Anda di halaman 1dari 13

BUKTI AUDIT

A. Hakekat Bukti Audit


Bukti Audit merupakan segala informasi yang mendukung angka-angka atau
informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh
auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya. Bukti audit yang mendukung
laporan keuangan terdiri dari data akuntansi dan semua informasi penguat
(corroborating information) yang tersedia bagi auditor.
Informasi ini sangat bervariasi sesuai kemampuannya dalam meyakinkan auditor
bahwa laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Bukti audit mencakup informasi yang sangat persuasif, misalnya
perhitungan auditor atas sekuritas yang diperjualbelikan dan informasi yang kurang
persuasif, misalnya respons atas pertanyaan pertanyaan dari para karyawan klien.
Penggunaan bukti bukan hal yang aneh bagi auditor. Bukti juga digunakan secara
ekstentif oleh para ilmuwan, pengacara dan ahli sejarah.
Buku harian, buku besar dan buku pembantu, memo, dan catatan tidak resmi
seperti daftar lembaran kerja (work sheet) yang mendukung alokasi biaya, perhitungan
dan rekonsiliasi secara keseluruhan merupakan bukti yang mendukung laporan
keuangan. Informasi pendukung lainnya meliputi semua dokumen seperti cek, faktur,
surat kontrak, notulen rapat, konfirmasi dan pernyataan tertulis dari pihak yang
kompeten, informasi yang diperoleh auditor melalui tanya jawab, pengamatan, inspeksi
dan pemeriksaan fisik, serta informasi lain yang dihasilkan atau tersedia bagi auditor
yang memungkinkannya untuk menarik kesimpulan dengan alasan kuat.
Bukti audit merupakan suatu konsep yang fundamental di dalam audit, dan hal itu
dinyatakan dalam standar pekerjaan lapangan ketiga. Ikatan Akuntan Indonesia (2001 :
326 pr. 1) menyatakan bahwa : Standar pekerjaan lapangan ketiga berbunyi : Bukti
audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan
pernyataan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat
atas laporan keuangan auditan.
B. Keputusan Bahan Bukti Audit
Keputusan utama yang dihadapi para auditor adalah menentukan jenis dan jumlah
bukti audit yang tepat untuk dikumpulkan agar dapat memberikan keyakinan yangt

memadai bahwa berbagai komponen dalam laporan keuangan serta dalam


keseluruhan laporan lainnya telah disajikan secara wajar.
Berbagai keputusan auditor dalam pengumpulan bukti audit dapat dipilah kedalam
empat sub keputusan berikut ini:
1.
2.
3.
4.

Prosedur-prosedur audit apakah yang akan digunakan


Ukuran sampel sebesar apakah yang akan dipilih untuk prosedur tertentu
Item-item manakah yang akan dipilih dari populasi
Kapankah berbagai prosedur itu akan dilakuka
Prosedur audit adalah instruksi rinci untuk mengumpulkan tipe bukti audit tertentu

yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit. Adapun prosedur audit yang biasa
dilakukan oleh auditor meliputi:
1. Inspeksi
Merupakan pemeriksaan secara rinci terhadap dokumen dan kondisi fisik
sesuatu.
2. Pengamatan (observation)
Pengamatan atau observasi merupakan prosedur audit untuk melihat dan
menyaksikan suatu kegiatan.
3. Permintaan Keterangan (enquiry)
Merupakan prosedur audit yang dilakukan dengan meminta keterangan secara
lisan.
4. Konfirmasi
Konfirmasi

merupakan

bentukpenyelidikan

yang

memungkinkan

auditor

memperoleh informasi secara langsung dari pihak ketiga yang bebas.


5. Penelusuran (tracing)
Penelusuran terutama dilakukan pada bahan bukti dokumenter. Dimana
dilakukan mulai dari data awal direkamnya dokumen, yang dilanjutkan dengan
pelacakan pengolahan data-data tersebut dalam proses akuntansi.
6. Pemeriksaan bukti pendukung (vouching)
Pemeriksaan bukti pendukung (vouching) merupakan prosedur audit yang
meliputi; Inspeksi terhadap dokumen-dokumen yang mendukung suatu transaksi
atau

data

keuangan

untuk

menetukan

kewajaran

dan

kebenarannya.

