Anda di halaman 1dari 3

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

Identitaspasien ;
Nama

: Ny. S

Usia

: 68 tahun

No. RM

: 14.39.93

Alamat

: Jl. PanglimaSudirman gg 1/12

Tggl

: 9 Maret 2015

Jam

: 00.15
1. Subyektif : Pasien mengeluh nyeri dada sebelah kiri di tempat yang seharusnya

diwaspadai sebagai sindroma koroner akut dan gastritis kronis. Dari anamnesis pasien,
keluhan nyeri dada lebih mengarah ke SKA, istilahnya nyeri dada tipikal, yaitu nyeri
dada yang sangat hebat, tembus ke punggung, menjalar ke lengan, daripada ke gastritis
akut. Demikian juga dengan riwayat penyakit dahulu dan obat obatan yang diminum
2. Obyektif : hasil pemeriksaan jasmani dan ekg, menunjukkan dugaan ke arah SKA
semakin besar. Dari EKG juga bisa diketahui bahwa SKA yang diderita pasien termasuk
STEMI. Hal ini didasarkan pada
a. Gejala klinis yaitu nyeri dada tipikal pada orang berisiko tinggi
b. Gambaran STEMI pada V2, V3, V5
c. Riwayat penyakit dahulu dan obat obatan yang rutin diminum
3. Assesment : Nyeri dada berasal dari rangsangan yang diterima ujung syaraf sensoris pada otot
otot jantung yang mengalami iskemi karena kekurangan oksigen akibat aliran darah yang tidak
lancar. Hal ini bisa terjadi bisa karena terdapat penyumbatan sebagian maupun penyumbatan total
pada arteri koroner. Semakin tesumbat, maka resiko iskemi yang terjadi semakin besar. Dan
semakin besar juga resiko terjadi infark jantung. Pada pasien terdapat STEMI, artinya terjadi
infark akut, disebabkan telah terbentuk sumbatan yang terjadi belum lama ini. Pada pasien seperti
ini tindakan yang paling tepat adalah memberikan obat untuk menghancurkan sumbatan pada
arteri koroner sehingga proses infark tidak meluas. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah
pemberian analgetik dan beta bloker selektif, dengan maksud mencegah pasien tidak terlalu nyeri
yang bisa mengakibatkan stress sehingga mempercepat proses terjadinya infark jantung.
Sedangkan beta bloker selektif berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah arteri koroner secara

signifikan. Demikian juga ISDN, yang termasuk vasodilator. Hal ini harus dilakukan secepat
mungkin, agar kerusakan jaringan jantng dapat dicegah sebanyak mungkin. Oleh karena itu,
sediaan ISDN diminum secara khusus, yaitu digerus lalu diletakkan di bawah lidah. Hal ini
menyebabkan ISDN diserap oleh tubuh lebih cepat. Namun, ISDN seringkali menyebabkan
tekanan darah rendah. Oleh karena itu, harus dipastikan sebelum pemberian ISDN pasien
memiliki tekanan darah yang normal atau cukup tinggi. Hal ini karena tekanan darah yang terlalu
rendah pada pasien ini dapat memperberat gangguan perfusi jaringan
4. Plan
a. Diagnosis : diagnosis pada pasien ini sangat mungkin mengarah ke STEMI, karena dari
3 syarat untuk disebut STEMI, terdapat 2 syarat yang terpenuhi. Yaitu syarat gejala klinis
dan yang kedua hasil EKG. Sebenarnya perlu dilakukan pemeriksaan enzim jantung,
akan tetapi di sana tidak terllalu penting
b. Pengobatan : penggunaan ISDN dan bisoprolol saja tidak mencukupi untuk
mempertahankan kerja jantung yang normal. Oleh karena itu, begitu sampai di UGD,
harus segera mendapat terapi standar untuk SKA, yaitu MONACO. Morfin, Oksigenasi,
ISDN, Aspirin, Clopidogrel
c. Pendidikan : segera menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit yang dialami pasien
adalah penyakit darurat, dengan segala resiko yang bisa terjadi, harus diterima dengan
baik oleh ibunya. Keluarga pasien juga didorong untuk bersedia dirujuk ke RS lain yang
lebih lengkap peralatannya seperti ICU agar terjadi perbedaan
d. Konsltasi
: dijelaskan secara rasional perlunya penangan intensif pada pasien. Hal
ini agar keluarga pasien tidak berharap bahwa pasien bisa sembuh total dari penyakitnya.
Kelurga pasien harus mendapat informasi yang sesunggunya demi keamanan tindakan
pelayanan medis yang didapatkan pasien.

No

Kegiatan

Periode

1 Inform cconcent

Awal di UGD

ulkus gasritis

3 Morphine inj.
4 Aspilet tab

severe pain
mild - moderate
pain

5 Clopidogrel tab
6 ISDN

SKA
SKA

Hasil yang diharapkan


Keluarga pasien dapat
menerima keadaan yang terjadi
dian tidak berlanjut menjadi
semakin parah
1 ampul (50mg), maksima
l 4 kali sehari
5 - 20 mg maksimal 4 kali
sehari
325 - 625 mg maksimal 6 kali
sehari
75 mg sekali sehari maksimal
28 hari
2.5 mg saat serangan