Anda di halaman 1dari 8

Microalgal lipids biochemistry and biotechnological perspectives

Biokimia Lipid Mikroalga dan Perspetif Bioteknologi


Pendahuluan
Mikrolaga merupakan mikroorganisme fotosintetik yang memiliki peran
penting dalam mensuplai bahan organik dan molekul spesifik di ekosistem alam,
seperti polyunsaturated fatty acids (PUFAs), yang berguna untuk organisme
lainnya yang lebih tinggi darinya. Aplikasi mikroalga digunakan untuk nutrisi
manusia dan hewan, untuk kosmetik dan produksi molekul yang memiliki nilai
ekonomis. Perkembangan aplikasi mikroalga bermula pada abad ke 20. Dalam
artikel review ini dibahas mengenai pengetahuan yang up-to-date dalam
biosintesis lipid, mikroalga, berbagai aplikasi bioteknologi dan perspektif dimasa
depan mengenai lipid mikroalga yang disajikan dan dibahas secara komprehensif.
Pengambilan pertimbangan analisis techno-ekonomi menyimpulkan bahwa
kandungan lipid alga merupakan faktor paling penting yang mempengaruhi
kelangsungan hidup pada aplikasi skala besar, terutama yang berkaitan dengan
biodiesel, selain itu juga dibahas mengenai rekaya genetik dalam produksi lipid
alga.
Lipid Mikroalga pada Garis Terdepan Bioteknologi Lipid
Beberapa spesies mikroalga dapat mengakumulasi lipid dalam jumlah
yang cukup, oleh karenanya dikarakterisasi sebagai oleaginous (mengandung
minyak/lipid). Kandungan lipid dalam mikroalga dapat mencapai 80% dari
biomassa kering, tetapi pada kasus lain produktivitas lipid sebenarnya rendah.
Seperti pada genus Porphyridium, Dunaliella, Isochrysis, Nannochloropsis,
Tetraselmis, Phaeodactylum, Chlorella dan Schizochytrium, memiliki kandungan
lipid yang bervariasi antara 20 dan 50%. Namun, akumulasi lipid yang lebih
tinggi dapat dicapai dengan memvariasikan kondisi kultur. Kandungan lipid dan
komposisi sel alga dapat dipengaruhi oleh suhu, radiasi dan, sebagian besar
ketersediaan unsur hara. Mikroalga merupakan sumber primer dari PUFAs yang
memiliki potensi dalam nutrisi dan pharmaceutical. Organisme lain yang juga
memiliki kandungan PUFAs, biasanya diperoleh melalui bioakumulasi dari rantai
makanan, dapat dilihat pada gambar 1. Beberapa mikroalga dapat memsintesis
omega-3-rantai panjang PUFAs, dengan kadar diatas 20% dari total lipid. Pada sel
alga, PUFAs dibentuk melalui proses esterifikasi dengan alkohol, biasanya
gliserol, generating triacylglycerols (TAGs) atau lipid polar (seperti phospolipid,
glikolipid). Selain memproduksi lipid, mikroalga juga dapat memproduksi produk
metabolit yang memiliki nilai tinggi seperti beta-carotene dan astaxanthine.
Lipid mikroalga sangat berpotensi sebagai bahan baku biodiesel sehingga
dapat menguntungkan bagi industri. Mikroalga menawarkan sejumlah keuntungan
pada perspektif industri. Beberapa keuntungannya yaitu kultur mikroalga yang
sederhana, peningkatan efisiesnsi fotosintesis dan tingkat pertumbuhan, biomassa

dan produktivitas minyak yang lebih tinggi dibanding tanaman teresterial, serta
fikasasi CO2 dan rilis O2 yang lebih tinggi. Produksi minyak dari alga dapat
mencapai 200 kali dari minyak tanaman. Selain itu, harag biodiesel dari alga lebih
mahal dibanding tanaman, begitu juga dengan fosil yang sangat murah.

Gambar 1. Produksi biomassa mikroalga dan transfer polyunsaturated fatty acids (PUFAs) ke
manusia, melalui rantai makanan atau konsumsi suplemen mikroalga.