Pembandingan dokumen tersebut dengan catatan akuntansi yang berkaitan.


7. Perhitungan (counting)

Prosedur audit ini meliputi perhitungan fisik terhadap sumberdaya berwujud


seperti kas atau sediaan tangan, pertangungjawaban semua formulir bernomor urut
tercetak.
8. Scanning
Scanning merupakan penelaahan secara cepat terhadap dokumen, cacatan,
dan daftar untuk mendeteksi unsur-unsur yang tampak tidak biasa yang
memerlukan penyelidikan lebih mendalam.
9. Pelaksanaan ulang (reperforming)
Prosedur audit ini merupakan pengulangan aktivitas yang dilaksanakan oleh
klien.
10. Computer-assisted audit techniques
Apabila catatan akuntansi dilaksanakan dalam media elektronik maka auditor
perlu menggunakan Computer-assisted audit techniques dalam menggunakan
berbagai prosedur audit di atas.
C. Keandalan Bahan Bukti Yang Menyimpulkan
Standar pekerjaan lapangan ketiga mengharuskan auditor untuk mengumpulkan
bukti kompeten yang mencukupi untuk mendukung pendapat yang diberikan. Empat
faktor yang menentukan apakah suatu bahan bukti dapat memberikan kesimpulan
adalah relevansi, kompetensi, kecukupan, dan ketepatan waktu.
1. Relevansi
Bukti harus berkaitan atau relevan terhadap tujuan pengujian auditing sebelum
dikatakan bersifat dapat menyimpulkan misalkan, auditor berkepentingan bahwa
klien tidak membuat faktur penjualan kepada pelanggan untuk pengiriman yang
telah dilakukan (tujuan kelengkapan). Kalau auditor memilih suatu sampel salinan
faktur penjualan dan menelusuri masing-masing ke dokumen pengiriman yang
berhubungan, bahan bukti menjadi tidak relevan untuk tujuan kelengkapan
prosedur yang relevan adalah membandingkan satu sampel dokumen pengiriman
dengan alinan faktur penjualan terkait untuk menentukan apakah tiap pengiriman
telah dibuatkan fakturnya.

2. Kompetensi

Kompetensi mengacu kepada derajat dapat dipercayanya suatu bahan bukti,


kalau dari bukti dianggap sangat kompeten, akan sangat membantu meyakinkan
auditor bahwa laporan keuangan sajikan dengan wajar. Kompetensi bahan bukti
hanya terkaitan dengan prosedur audit yang pilih. Kompetensi tidak dapat diperbaiki
dengan memperbesar sampel, atau memilih pos yang lain dari populasi.
Kompetensi dapat diperbaiki hanya dengan memilih prosedur audit yang berisi lima
karakteristik bahan bukti yang kompeten berikut ini.
a. Independensi Penyedia Data
Bahan bukti yang diperoleh dari sumber di luar suatu satuan usaha akan
lebih andal daripada yang diperoleh dari dalam. Misalkan, bahan bukti ekstern
seperti komunikasi dengan bank, pengacara, atau pelanggan biasanya
dianggap lebih andal daripada jawaban dari tanya jawab dengan klien.
Demikian

pula,

dokumen

yang

berasal

dari

luar

organisasi

klien

dipertimbangkan lebih andal daripada yang berasal dari dalam perusahaan, dan
tidak pernah meninggalkan organisasi klien. Contoh buat yang pertama adalah
polis asuransi dan contoh yang terakhir adalah permintaan pembelian.
b. Efektifitas Stuktur Pengendalian Intern
Kalau struktur pengendalian intern klien efektif, bahan bukti yang diperoleh
darinya akan lebih andal daripada kalau pengendalian intern lemah. Misalkan,
kalau pengendalian intern atas penjualan dan penagihan efektif, auditor dapat
memperoleh bahan bukti yang lebih kompeten dari faktur penjualan
dan dokumen pengiriman daripada kalau pengendalian tidak memadai.
c. Pengetahuan Yang Diperoleh Sendiri Oleh Auditor
Bahan bukti yang diperoleh sendiri oleh auditor melalui auditing fisik,
pengamatan, perhitungan, dan inspeksi lebih kompeten daripada informasi
yang diperoleh secara langsung misalkan, kalau auditor menghitung marjin
sebagai persentase dari sebagai penjualan dan membandingkannya dengan
periode sebelumnya. Bahan bukti tersebut lebih andal daripada kalau auditor
mempercayakanp ada perhitungan kontroler.
d. Kualifikasi Orang yang Menyediakan Informasi
Meskipun sumber informasi independen, bahan bukti andal kalau orang
yang menyediakan informasi tidak mempunyai kualifikasi untuk melakukan hal
tersebut. Dengan alasan tersebut, konfirmasi dari pengacara dan bank
biasanya sangat lebih diperhatikan daripada konfirmasi piutang usaha dari

