Anda di halaman 1dari 10

Menjadi hamba kepada

dunia dan bertuhankan


nafsu
Mereka mempertaruhkan seluruh usaha dan fikirannya untuk
mengejar bayang kemewahan dunia, tidak memperdulikan
bagaimana dia mendapatkan apa yang dia hajatkan, apakah
dengan menengadahkan kedua tangan, memujuk rayu,
menipu ataupun memaksa

Menjadi hamba kepada


dunia dan bertuhankan
nafsu

Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian dan


hamba mode. Jika diberi, ia ridho. Namun jika tidak diberi, ia pun
tidak ridho. (HR. Bukhari no. 6435)

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi


wa sallam bersabda, Seandainya manusia diberi lembah penuh
dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua
semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan
lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan
dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang
bertaubat. (HR. Bukhari no. 6438)

Menjadi hamba kepada


dunia dan bertuhankan
nafsu

Rasulullah SAW pernah bersabda yang maksudnya: Hari kiamat


telah hampir dan manusia masih lagi bertambah tamak kepada
dunia dan bertambah jauh dengan Allah. (Hadis riwayat Tirmizi,
Ibnu Majah dan Hakim).
Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih
menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia
barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima
taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat. (HR. Bukhari no.
6437)

Menjadi hamba kepada


dunia dan bertuhankan
nafsu

Tamak diibaratkan sebagai benih yang menumbuhkan pohon


kehinaan. Dahan-dahan kehinaan akan menjalar dan terhulur ke
sana ke mari, sehingga akan semakin bercabang kepada penyakit
lainnya, penyakit tamak akan mengikis perasaan malu dan
menghapuskan harga diri, dia menjadi hina dalam pandangan
makhluk dan lebih buruk lagi kedudukannya di sisi Allah SWT
Orang yang tamak dalam mencari kesenangan duniawi, sanggup
melakukan apa saja asalkan tujuannya tercapai, walaupun
perbuatan itu bertentangan dengan syariat. Sikap tamak
meletakkan urusan mencari kekayaan dan kedudukan dengan jalan
keterlaluan dan terdorong melakukan perbuatan salah

Yang dinamakan dunia (harta, kemewahan. pangkat dan jabatan)


itu semua sedikit tidak ada nilainya, adapun orang-orang yang
selalu asyik dan terlena kepadanya (dunia), maka ia termasuk

Menjadi hamba kepada


dunia dan bertuhankan
nafsu

Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang
di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk
tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian.
(Hadits riwayat Muslim).
Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun
kekayaan (yang hakiki) adalah hati yg selalu merasa cukup. (HR.
Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Menjadi hamba kepada


dunia dan bertuhankan
nafsu

orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia
meminum air laut, semakin bertambah rasa dahaganya.
Maksudnya, bertambahnya harta tidak akan menghasilkan
kepuasan hidup karena keberhasilan dalam mengumpulkan harta
akan menimbulkan harapan untuk mendapatkan harta benda baru
yang lebih banyak.
Orang yang tamak senantiasa lapar dan dahaga kehidupan dunia.
Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa
lapar dan dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jadi,
mereka sebenarnya tidak dapat menikmati kebaikan dari apa
yang dimiliki, tetapi sebaliknya menjadi satu bebanan hidup.
Selanjutnya, kehidupannya hanya disibukkan untuk terus
mendapat apa yang diinginkannya, karena orang tamak lupa
tujuan sebenarnya amanah hidup di dunia ini. Mereka tidak peduli

Menjadi hamba kepada


dunia dan bertuhankan
nafsu

orang tamak tidak pernah merasa dirinya sebagai hamba-Nya.


Sebaliknya, mereka menjadi hamba kepada dunia dan bertuhankan
nafsu. Mereka mempertaruhkan seluruh usaha dan fikirannya untuk
mengejar bayang kemewahan dunia
Orang tamak senantiasa tidak puas dan cukup dengan apa yang
dimiliki. Sikap terlalu cintakan kebendaan dan kemewahan
mendorong perasaan untuk memiliki semua apa yang ada di dunia
ini. Orang-orang ini sekalipun secara lahiriyah memiliki segalanya,
tetapi bathinnya kosong dan selalu tidak puas dengan pemberian dan
anugerah Allah SWT
Orang tamak itu fakir hatinya, walaupun ia memiliki dunia beserta
Si
tamak tidak memperdulikan bagaimana dia mendapatkan apa yang
isinya
dia hajatkan, apakah dengan menengadahkan kedua tangan,
memujuk rayu, menipu ataupun memaksa

Mengobati
nya

Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang


yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian
untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada
kalian. (Hadits riwayat Muslim).
( Qs Asy Syuraa ayat 20) Barang siapa yang menghendaki
keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya,
dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami
berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada
baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Mengobati
nya

Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang


yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian
untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada
kalian. (Hadits riwayat Muslim).

Adapun dalam urusan akhirat, maka hendaklah setiap muslim


berlomba-lomba untuk mencapai derajat kedudukan tertinggi.
Penopang urusan ini adalah sabar dan membatasi harapan serta
menyadari bahwa sasaran kesabarannya di dunia hanya
berlangsung tidak seberapa lama untuk mendapatkan kenikmatan
yang abadi, seperti orang sakit yang harus menunggu pahitnya
obat saat menelannya, karena dia mengharapkan kesembuhan
selama-lamanya.
Karena itu wahai penempuh Jalan Ilahi, hendaknya anda
menghilangkan hasrat harapanmu kepada sesama makhluk, dan
jangan membuat dirimu hina di hadapan mereka, dalam soal rizki,