Metabolisme Lipid
Mikroalga mengakumulasi lipid pada saat lingkungan tidak mendukung
(menyebabkan stres), seperti pada saat ketersediaan nitrogen dan phospat terbatas.
Biosintesis asam lemak dan modifikasi (baik elongasi dan desaturasi), serta
katabolisme lipid mikroalga belum berjalan semurna (tidak sesuai harapan).
Sehingga sangat penting untuk mempelajari lebih mendalam mengenai
metabolisme lipid mikroalga.
Biosintesis dan Pergantian Lipid
Melalui fotosintesis CO2 diubah menjadi glycerate-3-fosfat (G3P). Molekul ini
merupakan prekursor dari beberapa bahan yang disimpan, seperti polisakarida dan
lipid. Konversi G3P menjadi piruvat dan setelah itu menjadi asetil-CoA, melalui
reaksi katalis oleh pyruvate dehydrogenase complex (PDC), memulai jalur
biosintesis lipid, yang terdapat dalam plastid. Asetil-CoA juga dapat dihasilkan
melalui jalur biokimia yang memungkinkan mengkonversi polisakarida menjadi
lipid. Jalur ini biasanya digunakan oleh heterotrof oleaginous selama asimilasi
gula. Proses tersebut dapat dilihat pada gambar 2. Namun, beberapa tekanan

lingkungan, seperti nitrogen atau fosfat yang terbatas, dapat mengganggu siklus
asam sitrat (yaitu dengan menghambat NAD+ -isocitrate dehidrogenase)
menyebabkan akumulasi sitrat dalam mitokondria dan kemudian dieksresikan
dalam sitosol. Sitosolik ATP-dependent liase sitrat mengubah sitrat ke
oksaloasetat dan asetil-CoA; kemudian diubah menjadi malonil-CoA oleh
sitosolik asetil-CoA karboksilase (ACC) dan dapat digunakan untuk elongasi
asam lemak di membran retikulum endoplasma (RE). Meskipun biosintesis asetilCoA dianggap penting, akan tetapi yang melakukan langkah dalam biosintesis
asam lemak adalah karboksilasi asetil-CoA untuk membentuk malonil-CoA,
reaksi dikatalisis oleh ACCs yang terletak di plastid atau dalam sitosol (gambar
2). Pada alga, ACCs ada dalam dua bentuk yang berbeda, heteromerik dan
homomerik. Meskipun umumnya bentuk heteromerik adalah salah satu plastid
alga, disisi lain penelitian menyebutka bahwa hal tersebut tidak terjadi pada
semua alga, sebab ACCs tergantung pada asal plastid.

Gambar 2. Skema sintesis lipid pada mikroalga

Biosintesis PUFA

Sintesis rantai panjang asam lemak tak jenuh membutuhkan elongases dan
desaturases spesifik, yang bertindak pada palmitat, stearat dan asam oleat.
Elongasi asam lemak terjadi di kedua plastida dan ER yang membutuhkan asilCoA dan malonil-CoA sebagai substrat ditambah 1 molekul ATP dan 2 molekul
NADPH per C2-unit elongasi rantai karbon. Sintesis rantai sangat panjang PUFA,
seperti asam arakidonat (ARA), eicosapentaenoic (EPA) dan docosahexaenoic
(DHA) umumnya terjadi pada sebagian besar spesies laut termasuk mikroalga

seperti P. tricornutum, N. salina, N. gaditana, Isochrysis galbana, Pavlova salina,


dan Tetraselmis sp. Desaturases adalah mengkhususkan lokasi, jumlah dan
stereokimia ikatan ganda asam lemak. Implikasi dari desaturases dalam biosintesis
rantai sangat panjang PUFAs tidak hanya pada mikroorganisme heterotrofik tetapi
juga dalam dinding mikroalga.