orang tidak akrab dengan dunia usaha. Demikian pula, bahan bukti diperoleh
sendiri oleh auditor dapat menjadi tidak andal kalau dia sendiri tidak memiliki
kualifikasi untuk mengevaluasi bahan bukti tersebut. Misalkan, auditing
persediaan berlian oleh auditor yang tidak dilatih untuk bedakan berlian dengan
gelas tidak akan menyediakan bahan bukti yang andal akan adanya berlian.
e. Tingkat Objektivitas
Bahan bukti yang objektif akan lebih andal daripada bahan bukti yang
memerlukan pertimbangan untuk menentukan apakah ia benar. Contoh dari
bahan bukti yang objektif adalah konfirmasi piutang usaha dan saldo bank,
perhitungan fisik efek-efek dan uang tunai, dan menjumlahkan ke bawah daftar
utang usaha untuk menentukan apakah cocok dengan saldo buku besar.
Contoh bahan bukti yang subjektif adalah konfirmasi dari pengacara klien
mengenai kemungkinan hasil tuntutan yang sedang dihadapi, dan pengamatan
persediaan yang usang selama auditing fisik, dan tanya jawab dengan manajer
kredit mengenai kolektibilitas piutang usaha yang tidak lancar. Dalam
mengevaluasi keandalan bahan bukti yang subjektif, kualifikasi orang yang
menyediakan data menjadi faktor yang penting.
3. Kecukupan
Jumlah diukur terutama dengan besar sampel yang dipilih auditor. Dua hal yang
paling penting dalam menentukan kecukupan adalah perkiraan auditor atas
terjadinya kekeliruan dan efektifitas struktur pengendalian intern.
4. Ketepatan waktu
Ketepatan waktu dari bahan bukti audit mengacu kepada kapan bahan bukti
dikumpulkan atau periode yang dicakup oleh audit. Bahan bukti biasanya lebih
membantu dalam memberikan
Kesimpulan bagi perkiraan neraca kalau diperoleh sedekat mungkin dari
tanggal neraca. Misalkan perhitungan efek-efek pada tanggal neraca lebih dapat
memberikan kesimpulan daripada menghitung dua bulan sebelumnya. Bagi
perkiraan rugi laba, bahan bukti akan lebih menyimpulkan kalau dilakukan uji petik
untuk seluruh periode daripada hanya sebagian periode. Misalkan, uji petik acak
rias transaksi selama setahun akan lebih dapat menyimpulkan daripada uji petik
hanya enam bulan pertama.

D. Tujuan Bukti Audit


1. Adapun tujuan bukti audit (Anonim: 2012) yaitu :
a. Membantu membuat keputusan tentang

penilaian

risiko

dengan

mempertimbangkan salah saji berupa potensial yang akan mungkin terjadi.


Penilaian risiko audit adalah proses rekursif penelusuran bukti untuk
menentukan keyakinan dan menilai keaslian dan kebenaran bukti audit guna
mendukung penerbitan opini. Risiko audit merupakan salah satu yang menjadi
perhatian auditor dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab profesionalnya
dan kemungkinan adanya risiko audit. Risiko audit dapat ditimbulkan dari
tingkat penemuan yang direncanakan dalam menghadapi irregularities,
misalnya related party transaction (transaksi perusahaan induk dan anak atau
transaksi antar keluarga); client misstate (klien melakukan penyimpangan;
kualitas komunikasi (klien tidak kooperatif); initial audit (klien baru pertama kali
audit); klien bermasalah (Anonim: 2011).
b. Membantu menentukan prosedur audit yang cocok dengan asersi dan penilaian
resiko.
Asersi sangat penting karena membantu auditor dalam memahami
bagaimana laporan keuangan mungkin disalah sajikan dan menuntun auditor
dalam mengumpulkan bukti (Anonim: 2009).
2. Tujuan Audit Khusus dan Bukti Audit
Terdapat 5 (lima) kelompok umum asersi laporan keuangan, yaitu:
a. Keberadaannya atau keterjadiannya (existence or occurrence)
Asersi tentang keberadaan atau terjadinya berhubungan

