayat pribadi meliputi data-data social, ekonomi, pendidikan dan kebiasaan. Perlu
diatnaya pula apakah pasien mengalami kesulitan dalam kehidupan hariannya seperti
masalah keuangan, perkerjaan dan sebagainya. Kebiasaan yang ditanya adalah kebiasaan
merokok, minum alkohol termasuk penyalah gunaan obat yang terlarang (narkoba).
Pasien yang sering melakukan perjalanan juga harus ditanyakan tujuan perjalanan yang
telah dilakukan untuk mencari kemungkinan tertular penyakit infeksi tertentu di tempat
perjalananya. Bila ada indikasi riwayat perkawinan dan kebiasaan seksual juga harus
ditanyakan.
Pada kasus hepatitis B persoalan yang selalu dikemukakan adalah berkaitan dengan
Keluhan, faktor risiko dan riwayat sakit pasien tersebut. Persoalan yang berkaitan dengan
keluhan pasien adalah seperti:
Adakah anggota keluarga pasien menghidap gejala yang sama.
Apakah pasien tinggal satu rumah dengan pengidap hepatitis.
Apakah pasiesn pernah melakukan tranfusi darah.
Apakah pasien merupakan intravena drug user.
Bertanya kepada pasien tentang kehidupan seks nya. Mungkin pasien pernah melakukan hubungan
seks dengan pelacur, mempunyai pasangan seks yang banyak atau pernah melakukan
hubungan seks dengan orang yang menghidap Hepatitis B.
Adakah pasien merasa perubahan pada tubuhnya.
Apakah pasien pernah tertusuk dengan jarum yang telah digunakan atau tidak steril.

Apakah pasien bekerja sebagai ahli kesehatan atau pekerjaan lain yang mempunyai
resiko tinggi terpapar dengan virus hepatitis.
Apakah pasien pernah menggunakan pencukur dengan penghidap hepatitis B.
Adakah pasien pernah membuat tato atau bertindik.
Adakah pasien sering menggunakan obat-obatan atau sering meminum alkohol.
Adakah pasien mempunyai gejala pruritus dan ikterus.
Adakah terdapat perubahan pada siklus menstruasi pasien. Amenorrhea merupakan
salah satu petanda terdapatnya penyakit hati kronis terutamanya sirosis.
Apakah pasien pernah terpapar pada zat-zat hepatotoksin.

2.2

Pemeriksaan
2.2.1 Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat dan menilai adanya kelainan atau
gangguan pada tubuh pasien, baik terkait keluhan nya atau tidak.7
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi. Pada pemeriksaan untuk Hepatitis B pasien diminta untuk menanggalkan baju
dan dilakukan pemeriksaan abdomen, pada pemeriksaan jika pasien mengalami komplikasi
sirosis hati yang disebabkan oleh hepatitis B maka akan terlihat perutnya membuncit
(Ascites), pembesaran parotid, spider nervi, kulit menjadi kuning dan dilihat juga adakah
terdapat pergerakan atau pulsasi di bagian abdomen. Diinspeksi juga adakah terdapat
benjolan seperti pembesaran hati.8
Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan palpasi, pada pemeriksaan palpasi
dirasakan adakah terdapat rigiditas, dan juga jangan lupa untuk meminta pasien
untuk memberitahu jika terdapat rasa sakit apabila ditekan. Pada hepatitis B juga terdapat
nyeri tekan di bagian Hipokondrium kanan yang mungkin disebabkan oleh Kolesistitis dan
sakit hepar. Jika terdapat kelainan di hepar harus dilaporkan bagaimana permukaan, tepi,
konsistensi, nyeri dan pembesarannya. 8

Pada pemeriksaan perkusi, dilakukan perkusi secara acak dahulu kemudian perkusi
untuk mencari ukuran pembesaran hati. 8

2.2.2 Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berguna antara lain untuk membantu memastikan
diagnosis karena beberapa penyakit dapat memberikan keluhan dan gejala yang sama serta
menilai fungsi organ.7
Tes serologi
Tes serologi dilakukan dengan cara memeriksa kadar antigen maupun antibodi
terhadap virus penyebab penyakit hepatitis. Tes ini untuk memastikan diagnosis hepatitis
serta mengetahui jenis virus penyebabnya.7
a. Pemeriksaan IgM anti hepatitis AIgM
Anti hepatitis A virus adalah seromaker untuk mendiagnosa hepatitis A akut. IgM positif pada awal
gejala hepatitis A dan negatif apabila pasien telah sembuh dan diganti dengan IgG.9
b. Pemeriksaan seromaker hepatitis B:
i.

HBsAg yaitu antigen permukaan virus hepatitis B yang merupakan envelop hepatitis B virus.
Jika tes HBsAG positif, berarti individu tersebut terinfeksi virus hepatitis B, karier
hepatitis B, menderita hepatitis B akut atau kronik. HBsAg menetap lebih dari 6 bulan atau sering
meningkat naik dalam 6 bulan berarti hepatitis B kronik atau karier.

ii.

Anti-HBsAg

merupakan

antibodi

terhadap

HBsAg

yang

memberikan

perlindungan terhadap penyakit hepatitis B. Anti-HBsAg positif menandakan


individu tersebut pernah terinfeksi dan telah sembuh dari hepatitis B dan pernah
mendapat vaksin atau immunoglobulin hepatitis B.
iii.