Rekayasa Genetik untuk mengatur metabolisme sintesis lipid

Banyak analisis tekno-ekonomi menunjukkan bahwa faktor paling penting yang


mempengaruhi biaya produksi lipid mikroalga yaitu kolam dan sistem PBR yang
terbuka, kadar lemak dalam sel alga berbanding dengan laju pertumbuhan
spesifik. Untuk meningkatkan tingkat pertumbuhan, upaya difokuskan pada
konstruksi strain dengan peningkatan efisiensi fotosintesis. Efisiensi fotosintesis
dapat mempengaruhi sintesis lipid, sehingga dibutuhkan strategi khusus seperti
meningkatkan liposynthetic machinery. Strategi ini menargetkan produksi protein
berlebih yang mana terlibat dalam langkah awal sintesis asam lemak, sehingga
dapat meningkatkan ketersediaan molekul prekursor, seperti asetil-CoA dan
malonil-CoA. Pendekatan rekayasa genetik pada mikroalga baik dalam
pertumbuhan dan konsekunsi mereka, merupakan usaha awal yang telah
dilakukan dengan tingkat kesuksesan rendah. Sehingga wajib kiranya lebih
memahami mengenai biosintesis asam lemak alga. Mengingat overekspresi gen
yang terlibat dalam sintesis asam lemak masih memiliki tingkat kesuksesan
rendah, penelitian difokuskan pada enzim lain yang terlibat dalam bioseintesisi
acylglycerols (baik dalam penyimpanannya dan strukturalnya). Kecenderungan
mikroalga oleaginous dalam mensintesis selain senyawa lipid seperti pati dapat
menjadi kompetitor dalam produksi lipid, sehingga perlu dihalangi agar hasil lipid
jauh meningkat.

Perspektif Bioteknologi Lipid Mikroalga

Produksi lipid mikroalga (sebagai sumber PUFAs atau bahan baku


pembuatan biodiesel) dapat dilakukan melalui proses tertentu atau
pengkombinasian dengan produksi produk metabolit mikroalga lainnya yang
memiliki potensi pharmaceutical dan nutritional, atau dengan eksploitasi biomassa
alga yang diproduksi selama treatment air limbah. Evaluasi dari berbagai sistem
yang digunakan untuk produksi minyak dari mikroalga dapat dilihat pada tabel 1.
PBRs jenis tertutup (yaitu tubular, panel) dapat digunakan untuk produksi
komersial pigmen seperti beta-karoten, astaxanthin dari D. salina dan H. pluvialis.
Mikroalga dapat dibudidayakan dengan autotrophically, heterotrophically atau
mixotrophically. Budidaya mixotrophic merupakan pendekatan yang paling
menjanjikan karena dalam hal ini mikroalga menggunakan kedua jalur
phototrophic dan heterotrofik secara bersamaan. Laju pertumbuhan spesifik dari
mixotrophic mikroalga dewasa dapat diperkirakan sebagai jumlah dari tingkat

pertumbuhan spesifik sel tumbuh, di bawah kondisi phototrophic dan heterotrofik.


Selanjutnya, pertumbuhan di bawah kondisi mixotrophic dapat mengatasi masalah
invasi cahaya. Namun, sistem budidaya semacam ini dapat menyebabkan
kemungkinan kontaminasi, yang mengganggu pertumbuhan alga. Sehingga, jenis
PBRs tertutup lebih disukai daripada kolam terbuka.
Tabel 1. Teknik dan ekonomi assesment sistem kultur mikroalga.

Pembentukan PUFAs pada Lipid Mikroalga dan Aplikasinya di Bidang


Industri
Mikroalga kelas berbeda mungkin memiliki komposisi asam lemak
tertentu yang umumnya diakui sebagai kelompok tertentu. Diatom
(Bacillariophyceae) mampu mensintesis asam palmitoleic (C16: 1) dan EPA
dalam jumlah tinggi, sedangkan beberapa mutan juga dapat menghasilkan ARA.
Daftar spesies mikroalga dan kandungan PUFAs dapat dilihat pada tabel 2.
PUFAs memiliki peranan penting dalam kesehatan manusia seperti pengobatan
dan pencegahan inflamasi, aterosklerosis, trombosis, arthritis dan berbagai kanker.
EPA dan DHA juga memiliki fungsi untuk mengatur koagulasi, metabolisme
lipoprotein, tekanan darah, dan fungsi endotel dan trombosit. Secara khusus,
PUFA juga penting untuk pertumbuhan dan kinerja retina, otak, jaringan
reproduksi dan untuk kesehatan jantung.
Tabel 2. Komposisi Asam Lemak pada Mikroalga dengan Kelas Berbeda

(Lanjutan)

Lipid Mikroalga sebagai Bahan Baku Pembuatan Biodiesel


Mikroalga merupakan sumber biodiesel yang sangat baik dibandingkan
dengan tanaman, karena mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik paling
cepat tumbuh. Selain itu, mereka dapat bertahan pada kondisi pH dan suhu yang
ekstrim, serta menggunakan CO2 dengan lebih efisien dalam proses fotosintesis.
Dalam pembudidayaan mikroalga tidak membutuhkan lahan yang luas, dan
mereka menghasilkan minyak biodiesel yang lebih banyak daripada biji tanaman
saat menggunakan air dan lahan yang minimum. Produktivitas lipid mikroalga
melebihi produktivitas minyak terbaik yang diproduksi oleh tanaman minyak, hal

tersebut menunjukkan bahwa alga memberikan hasil biodiesel maksimal, dengan


demikian mereka mungkin dapat memproduksi hingga 200 kali minyak per unit
dibandingkan dengan kedelai.

