Anda di halaman 1dari 17

TUGAS

RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN PENMABNAGAN BATUBARA PT.


PESONA KATULISTIWA, KALIMANTAN TIMUR
LATAR BELAKANG
PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PT. PKN) adalah perusahaan pemegang PKP2B
yang telah melaksanakan studi kelayakan dengan luas 23.646 Ha (KW 00 PB 0029).
Secara administrasi terletak di Kecamatan Tanjung Palas Utara dan Tanjung Palas
Tengah, Kabupaten Bulungan, Propinsi Kalimantan Timur. Kajian kelayakan (Feasibility
Study) Pertambangan batubara telah dilakukan dan eksploitasi direncanakan dengan
metode tambang terbuka (Open Pit Mining), setelah melakukan eksplorasi terhadap
cadangan batubara. Pada daerah area tersebut terdapat dua pilot mine area yaitu Area
Ardimulyo dengan luas 197 Ha dan area Kelubir dengan luas 200 Ha.
Batubara yang akan ditambang oleh PT. PKN (Ardimulyo dan Kelubir) tidak
memerlukan coal washing plant karena kadar abunya rendah. Oleh karena itu hanya
memerlukan crushing dan screening saja dan selanjutnya dilakukan blending. Umur
tambang direncanakan lebih dari 20 tahun, dan rencana produksi tahun pertama 1,3 juta
ton sedangkan tahun kedua dan seterusnya 2 juta ton per tahun.
Kegiatan Pertambangan batubara ini secara umum terdiri dari : pembebasan lahan,
penerimaan tenaga kerja, pembangunan sarana-prasarana, Pertambangan/pemotongan
batubara, pengangkutan menuju stock pile, dan rehabilitasi/reklamasi bekas tambang. Di
tempat penimbunan, batubara akan di crushing untuk selanjutnya dimuat ke barge dan
diangkut melalui jalur sungai menuju ke kapal yang ada di tengah laut. Kegiatan tersebut,
potensial mempunyai dampak positip dan negatip ke lingkungan sekitarnya.
Tujuan utama dari Pertambangan batubara oleh PT. PKN adalah memproduksi batubara
berkualitas untuk keperluan bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baik
untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam
ini untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan devisa negara dan diharapkan
dapat pula memacu pembangunan daerah, keterbukaan wilayah, terutama di Kabupaten
Bulungan dan membuka peluang kerja bagi tenaga kerja setempat.

I -1

Berdasarkan sifat dan intensitas rencana kegiatan serta didukung oleh pengalaman dari
kegiatan yang sejenis, diduga kegiatan Pertambangan batubara yang akan dilaksanakan
berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, baik negatif maupun positif. Oleh
karenaitu PT. PKN memandang perlu dilakukannya studi Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL) yang merupakan telaahan secara cermat dan mendalam tentang
dampak penting lingkungan yang mungkin timbul akibat pelaksanaan kegiatan.
Penyusunan studi AMDAL ini mengacu Permen LH No. 16 Tahun 2012 tentang
Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
RENCANA KEGIATAN PENYEBAB DAMPAK
Hasil telaahan terhadap rencana kegiatan yang potensial menimbulkan dampak
telah diidentifikasi untuk setiap tahapan kegiatan baik kegiatan-kegiatan pada tahap pra
konstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi. Berikut ini rencana kegiatan pada
masing-masing tahapan dalam rencana penambanganPertambangan batubara oleh
PT PKN di Kabupaten Bulungan.
A. Tahap Persiapan
1) Proses Perijinan
Kegiatan perijinan ini akan menimbulkan dampak berupa peningkatan PAD
bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bulungan, karena pada tahap kegiatan ini
pemrakarsa sudah dikenai beberapa kewajiban administrasi yang harus
dibayarkan yang pada akhirnya akan menjadi pemasukan bagi pemerintah
daerah setempat.
2) Pembebasan Lahan
Kegiatan pembebasan lahan ini potensial menimbulkan dampak negatif berupa
terjadinya pengklaiman lahan oleh penduduk maupun masyarakat adat, perpindahan
status kepemilikan lahan, adanya ganti rugi, dan kemungkinan terjadinya konflik
sosial. Konflik sosial ini akan muncul apabila lahan milik pemerintah yang akan
dijadikan sebagai lokasi penambanganPertambangan PT. PKN diklaim oleh
penduduk sekitar lokasi sebagai lahan miliknya atau sebagai lahan milik adat

I -2

sementara pemberian ganti rugi tidak sesuai dengan permintaan dan harapan
penduduk ataupun masyarakat adat.
3) Rekrutmen Tenaga Kerja
Pada tahap ini diprakirakan akan menimbulkan dampak positif berupa terbukanya
kesempatan kerja bagi masyarakat lokal untuk bisa ikut terlibat sebagai tenaga kerja
pada kegiatan penambanganPertambangan batubara baik yang sifatnya sebagai tenaga
kerja tetap maupun tenaga kerja yang tidak tetap, baik untuk tahap persiapan, operasi,
pasca operasi maupun pada ketiganya.