HBeAg merupakan antigen e virus hepatitis B yang terdapat didalam alirandarah.


Positif pada tes antigen ini bermaksud virus hepatitis B sedang aktif bereplikasi dan
individu tersebut bisa menularkan hepatitis B kepada orang lain termasuk janinnya.
6

iv.

Anti HBe-Ag merupakan antibodi terhadap HBeAg. Positif berarti virus hepatitis
dalam keadaan non-replikatif.

v.

HBcAg merupakan antigen core virus hepatitis B yaitu protein yang dibuat
didalam inti sel hati yang terinfeksi. Positif berarti adanya protein dari inti virus
hepatitis B.

vi.

Anti-HBc merupakan antibodi terhadap HBcAg. Terdiri daripada dua yaitu IgM
dan IgG. IgM yang tinggi menunjukkan infeksi akut hepatitis B. ApabilaIgG positif berarti
IgM negatif dan ini menunjukkan infeksi kronis atau pernah terinfeksi virus hepatitis
B.9

Tabel 2: Interpretasi tes-tes (+ = positif dan - = negatif) darah (serologi) virus hepatitis B

HBsAg

AntiHBs

AntiHbc
(total)

AntiHBc HBeAg
IgM

AntiHBe

HBV
DNA

Tahap awal infeksi akut

Tahap Kemudian infeksi


akut

Tahap kemudian infeksi


akut

Kesembuhan dengan
kekebalan

Vaksinasi yang sukses

Infeksi kronis dengan


reproduksi aktif

Infeksi kronis dalam


tahap tidak aktif

Interpretasi

+/-

Infeksi kronis dengan


reproduksi aktif

Kesembuhan, Hasil
positif palsu, atau
infeksi kronis

c. Pemeriksaan anti HCv


Anti HCv merupakan antibodi yang terhasil terhadap virus hepatitis C. terbagi kepada
dua yaitu IgM dan IgG. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendiagnosa hepatitis C karena
pemeriksaan antigen hepatitis C masih belum ada. Postitif berarti individu pernah
terinfeksi hepatitis C namun harus ditegakkan dengan pemeriksaan virus hepatitis C.9
Tes biokimia hati
Tes biokimia hati dilakukan dengan cara memeriksa sejumlah parameter zat-zat
kimia maupun enzim yang dihasilkan atau diproses oleh jaringan hati. Tes ini dapat
menggambarkan derajat keparahan atau kerusakan sel sehingga dapat menilai fungsi hati.7
Parameter biokimia hati:

Aminotransferase (transaminase)
Parameter yang termasuk golongan enzim ini adalah Aspartat aminotransferase
(AST/SGOT) dan alanin aminotransferase (ALT/SGPT). Enzim-enzim ini
merupakan indikator yang sensitif terhadap adanya kerusakan sel hati dan sangat
membantu dalam mengenali penyakit pada hati yang bersifat akut seperti hepatitis.
ALT lebih dipercaya dalam menentukan adanya kerusakan sel hati dibandingkan
AST. ALT meningkat 3-10 kali nilai normal pada hepatitis kronis aktif dan lebih
dari 20 kali nilai normal pada hepatitis akut dan hepatitis toksik.7

Alkalin fosfatase (ALP)


Enzim ini ditemukan pada sel-sel hati yang berada didekat saluran empedu.
Peningkatan kadar ALP merupakan salah satu petunjuk adanya sumbatan atau

hambatan pada saluran empedu. Peningkatan ALP dapat disertai dengan gejala
warna kuning pada kulit, kuku, atau bagian putih bola mata.7

Serum protein
Serum protein yang dihasilkan oleh hati, antara lain albumin, globulin, dan faktor
pembekuan darah. Peningkatan albumin menunjukan adanya gangguan fungsi
sintesis hati, tapi kurang sensitif.
Globulin merupakan protein yang membentuk gammaglobulin. Gammaglobulin
meningkat pada penyakit kronik hati seperti hepatitis kronis atau sirosis.
Umur faktor-faktor pembekuan darah lebih singkat dibandingkan albumin, sehingga
pemeriksaan lebih baik dibandingkan dengan albumin untuk menentukan fungsi
sintesis hati. Terdapatnya kelainan pada protein-protein pembekuan darah dapat
dideteksi dengan menilai waktu protrombin yaitu ukuran kecepatan perubahan
protrombin menjadi thrombin. Lamanya waktu protrombin ini bergantung pada
fungsi hati dan asupan vitamin K. Kerusakan sel-sel hepatosit memperpanjangkan
waktu protrombin terutama pada hepatitis kronis dan sirosis.7

Bilirubin
Bilirubin merupakan pigmen kuning yang dihasilkan oleh pemecahan hemoglobin
(Hb) di dalam hati (liver). Bilirubin dikeluarkan melalui empedu dan dibuang
melalui feses.
Bilirubin ditemukan dalam darah dalam 2 bentuk yaitu bilirubin direk dan indirek.
Bilirubin direk larut dalam air dan dapat dikeluarkan melalui urin, sedangkan
bilirubin indirek tidak larut dalam air dan terikat pada albumin. Bilirubin total
adalah penjumlahan bilirubin direk dan indirek.
9

Peningkatan bilirubin indirek jarang terjadi pada penyakit hati. Sebaliknya, bilirubin
direk yang meningkat hampir selalu menunjukan adanya penyakit pada hati dan
atau saluran empedu.