Kombinasi Produksi lipid Mikroalga


Penurunan biaya produksi lipid mikroalga dapat dicapai dengan cara
menggabungkan produksi lipid dengan aplikasi lain. Konsep pengabungan
produksi lipid diilustrasikan pada gambar 3. Mikroalga yang digunakan dalam
berbagai aplikasi komersial seperti peningkatan nilai gizi makanan dan pakan
hewan, dalam budidaya dan industri farmasi, dll. Senyawa seperti beta-karoten
dan polisakarida, yang diproduksi secara komersial oleh berbagai spesies
mikroalga, memberikan peran penting dalam pembuatan beberapa suplemen
terapi, selain itu juga memungkinkan penggunaan mikroalga dalam produksi
komersial kosmetik. Mikroalga juga memiliki aplikasi di bidang bioteknologi
lingkungan karena dapat digunakan sebagai bioremediasi limbah cair dan untuk
memantau keracunan di lingkungan.

Gambar 3. Konsep kombinasi produksi lipid dan metabolit lain yang memiliki nilai tinggi,
seperti polisakarida, protein, dan pigmen.

Kombinasi Produksi Lipid dan Produk Pharmaceutical


Mikroalga menjadi pusat perhatian, sebab dapat digunakan sebagai sumber
yang kaya molekul bioaktif dan berpotensi untuk kepentingan industri farmasi
dan kosmetik. Gabungan produksi produk bioaktif dan lipid, dapat saling

mendukung satu dengan yang alin. Senyawa hidrofobik dapat diekstraksi


secara bersamaan dengan lipid dan kemudian dimurnikan, sedangkan senyawa
hidrofilik seperti protein dan gula dapat diekstraksi dari biomassa yang
dihilangkan lemaknya. Cosmeceuticals alami dari alga dapat diaplikasikan
pada kulit manusia. Protein alga atau derivatnya dapat digunakan dalam
perbaikan kulit dan produk penyembuhan. Selain itu, manfaat alga juga dapat
sebagai anti-iritasi, imunostimulan, antioksidan, anti-penuaan dan anti
inflamasi. Beberapa senyawa aktif yang memiliki nilai ekonomi dari mikroalga
yaitu karotenoid, astaxanthin, allophycocyanin, phycocyanin, fenol,
acetogenins, terpen, indoles, dll. Senyawa tersebut memiliki aktivitas sebagai
antijamur, antiprotozoal, antivirus, saraf, antiplasmodial, antimikroba, antiinflamasi dan antioksidan. Pigmen mikroalga merupakan senyawa yang aman,
ramah lingkungan dan memiliki banyak kegunaan terapeutik termasuk dalam
pencegahan dan pengobatan penyakit akut dan kronis, rheumatoid arthritis,
aterosklerosis, gangguan saraf, katarak dan distrofi otot. Selain itu juga banyak
manfaat mikroalga yang lain.
Lipids sebagai Co-Product pada Aplikasi Lingkungan
Mikroalga, terutama mikroorganisme autotrofik mampu memperbaiki CO2 dari
sumber yang berbeda, seperti atmosfer, gas buang industri (misalnya gas buang
dan pembakaran gas) atau menggunakan bentuk tetap CO2 (misalnya NaHCO3
dan Na2CO3). Oleh karena itu, banyak aplikasi bioteknologi yang dapat
dilakukan dengan menggunakan mikroalga dalam keamanan lingkungan dan
pemeliharaannya, seperti bioremediasi, bioassay dan bio-monitoring toxicants.
Beberapa mikroalga oleaginous, berpotensi dalam produksi biodiesel, dapat
digunakan dalam treatment air limbah. Beberapa spesies juga dapat digunakan
untuk treatment air beracun. Seperti cintoh sistem kolam, yang menggunakan
C. vulgaris sebagai bahan biologis, menunjukkan efisiensi dalam pengelolaan
limbah cair yang mengandung kontaminan beracun. Produksi biomassa minyak
dalam reaktor bisa lebih menaikkan produksi biodiesel.