Terbukanya kesempatan kerja bagi

masyarakat ini akan memunculkan persepsi positif masyarakat lokal apabila


banyak penduduk lokal yang bisa terserap sebagai tenaga kerja pada kegiatan
penambanganPertambangan batu bara tersebut.

Selain itu dengan diterimanya

sebagai pekerja pada kegiatan pertambangan batubara ini dapat merubah atau
menaikkan strata seseorang, terutama bagi anggota masyarakat yang tadinya
tidak bekerja atau menganggur, setelah mendapatkan pekerjaan berarti
statusnya akan menjadi lebih baik atau lebih tinggi di masyarakat dibandingkan
apabila hanya sebagai pengangguran.
Dari sisi demografi kegiatan penerimaan tenaga kerja ini juga diprakirakan akan
mampu merubah pola migrasi penduduk karena penduduk yang pada awalnya harus
merantau untuk mencari nafkah ke luar daerah, dengan adanya penerimaan tenaga
kerja ini diharapkan bisa menarik kembali penduduk lokal yang merantau untuk
pulang kembali ke tempat asalnya dan bekerja di proyek penambanganPertambangan
yang ada di daerah asalnya.
2. TAHAP KONSTRUKSI
1) Mobilisasi Peralatan Berat dan Material
Pada tahap ini akan terjadi pemadatan tanah di daerah/lokasi daratan yang dilalui oleh
alat-alat berat.
Kegiatan mobilisasi peralatan berat dan material diprakirakan akan menimbulkan
kebisingan dan peningkatan debu dan gas buangan kendaraan/alat berat.
Debu yang beterbangan akan menutupi permukaan daun pada vegetasi yang ada di
sepanjang jalan yang dilalui kegiatan ini. Dengan tertutupnya permukaan daun oleh

I -3

debu menyebabkan gangguan fisiologi pada tumbuhan. Sedangkan kebisingan yang


ditimbulkan akan berdampak terhadap fauna yaitu terjadi migrasi fauna sehingga
akan menyebabkan terjadinya penurunan kelimpahan dan keanekaragaman fauna di
sekitar kegiatan.
Pada tahap kegiatan ini diprakirakan juga akan muncul dampak secara langsung bagi
penduduk terutama di sepanjang jalur lalu lintas Sungai Ansam. Jalur Sungai Ansam
merupakan jalur transportasi utama bagi penduduk di sekitar proyek, maka adanya
mobilisasi peralatan berat dan material akan mengganggu lalu lintas di sepanjang
jalur tersebut. Untuk jalur mobilisasi di darat, karena jalur jalan yang dilewati tidak
melewati permukiman penduduk, maka tidak menimbulkan dampak yang signifikan.
2) Pembangunan Jalan Tambang
Pada tahap ini akan terjadi perubahan bentuk lahan mikro di sepanjang jalan tambang
akibat perataan sebagian lapisan tanah. Tanah di sepanjang jalan akan mengalami
pemadatan oleh alat berat. Pembuatan jalan akan menyebabkan permukaan tanah
terbuka yang apabila terjadi hujan, maka air hujan akan lebih banyak terlimpas (run
off) dengan membawa sebagian tanah (erosi) yang akan mengendap di daerah
sekitarnya yang lebih rendah atau di badan-badan sungai. Kondisi ini juga akan
menurunkan kualitas air permukaan.
Pembangunan jalan tambang ini diprakirakan akan memunculkan dampak
peningkatan debu dan penurunan kualitas udara karena beroperasinya alat-alat berat.
Dampak turunannya, peningkatan kadar debu dapat menutupi permukaan daun pada
vegetasi yang ada di sepanjang area rencana pembangunan jalan tambang. Dengan
tertutupnya permukaan daun oleh debu ini menyebabkan gangguan fisiologi pada
tumbuhan. Untuk kegiatan pembangunan jalan ini juga akan dilakukan pembersihan
area dari berbagai jenis vegetasi penutup yang ada di sepanjang area yang digunakan
untuk jalan, sehingga akan berdampak pada menurunnya kerapatan (densitas) dan
keanekaragaman (diversitas) flora serta kelimpahan dan keanekaragaman fauna.
Pembersihan area dari vegetasi penutup untuk pembangunan jalan tambang,
diprakirakan akan mengakibatkan erosi yang akan masuk dalam badan air sekitar