dengan apakah aktiva

atau utang perusahaan benarbenar ada pada tanggal neraca dan transaksitransaksi
yang tercatat telah benarbenar terjadi selama periode tertentu.
Keberadaan (eksistensi) suatu aktiva tidak hanya dilihat dari ujud fisiknya saja,
seperti kas, persediaan dan aktiva tetap, namun ada pula yang tidak ada ujud fisiknya,
misalnya piutang dan utang usaha. Sehubungan dengan saldo piutang di atas,
manajemen hanya menyatakan bahwa piutang yang terdiri dana piutang usaha, benar

benar

ada

pada

tanggal

neraca.

Rp10.000.000, adalah jumlah yang benar.

Manajemen

tidak

menyatakan bahwa

b. Kelengkapannya (completeness)
Asersi tentang kelengkapannya berhubungan dengan apakah telah memasukkan
semua transaksi dan akun (rekening) yang seharusnya disajikan dalam laporan
keuangan.
Asersi manajemen tentang saldo piutang Rp. 10.000.000, mempunyai arti bahwa
jumlah tersebut telah meliputi semua transaksi dan kejadian yang mempengaruhi saldo
piutang tersebut, tidak ada piutang yang tidak dilaporkan (under stated) atau
dinyatakan lebih (over stated). Auditor sangat memperhatikan terhadap asersi
kelengkapan ini dalam kaitannya untuk menentukan kemungkinan adanya penyajian
komponen

laporan

keuangan

yang

kurang

dari

yang

seharusnya

dengan

menghilangkan sesuatu atau transaksi yang seharusnya ada.

c. Hak dan kewajiban (right and obligations)


Asersi tentang hak (rights) dan kewajiban (obligations) berhubungan dengan
apakah aktiva tersebut benar-benar milik perusahaan dan semua utang adalah benarbenar kewajiban perusahaan pada tanggal neraca.
Asersi ini menyatakan, bahwa manajemen secara implisit menyatakan bahwa
piutang dan aktiva-aktiva lainnya yang dilaporkan pada neraca benar-benar milik
perusahaan, dan utang-utang yang dilaporkan pada neraca benar-benar kewajiban
perusahaan secara sah. Dengan demikian asersi ini hanya berkaitan dengan
komponen- komponen neraca khususnya aktiva dan utang.

d. Penilaian atau alokasi (valuation or allocation)


Asersi penilaian (valuation) atau alokasi (allocation) berkaitan dengan ketepatan
metode penilaian maupun pengalokasian yang digunakan oleh perusahaan serta
kebenaran perhitungannya.
Setiap pelaporan komponen laporan keuangan dengan jumlah tertentu
mempunyai arti bahwa jumlah tersebut (1) telah ditentukan sesuai dengan prinsip

akuntansi yang berterima umum umum, dan (2) bebas dari kesalahan perhitungan atau
kekeliruan klerikal.
Kesesuaian dengan prinsip akuntansi yang berterima umum meliputi ketepatan
penerapan prinsip harga perolehan (cost), mempertemukan (matching), dan prinsip
konsistensi. Asersi kesesuaian dengan prinsip akuntansi yang berterima umum (PABU)
dapat meliputi penilaian bruto maupun netonya. Misalnya, piutang telah dinilai sebesar
jumlah tagihan kepada pelanggan dan taksiran nilai bersih yang dapat direalisasi
setelah mempertimbangkan taksiran tidak tertagihnya piutang; dan aktiva tetap telah
dilaporkan kedua-duanya yaitu sebesar harga perolehan mula-mula dan nilai bukunya
setelah mempertimbangkan jumlah akumulasi depresiasinya.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa asersi penilaian atau alokasi berhubungan
dengan tiga hal sebagai berikut: (1) penilaian bruto, (2) penilaian neto, dan (3)
ketelitian matematis. Kategori asersi ini juga meliputi kelayakan (reasonableness)
terhadap estimasi akuntansi yang dibuat manajemen.

e. Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)


Asersi tentang penyajian (presentation) dan pengungkapan (disclosure)
berhubungan dengan apakah masing- masing komponen laporan keuangan telah
diklasifikasikan, dijelaskan dan diungkapkan dengan benar.
Manajemen secara implisit menyatakan bahwa setiap komponen laporan
keuangan telah disajikan secara benar dan diungkapkan secara memadai. Dalam hal
penyajian piutang harus benar-benar menampakan piutang yang dapat direalisasikan,
dalam arti setiap kemungkinan tidak tertagihnya piutang harus sudah diperhitungkan
melalui pembentukan rekening penyisihan piutang kecuali dinyatakan lain. Hal-hal
yang menyangkut piutang secara signifikan harus dijelaskan (diungkapkan), misalnya
adanya piutang yang digadaikan, tidak dibentuknya penyisihan piutang, timbulnya
kewajiban bersyarat (contingent liability) dan lain sebagainya.

Tujuan Umum
Pada dasarnya tujuan umum audit adalah untuk menyatakan pendapat atas
kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus
kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Untuk mencapai tujuan ini,

auditor perlu menghimpun bukti kompeten yang cukup. Untuk menghimpun bukti kompeten
yang cukup, auditor perlu mengidentifikasikan dan menyusun sejumlah tujuan audit spesifik
untuk setiap akun laporan keuangan. Dengan melihat tujuan audit spesifik tersebut, auditor
akan dapat mengidentifikasikan bukti apa yang dapat dihimpun, dan bagaimana cara
menghimpun bukti tersebut.

Tujuan Spesifik
Tujuan audit spesifik lebih diarahkan untuk pengujian terhadap pos pos yang
terdapat dalam laporan keuangan yang merupakan asersi manajemen.
E. Jenis-jenis Bahan Bukti Audit
Bukti audit dapat dikelompokkan ke dalam 9 jenis bukti. Berikut ini dikemukakan ke
Sembilan jenis bukti tersebut:
1. Struktur Pengendalian Intern
Struktur pengendalian intern dapat dipergunakan untuk mengecek ketelitian
dan dapat dipercayai data akuntansi. Kuat lemahnya struktur pengendalian intern
merupakan

indicator

utama

yang

menentukan

jumlah

bukti

yang

harus

dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur pengendalian intern merupakan bukti yang
kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya informasi keuangan dipercaya.
2. Bukti Fisik
Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas dan
persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud.
Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang
paling obyektif dalam menentukan kualitas yang bersangkutan. Oleh karena itu,
bukti fisik merupakan jenis bukti yang paling dapat dipercaya.
Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi
penghitungan, danobservasi. Pada umumnya biaya memperoleh bukti fdisik sangat

tinggi. Bukti fisik berkaitan erat dengan keberadaan atau kejadian, kelengkapan,
dan penilaian atau alokasi.
3. Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi seperti jurnal dan buku besar, merupakan sumber data untuk
membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti catatan akuntansi merupakan
obyek yang diperiksa dalam audit laporan keuangan. Ini bukan berarti catatan
akuntansi merupakan obyek audit. Obyek audit adalah laporan keuangan. Tingkat
dapat dipercayanya catatan akuntansi tergantung kuat lemahnya struktur
pengendalian intern.
4. Konfirmasi
Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi
lansgung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan informasi tentang
unsure tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Konfirmasi
merupakan bukti yang sangat tinggi reliabilitasnya karena berisi informasi yang
berasal dari pihak ketiga secara langsung dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak
menghabiskan waktu dan biaya.
Ada tiga jenis konfirmasi, yaitu:
a. Konfirmasi positif
b. Blank confirmation
c. Konfirmasi negative
Konfirmasi