2.2.3 Penunjang
Pemeriksaan penunjang berguna untuk menentukan dengan tepat letak kelainan pada
tubuh bagian dalam atau menilai derajat suatu penyakit.7
USG (ultrasonografi)
Fungsi USG adalah untuk mengetahui adanya kelainan organ dalam atau tidak.
Pemeriksaan USG pada kasus hepatitis dapat memberikan informasi mengenai pembesaran
hati, gambaran jaringan hati secara umum, atau ada tidaknya sumbatan saluran empedu.
Tepi hati yang tumpul menunjukan adanya perbesaran hati. USG juga dapat melihat banyak
tidaknya jaringan ikat (fibrosis). Selain itu, karena hepatitis merupakan proses peradangan
maka pada USG densitas (kepadatan) hati terlihat lebih gelap jika dibandingkan dengan
densitas ginjal yang terletak dibawahnya. Pemeriksaan USG pada hepatitis akut tidak
akurat, karena pada hepatitis akut belum terjadi kerusakan jaringan. 7 USG bermanfaat
untuk mendiagnosis kanker hati dan sirosis hati.10
Biopsi hati (penyedotan)
Biopsi hati hanya diusulkan untuk pasien dengan viral load HBV yang tinggi (di atas
100.000 kopi) dan tingkat enzim hati yang tinggi. Biopsy hati dilakukan jika ada fase
kolestatik yang menonjol.
Ct-Scan

10

Ct-Scan dilakukan untuk memperjelas apakah ada tumor di organ hati. 10

2.3

Working diagnosis
Hepatits B akut didefinisikan sebagai peradangan hati yang terjadi dalam waktu singkat.

Hepatitis B akut umumnya sembuh dalam waktu 6 bulan. Hepatitis B dan D masa inkubasi 30
180 hari ( 4 12 minggu).
Ada 2 cara penularan infeksi virus hepatitis B yaitu penularan vertikal dan penularan
horizontal.

Vertikal
Penularan infeksi HBV dari ibu hamil kepada bayi yang dilahirkannya. Dapat terjadi pada
masa sebelum kelahiran atau prenatal, selama persalinan atau perinatal dan setelah
persalinan atau postnatal. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bayi yang tertular
VHB secara vertikal mendapat penularan pada masa perinatal yaitu pada saat terjadi
proses persalinan. Karena itu bayi yang mendapat penularan vertikal sebagian besar mulai
terdeteksi HBsAg pada usia 3-6 bulan yang sesuai dengan masa tunas infeksi VHB yang
paling sering didapatkan. Penularan yang terjadi pada masa perinatal dapat terjadi melalui

cara maternofetal micro infusion yang terjadi pada waktu terjadi kontraksi uterus.
Horizontal
Cara penularan horizontal terjadi dari seorang pengidap hepatitis B kepada individu yang
masih rentan. Penularan horizontal dapat terjadi melalui kulit atau melalui selaput lendir.
a. Melalui Kulit
11

Ada dua macam penularan melalui kulit yaitu penularan melalui kulit yang
disebabkan tusukan yang jelas (penularan parenteral), misalnya melalui suntikan,
transfusi darah, atau pemberian produk yang berasal dari darah dan tattoo. Kelompok
kedua adalah penularan melalui kulit tanpa tusukan yang jelas, misalnya masuknya
bahan infektif melalui goresan atau abrasi kulit dan radang kulit.
b. Melalui Selaput Lendir
Selaput lendir yang diduga menjadi jalan masuk VHB ke dalam tubuh adalah selaput
lendir mulut, hidung, mata, dan selaput lendir kelamin. Melalui selaput lendir mulut
dapat terjadi pada mereka yang menderita sariawan atau selaput lendir mulut yang
terluka. Melalui selaput lendir kelamin dapat terjadi akibat hubungan seks
heteroseksual maupun homoseksual dengan pasangan yang mengandung HBsAg
positif yang bersifat infeksius.

2.4

Diagnosis diferential

Hepatitis B kronis

12

Hepatits B kronis didefinisikan sebagai peradangan hati yang berlanjut lebih dari enam
bulan sejak timbul keluhan dan gejala penyakit. Obat-obat yang sekarang dalam penggunaan
untuk hepatitis B kronis termasuk interferons dan nucleoside/nucleotide analogues. Interferon
bekerja melawan virus hepatitis B dengan menstimulasi sistim imun tubuh untuk membersihkan
virus. Nucleoside/nucleotide analogues (NAs) adalah kimia-kimia yang dibuat manusia yang
meniru nucleosides dan nucleotides yang digunakan untuk membuat DNA.
Efek samping interferon:

kelelahan, sakit-sakit otot keseluruhan, demam, kedinginan dan kehilangan nafsu makan.
Gejala-gejala seperti flu ini terjadi pada kira-kira 80% dari pasien-pasien yang dirawat;

turun naiknya suasana hati, depresi, ketakutan dan efek-efek neuropsychiatric lain
mungkin terjadi; dan

kelainan-kelainan kelenjar tiroid yang berakibat ada hypothyroidism (terlalu sedikit


hormon tiroid);

penindasan yang signifikan dari sumsum tulang dan produksi dari sel-sel darah;

infeksi;

kehilangan rambut (rontok) mungkin terjadi.