I -4

kegiatan sehingga akan menurunkan kualitas air sungai dan menimbulkan dampak
turunan berupa menurunnya densitas dan diversitas plankton, benthos.
Pada tahap kegiatan ini juga akan muncul dampak positif berupa adanya pendapatan
bagi penduduk lokal yang sudah terpilih sebagai tenaga kerja dalam perekrutan
tenaga kerja, terbukanya peluang berusaha yang pada akhirnya juga akan
menghasilkan pendapatan bagi masyarakat, sehingga selain persepsi positif yang akan
muncul, juga diharapkan pada akhirnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi
masyarakat. Selain itu diprakirakan akan muncul dampak negatif berupa munculnya
keresahan masyarakat akibat kekhawatiran penduduk terhadap terjadinya peningkatan
erosi, peningkatan sedimen, peningkatan debu serta penurunan kualitas udara yang
kemungkinan akan berpengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitar mereka.
3) Pembangunan Sarana dan Prasarana
Pada tahap ini, di lokasi pembangunan sarana dan prasarana pertambangan akan
terjadi pemadatan tanah. Lahan yang terbuka ini juga akan meningkatkan air
limpasan, erosi, sedimentasi dan berdampak terhadap penurunan kualitas air
permukaan.
Dampak lain yang diperkirakan timbul dari kegiatan pembangunan sarana dan
prasarana adalah terjadi kenaikan kebisingan dan peningkatan kadar debu.
Pembukaan lahan akan mengakibatkan erosi dan dapat terbawa ke aliran sungai
sehingga dapat menyebabkan penurunan kualitas air permukaan. Kegiatan konstruksi
pembangunan infrastruktur dermaga akan menurunkan kualitas air sungai karena
akan terjadi peningkatan kekeruhan dan kadar minyak, perubahan pH, penurunan DO
dan peningkatan BOD.
Area yang digunakan untuk membangun sarana dna prasarana akan dibersihan dari
vegetasi penutup, sehingga akan berdampak terhadap penurunan densitas dan
diversitas flora maupun kelimpahan fauna. Adanya pembersihan area dari vegetasi
penutup juga akan berdampak erosi yang akan masuk dalam badan air sekitar

I -5

kegiatan sehingga akan menurunkan kualitas air sungai dan menimbulkan dampak
turunan berupa menurunnya densitas dan diversitas plankton, benthos.
Pada tahap ini diprakirakan juga akan muncul dampak postif berupa adanya
pendapatan bagi penduduk lokal yang sudah terpilih pada saat dilakukan seleksi
penerimaan tenaga kerja untuk pembangunan sarana dan prasarana, dan sekaligus
bisa membuka kesempatan berusaha bagi penduduk lokal yang ingin membuka usaha
dengan memanfaatkan keberadaan aktivitas pembangunan sarana dan prasarana ini
(misalnya dengan menjadi supplier bahan makanan, membuka warung makan atau
kantin, dan sebagainya). Terbukanya peluang berusaha ini pada akhirnya akan dapat
memunculkan pendapatan bagi masyarakat, sehingga diharapkan kebutuhan
ekonominya bisa terpenuhi dengan baik dan kesejahteraan hidupnya bisa menjadi
lebih baik dan sekaligus bisa memunculkan persepsi positif masyarakat.
Pembangunan sarana dan prasarana ini juga akan menimbulkan dampak positif
berupa keterbukaan wilayah karena dengan dibangunnya berbagai macam sarana dan
prasarana ini suatu wilayah akan lebih mudah diakses dan menjadi penarik bagi pihak
luar untuk tinggal atau masuk ke dalam wilayah tersebut, sehingga kondisi ini akan
menyebabkan suatu wilayah menjadi lebih ramai dan maju atau lebih berkembang.
Pada saat proses pembangunan ini, pola penyakit dan sanitasi lingkungan juga akan
berubah seiring dengan banyaknya tenaga kerja di gunakan dalam kegiatan ini.
3. TAHAP OPERASI
1) Pembukaan Lahan dan Pemindahan Tanah Pucuk
Pada tahap ini akan terjadi perubahan bentuk lahan mikro sebagai akibat pembukaan
lahan dan pemindahan lapisan tanah pucuk. Pembukaan lahan juga menyebabkan
lahan menjadi terbuka, air limpasan meningkat, erosi meningkat termasuk
sedimentasi di daerah-daerah sekitarnya dan badan-badan sungai. Kualitas air
permukaan makin menurun. Pemindahan tanah pucuk berpotensi terhadap penurunan
kesuburan tanah yang disebabkan oleh hilangnya sebagian tanah, pemadatan tanah
oleh alat berat dan terbakarnya sebagian tanah. Lahan yang terbuka akan