yang

dilakukan

auditor

pada

umumnya

dilakukan

pada

pemeriksaan:
a. Kas di bank dikonfirmasikan ke bank klien
b. Piutang usaha dikonfirmasikan ke pelanggan
c. Persediaan yang disimpan di gudang umum. Persediaan ini dikonfirmasikan ke
penjaga atau kepala gudang
d. Hutang lease dikonfirmasikan kepada lessor
5. Bukti Dokumenter
Bukti documenter merupakan bukti yang paling penting dalam audit. Menurutr
sumber dan tingkat kepercayaannya bukti, bukti documenter dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
a. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor secara
langsung

b. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor melalui
klien
c. Bukti documenter yang dibuat dan disimpan oleh klien
Bukti documenter kelompok a mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada
kelompok b. Bukti documenter kelompok b mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi
daripada kelompok c. bukti documenter meliputi notulen rapat, faktur penjualan,
rekening Koran bank (bank statement), dan bermacam-macam kontrak. Reliabilitas
bukti documenter tergantung sumber dokumen, cara memperoleh bukti, dan sifat
dokumen itu sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat kemungkinan terjadinya
kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan dokumen. Bukti
documenter banyak digunakan secara luas dalam auditing. Bukti documenter dapat
memberikan bukti yang dapat dipercaya (reliabel) untuk semua asersi.
6. Bukti Surat Pernyataan Tertulis
Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang ditandatangani seorang
individu yang bertanggung jawab dan berpengetahuan mengenai rekening, kondisi,
atau kejadian tertentu. Bukti surat pernyataan tertulis dapat berasal dari manajemen
atau organisasi klien maupun dari dari sumber eksternal termasuk bukti dari
spesialis. Reprentation letter atau representasi tertulis yang dibuat manajemen
merupakan bukti yang berasal dari organisasi klien. Surat pernyataan konsultan
hokum, ahli teknik yang berkaitan dengan kegiatan teknik operasional organisasi
klien merupakan bukti yang berasal dari pihak ketiga. Bukti ini dapat menghasilkan
bukti yang reliable untuk semua asersi.
7. Perhitungan Kembali sebagai Bukti Matematis
Bukti matematis diperoleh auditor melalui perhitungan kembali oleh auditor.
Penghitungan yang dilakukan auditor merupakan bukti audit yang bersifat kuantitatif
dan matematis. Bukti ini dapat digunakan untuk membuktikan ketelitian catatan
akuntansi klien. Perhitungan tersebut misalnya:
a. Footing untuk meneliti penjumlahan vertical
b. Cross-footing untuk meneliti penjumlahan horizontal
c. Perhitungan depresiasi

Bukti matematis dapat diperoleh dari tugas rutin seperti penjumlahan total
saldo, dan perhitugnan kembali yang rumit seperti penghitungan kembali anuitas
obligasi. Bukti matematis menghasilkan bukti yang handal untuk asersi penilaian
atau pengalokasian dengan biaya murah.
8. Bukti Lisan
Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan dengan manusia,
sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lisan. Masalah
yang ditanyakan antara lain meliputi kebijakan akuntansi, lokasi dokumen dan
catatan, pelaksanaan prosedur akuntansi yang tidak lazim, kemungkinan adanya
utang bersyarat maupun piutang yang sudah lama tak tertagih. Jawaban atas
pertanyaan yang ditanyakan merupaka bukti lisan. Bukti lisan harus dicatat dalam
kertas kerja audit. Bukti ini dpat menghasilkan bukti yang berkaitan dengan semua
asersi.
9. Bukti Analitis dan Perbandingan
Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data klien dengan
anggaran atau standar prestasi, trend industry, dan kondisi ekonomi umum. Bukti
analitis menghasilkan dasar untuk menentukan kewajaran suatu pos tertentu dalam
laporan keuangan dan kewajaran hubungan antas pos-pos dalam laporan
keuangan. Keandalan bukti analitis sangat tergantung pada relevansi data
pembanding. Bukti analitis berkaitan serta dengan asersi keberadaan atau
keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau pengalokasian.
Bukti analitis meliputi perbandingan atas pos-pos tertentu antara laporan
keuangan

tahun

berjalan

dengan

laporan

keuangan

tahun

sebelumnya.

Perbandingan in dilakukan untuk meneliti adanya perubahan yang terjadi dan untuk
menilai penyebabnya.