Perjalanan hepatitis B kronik dibagi menjadi tiga fase penting yaitu :


1. Fase Imunotoleransi
Pada masa anak-anak atau pada dewasa muda, sistem imun tubuh toleren terhadap VHB
sehingga konsentrasi virus dalam darah tinggi, tetapi tidak terjadi peradangan hati yang
berarti. Pada fase ini, VHB ada dalam fase replikatif dengan titer HBsAg yang sangat
tinggi.
2. Fase Imunoaktif (Fase clearance)
Pada sekitar 30% individu dengan persisten dengan VHB akibat terjadinya replikasi VHB
yang berkepanjangan, terjadi proses nekroinflamasi yang tampak dari kenaikan
konsentrasi Alanine Amino Transferase (ALT). Pada keadaan ini pasien sudah mulai
kehilangan toleransi imun terhadap VHB.
13

3. Fase Residual
Pada fase ini tubuh berusaha menghancurkan virus dan menimbulkan pecahnya sel-sel
hati yang terinfeksi VHB. Sekitar 70% dari individu tersebut akhirnya dapat
menghilangkan sebagian besar partikel VHB tanpa ada kerusakan sel hati yang berarti.
Pada keadaan ini titer HBsAg rendah dengan HBeAg yang menjadi negatif dan anti HBe
yang menjadi positif, serta konsentrasi ALT normal.
Penderita infeksi VHB kronis dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu :
1. Pengidap HBsAg positif dengan HBeAg positif
Pada penderita ini sering terjadi kenaikan ALT (eksaserbasi) dan kemudian penurunan
ALT kembali (resolusi). Siklus ini terjadi berulang-ulang sampai terbentuknya anti HBe.
Sekitar 80% kasus pengidap ini berhasil serokonversi anti HBe positif, 10% gagal
serokonversi namun ALT dapat normal dalam 1-2 tahun, dan 10% tetap berlanjut menjadi
hepatitis B kronik aktif.
2. Pengidap HBsAg positif dengan anti HBe positif
Prognosis pada pengidap ini umumnya baik bila dapat dicapai keadaan VHB DNA yang
selalu normal. Pada penderita dengan VHB DNA yang dapat dideteksi diperlukan
perhatian khusus oleh karena mereka berisiko menderita kanker hati.
3. Pengidap hepatitis B yang belum terdiagnosa dengan jelas.
Kemajuan pemeriksaan yang sangat sensitif dapat mendeteksi adanya HBV DNA pada
penderita dengan HBsAg negatif, namun anti HBc positif.
Hepatitis C
Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (VHC).
Virus hepatitis C adalah virus RNA dari famili Flavivirus. Ia memiliki genom yang sangat
sederhana yang terdiri dari hanya tiga dan lima gen structural nonstruktural. Proses penularannya
melalui kontak darah {transfusi, jarum suntik (terkontaminasi), serangga yang menggigit
penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya}.

14

Penderita Hepatitis C sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak menunjukkan
gejala, walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Namun beberapa gejala yang
samar diantaranya adalah ; Lelah, Hilang selera makan, Sakit perut, Urin menjadi gelap dan
Kulit atau mata menjadi kuning yang disebut "jaundice" (jarang terjadi). Pada beberapa kasus
dapat ditemukan peningkatan enzyme hati pada pemeriksaan urine, namun demikian pada
penderita Hepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan normal. Pada penderita
Hepatitis C kronik menyebabkan kerusakan/kematian sel-sel hati dan terdeteksi sebagai kanker
(cancer) hati.
Saat ini pengobatan Hepatitis C dilakukan dengan pemberian obat seperti Interferon alfa,
Pegylated interferon alfa dan Ribavirin.
Infeksi HCV dapat dibagi dalam dua fase, yaitu :
1. Infeksi HCV akut
HCV menginfeksi hepatosit (sel hati). Masa inkubasi hepatitis C akut rata-rata 6-10
minggu. Kebanyakan orang (80%) yang menderita hepatitis C akut tidak memiliki gejala.
Awal penyakit biasanya berbahaya, dengan anoreksia, mual dan muntah, demam dan
kelelahan, berlanjut untuk menjadi penyakit kuning sekitar 25% dari pasien, lebih jarang
daripada hepatitis B. Tingkat kegagalan hati fulminan terkait dengan infeksi HCV sangat
jarang. Mungkin sebanyak70% -90% dari orang yang terinfeksi, gagal untuk membunuh
virus selama fase akut dan akan berlanjut menjadi penyakit kronis dan menjadi carrier.
2. Infeksi HCV kronis
Hepatitis kronis dapat didefinisikan sebagai penyakit terus tanpa perbaikan selama
setidaknya enam bulan. Kebanyakan orang (60% -80%) yang telah kronis hepatitis C tidak
memiliki gejala. Infeksi HCV kronis berkembang pada 75%-85% dari orang dengan persisten
atau berfluktuasi ALT kronis. Pada fitur epidemiologi antara pasien dengan infeksi akut
ditemukan peningkatan penyakit hati aktif, berkembang dalam 60% -70% dari orang yang
terinfeksi telah ditemukan sudah menjadi penyakit hati kronis.
Hepatitis kronis dapat menyebabkan sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler (HCC).
Sirosis terkait HCV menyebabkan kegagalan hati dan kematian pada sekitar 20% -25% kasus
sirosis. Sirosis terkait HCV sekarang merupakan sebab utama untuk transplantasi hati. 1%15

5% orang dengan hepatitis C kronis berkembang menjadi karsinoma hepatoseluler.