I -6

menyebabkan air yang meresap ke dalam tanah berkurang yang akan berpengaruh
terhadap kuantitas air tanah.
Kegiatan pembukaan lahan dan pemindahan tanah pucuk dengan alat-alat berat ini
diprakirakan akan menimbulkan dampak peningkatan kebisingan, peningkatan kadar
debu dan asap serta akan dihasilkan emisi gas SO2, NOx, dan CO yang dapat
menurunkan kualitas udara. Disamping itu, kegiatan ini juga mengubah kondisi lahan
setempat yang semula sebagian besar merupakan areal lahan hutan atau pertanian
menjadi areal terbuka. Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan suhu dan
kelembaban udara dalam skala mikro di areal rencana kegiatan. Daerah yang terbuka
tersebut diprakirakan akan mempunyai kisaran suhu dan kelembaban yang lebih besar
dibandingkan dengan kisaran sebelumnya. Selain itu akan terjadi penurunan kualitas
air permukaan sebagai akibat terjadinya penigkatan erosi. Pembukaan lahan ini juga
mengakibatkan daerah tangkapan air menjadi berkurang sehingga diprakirakan akan
terjadi penurunan kuantitas air permukaan.
Kegiatan pembukaan lahan untuk infrastruktur diprakirakan juga akan menimbulkan
dampak terhadap komponen biologi. Dengan adanya kegiatan ini, tumbuhan yang
ada dalam tapak kegiatan akan habis dibersihkan sehingga menyebabkan hilangnya
habitat flora dan fauna sehingga menimbulkan dampak terhadap penurunan
kelimpahan dan keanekaragaman flora dan fauna. Area yang bersih dari vegetasi
penutup potensial menimbulkan erosi yang apabila masuk pada badan air sekitar
lokasi kegiatan akan menimbulkan dampak terhadap penurunan densitas dan
diversitas plankton benthos.
Pada tahap kegiatan ini diprakirakan juga akan muncul dampak berupa peningkatan
pendapatan bagi penduduk yang terpilih pada saat dilakukan seleksi penerimaan
tenaga kerja sebagai tenaga kerja untuk pembukaan lahan (land clearing) dan
pemindahan tanah pucuk.

Selain itu kegiatan ini juga akan menimbulkan

dampak berupa terbukanya kesempatan berusaha bagi penduduk yang ingin


memanfaatkannya misalnya untuk membuka warung makan atau menjadi
supplier untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi bagi tenaga kerja land clearing

I -7

pit.

Dengan adanya kesempatan berusaha ini akan dapat memunculkan

dampak berupa pendapatan bagi masyarakat yang mau memanfaatkan peluang


berusaha. Dari pendapatan yang diterima oleh penduduk ini diharapkan
kebutuhan

ekonominya

bisa

terpenuhi,

sehingga

bisa

meningkatkan

kesejahteraan penduduk dan sekaligus memunculkan persepsi positif penduduk.


2) Pengeboran dan Peledakan Batuan/Tanah Penutup
Pada tahap ini akan terjadi perubahan bentuk lahan akibat peledakan menjadi lubanglubang yang berpotensi menjadi tendon air apabila terjadi hujan. Akibat adanya
lubang-lubang maka pola aliran sungai akan terputus atau berpindah yang berdampak
pada terganggunya aliran sungai di bagian hilir. Sebagian overburden akan hancur
dan berdampak terhadap menurunnya kesuburan lapisan tanah penutup.
Kegiatan pengeboran dan peledakan batuan/tanah penutup ini akan muncul dampak
peningkatan kebisingan, debu dan getaran.
Akibat peledakan akan menimbulkan kebisingan yang dapat mengganggu fauna yang
ada disekitarnya. Fauna, terutama burung sangat peka terhadap kebisingan, sehingga
akan terjadi migrasi fauna dan menyebabkan menurunannya kelimpahan dan
keanekaragaman fauna di sekitar kegiatan
Pada tahap kegiatan ini akan muncul juga dampak berupa keresahan masyarakat
akibat kebisingan, asap, debu serta getaran yang muncul saat dilakukan kegiatan
peledakan (blasting). Terjadinya penurunan kualitas udara ini akan dapat
menyebabkan munculnya berbagai pola penyakit yang berkaitan dengan
permasalahan di atas.
3) Pemindahan dan Pengangkutan Tanah Penutup
Pada tahap ini tanah penutup diangkut dan ditimbun pada tempat tertentu untuk
disimpan. Hal ini dapat berdampak terhadap hilangnya/tercecernya tanah dan
menurunnya kualitas tanah akibat penimbunan. Tanah yang ditimbun akan bercampur

I -8

dan mengalami proses oksidasi reduksi yang berdampak terhadap pencucian hara
tanah (penurunan kesuburan tanah).
Dampak yang muncul dari kegiatan ini adalah peningkatan kebisingan dan kadar
debu. Meskipun begitu, dampak ini tidak berpengaruh secara langsung pada
penduduk mengingat rute pengangkutan tidak melalui pemukiman penduduk
Pada tahap kegiatan ini diprakirakan tidak akan muncul dampak secara langsung bagi
penduduk mengingat rute pengangkutan antara lokasi pengambilan dan tempat
pemindahan tanah penutup jauh dari/tidak melewati lokasi permukiman penduduk.
4) Pembangunan, operasi dan pemeliharaan dam dan konstruksi pengalih aliran
permukaan
Pada tahap ini akan terjadi perubahan pola aliran sungai, terputusnya aliran sungai
(sementara) yang akan mengganggu aliran sungai di bagian hilir.
Pembangunan dam diprakirakan akan berdampak terhadap kualitas air sehingga akan
berdampak turunan pada menurunnya densitas dan diversitas biota air (plankton,
benthos)
Disamping itu, pada tahap ini juga diprakirakan akan muncul dampak positif berupa
adanya pendapatan bagi penduduk lokal yang sudah terpilih pada saat dilakukan
seleksi penerimaan tenaga kerja untuk pembangunan, operasi dan pemeliharaan dam
dan konstruksi pengalih aliran permukaan sekaligus bisa membuka peluang berusaha
bagi penduduk lokal yang ingin membuka usaha dengan memanfaatkan keberadaan
aktivitas kegiatan ini (misalnya dengan menjadi supplier bahan makanan, membuka
warung makan atau kantin, dan sebagainya). Terbukanya peluang berusaha ini pada
akhirnya akan dapat memunculkan pendapatan bagi masyarakat, sehingga diharapkan
kebutuhan ekonominya bisa terpenuhi dengan baik dan kesejahteraan hidupnya bisa
menjadi lebih baik dan sekaligus bisa memunculkan persepsi positif masyarakat.
5) PenambanganPertambangan Batubara/Penirisan Asam Tambang
Pada tahap ini akan terjadi perubahan bentuk lahan makro akibat banyaknya lubanglubang tambang (quarry) yang berdampak terhadap perubahan sistem hidrologi air

I -9

tanah dangkal, mungkin terbentuk genangan-genangan air. Adanya lubang tambang


juga berpotensi untuk terjadinya longsoran dinding tambang.
Kegiatan penambanganPertambangan batubara sudah melibatkan semua unsur
pendukung

penambanganPertambangan

seperti

peralatan

berat

untuk

penambanganPertambangan, pengangkutan, yang dikerjakan oleh petugas sesuai


dengan fungsinya. Dampak yang diperkirakan timbul adalah meningkatnya kadar
debu dan kebisingan, serta penurunan kualitas udara karena kegiatan ini akan
menghasilkan emisi gas SO2, NOx, dan CO. Penirisan asam tambang adalah kegiatan
yang diprakirakan akan menurunkan kualitas air permukaan apabila asam tambang
tersebut tidak dikelola dengan benar.
Pada tahap ini diprakirakan akan muncul dampak postif berupa adanya pendapatan
bagi penduduk lokal yang sudah terpilih pada saat dilakukan seleksi penerimaan
tenaga kerja sebagai tenaga penambang, sekaligus juga bisa membuka peluang
berusaha bagi penduduk lokal yang ingin membuka usaha dengan memanfaatkan
keberadaan aktivitas kegiatan penambanganPertambangan ini (misalnya dengan
menjadi supplier bahan makanan, membuka warung makan atau kantin, dan
sebagainya). Terbukanya

peluang berusaha ini pada akhirnya akan dapat

memunculkan pendapatan bagi masyarakat, sehingga diharapkan kebutuhan


ekonominya bisa terpenuhi dengan baik dan kesejahteraan hidupnya bisa menjadi
lebih baik dan sekaligus bisa memunculkan persepsi positif masyarakat.
Selain itu pada tahap ini juga akan muncul dampak negatif berupa terjadinya
keresahan masyarakat karena kekhawatiran penduduk akan terjadinya kebisingan,
peningkatan kadar debu, banyaknya lobang tambang, terjadinya longsoran dinding
tambang, genangan air dalam lobang tambang, penurunan kuantitas dan kualitas air
sekitar tambang yang pada akhirnya bisa menyebabkan munculnya berbagai pola
penyakit tertentu.
6) Pengangkutan Batubara dengan Truk

I -10

Pengangkutan batubara dengan truk melewati haulling road diprakirakan akan


menimbulkan dampak peningkatan kebisingan dan kadar debu. Masyarakat yang
terkena dampak ini terutama adalah para pekerja perkebunan kelapa sawit PT SKI
karena sebagian haulling road PT PKN akan melewati areal perkebunan tersebut.
Debu yang beterbangan akan menutupi permukaan daun pada vegetasi yang ada di
sepanjang jalan yang dilalui kegiatan ini. Dengan tertutupnya permukaan daun oleh
debu ini menyebabkan gangguan fisiologi pada tumbuhan.
Pada tahap kegiatan ini akan muncul juga dampak positif berupa adanya pendapatan
bagi penduduk lokal yang sudah terseleksi dalam perekrutan tenaga kerja sebagai
pengangkut batubara, dan dengan pendapatan yang diperoleh ini diharapkan bisa
meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Selain itu dampak yang akan muncul