Pengembangan HCC jarang terjadi pada pasien dengan hepatitis C kronis yang tidak
memiliki sirosis.
Periode masa penularan dari satu minggu atau lebih sebelum timbulnya gejala pertama
dan mungkin bertahan pada sebagian besar orang selamanya. Infeksi HCV tidak
menyebabkan kegagalan hati fulminan (mendadak, cepat) namun, menjadi penyakit hati
kronis seperti infeksi HBV kronis, dan dapat memicu gagal hati.
Penularan terjadi melalui paparan perkutan terhadap darah yang terkontaminasi. Jarum
suntik yang terkontaminasi adalah sarana penyebaran yang paling penting, khususnya di
kalangan pengguna narkoba suntikan. Transmisi melalui kontak rumah tangga dan aktivitas
seksual tampaknya rendah. Transmisi saat lahir dari ibu ke anak juga relatif jarang.

2.5

Epidemiologi
Di seluruh dunia daerah prevalensi infeksi HBV tertinggi adalah Afrika subsahara, Cina,

bagian-bagian Timur Tengah, lembah Amazone dan kepulauan Pasifik. Dengan kelompok umur
20-39 tahun ada pada resiko terbesar. Jumlah kasus baru pada anak rendah, tetapi sukar
diperkirakan karena sebagian besasr infeksi pada anak tidak bergejala.11

16

2.6

Etiologi (faktor resiko)


HBV adalah anggota famili hepadnavirus, diameter 42-nm, kelompok virus DNA

hepatotropik nonsitopatogenik. HBV mempunyai genom DNA sirkuler, sebagian helai ganda
tersusun sekitar 3.200 nukleotid. Empat gena telah dikenali: gena S, C, X, dan P. Permukaan
virus termasuk dua partikel yang ditandai antigen hepatitis permukaan (hepatitis B surface
antigen [HBsAg] )= partikel sferis diameter 22-nm dan partikel tubuler lebar 200 nm. Bagian
dalam virion berisi antigen core hepatitis B (hepatitis B core antigen [HBcAg] dan antigen
nonstruktural disebut hepatitis B e antigen (HBeAg) antigen larut-nonpartikel berasal dari
HBcAg yang terpecah sendiri oleh proteolitik. Replikasi HBV terjadi terutama dalam hati tetapi
juga terjadi dalam limfosit, limpa, ginjal dan pankreas.12
2.6.1 Faktor Host (Penjamu)

Umur
Hepatitis B dapat menyerang semua golongan umur. Paling sering pada bayi dan
anak (25 -45,9 %) resiko untuk menjadi kronis, menurun dengan bertambahnya
umur dimana pada anak bayi 90 % akan menjadi kronis, pada anak usia sekolah 23
-46 % dan pada orang dewasa 3-10%. Hal ini berkaitan dengan terbentuk antibodi
dalam jumlah cukup untuk menjamin terhindar dari hepatitis kronis.

Jenis kelamin
Berdasarkan sex ratio, wanita 3x lebih sering terinfeksi hepatitis B dibanding pria.

Mekanisme pertahanan tubuh


Bayi baru lahir atau bayi 2 bulan pertama setelah lahir lebih sering terinfeksi
hepatitis B, terutama pada bayi yang sering terinfeksi hepatitis B. Hal ini karena
sistem imun belum berkembang sempurna.

17

Kebiasaan hidup
Sebagian besar penularan pada masa remaja disebabkan karena aktivitas seksual
dan gaya hidup seperti homoseksual, pecandu obat narkotika suntikan, pemakaian
tatto, pemakaian akupuntur.

Pekerjaan
Kelompok resiko tinggi untuk mendapat infeksi hepatitis B adalah dokter, dokter
bedah, dokter gigi, perawat, bidan, petugas kamar operasi, petugas laboratorium
dimana mereka dalam pekerjaan sehari-hari kontak dengan penderita dan material
manusia (darah, tinja, air kemih).

2.6.2 Faktor Agent


Penyebab Hepatitis B adalah virus hepatitis B termasuk DNA virus. Virus Hepatitis
B terdiri atas 3 jenis antigen yakni HBsAg, HBcAg, dan HBeAg. Berdasarkan sifat
imunologik protein pada HBsAg, virus dibagi atas 4 subtipe yaitu adw, adr, ayw, dan ayr
yang menyebabkan perbedaan geografi dalam penyebarannya. Subtype adw terjadi di
Eropah, Amerika dan Australia. Subtype ayw terjadi di Afrika Utara dan Selatan. Subtype
adw dan adr terjadi di Malaysia, Thailand, Indonesia. Sedangkan subtype adr terjadi di
Jepang dan China.
2.6.3 Faktor Lingkungan
Merupakan

keseluruhan

kondisi

dan

pengaruh

luar

perkembangan hepatitis B. Yang termasuk faktor lingkungan adalah:


! Lingkungan dengan sanitasi jelek
! Daerah dengan angka prevalensi VHB nya tinggi
! Daerah unit pembedahan: Ginekologi, gigi, mata.