adalah resiko kecelakaan karena route dan jalan yang digunakan dalam
pengangkutan batubara ini merupakan jalan yang dibangun khusus untuk
kegiatan ini dan tidak menyatu dengan jalur jalan raya yang dipakai umum,
namun demikian jalur jalan ini melewati perkebunan kelapa sawit PT SKI.
7) Pengolahan dan Penimbunan Batubara
Pengolahan dan penimbunan batubara ini akan menimbulkan dampak peningkatan
kebisingan, peningkatan debu dan penurunan kualitas air sungai. Pada tahap ini,
akibat adanya pengolahan dan penimbunan batubara akan berdampak terhadap
penurunan kualitas air permukaan apabila terjadi hujan dan mencuci sebagian
batubara dan air terlimpas masuk ke badan-badan air.
Timbunan batubara apabila terkena limpasan air hujan akan terjadi leaching masuk ke
sungai dan tambak masyarakat yang lokasinya berdekatan dengan dermaga.
Kandungan FeS dalam batubara akan bereaksi dengan air membentuk H2SO4,
sehingga akan menaikkan keasaman air sungai dan tambak.
Pada tahap ini diprakirakan akan muncul dampak postif berupa adanya pendapatan
bagi penduduk lokal yang sudah terpilih pada saat dilakukan seleksi penerimaan
tenaga kerja sebagai tenaga pengolah batubara, sekaligus juga bisa membuka peluang

I -11

berusaha bagi penduduk lokal yang ingin membuka usaha dengan memanfaatkan
keberadaan aktivitas kegiatan penambanganPertambangan ini (misalnya dengan
menjadi supplier bahan makanan, membuka warung makan atau kantin, dan
sebagainya). Terbukanya

peluang berusaha ini pada akhirnya akan dapat

memunculkan pendapatan bagi masyarakat, sehingga diharapkan kebutuhan


ekonominya bisa terpenuhi dengan baik dan kesejahteraan hidupnya bisa
menjadi lebih baik dan sekaligus bisa memunculkan persepsi positif
masyarakat.
Selain itu pada tahap ini juga akan muncul dampak negatif berupa terjadinya
keresahan masyarakat karena kekhawatiran penduduk akan terjadinya longsoran
timbunan batubara, kebisingan, peningkatan kadar debu, penurunan kualitas udara,
penurunan kualitas air sekitar tambang yang pada akhirnya bisa menyebabkan
munculnya berbagai pola penyakit tertentu.
8) Pengangkutan Batubara dengan Konveyor
Pengangkutan batubara dengan konveyor diprakirakan akan menimbulkan dampak
peningkatan kebisingan, kadar debu dan penurunan kualitas air permukaan.
Pengapalan batubara menggunakan

konveyor diprakirakan dapat menimbulkan

dampak tercecernya batubara ke dalam sungai. Hal ini akan menaikkan keasaman air
sungai dan berubahnya komposisi kation-anion.
Pengangkutan batubara dengan konveyor diprakirakan akan berdampak pada
komponen biologi. Akibat ceceran bahan bakar minyak solar/pelumas dari kapal
pengangkut batu bara melalui sungai diprakirakan akan mempengaruhi kualitas
sungai yang akan berdampak langsung terhadap penurunan kelimpahan dan
keanekaragaman biota sungai.
Pada tahap kegiatan ini juga akan muncul dampak positif berupa adanya pendapatan
bagi penduduk lokal yang sudah terseleksi dalam perekrutan tenaga kerja sebagai
pengoperasi konveyor, dan dengan pendapatan yang diperoleh ini diharapkan bisa
meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Selain itu pada tahap ini juga akan muncul

I -12

dampak negatif berupa terjadinya keresahan masyarakat karena kekhawatiran


penduduk akan terjadinya kebisingan, peningkatan kadar debu, penurunan
kualitas udara dan penurunan kualitas air yang kemungkinan akan
berpengaruh pada kegiatan pertambakan/pertanian penduduk sekitar yang
pada akhirnya dapat menyebabkan munculnya berbagai pola penyakit.
9) Pengoperasian Terminal Batubara
Pengoperasian terminal batubara akan menurunkan kualitas air permukaan karena
pada saat pemuatan batubara ke dalam tongkang dapat terjadi ceceran batubara ke
dalam sungai sehingga akan terbentuk asam sulfat yang menaikkan keasaman air
sungai. Pada tahap ini, akibat adanya pengoperasian terminal batubara akan
berdampak terhadap penurunan kualitas air permukaan apabila batubara tercecer dan
masuk ke badan-badan air. Selain itu, ceceran bahan bakar kapal atau tongkang juga
akan menurunkan kualitas sungai.
Penurunan kualitas air sungai ini akan berpengaruh/berdampak pula terhadap biota
air. Densitas maupun diversitas biota air akan menurun. Disamping itu, pada tahap
kegiatan ini akan muncul dampak positif berupa keterbukaan wilayah karena mulai
dioperasikannya terminal batubara yang bisa diakses dan dijadikan sebagai sarana
untuk saling berhubungan atau berkomunikasi antar daerah/wilayah. Dengan
terciptanya keterbukaan wilayah maka akan berpengaruh terhadap proses
sosial yang terbentuk pada sistem yang ada di dalamnya, selain itu
kemajuan/keterbukaan suatu wilayah akan dapat menciptakan kesempatan
kerja sekaligus peluang untuk berusaha bagi yang bisa memanfaatkannya.
10) Reklamasi Lahan Bekas Tambang
Pada tahap ini bentuk lahan akan berubah ditata secara berteras sesuai dengan
peruntukkannya. Lapisan tanah dikembalikan untuk menutup seluruh bagian atas
lahan bekas tambang. Pada tahap awal akan ditanami tanaman/pohon penutup tanah
yang mempunyai potensi untuk ini mengikat karbon dan nitrogen dari atmosfir. Selain
itu juga dilakukan ameliorasi (pembenahan) tanah yang berdampak terhadap
peningkatan kesuburan tanah.