18

yang

mempengaruhi

! Daerah unit laboratorium


! Daerah unit bank darah
! Daerah tempat pembersihan
! Daerah dialisa dan transplantasi.
! Daerah unit perawatan penyakit dalam.3

2.7

Patogenesis
Pada manusia hati merupakan target organ bagi virus hepatitis B. Virus Hepatitis B

(VHB) mula-mula melekat pada reseptor spesifik dimembran sel hepar kemudian mengalami
penetrasi ke dalam sitoplasma sel hepar. Dalam sitoplasma VHB melepaskan mantelnya,
sehingga melepaskan nukleokapsid. Selanjutnya nukleokapsid akan menembus dinding sel hati.
Di dalam inti asam nukleat VHB akan keluar dari nukleokapsid dan akan menempel pada
DNA hospes dan berintegrasi pada DNA tersebut. Selanjutnya DNA VHB memerintahkan sel
hati untuk membentuk protein bagi virus baru dan kemudian terjadi pembentukan virus baru.
Virus ini dilepaskan ke peredaran darah, mekanisme terjadinya kerusakan hati yang kronik
disebabkan karena respon imunologik penderita terhadap infeksi.
Apabila reaksi imunologik tidak ada atau minimal maka terjadi keadaan karier sehat.
Gambaran patologis hepatitis akut tipe A, B dan Non A dan Non B adalah sama yaitu adanya
peradangan akut diseluruh bagian hati dengan nekrosis sel hati disertai infiltrasi sel-sel hati
dengan histiosit. Bila nekrosis meluas (masif) terjadi hepatitis akut fulminan. Bila penyakit
menjadi kronik dengan peradangan dan fibrosis meluas didaerah portal dan batas antara lobulus
masih utuh, maka akan terjadi hepatitis kronik persisten. Sedangkan bila daerah portal melebar,
tidak teratur dengan nekrosis diantara daerah portal yang berdekatan dan pembentukan septa
fibrosis yang meluas maka terjadi hepatitis kronik aktif.3

19

2.8

Manifestasi Klinis
Perjalanan hepatitis B akut terjadi dalam empat tahap yang timbul sebagai akibat dari

proses peradangan pada hati yaitu :


1. Masa Inkubasi
Masa inkubasi yang merupakan waktu antara saat penularan infeksi dan saat timbulnya
gejala/ikterus, berkisar antara 1-6 bulan, biasanya 60-75 hari. Panjangnya masa inkubasi
tergantung dari dosis inokulum yang ditularkan dan jalur penularan, makin besar dosis
virus yang ditularkan, makin pendek masa inkubasi.
2. Fase Prodromal
Fase ini adalah waktu antara timbulnya keluhan-keluhan pertama dan timbulnya gejala
dan ikterus. Keluhan yang sering terjadi seperti : malaise, rasa lemas, lelah, anoreksia,
mual, muntah, terjadi perubahan pada indera perasa dan penciuman, panas yang tidak
tinggi, nyeri kepala, nyeri otot-otot, rasa tidak enak/nyeri di abdomen, dan perubahan
warna urine menjadi cokelat, dapat dilihat antara 1-5 hari sebelum timbul ikterus, fase
prodromal ini berlangsung antara 3-14 hari.
3. Fase Ikterus
Dengan timbulnya ikterus, keluhan-keluhan prodromal secara berangsur akan berkurang,
kadang rasa malaise, anoreksia masih terus berlangsung, dan nyeri abdomen kanan atas
bertambah. Untuk deteksi ikterus, sebaliknya dilihat pada sklera mata. Lama
berlangsungnya ikterus dapat berkisar antara 1-6 minggu.
4. Fase Penyembuhan
Fase penyembuhan diawali dengan menghilangnya ikterus dan keluhankeluhan,
walaupun rasa malaise dan cepat lelah kadang masih terus dirasakan, hepatomegali dan
rasa nyerinya juga berkurang. Fase penyembuhan lamanya berkisar antara 2-21 minggu.3
20

2.9

Penatalaksanaan

Pengobatan oral:
Lamivudine dari kelompok nukleosida analog, yang dikenal dengan nama 3TC.
Obat ini digunakan bagi dewasa maupun anak-anak, Pemakaian obat ini
cenderung meningkatkan enzyme hati (ALT) untuk itu penderita akan
mendapat monitor bersinambungan dari dokter.
Adefovir dipivoxil (Hepsera). Pemberian secara oral akan lebih efektif, tetapi
pemberian dengan dosis yang tinggi akan berpengaruh buruk terhadap fungsi
ginjal.
Baraclude (Entecavir). Obat ini diberikan pada penderita Hepatitis B kronik,
efek samping dari pemakaian obat ini adalah sakit kepala, pusing, letih, mual
dan terjadi peningkatan enzyme hati. Tingkat keoptimalan dan kestabilan
pemberian obat ini belum dikatakan stabil.

Pengobatan dengan injeksi/suntikan:


Microsphere yang mengandung partikel radioaktif pemancar sinar yang akan
menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Alfa Interferon (dengan nama cabang INTRON A, INFERGEN, ROFERON)
diberikan secara subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu
selama 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pemberian obat ini adalah
depresi, terutama pada penderita yang memilki riwayat depresi sebelumnya.
Efek lainnya adalah terasa sakit pada otot-otot, cepat letih dan sedikit
menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian
paracetamol.

Pengobatan tradisional
21

Tumbuhan obat atau herbal yang dapat digunakan untuk mencegah dan membantu
pengobatan Hepatitis diantaranya mempunyai efek sebagai hepatoprotektor, yaitu
melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang dapat merusak sel hati, juga bersifat anti
radang, kolagogum dan khloretik, yaitu meningkatkan produksi empedu oleh hati.
Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan Hepatitis,
antara

lain

yaitu temulawak (Curcuma

longa), sambiloto (Andrographis

xanthorrhiza),

paniculata), meniran (Phyllanthus

kunyit (Curcuma
urinaria), daun

serut/mirten, jamur kayu/lingzhi (Ganoderma lucidum), akar alang-alang (Imperata


cyllindrica), rumput mutiara (Hedyotis corymbosa), pegagan (Centella asiatica).

Perawatan hepatitis B
Pasien yang menderita hepatitis B dianjurkan untuk istirahat yang cukup, dan

banyak makan yang mengandung nutrisi tinggi. Hepatitis B akut umumnya sembuh,
hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis
hati atau kanker hati, oleh karena itu upaya meningkatkan tubuh bagi penderita hepatitis
B sangat diperlukan untuk mencegah hepatitis kronik.13

2.10

Komplikasi

Kanker hati (karsinoma hepatoseluler) adalah kanker yang timbul dari hati yang
juga dikenal sebagai kanker hati primer atau hepatoma.

Gagal hati

Sirosis hepatis
Pada sirosis, kerusakan sel diganti oleh jaringan parut (sikatrik). Gejala sirosis
antara lain: kelelahan, gangguan makan, perbesaran hati, gatal, bagian tubuh
tertentu berwarna kuning, asites, edema. 7

Nekrosis hepatic masif adalah gangguan fungsi hati secara mendadak dan parah.

Status karier (infeksi virus persisten tanpa gejala)


22

Penyakit hati kronis

Hepatitis fulminan (ganas) adalah suatu jenis klinis hepatitis yang jarang terjadi,
dimana perjalanan penyakitnya berkembang dengan cepat, terjadi ikterus yang
semakin berat, kuning seluruh tubuh, timbul gejala neurologi atau ensefalopati
hepatic, kemudian masuk kedalam keadaan koma dan gagal hati akut.14

2.11

Immunodefisiensi.15

Pencegahan

Menurut Park ada lima pokok pencegahan yaitu :


1.

Health Promotion, usaha peningkatan mutu kesehatan

2.

Specifik Protection, perlindungan secara khusus

3.

Early Diagnosis dan Prompt Treatment, pengenalan dini terhadap penyakit, serta
pemberian pengobatan yang tepat

4.

Usaha membatasi cacat

5.

Usaha rehabilitasi.3
Menurut Effendi pencegahan dilakukan dengan menggabungkan antara pencegahan

penularan dan pencegahan penyakit.


A. PENCEGAHAN PENULARAN HEPATITIS B
Pencegahan dapat dilakukan dengan melalui tindakan Health Promotion baik pada hospes
maupun lingkungan dan perlindungan khusus terhadap penularan.
Health Promotion terhadap hos berupa pendidikan kesehatan, peningkatan higiene
perorangan, perbaikan gizi, perbaikan sistem transfusi darah dan mengurangi kontak erat
dengan bahan-bahan yang berpotensi menularkan virus VHB.

23

Pencegahan virus hepatitis B melalui lingkungan, dilakukan melalui upaya:


meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan penyebaran infeksi VHB melalui
tindakan melukai seperti tindik, akupuntur, perbaikan sarana kehidupan di kota dan di
desa serta pengawasan kesehatan makanan yang meliputi tempat penjualan makanan dan
juru masak serta pelayan rumah makan.
Perlindungan Khusus Terhadap Penularan Dapat dilakukan melalui sterilisasi bendabenda yang tercemar dengan pemanasan dan tindakan khusus seperti penggunaan sarung
tangan bagi petugas kesehatan, petugas laboratorium yang langsung bersinggungan
dengan darah, serum, cairan tubuh dari penderita hepatitis, juga pada petugas kebersihan,
penggunaan pakaian khusus sewaktu kontak dengan darah dan cairan tubuh, cuci tangan
sebelum dan sesudah kontak dengan penderita pada tempat khusus selain itu perlu
dilakukan pemeriksaan HBsAg

petugas kesehatan (Onkologi dan Dialisa) untuk

menghindarkan kontak antara petugas kesehatan dengan penderita.


B. PENCEGAHAN PENYAKIT
1.

Immunisasi Aktif
Pada negara dengan prevalensi tinggi, immunisasi diberikan pada bayi yang lahir dari

ibu HBsAg positif, sedang pada negara yang prevalensi rendah immunisasi diberikan pada
orang yang mempunyai resiko besar tertular. Vaksin hepatitis diberikan secara intra
muskular sebanyak 3 kali dan

memberikan perlindungan selama 2 tahun. Program

pemberian sebagai berikut:

Dewasa: Setiap kali diberikan 20 g IM yang diberikan sebagai dosis awal,


kemudian diulangi setelah 1 bulan dan berikutnya setelah 6 bulan.