I -13

Reklamasi bekas lahan tambang diharapkan dapat mengembalikan iklim mikro ke


keadaan semula, sehingga akan terjadi penurunan kisaran suhu dan kelembaban.
Kegiatan reklamasi lahan bekas tambang akan berdampak positif terhadap komponen
biologi yaitu terpeliharanya komunitas flora fauna sehingga akan berdampak terhadap
peningkatan kelimpahan dan keanekaragaman flora dan fauna.
Pada tahap kegiatan ini juga akan muncul dampak berupa terbukanya kesempatan
kerja bagi penduduk sekitar terutama apabila reklamasi lahan bekas tambang yang
dilakukan adalah dalam bentuk penghijauan atau penanaman bibit-bibit tanaman yang
dalam pelaksanaannya banyak membutuhkan tenaga kerja manusia untuk
menanamnya. Adanya kesempatan kerja ini diharapkan akan dapat memunculkan
pendapatan bagi masyarakat yang terlibat pada kegiatan tersebut.
11) Pengoperasian Listrik Tenaga Solar/Uap dan Jaringan Distribusinya
Pada tahap kegiatan ini diprakirakan akan muncul dampak peningkatan kebisingan,
dan penurunan kualitas udara karena pengoperasian pembangkit listrik tenaga solar
dan jaringan distribusinya
Kegiatan pengoperasian listrik tenaga solar/uap akan menimbulkan kebisingan yang
akan berdampak terhadap fauna yaitu terjadi migrasi sehinga akan menyebabkan
menurunannya kelimpahan dan keanekaragaman fauna di sekitar kegiatan. Kegiatan
ini juga berdampak terhadap penurunan kualitas air permukaan yang akan berdampak
turunan pada biota air yaitu terjadi penurunan densitas dan diversitas plankton,
benthos.
Namun demikian, pada tahap kegiatan ini juga akan muncul dampak positif berupa
adanya pendapatan bagi penduduk lokal yang sudah terseleksi dalam perekrutan
tenaga kerja sebagai tenaga pengoperasian listrik dan jaringan distribusinya dan
dengan pendapatan yang diperoleh ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan
hidupnya. Selain itu akan dapat memunculkan persepsi positif masyarakat karena
meskipun tidak secara langsung bisa ikut

menikmati keberadaan listrik beserta

jaringannya ini pada wilayah tempat tinggal mereka, namun paling tidak sudah bisa

I -14

menjangkau jalan akses menuju lokasi pertambangan apabila penduduk memang


ingin mengakses jalan yang melewati lokasi pertambangan.
12) Pengoperasian dan Pemeliharaan Infrastruktur
Pada tahap kegiatan ini akan muncul dampak positif berupa adanya
pendapatan bagi penduduk lokal yang sudah terseleksi dalam perekrutan
tenaga kerja sebagai tenaga pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur dan
dengan pendapatan yang diperoleh ini diharapkan bisa meningkatkan
kesejahteraan hidupnya.
4. TAHAP PASCA OPERASI
1)

Penutupan Tambang
Pada tahap ini bentuk lahan akan berubah sesuai dengan peruntukannya. Akibat
penataan lahan bekas tambang, maka air hujan akan banyak mengalami infiltrasi
(tersimpan dalam tanah) dan muka air tanah dangkal akan naik.
Pada tahap ini juga

akan muncul dampak berupa munculnya persepsi positif

masyarakat karena kegiatan pertambangan telah ditutup sehingga dampak-dampak


negatif yang muncul akibat tambang juga akan ikut hilang/berhenti. Selain itu juga
akan muncul dampak negatif berupa munculnya keresahan masyarakat karena dengan
ditutupnya kegiatan pertambangan berarti akan berhenti pula keterlibatan masyarakat
pada kegiatan tersebut
2)

Reklamasi Akhir
Reklamasi akhir ini diharapkan akan mengembalikan iklim mikro ke keadaan semula,
sehingga akan terjadi penurunan kisaran suhu dan kelembaban. Pada tahap ini bentuk
lahan akan ditata sesuai peruntukannya. Setelah lapisan tanah penutup dikembalikan
ke permukaan lahan tambang dan telah dilakukan penanaman tanaman penutup tanah,
maka secara berangsur kesuburan tanah akan meningkat. Akibat adanya tanaman
penutup, maka air hujan tidak banyak yang terlimpas (run off), sebaliknya akan
mengalami infiltrasi, erosi tanah berkurang dan siklus hidrologi akan membaik.

I -15

Kegiatan ini akan berdampak positif terhadap komponen biologi yaitu terpeliharanya
komunitas flora fauna sehingga akan berdampak terhadap peningkatan kelimpahan
dan keanekaragaman flora dan fauna.
Pada tahap ini diprakirakan akan muncul juga dampak berupa persepsi positif
masyarakat karena lahan yang tadinya merupakan bekas lahan pertambangan akan
bisa difungsikan kembali untuk kegiatan lain yang bisa bermanfaat bagi masyarakat,
selain itu kegiatan ini juga merupakan bukti pertanggungjawaban yang dilakukan oleh
pemrakarsa untuk berusaha memulihkan kembali lahan yang sudah dieksploitasi
untuk kegiatan pertambangan.
3) Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang
Pada tahap ini, pemanfaatan lahan bekas tambang disesuaikan dengan RTRW
Kabupaten Bulungan dan potensi alamiah lahan. Banyak peluang pemanfaatan,
misalnya untuk perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, dan
sebagianya. Secara prinsip, agar terjamin kelestariannya, pemanfaatan lahan bekas
tambang tidak boleh melebihi potensi alamiahnya berdasarkan hasil evaluasi
komponen sumberdaya lahan. Pada tahap ini bentuk lahan akan tertata, secara
bertahap kesuburan tanah akan meningkat, run off menurun, erosi menurun, infiltrasi
meningkat dan iklus hidrologi membaik.
Pemanfaatan lahan bekas tambang untuk penghijauan tentunya akan berdampak
positif terhadap komponen biologi yaitu terpeliharanya komunitas flora fauna
sehingga akan berdampak terhadap peningkatan kelimpahan dan keanekaragaman
flora dan fauna.
Pada tahap kegiatan ini akan muncul juga dampak berupa persepsi positif masyarakat
karena lahan bekas pertambangan sudah bisa difungsikan kembali untuk kegiatan lain
yang bermanfaat bagi masyarakat, dan tidak dibiarkan gersang begitu saja.
4) Pemutusan Hubungan Kerja

I -16

Pada tahap ini diprakirakan akan muncul dampak berupa keresahan masyarakat bagi
penduduk yang tidak memiliki pekerjaan lain selain keterlibatannya di dalam kegiatan
penambanganPertambangan. Kegiatan ini juga potensial menimbulkan konflik sosial
apabila pemutusan hubungan kerja dilakukan tidak sesuai dengan peraturan yang
berlaku dan sesuai dengan kontrak kerja yang sudah disepakati sebelumnya.
Selain itu adanya pemutusan hubungan kerja akan mengakibatkan hilangnya
kesempatan kerja dan sekaligus hilangnya pendapatan masyarakat, karena
penduduk yang biasa mendapatkan gaji atau upah tetap dengan bekerja di
penambanganPertambangan akan terhenti upahnya karena sudah tidak bekerja lagi.
5)

Pembongkaran/Pemindahan Infrastruktur Tambang


Pada tahap kegiatan ini juga akan muncul dampak berupa terbukanya kesempatan
kerja bagi penduduk sekitar lokasi tambang untuk bisa ikut terlibat dalam kegiatan
pembongkaran dan pemindahan infrastruktur tambang. Adanya kesempatan kerja ini
diharapkan akan dapat memunculkan pendapatan bagi masyarakat yang terlibat pada
kegiatan tersebut. Selain itu juga akan memunculkan persepsi positif masyarakat
karena lahan yang ada di sekitar penduduk sudah bersih kembali karena infrastruktur
tambang yang tadinya dibangun untuk kegiatan pertambangan sudah dibongkar dan
dipindahkan dari lokasi sebelumnya.
Berdasarkan uraian rencana kegiatan tersebut di atas yang sudah dilinkup kedalam

4 tahapan yaitu Tahap Persiapan, Tahap Konstruksi, Tahap Operasi dan Tahap Pasca
Operasi, coba identifikasikan Dampak Potensial daan Dampak penting hipotetis. Dari
dampak-dampak penting hipotetis tersebut. Dari dampak penting hipotetis yang muncul,
buatlah dalam bentuk Tabel Rencana Pengelolaan Ligkungan dan Rencana Pemantauan
Lingkungan sesuaai dengan proedur yang ada dalam Lampiran III Permen LH No. 16
tahun 2012.

I -17