Anak: Diberikan dengan dosis 10 g IM sebagai dosis awal , kemudian diulangi


setelah 1 bulan dan berikutnya setelah 6 bulan.

24

2.

Immunisasi Pasif
Pemberian Hepatitis B Imunoglobulin (HBIG) merupakan immunisasi pasif dimana

daya lindung HBIG diperkirakan dapat menetralkan virus yang infeksius dengan
menggumpalkannya. HBIG dapat memberikan perlindungan terhadap Post Expossure
maupun Pre Expossure. Pada bayi yang lahir dari ibu, yang HBsAs positif diberikan HBIG
0,5 ml intra muscular segera setelah lahir (jangan lebih dari 24 jam). Pemberian ulangan
pada bulan ke 3 dan ke 5. Pada orang yang terkontaminasi dengan HBsAg positif
diberikan HBIG 0,06 ml/Kg BB diberikan dalam 24 jam post expossure dan diulang
setelah 1 bulan.3

2.12

Prognosis
Data menunjukkan bahwa bayi yang terinfeksi VHB sebelum usia satu tahun mempunyai

risiko kronisitas sampai 90%, sedangkan bila infeksi VHB terjadi pada usia antara 2-5 tahun
risikonya menurun menjadi 50%, bahkan bila terjadi infeksi pada anak berusia diatas 5 tahun
hanya berisiko 5-10% untuk terjadi kronisitas.

25

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Hepatitis B merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang perlu segera ditanggulangi,

mengingat prevalensi yang tinggi dan akibat yang ditimbulkan hepatitis B. Penularan hepatitis B
terjadi melalui kontak dengan darah/produk darah, saliva, semen, alat-alat yang tercemar
hepatitis B dan inokulasi perkutan dan subkutan secara tidak sengaja. Penularan secara parenteral
dan non parenteral serta vertikal dan horizontal dalam keluarga atau lingkungan. Resiko untuk
terkena hepatitis B di masyarakat berkaitan dengan kebiasaan hidup yang meliputi aktivitas
seksual, gaya hidup bebas, serta pekerjaan yang memungkinkan kontak dengan darah dan
material penderita. Pengendalian penyakit ini lebih dimungkinkan melalui pencegahan
dibandingkan pengobatan yang masih dalam penelitian. Pencegahan dilakukan meliputi
pencegahan penularan penyakit dengan kegiatan Health Promotion dan Spesifik Protection,
maupun pencegahan penyakit dengan imunisasi aktif dan pasif.

3.2

Saran

26

Banyak sekali penyakit yang dapat menular dari darah. Oleh karena itu hendak nya kita
masing-masing berhati-hati dalam menggunakan benda-benda tajam seperti jarum suntik.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Chandra Putra Pradana, Sri Kusumadewi. Aplikasi diagnosis penyakit hepatitis untuk
mobile devices menggunakan J2ME. Media informatika, vol 5 no 2. Fakultas teknologi
indutri universitas islam indonesia. 2007.

2.
3.

Winartini. Hepatitis. 30 Desember 2003


Siregar F.A. hepatitis B ditinjau dari kesehatan masyarakat dan upaya pencegahan. Fakultas

4.

kesehatan masyarakat Universitas Sumatra utara. 2003.


Upartondo, Setiyohadi B. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Anamnesis. Ed.5. Jakarta:

5.

Interna Publishing; 2009. h. 25-8.


Nah YK, Santoso M, Rumawas JSP, Winaktu GJMT, Sularyo TS, Adam H. Buku Panduan
Ketrampilan Medik (Skills Lab). Ed.1. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen

6.

Krida Wacana; 2010. h.4-8.


Daldiyono, Syam AF. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Nyeri Abdomen Akut. Ed.5. J.1.

7.

Jakarta: Interna Publishing; 2009. h. 474-6.


Sari W, Indrawati L, Djing O.G. Care your self: hepatitis. Jakarta: Penebar +. 2008. h. 12-

8.

42.
Dr. Sadikin Darmawan. Kumpulan Kuliah Patologi Anatomi: Hati dan SaluranEmpedu.

Jakarta: FKUI. h.226-249.


9. Rifai Amirudin. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Fisiologi dan Biokimia Hati. Edisi 5. 2006.
10. Chayono S.B. Hepatitis B: cegah kanker hati. Yogyakarta: karnisius. 2010. h.55-56.
11. Arvin, Behrman, Nelson, Kliegman. Ilmu kesehatan anak. Ed 15. Vol 2. Jakarta: Penerbit
buku kedokteran EGC. 2000. h.1120-1123.

27

12. Ranuh I.G.N. Buku Imunisasi Di Indonesia. Edisi I. Jakarta: Satgas Imunisasi IDAI. 2001.
hal: 83-85.
13. Asrul. Hepatitis B. Juni 2010.
14. Irawan D. Hepatitis fulminan. Feb 2009.
15. Betz C.L, Sowden L.A. Buku saku keperawatan pediatri. Ed 5. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC. 2004. h. 224-225.

28